[Ficlet] x

x

jirongiie’ storyline

starring [2PM] Chansung and [TWICE] Nayeon

duration ficlet genre Fluff rating Teen

.

“Mau kubantu bersihkan?”

 

Hari ini hujan membasahi bumi. Guyurannya nampak sangat deras sekali, seolah menahan seluruh orang tetap di ruangan dan mengusir seluruh insan yang berada di dunia luar. Chansung menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduki. Ia menghela napasnya pelan, menstabilkan deru napasnya sehabis berlari sepanjang trotoar jalan beberapa menit yang lalu.

Kepulan uap kopi yang terus menerus menguar dari cangkir kopinya tak ia hiraukan, membiarkan uap itu menyerang indra penciumannya dengan aroma khas yang membuat Chansung jatuh ketagihan. Disesapnya sedikit cairan kopi dari cangkir tersebut, memuji kenikmatan kopi itu dalam hatinya. Katakanlah Chansung seorang pemboros waktu, yang dengan santainya menyesap sedikit kopinya sepersekian detik—bahkan per menit—. Orang-orang jadi banyak yang berspekulasi kalau ia berlama-lama di tempatnya hanya karena ingin tebar pesona di lingkungan kafe—mengingat parasnya juga tampan, uhuk—. Namun pada realitanya, Chansung dengan sesapan kopinya tiap sekian detik itu cuma untuk menghibur hatinya;dalam arti lain mencoba untuk menemukan kata rileks dalam kamus kehidupannya.

Walaupun seminggu ini, yah, dirinya ogah-ogahan mengikuti kegiatan kampusnya, tapi tetap saja Chansung tidak tenang. Seperti ada rasa lelah yang selalu melekat di tubuhnya, yang setiap ia mandi, merebahkan tubuhnya sejenak, bahkan tidur pun tak kunjung hilang. Tentu saja pria itu bingung, dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

Minggu lalu, Chansung menyempatkan dirinya untuk pergi ke dokter. Akan tetapi, sang dokter hanya berkata kalau ia hanya kelelahan dan butuh istirahat paling tidak tiga atau lima hari. Dan disitu Chansung kembali dibuat dilema. Tahun ini ia sudah mendapat semester akhir di kuliahnya dan saat ini adalah saat-saat dimana angkatannya sudah mulai mengerjakan skripsi yang sudah tak lagi berumur lama. Satu bulan lagi tenggat waktunya, sedangkan Chansung masih mengerjakan seperempat dari tugasnya. Bagaimana ia bisa istirahat kalau skripsinya saja setengah pun belum dapat?

Tentang menyalahkan siapa, Chansung memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Memang dirinya sendiri yang telah membuat semua keterlambatan ini. Salahnya kalau dua bulan lalu ia tidak masuk kelas selama satu minggu penuh—dan itu semua berisi tentang materi-materi untuk persiapan skripsi—. Salahnya juga kalau dia sering menelantarkan tugasnya dan memilih untuk berlarut-larut di luar rumah.

“Hei, Chansung,”

Chansung refleks mengedarkan pandangannya ke arah suara itu berasal. Pandangannya terhenti kepada sesosok gadis yang berbalut blouse putih dan legging hitam sebagai celananya. Kedua irisnya pun menangkap sepasang wedges hitam tengah gadis tersebut pegang disamping kaki telanjangnya. Dan tentu ia kenal dengan perempuan itu—bahkan sangat kenal—, namanya Im Nayeon, sepupu Jaebum adik kelasnya, plus perempuan yang sukai.

Berbicara tentang Nayeon, Chansung sudah menyukai gadis itu sejak pertama kali ia berjumpa dengannya. Waktu itu ketika ia tengah menjalani semester kelimanya, masih dengan semangat ‘berkampus’-nya. Chansung masih ingat betul bagaimana ia duduk dengan kardigan biru toskanya—yang sekarang telah robek akibat perbuatan kucingnya—sembari membaca buku di taman universitas lalu tak sengaja melihat seorang gadis berbaju kotak-kotak berwarna merah-hitam berbahan flanel yang kala itu sedang trennya, tengah berjalan melewati pandangannya.

Gadis itu masih gadis yang sama, Im Nayeon. Bedanya hanya waktu itu ia masih seorang mahasiswa jurusan komunikasi dan masih suka menguncir rambutnya dengan gaya buntut kuda. Sekarang, Nayeon cenderung menggerai rambutnya, membiarkannya menjuntai sepanjang punggungnya, membuat Chansung semakin dibuat mabuk kepayang.

“Kehujanan?” tebak Chansung langsung dibenarkan oleh Nayeon. Gadis itu kemudian mengambil tempat duduk di hadapan lelaki itu sambil membuang napasnya kasar, menaruh wedgesnya di lantai tanpa perasaan sehingga membuat suara dentuman cukup keras yang menarik perhatian sebagian pelanggan kafe.

Chansung hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia memang bukanlah seorang pria yang begitu terbuka. Chansung cenderung introvert, yang lebih menyukai bersikap pura-pura tidak peduli, cuek, dan sebagainya yang semacam dengan itu. Ditambah dengan sikapnya yang emosian, lengkap sudah.

“Kau tidak tahu apa yang sudah aku alami tadi. Aku berniat untuk menuju ke kafe ini dari kampus, namun tak lama kemudian hujan datang dan aku terpaksa melepas wedges yang baru aku beli dua hari yang lalu kemudian berlari dengan kaki telanjang. Lihat sekarang, masih ada bekas-bekas cipratan lumpur dan rasanya gatal sekali,” oceh Nayeon di tengah kesibukannya membersihkan kakinya.

Chansung terdiam sejenak, mencerna satu per satu kalimat dari ocehan gadis tersebut. Beberapa saat kemudian, ia tertawa pelan.

“Mau kubantu bersihkan?”

“Terima kasih, tapi seharusnya kau lebih baik mengurus skripsimu, bukan kakiku,” sahut Nayeon disambut dengan kerutan di dahi Chansung. Pria itu kemudian kembali tertawa, jauh lebih keras dan terkesan meremehkan. Ia menegakkan punggungnya lalu menyesap kopinya untuk yang kesekian kalinya.

“Kalau ingin mengejek tidak usah menolak,” balas Chansung bersamaan dengan bunyi cangkir kopinya yang ia letakkan di atas lapiknya. Nayeon menatap matanya dan balas menertawainya.

“Lagipula aku memang tidak perlu bantuan seorang mahasiswa semester akhir yang belum menyelesaikan separuh skripsinya, kok,”

“Ya sudah, aku ‘kan hanya menawarkan bantuan kepada seorang gadis yang pernah menangis waktu roknya robek saat tes masuk universitas,”

“Tidak usah terlalu memperhatikanku kalau kau sendiri masih belum bisa memperhatikan dosenmu sendiri dan malah memilih untuk tidur. Aku tahu kalau aku cantik,”

“Sayang ya perempuan cantik di hadapanku ini hanya menganggap kuliah sebagai tempat mencari jodoh saja,”

“Kukira aku harus mengambil kacaku untuk menunjukkan mana yang lebih parah, orang di hadapanku ini malah lebih rajin ikut demonstasi dibanding kelasnya.”

Chansung menutup matanya, enggan untuk bertatap wajah kembali dengan Nayeon—takut amarahnya malah meluap yang bisa saja melukai gadis yang ia sayangi itu—. Di samping itu, gadis di hadapannya tersenyum lebar, menikmati kemenangannya tentang perihal ‘mengejek seorang mahasiswa semester akhir’. Ternyata, cibiran-cibiran yang berada di mulut Nayeon jauh lebih parah dibanding dengan kutukan-kutukan yang Jaebum—sepupunya ucapkan saat terpilih menjadi salah satu pembimbing mahasiswa baru setahun yang lalu.

Dirasa emosinya telah surut, pria bernama Chansung itu kembali membuka matanya, menatap Nayeon sambil tersenyum hambar. Ujung jari-jarinya menyentuh pegangan cangkirnya lagi kemudian mengangkatnya, mendekatkannya ke bibirnya, lalu meneguknya sampai habis. Kali ini Chansung sudah terlalu haus untuk melanjutkan kegiatan pemborosan waktunya dengan berlama-lama menyesap kopinya tersebut.

“Hah, pantas saja kau emosian. Secangkir kopi saja hampir kau teguk bersama dengan cangkirnya,” ucap Nayeon kembali menyudutkan pria yang pada kenyataannya merupakan kakak kelasnya di kampus. Ia tidak peduli siapa dan sebagai apa Chansung itu di kampusnya, yang ia tahu hanyalah Chansung itu temannya, dan ia bebas untuk berbicara (menghina) lelaki itu.

“Harusnya menjelang skripsi kau berhenti dulu minum kafein. Efeknya akan sangat merugikanmu nanti—”

“Kau itu adik kelas yang cerewet dan menyebalkan, ya.”

Nayeon hanya diam, masih dengan mulut yang setengah terbuka dan kedua netra yang masih melekat pada iris Chansung. Entah ia terkejut karena kalimatnya dipotong oleh Chansung atau ia sedang mengartikan satu per satu kata yang tersebut di kalimat kakak kelasnya tersebut.

Tak sampai semenit kemudian, perempuan itu terkekeh pelan. Mengambil sepasang wedges hitamnya lalu memakainya sebagai alas untuk kakinya yang telah ia bersihkan. Sempat ia merapikan rambutnya, setelah itu meraih tas selempangan yang terletak tak jauh dari posisinya. Sebelum ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebuah payung dari tempat peminjaman, Nayeon tersenyum kepada Chansung seraya mengucapkan sebuah kalimat magis yang membuat pria itu terpaku dibuatnya.

“Kau bilang aku cerewet dan menyebalkan, tapi kenapa kau masih saja menyukaiku?”

fin•

One thought on “[Ficlet] x”

  1. ihhhhhhhh….
    bisa nih ngebayangin ekspresi chansung pas nayeon bilang gitu…
    psti beku bangeeeettt !!

    hahahaha…
    oke thor,FF ini bisa ngebuat aku senyum-senyum sendiri…
    terima kasih ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s