[Vignette] I am Nothing for Him

I am Nothing for Him

Scriptwriter: Nathaniel Jung | Title: I’m Nothing for Him | Main Cast: OC’s Rui, TWICE’s Dahyun, BTS’s Jeon Jungkook | Genre: school-life | Rating: teen | Duration: Vignette | Disclaimer: This story is my own. Don’t be plagiator. Be good readers;)

▽●▽●▽●

“Jungkook, kenapa kau duduk di situ?”

Seperti biasa kali ini aku menjadi murid pertama yang datang. Aku selalu datang pukul enam lebih sedikit. Padahal jam masuk sekolah masih satu jam lagi. Mengapa? Karena jika aku berangkat setengah tujuh saja, jalanan menuju sekolah sudah sangat padat merayap. Dan aku tidak suka dengan hal itu, terutama pada polusi yang ditimbulkan oleh beberapa kendaraan besar. Maka dari itu aku lebih memilih untuk berangkat pagi-pagi sekali. Jalanan di pagi hari masih sepi, hanya sedikit kendaraan yang melintas. Dan udaranya pun masih sejuk, jadi aku sangat menikmati perjalananku menuju sekolah. Karena aku yakin, jika kuawali hari dengan semangat, pasti sepanjang hari akan menjadi hari yang menyenangkan.

Setelah menaruh tas pada bangku di deret kedua dari depan, dengan masih mengenakan jaket aku bergegas mengambil sapu yang berada di pojok kelas, lantas menyapu membersihkan ruang kelas. Walaupun hanya aku seorang yang melaksanakan piket di pagi hari, aku tak merasa terbebani. Hanya saja merasa kesal saat teman-temanku yang jelas tahu aku sedang piket sendirian, malah tidak ada yang membantu.

“Wah, kukira aku yang pertama datang.”

Mingyu baru saja masuk ke ruang kelas. Dilihat dari penampilannya, kurasa ia habis berlari. Ngomong-ngomong, Mingyu juga hobi berangkat pagi sama sepertiku. Bedanya, kebiasaanku berangkat pagi dimulai saat aku menginjak kelas sebelas. Sedangkan Mingyu memang semenjak kelas sepuluh selalu datang pagi.

“Berlari lagi, ya?” sapaku saat ia baru beberapa sekon mendudukkan tubuhnya. Kulihat dia sedang mengatur napasnya. Merasa ditanya, Mingyu pun hanya membalasnya dengan anggukan.

“Rui, aku minta minum-mu ya.” tahu-tahu Mingyu sudah mengambil botol airku, lalu meminumnya setengah.

“Ya! Jangan dihabiskan. Itu jatah minumku sampai nanti pulang sekolah.” sahutku. Mingyu meringis kelewat lebar, hingga aku dapat melihat sepasang gigi taringnya yang menurutku terlihat manis ketimbang menyeramkan.

“Lain kali bawa minum sendiri.” dengan kesal aku merebut kembali botol airku. Mataku memincing tajam menatap Mingyu yang masih setia dengan senyumannya.

“Apa?!” bentakku. Mingyu hanya menggeleng, aku curiga dengan sikapnya. Atau mungkin hanya perasaanku saja? Entahlah, aku tak mau ambil pusing.

Aku kembali melanjutkan kegiatanku menyapu lantai yang sempat tertunda karena kehadiran manusia setengah vampir idaman para senior sampai junior ini. Dia laki-laki atau bukan sih? Sudah tahu aku sedang kesusahan kenapa tidak dibantu. Laki-laki tengil itu malah menyetel musik —yang kutahu itu bergenre jazz pop, keras-keras. Aku tak keberatan jika ada yang menyetel musik, apalagi musik jazz. Dengan senang hati aku mempersilahkannya.

Tapi ini beda lagi. Bukannya senang, tapi malah kesal. Kurasa pernyataanku—jika mengawali hari dengan semangat, sepanjang hari pun akan terasa menyenangkan, tidak sepenuhnya benar. Hanya di waktu-waktu tertentu saja petuah itu berlaku.

“Rui, ada tugas apa hari ini?”

Lagi-lagi Mingyu membuatku harus menunda pekerjaanku. “Semua jadwal hari ini ada tugas rumahnya, Gyu.”

“Kau sudah mengerjakan?” balasnya bertanya.

“Tugas matematika-ku kurang satu soal. Tugas kimia-ku baru sepertiganya, soalnya aku sudah kadung mengantuk. Dan jangan tanya tugas fisika-ku hari ini sudah selesai apa belum. Karena membuka bukunya saja tidak, apalagi mengerjakan. Jelas aku belum mengerjakannya.”

Dengan satu tarikan napas aku menyebutkan satu persatu tugas rumah apa saja yang sudah dan belum aku kerjakan. Kulihat ekspresi Mingyu yang melongo sempurna.

“Tumben, kau rajin. Aku saja belum mengerjakan semua.” ejeknya.

Eih, dasar kurang ajar. Aku anak rajin tahu! Memang di luar aku kelihatan cuek. Tapi ayolah, aku juga masih memikirkan masa depanku kelak. Jika aku masih bermalas-malasan, perguruan tinggi mana yang mau menerimaku? Dan aku heran, anak seperti Mingyu walau jarang mengerjakan tugas, kenapa dia malah jadi murid kesayangan guru? Harusnya para guru itu jangan hanya melihat dari keaktifan muridnya saja, tapi kedisiplinan juga harus diutamakan.

“Iya, yang pintar.” balasku malas. Sudahlah, abaikan saja makhluk satu itu. Jika aku terus-terusan menanggapinya, aku takkan sempat mengerjakan tugas fisika-ku nanti.

Satu persatu teman-temanku berdatangan dengan selang waktu yang dinamis. Aku menyelesaikan kegiatan menyapuku bersamaan dengan kedatangan Shannon. Gadis itu sempat menyapaku sewaktu di depan pintu kelas.

Kuputuskan untuk segera bergegas menuju bangkuku dan mengerjakan tugas fisika-ku yang sama sekali belum kukerjakan. Dan betapa beruntungnya aku fisika menjadi pelajaran pertama hari ini.

Aku mulai mengerjakan soal-soal tersebut dari yang paling mudah. Bel masuk kurang dari lima menit lagi. Dan Guru Moon adalah guru yang paling on-time dari sekian banyak guru yang pernah mengajar di kelasku.

“Rui, kau sudah mengerjakan tugas fisika?” tanya Dahyun yang baru saja datang. Anak itu kalau datang ke sekolah selalu nyaris terlambat.

“Ini, aku baru mengerjakannya di sini. Kau?” balasku balik bertanya.

Dahyun mendudukan tubuhnya di samping bangkuku. Ia diam sejenak, lantas mengambil botol minumnya serta menegaknya rakus. “Baru dua nomor yang aku kerjakan. Itu pun yang paling mudah. Aku sebenarnya malas masuk hari ini. Semua jadwal hari ini ada tugasnya! Tahu tadi aku membolos saja.”

Hanya kutanggapi dengan senyuman ocehan Dahyun. Dia anak rajin, tapi setengah-setengah sama sepertiku. Tapi dia sosok yang punya ambisi besar. Dia benar-benar belajar dengan keras. Aku maklum, karena dia anak tunggal di keluarganya. Jadi harapan kedua orang tuanya bergantung padanya.

Sebuah tas berukuran sedang berwarna hitam dengan strip merah terkulai pada meja di depan bangkuku. Namun aku belum mau memastikan siapa pemiliknya, karena nyawaku sedang dipertaruhkan di sini dalam waktu kurang dari dua menit.

Tiba-tiba saja ada sebuah kepala yang melongok melihat pekerjaanku. Refleks aku menjauhkan kepalaku jika tak mau kepalaku terbentur.

Sepersekian detik aku mencoba mencerna pemandangan yang ada di depanku. Jungkook duduk tepat di depanku? Tidak biasanya ia duduk di deret ini, biasanya dia langganan duduk di deret paling kanan bersama Namjoon.

“Ada tugas fisika ya? Halaman berapa?” tanyanya. Tangannya sibuk mengambil buku paket tebalnya dengan masih menghadapkan tubuhnya ke arahku.

Berusaha agar tak terlihat gugup, aku pun pura-pura tak mendengarnya. Kulirik sekilas Shannon yang kini tengah memperhatikan tingkah laku kami dengan mulutnya yang berkata sesuka hati.

“Jungkook, kenapa kau duduk di situ?”

Jungkook menoleh ke arah Shannon, “Memangnya kenapa? Apa tidak boleh?”

“Oh, tentu saja boleh Jungkook. Sangat boleh malah. Tapi—”

Sebelum Shannon melanjutkan perkataanya, Guru Moon sudah tiba di kelas membuat semua teman-temanku kalang kabut karena mereka juga banyak yang belum menyelesaikan tugas.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Sapaan formal mengalun ringan dari Guru Moon. Beliau sangat ramah, namun tegas pada peraturan. Beliau tidak suka dengan murid yang tidak disiplin. Pernah beberapa waktu yang lalu salah seorang temanku kelupaan mengerjakan tugas, dan berakhir dengan dua puluh menit sisa waktu pelajaran digunakan untuk ceramah singkat Guru Moon.

“Silahkan maju mengerjakan tugas kalian di papan tulis.”

Nah, yang dimaksud siswa aktif adalah jika ada kesempatan seperti ini —menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas di papan tulis dan sebagainya, kami berebut antusias mengerjakannya demi tambahan nilai.

Dahyun sebagai orang pertama yang maju mengerjakan, disusul Sohyun. Tanpa pikir panjang aku pun turut andil mengerjakan soal ketiga —yang menurut sebagian besar temanku adalah soal yang mudah. Hehe, tenang saja seberapa sulit atau mudah soal yang dikerjakan pun bahkan salah atau benar, Guru Moon tetap berbaik hati memberikan poin tambah pada daftar nilai kami. Baik sekali bukan?

Saat aku sibuk menuliskan beberapa rumus di papan tulis, aku kembali dikejutkan dengan kehadiran Jungkook yang sudah berada di sampingku. Kulirik sekilas ia tengah meringis.

“Rui, ini benar kan jawabannya tiga per delapan?” bisiknya padaku. Aku merinding setengah mati, serius. Masalahnya Jungkook membisikkannya tepat di telinga kiriku. Dia bisa bersikap santai seperti itu, tapi sekarang aku yang bermasalah. Aku lupa rumus apa saja yang harus kutuliskan.

Kuputuskan untuk meminta izin kepada Guru Moon untuk mengambil catatanku. Setelah beliau mengizinkan, aku berjalan mengambil buku catatanku dan kembali sesegera mungkin untuk mengerjakan soal yang sempat kuanggurkan.

Tapi lagi-lagi Jungkook berulah. Tubuhnya yang bisa dibilang tinggi kini mengahalangi spot-ku menulis tadi. Terpaksa aku harus menunggunya menyelesaikan soal miliknya.

Tak menunggu waktu lama, Jungkook sudah menyelesaikan soalnya. Dan kini giliranku menyelesaikan soalku.

Selama kegiatan belajar mengajar hari ini, bisa dibilang aku cukup aktif. Mungkin faktor Jungkook duduk di depanku, jadi aku sebisa mungkin terlihat cerdas di matanya. Yah, walaupun aku tak tahu bagaimana persepsinya terhadapku. Tapi selama itu tak merugikanku, aku akan melakukannya dengan senang hati.

Setelah jam istirahat berbunyi, keadaan yang sedari tadi menegangkan karena terjadi perdebatan seru antara anak-anak olimpiade —Jungkook, Mingyu, Namjoon, dan Junhong dengan Guru Moon saat membahas soal yang terlalu rumit bagi tingkat dua SMU kini berubah menjadi lebih rileks. Guru Moon pamit undur diri dengan senyuman bangga karena melihat keseriusan kami belajar di kelas.

Aku yang hanya mendengarkan perdebatan mereka saja sudah pusing, apalagi ikut berdebat. Lebih baik tidak usah. Iya aku suka fisika, tapi tidak se-maniak mereka.

Sembari mendiamkan otakku yang memanas, aku kembali mengingat-ingat beberapa kejadian tak terduga antara aku dan Jungkook. Aku bahkan sampai berkhayal kelak Jungkook akan menyatakan perasaannya padaku. Aku tersenyum gila saat membayangkannya. Tapi kurasa itu mustahil terjadi, mengingat Jungkook sudah mempunyai perasaan kepada Yein —menurut pantauanku selama ini, sih.

Seorang dari klub majalah datang dengan membawa dua puluh majalah edisi terbaru. Dengan sukarela aku membantunya untuk membagikannya kepada teman-temanku.

“Terimakasih majalahnya.” ujarku.

Dia mengangguk ringan dan kemudian pergi ke kelas lain yang jika kutaksir ia akan membagikan beberapa majalah lagi bersama temannya.

Kini waktuku istirahat terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Aku sudah lama tak membaca majalah, terakhir saat kenaikan kelas —yang sekolah memang membagikan majalah setiap ada kenaikan kelas.

Di halaman pertama terdapat kata-kata saran dan kritik yang ditujukan kepada klub majalah untuk lebih meningkatkan kualitas majalah, baik dari cover, grafis, isi, dan lain sebagainya.

Pada halaman pertama aku mendapati foto Jungkook beserta kalimat saran dan kritiknya. Simpel, ia hanya ingin klub majalah menambahkan informasi tentang perguruan tinggi.

Di bawah kolom milik Jungkook, ada foto seseorang yang kutahu ditaksir Jungkook. Ada Yein juga di sana. Tepat di bawah kolom komentar milik Jungkook.

Jungkook dan Namjoon yang baru saja memasuki kelas —sehabis dari kantin pun terlihat antusias saat mendapati ada majalah edisi terbaru.

“Kook, lihat siapa yang di bawah fotomu!” ujar Namjoon terlampau keras. Sampai-sampai temanku sekelas —Hwanhee dan Dongyeol ikut-ikutan meledek.

“Wah, Jungkook ternyata..”

“Oh, rumor itu benar ya, Jung? Atau terlampau benar?”

“Ya! Kenapa sih kalian? Ini kan cuma foto.”

“Kami juga tahu itu foto, Jung!”

Dan masih banyak lagi.

Tujuanku membaca majalah supaya menghilangkan rasa kantuk, kini justru membuatku pusing. Aku jadi teringat perkataan seorang adik kelas bernama Sungkyung. Ia juga satu organisasi dengan Yein dan Jungkook, tapi Jungkook sekarang bukan lagi bagian dari organisasi tersebut.

“Rui eonni, aku pernah membongkar isi ponsel Jungkook sunbae. Tebak isi-nya apa?”

“Dia menyimpan sebuah foto dirinya saat sedang ikut acara kemah tahunan. Tapi yang menarik, di belakangnya ada Yein sunbae yang tidak sengaja tertangkap kamera.”

Kurang lebih seperti itu yang dikatakan Sungkyung kepadaku. Reaksiku? Terlampau biasa, cenderung cuek di luar. Namun sejatinya hal tersebut bergumul di pikiranku. Padahal hal itu sudah lama tak kupikirkan, tapi kini kembali mencuat ke permukaan.

Semua khayalanku tentang Jungkook akan menembakku kini semakin jelas, jelas takkan terwujud.

“Rui, kau sudah lihat majalahnya?” Dahyun yang sehabis dari kantin, datang menghampiriku dengan mulut yang terisi roti.

“Sudah.” jawabku singkat. Mood-ku sudah amblas ditelan bumi. Padahal aku sudah berharap kalau hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Aku malah sempat berpikir akan membakar majalah ini sesampainya di rumah nanti. Tapi tak jadi, karena sayang aku belum membaca keseluruhan isi majalah.

“Kau baik-baik saja?” Dahyun kembali bersuara.

Aku mengangguk, “Ya, aku baik. Terlampau baik.”

Dahyun berdecak khawatir menatapku. Dia tahu aku menyukai Jungkook, namun Jungkook malah menyukai gadis lain. Jadi wajar ia bersikap demikian.

“Eih, jangan terlalu dipikirkan.”

Aku diam tak membalas. Majalah yang masih terbuka lebar seakan meminta untuk dijelajahi itu pun sudah kututup rapat-rapat seakan tak ingin kubuka lagi yang kemudian kumasukkan ke dalam ransel-ku.

Tangan Dahyun kini sudah berada di atas tanganku. Menggenggamnya erat, menyalurkan sedikit energinya untuk mengembalikan mood-ku yang tenggelam dalam bumi tadi.

“Tersenyumlah.”

Kupaksakan sebuah senyuman kecil saat ia memintaku demikian. Sebenarnya hal yang dilakukan Dahyun tidak berefek apapun pada mood-ku. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa. Setidaknya kuhargai usahanya untuk mengembalikan senyumku yang sempat pudar.

“Nah, kalau seperti itu kan cantiknya bertambah.”

Terimakasih Dahyun.

-fin-

Notes:

Hai hai ada ini FF ketiga tentang Kook-Rui couple atau malah Gyu-Rui couple? Ada yang ngeship mereka? Kalau aku sih enggak / BOHONG BANGET!! Hehe, ditunggu kritik dan saran kalian. Maaf sebelumnya jika cerita yang disampaikan kurang berkenan di hati dan mata kalian😄

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s