The Story Only I Didn’t Know [2/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [2/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Park’s House

Chanyeol’s Room – 06.30 am

“Selamat ulang tahun tuan muda.”

Park Chanyeol laki-laki tinggi itu terlihat membulatkan matanya, dengan senyum lebar yang sudah menghiasi wajah tampannya, saat Kim Sangwon sudah berdiri di depan pintu kamarnya saat laki-laki itu baru saja membuka pintu kamarnya pagi ini.

“Terima kasih paman,” ucap Chanyeol sembari memeluk Sangwon dengan erat, membuat Sangwon sedikit terkejut sesaat sebelum laki-laki paruh baya itu tersenyum.

Chanyeol melepaskan pelukannya dan laki-laki itu kembali membulatkan matanya, saat sang paman menyodorkan sebuah kotak polos berwarna merah. “Ini untuk ku?” tanya Chanyeol menyakinkan, Sangwon hanya mengangguk pelan.

Chanyeol segera membuka kotak merah itu, mengeluarkan sebuah syal berwarna merah yang terdapat di dalamnya, dengan sulaman inisial namanya pada bagian ujung syal. Chanyeol menatap Sangwon dengan senang, laki-laki itu bahkan langsung melingkarkan syal itu ke lehernya.

Sangwon tersenyum senang saat melihat Chanyeol yang terlihat menyukai kado pemberiannya itu. “Istri saya yang membuatnya, saya harap tuan muda menyukainya dan istri saya juga mendoakan agar tuan muda Chanyeol selalu sehat.” Ucap Sangwon lagi-lagi dengan tersenyum. “Terima kasih paman ini benar-benar sempurna, dan sampaikan salah ku untuk bibi Nari.” Sangwon pun mengangguk, lalu sedikit menunduk saat Chanyeol mulai melangkahkan kakinya.

Chanyeol melangkah pelan menuju tangga, laki-laki itu tampak memandang sekilas ke arah pintu kamar ibunya yang tertutup rapat dengan tatapan ragunya. “Oiya tuan muda, ada satu hadiah lagi untuk anda dari tuan muda Jungsoo.” Chanyeol sedikit terkejut dengan ucapan Sangwon yang berdiri di sampingnya, laki-laki itu pun memilih untuk melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga yang meliuk indah, menuju halaman depan rumah keluarga Park ini.

“Hyung?” tanya Chanyeol dengan menaikkan satu alisnya, menebak-nebak hadiah apa yang akan di dapatnya tahun ini.

Chanyeol menghentikan langkahnya di ambang pintu, terlihat terkejut dengan mulut yang menganga lebar, saat melihat sebuah motor sport berwarna merah yang sudah lama di inginkannya terparkir manis di samping mobilnya. Motor yang hanya di buat sebanyak 20 unit di seluruh dunia, dengan harga ratusan juta won, membuat laki-laki jangkung itu berlari dengan tawa riang yang mengiringi.

“Kapan hyung mengirim motor ini paman?” tanya Chanyeol dengan senang, saat dirinya sudah duduk di atas jok motor, tangan laki-laki itu tak henti hentinya mengusap dengan sayang motor  barunya itu. “Semalam tuan muda,” jawab Sangwon yang kini sudah berdiri di samping Chanyeol yang terlihat sangat antusias dengan motor barunya.

“Hyung benar-benar hebat,” ucap Chanyeol lagi masih dengan tawa riangnya, membuat Sangwon tersenyum lega karna tidak lagi melihat wajah sedih dari Chanyeol yang sangat di sayanginya itu.

Sangwon memandang sekilas penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sepertinya tuan muda harus berangkat ke sekolah sekarang jika tidak ingin terlambat,” ucap Sangwon pelan, membuat Chanyeol menghentikan aktifitasnya pada motor barunya itu.

“Ini masih pagi paman, lagi pula tidak akan ada satu guru pun yang berani memarahi ku, jika aku datang terlambat,” jawab Chanyeol lalu turun dari jok motor, laki-laki itu membenarkan letak dasi dan jas sekolahnya, memastikan jika penampilannya saat ini sudah terlihat sempurna.

“Bukankah tuan muda harus menjemput nona Jiyeon terlebih dahulu?” Chanyeol memiringkan kepalanya dan menatap Sangwon dengan binggung. “Jiyeon?” tanya Chanyeol masih dengan wajah binggungnya.

Ne nona Jiyeon, kekasih tuan muda yang cantik itu,” ucap Sangwon dengan senyum yang tertahan saat melihat wajah binggung Chanyeol saat ini. “Tuan muda tidak lupa dengan gadis di halte kemarin kan? Gadis yang menemani tuan muda kemarin sore,” ucap Sangwon berusaha membantu Chanyeol untuk kembali mengingat sosok gadis manis yang di ada di halte kemarin.

“Ah! Gadis itu,” ucap Chanyeol saat berhasil mengingat gadis yang di maksud Sangwon. “Aku lupa jika nama gadis itu Jiyeon.” Ucap Chanyeol dengan senyum lebarnya.

Sangwon hanya tersenyum. “Menurut saya gadis itu berbeda dari gadis-gadis yang dulu pernah menjadi kekasih dari tuan muda, dan— apa tuan muda tahu jika ayah gadis itu berteman baik dengan Directur?” tanya Sangwon dengan senyum penuh arti.

Chanyeol hanya menggeleng, laki-laki itu masih terlihat sibuk memperhatikan penampilan rambutnya, dari kaca yang di bawa oleh seorang pelayan wanita yang baru saja di panggilnya. “NeDirectur dan tuan Song Jongki ayah dari nona Jiyeon, sudah berteman sejak lama karna hubungan bisnis yang mereka jalani selama ini. Jadi tuan muda tidak akan menyesal nantinya, jika mempertahankan gadis itu.” ucap Sangwon lagi masih dengan tersenyum.

Chanyeol tertawa laki-laki itu menepuk pundak Sangwon lalu merangkulnya. “Paman terlihat seperti paranormal di televisi,” lagi-lagi Chanyeol tertawa dengan keras. “Baiklah aku akan mengikuti kata-kata paman, aku akan menjemput gadis itu.” Chanyeol melepaskan rangkulannya, saat sopir pribadinya membukakan pintu mobil untuknya.

“Ne saya doakan semoga hubungan tuan muda dan nona Jiyeon, selalu bahagia,” ucap Sangwon dengan sedikit menunduk, saat Chanyeol sudah duduk manis di kursi mobil, laki-laki paruh baya itu terlihat melihat ke arah sopir pribadi Chanyeol dengan senyum penuh arti.

“Semua data tentang nona Jiyeon sudah saya siapkan di layar monitor itu tuan muda,” ucap Sangwon seraya menunjuk monitor mini yang tertempel pada belakang kursi kemudi. “Semoga itu bisa membantu tuan muda untuk lebih mengenal kekasih baru tuan muda, dan— semoga berhasil saya selalu mendoakan yang terbaik untuk tuan muda.” Ucap Sangwon sambil mengedipkan matanya, membuat Chanyeol tertawa pelan melihat semua hal konyol yang di lakukan pamannya itu.

***

“Apa rumah gadis itu masih jauh?” tanya Chanyeol sambil memandang ke arah luar jendela. “Sebentar lagi tuan muda,” jawab sang sopir dengan nada hormatnya.

“Paman Kim benar-benar menyiapkan semua ini?” tanya Chanyeol dengan tersenyum. “Ne saya di perintahkan untuk mengingat jalan menuju rumah nona Jiyeon, tuan muda.” Ucap sang sopir dari balik kemudi.

Chanyeol mengangguk pelan, mata bulat laki-laki itu menatap layar monitor yang ada di hadapannya lalu menekan tombol play. Chanyeol tampak tersenyum saat melihat wajah Sangwon yang memenuhi layar monitor mini di hadapannya.

Selamat pagi tuan muda, saya akan memberikan info penting tentang nona Jiyeon untuk anda.”Ucap Sangwon dari balik layar dengan mimic wajah seperti agen rahasia negara, yang ingin melaporkan sebuah rahasia besar demi kelangsungan hidup orang banyak.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil, memperhatikan perkataan dari paman tersayangnya itu dengan senyum yang tertahan, ya dari dulu pamannya itu selalu mampu membuatnya tertawa, selalu mampu membuatnya merasa tidak kesepian dengan semua ulah dan ide konyolnya.

“Nona Jiyeon lahir 1 bulan setelah kelahiran anda tuan muda, nona Jiyeon adalah anak tunggal dari pemilik perusahaan mobil Hyundai and KIA dia juga sangat pintar dengan selalu mendapat peringkat 5 besar di kelasnya. Nona Jiyeon punya seorang sahabat bernama Lee Jihyun yang merupakan kekasih dari penerus Hyundai Departement Store, dan kabar buruknya adalah nona Lee Jihyun sangat mengidolakan anda tuan muda.”

“Mwo?” ucap Chanyeol sambil sedikit terkekeh. “Benarkah?” tanya Chanyeol dengan wajah antusias, membuat Sangwon mengangguk pelan dengan expresi sedih yang berlebihan karna Chanyeol terlihat lebih tertarik dengan fakta Jihyun dari pada fakta tentang Jiyeon.

“Ne dan— nona Jiyeon juga punya fisik yang sedikit lemah, tubuhnya akan langsung demam jika terkena air hujan, nona Jiyeon juga tidak bisa kelelahan.”

“Paman apa kau tahu, jika sekarang kau terlihat seperti seorang mata-mata.” Ucap Chanyeol seraya memajukan wajahnya ke depan layar monitor, dengan tatapan penuh kecurigaan membuat Sangwon tertawa pelan.

“Ne semoga hari ini menyenangkan tuan muda, dan selamat ulang tahun,” ucap Sangwon sesaat sebelum Chanyeol menekan tombol OFF pada layar monitor mini itu.

***

Jiyeon’s House

Jiyeon terlihat menghentikan sarapan paginya, saat seorang pelayan paruh baya bernama bibi Jung yang selama ini selalu menjaganya saat orang tua gadis itu sibuk dengan pekerjaan mereka, terlihat berdiri di hadapannya dengan senyum senang yang terlihat berlebihan dari hari-hari biasanya.

“Nona Jiyeon ada seorang laki-laki yang sangat tampan menunggu nona di luar,” ucap bibi Jung masih dengan tersenyum.

“Nuguseo?” tanya Jiyeon penasaran. “Dia tidak menyebutkan namanya, tapi dia bilang dia adalah kekasih dari nona Jiyeon,” Jiyeon membulatkan matanya.

MWO?” ucap Jiyeon terkejut, gadis itu langsung bangkit dari bangku yang di dudukinya. “Bibi jangan mengada ada aku tidak punya pacar,” ucap Jiyeon yang terlihat masih terkejut itu.

“Tapi laki-laki tampan dan juga sangat tinggi itu bilang seperti itu nona, dan— sepertinya dia satu sekolah dengan nona Jiyeon,” ucap bibi Jung sambil meraih tas Jiyeon dan menyerahkannya pada gadis itu, sesaat sebelum gadis itu melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya.

***

Jiyeon membulatkan mata beningnya, saat melihat seorang laki-laki yang tidak di harapkan kehadirannya kini berada beberapa langkah di depannya, laki-laki tampan dengan seragam sekolah yang sama dengan dirinya, memakai syal berwarna merah yang melilit manis di leher laki-laki itu.

Park Chanyeol terlihat menyandarkan tubuh tingginya pada mobil mewahnya yang ada di belakangnya, laki-laki tinggi dengan senyum yang terlihat menyebalkan di mata gadis itu, terlihat melambaikan tangannya pada Jiyeon yang mulai melangkah mendekat.

“Apa yang kau lakukan di rumah ku sepagi ini, Chanyeol-ssi?” tanya Jiyeon dengan raut wajah kesalnya, saat laki-laki di hadapannya ini hanya tertawa lebar seraya menegakkan tubuh tingginya.

“Menjemput mu,” jawab laki-laki itu cuek lalu membuka pintu mobilnya, menarik lengan Jiyeon agar gadis itu masuk ke dalam mobilnya.

“Yak! Lepaskan aku! Memangnya siapa yang mau naik ke mobil mu, aku punya mobil sendiri.” Ucap Jiyeon dengan mendonggak agar dapat melihat wajah laki-laki jangkung itu, tangan gadis itu berusaha melepaskan cengkraman laki-laki itu di lengannya.

Tapi laki-laki itu tidak peduli dan tetap memaksa Jiyeon untuk masuk ke dalam mobil, dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar di banding tubuh Jiyeon, membuat laki-laki itu dapat dengan mudah mendorong Jiyeon hingga gadis itu masuk dan duduk di dalam mobilnya.

“YAK! Apa yang kau lakukan, aku tidak mau naik mobil mu Park Chanyeol!” ucap gadis itu lagi dengan berteriak, tapi Chanyeol hanya tersenyum saat melihat Jiyeon yang berusaha membuka pintu mobilnya.

“Kau benar-benar laki-laki menyebalkan, aku bahkan menyesal jika kemarin aku sudah merasa kasian pada mu.” Ucap Jiyeon masih dengan berteriak, membuat raut wajah Chanyeol berubah dingin seketika.

“Aku tidak butuh belas kasihan mu, dan—“ laki-laki mengangtungkan kalimatnya, menatap dingin Jiyeon yang masih menatapnya dengan kesal. “—Lupakan semua yang kau lihat di halte kemarin, kau mengerti?”

Chanyeol menatap tak peduli saat Jiyeon menatapnya dengan tatapan murkanya, laki-laki itu bahkan dengan santainya menyandarkan tubuhnya dan menyumbat kedua kupingnya denganheadset, hingga dia tidak perlu mendengar semua umpatan kesal Jiyeon untuk dirinya, sesaat sebelum memberi perintah agar sang sopir pribadi mulai menjalankan mobilnya.

“YAK!” teriak Jiyeon sambil menguncang tubuh Chanyeol dengan kuat, saat mobil Chanyeol mulai bergerak keluar dari halaman rumah Jiyeon yang di penuhi oleh ratusan bunga-bunga indah dari penjuru dunia, membuat laki-laki yang sedang memejamkan matanya itu tersentak.

“Wae?” ucap Chanyeol sambil melepaskan satu headset yang menyumbat telinganya, mata laki-laki itu menatap Jiyeon dengan dalam, membuat gadis itu terdiam untuk beberapa saat.

“Katakan alasan mu menjemput ku hari ini?” ucap Jiyeon pada akhirnya. “Apa aku perlu alasan untuk menjemput pacar ku?” jawab Chanyeol dengan santai, membuat Jiyeon membulatkan mata beningnya.

“MWO? YAK! Siapa yang mau menjadi pacar mu, Park Chanyeol?” ucap Jiyeon sambil memukul bahu Chanyeol berulang-ulang.

Chanyeol berdecak kesal, dengan cepat laki-laki itu memutar tubuhnya lalu menggenggam kedua jemari Jiyeon hingga gadis itu terdiam. “Tentu saja kau memangnya ada gadis lain di sini? lagi pula aku tidak butuh persetujuan mu, nona Song Jiyeon.” Ucap Chanyeol dengan wajah seriusnya dan perlahan melepaskan genggamannya di jemari Jiyeon.

“Kita tidak saling mengenal,—-“

“Aku mengenal mu, nama mu Song Jiyeon kan? Putri tunggal dari Song Jongki pemilik perusahaanHyundai and KIA Car,” ucap Chanyeol sambil kembali menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. “Punya seorang sahabat bernama Lee Jihyun, yang sangat— memuja diri ku, benar begitu?” ucap Chanyeol dengan senyum sombongnya, membuat Jiyeon memutar bolamatanya tanpa minat.

“Kau—“ Jiyeon menarik nafasnya, menaha luapan rasa kesal pada laki-laki yang hanya menatapnya dengan tatapan tidak pedulinya itu. “Aku tidak menyukai mu Chanyeol-ssi dan aku rasa kau juga tidak menyukai ku kan? jadi—-“

“Benar aku tidak menyukai mu, aku melakukan ini semua karna permintaan paman Kim, jadi jika kau mau menolak ku kau harus mengatakan sendiri pada paman ku itu.” kini Chanyeol menegakkan tubuhnya, tangannya terulur ke layar monitor yang ada di hadapannya lalu menekan tombol play.

“Bicaralah padanya, karna dari dulu aku tidak pernah bisa menolak permintaannya,” ucap Chanyeol lalu kembali menyumbat telinganya dengan headset.

Jiyeon menatap Chanyeol yang kini sudah memalingkan wajahnya itu dengan kesal, gadis itu menatap ragu layar monitor yang ada di hadapan laki-laki itu. Gadis itu sedikit menggeser posisinya saat layar monitor sudah memperlihatkan seorang laki-laki paruh baya, yang baru saja menyapa gadis itu dengan sopan.

“Paman Kim,—“ ucap gadis itu dengan ragu, pikiran gadis itu terlalu binggung harus memulai pembicaraan bodoh ini dari mana, hingga suara bijaksana dari sang paman di dalam layar monitor membuyarkan lamunan gadis itu.

“Apa tuan muda baru saja memarahi nona, karna nona melupakan kado untuk ulang tahun tuan muda hari ini?” tanya Sangwon menebak-nebak saat melihat wajah binggung Jiyeon saat ini.

“Nde?” tanya Jiyeon sedikit binggung. “Kado? Ulang tahun?” tanya gadis itu seraya melihat ke arah Chanyeol yang masih memalingkan wajahnya itu.

“Ne apa nona lupa jika hari ini tuan muda Chanyeol berulang tahun yang ke 17?” tanya sang paman lagi, membuat Jiyeon mengangguk pelan. “Baiklah nona jangan takut, tuan muda laki-laki yang sangat baik, dia tidak akan memarahi nona Jiyeon karna masalah ini, percayalah.” Ucap Sangwon lagi masih dengan tersenyum.

“Paman bukan itu yang ingin aku bicarakan,” ucap Jiyeon dengan ragu, karna sungguh gadis itu terlihat tidak enak hati saat harus mengatakan yang sebenarnya pada paman Kim, yang entah kenapa selalu mampu membuat Jiyeon merasa sungkan.

“Ne?”

“Aku—- aku bu—“ ucapan Jiyeon terputus seketika, saat dengan tiba-tiba Chanyeol merangkul pundak gadis itu dengan erat, laki-laki itu bahkan mendekatkan pipinya hingga menyentuh pipi gadis itu membuat Jiyeon terkejut dengan mata yang membulat.

“Bagaimana paman, kami pasangan yang serasi kan?” ucap Chanyeol dengan riang, mengabaikan tatapan dingin Jiyeon yang masih di rangkulnya dengan erat.

Sangwon tertawa pelan, laki-laki paruh baya itu terlihat mengangguk. “Ne kalian terlihat sangat serasi, saya doakan hubungan tuan muda Chanyeol dan nona Jiyeon selalu bahagia.” Ucap Sangwon dengan tersenyum, sesaat sebelum Chanyeol menekan tombol off.

Chanyeol menarik nafasnya, laki-laki itu memutar wajahnya hingga matanya menatap Jiyeon yang masih berada di dalam rangkulannya. Laki-laki itu terlihat terdiam saat mata bening Jiyeon menatapnya, membuat jantung laki-laki itu tiba-tiba saja berdetak lebih cepat, begitu pula dengan Jiyeon gadis itu merasa jika tubuhnya membeku saat mata bulat Chanyeol masih menatapnya dengan dalam.

Namun dengan cepat Chanyeol menyadari keadaan yang tidak benar ini, laki-laki itu segera melepaskan rangkulannya lalu kembali ke posisi semulanya. Jiyeon pun demikian gadis itu bahkan menggeser posisinya hingga menempel di pintu mobil, dan mereka pun terlihat sama-sama menghembuskan nafas gusar mereka berulang-ulang, guna meredam detak jantung mereka masing-masing.

***

YeomKwang High School

Jiyeon turun dari mobil Chanyeol dengan tergesa, gadis itu benar-benar tidak ingin ada yang melihatnya datang bersama Chanyeol pagi ini, dan dengan cepat gadis itu mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan Chanyeol yang memanggil namanya di belakang sana.

Namun langkah gadis itu terhenti tiba-tiba, karna dari jarak pandangnya kini mata bening gadis itu, melihat seorang laki-laki yang di kenalnya baru saja turun dari mobil mewahnya. Laki-laki tampan, tinggi dengan senyum memabukkannya itu terlihat membuka pintu mobil untuk seorang gadis yang terdapat di dalamnya, Jiyeon masih terdiam di tempatnya dengan mata yang sedikit memanas saat melihat laki-laki di hadapannya itu, mencium kening sang gadis membuat nafas Jiyeon tiba-tiba saja tersendat dengan genggaman tangan yang menegang.

Jiyeon tersentak saat tiba-tiba tangan seseorangsudah merangkul bahunya dengan erat, membuat gadis menghembuskan nafas kesalnya dan memalingkan wajahnya menatap malas ke arah seorang laki-laki yang masih merangkul bahunya itu. “Kenapa tidak menunggu ku,” ucap laki-laki itu dengan raut wajah sok polosnya.

“Lepaskan aku,” ucap Jiyeon seraya melepaskan diri dari rangkulan laki-laki di sampingnya itu, membuat laki-laki itu akhirnya melepaskan rangkulannya, mata bulat laki-laki itu mengikuti arah pandang Jiyeon saat ini.

“Itu sahabat mu kan?” tanya laki-laki itu dengan menatap lurus ke depan. “Dan itu pacarnya kan? Penerus dari Hyundai Corp, Ya! kenapa kau tidak menyapa mereka.” Ucap laki-laki itu lagi dan sama sekali tidak sadar dengan tatapan terluka Jiyeon saat ini.

“Ah! Ternyata laki-laki itu lumayan tampan juga, walaupun lebih tampan aku tentunya, dan—” laki-laki memiringkan kepalanya terlihat sedikit berfikir sebelum melanjutkan ucapannya. “Ah!Kenapa bukan kau yang menjadi pacar laki-laki itu? kalian bisa membuat perusahaan Hyundai Family nantinya,” ucap laki-laki itu dengan kekehan yang terdengar menyebalkan di telinga Jiyeon.

“Berhentilah menganggu ku Chanyeol-ssi,” ucap Jiyeon lalu memutar tubuhnya, mendonggakkan kepalanya menatap laki-laki jangkung di hadapannya ini dengan tatapan dinginnya. “Aku mohon menjauhlah dari ku, dan akhiri semua ini!” ucap Jiyeon pelan dan detik berikutnya, gadis itu sudah membalikkan tubuhnya, berjalan cepat meninggalkan Chanyeol yang hanya menaikkan bahunya tidak peduli.

***

In the Park

Jiyeon mendudukkan tubuh langsingnya pada bangku taman yang ada di sekolahnya ini, membuka buku novel favoridnya yang berjudul The Goblet of Fire karya penulis dunia JK Rowlingdengan tanpa minat sama sekali. Pikiran gadis itu masih melayang ke kejadian tadi pagi yang mampu membuat konsentrasinya, hilang tak berbekas hingga membuat Jihyun merasa khawatir padanya. Gadis itu memutuskan ke taman sekolah yang menjadi favoridnya ini sendiri tanpa Jihyun yang terus memaksanya tadi, ya gadis itu butuh waktu untuk menenangkan perasaan lukanya yang belum hilang juga hingga saat ini.

Jiyeon menarik nafasnya saat butiran crystal mulai memenuhi pelupuk matanya, mengusap dadanya yang kembali terasa sesak tiap kali gadis itu mengingat kejadian yang selalu mampu membuat airmatanya jatuh tak terbendung. Kejadian yang di tanggungnya sendirian tanpa ada yang mengetahuinya, kejadian yang membuat rajutan mimpi indahnya terhisap tanpa sisa, rajutan tentang kisah cinta yang harus di kubur gadis itu dalam-dalam, kisah cinta pada seorang laki-laki yang sudah di kenalnya sejak kecil, kisah cinta yang bahkan belum pernah di mulai sedikit pun.

“Ah! Akhirnya aku menemukan mu juga,” Jiyeon tersentak saat tiba-tiba seorang laki-laki dengan senyum menyebalkannya itu, sudah duduk manis di sampingnya, laki-laki itu bahkan merebut novel tebal yang ada di pangkuan gadis itu dan mengabaikan tatapan tak terima dari gadis itu.

“Harry Potter, kau suka novel ini juga?” tanya laki-laki itu dengan tersenyum, mata laki-laki itu menatap Jiyeon yang terlihat sedang menahan airmata itu dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti oleh siapapun, tapi Jiyeon tidak menjawab gadis itu dengan cepat mengambil novelnya kembali dari tangan laki-laki itu. “Sahabat ku Yixing juga sangat menyukai novel itu,” ucap laki-laki itu lagi, dan lagi-lagi tak mendapat respon apapun dari gadis di sampingnya itu.

“Kau tahu kalau hari ini aku ulang tahun? Dan teman-teman ku ingin merayakannya di gedung seni sekarang,” Jiyeon memalingkan wajahnya, menatap muak ke arah laki-laki yang selalu mampu membuatnya kesal.

“Lalu apa urusan ku dengan semua itu, Chanyeol-ssi? Bukankah sudah ku bilang jangan menganggu ku?” ucap gadis itu dengan nada dinginnya.

Tapi laki-laki itu tidak peduli, dengan cepat laki-laki itu merebut novel di tangan gadis itu dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain menggenggam jemari  gadis itu, lalu mulai menariknya dengan paksa.

“YAK! Lepaskan aku!” ucap Jiyeon dengan memukul mukul lengan Chanyeol, berharap laki-laki itu segera melepaskan genggamannya. “PARK CHANYEOL!” teriak gadis itu lagi saat Chanyeol tetap menariknya, membuat beberapa siswa dan siswi yang berada di taman itu menatap ke arah mereka, tapi laki-laki itu tidak peduli,  laki-laki itu bahkan semakin mengeratkan genggamannya di jemari Jiyeon.

“YAK!” teriak gadis itu lagi, membuat Chanyeol menghentikan langkahnya, menatap Jiyeon dengan tatapan seriusnya. “Aku lebih suka melihat mu berteriak kesal seperti kemarin sore atau pun tadi pagi, dari pada melihat mu berteriak dengan muka dingin menyedihkan mu saat ini.” Ucap Chanyeol dengan menatap ke mata bening milik Jiyeon, membuat gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menundukkan kepalanya, menghindar dari tatapan Chanyeol yang entah mengapa selalu mampu membuat gadis itu sedikit gugup

“Aku sudah bilang pada Jongwoon Seonsaengnim kalau kau akan membolos di pelajaran sastra hari ini,” ucap Chanyeol santai membuat Jiyeon meneganggak kepalanya seketika.

Mwo? Kau—“

“Sudahlah jangan cerewet dan berhentilah membantah ku, ayo cepat aku akan mengenalkan mu dengan teman-teman ku yang tampan,” ucap Chanyeol lalu kembali menarik Jiyeon untuk menggikuti langkahnya, mengabaikan gadis itu yang berteriak tidak terima di belakangnya.

***

Chanyeol’s Private – Art Room

Jiyeon terlihat menunduk saat gadis itu baru saja memasuki ruang seni, gadis itu sudah memutuskan untuk berhenti berteriak dan memaki Chanyeol, karna percuma rasanya jika harus melawan seorang Park Chanyeol, laki-laki yang memang tidak akan pernah menyerah apa lagi kalah dalam hal apapun.

Di dalam ruangan itu sudah terdapat beberapa teman dari laki-laki menyebalkan yang bahkan masih menggenggam tangannya dengan erat. Gadis itu menyembunyikan tubuhnya di belakang bahu bidang Chanyeol, saat laki-laki itu mulai menariknya untuk mengikuti langkahnya, Jiyeon memejamkan matanya saat telingganya mendengar Chanyeol mengenalkan dirinya peda teman-temannya sebagai kekasih baru dari laki-laki menyebalkan itu.

“Jiyeon perkenalkan ini teman-teman ku,” ucap Chanyeol seraya menarik Jiyeon yang masih bersembunyi di belakang punggungnya.

Gadis itu tersenyum kaku menatap ke arah 4 laki-laki berwajah imut dengan tubuh yang lebih pendek dari laki-laki disampingnya ini, lalu gadis itu kembali tersenyum ke 3 laki-laki lain yang mempunyai wajah tampan yang terpahat sempurna dengan tinggi badan yang hampir sama dengan Chanyeol.

“Dia Chen, Suho, Baekhyun, Luhan, Kris, Jongin tapi kau bisa memangilnya Kai dan — Tao,” ucap Chanyeol dengan merangkul bahu Jiyeon dengan lembut. “Ada satu lagi sahabat ku Yixing, tapi sepertinya dia akan datang sedikit terlambat.” Ucap Chanyeol lagi, Jiyeon hanya mengangguk pelan.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, ini untuk pertama kalinya gadis itu berada di dalam gedung seni yang di khususkan untuk Chanyeol dan teman-temannya. Ruangan ini di lengkapi dengan berbagai alat music dari Drum, Gitar, Piano, Biola bahkan Clarinet. Ruangan ini juga di lengkapi meja besar dengan perlengkapan penyiaran bak ruang siaran di radio, yang biasa di gunakan Chanyeol dan teman-teman brengseknya untuk mengumumkan aturan-aturan yang mereka buat, aturan-aturan yang harus di laksakan oleh semua siswa siswi YeomKwang High School.

“Apa sekarang tipe gadis mu sudah berubah, Chanyeol?” tanya laki-laki berwajah dingin dengan tatapan tajam, namun memiliki wajah yang rupawan itu dengan memandang sekilas ke arah Jiyeon yang hanya diam.

“Heem sedikit— ya sepertinya sedikit berubah Kris, sejak aku bertemu dengannya.” jawab Chanyeol dengan menatap Jiyeon yang tak bereaksi apapun sedari tadi.

“Ya Jiyeon-aa berapa lama waktu yang kau habiskan saat memberikan kado manis untuk tuan muda kita ini?” ucap Kai dengan senyum nakalnya, membuat Chanyeol melepaskan rangkulannya di bahu Jiyeon lalu memberikan jitakan pada sahabatnya itu.

Kado manis adalah kata-kata yang sering mereka gunakan, untuk mendiskripsikan ciuman nakal yang mereka lakukan pada gadis-gadis yang mereka kencani selama ini. Jiyeon tidak menjawab gadis itu hanya menatap Chanyeol dalam diam, membuat laki-laki tampan itu tersenyum sekilas.

“Tidak ada,—“ ucap Chanyeol tiba-tiba. “Kemarin adalah hari yang berat untuk ku dan Jiyeon ada untuk menemaniku, jadi— aku tidak butuh kado apapun lagi darinya,” ucap Chanyeol dengan suara pelannya yang terdengar sangat tulus, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terdiam termasuk Jiyeon.

Jiyeon terlihat menunduk saat gadis itu merasa jika pipinya sedikit memanas, entahlah gadis itu merasa jika kata-kata tadi terlalu manis untuk seorang laki-laki brengsek seperti Park Chanyeol.

Chanyeol menggaruk tengkuknya saat menyadari suasana hening di ruangan itu. “Wae? apa ada yang salah dengan ucapan ku?” laki-laki itu menatap teman-temannya sesaat sebelum akhirnya tertawa dan sesaat kemudian semua teman-temannya pun ikut tertawa.

Tanpa sadar Jiyeon pun ikut tertawa, mata beningnya menatap Chanyeol yang terlihat berbeda dengan Chanyeol yang biasa di lihatnya. Laki-laki itu terlihat tertawa lepas tanpa expresi menyebalkan yang biasa di perlihatkan laki-laki itu selama ini, bahkan expresi menyedihkan laki-laki itu kemarin sore sudah hilang tak berbekas sekarang.

“Wuah! Tuan muda Yixing sudah datang, berarti pesta sudah bisa di mulai.” Ucap Chen dan Baekhyun dengan penuh semangat, saat menatap seorang laki-laki tampan dengan tubuh tegabnya baru saja memasuki ruangan seni ini.

Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Chanyeol dengan senyum yang sudah mengembang di bibirnya. “Selamat ulang tahun, Park Chanyeol.” Ucap laki-laki itu seraya merangkul sahabatnya itu sekilas. “Dan— mana gadis yang ingin kau kenalkan itu?” tanya Yixing sesaat setelah melepaskan rangkulannya.

Chanyeol tersenyum lalu menunjuk Jiyeon yang sudah menatapnya. “Namanya Song Jiyeon, dan dia juga menyukai novel Harry Potter sama seperti mu,” ucap Chanyeol dengan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

“Oh! Benarkah?” ucap Yixing lalu berjalan mendekat ke arah Jiyeon yang masih di posisinya. “Senang bertemu dengan mu, aku Zhang Yixing.” Ucap Yixing lalu mengulurkan tangannya, membuat Jiyeon menunduk sekilas sebelum menjabat uluran tangan Yixing padanya.

“Jiyeon, Song Jiyeon.” Ucap gadis itu dengan suara pelannya.

“CHA LETS THE PARTY!!!” ucap Kris dengan suara kerasnya, tangannya terangkat keudara dan seketika suara music yang cukup keras pun membahana di segala penjuru ruangan.

Dua orang guru wanita yang di bayar khusus untuk mengurus gedung seni ini, tampak antusias saat Chanyeol dan Kai mulai mengambil posisinya. Chanyeol meraih mix, memasang EarPhone di telingganya dan mulai mengeluarkan suara beratnya, menyayikan lagu Dang Dang Dang denganRapper cepat yang mampu membuat Jiyeon terpana, ya gadis itu benar-benar tidak menyangka jika Chanyeol bisa melakukan rapper sesempurna itu.

“Kau harus mengenalnya lebih dalam jika ingin memahami dirinya,” ucap Yixing tiba-tiba sesaat sebelum duduk di bangku yang ada di hadapannya.

Jiyeon tidak menjawab gadis itu hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap Chanyeol dan teman-temannya yang terlihat masih menyanyi dan bergerak bebas di hadapannya. Sesaat kemudian gadis itu akhirnya memilih duduk di bangku yang ada di samping Yixing, mengambil novel miliknya yang tadi di letakkan Chanyeol di atas meja yang ada di hadapanya. Perlahan tapi pasti ingatan gadis itu tentang kesedihannya beberapa saat yang lalu pun memudar, berganti dengan senyum kecil yang terbentuk di wajah cantik gadis itu saat melihat kegaduhan Chanyeol dengan teman-teman yang masih berlangsung di hadapan gadis itu.

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir J

 

 

8 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [2/9]”

  1. Woooww 👏👏👏
    ka ririn tuh emang daebak banget dah 😁😁😎

    meraka tuh lucu ya udah tau sama2 gak suka tapi pada tetep pura2 pacaran cuma karna gak enak sama pamannya 😁😁😁
    oh jan bilang kalo jiyeon suka sama siwon aaahhh kasian jiyeonnya 😖😖😖
    dan gimana reaksi sahabatnya jiyeon pas tau kalo jiyeon ama chanyeol pacaran?

    huduh penasaran akohh sama lanjutan ceritanya 😊

    XOXO 😘😘

    Suka

  2. Hahahaa asli suka banget sama ceritanya, nah gini dong chanyeol sm jiyeon sama2 kaya dr keluarga berada. Abis suka bosen baca ff kalo yg kaya cuma cowonya doang cewenya miskin. Untung ff ini beda

    Suka

  3. Chanyeol tanpa ragu ragu banget ya ngedeketin si jiyeonnya tapi gatau deh itu beneran atau cuma main main ajaa….
    Aa seneng ngeliat mereka yang bisa ngikutin suasana.-.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s