[4 of 6] Messed Up

messed up - tsukiyamarisa

a special movie written by tsukiyamarisa

starring [BTS] Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Namjoon, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook duration Chaptered genre AU, Life, Friendship, slight!Angst, Dark, and Psychology rating 17 loosely based on Run MV and HYYH Prologue

previous part

warning I still won’t locked this post; but please, either leave some respectful review, or just don’t read this story at all. This chapter will contain some explicit scene(s), so unless you’re comfortable with it, do not read.

.


Messed Up

But what is a friendship?

Something that collide with us, or something that stay with us during collision?


.

#4: Our Youth…

.

.

.

Kegelisahan itu merambat begitu saja, tepat kala Min Yoongi membuka matanya.

Mendudukkan diri, ia berusaha untuk mengembalikan orientasinya akan hari dan waktu. Sebelah tangan otomatis menyambar ponsel di atas meja, hanya untuk mendapati bahwa benda tersebut tak lagi memiliki daya. Sukses membuat layar gelap itu dihadiahi umpatan, selagi sang lelaki akhirnya terpaksa bangkit dan menghampiri jendela kamar.

Satu sibakan pada tirai memberitahu Yoongi bahwa hari telah pagi.

Menyipitkan mata, Yoongi berusaha mengatur intensitas cahaya matahari yang menyerbu masuk. Kepalanya sedang pening bukan main, dan bias sinar mentari sama sekali tak membantunya. Pun dengan sedikit rasa mual yang bercokol, nyeri di pipinya akibat hantaman dari Jungkook beberapa malam lalu, juga debar jantungnya yang entah mengapa tak beraturan. Firasat Yoongi mengatakan bahwa ada sesuatu yang berbeda hari ini, dan ia tidak suka itu.

“Jimin-a?”

Berjalan keluar dari kamar, Yoongi menyerukan nama teman satu flatnya itu. Manik bergulir ke arah meja makan, lantas berakhir pada pintu kamar Jimin yang terbuka lebar. Namun, hanya kekosonganlah yang menyambutnya. Sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan sang kawan, suatu hal yang cukup aneh mengingat Jimin biasanya bangun lebih awal dan sibuk mencari sesuatu untuk dimakan.

“Park Jimin?”

Menaikkan nada suaranya, Yoongi bisa merasakan gelombang kegelisahan itu datang lagi. Menyapunya begitu saja, membawa serta prasangka buruk yang ada. Oh, Min Yoongi mungkin sudah bisa menebak di mana dan apa yang kiranya sedang dilakukan Jimin saat ini. Namun, pengetahuan itu tidak lantas memberinya ketenangan. Tidak setelah perjumpaannya dengan Seokjin yang—kendati semu—membuatnya memikirkan ulang banyak hal.

Ya! Park Jimin!”

Maka, tanpa basa-basi, Yoongi pun lekas berderap ke arah kamar mandi dan mendorong pintunya hingga terbuka. Timbulkan bunyi berdebam keras, selagi kedua irisnya dengan cepat memindai keadaan. Ia tak butuh waktu lama untuk menemukan sosok Jimin yang duduk di sudut kamar mandi, kepala ditundukkan sementara sebelah tangan bergerak menggoreskan sesuatu. Membiarkan bilah pisau itu melukainya sekali lagi, sebelum terpaksa berhenti lantaran Yoongi baru saja mencengkeram pergelangan tangannya.

“J-Jimin-a….”

“Kukira, kita sudah berjanji untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing, Hyung.”

Suara itu datar, dingin dan seolah tidak bernyawa. Jimin bahkan menolak untuk membalas tatapan Yoongi, kepala dipalingkan selagi satu isak tertahan di bibirnya. Dari segala macam hal yang ia benci, Jimin paling tidak suka jika harus menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Yoongi tahu itu, dan ia juga tahu seberapa besar terlukanya ego Jimin saat ini. Tetapi, sejak kapan pula ia pandai dalam menghibur atau membantu orang lain keluar dari masalah mereka? Ia tidak pernah bisa berlaku demikian, lantaran satu-satunya hal yang mampu Yoongi perbuat adalah merunyamkan keadaan.

“M-maafkan aku, Jimin-a. Aku tidak—“

“Aku tahu kau bisa. Meminta mereka untuk menghadapi yang sebenarnya, seberapa pun beratnya itu.”

Seketika, perkataan Yoongi pun terhenti di tengah jalan. Jemari lamat-lamat melepaskan cengkeramannya pada tangan Jimin, selagi otaknya sibuk memutar ulang kalimat tersebut. Kalimat yang sempat dilontarkan Seokjin padanya, yang mengingatkan Yoongi akan tujuannya menghentikan perbuatan Jimin barusan.

“Aku tahu kau bisa, Jimin-a,” ucap Yoongi perlahan, penuh kehati-hatian seraya ia berdeham dan menyuarakan ulang kalimat tadi. “Aku tahu kalau kau bisa menghadapi yang sebenarnya, seberapa pun beratnya itu.”

Masih belum ada jawaban, kendati kini Jimin mulai mengangkat kepalanya dan melirik Yoongi sekilas. Memberinya sorot terkejut bercampur kebingungan, lantaran tadi ia sudah separuh berharap untuk mendengar Yoongi mengomelinya. Lelaki yang lebih tua itu jelas tak pernah menyukai aksi melukai diri yang dilakukan Jimin, tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya berkata-kata.

H-Hyung….

“Maafkan aku,” kata Yoongi dalam bisikan rendah, tarikan napas terdengar jelas seiring usahanya dalam mengatur emosi. “Aku… aku memang bukan yang terbaik dalam hal macam ini. Tapi, aku tidak mau kehilangan teman-temanku. Tidak lagi. Jadi….”

Jimin memilih untuk tidak menyela, menunggu sampai Yoongi selesai merangkai kata dan mengutarakan segalanya. Niatnya untuk membantah hilang sudah, terlebih ketika ia mulai bisa melihat perubahan yang terjadi. Ada sebuah pemahaman yang tersimpan di balik ekspresi wajah dan kata-kata Yoongi; ada pengertian yang jauh lebih mendalam dan tidak lagi berlandaskan simpati semata. Tidak, ini lebih dari semua itu. Yoongi tidak datang untuk mencela perbuatannya lagi. Ia datang untuk—

“Aku ingin tahu, Jimin-a. Apa alasanmu, apa mimpi burukmu. Dimulai dari hari ini, bagaimana jika kita menjadi sedikit lebih peduli?” Yoongi akhirnya melanjutkan, membuat Jimin terpaksa memberi jeda sejenak pada isi pikirannya. “Aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti. Namun, bukan berarti aku akan terus berpura-pura tidak tahu. Seperti yang kubilang, aku tidak mau kehilangan sahabatku lagi.”

Detik itu juga, Jimin bisa merasakan sebutir air meleleh turun dari sudut matanya. Tanpa bisa dicegah, tanpa memedulikan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Lagi pula, apa pentingnya hal itu? Di hadapan mimpi buruk, kepanikan, ketakutan, serta kesusahan, semua orang pasti akan merasakan hal yang sama. Mereka hanya butuh dimengerti dan didengarkan—suatu hal yang saat ini sedang Yoongi tawarkan kepada dirinya.

“Meskipun alasanku itu konyol dan tidak rasional?”

Entah mengapa, pertanyaan macam itulah yang akhirnya meluncur keluar dari bibir Jimin. Seakan ia sedang berusaha untuk mendapat kepastian, selagi Yoongi mengeluarkan gelak tawa tertahan dan mengangguk mantap. Sebuah jawaban yang mendorong Jimin untuk ikut mengangguk dan melepaskan genggaman pada bilah pisau itu, kemudian beralih memeriksa dua garis luka di sepanjang lengan kirinya.

Luka yang tak lagi memberinya kelegaan.

Ini aneh, tetapi melihat bagaimana lengannya dihiasi oleh goresan-goresan itu membuatnya ingin menangis lagi. Padahal, sebelum-sebelumnya, ia sama sekali tak merasa seperti ini. Park Jimin yang dulu berkawan akrab dengan luka-luka itu lantaran mereka mampu memberinya alasan untuk kabur dari mimpi buruk. Namun, Park Jimin yang sekarang tidak tahu apakah ia masih tetap dapat melakukannya. Karena, alih-alih menghilangkan ketakutan yang ada di pikirannya, ia malah menambahkan beban ke dalam sana.

Beban yang diberi nama pengecut. Pecundang. Lemah. Apa pun itu sebutannya.

Intinya, ia hanyalah seorang penakut yang tidak bisa menghadapi mimpi buruknya. Ia telah kalah, dan ia menyesali segalanya. Tetapi, bisakah penyesalan itu membantunya? Bukankah ia ini hanya seseorang yang tak berguna dan tak bisa melakukan apa-apa?

Hyung?”

“Ya?”

Menelan ludah, Jimin bergegas bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Tangan menyambar gulungan tisu yang ada, menggunakannya untuk membersihkan darah yang mengalir dan membalut luka-luka itu. Tubuhnya masih sedikit gemetar, tapi ia tetap memaksakan diri untuk menutupi kelemahan itu sembari bergumam, “Kauyakin, Hyung? Bagaimana kalau aku merepotkanmu dengan cerita—“

Goddammit, Park Jimin!” sambar Yoongi sambil ikut berdiri, terlihat sedikit tak sabaran. “Seaneh atau sekonyol apa pun ceritamu, aku tetap ingin mengetahuinya. Dan asal kautahu saja, aku juga butuh bantuanmu!”

“Bantuanku?” ulang Jimin, kepala digelengkan pelan sebagai reaksi. “Bantuan apa yang bisa kuberi? Aku ini tidak pernah berguna, Hyung. Aku tidak bisa melakukan apa-apa—“

“—dan begitu pula halnya denganku,” ucap Yoongi cepat, menyelesaikan kalimat Jimin tanpa ragu. “Aku juga tidak berguna, Jimin-a. Kita semua mungkin merasa demikian. Tapi, bersama-sama… kita pasti bisa memperbaiki beberapa hal, bukan?”

“Memperbaiki… beberapa hal?”

Satu anggukan sebagai jawaban.

“Kenapa….”

“Kenapa tiba-tiba? Kenapa aku yang hobi menyebabkan masalah dan selalu pesimis ini mendadak berubah?” Yoongi mengangguk paham, melempar pandang serius ke arah Jimin. Jelas sekali jika kawannya itu merasa bingung, juga terkejut dengan perubahan yang ada. Maka, tahu bahwa ia harus bercerita, Yoongi pun lekas melanjutkan, “Kalau aku memberitahumu alasannya, kau mau menceritakannya padaku? Mimpi burukmu?”

Jimin tak langsung menjawab, memilih untuk memandangi balutan tisu di lengannya. Setelah segala hal yang terjadi pagi ini, bohong kalau ia berkata bahwa ia tak punya niat untuk berubah. Kehendak untuk berhenti melukai diri dan kembali menjalani hidup normal itu mendadak muncul, bagai harapan yang menunggu untuk digenggam. Namun, untuk menggapainya, Jimin tahu bahwa ia tak bisa sendiri. Ia butuh sahabat-sahabatnya, ia butuh seseorang yang mau terus-menerus meyakinkannya. Sehingga….

“Memang, aku bisa menolak, Hyung?”

.

-o-

.

“Kau bertemu dengan Seokjin Hyung?!”

“Tidak perlu berteriak-teriak, kita berada di tempat umum sekarang.”

“Oh.” Jimin buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah tangan, pandang beredar ke sekeliling trotoar untuk memastikan bahwa mereka tidak sedang menarik perhatian. “Maaf. Hanya saja—“

“Aku tahu.” Yoongi mengedikkan bahu, mengembuskan napasnya panjang-panjang. “Tidak masuk akal memang. Akan jauh lebih tepat jika aku menamakannya dengan sebutan mimpi semata. Namun….”

“Namun?”

“Aku ingin percaya, Jimin-a,” sahut Yoongi cepat, mengalihkan tatap pada sepatunya. “Aku ingin percaya kalau Seokjin Hyung masih mengawasi kita dari tempatnya berada sekarang, bahwa ia tak pernah menyalahkan kita. Selain itu, aku juga ingin percaya bahwa… bahwa kita masih bisa memperbaiki keadaan. Setelah apa yang kuperbuat malam itu—“

“Bukan salahmu.”

 “Aku tetap ambil bagian, bukan?” balas Yoongi, retoris. Sukses membuat Jimin bungkam seketika, memilih untuk tidak mendebat dan mengalihkan fokus pada sandwich di tangannya. Selama beberapa menit terakhir, teman satu flatnya itu telah menceritakan segalanya. Bagaimana ia bertemu Seokjin di pantai tempat mereka berlibur untuk kali terakhir, bagaimana mereka membicarakan perkara-perkara yang belum tertuntaskan. Dan jujur saja, serupa dengan Yoongi, Jimin juga tak ingin menyebut kisah itu sebagai bunga tidur semata. Ia ingin memberinya arti lebih, ingin menganggap bahwa pertemuan itu memang benar-benar terjadi.

Ia ingin meyakini bahwa mereka memang masih punya harapan.

“Kau benar, Hyung.

Huh?”

“Aku juga ambil bagian dalam masalah ini,” balas Jimin, mengembuskan napas panjang. “Kita semua bersalah karena telah lari dari kenyataan, benar begitu?”

Yeah.”

“Dan sekarang… kau akan menemui yang lain? Memberitahu mereka, kemudian—“

“Aku harus meminta maaf dulu, bukan?” timpal Yoongi, memotong Jimin cepat. “Setelah berkelahi dengan Jungkook, setelah membuat Taehyung seperti itu, dan juga setelah….”

Jimin memberinya tatap bertanya, tetapi Yoongi memilih untuk berdeham dan cepat-cepat menggeleng. Ia tidak mau  menyuarakannya, tidak karena mengucapkannya keras-keras akan membuatnya terasa lebih nyata. Yoongi tidak mau itu. Ia tidak mau mengakui jikalau persahabatan mereka tengah berada di ujung tanduk, pun menyatakan bahwa mereka nyaris terpecah-belah. Segalanya akan baik-baik saja; ia hanya perlu percaya kalau ia bisa membenahi semuanya.

“Oke.” Jimin akhirnya buka suara, memaksakan senyum untuk mencerahkan suasana. “Oke, aku akan membantumu, Hyung. Jadi, kita akan ke tempat—“

“Kita akan ke tempat Namjoon lebih dulu, karena ia pasti berada di kontrakannya dan paling mudah ditemukan.” Yoongi lekas melanjutkan, namun mengarahkan tatap tajamnya kepada Jimin. “Tapi, kita akan melakukan itu setelah aku mendengar ceritamu. Jangan harap bisa mengelak, Park Jimin.”

Kali ini, Jimin tak bisa langsung menjawab. Ia memilih untuk membiarkan waktu berlalu lebih dulu, selagi keduanya berjalan menyusuri trotoar. Berbaur dengan sekumpulan manusia yang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, terlihat normal jika hanya dilihat sepintas saja. Atau bisa jadi, mereka memang memiliki kehidupan yang lebih normal jikalau dibandingkan dengannya. Dari sekian banyak orang yang ada di sekitarnya saat ini, berapa banyak dari mereka yang menyembunyikan luka-luka hasil perbuatan sendiri? Mungkin tidak ada; mungkin hanya dirinyalah yang berlaku demikian.

Maka, pantas saja jika suaranya terdengar pecah dan nyaris terisak lagi kala ia akhirnya berucap, “Aku masih terus-menerus melihatnya, Hyung. Hari itu, juga hari-hari lain di mana aku akan kehilangan kalian.”

“Hari itu?” ulang Yoongi perlahan, namun pemahaman langsung muncul sedetik kemudian. “Oh.

Yep.” Jimin membenarkan, memasang tampang muram seraya ia melanjutkan, “Jujur saja, semua mimpi itu membuatku merasa tidak berguna. Walau saat itu aku tidak menyaksikan kejadiannya secara langsung, tetapi entah kenapa aku bisa melihatnya di dalam mimpi. Terus dan terus, sampai-sampai aku tidak bisa mengeluarkannya dari pikiranku. Seakan-akan, Seokjin Hyung tidak memaafkan—”

“Seokjin Hyung tidak mungkin berpikir seperti itu,” sambar Yoongi, tidak membiarkan Jimin menuntaskan ucapannya. “Dan tidak, aku tidak berkata demikian karena mimpi itu. Aku… intinya aku tahu, Jimin-a. Kau juga tahu, bukan?”

“Aku tahu. Tapi, bukan berarti aku bisa menghentikannya.”

Tidak ada nada menuduh dalam ucapan Jimin, namun Yoongi memilih untuk langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sadar bahwa ia nyaris melewati batas—lagi—padahal tadi ia sudah berjanji akan mendengarkan. Apa pun kekhawatiran yang dimiliki Jimin, Yoongi sama sekali tidak punya hak untuk menghakiminya. Ia hanya boleh mendengarkan, menawarkan semangat kalau perlu. Tapi, itu saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

“Boleh kulanjutkan?”

Mengangguk, Yoongi mempersilakan Jimin untuk kembali berkata-kata.

“Mimpiku yang lain adalah melihat kalian semua pergi.” Jimin menggelengkan kepala perlahan, seolah berusaha menendang gambaran itu jauh-jauh dari otaknya. “Baik sekadar pergi menjauh, ataupun pergi dari dunia ini. Aku tahu kalau itu hanya mimpi buruk, sesuatu yang belum pasti akan terjadi.” Satu helaan napas, sementara tangan kanannya bergerak untuk mencengkeram lengan kiri. “Namun, mengalaminya berkali-kali adalah perkara lain, Hyung. Melihatnya terus-menerus membuatku berpikir bahwa aku mulai kehilangan kontrol atas hidupku, bahwa ada banyak hal di luar sana yang siap menghancurkanku.”

“Dan itulah sebabnya kau melukai dirimu sendiri,” ucap Yoongi lamat-lamat, tanpa nada menuduh ataupun kesal seperti tadi. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi pisau itu…”

“…membuatku merasa memiliki kontrol atas hidupku.” Jimin melanjutkan, sekaligus membenarkan pada saat yang sama. “Tidak rasional memang, tapi aku juga tidak bisa menjelaskannya. Yang aku tahu, aku merasa lega saat melakukannya. Rasa takutku hilang; kecemasanku pergi. Walau sekarang tidak lagi.”

“Maaf. Karena telah—“

Well, mungkin sudah saatnya juga, bukan?” Jimin mengedikkan bahu, mengulas segaris senyum. “Aku mungkin memang tidak bisa menjamin bahwa aku akan seratus persen berhenti, dan aku akan membutuhkan hal lain untuk mengalihkan perhatianku. Namun, karena tadi kau sudah berkata akan membantu….”

“Temani aku begadang saja kalau begitu,” usul Yoongi, terkekeh seraya menepuk pundak Jimin keras-keras. “Dengan begitu, kau tidak perlu bermimpi, kan?”

Hyung….

“Aku serius.” Yoongi mengedikkan bahu, lantas beralih merangkul Jimin. “Tenang saja, Jimin-a. Meskipun tidak pandai memberi saran, aku tetap tidak akan membiarkan teman-temanku menderita. Seiring berjalannya waktu, kita pasti akan menemukan jawabannya. Iya, kan?”

Melirik Yoongi sekilas, Jimin bisa melihat bahwa sahabatnya itu juga tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang ia ucapkan. Ada keraguan di sana, sesuatu yang barang kali memang lekat pada diri mereka semua. Tetapi, setelah segala yang terjadi di hidup mereka, Jimin tahu bahwa ini bukan saatnya mengizinkan keraguan itu menjadi nyata. Sudah saatnya harapan mengambil alih, sudah saatnya mereka tertawa seperti dulu lagi. Dan itulah yang akhirnya mendorong Jimin untuk mengangguk mantap; menyalakan api kehidupan mereka kembali.

“Tentu saja.”

.

-o-

.

Kontrakan Namjoon berada tak jauh dari tempat mereka melangsungkan obrolan; pada sebuah gang kecil yang hanya diterangi lampu-lampu remang, penuh beragam bangunan tua nan sempit, serta toko-toko kecil yang sudah berdiri sejak tahun sembilan puluhan. Suatu daerah yang mungkin memang tak banyak dilirik orang, kendati bukan tanpa alasan Namjoon memilih tempat ini—selain karena biaya sewa yang murah tentunya. Taman kecil yang berada di dekat sini adalah pemicunya; sebuah tempat bersantai yang walau lumayan sering diabaikan, masih tetap mampu menarik perhatian Namjoon.

“Karena sepi, makanya aku suka. Membantuku untuk berpikir, tahu?”

Dahulu, Yoongi hanya memutar bola matanya kala ia mendengar alasan itu. Yeah, Kim Namjoon dan segala pemikiran filosofisnya memang tak terpisahkan. Lagi pula, kalau mau jujur, mereka juga tahu kok kalau Namjoon itu pandai. Hanya saja….

“Apa yang mau kaubicarakan dengan Namjoon Hyung?”

Memandang kepalan tangan Yoongi yang berhenti sepersekian meter dari daun pintu, Jimin mengutarakan tanya itu. Sukses memotong lamunan temannya, selagi Yoongi menurunkan tangan dan menghela napas dalam-dalam. Ekspresi bimbang tampak jelas di sana, membuat Jimin bertanya-tanya apa yang kiranya tengah melintas dalam benak Yoongi saat ini.

“Yoongi Hyung?”

“Aku tidak yakin, Jimin-a. Kau sudah tahu apa masalah Namjoon, kan? Bagaimana kalau aku tidak bisa membantunya?”

“Kau sendiri yang bilang kalau semua butuh waktu,” balas Jimin, melempar kata-kata Yoongi yang tadi ditujukan padanya. “Jadi….”

“Kita coba saja?”

Jimin mengangguk cepat.

“Apa pun yang terjadi?”

Kali ini, Jimin mengiakan tanya itu dengan tindakan. Kepalan tangan ganti terulur untuk mendaratkan ketukan pada daun pintu, biarkan suaranya menggema sebelum ditelan keheningan. Pada jam-jam menjelang siang seperti ini, gang tempat Namjoon tinggal memang cenderung sepi. Tak banyak orang yang berlalu-lalang, sehingga derit pada engsel pintu yang bergerak membuka dapat dengan mudahnya tertangkap indra pendengaran.

“Yoongi Hyung? Jimin-a? Sedang apa kalian di sini?”

“Boleh kami masuk?”

Sesaat, suasana canggunglah yang menyeruak ke permukaan. Permintaan Yoongi yang kelewat formal itu berbuah pada jungkitan alis dari Namjoon, selagi ia membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan kedua kawannya untuk melangkah masuk. Berdesakan sebentar di lorong depan yang sempit, sebelum akhirnya meloloskan diri ke ruang utama yang berukuran sekitar enam belas meter persegi.

“Kalian membuatku berpikir seolah sesuatu yang buruk baru saja terjadi, tahu,” komentar Namjoon lamat-lamat, lantas berdeham kala ia menyadari raut wajah Yoongi yang terlihat bingung. “Hyung, ada apa?”

Tak langsung membalas, Yoongi mengedarkan pandangnya ke sekeliling ruangan lebih dulu. Tatap menelisik tiap sudutnya, mengamati keseluruhan detail yang ada. Kasur lipat serta selimut milik Namjoon tergeletak berantakan di sudut kanan, ditemani buku-buku yang berceceran serta sebungkus rokok. Bau khas nikotin lumayan pekat di udara, membuat Yoongi bertanya-tanya apakah sahabatnya ini telah melupakan kebutuhan akan makan dan minum. Yah, dilihat dari rupa Namjoon yang kusut, bisa jadi hal itu ada benarnya, bukan? Kepintaran seorang Kim Namjoon terkadang bisa menjadi tumpul untuk perkara macam ini, sehingga—

“Kurasa aku tahu, apa yang membuatmu datang kemari.”

Menolehkan kepalanya dengan cepat, Yoongi bisa melihat bagaimana kerutan dalam terbentuk di kening Namjoon. Lengkap dengan decakan penuh ketidakpercayaan, selagi Yoongi memilih untuk menyilangkan kedua lengan dan balik menantang Namjoon. “Apa?”

“Sebagai informasi, aku tidak bodoh, tahu!” sahut Namjoon keras, melangkahkan kakinya untuk mendekati Yoongi. Menyisakan jarak sepersekian meter, yang lantas menjadi lebih jauh kala ia mengulurkan tangannya untuk mendorong pundak Yoongi sambil berkata, “Aku bisa melihat bagaimana penilaianmu terhadapku! Kim Namjoon yang hidup berantakan, itu kan yang ada dalam otakmu?!”

“Namjoon Hyung….”

“Apa kau berpendapat sama dengannya, Jimin-a?” sentak Namjoon tanpa memandang Jimin, sorot muaknya masih lekat tertuju pada Yoongi. “Berpikir bahwa aku menyedihkan; bahwa aku hanyalah seorang laki-laki yang masih bergantung pada harta ayah dan ibunya?”

“Namjoon, dengarkan—“

“Kau yang dengarkan, Min Yoongi!” Satu dorongan lain pada pundak Yoongi, yang memaksa pemuda itu untuk berjengit seketika. Terkejut melihat kawannya melupakan segala sopan santun yang ada, menghancurkan semua harapannya untuk memperbaiki keadaan. “Kau yang dengarkan, karena bukankah hidupmu pun sama berantakannya, hah?!”

“Aku—“

“Kau bukan Seokjin Hyung!” lanjut Namjoon, masih tidak berniat berhenti kendati Jimin sudah bergerak maju dan berusaha menengahi. “Kau sendiri tidak punya hidup atau kebiasaan-kebiasaan yang baik, bukan? Jadi, apa hakmu menilai hidupku? Apa hakmu, hak kalian berdua, menilai caraku melampiaskan emosi? Setidaknya, apa yang kulakukan ini tidak berbahaya! Aku toh tidak melukai diriku sendiri dan bersikap lemah—”

“CUKUP!”

“Apa? Apa yang kukatakan itu benar, kan? Kau dan Jimin bahkan tidak lebih baik—“

.

.

BUGH!!

.

.

“Aku bilang cukup, Kim Namjoon!!”

Terengah-engah, Yoongi hanya bisa meringis saat menyadari nyeri itu menyebar ke telapak tangannya. Hantaman pada pipi Namjoon barusan bukanlah sesuatu yang ia maksudkan, tetapi ia sudah tidak tahan lagi. Tidak ketika kawannya itu berusaha menyapu pergi keping-keping harapan yang sudah Yoongi pungut; menghancurkan kepercayaan diri yang sudah susah-payah dibangun Jimin. Lebih dari apa pun juga, Yoongi tak ingin usahanya disia-siakan begitu saja. Mereka tidak boleh kembali pada masa itu—masa di mana berlari dari realita terdengar seperti pilihan terbaik.

Mereka harus menghadapinya, tanpa perkecualian barang sedikit pun.

“Namjoon.”

“Keluar.”

“Kim Namjoon, aku minta—“

“Keluar dari sini atau—“

“Aku minta maaf, oke?” sambar Yoongi tanpa basa-basi, sadar bahwa hanya kata ‘maaf’ sajalah yang akan berguna dalam situasi seperti ini. “Maaf, untuk segalanya. Untuk memukulmu, untuk kabur dari kenyataan, dan untuk apa pun yang pernah terjadi. Tetapi….”

Kali ini, Namjoon tidak langsung membantah ataupun mengeluarkan argumennya. Lelaki itu memilih untuk diam mendengarkan, kendati dirinya masih teguh enggan memandang sang kawan. Namun, itu cukup. Diamnya adalah pertanda bahwa ia mendengarkan, bahwa Yoongi memiliki waktu untuk menjelaskan.

“Tetapi, aku benar-benar tidak ingin melihat kita hancur lebih jauh lagi,” lanjut Yoongi lirih, segala dayanya untuk berteriak-teriak juga telah habis. “Aku tahu seberapa berantakan hidupku, Namjoon. Namun, menjadi buruk bukan berarti selamanya buruk. Aku… aku ingin bisa memperbaiki beberapa hal. Meskipun aku bukan Seokjin Hyung.

Hening sesaat. Namjoon sama sekali tidak tahu harus berkomentar apa, pun sadar bahwa menyalahkan Yoongi tak lagi ada gunanya. Alih-alih, respon pertamanya adalah merasa sedikit bingung dan terkejut. Sejak kapan Min Yoongi yang hobi berkata tajam itu berubah menjadi seperti ini? Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Ataukah pertengkaran mereka malam itu telah mengubah sesuatu di dalam dirinya?

“Namjoon-a….”

“Tunggu sebentar.” Namjoon lekas memotong, mengangkat sebelah tangannya. Ia belum mengizinkan Yoongi untuk menginterupsi jalan pikirnya. Ditambah lagi, ia masih punya segudang tanya untuk diajukan. Situasi macam ini bukanlah situasi yang wajar bagi mereka. Hell, bahkan Namjoon sendiri tidak pernah menyangka dirinya akan terjebak dalam obrolan seserius ini. Kekacauan agaknya sudah teramat lekat dengan hidup mereka; sehingga membayangkan dirinya dan teman-temannya berusaha keluar dari jeratan masalah terlihat mustahil.

“Jadi….”

“Jadi?”

Namjoon berdeham, menata isi pikirannya satu per satu sebelum akhirnya berkemam, “Jadi, itukah sebabnya kalian kemari? Untuk menasihatiku dan semacamnya?”

“Memang kami ini bapak-bapak tua?” timpal Jimin, mendengus seraya duduk bersila di atas lantai. “Menasihati kedengarannya tidak tepat, Hyung.

“Dan lagi, bukan berarti kami ingin menuduhmu macam-macam atau menyalahkanmu,” sambung Yoongi, mengingatkan Namjoon akan tuduhan yang sudah seenaknya ia lontarkan tadi. “Aku juga tidak sebaik atau sesempurna itu, Namjoon-a. Namun, kalau saja aku bisa membuatmu berubah—“

“Kautahu kan, Hyung, kalau ini tidak akan semudah itu?” Namjoon menyela, mengembuskan napas dalam-dalam selagi ia menjatuhkan tubuh di atas kasur lipat. Emosinya tidak lagi meledak-ledak, tetapi kentara sekali jika ia tidak menyukai topik obrolan yang tengah berlangsung. “Maksudku, aku baik-baik saja. Aku bisa bertahan hidup, aku punya beberapa pekerjaan paruh waktu, dan aku tidak lagi tinggal dengan orangtuaku. Daripada aku, bukankah akan lebih baik jika kau mengurusi yang lain? Mengurusi hidupmu sendiri?”

Yoongi menggeleng sebagai jawaban, tak setuju. “Lantas, apa semuanya masih akan baik-baik saja seandainya nanti kau tertangkap?”

“Tertangkap?”

“Ayolah, kau tidak bodoh, Kim Namjoon.” Yoongi berdecak, membuat Namjoon sedikit tersindir karenanya. “Menurutmu, kenapa aku dan Seokjin Hyung tidak pernah suka melihatmu menghambur-hamburkan uang? Karena itu boros dan kekanak-kanakan? Karena kau selalu menghabiskannya untuk membeli rokok? Yah, sayangnya, alasan kami lebih dari itu.”

Baik Namjoon maupun Jimin kompak melempar tatap tak paham ke arah Yoongi. Tampaknya belum bisa mencerna arah pembicaraan ini, sampai kawan mereka itu kembali membuka kedua belah bibirnya dan berkata, “Uangmu, Namjoon-a. Uang yang berasal dari orangtuamu. Kaubilang, itu berasal dari hasil kerja yang tidak benar.”

“Oh.”

“Nah, bagaimana jika suatu saat semua itu terbongkar? Bagaimana jika orangtuamu tertangkap, lalu kau terseret karena ikut menghambur-hamburkan uang mereka?” Yoongi menyerbu Namjoon tanpa basa-basi, tak ingin mengambil jeda waktu lebih lama lagi. “Kau sendiri yang berkata kalau kauingin hidup dengan uang hasil kerjamu. Dengan kemampuanmu, dengan caramu. Mana niatmu untuk lepas dari bayang-bayang orangtua? Jangan membuatku tertawa, Namjoon-a.

Perkataan itu sarat akan realita, khas Yoongi yang memang cenderung tidak suka bermanis-manis kendati ia sudah memiliki niat untuk memperbaiki keadaan. Lagi pula, ia juga tidak punya pilihan lain. Yoongi hanya tidak mau jika suatu hari nanti salah seorang temannya berakhir di balik jeruji besi. Seberapa pun pahitnya, namun inilah kenyataan yang harus dihadapi Namjoon. Bahwa ia tak bisa terus-menerus mempertahankan kebiasaan buruknya; bahwa ia juga harus mulai memikirkan masa depannya.

“Namjoon Hyung.”

“Apa lagi?”

Memaksakan ujung-ujung bibirnya untuk membentuk senyuman—itulah yang Jimin lakukan lebih dulu. Berusaha untuk memastikan agar ketegangan di antara kedua temannya tidak kembali, sembari ia mengimbuhkan, “Kautahu kan, kalau kata-kata Yoongi Hyung itu benar?”

Rahang Namjoon sontak mengeras mendengarnya.

Hyung….”

“Kau setuju dengannya, Jimin-a? Benar-benar setuju, atau setuju karena kau tidak mau hidup menggelandang?”

“Kaupikir aku setega itu akan mengusir temanku—“

“Aku benar-benar setuju,” sahut Jimin mantap, menggelengkan kepalanya ke arah Yoongi untuk mencegah timbulnya pertengkaran lain. “Bukan hanya aku, tapi kurasa yang lain pun akan berpikir sama. Mungkin memang aku tidak pantas berkata begini karena aku juga punya kebiasaan buruk….” Jimin mengambil jeda beberapa sekon, secara refleks menggenggam pergelangan tangan kirinya. “…hanya saja, bersama-sama, aku ingin bisa mengatasinya.”

“Bersama-sama,” ulang Namjoon, menyuarakan satu frasa itu sambil tersenyum pahit. “Menurutmu, itu akan berhasil?”

“Kenapa tidak?”

Well…” Namjoon mengedikkan bahu, memandang Yoongi dan Jimin dengan tatap ‘kalian-juga-sudah-tahu-alasannya’. “Kita ini tukang buat onar, ingat? Bersama-sama hanya akan membuat kita semakin berantakan, sehingga—“

.

.

Tok, tok, tok!!

 .

.

Menyela penjelasan Namjoon, ketukan itu terdengar begitu saja. Spontan membuat Namjoon bangkit berdiri, lega karena ia punya alasan untuk menunda pembicaraan ini. Maka, tanpa perlu berpikir lama, Namjoon menggerakkan tungkainya dengan gesit. Tangan menarik daun pintu dalam hitungan beberapa detik setelahnya, sementara kedua telinganya menangkap suara Jungkook dan Hoseok yang melontarkan sapa.

Astaga, kenapa semua orang memutuskan berkunjung ke tempatnya hari ini, sih?

“Mau apa kalian kemari?”

“Jenis sambutan macam apa itu?” Hoseok balik bertanya, alis berjungkit sementara ia dan Jungkook melangkah masuk. “Aku tidak sengaja bertemu Jungkook hari ini, dan kami berpikir untuk mencari makan malam bersama. Siapa tahu kauingin ikut, sekaligus—“

“Jangan ajak Namjoon, kalau dia hanya akan berakhir membayari kalian berdua.”

Menyuarakan presensinya, Yoongi ikut bergabung dalam percakapan. Tanpa ragu ikut mendekati kedua kawannya yang baru saja datang, berpura-pura tak acuh pada reaksi yang ditunjukkan oleh Jungkook. Teman termudanya itu jelas-jelas tak menyangka akan bertemu dengan Yoongi di sini, tidak setelah acara saling pukul yang mereka lakukan malam itu. Terlebih, tak ada satu pun dari mereka yang sudah mengucap maaf dan—

“Jungkook-a, aku minta maaf.”

tunggu sebentar.

Jeon Jungkook belum pernah mendongakkan kepalanya secepat itu, sebuah gerakan yang membuatnya sedikit meringis menahan nyeri. Namun, melihat ketiga temannya yang lain pun juga langsung berbuat serupa, Jungkook tahu bahwa reaksinya tadi bukanlah hal yang keliru. Mereka sama-sama terkejut, lantaran….

“Sejak kapan Yoongi Hyung bisa meminta maaf lebih dulu?!”

Pekik nyaring itu lolos begitu saja dari bibir Jungkook, kontras dengan rasa kesal yang seharusnya mengambil alih situasi. Bukan, Jungkook bukannya sudah lupa kalau ia masih sebal dengan sikap Yoongi. Ia hanya tidak menyangka, terlebih karena dirinya sudah terlanjur berpikir bahwa tak ada satu pun dari mereka berdua yang akan mengucap kata maaf. Waktu akan menyelesaikan segalanya—itulah jalan yang dianut Jungkook selama ini. Namun, menilik dari bagaimana cara Yoongi menatapnya lekat seraya mengucap kata ‘maaf’ itu setulus mungkin, agaknya prinsip untuk terus mempertahankan ego itu sudah mulai runtuh.

H-hyung… kau….”

“Aku serius, Bocah,” sambar Yoongi cepat, menunjukkan bahwa sifat galaknya belum seratus persen luntur. “Aku benar-benar minta maaf karena telah bertindak bodoh dan memukulmu kemarin. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, sepertinya aku berhak mendapatkan tinju darimu.”

Jungkook melongo lebar mendengarnya.

“M-maksudku adalah—“ Satu dehaman, seraya Yoongi mengusap tengkuknya dan berjuang menyembunyikan rasa malunya, “—aku tahu aku pantas mendapatkan itu. Setelah semua kepura-puraan bahwa Seokjin Hyung masih hidup; setelah nyaris menghancurkan persahabatan kita semua. Dan aku serius saat berkata bahwa aku ingin mencoba memperbaiki segalanya.” Yoongi kini mengangkat wajah, memandang teman-temannya satu per satu. “Hanya saja, tidak adil rasanya jika aku menyuruh-nyuruh Jimin, Namjoon, atau kalian untuk membenahi diri. J-jadi….”

“Yoongi Hyung….

“Jangan tertawa, tapi sejujurnya aku juga butuh bantuan,” ucap Yoongi dalam satu tarikan napas, menambahkan seulas senyum tipis setelahnya. “Aku tidak akan bisa melakukan ini sendiri, dan meskipun harga diriku tidak mengizinkan, kurasa aku harus mengakui kalau aku ini lemah. Aku masih butuh kalian, sehingga aku tak keberatan jika kalian terpaksa mendaratkan beberapa pukulan untuk menyadarkanku. Kita… kita masih berteman, kan?”

“Setelah semua yang terjadi?” balas Namjoon dengan nada bercanda, agaknya lupa bahwa ia dan Yoongi sempat berseteru. “Mari kita pikirkan dulu. Kau dan Jungkook sudah seperti akan saling bunuh malam itu, acara bersenang-senang kita terputus begitu saja, dan kau baru saja memukulku. Yep, kesalahanmu cukup berat, tapi kurasa kita masih berteman. Mungkin kita harus merayakannya setelah ini?”

Yoongi membalas sarkasme itu dengan dorongan di pundak, tetapi merasa lega bukan main setelahnya. Bagaimanapun juga, menyatakan maaf secara gamblang adalah obat dari segala keresahan. Itulah kunci baginya untuk mulai memperbaiki keadaan, untuk bisa mendorong teman-temannya agar mau ikut bergerak maju. Segalanya mungkin akan baik-baik saja setelah ini, dan mereka bisa—

“Ajakan Namjoon boleh juga sebenarnya. Makan bersama terdengar asyik, tapi….”

“Ada apa, Jimin-a?”

“Di mana Taehyung? Dia tidak ikut bersama kalian?”

Memotong jalan pikir serta optimisme Yoongi, Jimin melempar tanya itu pada Hoseok. Serta-merta menyadarkan Yoongi bahwa mereka hanya berlima di sini, bahwa salah satu kawan mereka belum menampakkan batang hidungnya. Masih ada Taehyung yang pasti juga butuh bantuan mereka, terlebih setelah pengakuan yang dibuat oleh lelaki itu sebelum pergi meninggalkan flat Yoongi tanpa permisi.

A… a-aku… aku telah membunuh Seokjin Hyung, bukan?”

Bagai diguyur air es, Yoongi hanya bisa mematung kala kalimat terakhir dari Taehyung malam itu terputar ulang di benaknya. Spontan mendobraknya dengan kesadaran atas peliknya situasi, juga menghadirkan keringat dingin di pelipis selagi ia perlahan-lahan membuka mulut dan berujar, “Jimin benar. Taehyung bahkan sama sekali belum menghubungiku atau Jimin. B-bagaimana dengan kalian?”

“Aku bersamanya kemarin.” Jungkook angkat suara, begitu lirih kala ia menyadari kengerian yang merambat di ekspresi rupa Yoongi. “T-tapi, dia baik-baik saja kemarin. Hari ini, dia tidak mau ikut saat kuajak. Katanya ia butuh waktu sendiri, jadi aku membiarkannya.”

“Waktu sendiri?”

“Kemarin kami berada di stasiun kereta api yang tak terpakai. Bermalam di sana, karena Taehyung Hyung berkata bahwa ia dan Namjoon Hyung pernah melakukan itu sebelumnya. Mungkin ia masih ada di sana?”

Lirikan sekilas ke arah Namjoon, yang lekas dibalas anggukan singkat dari temannya itu. Membenarkan, juga mengonfirmasi bahwa ia tahu tempat yang dimaksud. Dan itu cukup. Tanpa perlu Yoongi menjelaskan pun, mereka semua tampaknya telah mampu menangkap hawa buruk yang merambat. Sebuah firasat yang serupa dengan apa yang Yoongi rasakan pagi tadi, yang membuat keinginannya untuk lekas-lekas memperbaiki situasi kembali membanjir keluar.

Mereka pasti bisa melakukannya.

Mereka hanya perlu menemukan Taehyung dan meyakinkan pemuda itu bahwa ia tidak bersalah.

Itu hal yang sederhana, bukan?

Karena kali ini mereka tidak akan terlambat.

“Ayo kita cari Taehyung. Itulah gunanya sahabat, bukan?”

Dan karena kali ini, Yoongi tidak akan membiarkan kesalahan yang sama untuk terulang kembali.

Segalanya pasti akan baik-baik saja.

Benar begitu?

.

.

tbc.

11 thoughts on “[4 of 6] Messed Up”

  1. aaaa akhirnya dipost juga lanjutannyaaaa
    oke chapter ini bikin aku kadang senyum senyumm sendiri. akhirnya jimin yang mulai mau ngilangin kebiasaan buruknya. namjoon yang jadi luluh. dan jungkook yang maafin yoongi. tinggal taehyung niiihhh. penasaraannn lanjutannya jangan lama lama pleeeassseeee. fightiiing

    Suka

  2. aku telat banget nemu ff ini dan telat komen juga :p
    aku dulu jatuh cinta sama yg messy thoughts, tapi sekarang aku juga jatuh cinta sama ff ini… suka bgt sama gaya tulisan author-nim, pemilihan diksinya tepat, nggak bertele-tele tapi gampang dicerna ‘n feel-nya dapet bgt…
    ditunggu lanjutannya author-nim… fighting \(^o^)/

    Suka

  3. Mer, kok bisa sih bikin ginian? Keren lah. Ngerangkai kata, diksi-diksi di ceritamu itu lho, nyampe hati.
    Aku serius, bener dah.
    Kalo bisa ajarin aku lah, hehe *piiss*

    Tapi ada satu pertanyaan, “mengiakan” itu emang “mengiakan” apa “mengiyakan”? Aku suka bingung. Kan kata dasarnya “ia” yak? Atau gimana?

    Suka

  4. aduh kak jimin kak jangan gitu kak, aku ngilu (?) bacanya.
    aku ga bisa nebak apa yang ada dipikiran mereka semua. mereka tuh kayak keliatan jelas lukanya tapi tak nampak dimana. AKU JADI GALAU SENDIRI BACANYAA AAAAAA TT

    moga kalian nemuin taehyung ya. suka deh ih kesel suka banget sama friendship goal mereka. dan karena pembawaan tulisan kamu yang emang nikmat sekali untuk dibaca, jadi berasa kayak minum adem sari. bacanya sekali teguk eh tiba-tiba udah abis aja. AKU MAAAAAU LEBIIIH.

    duh maaf aku kebanyakan bacot wkwkw,
    LAST WORD, AKU NUNGGU KELANJUTANNYA YAAAA

    Suka

  5. Akhirnya dilanjut juga ceritanya /udah nungguin soalnya :D/Suka banget sama ceritanya, jadi mikir deh apa iya didunia ini ada persahabatan macam mereka?
    Jujur genre yg aku suka udah pada lengkap ada dicerita ini /ngga ada yg nanya/.
    Sebenernya aku udah ngikutin messed up dari 1 kak. Bahkan ngikuti messy thought juga. Tapi maap ya kak, aku baru kasih comment disini. Soalnya emg susah kalo suruh tulis comment. Bingung mau tulis apa ceritanya udah bener2 bagus sih, jadi ga bisa comment apa2 lagi..🙂 *maap malah curhat*
    Kayaknya dibuat film pasti bagus deh..
    Semangat terus buat nulis ceritanya kak..
    Aku tunggu kelanjutan ceritanya
    Iya lupa. Salam kenal Za 98l.
    *maap kalo kepanjangan*

    Suka

  6. Wait… Kak amer? Wah writer disini juga kak amer /yang baru nggeh/😄 aku udah baca di lapak sebelah jadi aku hanya numpang lewat disini dan memberimu semangat kak amerrrrr!!~~~~ himneeeee!😆

    Suka

  7. Kakak author favoritku disini maafkan tidak meninggalkan review di tiap chapter T.T
    Tapi aku baca ff ini sampai chapter ini sambil ngrepeat butterfly, run sama i need u dan itu sukses membuatku galau aaaakkk T.T
    Kamu selalu jadi favoritku kaaakk. Tata cara penulisan juga teliti sekali. Keep writing 😄😄

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s