[IFK Movie Request] Analysis

analysis

Requested by Acu

Casts Brian Kang [DAY6], Kim Wonbyul [Acu’s OC] Genre Fluff, cafe!AU Duration Vignette Rating PG-15 Disclaimer I own the plot

© 2016 namtaegenic

.

Areum agaknya memilih waktu yang salah ketika meneleponku. Katanya ini darurat. Kupikir tidak ada yang lebih darurat dari desain apartemen tiga puluh lantai yang diminta oleh atasanku dengan tenggat waktu yang dimajukan dua hari, sial. Kenapa orang-orang seperti si gendut sombong itu suka semena-mena dengan arsitek perusahaannya? Memangnya mendesain itu cuma perlu imajinasi? Memangnya imajinasi tidak perlu memperhitungkan kualitas struktur dan hingga usia berapa lama bangunan itu berdiri?

Dia mau bangunannya selesai hari ini dan roboh seminggu kemudian?

Tapi Areum tidak perlu dengar keluh-kesahku karena yah, siapa yang bisa kupaksa mengerti pekerjaan ini.

“Kue ulangtahun itu dititipkan oleh kokinya pada kakakku sore nanti!” kata Areum dari seberang telepon di meja divisi pemasaran. Mendelik ke arah sana, Areum malah menghadiahkan lambaian padaku—menyebalkan. “Harus diambil hari ini agar bisa dimasukkan ke dalam pendingin! Kau tidak mau merusak ulangtahun Sinye besok, kan?”

Senjata ampuh untuk memaksaku berkata ‘iya’ adalah embel-embel senasib seperjuangan yang sering dipraktikkan Areum padaku. Kita teman, kan? Kita akan saling menolong, kan? Kita sama-sama berada di bawah tirani si gendut sombong, kan? Huh.

“Ayolah, Wonbyul! Aku nanti sore ada janji dengan konsumen kita! Kalau ada yang closing kan, si gendut akan bahagia dan kita akan kecipratan!”

Tidak ada staf yang kecipratan kebahagiaan si bos kalau tim pemasaran berhasil melakukan closing, kecuali tim pemasaran itu sendiri. Areum pikir aku tidak tahu?

“Lagi pula aku tidak bisa memercayakan kueku pada kakakku.”

“Baiklah, baiklah, kuambilkan kuenya!”

“Kafe kakakku ada di persimpangan Nanko, ya!”

“Kakakmu punya kafe?”

“Yeah, dan omong-omong tidak sulit menemukannya. Dia merangkap barista di sana.”

“Baiklah, Areum. Biar kucatat nama kakakmu.”

“Tidak perlu dicatat, namanya Brian.”

“Dia diadopsi?”

Areum tertawa geli, terdengar seakan mengadopsi kakaknya jauh lebih baik daripada memilikinya sebagai saudara sedarah. “Tidak, kok. Pulang-pulang dari Kanada, ia langsung punya nama itu. Masa bodohlah. Ingat, ya. Namanya Brian. Aku harus menelepon klien untuk mengonfirmasi janji temu dulu, ya. Bye, Wonbyul!”

Aku meletakkan telepon dan kembali berkutat pada gambar potongan A-A’ di lembar kerja—memastikan lagi bahwa aku tidak membuat kesalahan pada perletakannya.

:::::

Tidak sulit mencari kafe kakaknya Areum di persimpangan Nanko, karena aku dan teman-teman kantor suka nongkrong di daerah sekitar sini selepas kerja. Membetulkan letak tas bahu, kudorong pintu kacanya, menimbulkan denting ringan menggelitik dari hiasan penyambut tamu di atas pintu. Beberapa pasang mata teralih pada kehadiranku di sini, sementara mataku sendiri kugunakan untuk memindai setiap sudut kafe—kebiasaanku ketika mengunjungi suatu tempat, meskipun aku tahu akan ke mana.

“Selamat datang!” sapa pemuda di balik bar kafe. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung hingga ke siku, dan berdiri sendirian di sana. Maka kusimpulkan pasti itulah kakaknya Areum.

“Aku mencari Brian Kang, Areum memintaku untuk mengambil kue ulangtahun—“

Brian Kang meloloskan sebuah ‘oh’ dari mulutnya, kemudian memberikan gestur mempersilakan duduk. Aku sebenarnya sudah terlalu lelah dan segera ingin pulang dan mandi. Tapi menolak kebaikan orang lain bukan kebiasaanku.

Brian tersenyum manis padaku, dan kubalas dengan memperkenalkan diri—Areum melakukan itu pada saudara-saudaraku di rumah, jadi kurasa aku harus melakukan hal yang sama.

“Nama saya Kim Wonbyul, Kak. Saya temannya Areum.”

Brian tertawa serenyah kepingan kukis yang baru dipanggang. “Formal sekali, sih? Brian Kang, kakaknya Areum, semoga adikku tidak merepotkanmu.”

“Sebenarnya ia sangat merepotkan,” ujarku, dan Brian tertawa lagi. Ia tampak seperti pemuda yang sadar betul bahwa dirinya menarik.

“Jadi namamu Kim Wonbyul, huh? Nama yang cantik,” pujinya. Bingo! Dia memang pemuda yang seperti itu! Oh, Kang Areum, ternyata kakakmu tukang tebar pesona. Aku tidak akan tertarik. Tidak akan.

“Tapi lebih cantik pemilik namanya, sih.”

O… kay?

“Omong-omong, karena kau sudah mau direpotkan oleh adikku, bagaimana kalau kubuatkan kau secangkir kopi? For free.”

“O-oh, haha, tidak usah, Kak. Aku harus segera pulang soalnya—“

“Panggil Brian saja, dan aku menahanmu di sini.”

“Aku… sungguh-sungguh harus pulang cepat, Bri—“

“Atau kau akan melukai hatiku.”

Secara positif, aku terperangkap di kafe ini, di meja bar, berdua saja dengannya—karena karyawan lain tampak sibuk hilir-mudik mengurusi aliran tamu. Dan kuharap ia tidak akan lama karena—

“Jadi, apa yang kausuka?” Brian menumpukan telapak tangannya di balik meja, sementara pemutar audio kafe memutarkan sebuah trek akustik yang nyaman di telinga.

“Um, soymilk. Sebenarnya kau tidak repot-repot—“

“Satu soymilk segera datang.” Ugh, dia tidak terbiasa menunggu orang lain selesai bicara atau bagaimana? Aku menatap punggung Brian yang berbalik ke peralatan racik kopi, lantas segera kualihkan pandanganku ke mana saja. Aku tidak terlalu mengerti tentang kopi, sebenarnya. Areum-lah yang mengenalkanku pada soymilk di kafe waralaba yang sering kami datangi di mal. Aku suka mencolek lapisan atasnya sebelum benar-benar menyesap kopiku.

Soymilk terhidang sempurna—dan baiklah, kuakui bahwa dia profesional, karena aku tidak terlalu suka kalau gelasku belepotan, atau lengket, atau krimnya terlalu penuh melenceng, atau apa saja. Tapi Brian seakan meracik soymilk ini dengan sihir, tanpa menyentuh apa pun.

“Kalau tidak enak, bilang padaku. Kalau enak, bilang pada Areum. Dia tidak pernah mau mengakuinya,” ujar Brian, membuatku mengangkat alis, lantas tertawa bersamanya.

“Kau berhasil membuatku terpukau,” kulontarkan pujian sebagai apresiasi pada kinerjanya. “Aku tidak suka dengan barista yang membuat gelasku jadi lengket dan berpikir bahwa tisu bisa menyelesaikan segalanya.”

“Pecinta soymilk memang penyuka detil, ya kan?” Brian menanggapi. Dan aku tertawa. “Aku serius. Kopi favoritmu menggambarkan seperti apa kepribadian yang kaumiliki.”

“Whoa, apakah kau sedang menganalisaku berdasarkan apa yang kuminum? Karena itu sangat… dangkal dan menghakimi?”

Brian terkekeh geli. “Tunggu sampai kaudengar semuanya, Soymilk.”

Aku merasa tersinggung, tapi menolak untuk menunjukkannya. Lagi pula aku penasaran dengan karakter pecinta soymilk—bukan berarti aku percaya, aku tidak suka menyamaratakan semua orang hanya berdasarkan jenis kopi yang mereka minum.

“Orang yang suka minum soymilk itu menyukai detil. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi ketika berhadapan dengan pekerjaan, kau mau semuanya berada pada tempatnya.”

“Tentu saja. Aku arsitek. Kepalakulah yang akan dipenggal jika gambarku memengaruhi hasil akhir,” aku melayangkan pembelaan, lengkap dengan gerakan memotong leher dengan jemariku. “Tapi aku yakin tidak semua arsitek minum soymilk.”

Brian mengangguk seakan memahami bahwa aku marah. Padahal aku tidak marah. Tidak, aku tidak marah. Hanya tidak sependapat dengan penyamarataan ini.

“Pecinta soymilk juga egois.”

Aku tercengang, tidak percaya ia mengatakan itu pada—meskipun dapat minuman gratis—tamunya. “Dan munafik.”

Napasku tertahan di kerongkongan hingga mengeluarkan bunyi ngik yang barangkali terdengar sangat jenaka karena Brian tertawa melihat reaksiku. Apa aku sedang disorot oleh kamera tersembunyi di sini? Apakah nanti ada beberapa kru televisi yang muncul dari balik tembok dan bersorak, “Selamat! Kau masuk ke acara Gotcha You’re Mad!”. Sialan.

“Baiklah, jadi apa yang kopimu katakan tentangmu?” aku menantangnya balik. Brian hanya mengangkat bahu. “Cappucino. Kreatif, jujur, dan mudah termotivasi.”

“Dan tukang bohong.”

“Dan memesona.”

“Kau sama sekali tidak memesona dan aku tidak percaya pecinta cappucino bisa sebegitu sempurnanya.” Aku menyesap soymilk hanya karena sudah terhidang, tapi wajahku tetap merengut. Besok-besok aku akan protes pada Areum karena sudah mengirimkanku pada kakaknya yang menyebalkan dan sok ganteng ini.

Soymilk-nya enak?” tampak masih menertawakanku, Brian mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Maunya sih aku menyebutkan satu-dua kesalahan yang ia perbuat pada hidangannya. Tapi benakku tersumbat emosi dan soymilk ini memang enak sekali. Jadi aku hanya mengangguk. Ia terlihat senang sekali.

Salah satu pramusaji di kafe meletakkan kotak kue di meja, dan karena soymilk-ku sudah tandas, kupikir sudah saatnya aku mohon diri. Ia memandangku sembari menyembunyikan senyumannya. Mau tidak mau aku tertawa, konyol sekali aku harus memperdebatkan masalah kopi dan kepribadian. Yah, kurasa kami bisa berdamai soal itu.

“Mampirlah lagi kemari, kalau kau ada waktu,” ujar Brian sebelum aku berbalik pergi sambil menggotong kotak kue. Aku mengangkat alis dan mengangguk.

“Ingatkan aku untuk tidak lagi memesan soymilk.”

Brian terbahak, dan ia melangkah keluar dari meja barnya ke arahku untuk membukakan pintu. Ia menahan pintunya sampai aku benar-benar berada di luar.

“Wonbyul!”

Aku menoleh, usai memasukkan kotak kue ke dalam mobil.

“Aku tidak minum cappucino, kok!”

“Hah!” aku menjentikkan jemari penuh kemenangan. “Sudah kuduga kau berbohong! Jadi, apa yang kauminum?”

Brian memandangku sembari tersenyum asimetris. “Aku akan memberikan catatan mengenai kopi dan kepribadian, dan kau bisa menganalisaku sesuka hati.”

Kupikir wajahku merona, karena saat ini aku pasti sedang berusaha untuk tidak tersenyum menanggapi tawaran persahabatan darinya. Baiklah, lain kali akan kucari jenis kopi yang kira-kira diminum oleh orang yang gemar sekali mengacak-acak pikiran orang lain—khusus untuk Brian Kang.

FIN.

namtaenote:

Thanks to Amer aka tsukiyamarisa yang pernah ngasih gambar (bisa dilihat di bawah namtaenote ini) berisi hubungan kepribadian orang dengan kopi yang diminumnya. Tadinya Amer juga mau nulis mengenai coffee x personality berdasarkan gambar di bawah ini, makanya selama nulis ini aku bilang ke Amer, bisa nggak kalo aku ambil dua contoh kopi di sini (soymilk dan cappucino) buat bahan fanfiksi. Dan ternyata boleh, yes!

Selamat menikmati!

kopi

22 thoughts on “[IFK Movie Request] Analysis”

  1. HUAAAA.. MAU IJIN KEPSLOK…

    MELELEH, MELELEH, MELELEH…

    DEMI APA, AKU SENYUM2 SENDIRI AMPE MATA BERAIR GINI, KAK ECI BISAAN LAH.

    /matiin kepslok/

    Duh, mas Brian, kenapa nyebelin gitu, dedek gakuat ganana,, kenapa senyum mematikan bikin perasaan anak perawan cem saya gak bisa kekontrol gini. Ngegemesin /gigit bantal/ gemes ma Youngk. pengen cium YoungK. atuhlah aku gak bisa nahan jeritan gemes. /plis ini tempat kerja, jangan minta ditimpuk berkas2 tebal Acu/

    Hua, salah jam ini bacanya, salah jam.😄😄😄

    makasih udah mau nerima kerusuhan Acu, Kak Eci.
    semangat nulisnya, semoga IFK juga semakin lancar jaya, sukses selalu…

    aku mau baca lagi hahahaha

    ijin reblog ya kak…❤

    Suka

  2. YAAMPUN KAECI INI SO FLUFF SO MEMESONA SO MINTA DIGEPLAK YA KAK BRIAN TUH

    Yeoksi kaeci emang jago yang kaya gini ini ((kaya apa mer)) maksudnya yang fluff tapi nggak terasa mainstream, padahal ini bawa2 kopi dan cafe gitu kan, aku aja sampe sekarang stuck karena idenya mainstream semua😄

    Entah kenapa aku suka kaeci ngejelasin gimana wonbyul dan pekerjaannya ini di awal, sebelum akhirnya nyambung ke scene tebak menebak di kafe dan segala godaannya kak younghyun, serius ini kece kak, dan bikin senyum2 tiap younghyun berhasil ngegodain wonbyul apalagi pas akhir ♡ ♡

    Makasih udah ditulisin berdasar prompt kopi itu ya kaaak, walaupun aku ga request tapi aku turut senang!😀 keep writing kaaak❤

    Suka

  3. BHAAAYYY ECI BHAAAYY!!

    /nyemplung sono lu del ke laot/

    Apalah ini bkin jam mkan siang gue pengen gigitin hape jadinya. Iya tau Ci lu emang senpay lah urusan manis manis diabetes cem gini 😒😒
    Hayati lelah diginiin ma Eci. Super kiyut swiiiittt gmn gitu.

    Bhay..

    Suka

  4. iniiiiiii….bikin melting sumpaaaaah !!!!

    authornya tau banget gimana bikin ati jadi melelh….heheheh

    akuuuu sukaaa…malah aku nikmatin banget alurnya…ceritanya detail dan kata-katanya bagus bangeeeettt !!! aku sukaaaa thorr…..

    dan pas keasikan baca ehh tau-tau udh fin ajeeeee….

    Suka

      1. gapapa. dan berhubung kamu menggemari tulisanku, izinkan aku memperkenalkan diri. halo, namaku Eci, 89 liner. salam kenal🙂

        Suka

  5. Black coffe drinker is here.. dan itu yang tulisan di gambar itu tuh bener sih………….. sigh
    ANJIR BRIAN KANG MODUS ANJIR (Modus pake kopi *dor*)
    kaeci mah ya jago bgt bikin yang kaya begini aku mau dong diajarin kaeci😀

    Suka

  6. woahh ini ceritanya bikin aku ketawa ketawa sendiri wkwk, paling suka bagian yang ada melukai-melukai hati, dan… yah Kak Eci jagonya deh kalo yang begini:))) sukses terus kakakk

    Suka

    1. Halo winta! di sini si brian kubikin sweet talker gitu deh makanya ada kata2 yang rada huek-huek-sedap haha makasih sudah mampir ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s