AIRPLANE – Part 1

airplane

AIRPLANE

Title: Airplane

Scriptwriter: BBYWIND

Main Cast: Kim Hanbin [iKON] Lee Seo-a [OC]

Genre: Vulnerable

Rating: General

Summary:

Maafkan aku, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai seorang teman. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mencintaimu. Maafkan aku, karena tak bisa menghilangkan perasaan lebih padamu.”

Disclaimer: I just own the poster and storyline.

 

Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4

Bel istirahat berdering merdu ditelingaku. Akhirnya, setelah pelajaran mematikan ini aku bisa juga bernafas lega. Matematika adalah pelajaran yang paling aku benci didunia ini, sungguh. Aku tak mengerti kenapa kita harus mempelajari angka-angka amburadul itu? Apa manfaat real dari semua ini? Aku sungguh tak bisa memahaminya.

Aku bergegas menuju bangunan di pojok belakang sekolah. Waktu istirahat adalah surga bagiku. Bagi seorang Kim Hanbin –yang berobsesi menjadi penyanyi terkenal ini, waktu istirahat adalah waktu yang tepat untuk berlatih di ruang music. Semua orang berkata aku maniak latihan. Akibat dari begitu seringnya aku mengunjungi ruang music. Aku tak semaniak itu, mereka hanya tak tahu alasan dibalik rajinnya aku datang ketempat sunyi itu.

“Oh, Hanbin-a. Kau baru datang?”

Suara manis menyambutku setelah decitan suara pintu tertutup. Sosok seorang gadis berambut panjang terurai tengah berdiri menghadap cermin langsung tertangkap oleh kedua mataku setelah memasuki ruangan. Aku tersenyum. Entah kenapa, setiap kali aku melihatnya, aku tak pernah bisa menghilangkan inginku untuk tersenyum. Tempat sempit ini terasa seperti ruang hampa, sungguh sulit untuk bernafas. Mungkin karena keberadaan mahluk ciptaan tuhan didepanku saat ini.

“Oh, mian.” Aku memberi jeda, menghela nafas sebelum aku benar-benar tak bisa bernafas. “Aku mendinginkan kepalaku dulu tadi.”

Aku menggaruk tengkukku. Selalu saja salah tingkah. Bahkan setelah sekian tahun aku mengenalnya, masih saja kegugupanku tak bisa aku hilangkan begitu saja. Gadis itu kemudian meregangkan tubuhnya, bersiap untuk pemanasan. Sama denganku, dia adalah seorang yang berambisi kuat, ia ingin menjadi seorang dancer handal suatu saat nanti.

Pertemuan pertamaku dengannya pun karena sebuah audisi untuk salah satu manajemen ternama di korea selatan ini. Saat ini aku dan dia tengah mempersiapkan debut kami, atau yang sering dianggap sebagai trainee, di YG Entertaiment.

“Matematika?” Ia tersenyum meremehkan. “Ya, Hanbin-a. Belajarlah sesekali, bagaimana bisa kau hanya terus berlatih dan berlatih saja? Bahkan saat di sekolah. Sesekali manfaatkanlah otakmu itu, sebelum sarang laba-laba terbentuk disana.”

Gadis itu terkekeh. Aku terbius hanya melihatnya tertawa seperti itu. Tawanya yang memperlihatkan deretan giginya, dan mengekspos lesung di kedua pipinya, berhasil melumpuhkan kerja otakku.

“Ya, Lee Seoa, jangan remehkan aku. Kau tahu sendiri seberapa banyak judul lagu yang sudah aku tulis selama ini.”

Arraseo. Soal itu aku tak bisa memperdebatkannya lagi.”

Ia akhirnya menyerah. Wajah kesal itu terlihat begitu lucu. Aku benar-benar telah jatuh dalam genggamannya. Sayang, sampai saat ini dia tak pernah mengetahui perasaanku. Aku tak punya keberanian lebih untuk mengungkapkannya. Aku tak ingin merusak apa yang telah kami lewati selama ini. Aku tak ingin memisahkan memori yang telah terpatri dalam diri kami masing-masing.

“Dimana Jiwon  hyeong?”

“Akhirnya kau menyadarinya, Kim Hanbin. Kau benar-benar tidak peka dengan sekitarmu, sungguh. Aku pikir hari ini dia tidak datang, dia harus menerima hukumannya.”

“Hukuman? Maksudmu hukuman itu?”

Seoa mengangguki pertanyaanku, kemudian tertawa kecil. Selain aku dan Seoa, ada satu lagi orang yang sama-sama maniak latihan. Kim Jiwon. Begundal yang tak pernah bisa diam. Laki-laki dengan paras karismatik dengan kemampuan rap yang mampu membuat pendengarnya tak bisa berkata-kata. Ia terkenal cukup bandel di sekolah, seringkali ia bolos. Temanku satu ini memang tak bisa diandalkan. Sebenarnya ia lebih tua setahun dari kami, tapi kelakuannya itu membuatnya terlihat lebih muda. Benar-benar kekanakan. Hari ini ia lagi-lagi dihukum membersihkan kamar mandi, akibat ia bolos sekolah kemarin.

***

Suara alarm berdering keras, memaksaku untuk berhenti dengan aktivitasku, pun dengan Seoa. Ia menyeka keringat yang mengalir dipelipisnya. Kemudian melemparkan handuk yang dipakainya padaku. Aku menyeka keringat yang mengalir diwajahku dengan handuk miliknya. Hal ini sudah biasa, mungkin karena Seoa tak pernah menganggapku lak-laki. Ia selalu saja memperlakukanku seperti keluarga. Terkadang membuatku kesal, tapi sudahlah.

“Hanbin-a.”

“Oh? Kenapa?”

“Bagaimana dengan Team B? Apa kau baik-baik saja?”

Seoa menatap dalam kedua mata elangku. Sorot khawatir jelas tergambar dari air mukanya. Membuatku gemas. Aku mengacak rambutnya perlahan.

“Memang sulit diawal, tapi kami akan baik-baik saja. Aku pastikan Team B akan debut dengan nama yang spektakuler dan menaklukan dunia. Aku akan mengalahkan Jiyong hyeong, aku janji padamu.”

Benar. Aku hampir lupa. Setelah WIN Final Battle apa yang selanjutnya akan terjadi pada Team B? Sebenarnya kekalahan ini benar-benar menyakitkan. Begitu pedih, ketika pengumuman itu disampaikan, aku benar-benar tak bisa membendung air mataku. Bukan karena aku kalah, tapi aku hanya takut dengan apa yang akan terjadi pada kelompok kami nantinya. Aku sudah berjanji pada Jiwon hyeong, Jinhwan hyeong, Yunhyeong hyeong, Junhoe dan Donghyuk bahwa kami akan debut bersama, tampil dipanggung berasama, menggelar konser yang menakjubkan bersama. Mengingatnya membuat mataku kembali memanas.

Sebelum air mata itu berhasil meluncur, sentuhan lembut mendarat dipunggungku. Tangan Seoa tengah mengelusnya, membuatku seketika menoleh pada sang pelaku utama. Aku tersenyum pahit, ditimpali muka khawatir Seoa.

“Aku yakin kalian akan berhasil. Ada Jinhwan oppa di tim ini, aku yakin kalian berhasil.”

“Ya! Kenapa Jinhwan hyeong? Jelas-jelas leadernya didepanmu.”

Aigoo~ arraseo. Bersemangatlah. Kalahkan Jidi oppa untukku. Mengerti?”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan gadis disebelahku. Energy positive itu selalu saja berhasil membuatku lebih baik. Senyum itu, gesture itu, membayangkannya saja sudah membuatku tertawa. Sepertinya aku sudah kecanduan dengan gadis berkulit putih pucat didepanku ini. Ocehannya yang tak kenal henti, guyonan yang kadang tak dimengerti, dan hal-hal kecil darinya seperti sudah menjadi rutinitasku. Aku tak ingin mengambil resiko kehilangan itu semua hanya karena perasaan ini. Aku hanya harus menahannya sedikit lebih lama, setidaknya sampai aku benar-benar sanggup untuk kehilangannya.

“Hanbin-a, kelasmu bukan disini. Apa akalmu sudah hilang? Dasar.”

Seoa menatapku dengan muka datar setelah mendapatiku yang masih mengikutinya sampai masuk kedalam kelasnya. Aish, memalukan. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Aku menggaruk tengukku, keluar dari kelas Seoa diiringi tatapan-tatapan aneh.

Aku mendapati Jiwon hyeong tengah duduk dibangku saat memasuki ruang kelasku.  Aku manatapnya dengan tatapan “apa yang kau lakukan disini?” yang dibalasnya dengan tatapan tak kalah tajam. Dari kilatan matanya bisa dilihat ia sangat marah kali ini. Semoga saja aku akan selamat, Tuhan tolong lindungi aku.

“Ya, Kim BI, darimana saja kau, ha?!”

“Ruang music.”

“Ya! Bagaimana bisa kau membuatku melakukan hukuman itu sendiri?! Lihat, aku benar-benar lelah, latihan kemarin membuat otoku kejang, dan ditambah menguras toilet sendirian.”

Ocehan Jiwon hyeong hanya mendengung ditelingaku. Aku sudah terbiasa dengan situasi ini, situasi dimana laki-laki dengan gigi kelinci itu meluapkan kekesalannya akibat hukuman bertubi-tubi dari para guru. Telingaku semacam sudah kebal, toh salahnya sendiri. Sudah kubilang untuk tidak berlatih di jam sekolah.

“Ingin rasanya bertukar dengan Jinhwan hyeong. Dia tidak harus susah-susah berangkat sekolah.”

Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu keluar setelah ia berkeluh kesah. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Sedang orang disampingku masih setia mengoceh sambil sesekali mengumpat. Aku tertawa kecil, aneh rasanya. Kenapa aku bisa begitu dekat dengan orang ini?

“Ah. Jiwon hyeong. Tentang kekalahan kita.” Aku memberi jeda pada perkataanku yang tiba-tiba, membuat lawan bicaraku menoleh seketika, mendengarkan dengan seksama. “Apa rencanamu selanjutnya?”

Aku menunduk, mengurungkan kata-kata yang sudah terangkai itu. Aku tak punya keberanian untuk menanyakannya. Sudah beruntung anak-anak tidak marah padaku. Aku merasa bersalah, sebagai seorang leader aku tak bisa membawa mereka menuju panggung impian kami. Jiwon hyeong hanya mengangguk-angguk kecil. Menampilkan raut muka yang cukup sulit untuk aku tebak.

“Kita harus bekerja lebih keras lagi, ‘kan?” Jiwon hyeong tersenyum dalam anggukannya. “Ah. Satu lagi, berhenti memanggilku Jiwon, Jiwon, Jiwon. Bobby. Namaku Bobby.”

Aku tersenyum menanggapi jawabannya, bukan apa-apa, hanya merasa lebih baik. Setidaknya aku akan berusaha lebih keras dan membuat kami tampil dalam satu panggung, dibawah nama baru. Bukan lagi sebagai Team B, melainkan nama lain yang akan membawa kami menuju mimpi kami. Jiwon, ah Bobby hyeong beranjak dari bangkunya. Pergi dengan langkah angkuhnya setelah sedikit menepuk kepalaku. Bukan karena kesal, tepukan itu lebih terasa menenangkan. Entahlah.

Seperti biasa, setelah bel masuk berdering, rutinitas sekolah kembali pada tahap membosankan. Alangkah senangnya jika aku bisa latihan dengan leluasa, mengeluarkan unek-unek dalam rangkaian kata. Menulis satu lagu atau membuat koreografi baru. Sayangnya neraka ini memenjarakanku, dan aku pun enggan untuk bersusah payah meninggalkannya. Toh, ada malaikat yang menungguiku disini. Setidaknya dia bisa menjadi alasanku untuk tetap bertahan.

***

Malam ini aku kembali tidak pulang, masih setia dengan kertas didepanku. Bermalam di ruang latihan sudah biasa buatku. Aku lebih merasa tenang ketika berada di ruang ini daripada harus duduk diam di dorm. Ya, sudah beberapa lama ini aku tinggal di dorm bersama Team B. Aku bahkan sudah lupa bagaimana bentuk rumahku. Sudah sangat lama rasanya aku tidak melihat rumah. Aku merindukan Hanbyul, gadis kecilku.

Malam semakin larut dan aku masih belum bisa mendapatkan inspirasi apapun. Entah ada apa dengan otakku belakangan ini. Mungkin aku butuh nutrisi. Belakangan ini makanku tak teratur. Tak pernah makan siang ataupun makan malam. Kadang aku bisa tak makan seharian penuh. Kekalahan bulan lalu membuatku tak bisa berdiam diri. Hampir seluruh waktuku, ku curahkan untuk sekedar menulis lagu atau berlatih dance dengan anggota tim.

Bahkan sebulan belakangan aku jarang bertemu dengan Seoa. Kami hanya bertemu saat latihan di ruang music sekolah, atau sesekali di gedung ini. Rasanya aku sudah semakin jarang berbicara dengan gadis itu. Tiba-tiba aku merindukan gadis itu. Aku merebahkan tubuhku disandaran kursi masih dengan bolpoint disela jari tangan kananku.

Aku hampir tertidur sebelum mendengar suara decitan pintu. Tunggu, siapa yang datang selarut ini ke ruang latihan? Hantu kah? Pencuri kah? Oh astaga, kenapa aku berkeringat dingin tiba-tiba?

Suara derap kaki terdengar setelah decitan pintu. Seseorang masuk ke ruangan ini. Aku bersiaga dibalik pintu dalam. Memegang benda yang bisa aku jangkau. Entah benda apa yang aku pegang saat ini. Bayangan hitam muncul tiba-tiba didepan pintu. Terlihat jelas akibat pintu yang terbuat dari kaca ini. Knop pintu berputar, membuat tanganku refleks mengangkat pentungan atau apapun yang ada ditanganku saat ini. Pintu terbuka dan memunculkan kepala yang tak lagi asing buatku. Bobby hyeong mengintip dan menatapku setelah memeriksa sekeliling dengan kepalanya yang muncul dari balik pintu.

“Ya! Apa yang akan kau lakukan dengan stick drum itu?”

Tatapan anehnya itu benar-benar membuatku mual seketika. Aku meletakkan stick drum yang kupegang sembari berjalan, kembali duduk ke kursiku. Diikuti Bobby hyeong yang hanya manyun-manyun tidak jelas.

“Ku pikir ada pencuri. Jadi aku mengambil stick tadi.”

“Ya, apa kau bodoh? Stick sekecil itu tidak akan melumpuhkan pencuri.”

“Tadi hanya stick itu yang bisa kuraih, bahkan aku tak tahu kalau itu stick drum.”

Bobby hyeong hanya tertawa kecil, menampakkan gigi kelincinya. Aku kembali terfokus dengan kertasku yang penuh dengan coretan itu, lalu mendesah kecil. Mengatupkan kedua rahangku sembari menutup kedua mataku berharap inspirasi yang sedari tadi ku tunggu akan datang. Aku kembali membuka mataku dan mendesah frustasi.

“Ya. Kim Hanbin. Kim BI. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Berhentilah jika kau sudah lelah. Aku tidak ingin melihatmu sakit. Lihat badan kecilmu itu. Jinhwan hyeong dan Yunhyeong tak bisa tidur di dorm, mereka mengkhawatirkanmu.”

“Aku hanya tak ingin gagal untuk kedua kalinya hyeong. Aku harus membawa Team B ke panggung megah itu.”

Bobby hyeong terlihat kesal. Aku tahu dia sangat kesal. Tapi aku tak bisa berdiam saja, tidur tidak mengubah segalanya. Istirahat tak membantu apa-apa. Lebih baik mempersiapkan lebih banyak lagu. Itu lebih membantu, apalagi saat ini aku hanya bisa menunggu tanpa kepastian. Satu hal yang aku takutkan adalah Team B akan dibubarkan seperti perjanjian sebelum WIN dulu.

“Terserah. Aku sudah lelah mengkhawatirkanmu. Jangan sampai kau sakit. Mengomelimu tak akan memecahkan masalah.”

Bobby hyeong pergi meninggalkanku. Ia menutup pintu keras-keras. Aku tahu persis dia pasti sangat kesal. Maafkan aku hyeong, biarkanlah aku seperti ini beberapa saat. Ini adalah caraku untuk setidaknya bisa meluapkan kemarahanku dan kesedihanku. Cukup lihat dan perhatikan aku. Aku akan baik-baik saja.

Sudah pukul enam pagi, dan aku belum menutup mataku barang semenit. Aku beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan kecil ini. Mataku begitu sayu, kantung mataku semakin menjadi. Penampilanku pasti acak-acakan saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus berusaha lebih untuk keberlangsungan Team kami.

“Ya! KIM HANBIN!”

Makian terdengar beberapa saat setelah aku membuka pintu hendak keluar. Aku menegakkan kepalaku, mengamati orang yang meneriakiku dengan begitu bersemangat. Aku menemukan Seoa berdiri dihadapanku dengan gesture marah miliknya dan raut muka kesal yang dibuat-buat. Aku tahu, sorot matanya tak bisa menipu, ia sedang khawatir padaku saat ini. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi makiannya tadi.

“Ya? apa kau sudah gila? Lihatlah penampilanmu. Kau sudah terlihat seperti gembel. Beristirahatah, kasiani tubuhmu itu. JEBAL!”

Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Entah aura apa yang dimiliki gadis ini hingga selalu berhasil membuatku melupakan sejenak bebanku. Ingin rasanya aku meluapkan segala keluh kesahku padanya. Ingin rasanya aku memeluknya dan menangis dibahunya. Tak jantan memang, tapi itulah yang aku inginkan saat ini. Saat melihat Seoa dengan seragam sekolahnya memakiku. Mataku semakin memanas memandang gadis didepanku itu.

“Hanbin-a, gwaenchana?”

Bulir bening sudah mengalir dari kedua pelupuk mataku tanpa aku sadari. Membuat Seoa menampakkan raut khawatir. Ingin rasanya aku menghamburkan badanku padanya. Tapi aku urungkan, dan lebih memilih menyeka air mata sial ini. Untuk apa aku menangis? Untuk kekalahanku? Untuk ketakutanku? Atau untuk perasaanku? Aku sungguh tak lagi mengerti hatiku sendiri. terlalu banyak beban dipikiranku akhir-akhir ini.

“Aku baik-baik saja.”

Senyum palsu aku tunjukkan padanya. Tapi sial, dia selalu saja bisa mengetahuinya hanya dengan satu tatapan persis pada kedua mataku.

“Jangan berbohong lagi, Kim BI.” Ia memberi jeda. “Hari ini sepertinya aku harus melewatkan sekolahku.”

Aku menatap heran gadis didepanku itu. bukan apa-apa, hanya sedikit aneh saja. Walaupun Seoa adalah seorang yang gila latihan, tapi aku yakin dia tak akan berani meninggalkan kelasnya. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?

***

Aku berakhir duduk disini, di atas sofa tempat rahasia kami, di atas gedung YG. Aku masih belum mengerti dengan maksud dan tujuan Seoa mengajakku kemari. Aku hanya terdiam sedangkan Seoa sibuk dengan hand phone di tangannya. Sesaat kemudian gadis itu menatapku dengan tatapan aneh yang cukup bersahabat. Ia tersenyum kecil, kemudian menepuk-nepuk pahanya.

“Tidurlah.”

Ia melirikku kemudian melirik pahanya. Aku hanya diam. Canggung. Aku tahu maksud lirikan Seoa, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya. Ia mengangguk dan tersenyum kecil. Aku menggaruk tengkukku. Menggigit gigir bawahku, ragu.

Seoa yang lelah menunggu, akhirnya menarik tengkukku, memposisikan kepalaku diatas pahanya yang telah tertutup selembar kain. Seoa-ya, apakah kau tahu bagaimana degup jantungku kali ini? Gadis satu ini memang beresiko mengakibatkan serangan jantung.

Ja. Sekarang tutup matamu dan tidurlah. Atau perlu aku nyanyikan sesuatu untukmu, nak Hanbin?”

Aku hanya tersenyum. Selalu saja, responku hanya tersenyum jika Seoa melakukan hal-hal diluar nalar seperti ini. Ia mulai menyanyikan lagu, entah lagu apa, yang pasti lagu itu, suara itu berhasil membuatku lebih nyaman.  Kedua mataku mulai terasa berat dan akhirnya aku tertidur, diiringi alunan suara Seoa yang begitu tentram.

***

Entah berapa lama aku menutup kelopak mataku, yang pasti saat aku membuka mata, matahari sudah mulai terik. Seoa masih setia disini, memangku kepalaku. Sepertinya ia juga tertidur. Aku terkekeh kecil sebelum bangun dari tidurku. Memandang wajahnya sepuas hatiku, tapi sepertinya aku tak akan pernah puas memandang wajah manisnya. Aku mengambil kain penutup sofa, kemudian menggunakannya untuk menyelimuti tubuh Seoa.

Aku kembali memposisikan diriku, duduk disamping Seoa. Menarik tengkuk gadis itu lembut, kemudian menempatkan kepalanya ke bahuku. Wajahnya begitu tenang saat tertidur. Begitu menggemaskan, membuatku ingin mengecup keningnya.

Aku menyandarkan kepalaku dikepala mungilnya. Damai rasanya, menikmati teriknya matahari dengan gadis satu ini. Sengatan sinar matahari seakan tak terasa lagi. Aku menutup kedua mataku, menikmati setiap hembusan nafasku yang beradu dengan panasnya sinar matahari.

Seoa sedikit menggeliat setelah beberapa menit tertidur di bahuku. Ia mengerjapkan matanya, kemudian meregangkan tubuhnya. Ia tersenyum kecil menatap kearahku.

“Hanbin-a, bisakah kau berjanji padaku?”

“Berjanji? Janji apa? Jangan membuatku melakukan hal aneh lagi Lee Seoa, cukup sekali saja aku merasa malu didepan umum.”

“Berjanjilah untuk menyayangi dirimu, Kim Hanbin. Jangan terlalu larut pada pekerjaan. Kekalahan itu tidak akan terulang lagi, aku yakin. Kalian akan bersinar suatu hari nanti. Jadi jangan memaksakan tubuhmu yang kecil itu. Biarkan semua berjalan seperti mestinya. Ikuti saja air yang mengalir, tapi jangan sampai terbawa arus. Mengerti?”

Aku mengacak rambut Seoa, gemas rasanya. Sikap dewasanya tak sepadan dengan tingkah anehnya selama ini. Tapi setiap kalimat sok dewasa miliknya selalu saja membuatku tenang. Setidaknya aku memiliki Seoa yang bisa membuatku tertawa dengan setiap tingkah anehnya. Walaupun terkadang aku merasa tersakiti. Kenapa hanya sebatas sahabat? Aku ingin lebih dari itu.

“Hanbin-a. Ayo kita latihan.”

Aku hanya menatap ragu padanya yang dijawab anggukan pasti. Ia menarik lenganku, sedikit membuatku terhuyung. Bagaimana seorang gadis bisa mempunyai tenaga sebesar ini? Astaga. Kami berjalan menyusuri lorong, sesekali membungkuk ketika berpapasan dengan senior-senior kami. Saat melewati ruang latihan timku, aku melihat Jinhwan hyeong, Bobby hyeong dan Yunhyeong hyeong tengah duduk. Aku tak bisa mengabaikan mereka, tapi juga tak bisa menolak ajakan Seoa. Astaga aku harus bagaimana?

Aku berhenti mendadak membuat Seoa sedikit tertarik akibat tangannya masih menyeret lenganku.

“Seoa-a, mian, sepertinya aku tidak bisa berlatih denganmu.”

Seoa terdiam kemudian melirik kearah ruang latihan disebelah kami. Ia tertawa kecil.

Arraseo. Geundae, aku benar-benar ingin mendengar Jinhwan oppa bernyanyi, bisakah?”

Aku mematung didepannya. Entah mengapa aku merasa cemburu. Telingaku memanas seketika, membuatnya terlihat kemerahan.

Andwae. Aku tidak ingin kau jatuh cinta padanya.”

Jawaban itu mengalir begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari. Membuat lawan bicaraku tercengang dan menampakkan ekspresi aneh sekaligus lucu. Wajah bodoh yang lama tak terlihat olehku. Matanya sedikit disipitkan, mulutnya sedikit terbuka dengan alis yang disatukan. Benar-benar menggelitik perutku. Tak tahan lagi untuk tak tertawa, akhirnya aku terbahak.

“Ya! apanya yang lucu? Sudahlah, latihan sana.”

Seoa pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berusaha menghentikan tawaku. Entah mengapa gadis itu benar-benar terlihat lucu dimataku. Mungkin aku sudah dibutakan oleh perasaanku sendiri.

Setelah punggungnya tak lagi terlihat, aku masuk kedalam ruang latihan, disambut tatapan aneh ketiga hyeong-ku. Aku hanya membalas dengan tatapan “Apa??” kemudian duduk dibangku sebelah Yunhyeong hyeong.

“Ya, Hanbin-a, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?”

Bobby hyeong tiba-tiba saja mendekatiku dan memegang keningku dengan telapak tangannya. Aku hanya meliriknya tajam, membuatnya menurunkan telapaknya dari keningku yang berharga. Jinhwan hyeong mendekatiku dan menyodorkan sebotol minuman vitamin, yang kusambut dengan senyum lebar saat menerima uluran minuman itu.

Aku membuka tutup botol dan berniat meneguknya sebelum Bobby hyeong kembali mengoceh tak jelas yang ditimpali tawa keras kedua hyeong-ku.

“Hanbin-a, jika kau suka katakan saja. Bagaimana bisa kau menyembunyikan perasaan itu bertahun-tahun, ha?”

“Ah- hyeong!”

Mood minumku hilang seketika. Bagaimana bisa begundal itu mengetahuinya? Astaga kenapa cinta sepihakku memiliki penonton seperti dirinya. Aku hanya mengerjapkan mataku, mencari alasan untuk menyangkal kebenaran itu. Bukan aku membencinya, hanya saja aku sedikit malu. Bayangkan seorang Kim Hanbin yang belum pernah memliki pengalaman percintaan selama hidupnya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, tak berani mengungkapkannya, berusaha menyembunyikannya dari siapapun tapi malah diketahui oleh orang yang sangat tak boleh mengetahuinya.

Ketiga orang itu kini tengah tertawa bersautan. Benar-benar menjengkelkan. Bagaimanapun aku mengelak, seperti apapun aku menyangkalnya, tiga orang tua ini pasti tak akan mempercayainya lagi. Lihatlah ekspresi menghina mereka itu, astaga, aku begitu muak. Ekspresi mukaku benar-benar terlihat kusam, bagaimana tidak, ketiga hyeong-ku itu masih saja setia mengerjaiku. Astaga, kenapa bisa hal ini terbongkar? Padahal aku sudah berusaha sekuat mungkin agar tak ada yang mengetahuinya. Apakah aku terlalu jelas?

Hyeongdeul, apa terlalu jelas?”

Perkataanku justru membuat tawa ketiga orang itu makin menjadi. Mata Bobby dan Jinhwan hyeong sudah menghilang sekarang, akibat tawanya yang terbahak. Aku benar-benar kesal, apa yang lucu dari jatuh cinta sepihak? Itu justru menyakitkan.

“Hanbin-a, jika kau memang mencintainya, katakan saja. Sebelum semuanya terlambat.”

Yunhyeong hyeong menghampiriku lalu memeluk bahuku. Menatapku intens, membuatku sedikit geli namun aku tak mengelak. Aku mencerna perkataannya baru saja, kemudian terlintas pikiran gila di otakku.

“Haruskah?”

***

 

3 thoughts on “AIRPLANE – Part 1”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s