Hold Me Tight (Part 1 – Try to Open Your Heart)

Hold Me Tight

Title: Hold Me Tight (Part 1 – Try to open your heart)

Scripwriter: NamchagiLu

Cast: Kim Seok Jin (Jin BTS), Yoon Mina (OC), Park Jimin (Jimin BTS)

Support Cast: Jeon Jeongguk (Jungkook BTS), Min Yoongi (Suga BTS)

Genre: Romance, conflict, Hurt, Sad, School life, Family life

Duration: Chaptered

Rating: NC 17

Disclaimer + warning  : story is Mine, terinspirasi dari semua MV BTS dan lagu BTS – Hold Me tight. ( kekerasan, dan agak mengacu ke tindakan asusila. DIBAWAH 17 TH TIDAK DI IJINKAN)

Summary: “Jika sebuah hati sudah terlanjur dingin maka hanya kehangatan kasih sayang yang bisa meluluhkannya, dan kehangatan itu ada pada hati Yoon Mina. dia sangat menyukai seorang senior di sekolahnya bernama Kim Seokjin sampai rela menyatakan cinta lebih dulu. Awal hubungan mereka di warnai dengan perlakuan Jin yang seenaknya yang membuat Mina bertanya – tanya apakah benar Jin menyukainya? Tapi setelah dia menyelam lebih dalam kedalam kehidupan Jin dia akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Apa yang terjadi pada Jin? Dan mengapa Mina sangat menyukai Jin yang bisa di bilang adalah seorang Iljin (berandalan) sekolah?”

 “Without you, I can’t breathe, I’m nothing without you, open my closed heart, drench my heart, so I can feel you, hold me” (BTS – Hold Me Tight)

Sun – sunbae.. aku menyukaimu ungkap seorang wanita berseragam dengan rambut coklat panjang terurai. Pria yang ada di hadapannya terlihat terkejut namun sesegera mungkin memasang wajah dinginnya.

“lalu?”

Wanita itu menelan ludahnya berkali – kali berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah di harapkan sebelumnya. Sementara pria yang ada di hadapannya memasukan tangan ke saku celana sambil sibuk menendang – nendang kerikil yang ada di bawah sepatunya.

“a – aku ingin menjadi kekasihmu, Sunbae

Pria maskulin itu menghentikan kegiatannya lalu memandang lurus ke arah wajah wanita yang tampak memerah karena malu. Lengan yang tadi masuk dalam celana seragamnya di keluarkan dan secara tiba mendorong tubuh mungil wanita itu sampai membentur tembok lembab yang ada di belakangnya. Mata wanita itu membulat saking terkejutnya karena sekarang posisi mereka sangat dekat dengan hanya berjarak tak lebih dari lima sentimeter.

“lalu aku harus bagaimana, Yoon Min-ah?” tanyanya seakan – akan bodoh, kali ini Mina benar – benar tak tahu harus bagaimana karena pria yang di sukainya baru saja menyebutkan namanya sambil mendesah di akhir.

You want me?” tanyanya lagi, kali ini dia mengangkat dagu Mina dan memandangnya seduktif.

Eo – eoh..” jawaban spontan keluar dari bibir Mina membuat bibirnya menyeringai.

geurae, Yoon Mina. Mulai hari ini kau resmi menjadi wanita Kim Seokjin.”

ne?

“tapi kau harus belajar untuk bisa menjadi kekasih sempurnaku” kata Jin, wajah Mina memucat “aku akan mengajarimu secara perlahan.” Lanjutnya, wajah Mina berubah lebih tenang. Tapi detik kemudian dia tak bisa menyembunyikan rona wajah malunya karena secara tiba – tiba Jin mencium bibirnya sejenak lalu melepaskannya sambil tersenyum.

“pelajaran pertama, selalu bersiaplah dengan sikapku yang tiba – tiba” kata Jin kemudian pergi meninggalkannya sendiri dengan beribu perasaan yang sulit di ungkapkan dengan kata – kata.

Ponsel Jin berdering saat dia berjalan di koridor menuju kelasnya, dia melihat nomor yang di berinama Sajangnim menelpon. Sambil memandang dengan meremehkan dia memasukan ponsel itu kedalam saku celananya lagi lalu melanjutkan perjalanannya sambil bernyanyi kecil.

“Yes I’m a bad boy so i like bad girl
illu wabwa baby…l”

Hyung..”

Panggilan dari arah tangga membuatnya menghentikan nyanyian lagu War Of Hormone – BTS yang dia sukai itu. di atas anak tangga itu terlihat Jungkook dan Suga yang melambai kearahnya. Jin memutar kakinya untuk menghampiri mereka berdua, dia duduk di dekat Jungkook yang sedang mengemut lolipop merah. Melihat ekspresi wajah Jin yang berseri – seri membuat mereka saling menyenggol tulang rusuk masing – masing.

“ada yang terjadi tadi?” tanya Jungkook.

“salah seorang haksaeng kelas satu mengungkapkan perasaannya padaku” jawab Jin.

Nugu?” kali ini Suga.

“Yoon Mina, dia sudah beberapa hari ini berhubungan denganku di telpon dan sering mengirimi ku pesan”

“lalu?” Jungkook lagi.

“seperti biasa..”

Hyung, Yoon Mina bukankah anak dari jaksa Yoon Jae Hoon yang menangani kasus kematian adikmu” celetuk Jungkook, senyuman yang ada di bibir Jin hilang begitu saja.

Mwo? Apa maksudmu?”

“aku teman sekelas Yoon Mina, saat pertama masuk aku sudah curiga dia adalah anak jaksa itu dan ternyata benar. Ku dengar dia adalah anak tunggal.” Jelas Jungkook.

Shit!! Jaksa bodoh itu sudah menghancurkan kehidupan keluargaku” umpat Jin.

“lalu sekarang kau mau apa? Apa kau akan mengakhiri hubunganmu?” tanya Suga.

“entahlah, aku sedikit tertarik dengan wanita itu tapi.. bila dia anak jaksa bodoh itu..” Jin menggantungkan kata – katanya saat melihat Mina sedang berjalan sendirian dengan segelas minuman di tangannya. Sebuah pemikiran licik terlintas di benaknya.

Mina yang sedang duduk di depan kelas sambil membaca buku terkejut saat sebuah pesan masuk kedalam ponsel pintarnya. Saat di buka keterkejutannya makin bertambah, nomor yang di namai “naui oppa” itu mengiriminya pesan untuk segera menemuinya di atap sekolah. Ini adalah kali pertama Jin mengirim pesan lebih dahulu kepadanya. Mina segera mengabaikan buku yang sedang asik di baca oleh nya lalu setengah berlari menuju atap sekolah yang berjarak 2 lantai dari kelasnya.

Dia mendorong pintu besi yang menjadi pintu menuju atap, disana dia melihat Jin sedang berdiri dengan menyampirkan jas sekolahnya, disamping Jin sudah ada Jungkook dan suga yang duduk di bawah tanpa alas apapun, mereka menyentuh tangan Jin saat melihat Mina berdiri dengan canggung di sana.

“oh kau sudah sampai..” ujar Jin dingin, untuk ukuran seorang kekasih. Mina bisa merasakan rasa canggung yang lebih besar dari sebelumnya dia bicara langsung dengan pria yang tampak sempurna di matanya.

Jin berjalan mendekat kearah Mina yang berdiri sendiri, dia mengamit lengannya dan berdiri di hadapan kedua sahabatnya. Jin tersenyum untuk menenangkan Mina yang terlihat tidak nyaman dengan adanya kedua sahabat Jin.

“aku ingin mengenalkanmu kepada sahabatku. Kau sudah kenal dengan Jungkook kan? Nah, itu adalah Min Yoongi panggil saja Suga.” Kenal Jin. Mina membungkukkan badannya.

Anyeong haseo, Yoon Mina imnida

Suga ikut membungkuk sementara Jungkook hanya tersenyum tipis. Mina menatap Jin yang ada di sebelahnya, merasa di tatap Jin pun menoleh kearah Mina.

“malam ini aku ingin berkencan. Jungkook akan menjemputmu jadi persiapkan dirimu” kata Jin.

“Jeon Jungkook ssi? Kenapa bukan Oppa yang menjemputku?”

“dia tahu tempat yang aku maksud. Sudahlah ini adalah pelajaran kedua, kau harus mengikuti semua permintaanku! Arraseo?”

“Ne? Oh.. Ne Oppa

Tak lama setelah itu Bel masuk kelas berbunyi, Mina langsung pamit untuk masuk kelas sementara Jin membalas dengan senyuman yang membuat jantung gadis coklat itu berdetak sangat cepat. Sepeninggalan Mina Suga dan Jungkook berdiri untuk menghampiri Jin.

“jadi bagaimana?” tanya Suga.

“kau jemput dia..” Jin menunjuk Jungkook “aku akan mempersiapkan sesuatu yang spesial malam ini” lanjutnya.

Mina tak pernah merasa sebingung ini, dari pulang sekolah dia sudah sibuk di kamar untuk memilih baju yang akan di pakai saat kencan bersama Jin nanti. Meski ajakan kencan itu terbilang aneh dan misterius tapi dia sangat senang dengannya. Pilihan Mina jatuh kepada sebuah kaos putih, rok pendek lima senti di atas lutut biru dan cardigan rajut juga sneakers putih biru yang minggu kemarin di kirim oleh ibunya.

Setelah mandi yang cukup lama, Mina mengenakan bajunya kemudian merapikan rambut coklat panjang lembutnya, dia mengepang rambutnya tepat di bawah telinga kiri lalu memakaikan jepit mahkota. Penampilannya sudah sempurna sekarang, Mina langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri Jungkook yang katanya sudah ada di depan rumahnya.

mian, aku lama” ungkap Mina. Jungkook menatap penampilan Mina yang menarik tanpa berkedip.

“Jungkook ssi” panggil Mina, Jungkook terperanjat lalu memberikan sebuah Helm kepadanya. Mereka pergi dari rumah Mina dengan menggunakan sepeda motor.

Perjalanan yang di tempuh hanya sekitar 10 menit, Jungkook menepikan motornya di depan sebuah toko baju di kawasan Myeongdeong. Mina membuka Helmnya dan langsung memperhatikan sekeliling, aneh rasanya dia di bawa ke daerah yang banyak di bangun Bar.

Karena terlalu sibuk dengan kebingungannya, Mina tak sadar di sebelahnya sudah ada Jin yang masih berseragam sekolah. Pakaiannya berantakan dengan dua kancing atas kemeja yang terbuka dan dasi yang tak terikat menggantung di lehernya. Dia berterima kasih kepada Jungkook lalu mengamit tangan Mina untuk ikut bersamanya.

“aku baru pulang bimbingan, tahun depan aku akan ujian” kata Jin tiba – tiba, dia tahu Mina sedang bertanya – tanya mengenai seragamnya.

“kita mau kemana?” tanya Mina.

“kesana” Jin menunjuk sebuah Bar yang berjarak beberapa meter dari mereka berdiri. Mina menatap Jin dengan terkejut, yang benar saja. kencan pertama mereka di sebuah Bar, dia merasa seperti seorang perempuan nakal dari pada anak sekolah.

keundae, bajumu Oppa..”

“ini?” Jin menunjuk seragamnya, lalu menarik lengan Mina untuk berbelok dan masuk ke dalam sebuah gang kecil yang gelap dan kosong. Jin menyerahkan tas sekolah dan jas sekolahnya kepada Mina lalu tanpa ragu membuka satu persatu kancing kemeja putih yang ada di badannya. Mina segera membalikkan badan setelah melihat kulit perut putih milik Jin secara langsung.

“tolong bajuku” kata Jin, Mina membuka tas Jin untuk mengambil baju yang di maksudkan. Setelah mendapatkan sebuah kaos oblong putih, kemeja kotak hijau dan celana jeans hitam, Mina segera memberikannya kepada Jin.

“bisa bantu mengancingkan kemejaku? Aku butuh waktu untuk celanaku” pinta Jin, Mina menatap dengan tidak percaya tapi kemudian dia menuruti keinginan Jin dan membantunya mengancingkan kemejanya, sementara Jin sibuk menarik resleting celana jeansnya.

Selesai dengan ganti baju yang sangat tidak biasa itu mereka berdua langsung berjalan menuju Bar yang buka dari jam 8 malam sampai dini hari itu. DI pintu masuk Mina sudah ketakutan karena dia belum legal untuk masuk kedalam tapi mereka lolos begitu saja dari penjaga karena entah dari mana Jin mempunyai kartu anggota dan mengatakan mereka berdua sering kesini.

Suasana di dalam Bar sangat memusingkan bagi Mina, bukan hanya karena ini kali pertama dia masuk kedalam Bar tapi juga musik remix dan berbagai bau dari alkohol yang bercampur dengan berbagai wangi parfum, belum lagi gemerlap lampu di atas mereka yang membuat pandangan Mina terganggu. Dia menatap ke arah Jin yang sedang menikmati alur musik, tanpa di sangka Jin langsung mendekapnya dan membawa ke sebuah kursi yang cukup dekat dengan lantai dansa.

Jin memesan sebotol Bir kepada pelayan. Setelah pesanan datang dia menuangkan cairan kekuningan itu ke dalam sebuah gelas kecil di sebelahnya, tangan Jin tidak melepaskan dekapannya di tubuh kecil Mina. Jin menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu kehadapan wajah Mina yang tidak di sambut dengan baik.

“aku belum pernah minum itu Oppa, aku tak bisa mabuk” tolak Mina halus.

“aku tidak akan membuatmu mabuk, coba saja satu gelas ini.” bujuk Jin.

keundae..

“kau tak percaya padaku?” tanya Jin tiba – tiba, Mina merasa tidak enak saat ia melihat raut kecewa di wajah Jin, akhirnya dia mengambil gelas yang ada di tangan Jin lalu meminumnya sampai habis. Rasanya sangat aneh, lidahnya seakan kelu dan tak berasa selama beberapa detik.

“lihat, kau tidak mabuk kan?”

“ah.. iya Oppa, kurasa sudah cukup”

Jin tidak mengindahkan perkataan Mina dan kembali memberinya minuman lagi. Dengan enggan Mina menerimanya, kali ini mereka minum bersamaan. Rasa pusing menyerang kepala Mina saat tegukan kedua dilakukan, dia merasa semua orang berputar – putar di hadapannya. Mina memijit pelipisnya yang sakit, dia beralih menatap Jin yang hanya memandanginya dengan datar. Beberapa menit kemudian semua menjadi gelap, Mina pingsan tepat di pelukan Jin yang menyeringai.

Jin menghubungi Suga untuk menjemputnya dari Bar, mobil Suga berhenti tepat di depan Bar dan mereka langsung masuk kedalamnya. Di dalam mobil Mina terkulai lemas di pundak Jin karena pengaruh alkohol yang kuat.

“kau sukses membuatnya menjadi gadis nakal!” kata Suga.

“belum sekarang, aku ingin ke Markas” pinta Jin.

“untuk apa? Ku kira kita akan mengantarnya pulang”

“Jungkook bilang ayah dan ibunya sedang tidak dirumah, percuma kita mengantarnya seperti ini tanpa di ketahui langsung oleh ayah dan ibunya”

“baiklah..”

Suga memutar kemudinya di atas jalanan lengang menuju ke sebuah darah di balik sebuah ladang jagung yang sedang di panen. Mereka sampai di sebuah RV tua yang selama ini di pakai oleh mereka tidur. Jin, Suga dan Jungkook seperti anak jalanan yang tak memiliki rumah, mereka tidur, makan dan beristirahat di RV tua yang sudah tak bisa di jalankan bersama – sama.

Jin menggendong tubuh ringan Mina masuk kedalam RV nya, disana sudah ada Jungkook yang sedang memainkan game di PSP nya. melihat ada wanita Jungkook langsung bangun. Jin menidurkan Mina di atas tempat tidur satu – satu nya yang selalu mereka bertiga tempati, dia melepas tas, sepatu, dan cardigan milik Mina lalu menghampiri kedua sahabatnya.

“biarkan dia tidur di sini” kata Jin.

“kau tidak akan melakukan apapun padanya?” tanya Suga.

“kau akan melakukan apa Hyung?” Tanya Jungkook polos.

“pasti aku akan melakukannya..” jawab Jin lalu berbalik masuk kedalam kamar kecil yang di pakai tidur oleh Mina, menutup pintunya agar tidak ada yang melihat apa yang dia lakukan.

Jin memperhatikan setiap inci tubuh Mina yang ada di atas ranjangnya, wajahnya memang cantik dengan kulit putih bersih dan juga polesan make up tipis. Seringai di bibir Jin melebar saat menyadari bahwa sekarang Mina tidak sadar dan dia bebas melakukan apapun terhadapnya.

Dia duduk di sebelah Mina sambil melepaskan kemeja kotak – kotaknya. Kemudian dia memandangi bibir merah cherry yang tadi siang dia nikmati sejenak. Bibir itu kembali di cium dan di lumat, kali ini lebih lama dan lebih kasar dari sebelumnya. Tubuh Mina menggeliat saat bibir atas dan bawahnya di gigit secara bergantian oleh Jin. Ciuman Jin beralih ke leher jenjang Mina dan meninggalkan beberapa bekas merah di leher bawahnya dan sekitar dadanya. entah reflek atau bagaimana Mina mendesah dan membuat Jin semakin terbakar.

Tangan Jin meraba perut Mina di balik kaos putih bertuliskan moschinno dan naik sampai menyentuh sesuatu yang ada di dadanya. Jin menaikan kaos Mina dan melepaskannya dari tubuh Mina, dia kembali mencium bibir Mina dengan kasar lalu tanpa di duga Mina membalas ciumannya dengan perlahan. Jin menatap wajah Mina untuk memastikan dia masih di pengaruhi alkohol lalu lebih ganas menciumnya.

“sa.. kitt..” erang Mina, Jin menghentikan kegiatannya. Seperti ada sesuatu yang memberitahunya untuk tidak melakukan itu kepada gadis yang ada di bawah kekuasaanya. erangan kesakitan Mina mengingatkan Jin kepada seseorang dan itu membuatnya menarik diri dari atas tubuh Mina. Tapi dia kembali teringat dengan sesuatu yang harus dia lakukan, akhirnya tanpa fikir panjang Jin langsung menarik rok pendek Mina sampai lepas dan melemparnya ke bawah ranjang. Kali ini Mina hanya berbalut dengan pakaian dalam saja, Jin meraih sebuah pisau cutter di dekat jendela lalu melukai tangannya sampai mengeluarkan banyak darah. Dia menempelkan darah itu pada seprai putih yang tepat berada di sebelah paha Mina lalu membuat keadaan kacau balau di atas ranjang.

Setelah di rasa sempurna Jin keluar dan tidur di kursi bersebelahan dengan Jungkook yang sudah dulu tidur.

*******

Mina mengernyitkan dahinya saat dirasa cahaya matahari menusuk matanya. Perlahan dia mendudukan tubuhnya lalu meraba – raba seperti mencari sesuatu yang biasanya ada disana, air putih. Tapi lama dia meraba tak kunjung mendapatkan akhirnya Mina membuka mata dan melihat suasana yang sangat berbeda dengan kamarnya. Sekelilingnya hanya keadaan berantakan dengan baju dan bantal dimana – mana. Tunggu dulu baju itu baju yang kemarin dia pakai, akhirnya Mina melihat kondisi tubuhnya di balik selimbut tipis. Melihat dia hanya memakai pakaian dalam membuatnya shock dan langsung berdiri di samping ranjang.

myowa ige?” pekik Mina. Pintu terbuka tiba – tiba, Jin terlihat disana dengan menggunakan kaos longgar putih tanpa lengan dan celana pendek hitam, wajahnya terlihat masih mengantuk. Melihat ada Jin di ambang pintu dan Jungkook, Suga yang mulai membuka mata di belakang Jin, Mina buru – buru membalut tubuhnya dengan selimbut tipis yang ada di atas ranjang.

“ada apa?” tanya Jin.

“a – apa yang terjadi padaku?”Mina balik bertanya.

“apa maksudmu?” Jin berlagak bodoh lalu memandang Mina yang berbalut selimbut. “oh itu.. kita umm.. semalam..”

Mina terperanjat lalu membuang pandangannya ke atas ranjang yang di benci olehnya, matanya menangkap sebuah noda darah di atas seprai putih.

“oh tuhan, aku sudah..” Mina merasa lemas, dia terduduk dengan sedikit selimbut yang turun di bagian dadanya. sedikit demi sedikit air matanya jatuh dan dalam waktu beberapa detik dia sudah menangis dengan keras di hadapan ketiga pria itu.

hiks.. hiks.. Eomma, Appa, Mianhae.. hiks.. hiks” tangis Mina. Jin menghampirinya dan berjongkok di depannya, Mina meringsut mundur sampai dia membentur besi RV.

Uljima..”

Mwo? Uljima? Kau sadar apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau sudah.. sudah..” Mina tambah kencang menangis, membuat Jin menjadi jengkel. Dia mengepalkan tangannya lalu meninju tepat di samping wajah Mina, tangisannya seketika berhenti. Jin menarik lengannya, yang meninggalkan penyokan di badan RV.

“ku bilang jangan menangis, dan aku mau kau tidak menangis. Jangan beritahu siapapun tentang ini atau berusaha melarikan diri dariku bila kau tak menurut aku akan menyebarkan fotomu”

Otak Mina seketika macet saat Jin bilang dia memiliki fotonya, gawat bila semua orang tahu mengenai ini. dan lebih gawat lagi bila orang tuanya tahu, bisa – bisa dia di usir dari rumah dan tak memiliki tempat tinggal lain.

“mengerti?” tanya Jin, Mina mengangguk dengan perlahan. Jin kemudian memunguti baju Mina dan memberikannya.

“segera pakai bajumu, aku tidak tahan melihat wanita telanjang di dalam rumahku” perintah Jin. Dia menatap Mina sejenak lalu keluar dari dalam kamar sambil menutup pintu.

Di dalam kamar, Mina duduk bersimpuh. Dia memandangi sekelilingnya, jadi ini rumah Jin? Tapi inikan mobil RV? Mina lalu memakai bajunya satu – persatu dengan perlahan.

Dia keluar dari kamar dan melihat semua orang sedang sibuk membuat ramyun untuk sarapan pagi, selama dia hidup belum pernah sekalipun dia memakan ramyun untuk sarapan. Terlihat disana Jin sedang memasukan bumbu instan kedalam rebusan ramyun nya. untuk ukuran korban tindakan asusila, entah mengapa dia tak merasakan sedikitpun kebencian atau amarah kepada Jin yang sudah melakukan hal yang tak senonoh kepadanya dan juga mengancamnya tadi.

Mina maju sambil menggenggam erat tas kecilnya, dia mendekat kearah Jin yang masih sibuk mengaduk Ramyun nya.

“aku mau pulang.. bi – bisakah Oppa memberi tahuku dimana – dimana halte bus nya? atau tempat pemberhentian taksi?” pinta Mina. Jin menoleh kearah Mina lalu memandang dari atas sampai kebawah.

“makanlah dulu, setelah itu Suga akan mengantarkanmu pulang” perintah Jin.

ani, aku akan..”

“kau bisa duduk di sana” Jin menunjuk sofa yang ada di ujung, Mina tak bisa menolak dan menurut saja. Dia duduk di sebelah Jungkook yang sedang mengelap mangkuk basah sementara Suga sedang memotong – motong tomat.

“hari ini sekolah libur, untung saja..” kata Jungkook, Mina tidak menanggapi malah sibuk memperhatikan Jin yang memasak. Wajah serius Jin membuatnya terpesona, Jungkook menyadari kemana sorot mata Mina.

“Jin Hyung mewarisi bakat memasak dari ayahnya” ujar Jungkook.

ne?”

Jungkook mengatur empat mangkuk dan sumpit di sekeliling meja, tak lama masakan Jin selesai. Mereka semua duduk mengelilingi meja bundar kecil, mirip seperti sebuah keluarga bila akan makan bersama. Jin yang duduk di hadapan Mina mulai menyendokan ramyun nya.

“tak makan?”  tanya Jin. Mina terkejut lalu menyendok sedikit ramyun kedalam mangkuknya. Melihat itu Jin langsung menyimpan sumpitnya dengan kasar dan menukar mangkuknya dengan mangkuk milik Mina.

“kau mengharapkan sebuah daging sapi korea? Makan yang banyak!” perintah Jin. Mina diam, merasa seperti seorang tahanan dalam penjara.

Selesai makan, Mina langsung masuk kedalam mobil Suga dan meninggalkan tempat itu. Dari balik jendela Jin memperhatikan mobil Suga sampai menjauh dan tak terlihat lagi. Sedikit rasa bersalah ada dalam hatinya, terutama saat melihat Mina menangis tadi. Tapi ini harus dia lakukan untuk mengikat Mina dan menjadikannya alat untuk meminta permohonan maaf dari Yoon Jae Hoon.

Sepanjang perjalanan Mina hanya melamun, dia memperhatikan jalanan dari jendela mobil kotor milik Suga. Dia masih tidak menyangka orang yang sangat di cintainya tega melakukan hal seperti itu, apa mungkin Jin tidak benar – benar menyukainya dan hanya ingin membuatnya sebagai permainan saja?

Suga melirik kearah Mina yang melamun di jok samping, dia berdehem untuk mengkode bahwa sebentar lagi dia akan bicara.

“rumahmu dimana?” tanya Suga.

“di kawasan Hapjaedong” jawab Mina.

“kau tidak apa – apa kan pulang sekarang?”

“tenang saja, ayahku tinggal di gwangju dan ibuku  sedang ada di Jepang.”

“mereka pasti sibuk”

“mereka bercerai dua tahun yang lalu”

“mengapa kau tidak ikut ayah atau ibumu?”

“ibu bekerja di sebuah provinsi kecil Jepang dan kata ayah sekolah di Seoul lebih bagus.”

“oh, ngomong – ngomong tentang kau dan Jin. Kurasa dia tidak sengaja, biasanya dia tidak akan melakukan bila tanpa persetujuan orang kedua. Tapi sepertinya godaan semalam terlalu kuat.”

“godaan?”

Suga menunjuk kearah rok pendek yang di gunakan oleh Mina. Dia berfikir sepertinya saat semalam dia mabuk rok nya tersingkap atau apalah dan kejadian itu terjadi. Pipi Mina berubah menjadi merah ketika berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Suga kembali memokuskan diri pada setir kemudi.

“Suga ssi, bisakah kita berhenti di Apotik dulu” pinta Mina.

“memangnya kenapa? Ada yang sakit?”

“aku tidak biasa memakan ramyun pagi – pagi jadi sepertinya perutku begah”

“baiklah..”

Mobil Suga di parkir tepat di depan Apotik 24 jam, Mina segera turun dan masuk kedalam Apotik. Setelah mendapatkan obat untuk lambung dan perutnya dia keluar dari Apotik tapi seseorang tanpa sengaja menyenggolnya sampai uang kembalian yang sedang dihitung olehnya terjatuh. Mina langsung memunguti uang itu di bantu olehnya.

Mian..” sesalnya, Mina hanya mengangguk.

“kau baik – baik saja?”

ne, kamsahamnida

Suga melihat itu menyipitkan mata, mencoba melihat siapa yang sedang bicara dengan Mina. Detik selanjutnya dia membulatkan mata saat melihat wajah lawan bicara Mina. Dia Park Jimin, musuh bebuyutan mereka bertiga. Apa Mina mengenal dekat Park Jimin?

“kau membeli obat untuk sakit perut? Obat apa yang kau pilih?” tanya Jimin.

“aku membeli ini..” Mina memperlihatkan merk obat kepada Jimin. Suga terlihat tidak senang karena Mina lama bicara dengan Jimin, dia meraih kacamata hitam dan memakainya kemudian menekan klakson mobil dengan keras.

Mina dan Jimin melihat kearah mobil, untung saja kaca mobil Suga gelap dan dia memakai kacamata jadi Jimin tidak menyadari siapa yang ada di dalam. Mina langsung pamit kepada Jimin dan masuk kedalam mobil dengan tergesa – gesa sampai ia tidak menyadari gantungan kunci yang ada di tas nya terjatuh. Setelah Mina masuk Suga langsung mengemudikan mobilnya. Jimin melihat gantungan kunci di bawah itu langsung mengambilnya dan memasukan kedalam saku celana.

“kau mengenalnya?” tanya Suga.

aniyo, dia tadi hanya menanyakan obat yang ku beli” jawab Mina, Suga mendengus.

Setelah mengantarkan Mina ke rumahnya, Suga langsung berbalik untuk menuju ke Markas atau RV yang selalu mereka gunakan untuk beristirahat. Dia memarkirkan mobil lalu duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan RV, Jin dan Jungkook keluar dengan membawa beberapa kaleng minuman dan camilan.

“kau sudah mengantarkannya? Bagaimana dia?” tanya Jin.

“sudah, dia tinggal sendiri di rumah besar itu. dua tahun yang lalu orang tuanya bercerai. Kemudian ayahnya di tugaskan di gwangju dan ibunya di Jepang” jawab Suga.

“dia juga berasal dari keluarga yang kacau!” gumam Jungkook.

“ayahnya lebih dulu mengacaukan keluargaku, karena membuat adikku yang tak tahu apa – apa sebagai pembunuh. Tapi Park Jimin yang benar – benar pembunuh dia bebaskan dari semua masalah dan tuntutan.” Kata Jin, mendengar nama Park Jimin, Suga jadi saat di depan toko obat itu.

“aku melihat Park Jimin..” kata Suga.

Mwo? Eodiga?” tanya Jungkook.

“apa yang dia lakukan?” tanya Jin.

“di depan toko obat saat aku mengantar Mina. Mereka sempat bicara sebentar tapi saat ku tanya Mina bilang dia hanya bertanya tentang obat” jawab Suga.

hoksi.. Yoon Mina kenal dengan Jimin? Ayahnya pasti pernah bekerja sama denganya dua tahun yang lalu” tebak Jungkook.

Molla, tapi bila benar.. kesempatan untuk membalas Yoon Jae Hoon sangat sempit.” Kata Jin “aku akan mencari tahu besok..”

*******

Keesokan harinya di SMA Cheonha. Mina berjalan dengan perlahan keluar dari kelasnya untuk menghindari Jin. Dia takut Jin akan mencarinya dan melakukan hal yang di takutkan seperti saat itu. Mina menuju perpustakaan dan duduk bersembunyi di ruang baca yang paling ujung dengan sebuah buku novel yang di gunakan sebagai Alibi. Dia menarik earphone dan memasangnya di telinga.

Jin dan Suga berjalan menuju kelas Mina yang bersamaan dengan Jungkook di lantai atas dasar sekolahnya, sampai di kelas dia hanya melihat gerombolan siswa yang sedang menulis di sebuah meja, ada Jungkook juga disana. Dia memanggil Jungkook untuk keluar.

“mana Mina?” tanya Jin.

“Yoon Mina?” Jungkook mengulang nama Mina sambil memandang setiap sudut kelasnya. “aku tidak tahu Hyung, aku sedang mengerjakan tugas kelompok untuk di serahkan kepada Kwon Jiyong Songsaeng sekarang”

arraseo.. arraseo.. kembali kedalam, bila Yoon Mina datang segera beritahu kami” kata Jin. Jungkook langsung kembali bersama gerombolan teman – temannya.

“kemana gadis itu?” gumam Jin.

Mereka berdua akhirnya bersama – sama mencari Mina, Jin ingin menanyakan tentang Park Jimin dan apa hubungan antara mereka berdua. Tapi sudah kemana – mana mereka mencari, Mina tak di temukan di manapun. Akhirnya karena lelah mencari mereka berdua duduk di dekat tangga sekolah sebelah perpustakaan. Saat sedang memandangi orang yang sedang bermain basket, Jin mendengar pintu perpustakaan terbuka. Awalnya dia tak memperdulikannya tapi saat melihat tubuh mungil dengan rambut coklat keluar dia langsung berdiri.

“Mina –ya..” panggil Jin, Mina menoleh dan langsung membulatkan matanya. Orang yang sedang berusaha di hindari sekarang ada di hadapannya. Tanpa fikir panjang Mina langsung berlari untuk menghindari Jin.

“kenapa dia?” tanya Suga. Jin tak menjawab dan langsung berlari untuk mengejar Mina.

Mina sekuat tenaga berlari menghindari Jin, dia menuruni tangga dengan terburu – buru dan menabrak beberapa haksaeng yang ada di hadapannya. Jin berada tepat di belakangnya dan masih mengejarnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari Mina. Ketakutan dia akan tertangkap akhirnya Mina berbelok ke sebuah ruangan khusus loker, Jin menghentikan langkahnya lalu berbelok ke jalan lain sambil menyeringai.

Kaki Mina sakit saat dia duduk di kursi depan lokernya. Dia ingat pernah menyimpan sebuah kipas angin kecil di dalam loker, mungkin itu akan membantunya untuk menyegarkan kakinya yang sakit. Saat dia sedang membuka loker pribadinya tiba – tiba Jin mendorong pintu loker itu sampai tertutup dan menimbulkan bunyi yang keras. Dia lalu membalikan tubuh Mina dan mendorongnya sampai membentur lokernya, Mina mengerang karena punggungnya sakit.

Neo..” Jin menatapnya dengan dingin, Mina sangat ketakutan sekarang. Dia sudah melanggar apa yang di katakan oleh Jin kemarin.

Neo..” ulang Jin, dia memandangi wajah Mina dengan kesal.

Suara celoteh Haksaeng terdengar masuk kedalam ruangan, tanpa fikir panjang Jin langsung mendorong Mina sampai ke sudut ruangan dan mencium bibirnya. Dia tak ingin ada yang mengganggu, setelah melihat mereka berciuman pasti Haksaeng itu memilih untuk pergi.

Mwoya ige? Berciuman di ruang loker..” kata salah seorang, dan yang lainnya mengajak untuk pergi.

Setelah Haksaeng pergi, Jin melepaskan ciumannya lalu kembali menatap dingin wajah Mina.

Na ttarawa..” Jin menarik lengan Mina dengan keras, sepanjang perjalanan dia mendorong para haksaeng yang menghalangi jalannya. Mina di belakangnya hanya bisa meringis menahan sakit di pergelangan tangannya. Langkah Jin terlalu lebar dan cepat bagi Mina, jadi dia harus mengimbangi dengan berlari – lari kecil. berkali – kali kakinya tersandung tapi Jin tak menghiraukannya dan terus menarik lengannya untuk naik keatas atap sekolah.

Sampai di atap sekolah, Jin mendudukan Mina di sebuah kursi kotor lalu berdiri di hadapannya. Mina menundukan kepalanya bersiap dengan segala sikap yang tiba – tiba Jin berikan, itu adalah pelajaran nomor satu yang Jin berikan.

“pelajaran ketiga, di larang menghindari pacarmu dimanapun kau berada..” ujar Jin. Mina mengangguk dengan perlahan.

“kau sudah berani pergi dariku?”

Mian, aku salah” ungkap Mina dengan suara kecil hampir mirip seperti decitan tikus. Jin mendengus lalu berjongkok di hadapannya.

“aku mau bertanya, apakah kau kenal dengan orang bernama Park Jimin?”

Mina menegakan kepalanya untuk memandang Jin. Nama itu terdengar tidak asing tapi dia juga tidak tahu pernah mendengarnya dimana. Tapi untuk apa Jin menanyakan nama itu padanya?

aniyo..” jawab Mina, Jin bisa melihat kejujuran di dalam mata gadis itu.

hoksi, kau tahu kasus kematian.. ah lupakan, maaf soal tanganmu yang sakit” ungkap Jin. Mina mengangguk.

keugae kenapa kau menanyakan itu?”

“bukan apa – apa, pulang sekolah tunggu aku di gerbang.”

“mau apa?”

“pelajaran keempat, jangan terlalu banyak bertanya”

Setelah mengatakan itu Jin pergi meninggalkan Mina sendirian. Mina menatap kepergian Jin dengan bingung, apakah benar Jin menyukainya juga? Tapi mengapa dia bersikap seenaknya?

Mobil yang di kemudikan oleh Suga berhenti di sebuah parkiran Mall, mereka semua langsung keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam Mall yang ramai itu. sepanjang perjalanan kesini Jin tak banyak bicara dan Mina juga tak banyak bertanya karena pelajaran nomor empatnya.

“aku akan membeli buku untuk referensi ujian, kau bisa pilihkan untukku!” kata Jin, itu bukan permintaan melainkan sebuah pernyataan yang wajib di patuhi oleh Mina.

Dalam toko buku itu mereka berempat di bagi dua, Jungkook dan Suga memilih mencari Komik sementara Mina dan Jin di bagian pendidikan. Mina menarik sebuah buku yang ada di deretan atas, tapi karena terlalu tinggi dan berat buku itu hampir jatuh mengenai kepalanya. Untung saja Jin segera menangkap buku itu sebelum melukai kepala Mina.

“mengapa kau sangat ceroboh” omelnya, Mina mendengus sebal.

“aku biasa memakai buku terbitan itu saat akan ujian atau melakukan ulangan.” Jelas Mina, Jin memandangi buku bercover tebal yang ada di tangannya itu.

geurae, aku akan memakai ini untuk referensiku. Aku tak mau gagal dalam ujian, sekolah sudah sangat membosankan” ujar Jin lalu menyerahkan buku itu ke kasir yang bertugas.

“semuanya 50 rb Won.” Ujar sang kasir, Jin membuka dompetnya. Mina sedikit melirik memastikan Jin memiliki cukup uang untuk membayar buku itu. untuk ukuran seorang anak jalanan dompetnya sangat tebal, dia bisa melihat black card dan berlembar – lembar uang pecahan 100 rb Won.

“ini adalah ulang tahun toko kami, setiap pembelian lebih dari 30 rb Won akan di berikan sebuah hadiah, silahkan pilih yang kalian inginkan” kasir menunjuk etalase yang menajang berbagai hadiah. Dari mulai gantungan kunci sampai peralatan sekolah.

“aku ambil yang itu..” Jin menunjuk sebuah gantungan ponsel yang berbentuk hati dengan bulu angsa putih di bawahnya. Kasir segera mengambilnya lalu memberikan kepada Jin.

“itu adalah sepasang hati, kau bisa memberikan kepada seseorang yang spesial sebelah.” Ujar Kasir.

Gantungan ponsel itu terbelah di bagian tengah nya, Jin memberikan yang satu kepada Mina dan yang satu lagi untuknya. Mendapatkan gantungan kunci itu membuat Mina merasa senang, dia menjadi orang yang spesial untuk Jin.

Setelah mendapatkan apa yang di inginkan mereka bersama – sama masuk keluar dan menuju parkiran mobil tempat Suga menyimpan mobilnya. Sepanjang jalan Jungkook tak berhenti mengoceh dan bercanda bersama suga sementara Jin dan Mina hanya diam, terjadi kediaman yang sangat membingungkan diantara mereka berdua.

Saat mereka akan masuk kedalam Mobil seseorang menyapa dengan lagak yang sangat tidak sopan.

“wah wah wah.. Urinmaniya Kim Seokjin..” katanya. Tiba – tiba Jin langsung mengenggam erat lengan Mina dan membuatnya bersembunyi di balik punggungnya.

“apa yang kau inginkan Park Jimin?” tanya Jin. Mina mengintip dari balik tubuh Jin, pria bernama Park Jimin itu yang kemarin bertemu dengannya di depan Apotik.

“lama tak bertemu dan sekarang kau berkeliaran dengan anak seorang jaksa?”

“bukan urusanmu aku berkeliaran dengan siapa saja!”

“mm.. kau mau memintanya untuk mengusut kematian adik tersayangmu lagi?” tebak Jimin, Mina yang mendengarnya langsung menegakan kepala. Jadi ini alasan Jin mendekatinya? Bukan semata karena menyukainya? Hatinya merasa sangat sakit.

“ku bilang ini bukan urusanmu!”

geurae?” Jimin maju selangkah, Jin makin mengeratkan pengangan tangannya.

“masuk kedalam mobil..” perintah Jin kepada Mina. Mina diam saja tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.

“MASUK KEDALAM MOBIL YOON MINA!” bentak Jin, dengan segera Mina melepas tangannya lalu masuk kedalam mobil.

Jimin menatap Mina yang masuk kedalam mobil lalu beralih memandang Jin, dia maju dan menarik kemeja seragam Jin. Tak tinggal diam, Jin melepaskan dengan kasar lengan Jimin lalu memandanginya dengan amarah. Jimin mengepalkan tangannya dan meninju bibirnya sampai robek dan tersungkur di lantai parkiran. Mina membulatkan matanya, dia hendak keluar tapi Suga segera menekan tombol kunci otomatis yang ada di tangannya.

shit!” umpat Jin, dia bangun lalu membalas perlakuan Jimin. kedua orang yang ada di belakang Jimin langsung menyerang Jungkook dan Suga. Seketika terjadi perkelahian yang mengerikan.

Jimin dan Jin saling memukuli satu sama lain, pelipis Jin robek dan mulutnya mengeluarkan darah. Jimin meninju perutnya sampai Jin tersungkur di dekat mobil dan menendanginya bertubi – tubi. Melihat itu Mina sekuat tenaga membuka pintu tapi tak bisa karena terkunci, dia hanya bisa memukul – mukul kaca mobil sambil berteriak meminta Jimin untuk menghentikan perbuatannya.

Beruntung petugas keamanan segera berdatangan, jadi Jimin dan kedua temannya segera kabur. Suga dan Jungkook yang terluka membantu Jin untuk masuk kedalam mobil dan di dudukan di sebelah Mina yang terlihat sangat khawatir. Suga segera menyalakan mobilnya dan pergi dari kawasan Mall itu sebelum tertangkap oleh polisi.

Di dalam Mobil Mina membuka kardigan yang di pakainya lalu di gunakan untuk mengelap darah di pelipis dan mulut Jin. Wajahnya sangat khawatir bahkan hampir menangis. Jin terbatuk dengan mulut mengeluarkan darah lagi.

“kita harus membawanya kerumah sakit” Kata Mina, Suga menurut dan membelokan mobilnya menuju rumah sakit Jae Il.

Setelah pulang dari rumah sakit hari sudah beranjak malam saat mereka sampai di RV. Mina membantu Jin keluar masuk dan membaringkannya di atas tempat tidur yang pernah dia tiduri kemarin malam. Setelah memastikan Jin nyaman dia segera mengambil air untuk minum kekasihnya. Jin meminum air putih itu lalu tidur dengan membelakangi Mina.

“kau baik – baik saja?” tanya Mina, Jin tidak menjawab. Mina memutuskan untuk keluar dari kamar dan membiarkan Jin beristirahat sendirian.

Jin menatap pintu yang tertutup, saat tadi Park Jimin datang kehadapannya entah mengapa perasaan ingin melindungi Mina muncul. Dia tadi sangat khawatir Jimin akan melukai Mina, dan saat melihat ke khawatiran di wajah Mina dia merasa sedikit bersalah. Apa mungkin dia mulai menyukainya?

Mina melihat Jungkook dan Suga yang berbaring di atas sofa, bila di banding dengan Jin luka mereka berdua terbilang ringan. Hanya beberapa lebam di pelipis dan juga bibir. Perut Mina berbunyi, dia sadar belum makan apapun dari siang. Mungkin dia juga akan memasak sesuatu untuk ketiga pria yang sedang terluka. Mina membuka kulkas kecil di dekat kompor, dia hanya menemukan sebuah wortel, telur dan tomat. Dia menutup pintu Kulkas setelah mengeluarkan semuanya, di samping kompor ada semangkuk beras yang sudah menguning.

“selama ini mereka makan apa?” gumam Mina. Akhirnya dia meraih Cardigan dengan noda darah nya dan keluar untuk membeli makanan. Keadaan sekitar sedikit gelap dan hanya di terangi oleh lampu jalan. Mina merapatkan Cardigannya dan keluar dari RV, dia berjalan sendirian di pinggir jalan ladang jagung. Beberapa saat dia merasa seperti ada orang yang mengikuti, Mina menoleh dan terkejut melihat Jin ada disana.

Oppa..” katanya.

Neo Eodiga?” tanya Jin.

“aku lapar jadi aku akan membeli beberapa makanan.” Jawab Mina.

“sangat bahaya berjalan sendiri disini, terlebih lagi kau wanita! Kau mau di temukan oleh anak berandalan?” Jin memarahi Mina.

keundae..”

kajja, aku akan mengantarkanmu”

Jin menarik lengan Mina, kali ini dengan lembut dan tidak di paksa seperti tadi siang. Mereka berdua berjalan dengan keheningan, sibuk dengan pemikiran masing – masing. Saat mereka sampai di persimpangan jalan tiba – tiba sebuah motor melaju dengan kencang dan hampir saja menabrak Mina, Jin menarik Mina sampai tak sengaja mereka berpelukan di depan umum. Sadar mereka di perhatikan dengan cepat Mina melepas pelukannya.

i told you stand by me..” sergah Jin, lalu berjalan lebih dahulu.

Eonje? Kapan kau mengatakan itu. huft” Mina mengerucutkan bibirnya. Jin menoleh kearah Mina lalu melotot, menyuruhnya untuk cepat berjalan lagi.

Mereka masuk kesebuah restoran cepat saji dan memesan empat sup panas dan daging serta nasi yang di bawa pulang. setelah pulang mereka kembali sibuk dengan pemikiran masing – masing. Sampai di RV mereka juga tidak saling bicara.

Jin membangunkan Jungkook dan Suga yang tertidur di atas sofa sementara Mina menyiapkan makanannya di atas meja bundar kecil. mereka berempat kembali mengelilingi meja kecil itu tapi kali ini makanan yang ada lebih layak dari sebelumnya.

Mina menyendokan nasi kedalam mangkuk masing – masing, dia memperhatikan semua orang makan dengan lahap sampai lupa bahwa dia juga perlu makan. Jin menatapnya dengan tajam.

anmogonya?

ne? A – aku makan.” Mina tergagap lalu memasukan nasi kedalam mulutnya.

Selesai makan Suga dan Jungkook kembali tertidur sementara Mina membantu Jin memasang perban di pelipisnya karena tadi lepas. Mereka berdua duduk di atas ranjang dengan masih memakai baju seragam sekolah yang besok harus kembali di gunakan.

Saat memasang perban di wajah Jin, mereka berdua tak sengaja bertatapan. Mata mereka saling memandang lurus seperti menyelami perasaan masing – masing yang tak di ketahui siapapun. Jin buru – buru membuang pandangannya kearah jendela, malam semakin larut dengan suara jangkrik di luar.

“Su – suga sudah tidur, kau menginap disini saja. sebentar..” Jin bangkit dari ranjang lalu memilih – milih baju yang di gantung di kapstok, di sana hanya ada baju tanpa lengan dan jas sekolahnya. Jin menatap ember yang berisi baju kotornya lalu mendengus.

“kau bisa memakai ini” kata Jin sambil menyodorkan kaos tanpa lengan yang longgar itu. Mina mengambilnya lalu masuk kedalam kamar mandi kecil yang ada di sana.

Mina terlihat sangat tidak nyaman dengan baju yang di pakai olehnya, untung saja baju yang di pinjamkan oleh Jin panjangnya menutupi bokongnya, jadi dia tidak begitu khawatir karena dia memakai celana pendek saat memakai rok pendek sekolah.

Keluar dari kamar Mandi, Mina berusaha menutupi bagian yang terlalu terbuka dengan tangannya lalu menggantungkan baju di kapstok dekat dengan jas milik Jin. Sementara Jin duduk di atas ranjang dengan singlet dan celana pendek hitam.

“kau bisa tidur disini..” kata Jin.

ne?” Mina terkejut, dia takut kejadian tempo hari akan terulang lagi jadi dia menolak dengan halus.

“lebih baik aku tidur di luar saja”

“besama Suga dan Jungkook? dan memakai baju itu?” Jin menunjuk kaosnya, Mina hanya diam saja.

“tidur disini, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Terserah padamu saja, aku mengantuk” Jin membaringkan badannya lalu tidur.

Butuh waktu lama untuk Mina bisa naik keatas tempat tidur, dia bekali – kali melirik kearah Suga dan Jungkook yang sudah tertidur di atas Sofa. Akhirnya Mina naik keatas tempat tidur, asal pintu terbuka Jin tidak akan melakukan apapun kepadanya.

Dengan ragu Mina berbaring diatas ranjang, dia menatap Jin sejenak lalu membalikkan badannya. Dia tidur dengan posisi membelakangi Jin.

Jin sebenarnya tidak tidur, dia hanya pura – pura tertidur agar Mina bisa lebih rileks beristirahat di sampingnya. Dia menatap punggung Mina yang ada di sebelahnya lalu menaikan selimbut sampai menutupi tubuh Mina.

*********

Hari sudah beranjak pagi, Jin membuka matanya dan meraba kesebelah tempat tidurnya. Disana kosong dan yang ada hanya udara kosong yang menyambut lengannya. Jin manatap kesemua penjuru tapi tidak di temukan adanya Mina, tapi segelas air putih ada di dekat jendela. Jin mengambil air putih itu dan meminumnya sampai habis sambil memandang keluar jendela. Disana terlihat Mina sedang memeras baju dan menjemurnya di sebuah tali yang biasa dia pakai. Jin melihat jam yang ada di ponselnya, sudah jam 10 pagi.

Dia keluar dari kamar lalu menyimpan gelas berisi air di tempat cuci piring. Sangat ajaib, semua sudut ruangan terlihat rapi dan bersih. Tak ada buku yang berantakan, piring kotor ataupun baju cucian yang menggunung. Jin melihat kamar mandi yang bersih dan kering. Apa Mina bersih – bersih?

Mina masuk sambil mengelap dahinya menggunakan handuk kecil, dia masih menggunakan baju milik Jin dan Cardigannya. Dia berhenti saat melihat Jin ada di depannya.

Oppa sudah bangun?” tanyanya.

“kau tak berangkat sekolah?” Jin balik bertanya.

“aku bangun saat Suga ssi dan Jungkook akan berangkat, tidak mungkin menyuruh mereka menungguku.” jawab Mina.

“kau yang mengerjakan semua ini?”

ne, sangat berantakan jadi aku membereskan semuanya”

Jin duduk di kursi dekat lemari, dia menyuruh Mina untuk duduk juga.

“pelajaran ke lima jangan melakukan apapun tanpa se-ijinku”

ne? Mian..”

“Suga dan Jungkook pasti tak berani membangunkanku tadi..”

Suasana selalu canggung bila mereka sedang berdua, baik Jin ataupun Mina selalu saja kehilangan kata – kata di hadapan satu sama lain. Mereka berdua selalu berusaha mencari sesuatu untuk di katakan tapi tak pernah menemukannya. Jin memandang Cardigan Mina yang kemarin di gunakan untuk mengelap darah, disana masih ada noda darah yang mengering.

“kau mau pulang? aku bisa antar” kata Jin, Mina mengangguk.

Mereka berdua kembali berjalan di tepi ladang jagung dan berhenti di sebuah tempat pemberhentian bus yang ada di dekat sebuah mini market. Bus yang melewati Hapjaedong berhenti dan mereka berdua masuk kedalam. Mereka kemudian duduk di kursi berlakang yang dekat dengan jendela. Sepanjang perjalanan ada seorang pria yang terus saja memandangi Mina, mungkin karena bajunya yang terlalu pendek. Mina juga terlihat risih dengan tatapan mesum orang itu, berkali – kali dia berusaha memperbaiki letak duduknya.

Jin menyadari ketidak nyamanan Mina, dia memandang tajam kearah Pria yang duduk di sebelahnya.

“apa yang kau lihat?” tanya Jin keras, si pria langsung membuang pandangan ke luar jendela. Jin kemudian membuka jaket yang dia pakai lalu menutupi bagian paha Mina yang terekspose.

Bis berhenti di sebuah halte dekat gerbang komplek perumahan Mina. saat memasuki daerah perumahan Jin merasa sangat aneh karena disini sangat sepi dan nyaris tanpa kehidupan, sedikit kekhawatiran muncul saat dia mengingat Mina hanya tinggal sendiri di sini.

Mereka sampai di depan rumah Mina yang lumayan besar dengan pekarangan yang luas. Mina membuka kunci pintu rumah dan mempersilahkan Jin untuk masuk kedalam. Di dalam rumahnya suasana hening dan sepi menyambutnya. Semua barang – barang rapi di tempat masing – masing. Mungkin saking sepinya tak ada yang memindahkan barang – barang itu. Jin mengikuti Mina untuk masuk kedalam kamarnya, Kamar yang bernuansa biru muda itu sedikit berantakan. Beberapa buku terbuka di atas meja belajar yang menghadap jendela, keranjang di samping lemari terbuka dan tirai jendela yang sedikit terbuka.

“aku akan mandi, Oppa mau tunggu disini atau..”

“disini saja..” potong Jin, Mina mengangguk dan keluar dari kamarnya.

Jin menjelajahi setiap inci kamar Mina, di melihat sebuah meja panjang yang di atasnya terpajang beberapa Foto. Foto Mina saat kecil, bersama teman, dan saat kelulusan. Tapi ada sebuah foto yang menarik minatnya, sebuah foto pernikahan kedua orang tua Mina.

Hold Me Tight Nikah

Jin membalikan foto itu, muak melihat wajah Yoon Jae Hoon yang ada di dalam Foto. Di kemudian menuju ke sebuah lemari pajang yang ada di sebelah tempat tidur Mina. ada beberapa boneka action figure dan beberapa pajangan lucu. Disana ada sebuah bingkai Foto yang menghadap ke belakang degan tulisan “Cheonha Prince”. Penasaran, Jin membalikan bingkai foto itu dan terkejut melihat fotonya yang entah kapan di ambil ada disana.

Hold Me Tight Jin

 

“kapan dia memotret ini? kenapa bajuku sangat rapi?” gumam Jin, dia tidak ingat kapan terakhir dia berpakaian rapi ke sekolah.

Mina masuk sambil mengelap rambutnya yang basah, dia juga sudah berganti pakaian dengan sebuah dress biru selutut dan terlihat manis. Jin segera membenarkan posisi bingkai itu seperti semula. Mina duduk di depan meja riasnya dan mulai menyisir rambutnya sambil bernyanyi kecil.

kkwak jabajwo nal anajwo..

Hold me tight, hug me
Can you trust me..”

 

Jin akui, Mina adalah seorang gadis cantik dan baik. Selama ini dia pasti memiliki kehidupan yang menyenangkan, berbeda dengannya. Hati Jin bergetar saat mendengar nyanyian kecil dari bibir Mina. tanpa sadar dia terus memperhatikan gadis yang sedang mengoleskan bedak tipis – tipis ke wajahnya, lalu mengangkat sebuah lipbalm merah muda.

Saat Mina akan mengeleskan Lipbalm itu, tangannya di tahan oleh Jin. Mina mendongak dan melihat Jin ada di sebelahnya.

“jangan oleskan itu, aku lebih suka bibir tanpa sedikitpun polesan” ujar Jin, dia tersenyum dengan tulus kearah Mina. ini adalah kali pertama Jin tersenyum dengan segenap hatinya kepada Mina. Mina tak bisa melakukan apapun, dia seperti membeku saat melihat senyuman di bibir Jin.

Jin menarik Mina untuk bangun dan berhadapan dengannya, lengan Jin beralih ke tengkuk Mina lalu mendorongnya untuk menempelkan bibir itu dengan lembut. Ciuman mereka hanya menempelkan bibir saja tapi terkesan sangat dalam dan penuh perasaan. Lama kelamaan Jin mulai menggerakan bibirnya dan menggigit kecil bibir bawah gadisnya, Mina membalas ciuman Jin dengan hal yang sama. Tidak ada penolakan, pemaksaan atau yang lainnya, ini semua murni dari hati mereka masing – masing.

*********

Hari ini Mina sengaja pergi ke sebuah supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Dia membeli wortel, brokoli, lobak dan beberapa daging untuk kebutuhannya makan dan mungkin dia bisa membaginya dengan Jin dan kedua temannya yang seperti kekurangan gizi.

Setelah membayar dengan uang pas, Mina membawa bahan mentah makanan itu untuk pulang. karena lokasi supermarket tidak terlalu jauh dari rumahnya dia pulang dengan berjalan kaki. Mina tertarik dengan seorang penjual permen kapas di depan sebuah toko mainan, dia membeli sebuah permen kapas putih dan memakannya sambil berjalan.

Saat sampai di sebuah Gang yang menjadi jalan pintas ke kompleknya dia melihat tiga orang sedang duduk di dekat gedung. Mina mengacuhkannya dan terus berjalan tapi, saat dia melihat ketiga orang itu berjalan kearahnya. Wajah mereka terlihat sangat familiar, saat dia ingat – ingat lagi ternyata mereka adalah orang yang waktu itu berkelahi dengan Jin dan kedua temannya. Mina hendak memutar arah tapi dari belakang ada dua orang lagi, dia di kelilingi dengan lima orang yang menatapnya dengan tajam.

“Yoon Mina ssi!!” sapa Jimin, Mina mundur beberapa langkah untuk menghindari Jimin.

“jangan mendekat!!” bentak Mina, dia mengeluarkan sebuah lobak panjang dari dalam tas belanjanya lalu mengacungkan di depan wajah Jimin. meskipun tidak tajam setidaknya Lobak itu akan membuat kepala Jimin sakit bila dia menghamtamkannya dengan keras.

“weish.. santai saja Jagi. Oppa tidak akan menyakitimu”

“Ma- mau apa kau? Aku tidak mengenalmu, pergi!”

“kau sangat berisik sekali, perlukah aku membungkam mulutmu itu”

“apa yang kau inginkan?”

“santai saja, aku hanya ingin bicara..”

mwoya?”

“apa yang sudah Kim Seokjin katakan padamu selama ini? tak tahu kah kau, dia adalah seorang yang jahat?”

“apa urusanmu, ini kehidupanku. Aku bebas berteman dengan siapa saja” Mina memandang Jimin dengan tajam dan makin mengacungkan lobak panjang itu ke wajah Jimin.

“kau sangat cantik bila sedang marah, turunkan senjatamu nona”

Sireo..” tolak Mina. Jimin menyeringai lalu kemudian menyingkirkan sendiri lobak itu. Mina mengambil kesempatan itu untuk memukul kepala Jimin dan menendang selangkangannya. Mina langsung lari saat Jimin tersungkur di bawahnya.

Keempat anak buah Jimin langsung mengejar Mina yang berlari sambil ketakutan, dia berbelok di sebuah toko dan langsung bersebunyi di sebelah tempat sampah besar. Terdengar suara derap langkah beberapa orang yang berhenti.

“kemana gadis itu?”

“ayo kita cari..”

Suara langkah kaki itu terdengar menjauh, Mina mengehembuskan nafas lega kemudian segera berlari untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Mina langsung merebahkan diri di atas sofa depan tivi, rasanya sangat lelah karena dia berlari untuk sampai di rumahnya.

Dia yakin tadi bila tidak buru – buru pergi Jimin akan melakukan tindakan yang menyeramkan seperti memukul misalnya. Dalam hati Mina bertanya – tanya sebenarnya apa penyebab Jimin begitu membenci Jin dan beranggapan bahwa Jin adalah orang yang jahat dan harus di hindari?

“saat itu dia bilang memanfaatkanku untuk kasus adiknya?” gumam Mina, dia teringat kejadian saat di parkiran.

Mina naik ke lantai dua dan membuka ruangan yang dahulu pernah di gunakan oleh ayahnya untuk bekerja. Mungkin saja disini ada berkas tentang kejahatan yang di urus ayahnya dua tahun yang lalu, dan semoga saja berkas itu tidak di bawa ke Gwangju.

Bekas ruangan kerja ayah Mina sangat gelap, dia membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam ruangannya. Di rak besar yang di tempati oleh deretan buku tua dan rak lainnya dia tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan kasus kriminal. Mina membuka laci meja ayahnya lalu menemukan sebuah foto seorang anak laki – laki berambut hitam, dia tidak mengenali siapa orang yang ada di foto.

Nugu?” kata Mina, dia berusaha mengingat apakah dia memiliki saudara atau kerabat seperti yang ada di foto.

“mungkin kerabat jauh ayah..” Mina meletakan foto itu kedalam laci meja lalu keluar dari ruangan kerja. Tidak ada yang di temukan selama pencarian itu.

Mina turun ke lantai bawah untuk membereskan bahan makanan yang dia beli tadi. Tapi saat dia turun disana sudah ada Park Jimin beserta keempat orang yang tadi mengikutinya. Mina diam di anak tangga dengan ketakutan, bagaimana bisa Jimin masuk kedalam rumahnya?

Dia segera berlari keatas dan Jimin mengejarnya, Mina masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintu. Dia mencari ponselnya untuk meminta pertolongan tapi ponselnya tak ada di manapun. Panik, karena Jimin sedang berusaha mendobrak pintu kayu putih kamarnya Mina berlari menuju kamar ganti. Untung saja disana dia melihat ponselnya yang ada di atas meja. Mina segera memencet tombol panggil pada nomor Jin, tapi tak ada jawaban. Itu dia lakukan sampai 3 kali tapi tetap saja tak ada jawaban. Akhirnya dia mengetikkan pesan yang langsung di kirim kepada nomor Jin.

Jimin mendobrak pintu kamar ganti, Mina langsung di seret untuk keluar. Sekuat tenaga Mina melepaskan cengkraman Jimin yang menyakitkan. Dia di hempaskan di atas lantai kamarnya dengan kasar oleh Jimin. rambutnya di tarik kebelakang oleh Jimin.

“akkhh..” pekik Mina.

“kau tadi sudah menyakitiku dan sekarang kau harus bertanggung jawab” ujar Jimin.

“lepaskan aku” pinta Mina memelas.

Jimin menarik rambut Mina sampai beberapa helai rontok, kemudian dia membangunkan Mina dan mendorongnya sampai terjatuh di atas tempat tidurnya. Mina beringsut mencoba lari tapi Jimin menarik lengannya dan menghempaskan tubuh Mina keatas tempat tidur, pelipisnya tak sengaja membentur ujung tempat tidur sampai lebam dan mengeluarkan darah.

Jimin membalikan tubuh Mina untuk menghadapnya lalu mencoba menciumnya dengan paksa. Mina membuang mukanya untuk menghindari bibir Jimin, kesal ciumannya gagal Jimin mencengkram pipi Mina lalu menamparnya berkali – kali sampai memerah. Mina menangis karena sakit, berkali – kali dia meminta untuk di lepaskan tapi Jimin tak menggubrisnya.

Tamparan yang bertubi – tubi itu membuat Mina pusing dan merasa sangat lemah, dia bahkan tak mampu menggerakan jari tangannya. Jimin menjatuhkan tubuhnya di atas Mina yang tak bisa melakukan apapun. Jarinya menyisir anak rambut di pelipis Mina dan mengelap keringat dingin yang mengucur deras.

Uljima..” hibur Jimin, Mina terus menangis dengan kencang.

“ku bilang jangan menangis atau..” kata – kata Jimin terpotong saat seseorang datang menarik bahunya sampai terjatuh di bawah tempat tidur. Dia lalu memukuli wajah Jimin sampai mengeluarkan darah. Jimin tak tinggal diam, dia menendang perutnya lalu kabur.

“Mina –ya.. Mina…”

TBC…

Preview next chapter :

 

“kau memiliki aku. apa pun yang terjadi aku akan selalu menjagamu”

 

“semalam juga aku yang memasangkanmu baju, kau tak mau membalas perbuatanku?”

 

“Yoon Mina, will you marry me”

 

“ku akui kulitmu sangat lembut, bisakah aku menyentuhmu lagi?”

 

“setiap satu jawaban yang benar, kau harus memberiku satu ciuman”

 

“Jungkook –ah bila jawabanku benar kau yang menciumku”

 

“bila Jin Hyung tahu dia akan…”

 

“pelajaran ke enam, jangan pernah menangis lagi. Bila kau ingin menangis maka menangislah di depanku”

 

“dia bertindak aneh, dia bilang dia melakukan kesalahan besar dan ketakutan”

 

“KAU INGIN MENYELAMATKAN KELUARGAMU LALU BAGAIMANA DENGAN KELUARGAKU?”

 

Author note : anyeong haseo!!

Sebelumnya aku mau say kamsahamnida buat Admin yang mau ngepost FF aku ini dan readers yang mau baca.

Ini FF pertama punyaku yang di post di sini, kalian sukakah? Gimana feel nya? gimana alurnya? Sempet rada gak pede juga buat post FF disini yang rata – ratanya pada bagus – bagus tapi well, better try than never, kan?

Minta kriti dan sarannya ya buat perbaikan di next chapter.

(maaf aku terlalu alay cuap – cuapnya..)

Sekali lagi makasih

Bow 90 derajat.

  • @namchagiLu –

2 thoughts on “Hold Me Tight (Part 1 – Try to Open Your Heart)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s