Magnetic (Chapter 4)

Magnetic (Chapter 4)

Magnetic

(Chapter 4)

Scriptwriter: deerochan | Casts: Mark (GOT7), An (OC) | Support Casts: Jackson, Jaebum, Jinyoung, Bambam, Yugyeom, Youngjae (GOT7) | Genre: romance, fluff | Rating: General | Duration: 1000+ words

Summary:

Aku termasuk tipe idola semua wanita. Penggemarku tak terhitung jumlahnya—namun diam-diam, aku pernah tertarik pada salah satu dari mereka.

Disclaimer: ini semua fiksi dan hanya khayalan author saja (lokasi, waktu fan sign etc.) jadi bila ada kesalahan mohon dimaklumi. ^^

 Previous: JB | Jackson | Junior

 

 

(Because of your eyes when you look at me

I feel like I’ll go blind)

 

            Wanita itu menggeser alat perekam di atas meja supaya  lebih dekat ke arahku. Ia bersama beberapa rekannya tersenyum penuh makna sementara aku menunggu untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.

              Saat ini, aku sedang melakukan wawancara eksklusif di sebuah kafe besar di pusat kota Seoul. Beberapa orang juru kamera dan seorang reporter mencoba mengorek-ngorek sedikit dari kehidupan pribadiku, yang hanya kujawab sesuai yang aku mau.

              “Kita semua tahu kamu adalah visual dari grupmu, GOT7,” wanita itu berhenti sejenak, “dengan ketampanan dan kemampuanmu yang amat mencengangkan, kamu pasti digilai banyak wanita. Apa… Sekarang sudah ada seseorang di hatimu?”

              Aku mengulum senyum kecil, sudah mengira pasti muncul juga pertanyaan seperti ini pada akhirnya, cepat atau lambat. Aku menggeleng pelan dan wanita itu berkoor, “Ooooh!”

              “Lalu, lalu,” wanita itu melanjutkan dengan penasaran sementara aku dengan asyik meminum bubble tea-ku. “Tipe wanita seperti apa yang menarik hatimu?”

              “Hmmm…” aku berpikir sebentar, “kurasa aku tidak mempunyai tipe khusus. Akan tetapi, aku menyukai seorang gadis yang senyumnya dapat memikatku.” Jawabku. Reporter itu tertawa.

              “Mark, seseorang yang menjadi kekasihmu kelak pasti adalah seorang gadis yang paling beruntung di dunia.”

              Aku tersenyum ringan mendengarnya.

              Beruntung?

              Wawancara beberapa hari yang lalu itu terngiang kembali di benakku. Benarkah seseorang yang kelak menjadi kekasihku adalah seorang yang paling beruntung? Jujur saja, aku tidak terlalu memikirkan hal itu.

Yah… Bisa dibilang, tanpa menyombong aku pun mengakui bahwa aku adalah seorang yang tampan. Kemampuan rap, menari, menyanyi serta martial arts tricking-ku adalah yang paling spesial di GOT7.

              Akan tetapi, aku merasa aku adalah seseorang yang kuno. Jika ditanyai tipe kesukaan, jujur saja, aku tidak pernah punya! Mungkin jika ada, seperti kataku, aku tertarik pada gadis yang mempunyai senyum yang memikat.

              Aku tidak seperti Jae Bum, lelaki yang kharismatik atau Jackson, lelaki yang seksi dan mempunyai banyak daya tarik. Kadang aku merasa bahwa aku tertinggal di belakang mereka dengan kepribadianku yang cukup datar—apalagi aku tidak terlalu peduli dengan yang namanya cinta.

              Aku adalah Mark yang selalu menghargai setiap fans yang memberikan segenap perhatian dan cintanya untukku, aku juga sayang pada mereka. Akan tetapi, hanya sebatas cinta seperti itulah yang ada dalam diriku. Selama ini, belum ada seseorang yang benar-benar membuatku jatuh hati.

              Sore ini hujan deras sekali. Fan sign event yang masih berlangsung pada jam empat sore ini makin penuh. Hall terasa agak sesak karena para fans yang tidak bisa pulang dan memenuhi ruang tempat fan sign diadakan.

              Aku memandang keluar jendela besar di sepanjang dinding hall. Hah… Terkadang aku tidak terlalu menyukai hujan.

              “Selamat sore.”

              Suara yang ada tepat di depanku membuatku menoleh cepat. Aku memandang dan menyambut seorang gadis yang berpostur mungil di hadapanku, dengan amat basah kuyup.

              “Astaga, kamu basah sekali! Lihat rambutmu,” aku berkata khawatir padanya. Ia terkekeh dan memilin poni hitamnya.

              “Ngg… Maafkan aku, Oppa,” katanya singkat setengah malu.

              Aku memandangnya dari ujung kepala sampai bawah. Rambut hitamnya yang dipilin ke belakang terlihat lepek karena kebasahan. Kulit putihnya terlihat agak pucat, terutama bibirnya yang tipis. Gadis itu tampak agak menggigil karena jump suit dan dalaman kausnya basah sekali. Matanya yang sipit dan agak merah sesekali berkedip-kedip.

              “Kenapa kau minta maaf? Aduh, kalau begini kamu akan masuk angin,” aku sekarang benar-benar cemas pada anak yang satu ini. Ia sepertinya masih duduk di bangku SMA, dan aku yakin ia berlari di tengah hujan untuk sampai kemari.

              “Aku tadi sudah berlari sekuat tenaga agar bisa cepat sampai kemari, akan tetapi pada akhirnya kebasahan juga…” ungkapnya pelan. Ia lalu membuka tas selempangnya dan mengeluarkan albumnya untuk ditandatangani. Aku menerimanya dan memegangnya sedikit basah.

              “Ini, kamu boleh pakai handukku,” aku menyerahkan handuk keringat yang belum kupakai yang berada di sebelah mejaku padanya. Ia menerimanya dengan canggung.

              “A-apakah boleh?” tanyanya kikuk.

              “Pakai saja, aku  belum memakainya, kok,” jawabku singkat sembari menandatangani albumnya. “Siapa namamu?”

              “Namaku An…,” gadis itu setengah berbisik. “Aku sangat mengagumimu, Oppa.”

              “Terima kasih,” aku mendongak sedikit dan kembali menulis namanya di sebelah tanda tanganku.

              “Ah, ngomong-ngomong aku punya sesuatu untukmu,” ia yang sedang menyeka rambutnya yang basah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

              “Benarkah? Boleh aku lihat apa itu?” tanyaku penasaran. Begitu mengeluarkannya, ekspresi mata beningnya yang berbinar berubah drastis menjadi suram. Karena penasaran, aku menarik tangannya gesit dan membuka apa yang ada di genggamannya.

              Setengah menahan tawa, aku melihat sebatang coklat yang sangat lembek karena basah di genggamannya itu. Aku ingin tertawa keras sekarang, namun melihat ekspresi suram An, aku menjadi tak tega.

              “Oppaaa…” gadis itu setengah berkaca-kaca menatapku, “maafkan aku…”

              Aku benar-benar kelepasan untuk terkikik geli sekarang melihat ekspresinya yang sedikit konyol. “Ya ampun, tidak apa-apa, benar… Itu… Hahaha…,” aku masih tertawa geli sementara gadis itu cemberut. “Itu lucu sekali!”

              An terlihat sedikit kesal bercampur malu melihatku menertawainya. Ia lalu hendak memasukkan coklat yang sudah terlalu lembek tadi ke dalam tas.

              “Ah, tunggu, tunggu,” aku menahannya. “Aku akan memakannya untukmu,” kataku sambil tersenyum.

              Mata kecil gadis itu terbelalak mendengar perkataanku. “Be-benarkah?”

              Aku mengangguk.

              An dengan ragu mengeluarkan coklat lembek tadi dari dalam tasnya untuk diserahkan kepadaku sebelum sesaat kemudian ia berteriak kaget bercampur frustasi, “Aaaahhh! Ponselkuuuu!”

              Aku kaget dan spontan berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihatnya mengeluarkan ponselnya yang sudah basah terkena air hujan. Aku lalu memegang tas selempangnya. Ya ampun, tas selempangnya itu juga sempurna basah…. Tidak heran coklat dan ponselnya ikut basah.

              “An, coba kamu cek apakah ponselmu masih bisa menyala,” suruhku. Ia mengangguk dan dengan buru-buru mengecek ponselnya. Ia menghembuskan napas lega begitu melihat ponselnya masih bisa dihidupkan.

              “Aaah, kamu benar-benar ceroboh.” Aku menggeleng-geleng tak habis pikir menatapnya. Ia tertawa sambil menjulurkan lidahnya.

              “Oppa,” ia menatapku sungguh-sungguh, “terima kasih banyak telah mengkhawatirkanku,” ujarnya sambil tersenyum dengan mata bening dan bibir tipisnya itu.

              Aku mengerjapkan mataku beberapa kali melihatnya. Sesaat tadi, ada sesuatu yang membuatku terpana.

              “Ah, aku harus mengeringkan bajuku jika tidak ingin masuk angin,” ia menunduk menatap dirinya yang kuyup. Aku lalu menatap ke arah belakang An untuk melihat antrian. Syukurlahh, antriannya telah lengang.

              Aku lalu memutuskan untuk menarik tangannya dan mengajaknya ke ruang ganti. An dengan cepat menepis tanganku, membelalakkan matanya sambil bersikap defensif. “Apa yang Oppa lakukan?” tanyanya kaget.

              “Aku ingin mengajakmu ke belakang, para kru biasanya mempunyai beberapa baju ganti cadangan. Aku akan meminjamkannya untukmu dan kamu bisa ganti di ruang ganti,” ujarku padanya. Sikap penuh penjagaannya tadi melunak, berganti ekspresi senang.

              “Baiklah! Terima kasih, Oppa,” sahutnya sambil tersenyum. Pipi kurusnya mengangkat ke atas dan entah kenapa senyumannya itu sangat mempesona. Aku jadi sedikit salah tingkah.

              Ternyata ketika sampai di sana, para kru hanya mempunyai setelan olahraga untuk An. Karena tidak tega melihatnya berganti baju dari jump suit denim yang manis dan pas menjadi setelan olahraga yang kedodoran, aku meminjamkannya jaket parasutku.

              “Benarkah aku boleh meminjamnya?” ia bertanya kaget. Aku mengangguk mengiyakan.

              “Tenang saja, aku membawa satu jaket lagi kemari.”

              An menggeleng. “Bukan itu! Ini… Sungguh seperti mimpi! Kamu tidak khawatir aku akan berbuat sesuatu pada jaketmu, Oppa?”

              Aku menahan tawa lagi. “Seperti apa?”

              Mata bening An bergerak ke sana kemari seperti berpikir, membuatku sekali lagi terpaku. Aku seperti terbius oleh mata dan senyuman gadis yang satu ini.

              “Ngg… Seperti mengajak jaketmu ini tidur atau menggunting-guntingnya jadi banyak bagian?” celotehnya menyebalkan. Aku langsung saja berekspresi mengancam padanya. An tertawa dan mengangkat kedua tangannya ke atas.

              “Maaf, maaf! Aku hanya bercanda!” ia terkekeh geli akan ucapannya sendiri sementara aku hanya menggeleng-geleng menatapnya. Ia lalu memakai jaketku di tubuhnya yang tentu saja kebesaran.

              “Kapan aku bisa mengembalikan jaket dan handukmu, Oppa?” tanyanya padaku.

              “Hmm… Aku akan menunggu seusai konser besok,” kataku padanya, sekaligus memastikan apakah ia akan datang atau tidak.

              An tersenyum lebar. “Oke! Besok akan kukembalikan!” ia mengacungkan jempolnya.

              “Ah, untuk handuknya tidak usah kamu kembalikan. Anggap saja itu hadiah untukmu.”

              An lagi-lagi terkaget-kaget mendengarnya. “Astaga, Oppa, aku merasa aku akan jantungan karena menerima banyak kebahagiaan hari ini!” ia menutup mulutnya senang. “Terima kasih banyak!”

              Aku memandangnya yang sedang menatapku lama. Kami bertahan selama beberapa detik sebelum aku akhirnya salah tingkah menatap mata bening gadis itu. Kenapa aku yang malah salah tingkah begini? Rutukku dalam hati. Sedangkan An? Ia masih memandangku senang, tampak belum puas.

              “Apakah urusanmu sudah selesai?” tanyaku sambil berdehem. Ia seperti tersentak dan segera melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya.

              “Ah, benar! Ini sudah sore dan aku sudah banyak merepotkanmu!” ia segera membungkuk beberapa kali. “Terima kasih banyak, Oppa! Terima kasih!”

Dengan raut yang puas dan bahagia, ia lalu berjalan keluar lorong ruangan ganti sambil melambaikan tangannya padaku. Aku membalas lambaiannya perlahan. Namun, beberapa langkah kemudian, aku teringat sesuatu.  Segera saja aku berteriak memanggilnya, “Tunggu, An!”

              Gadis itu mengerem langkah cepatnya dan berbalik. Aku lalu mendekatinya perlahan.

              “Bukankah kamu tadi… Akan memberikan aku coklat?” tanyaku canggung. Aku tidak mengerti mengapa aku bertanya hal yang super memalukan ini, namun aku begitu ingin menerima pemberiannya. Sesaat kemudian ekspresi An sangat aneh.

              “Apakah Oppa yakin ingin menerimanya?” tanyanya tidak yakin. Aku mengangguk cepat. Dengan malas akhirnya An mengeluarkan coklat lembek tadi dari dalam tasnya.

              “Apakah ini coklat kesukaanmu sehingga kamu begitu menginginkannya?” tanyanya. Karena aku tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku hanya berkata, “Benar sekali!”

              An cemberut. “Aku tidak bertanggung jawab jika Oppa akan sakit perut, ya, nanti!” setelah menyerahkan coklatnya padaku, ia lalu berbalik lagi dan melambaikan tangannya padaku sampai ujung lorong.

Entah kenapa, aku ingin sekali lagi saja memanggil namanya.

“An!!!” panggilku lebih keras. Gadis itu sedikit kaget dan menoleh lagi ke arahku. Aku terdiam bingung akan berkata apa. Aku bahkan tak mengetahui kenapa aku seperti ini, yang kutahu ketika aku menatapnya, aku seperti ingin melindunginya.

“Hmm… Sampai bertemu besok.” Ucapku padanya dengan cukup nyaring.

An tertegun, wajahnya mendadak memerah. Ia tak kuasa menahan senyumannya lebar sembari mengangguk kuat-kuat ke arahku. Aku mengacungkan kedua ibu jariku padanya, sementara dengan bibir tipisnya ia kembali tersenyum.

Benar, senyuman dan mata itu.

Senyuman dan mata gadis yang dapat memikatku untuk pertama kali.

(I’m pulled to you like a magnet

Your attractive eyes

Suck me in)

 

One thought on “Magnetic (Chapter 4)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s