[Vignette] He is A-type

He is A-type

Scriptwriter: Nathaniel Jung | Title: He is A-type | Cast: OC’s Rui, BTS’s Jungkook, SEVENTEEN’s Mingyu, and other rookie idol | Genre: School-life | Duration: Vignette | Rating: teen | Diclaimer: This is my own story. Don’t be plagiator!

▽●▽●▽●

Iya, aku Na Rui menyukai Jeon Jungkook.

“Selamat siang.”

Setelah Guru Han pergi meninggalkan separuh jam pelajaran kedua —yang seharusnya masih mengajar, teman-temanku lantas bersorak riuh redam. Lebih mengarah kepada guru matematika sekaligus guru paling senior di sekolahku. Kebiasaanya yang apabila mengajar yang harusnya dua jam pelajaran, malah justru setelah lima puluh menit pelajaran berlangsung beliau justru pamit undur diri.

Tak apa jika beliau sudah dengan baik mengajar kami. Tapi jika materi yang disampaikannya kami tak paham satu pun —kecuali anak-anak tertentu..? Apa itu diperbolehkan? Biasanya kalau di sekolah-sekolah lain para siswa lah yang sering membolos. Tapi di sekolah kami berbeda, justru para guru yang sering absen, contohnya Guru Han. Mungkin faktor waktu pensiunnya yang sebentar lagi tiba jadi beliau seperti itu? Atau memang dari dulu gaya mengajarnya seperti itu? Entahlah.

“Wah, aku tahu ia pergi kemana.”

Itu Jungkook. Anak olimpiade matematika. Seorang yang ramah, kesayangan guru. Terkenal di kalangan senior-angkatan kami- dan junior, atau bahkan seluruh warga sekolah mengenalnya.

“Pasti pergi merokok lagi!”

Sedangkan yang itu Mingyu, Kim Mingyu. Dia satu tim dengan Jungkook dan Junhong saat olimpiade matematika. Aku dulu pernah bertemu dengannya saat mendaftar di sekolah yang sama di SMU Han-jeok. Namun sayang aku tidak diterima. Lebih terkejutnya lagi dia juga tak diterima, dan akhirnya kami satu sekolah di SMU Dae-jeon, bahkan satu kelas.

Kalian bertanya siapa aku?

Serius mau tahu? Oke, akan kugambarkan sekilas mengenai diriku.

Aku Rui, Na Rui. Siswi biasa, tak populer, namun memiliki teman banyak. Masalah otak aku juga biasa saja. Aku lebih condong ke rajin daripada pintar. Teman-temanku sepakat kalau aku orang yang cuek namun berisik di saat yang bersamaan. Punya teman sebangku yang juga sama-sama berisik, Dahyun. Jika kami berdua sudah berulah, sudah kupastikan saru kelas akan ikut-ikutan. Entah itu menjahili temannya, bermain games, bergosip, atau bahkan tidur.

“Rui eonni, kau bisa mengerjakan yang nomor 17 tidak?”

Nah, kalau Si Manis kali ini Shannon. Dia memang setahun lebih muda dariku —anak akselerasi. Shannon juga murid kesayangan guru, atau lebih tepatnya favorit para guru. Siapa yang tidak suka. Sudah cantik, kalem, rajin, bahkan ada beberapa guru yang terang-terangan ingin menjadikannya sebagai menantu mereka kelak.

“Mm, kurasa bisa. Ini coba kau lihat.” ujarku sembari menyerahkan hasil coretanku. Dia terlihat mengamati betul pekerjaanku. Dia juga sama sepertiku, rajin. Bisa jadi juga kalau dia lebih rajin dariku. Tapi jangan salah, dia di urutan kedua sebagai siswi paling mesum di kelas yang tentu saja predikat pertama adalah aku.

“Oh. Ya aku paham! Kalau nomor 25 kau sudah?”

Aku menarik kembali bukuku, lantas mencari pekerjaanku nomor 25. Menggeleng pelan saat tahu aku sengaja melewatinya, karena memang soal yang satu itu agak rumit. Butuh waktu dua puluh menit lebih jika aku yang mengerjakan.

“Belum. Dan aku belum tahu bagaimana cara menyelesaikannya.”

Shannon lantas berterimakasih dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.

Aku tak lantas mengerjakan, namun beralih kepada Dahyun untuk sekedar bertanya. Omong-omong walaupun dia bertingkah sama halnya denganku —bahkan lebih parah, dia termasuk deretan anak pintar di kelasku. “Dahyun?”

Tapi saat aku menoleh ke bangkunya, aku sudah tak mendapati seonggok daging bernyawa itu di tempatnya. Gadis itu rupanya sudah beralih menuju meja Vernon —mantan gebetannya yang masih ditaksirnya. Percuma sih kalau aku masih memanggilnya, tak akan digubris.

Tanpa pikir panjang aku langsung membawa bukuku menuju ke bangku Junhong yang terletak di pojok belakang kelas.

“Junhong, bisa ajarkan aku nomor 25?”

Junhong adalah Si Jenius. Dia tak segan berbagi ilmu kepada teman-temannya. Namun jarang ada teman-teman kami yang mau bertanya langsung kepada Junhong, kecuali teman satu tim olimpiade matematikanya, teman sebangkunya —Hwanhee, dan dua orang temanku —Sana, Sooyoung, dan mungkin aku. Karena biasanya di saat-saat seperti ini, bangku Junhong lah yang sepi penanya.

Berbeda dengan Jungkook dan Mingyu yang begitu antusias saat ada beberapa pertanyaan dari guru, Junhong justru lebih memilih diam, kecuali jika ia yang ditunjuk. Dan meja mereka berdua tak pernah sepi penanya.

“Apakah sudah jelas?” ujar Junhong setelah selesai mengajariku satu soal itu. Aku mengangguk paham. “Kalau nomor 31, bagaimana?”

Eih, jangan kalian pikir aku banyak tanya pada Junhong hanya untuk modus. Bukan! Itu murni karena rasa ingin tahuku yang terlampau tinggi. Karena itu jika aku belum paham akan sesuatu, aku akan bertanya kepada siapa saja yang menurutku bisa mengajariku sampai aku paham. Entah itu kepada guru langsung maupun kepada teman-teman. Terkecuali kepada Jungkook.

“Rui, ada pertanyaan lagi? Aku belum belajar untuk ujian biologi nanti.”

Ada rasa bersalah sih sebenarnya saat tahu jika Junhong belum ada persiapan untuk ujian nanti, dan aku malah mengusik belajarnya. Tapi kan dia jenius, baca sekilas saja pasti langsung paham. Sedangkan aku, aku harus mencatat kembali materi dari buku paket yang tebalnya tak kurang dari tiga senti, lantas menghapalnya. Itu pun kadang aku harus rela jam tidurku berkurang, jika aku belum menguasai betul materinya.

“Satu soal lagi ya, Jun?” ujarku dengan meringis.

“Baiklah, satu soal.”

“Ini.”

Sembari menunggu Junhong menjelaskan, pikirku berputar untuk mencari seseorang yang bisa membantuku menyelesaikan soal-soal rumit ini. Tak enak jika aku mengganggu belajar Junhong.

“Ini.” Junhong menyerahkan kembali bukuku. Fokusnya kembali pada buku paket biologinya. Aku lantas beranjak dari bangkunya.

“Terimakasih, Junhong. Maaf mengganggumu belajar.”

“Ya.”

Selama aku menuju kembali ke bangkuku, aku sempat berpikir untuk bertanya kepada Jungkook. Tanpa aba-aba langkahku mengarah ke deret bangku Jungkook berada. Setelah aku sudah sampai di belakang bangkunya, aku malah membelokkan tubuhku menghadap Sana yang duduk tepat di belakang Jungkook.

“Hai, Sana. Mm, boleh aku lihat Neko Atsume1 milikmu?”

Dengan wajah yang agak terkejut karena aku tiba-tiba berbincang dengannya, Sana menoleh. Maklum juga sih, karena selama nyaris dua tahun sekelas dengannya aku jarang bercakap dengannya, kecuali bertegur sapa atau jika aku memang sedang berkepentingan dengannya. Namun sedetik kemudian ia menyerahkan ponselnya. “Ini. Memang ada apa dengan punyamu?”

“Tidak apa-apa sih. Aku hanya ingin melihat punyamu.”

Setelah sedikit berlama-lama bermain dengan ponsel Sana, kuputuskan untuk mengembalikannya. “Ini, aku kembalikan.”

Aku menghela napas sejenak. Berpikir apa sebaiknya aku bertanya pada Jungkook atau tidak. Aku berjalan mundur beberapa langkah. Setelah mendapat posisi yang sesuai, aku kembali melangkahkan kakiku menuju bangku Jungkook.

Baru sedetik berada di samping bangku milik Jungkook, otakku justru menyuruhku untuk melanjutkan langkah. Dan tanpa kusadari aku sudah mengitari ruang kelasku, tak jadi untuk bertanya kepada Jungkook. Dia pun kurasa tak peduli. Untung saja tidak ada yang memperhatikan. Akan memalukan jika ada yang lihat.

Dengan frustasi aku kembali duduk di bangkuku. Dahyun yang kurasa habis beradu mulut dengan Vernon memandang heran ke arahku. “Kau kenapa?”

Aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Tak mau ambil pusing ia lantas kembali berkutat dengan bukunya. Namun terhenti saat Vernon kembali merusuh. Mereka kembali beradu mulut. Ya, walaupun bukan masalah besar. Aku iri dengan mereka, serius.

Semenjak kelas sepuluh, mereka sering digadang-gadang akan jadi pasangan kelas. Namun sekarang tidak lagi. Karena Vernon ternyata menyukai gadis kelas sebelah. Dahyun patah hati, bahkan aku melihatnya menangis saat ia bercerita tentang hal tersebut. Dahyun juga mengatakan bahwa ia takkan mau berurusan lagi dengan Vernon. Namun nyatanya? Hanya omong kosong. Bahkan bangkunya dengan bangku Verno bersebelahan.

Salahkan saja aku yang terlampau pemalu jika sudah menyukai seseorang. Bahkan bertegur sapa saja enggan.

Iya, aku Na Rui menyukai Jeon Jungkook.

Untuk yang kedua kalinya aku bertekad untuk bertanya kepada Jungkook. Pokoknya kali ini harus. Dengan bermodal buku dan pensil aku melangkah menuju bangku Jungkook. Aku sudah bersiap untuk memanggilnya. Dan lagi, aku hanya melewati bangkunya. Argh! Aku ini kenapa?! Kan tinggal memanggilnya, bertanya beberapa soal yang tak ku pahami, Jungkook menjelaskan, berterimakasih, selesai. Jungkook juga bukan sosok yang pelit ilmu, dia malah senang berbagi ilmu. Jangan salahkan perasaanku! Salahkan kakiku yang tak mau berhenti tepat di bangku Jungkook. Dan membuatku terpaksa mengitari ruang kelas untuk yang kedua kali.

Namun langkahku kini justru berhenti di bangku Mingyu. Nah, kenapa malah berhenti di sini, sih?

Aku menghadap Mingyu dengan berdiri pada tumpuan kedua lututku. Dan aku pun tak berniat untuk berbicara padanya, karena dia sedang sibuk membantu Seungkwan mengerjakan soal-soalnya. Kedua orang itu masih belum menyadari kehadiranku. Karena sedari tadi menahan kesal, aku melemparkan bukuku di atas buku mereka berdua.

“Ya! Kau kenapa sih, Rui?!” omel Seungkwan.

“Ajari aku juga!” balasku. Seungkwan lantas melemparkan penghapusnya mengenai tepat di dahiku. Namun tetap tak ku gubris. “Aku dulu!”

“Ini kan soalnya sama dengan soalku. Sekalian saja kan bisa.” balasku. Tak ada tanggapan dari mereka berdua. Dasar! Aku yang bingung harus melakukan apa pun hanya memilih diam memperhatikan penjelasan Mingyu yang sudah hampir selesai.

“Tahu tidak? Aku pertama bertemu Mingyu waktu mendaftar di SMU Han-jeok.”

Mingyu menoleh sebentar. “Terus?” tanya Seungkwan.

“Waktu itu Mingyu duduk di dekat gerbang SMU Han-jeok. Kukira ia sedang melihatku, tapi saat aku berjalan mendekatinya ternyata dia melihat arah belakangku.”

Seungkwan tahu-tahu berujar, “Kau terlalu percaya diri, Rui!” dan dengan tidak etisnya dia menertawakanku.

“Diam kau Seungkwan!” ujarku tak terima.

“Kurasa Mingyu menyukaimu, Rui.”

Mingyu yang sedari tadi sibuk mengerjakan lantas berujar tak terima. “Ya! Jangan mengada-ada. Tahu wajah Rui saja tidak, apalagi menyukainya. Dan berhentilah tertawa Kwan!”

Aku menatap Mingyu sejenak, kemudian mengambil kembali bukuku yang nyaris dijadikan tempat corat-coret Mingyu. “Heh! Itu bukuku.” Mingyu lantas menggumamkan kata ‘maaf aku tak sengaja’—nya kepadaku. Cih, kebiasaan.

Setelah mengambilnya aku berjalan pergi menuju bangku Shannon dengan diiringi riuhnya suara Seungkwan yang mengatai aku ini-lah aku itu-lah, terserah.

“Shaaann!!! Aku harus bagaimana?” teriakku frustasi saat sudah berlutut di samping bangku Shannon.

“Kenapa?”

Aku merangsek mendekati Shannon, “Aku ingin bertanya padanya. Tapi, aku selalu gagal.”

“Bertanya kepada Si Burung Camar?” selidiknya dengan senyuman jahil. Jika saja para guru yang menginginkannya sebagai menantu mereka melihatnya seperti sekarang ini, apa mereka masih mau?

“Iyalah. Siapa lagi?”

“Oi Mingyu! Rui mau bertanya, tuh!” tahu-tahu Seungkwan sudah berkoar lagi. Dan itu membuatku semakin kesal. Moodku sudah turun sampai minus delapan puluh.

Shannon juga tidak membantu, ia justru ikut menertawaiku. Kubiarkan saja mereka tertawa sampai mereka puas. Toh, mereka juga akan berhenti sendiri tanpa perlu aku mengeluarkan energi berlebih.

“Eonni, kenapa kau tak segera bertanya? Ini kesempatan emas. Dan ingat, kesempatan tak datang dua kali.” ucapan Shannon membuatku berpikir jika aku harus mengambil kesempatan itu. Tapi nyatanya, hati dan logika-ku tak selalu sinkron di saat-saat genting —saat-saat ada kesempatan dengan Jungkook. Berimbas merasa kesal sendiri saat menyia-nyiakannya.

“Aku tahu, Shan! Tapi aku harus bagaimana?”

“Eonni, kau kan pintar merangkai kata-kata. Apa susahnya berbincang dengannya?”

“Shan, ini bukan hanya sekedar permainan kata-kata. Tapi juga perasaan.”

Shannon mengangguk sepaham. Gadis itu melepas earphone putihnya yang sedari tadi menggantung di daun telinganya.

“Tapi kan maksudmu berbincang dengannya karena masih berhubungan dengan pelajaran. Aku benar?”

Aku diam saja, menunggu kelanjutan dialog Shannon —yang bahkan sekarang ini ia memainkan ponselnya, entah untuk melakukan apa. Jika kulihat dari gerak-geriknya, ia terlihat sangat serius. Saat aku mencoba mengintip apa yang sedang dia lakukan pada ponselnya, Shannon refleks menjauhkan ponselnya dari jangkauan pandangku.

“Sst! Kuberitahu sesuatu. Mendekatlah!” Shannon mengisyaratkan tangannya supaya aku mendekat.

“Burung Camar itu bergolongan darah A, kan?”

Aku mengangguk. Mataku memancarkan keseriusan. Awas saja jika dia mempermainkanku lagi.

“Dia menyukai wanita yang anggun.”

Aku berpikir sejenak, mencerna apa yang baru saja Shannon katakan. Memang benar Jungkook bergolongan darah A. Tapi apa hubungannya dengan ‘dia menyukai wanita yang anggun’. Oke, aku tahu maksud Shannon supaya aku lebih berkelakuan seperti perempuan pada umumnya. Tapi, hei! Itu bukan sebuah solusi. Benar-benar gadis ini.

“Shan. Itu tidak ada hubungannya dengan aku yang akan ber—”

“Tentu saja ada!” belum sempat aku selesai berujar, gadis penggemar musik rock ini menyelaku. Lupakah dia jika aku setahun lebih tua darinya?

“Shan, aku mau mengatakan sesuatu.” Aku beranjak dari posisi berlututku, yang menyebabkan pegal ini. Membenahi rok-ku yang mungkin kusut karena terlalu lama berlutut.

“Apa?” Shannon dengan pandangan penasarannya menatapku.

“Berhenti membaca hal-hal berbau golongan darah apalah itu. Itu akan membuatmu berpikir tanpa logika. Aku pergi.”

Shannon tak membalas. Biar kuprediksi, saat ini wajahnya berubah masam karena usulnya kali ini kutolak. Gadis itu terlalu naif.

Kini aku tak lagi ingin menghampiri Jungkook lagi, namun tak juga kembali ke bangkuku sendiri. Aku berdiri di tengah-tengah kelas, menatap diam kesibukan teman-temanku. Hingga bel istirahat berbunyi dan kelas nyaris kosong pun aku masih mempertahankan posisiku.

Aku melihat Jungkook sudah pergi keluar entah ke mana bersama Namjoon. Saat kuikuti dirinya hingga di depan pintu kelas, aku mendapatinya tengah berbincang ringan dengan seseorang. Seseorang yang dulu satu organisasi dengan Jungkook. Seseorang yang populer. Seseorang yang cantik nan anggun, perlambang wanita sejati. Seseorang yang mampu membuatku iri bukan kepalang. Seseorang yang setiap kali kami bertemu, kami selalu bertukar sapa. Seseorang yang kuyakini mampu membuat darah Jungkook berdesir hebat. Seseorang yang mampu membuat gugup Si Burung Camar.

Terlalu banyak kata seseorang yang muncul di benakku. Seseorang yang tengah aku bicarakan ini, banyak yang mendukungnya bersama Jungkook.

Jeong Yein.

Jungkook menyukainya. Aku tahu itu. Terlihat jelas bagaimana  gesture tubuh Jungkook yang bereaksi tak biasa. Dari cara memandangnya yang sarat akan kekaguman pun cinta.

Tak mau berlama-lama melihat mereka, kuputuskan untuk kembali masuk ke kelas. Mood-ku sudah diambang kehancuran. Wajahku pun sudah kupastikan tertekuk asimetris.

Saat melewati bangku Mingyu, dengan sengaja aku menyenggol mejanya demi meluapkan rasa kesalku. Tak kuhiraukan ocehan Mingyu yang protes karena aku sudah merusak konsentrasinya.

Aku langsung duduk sembari menelungkupkan wajahku di antara kedua lenganku. Aku sedang ingin sendiri. Terimakasih kepada Dahyun yang paham betul sikapku. Anak itu langsung pergi ke kantin.

“Rui.” seseorang memanggilku. Namun tetap kuabaikan.

“Rui.” kali ini suaranya terdengar lebih jelas. Itu suara Mingyu. Mungkin dia mendekati mejaku.

“Rui!” karena mood-ku sudah hancur dan sedang tidak ingin diganggu, aku beranjak dari mejaku. Namun belum sempat aku pergi, Mingyu sudah berada tepat di sampingku. Tangan kirinya memegang puncak kepalaku, sedangkan tangan kanannya ia pukulkan pada tangan kirinya yang masih berada di puncak kepalaku.

Setelah itu ia pergi begitu saja. Apa maksudnya melakukan itu?

-fin-

 

Notes:

  1. Neko Atsume: aplikasi koleksi kucing di android
  2. Jangan bingung sama judul dan cerita, haha. Maaf.
  3. Biasakan RCL, yaa😉

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s