[Oneshot] Luhan is Troublemaker COMEBACK!

 Luhan is Troublemaker COMEBACK!

Scriptwriter: Kim Story | Title: Luhan is Troublemaker COMEBACK! |

Cast: Xi Luhan | Genre: Family, Fluff, Comedy Romance | Duration: Oneshot

***

“Uwahhhhhhh !! Apa yang kalian berdua lakukan ?!”

Nyonya Xi berteriak sekencang mungkin. Lantas menumpahkan gelas kopi yang tengah ia pegang sedari tadi. Astaga, jantungnya terasa melorot ketika pemandangan tak lazim ini terjadi dikamar putranya. Luhan normal, bukan ? Putranya normal !! Normal !!

Oh Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya, Luhan juga. Lalu menangkap kodoknya dan segera bangkit dari atas tubuh Luhan, lalu mengantongi hewan peliharaannya itu  ke dalam saku celana. Yeah, kau kira ini lucu ketika dua anak laki-laki itu saling menindih diatas ranjang ? Aigoo .. Ini mimpi buruk.

“Mama..”

“Bibi ..”

Ucap mereka bersautan. Sepertinya terjadi salah paham disini.

“Kalian …”, Nyonya Xi mencicit. Nampak mau menangis. Pikiran aneh-aneh mulai bermunculan diotak wanita itu. Putranya .. Kelainan ? “Pokoknya Luhan akan Mama kirim ke Paris ! Titik !”

Deg !

Apa ? Paris ? Itu jauh. Sangat jauh dari Luna. Luhan tidak mau berpisah dengan saudari kembarnya itu. (padahal Luna sudah menjadi istri Jongin)

“Tapi, ma ..”

Badan Luhan lemas seketika. Anak itu menangis.

Sedangkan Oh Sehun malah lompat kegirangan. “Paris !! Paris !! Wah, Luhan mau pergi ke Paris. Hebat !!”, teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Luhan yang sudah mewek berat.

“Apanya yang hebat ?! Ini semua gara-gara kodok bodohmu, Oh Sehun !! Pulanglah sana !!”

***

Luhan pikir, kepala ibunya itu lebih keras dari sebuah batu sekalipun. Merengek, menangis, pura-pura sakit bahkan mengancam ingin bunuh diri sudah ia lakukan. Tapi tetap saja ia berakhir disini. Bandara Internasional Paris-Charles de Gaulle.

“Mama akan setuju dengan siapapun kau akan berkencan. Tapi tidak untuk laki-laki !”, Wanita usia empat puluh tahunan itu berjalan dari terminal E41 dengan terus membenarkan posisi kacamata hitamnya. Nyonya Xi mungkin terlalu cantik untuk ukuran ibu-ibu seusianya. Modis dan dia seorang designer terkenal Paris.

Luhan sendiri nampak tersaruk berjalan dibelakang sang ibu dengan koper besar warna biru tua serta boneka Angry Bird kesayangannya. “Mama salah paham. Aku normal, ma. Kemarin Sehun hanya menangkap kodoknya yang loncat-loncat diatas kepalaku, itu saja. Mama saja yang terlalu berlebihan !”, Luhan mencoba ber-argumentasi dengan sang ibu dan berharap bisa kembali ke Korea sekarang juga. Tapi, ibunya terlalu keras kepala. Huft.

“Ini Visa pelajarmu, sayang. Besok kau tinggal datang saja ke Panthéon-Sorbonne of University jam tujuh tepat. Semua dokumen sudah Mama urus dan kau bisa tinggal di asrama kampus mulai sekarang. Ini alamatnya, cari taksi dan temui tuan Artus untuk memberimu pengarahan”, Nyonya Xi nampak mengeluarkan setumpuk dokumen dari dalam tas Gucci mahal-nya. Oh, nampaknya ini serius.

“MAMA !!”, Luhan malah merengek. Apa-apaan ini ? Setega itukah Nyonya Xi membuang putranya ke Paris. Oh, ini benar-benar mimpi buruk.

Wanita itu tersenyum pasrah. Mungkin hal ini sangat berat baginya. Melepaskan putra satu-satunya untuk hidup di kota sebesar ini. Sendirian. Tapi, mungkin ini yang terbaik. “Avoir du plaisir, cher (Bersenang-senanglah, sayang). Mama tahu apa yang terbaik untukmu”, Lalu satu kecupan hangat wanita itu berikan di pipi kanan Luhan.

“Mama .. Aku tidak yakin bisa hidup dan tinggal disini. Aku tidak pernah sejauh ini dengan Papa, Mama dan Luna. Bagaimana jika aku merindukan kalian nanti ? Aku takut, ma”,butir-butir air mata mulai jatuh di pipi Luhan. Yeah, anak laki-laki itu menangis. Sesenggukan di dalam pelukan sang ibu.

Nyonya Xi nampak menengadahkan kepala. Mencoba untuk menahan air mata yang ingin memberontak keluar dan bisa merusak riasan-nya. “Mama tahu, Mama tahu. Telepon kami jika kau merasa rindu. Dan Mama juga akan sering mengunjungimu saat Fashion Week di Paris. Oke ?”, Lagi-lagi Nyonya Xi mengecup pipi putranya sebelum benar-benar pergi ke penerbangan selanjutnya menuju Korea.

Luhan menatapnya nanar dengan air mata yang terus menggenang di pelupuk mata.

“Mama … Jangan tinggalkan aku !! Mama …”

***

Luhan berani sumpah jika teman sekamarnya itu lebih bau dari seekor hamster. Panggil saja dia Bob, bocah Eropa berambut kuning dengan bobot lebih dari dua ratus pond. Sering berkeringat di malam hari dan dengkurannya yang mirip mesin bor penghancur aspal. Wah ini parah !! Sangat sangat parah.

“Mahasiswa baru Universitas Pantheon Sorbonne. Selamat datang di Albert Catellet, bangunan sekunder dari kampus ini. Kalian bisa menemukan perpustakaan dan Institut Hukum disebelah kanan. Lalu disebelah kiri …”

Yeah, Paris.

Ini tidak seburuk yang Luhan pikirkan (kecuali dengan Bob dan Varsity kampusnya yang konyol).

Disini menarik. Kampus super duper mewah dengan segala fasilitasnya. Percaya atau tidak, Universitas ini adalah yang paling tua dan paling mahal di Perancis. Tapi, empat puluh ribu Euro per-tahun bukan jumlah yang besar untuk keluarga Xi.

Luhan bukan tipe anak laki-laki yang rajin bangun pagi. Tapi, bau keringat milik Bob telah meracuninya dan membuatnya tetap terjaga mulai malam hingga pagi menjelang. Well, inilah hasilnya.

“Tuan Xi .. Tuan Xi ..”

Luhan mengerjap-ngerjapkan mata ketika seseorang menepuk pundaknya berkali-kali. Yeah, Luhan hampir saja tertidur dengan posisi berdiri di tengah-tengah tour masa orientasi kampus-nya.

“Ini kartu pelajar-mu dan peta Kampus. Bergabunglah dengan mahasiswa satu fakultas denganmu. Institute Ilmu Ekonomi sebelah sana”, Gadis berambut pirang itu memberinya pengarahan.

Luhan mengangguk paham. Lantas mengantongi kartu pelajarnya secara asal-asalan. “Mercy .. (Terima kasih)”, Ucapnya. Yeah, Luhan juga menguasai bahasa perancis dengan baik.

Anak laki-laki itu berjalan malas di tengah-tengah gerombolan mahasiswa baru—lebih tepatnya sih, mahasiswa institute Ekonomi. Sembilan puluh delapan persennya adalah mahasiswa asli dari Uni Eropa. Dan Luhan rasa, dia satu-satunya orang Asia disini. Ahh, siapa peduli ?

Kuliah lagi ! Kuliah lagi ! Argghh, ini semua gara-gara si Bon-Bon ! (Kodok peliharaan Sehun). Andai saja kemarin Sehun sudah membuat Bon-Bon sebagai umpan pancing, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Luhan sendiri sedikit menyesal pernah menjodohkan Bon-Bon dan anjing kesayangannya, Lulu. Hihh, Gila !

“Tuan, apa ini milikmu ?”

Luhan menoleh kebelakang dan mendapati kartu pelajarnya sudah di tangan orang lain. Hei, bagaimana bisa ?

“Tadi kau menjatuhkannya disana”,Orang itu berbicara. Lebih tepatnya sih, seorang gadis setinggi lima kaki dengan rambut hitam, mata sipit serta rentetan gigi putih dibalik senyumannya yang mengembang. Well, ini bukan tentang hal berbau Rasisme, kan ?

“Kau orang China ?”

“Yup !”

“Namamu ?”

“Luhan. Xi Luhan. Kau sendiri ?”

“Namaku …”

Nguing .. Nguing …

“Awas !! Minggir semuanya !!”, Laki-laki berpostur gempal berteriak-teriak dari ujung koridor.

Wow, apa itu ? Seperti sekumpulan Bison ? Oh bukan, itu kru Softball kampus yang tiba-tiba muncul dan berlarian seperti sekumpulan banteng ngamuk. Semua orang menepi atau akan berakhir mengenaskan terlindas oleh mereka.

Luhan berlari kebingungan. Dia takut banteng. “Mama !! Kenapa kau mengirimku kesini sih ?”, Lagi-lagi dia menangis. Mondar-mandir tak jelas dan pada kenyataannya gerombolan itu semakin mendekat kearahnya. Arghhh, Luhan takut terlindas.

Tapi ..

“Awas !!”

Entah Luhan mau jadi Superhero atau apa ? Yang jelas, anak laki-laki itu lebih merelakan punggungnya tertabrak puluhan kru Softball untuk melindungi seorang gadis dan melupakan betapa seramnya otot mereka. Hei, sejak kapan Xi Luhan berubah menjadi ‘manly’.

Berjongkok lantas memeluk tubuh sang gadis. Waw, Mamanya akan bangga dengan hal itu.

Dan beberapa detik kemudian …

Luhan mengangkat wajahnya dan mulai menangis lagi. “Mama, aku mau pulang saja, ma !! Luhan mau pulang !! Mau pulang !! Pokoknya pulang !!”

Oh, God.

Apakah Luhan tidak menyadari jika semua pasang mata tengah menelanjangi dengan mulut menganga lebar. Dan gadis sipit itu juga meliriknya cukup ngeri.

Mungkin merengek dan meneriaki nama ibu bukan style yang cocok untuk pria-usia-dua puluh dua tahun seperti Luhan. Apalagi ini di Eropa.

***

Eropa buruk. Paris buruk. Kampus buruk. Asrama buruk. Dan nasib Luhan yang terlampau buruk. Siapa yang harus ia salahkan sekarang ? Bon-Bon ? Atau mama ? Dia tak tahu pasti. Yang jelas bau kaki Bob yang luar biasa .. urghhh, bisa membuatnya epilepsi atau kejang berlebihan. Dan Luhan ingin mati sekarang.

Pergi keluar untuk berjalan-jalan sepertinya bukan ide yang buruk. Dan pada akhirnya anak laki-laki itu menghabiskan sore bersama kamera pocket berkeliling kota Paris menggunakan trem. Dia tidak terlihat layaknya mahasiswa dewasa yang tampan, melainkan seperti tokoh Kevin dalam film Home Alone; Lost in New York. Yeah, dia memang masih seperti bocah.

“Uwahhh .. Eiffel. Aku harus telepon Noona”, Luhan mengeluarkan ponselnya dengan penuh semangat. Ingin bercerita ini itu kepada Noona-nya. Pasti menyenangkan sekali.

Tutt .. Tuttt ..

“Kok tidak diangkat sih ? Sekali lagi”, Luhan masih menunggu.

Tuttt … Tuttt …

Ahh !! Luna !! Jangan buat anak terus dengan Jongin !! Aishh !! Menyebalkan !”

Demi apapun, sepertinya ide menikah itu adalah hal yang paling buruk di dunia. Apa bagusnya ? Tidak sebebas ini. Tidak bisa ini itu. Mengurus anak. Ahh, apa serunya ?

Udara semakin dingin dan Luhan mulai menggigil. Di akhir bulan November, Paris akan diserang oleh cuaca ekstreme sebelum memasuki musim salju. Dan sepertinya minuman hangat di kedai sebrang adalah hal yang tepat.

“Aku pesan Gluhwein satu”, Luhan berdiri didepan meja kasir untuk memesan minumannya. Disana ramai oleh turis-turis atau sekedar pejalan kaki yang lewat.

“Maaf nak, boleh ku tahu berapa usiamu ?” Penjual minuman itu bertanya. Gluhwein adalah sejenis Wine hangat yang dijual secara bebas di Paris. Tapi hanya orang-orang sembilan belas tahun keatas saja yang boleh meminumnya.

Luhan masuk persyaratannya kok. Jadi tenang saja. “Dua puluh dua”, ucapnya lantang. Menunjukkan tanda ‘V’ ditangan.

“Ohh, bisa kulihat kartu identitasmu ?”

Luhan merogoh seluruh saku mantelnya namun tak menemukan apapun. “Aku lupa membawanya. Aku pria dua puluh dua tahun dan seorang mahasiswa di Kampus Pantheon Sorbonne yang besar itu. Bolehkan aku mendapatkan segelas ? Aku kedinginan”, rengeknya.

Namun wanita penjual itu malah menertawainya. “Maaf, nak. Ini bukan area bermain untuk anak SMP. Sudah lewat jam sembilan malam, sebaiknya kau segera kembali kerumah sebelum ibumu menelepon 911”

Hell, ini kelewat menyebalkan bukan ? Kenapa wanita itu sok tau mengenai usianya. Apa Luhan harus menumbuhkan jengot agar orang-orang percaya jika ia sudah dua puluh dua tahun ?

“Fine !!”, bentaknya sebelum meninggalkan kedai.

Tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke asrama. Acara jalan-jalannya buruk. Dan Luhan harus membayangkan bagaimana malam-malamnya akan selalu menyedihkan di tengah-tengah kandang Bob yang kelewat bau. Luhan ingin mendapatkan ‘Roomates’ yang lebih baik dari si tukang dengkur itu.

Setidaknya orang yang sedikit wangi.

Luhan berlari kecil disekitar gerbang asrama. Cuaca malam ini mungkin bisa membunuhnya jika terlalu lama berada diluar. Sangat dingin.

Dan disaat melewati gerbang, entah kenapa kaki Luhan terasa membeku. Bukan karena udara dingin atau apa, tapi ..

“Wah, cantiknya ..”, Mata anak laki-laki itu tak berkedip sama sekali ketika seorang gadis berambut coklat dan berbadan kurus berjalan melewatinya. Matanya berwarna biru dengan bulu mata yang cantik dan panjang. Wah, Luhan benar-benar lemas karenanya.

Dan Luhan akan mimpi indah malam ini.

***

“Siapa namanya ?”

“Namaku, Lim”

“Bukan namamu, tapi nama gadis itu ?”

“Oh …”, Lim—gadis bermata sipit itu harus menelan rasa malu bulat-bulat di jam pertama kuliah. Luhan tak tanya soal namanya, melainkan Qory si gadis kurus dan cantik mahasiswa fakultas Design. Rupanya Luhan suka Qory.

“Namanya Qory, dia mahasiswa Design. Apa kau menyukainya ?”, Lim memicingkan mata penasaran.

Luhan mengangguk lalu berkata “Ya, sepertinya begitu” dengan senyumannya yang secerah mentari pagi. Astaga, cepat sekali anak ini dalam membuat keputusan. Seperti memilih kucing dalam kandang.

“Oh, jadi namanya Qory ? Hmm, nama yang cantik seperti orangnya”, Dan rupa-rupanya Luhan juga sudah mahir dalam merangkai kata-kata paling gombal.

.

.

Dan disaat malam tiba, Luhan menghabiskan banyak waktunya dengan berguling-guling diatas kasur busanya yang empuk. Tak peduli Bob yang sedang mendengkur dengan kaos kaki super baunya.

Luhan mulai bercerita. Tersenyum sendiri dan hatinya tengah melompat-lompat di dalam sana. Ini menyenangkan.“Mama .. Sepertinya aku sedang jatuh cinta dengan seorang gadis di kampus. Dia cantik dan bermata biru seperti lautan”, ujarnya menerawang langit-langit kamar.

“Wah, bagus sayang. Siapa namanya ?”, Suara Nyonya Xi terdengar begitu antusias dari sambungan telepon. Wah, anaknya ‘Normal’ ternyata.

“Qory. Kata temanku sih Qory. Dia mahasiswa design dan pasti cocok dengan Mama. Uhmm, tapi aku bingung bagaimana caranya mengajak Qory kencan ? Aku tak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku gugup, ma”, Luhan menggigit bibirnya dan otaknya melayang membayangkan betapa cantiknya Qory. Gadis itu benar-benar sempurna di mata Luhan.

Gadis yang mampu membuat Luhan melupakan sejenak tentang Luna. Ini permulaan yang bagus, kan.

“Bawakan dia setangkai bunga dan temui ditempat yang tak terlalu banyak orang. Disaat itulah perlahan dekati dia dan ungkapkan semua perasaanmu padanya. Itu seperti yang Papa lakukan disaat meminta Mama untuk jadi pacarnya. Semua wanita suka perlakuan lembut dari laki-laki. Atau kau bisa tanya pada kakak iparmu, Jongin”

“Ahh, Jongin. Tidak usah repot-repot. Akan kulakukan sebisaku. Good Night, Mom. Love you”

“Love you too, Honey”

Ah, sebal. Kenapa Jongin lagi, Jongin lagi ? Mengganggu saja.

Dan pada akhirnya Luhan lebih memilih menciumi boneka Angry Bird gembul-nya lalu membayangkan itu Qory. Nggg, tapi tunggu .. Bau ini ..

“Bob !! Apa yang kau lakukan pada Angry Bird-ku ? Apa kau memperkosanya ?”

***

Pergi ke Laundry, sudah. Beli buku Ilmu Ekonomi juga sudah.

Luhan mengaruk tengkuknya disaat dengan sengaja ia berdiri di depan toko bunga—memesan setangkai mawar merah dengan senyuman paling konyol di dunia. Perasaannya bercampur aduk antara senang, gugup, ingin pipis dan sedikit mual.

Qory… Qory … Qory …

Mulutnya tak berhenti bergumam. Menyebut nama itu berkali-kali bak sebuah mantra.

Dan disaat gadis bernama Qory itu muncul dari balik gerbang kampus, dengan secepat kilat Luhan menyemprotkan parfum keseluruh sweater ungu-nya. Merapikan rambut. Mengelap keringat. Mengecek bau mulut. Dan terakhir ..

“Hei nak, kau lupa kembalianmu !”

Luhan berlari secepat cheeta lalu dengan tiba-tiba ia berhenti di sebuah balok bangunan untuk bersembunyi. Matanya memicing, melihat keadaan sekitar apakah aman untuk melanjutkan acara mengendap-ngendapnya. Sedangkan puluhan pengunjung cafe itu tengah menatapnya seolah-olah mengatakan “Apakah anak ini gila ?”

Luhan memang gila sekarang. Cukup gila untuk melakukan hal paling menggelikan seperti; mengendap-ngendap ditembok, merayap bahkan berpura-pura menjadi patung. Sepertinya, Nyonya Xi tidak mengajari tentang itu kemarin.

Luhan terus menguntiti Qory hingga gadis itu berakhir di sebuah bangunan super megah bernama Arch de Triomphe. Bangunan berbentuk gapura besar yang menjadi simbol kemenangan Perancis. Tempat ini lumayan sepi dan Luhan harus segera menyiapkan mentalnya.

“Papa, Mama, Luna, doakan aku ya. Aku sayang kalian”, Luhan bergumam dengan mata terpejam. Menghembuskan nafas cukup panjang dan mulai melangkah dengan yakin. Mawar merah sudah ada di genggaman. Qory akan menyukainya. Itu pasti.

Gadis itu berdiri membelakanginya dengan jarak mungkin tiga puluh meteran. Seperti sedang menunggu seseorang. Luhan melangkah gugup dan keringat yang mulai membasahi dahinya. Padahal ini musim dingin, tapi Luhan merasa kepanasan. Sangat panas.

Tinggal sedikit lagi. Luhan melangkah dengan bunga di depan dada yang ia genggam cukup kuat. Memandang punggung Qory dan rambut panjangnya yang indah. Luhan terbius olehnya. Qory si gadis Perancis bermata biru seperti lautan.

Luhan menghentikan langkahnya. Yeah, Qory memang sangat cantik. Dan laki-laki Perancis itu juga sangat tampan. Mereka bertemu, saling peluk lalu berciuman tepat di depan mata Luhan. Jika kau tau rasanya, ini seperti di lempar dari atas puncak Alpen. Menancap pada ujung pepohonan yang tajam. Dan itu sangat sakit. Mungkin seperti itu rasanya.

Luhan masih menatapnya. Menatap dua orang itu berjalan dengan bergandengan tangan semakin jauh darinya. Dan pandangannya menjadi buram karena air mata mulai menggenang disana. Anak laki-laki itu menangis. Ini sakit. Sangat amat sakit.

Sepertinya Luhan takut jatuh cinta lagi.

“Mama, apa salah Luhan ?”

***

Luhan tersaruk lemas. Hari ini buruk. Lebih buruk dari Bob yang muntah di boneka Angry Bird-nya semalam. Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Menangis lalu mengadu pada mamanya ? Ahh, itu lemah sekali.

Berjalan di depan pertokohan seperti zombie dengan tangkai bunga yang ia genggam. (tangkai bunga-nya saja karena Luhan telah memakan habis mahkota-nya). Luhan kelewat sebal dengan Kota ini. Yang kata orang-orang kota paling romantis di dunia. Ahh, Bullshit.

Di sepanjang Rue de Rivoli street, terlihat begitu banyak sepasang kekasih yang menikmati segelas kopi di beberapa kafe mahal yang berjejer disepanjang jalan. Luhan merasa iri. Kapan ia bisa seperti itu ? Menggenggam tangan pacarnya lalu mencium bibirnya yang terkena noda kopi. Pasti manis.

Ahh, apapun itu Luhan hanya butuh Luna sekarang.

.

.

“Luhan ?”

“Ngg ?”,anak laki-laki itu menoleh. “Lim ? Kau ?”

“Darimana saja ? Mampirlah .. Eh, kenapa dengan bibirmu ? Berdarah, loh”, Lim—gadis bermata sipit itu membulatkan mata. Menyentuh sudut bibir Luhan yang sedikit terluka.

Luhan mengernyit. Perih sekali rasanya. “Ngg, sepertinya terkeda duri”

“Duri apa ?”, Lim masih penasaran.

“Duri mawar”

“Loh ? Bagaimana bisa ?”

“Tadi aku memakan-nya”

“Hah !!”

.

.

Luhan terus saja meringis disaat Lim mengobati bibirnya dengan obat merah. “Jadi, kau bekerja disini ?”, tanya-nya.

“Yah, begitulah. Kau mau aku buatkan kopi ?”, Lim menawari. Gadis itu mengenakan celemek merah bertuliskan ‘Le Trois-Quart’—cafe tempatnya bekerja. Rambutnya di gelung tinggi dan sungguh—Lim terlalu cantik untuk ukuran pelayan cafe.

Meja kayu tertata rapi dan beberapa sisi dinding yang dipenuhi oleh botol anggur. Menu cafe yang ditulis dengan kapur warna-warni, serta mesin gilingan kopi yang beraroma sangat harum. Wah, ini benar-benar cafe Perancis sungguhan.

“Ini kopimu”,Lim datang dengan segelas kopi hangat milik Luhan.

Anak laki-laki itu nampak mengembangkan senyuman. “Thanks, Lim”, lalu Luhan meneguknya. “Kalau boleh tahu, kenapa kau bekerja, Lim ? Apa tidak mengganggu waktu kuliahmu ?”, tanya-nya sok mau tahu.

“Tentu saja untuk bertahan hidup. Jika tidak bekerja, aku mau makan apa ? Dan biaya kuliah itu tidak sedikit, kan ?”, Gadis itu melipat kedua tangannya diatas meja. Memandang mata Luhan dan tersenyum kearahnya.

“Lalu, kemana orang tua-mu ? Kau bisa minta uang kepada mereka kan ? Tidak perlu bekerja seperti ini”

Yeah, mungkin yang Luhan tahu selama ini hanya betapa indahnya kehidupan keluarga Xi. Memiliki ayah seorang pengusaha kaya dan ibunya seorang designer. Rumah mewah serta mobil-mobil mahal seharga miliaran won yang berjejer-jejer di dalam garasi bukan hal yang spesial lagi baginya. Dan disetiap menginginkan sesuatu—ia akan mendapatkannya hanya dalam hitungan detik.

Semudah itulah kehidupan bagi Xi Luhan. Tapi, tidak untuk Lim.

“Aku ingin mandiri. Ibu dan ayahku sudah terlalu tua untuk terus mencari uang. Aku ingin sedikit meringankan beban mereka”, Lagi-lagi gadis itu tersenyum. Sedangkan Luhan malah melongo menatapnya. Mandiri ? Luhan sendiri tak pernah sekalipun memikirkan tentang hal itu.

Luhan mulai berfikir—betapa menyedihkan dirinya dimata Lim. Dia lemah sebagai anak laki-laki. Dan itu sedikit membuatnya sadar tentang kehidupan. “Lim ? Itu keren. Bahkan aku tak pernah memikirkan tentang itu”

Lim masih tersenyum.“Ya, mulai sekarang pikirkan itu. Kau tidak mau kan perusahaan menolakmu saat bekerja nanti ?”

Entahlah. Menurut Luhan—Lim adalah manusia spesies baru yang pernah ia temui. Dia gadis superhero yang mengagumkan.

Dan Luhan menyukainya.

***

“Mama ..”

“Ya, sayang”

 Lagi-lagi, Luhan berguling diatas kasur busanya. Menghabiskan malam dengan berbincang-bincang bersama ibunya lewat sambungan telepon. Tapi kali ini tanpa Angry bird kesayangannya karena sedang menginap di Laundry.

“Mencari uang itu susah ya, ma ?”, tanya Luhan sedikit berbisik.

Ini pertanyaan paling aneh yang pernah Nyonya Xi dengar dari putranya. “Hah ? Ngg, tentu saja susah sayang. Apakah ini soal pe-er ekonomi-mu”, wanita itu balik bertanya.

Ada sedikit jeda dan Luhan berguling ke dekat jendela. Menatap bangunan kokoh yang berdiri tegak diseberang pagar asrama—Universitas Pantheon Sorbonne yang megah itu.

“Nama-nya Lim. Aku mengenal gadis itu sejak masa orientasi mahasiswa baru. Dan apa mama tahu, dia mencari uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Membiayai kuliahnya sendiri. Itu hebat kan, ma ? Tadi sore dia juga mengobati luka-ku dan membuatkanku segelas kopi yang enak di cafe tempatnya bekerja. Ma, dia gadis China yang mengagumkan menurutku”, Luhan berceloteh seperti biasanya. Melaporkan setiap detail kejadian hari ini. Tak terkecuali tentang Qory.

Nyonya Xi berdehem. “Wah, apa Luhan menyukai-nya ? Gadis China yang bekerja di sebuah Cafe, ya ? Hmm, sepertinya dia orang baik. Dan kalo boleh jujur, mama lebih menyukai tipe orang pekerja keras seperti itu. Cepat kenalkan pada mama, sayang”

Luhan bernafas gusar. Mamanya terlalu berlebihan kali ini. “Tapi ma, aku hanya mengaguminya. Bukan ingin mengencaninya. Lim teman baik-ku di kampus”, Ucap Luhan sakartis.

Namun Nyonya Xi punya pendapat lain. Setidaknya, insting seorang ibu selalu tepat, bukan ?

“Ya, kita lihat saja nanti”

.

.

.

Luhan mengagumi Lim. Hingga dua tahun lamanya.

Gadis China pekerja keras yang terlampau keren di matanya. Dan ketika Luhan dihadapkan dengan pertanyaan “Apakah dia mulai mencintai gadis itu ?”, Luhan tak bisa menjawab dirinya sendiri. Lim terlalu spesial untuk dicintai anak manja seperti Luhan.

Mungkin Lim tak secantik Qory. Atau tak se-seksi gadis Eropa yang lain. Tapi, tetap saja Luhan memandang gadis itu begitu spesial. Lim—gadis China yang sederhana dan apa adanya.

“Lim, maafkan aku. Semalam aku pergi ke Manchester bersama Bob karena dia ulang tahun. Aku benar-benar lupa tentang toko buku itu. Tolong maafkan aku”, Luhan berjalan cukup cepat disamping Lim.

Gadis itu nampak sangat marah sekarang. Melupakan janjinya sendiri dan pura-pura minta maaf. Yang benar saja, Xi Luhan ? “Apa kau tahu ? Aku sengaja meminta izin pada bos untuk menunggumu di depan toko buku lebih awal ? Dan apakah kau juga tahu ? Aku menggigil sendirian disana selama tiga jam, tapi kau tak kunjung datang”, Gadis itupun menangis.

Meninggalkan Luhan yang masih mengejarnya. “Lim. Kumohon, maafkan aku. Kau boleh menghukumku jika kau mau. Aku tidak mau kau marah seperti ini”, Luhan memotong jalan Lim dan membuat gadis itu makin kesal.

“Apa pedulimu jika aku marah ? Memang dari awal kan kau tak pernah menghiraukan-ku. Kau bahkan tak pernah tanya soal namaku. Kau .. menyebalkan, Luhan”

Yeah, memang itu kenyataanya. Luhan tak pernah menanyakan nama-nya. Tapi, kenapa Lim mempermasalakan hal sekecil itu. Luhan sekarang sebal dengan Lim, tapi disisi lain Luhan juga mencintai gadis itu. Ingin melindunginya. Perasaannya campur aduk tak karuan.

Luhan tak tahan lagi—lantas menarik lengan Lim lalu memegang kedua pundaknya cukup erat. Mendorong tubuh gadis itu ke salah satu sisi tembok kampus. Dan dengan cepat, Luhan  melumat bibirnya lembut. Cukup membuat Lim syok dan kaku seperti mayat.

Apa-apaan ini ? Xi Luhan menciumnya ?

Dan disaat benar-benar merasa kehabisan nafas, Luhan baru melepaskan ciumannya dari bibir Lim. Luhan menatap mata gadis itu sangat lekat dan membuat Lim ketakutan. “A-apa yang kau lakukan. K-kau ..”, Ucap Lim terbata-bata.

“Hufttt .. Mungkin ini saat yang tidak tepat untuk mengakuinya, Lim. Nggg ..”, Luhan menghela nafas cukup panjang sebelum kata “Je t’aime”(Aku mencintaimu) meluncur dari bibirnya dengan sukses.

Dan Lim dibuat melongo berat saat mendengarnya.  “U-ulangi sekali lagi”, ucapnya masih tak percaya.

“Je t’aime, Lim. I love you. Saranghae. Wo ai ni. Terus apa lagi ?”, Luhan terkekeh renyah. Sedangkan Lim malah menangis.

Sebenarnya, Lim—si gadis sipit itu sudah sangat lama menaruh hati pada sosok Xi Luhan. Lebih tepatnya sih, pada awal-awal mereka bertemu. Disaat anak laki-laki manja itu memeluk tubuhnya untuk menghindari serudukan kru softball yang mengamuk seperti banteng. Dan Lim juga masih ingat betapa konyolnya wajah Luhan ketika menangis cukup kencang dengan memanggil-manggil ibunya.

Xi Luhan itu unik dan berbeda. Dan Lim sangat cemburu berat ketika Luhan mengejar-ngejar gadis bernama Qory. Hufft, tapi itu masa lalu.

“Apa kau bercanda ?”, Lim kembali menangis.

Gadis itu berjinjit lantas melingkarkan kedua tangannya di pundak Luhan. Kali ini Lim yang mencium terlebih dulu. Dan beberapa detik selanjutnya, mereka nampak terlarut dalam sebuah ciuman di Albert Catellet—bangunan sekunder dari Universitas Pantheon Sorbonne tempat pertama kali mereka bertemu dua tahun yang lalu.

Dan 24 November, resmi menjadi tanggal jadian mereka berdua ..

Menghabiskan kencan pertama mereka di indahnya jembatan Pont de I’Archeveche yang panjangnya lebih dari 62 meter diatas sungai Seine. Di sisi kanannya terdapat jutaan gembok cinta yang sengaja dipasang oleh pengunjung di kota Paris. Dan Luhan tak mau ketinggalan.

Membeli dua gelas Latte siap saji yang mereka dapatkan dari mesin kopi otomatis dekat Eiffel tower. Dan Luhan tiba-tiba mencomot bibir Lim yang belepotan kopi dengan bibirnya lalu kabur.

Yeah, menurut Luhan punya pacar itu menyenangkan. Lebih menyenangkan ketimbang dapat boneka Angry bird baru dari mama.

.

.

Tidak.

Tidak menyenangkan lagi ketika Luhan harus menangis diujung kamar dengan boneka Angry bird-nya.

“Mama !! Tolong aku, ma !!”, Luhan berteriak dengan wajah yang basah oleh air mata—dan sedikit ingus. Dia sesenggukan menelepon ibunya. Membuat wanita itu panik bukan kepalang.

“Sayang ? Ada apa ? katakan pada mama !! Kau tidak apa-apa kan ? Tidak sakit kan ? Huh ! Cepat katakan !”, Nyonya Xi hampir dibuat gila oleh tangisan Luhan tengah malam begini. Wanita itu juga menangis ketakutan. Khawatir terjadi sesuatu pada putra kesayangannya itu

Luhan masih menangis. Malah makin keras. “Itu ma .. Itu .. Huweeeee .. Luhan takut !!! Pacar Luhan hamil, ma !! Luhan harus bagaimana sekarang ?”

DENG !!!

“Apa ? Hamil ?”, Nyonya Xi mengecilkan intonasi suaranya. Sedikit tidak percaya dan ini bukan lelucon kan ? “Apa ? Luhan menghamili pacar Luhan ? Serius ? Luhan sendiri yang menghamili ? Bukan orang lain ?”,Luhan mengangguk dan masih menangis diujung kamarnya. Dia takut orang tua-nya kecewa.

“Wah, Itu bagus sayang ! Papa !! Luhan berhasil menghamili seorang gadis. Anakmu pintar, pa !! Kemarilah !!”, Nyonya Xi berteriak girang. Dan Luhan harus menggaruk tengkuknya karena bingung. Apa-apaan sih orang tua-nya ini.

“Luhan ?”, itu suara Papanya. “Kau sudah berani melakukan itu, nak ? Kau melihat film porno lalu mempraktekkannya dengan pacarmu ? Anak papa benar-benar pria sejati sekarang. Hahaha. Papa akan belikan mobil baru setelah ini”, Tuan Xi malah ikut-ikutan girang. Seperti menghamili anak orang itu adalah hal yang paling menyenangkan di dunia.

“PAPAAAA !!! MAMAAA !! Berhenti bicara ! Luhan serius !! Luhan harus menikah dengan Lim sekarang juga !! Di dalam perut Lim ada bayi Luhan. Papa dan Mama mengerti, kan!!”, Anak laki-laki itu berteriak sangat kencang dan tanpa sengaja membuat Bob terbangun—tapi kembali tertidur.

Dua orang tua itu terkikik dan masih sibuk dengan pikiran mereka yang luar biasa .. urghh.“Iya iya, sayang. Besok kami akan langsung ke Paris dan menemui kalian. Mempersiapkan semuanya secara matang, oke ? Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja, Papa janji. Sekarang tidurlah dengan nyenyak. Besok kan kuliah”

Luhan mengangguk dan segera tenggelam dalam selimut tebalnya. Semoga besok  menjadi lebih baik. Yah, semoga saja.

“Selamat malam, Papa”

***

Dan keesokan harinya ..

Lim harus bolak-balik menelan saliva-nya sendiri ketika keluarga Xi menyambutnya begitu hangat. Bukan karena apa sih, tapi pada kenyataannya Lim tidak pernah membayangkan jika Luhan (si anak cengeng itu) adalah putra dari keluarga konglomerat super kaya. Ini bukan cerita Cinderella, kan ?

“Lim, kulitmu sangat bagus. Kau pakai masker apa ?”, Luna—sibuk di depan meja riasnya, bermain dengan palet make-up merek Diornya yang super mahal. Lim hanya tersenyum merasakan brush make-up yang menyapu wajahnya.

“Pakai mentimun dan sedikit madu”

              Lim sangat senang hari ini. Melupakan tentang Luhan yang menangis disaat tahu tentang kehamilannya beberapa hari yang lalu. Dia kira Luhan akan lepas tanggung jawab.

Tapi ..

Sekarang ia disini. Di tengah-tengah keluarga Xi yang begitu hangat. Ibu Luhan adalah wanita terlembut yang pernah Lim temui. Sedangkan ayah Luhan adalah orang paling humoris di keluarga ini. Luna yang luar biasa cantik serta suaminya Jongin yang begitu ramah. Dan tak ketinggalan ..

“Paman Luhan !! Paman Luhan !! Gendong !!”, Itu si kecil Jeno. Dia baru berusia tiga tahun dan merupakan versi mini dari Luhan.

“Bibi Lim !! Bibi Lim !! Bolehkan aku mencium bibi ?”, Sedangkan ini Jenny. Dari pertama bertemu, ia sudah sangat menyukai Lim. Minta gendong dan mereka akan menghabiskan waktu makan siang bersama di pinggir kolam renang.

“Lim, jangan terlalu lelah sayang. Biar Luna saja yang lanjutkan buat kopinya”, Luhan menggenggam tangan Lim yang sedang sibuk mengajari Luna bikin kopi. Wooo, Luna tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. Ternyata adik kembarnya yang tolol itu bisa romantis juga.

Sedangkan Nyonya dan Tuan Xi malah tertawa terbahak-bahak saat melihat pemandangan errrrr … romantis itu. Jongin juga sampai memegangi perutnya yang kram karena tertawa terlalu keras.

“Ahhh !! Kalian diam !!”, Luhan berteriak. Sedangkan Lim wajahnya memerah karena malu.

Menurut Lim ini adalah keajaiban. Keajaiban yang jauh lebih keren dari cerita dongeng sekalipun. Yeah, Luhan adalah keajaiban untuk Lim.

***

Lim gugup.

Ini hari pernikahannya. Dan ia masih saja ingin menangis.

Gadis bermata sipit itu terlihat begitu cantik dengan gaun putih mahal hasil rancangan Nyonya Xi—ibu mertuanya. Rambut panjangnya di gelung tinggi dengan balutan make-up tipis yang sangat menawan.

Sedangkan Luhan, terlihat begitu berbeda hari ini dan sumpah .. dia jauh lebih tampan dari biasanya. Tak terlihat lagi cengiran bodoh. Yang ada hanya seorang Xi Luhan yang tampan bak pangeran dengan Tuxedo putihnya. Yeah, mereka serasi.

Semua orang hening ketika mereka berdua mengucapkan sumpah sehidup semati diatas altar sana. Dan lagi-lagi Lim  menangis disaat Luhan menyematkan sebuah cincin titanium bertahta-kan berlian di jari manisnya. Ini indah. Sangat indah.

Mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Dan disaat pendeta mempersilahkan mereka untuk berciuman—semua orang bertepuk tangan bahagia (kecuali si kembar Jenny dan Jeno yang ketakutan melihatnya). Luna menangis bahagia. Begitu juga dengan Nyonya Xi yang sesenggukan di pelukan suaminya.

Yeah, sebuah kisah cinta memang harusnya berakhir bahagia seperti ini. Walau pengalaman pahit selalu melingkupi di setiap langkahnya. Tapi dengan kesabaran, kesetiaan serta cinta yang besar—waktu pasti akan menjawabnya.

“Ngokkk !!! Ngokkk !!”

Luhan melepas ciumannya. Seperti ada sesuatu yang aneh di atas sepatunya.

Sedangkan Lim menjerit sangat kencang sebelum pingsan diatas altar.“Huwaaaaaa !!! Luhan !!! Apa ituuu ???”

Untung Luhan cukup cekatan untuk menangkap tubuh istrinya yang seketika lemas setelah melihat …

“Ohhhhh Sehuuuunnn !!!! Akan ku bunuh Kodokmuuuuuu !!!!”

Oke, Bon-bon is back. Kembali menghancurkan senyuman di wajah Xi Luhan.

Huh, dasar kodok menyebalkan ! Tapi Oh Sehun lebih menyebalkan dan anak itu malah cengar-cengir sendiri di bangku tamu.

.

.

Tapi Luhan suka dengan peran baru-nya sebagai suami. Suami dari gadis China pekerja keras bernama Lim. Tinggal di rumah baru bersama-sama. Berangkat kuliah ke Pantheon Sorbonne juga bersama-sama. Luhan akan menggengam erat tangan Lim dan memastikan istrinya tak melupakan mantel hangatnya.

Mereka bahagia. Sangat sangat bahagia.

Dan di hari ulang tahun Lim yang ke dua puluh tiga.

Entah apa yang sedang Luhan inginkan kali ini. Yang jelas, ini sedikit aneh.

“Luhan, aku tidak bisa melihat sama sekali. Kenapa kau menutupi mataku, huh ? Aku tidak bisa jalan”, Lim tertatih sangat pelan dengan mata tertutup serta perutnya yang semakin membuncit.

Luhan menggengam tangan Lim cukup erat untuk membantunya berjalan. “Sedikit lagi, sayang. Hehehe”.

Dan disaat slayer merah di mata Lim dibuka ..

“Tadaa …”

Semua orang berdiri disana. Tuan dan Nyonya Xi, Luna, Jongin, si kembar Jenny dan Jeno. Dan yang paling spesial adalah; Kedua orang tua Lim yang sengaja datang dari China. Dua orang tua itu tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Lim.

Dan bangunan minimalis berinterior Italia itu begitu mengagumkan di matanya. Bertuliskan ‘Le café de Lim’ yang berarti; cafe milik Lim. “Luhan ?”, Gadis itu mencicit menatap suaminya.

“Ya, ini milikmu. Kau suka, sayang ?”

Oke, ini lebih dari suka dan gadis itu mengangguk. Memeluk suaminya dengan air mata yang menetes deras. “Aku suka. Sangat suka. Ini kado ulang tahun yang paling indah. Terima kasih banyak”

Dan disaat pita warna merah itu dipotong oleh pemilik cafe yang baru—yaitu Lim. Semua orang bertepuk tangan dengan di iringi musik khas Perancis yang mengalun indah.

Di hari pertama pembukaan, sudah terlihat puluhan pelanggan memenuhi tempat duduk dengan tiga pelayan cafe yang siap melayani tamu. Lim tak perlu lagi mondar-mandir ke dapur untuk membuat kopi. Karena Lim yang sekarang adalah seorang pemilik Cafe.

Semua orang nampak bahagia sekarang.

Tak terkecuali dengan Luhan dan Lim. “Selamat ulang tahun, sayang”, Luhan berbisik dari arah belakang. Lantas mengelus perut buncit istrinya yang menggemaskan itu.

Lim membalikkan badannya lalu menatap Luhan. Menatap mata suaminya dengan senyuman yang secerah mentari pagi. “Luhan .. Kau memang yang terbaik. Je t’aime”

Dan sedetik kemudian, mereka lagi-lagi terlarut dalam manisnya sebuah ciuman. Hey, tapi ini di depan umum. Semua pengunjung cafe dan tak terkecuali keluarga Xi malah menggoda mereka dengan kata-kata nakal. Mengganggu saja.

“Hey ! Jangan berciuman seperti itu atau bayimu akan keluar sekarang juga. Hahaha ..”, Kalo itu sih suara Sehun. Sejak kapan dia berada disana ? Hah ?

.

.

END ~

 

One thought on “[Oneshot] Luhan is Troublemaker COMEBACK!”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s