AIRPLANE – Part 2

airplane

AIRPLANE

Title : Airplane

Scriptwriter : BBYWIND

Main Cast : Kim Hanbin [iKON] Lee Seo-a [OC]

Genre : Vulnerable

Rating : General

Disclaimer : I just own the poster and storyline.

Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4

“Maafkan aku, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai seorang teman. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mencintaimu. Maafkan aku, karena tak bisa menghilangkan perasaan lebih padamu.”

Enam bulan berlalu semenjak percakapan bodoh kami. Namun tetap saja, setiap pikiran bodohku hanya menjadi sebuah gagasan tanpa realisasi.  Selalu saja aku tak berhasil membiarkan Seoa mengetahui perasaanku padanya. Berulang kali aku hendak mengatakannya, tapi tetap saja, aku tak bisa berbuat apa-apa. Lidahku selalu saja kelu. Aku benar-benar muak dengan diriku sendiri. Dimana Kim Hanbin dengan sejuta keyakinan itu? Diriku yang penuh karisma seakan menghilang jika sudah berurusan dengan gadis berambut kecoklatan itu.

Dua minggu belakangan aku sudah berhasil membuat dua lagu, berkat aku tak pernah pulang ke dorm. Ruang recorder sudah menjadi rumah ketiga bagiku. Seoa sering disini, menemaniku atau sekedar bergurau dengan member lain. Rasanya dia sudah makin dekat dengan member Team B. Belakangan dia lebih banyak mengacuhkanku. Menyebalkan.

“Seoa-a. Bisa bantu aku?”

“Of course, tentu saja tuan Hanbin yang berkarisma.”

Gadis itu berjalan kearahku dengan gayanya yang khas. Melucu yang sama sekali tidak lucu, tapi menggemaskan buatku. Ia berdiri disampingku sedikit membungkuk melihat kearah monitor, sedang aku berada disampingnya duduk di kursi depan monitor besar.

“Bisakah kau memperagakan gerakan ini? Aku masih belum mendapatkan gerakan yang tepat.”

Ia mengangguk sambil matanya masih intens mengamati setiap gerakan yang muncul dilayar computer. Sesekali ia mengerutkan keningnya. Perhatianku sudah tak lagi berada dimonitor. Segala fokusku sudah teralih padanya. Pada gadis yang rambutnya diikat longgar ini. Kuncir rambutnya bergerak mengikuti kepalanya yang mengangguk  mengikuti irama lagu. Ia benar-benar focus jika berurusan dengan dance. Ya, karena impian terbesarnya adalah menjadi dancer terbaik diseluruh negeri gingseng ini.

“Cukup mudah. Point utamanya ada digerakan ini.” Seoa menunjuk gerakan yang kembali kuputar dilayar. “Kakimu harus mampu menumpu tubuhmu, cukup beresiko tapi jika berhasil akan sangat mengagumkan.”

“Apakah kau mau mencobanya?”

Aku melontarkan penawaran itu tanpa ragu yang ditimpali anggukan sang penerima jasa.

“Bisakah kau copy ke disk? Aku akan mencobanya. Jika sudah berhasil akan ku tunjukkan padamu.”

Ia mengerling padaku. Aneh sebenarnya, tapi justru membuat kinerja jantungku menjadi tak karuan. Gadis ini benar-benar berisiko menyebabkan penyakit jantung.

Aku menyerahkan kepingan disk padanya setelah berhasil meng-copy beberapa file dance yang baru saja aku unduh. Ia mengulurkan tangannya mengambil disk dari tanganku tanpa mempersilahkanku menahannya. Seoa berjalan keluar, membuka pintu sebelum akhirnya berhenti di ambang pintu.

“Ah, Hanbin-a. Bisakah kau berjanji satu hal padaku?”

Aku mengernyitkan keningku, membuat beberapa kerutan disana. Aku menatap aneh padanya yang disambut tatapan tak kalah aneh.

“Berjanjilah untuk segera debut dengan tim kesayangaku ini. Aku berjanji akan menjadi fans pertama kalian saat kalian debut nanti.”

Pernyataan aneh itu membuatku terkikik geli. Lee Seoa, gadis itu benar-benar kekanakan. Tapi entah mengapa aku segera mengangguki keinginanya, tanpa keraguan sedikitpun. Ia membalas dengan senyuman manis khasnya, lalu berlalu pergi. Menutup pintu perlahan lalu aku tak lagi bisa melihat bayangannya.

Aku merebahkan tubuhku kesandaran kursi sesaat setelah bayangannnya tak lagi terlihat. Menghela nafas panjang kemudian meregangkan jari-jariku. Menatap langit-angit yang gelap dengan sorotan lampu yang mulai temaram, meminta untuk dipindah tugaskan. Aku beralih kelayar laptopku, lalu menatap intens desktop backgroundnya. Senyum gadis itu adalah surga bagiku, ketenangan yang tak ada duanya didunia ini. Aku tak lagi berharap mendapat balasan atas cintaku padanya, melihatnya bahagia seperti ini saja sudah cukup.

Aku hendak pergi meninggalkan ruang record sebelum handphoneku berbunyi. Ada sebuah Line message masuk dari Seoa. Ada apalagi dengan gadis itu? Apakah dia sudah merindukanku?

“Hanbin-a, ayo kita meraih mimpi kita bersama-sama. Ayo kita bergandengan tangan satu sama lain menuju mimpi kita. Semangat, sahabatku yang penuh karisma.”

Awalnya aku tersenyum saat membaca pesan itu. Namun entah mengapa senyum itu memudar saat kata sahabat muncul dari layar handphoneku. Aku memang sudah tak mengharapkan apapun, tapi tetap saja aku merasa janggal. Aku masih belum bisa menghilangkan perasaan lebihku untuknya. Ingin rasanya aku mengacuhkan pesan darinya, tapi tetap saja jari-jariku secara tidak sadar telah mengetik beberapa kata dan telah siap menyentuh tombol kirim padanya.

“Baiklah. Ayo berjalan bersama menuju bintang kita, sahabatku yang jelek.”

***

Tiga bulan berlalu. Sudah hampir satu tahun setelah survival WIN berlalu. Winner hyeong sudah memulai langkahnya menuju panggung besar itu. Sedangkan kami, Team B, masih berada di tempat yang sama. Iri rasanya melihat Winner hyeong memulai debut mereka. Lagu mereka begitu keren, tapi lagu kami juga tak kalah keren. Aku bisa pastikan lagu-lagu ini akan memuncaki tangga lagu suatu saat nanti.

“Ya. Kim Hanbin, apa yang kau lamunkan?”

Seoa menepuk punggungku dari belakang. Entah darimana gadis itu muncul. Selalu saja ia muncul tiba-tiba, sudah seperti berteman dengan hantu rasanya. Ia duduk disampingku diikuti Jinhwan hyeong dan Junhoe. Melihat mereka bersama tak lagi terasa asing bagiku. Aku benar-benar tidak menyangka Seoa akan menjadi sedekat ini dengan member kami, disamping Bobby hyeong tentunya.

“BI hyeong, sepertinya kita akan mengadakan survival lagi.”

Junhoe yang diam belakangan ini, tiba-tiba menyuarakan hal yang tak ingin aku dengar. Survival? Haruskah kita melewatinya lagi? Sudah cukup rasanya aku merasa terbuang setelah kekalahan itu.

“Itu belum pasti, Hanbin-a. Berdoa saja yang terbaik.”

Jinhwan hyeong menimpali, sesaat setelah melihat wajah suramku. Sedangkan Seoa hanya menatap kami bergantian dengan wajah lugunya. Ia tak terlihat bersemangat seperti biasanya, membuatku khawatir. Tapi jika bertanya sama saja mengundang perang dunia ketiga. Jika moodnya sedang buruk, ia akan lebih galak dari singa betina.

Perhatianku teralih sesaat setelah mendengar suara pintu terbuka. Bobby hyeong masuk diikuti Yunhyeong hyeong dan Donghyuk dibelakangnya. Wajah suram itu terlihat setelah mereka masuk. Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin. Entah mengapa dengan atmosfir hari ini. Yang jelas alasannya bukan karena mereka lelah dengan latihan. Karena kami sudah kebal dengan latihan yang bertubi-tubi. Bahkan bolos sekolah sudah menjadi rutinitas baru bagiku.

“Hanbin-a, besok kita akan memulai survival lagi. Dan ini sudah dipastikan.”

Suara serak khas rapper Bobby hyeong berhasil menohokku. Ekspresi wajahku berubah drastis. Aku benar-benar tegang. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap biasa jika kelangsungan Team ku dalam bahaya? Ingin rasanya aku memaki, tapi kepada siapa?

Hyeong, kita akan debut bersama, ‘kan? Aku benar-benar ingin membawa CD album debutku kepada Ayah.”

Donghyuk berhasil membuat nafasku makin tercekat. Bagaimana jika salah satu dari kami tak bisa berada dipanggung yang sama dengan kami? Bagaimana jika salah satu dari kami tak bisa mengangkat piala bersama kami? Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih. Semua member kini tertunduk lemas. Rasanya usaha kami akan sia-sia saja. Aku frustasi. Benar-benar frustasi. Kalut rasanya jika memikirkan tentang survival sialan ini.

Aku memutuskan untuk keluar, mencari udara segar sebelum aku menangis nantinya. Jika berlama-lama di ruangan itu bersama anggota yang lain, mungkin aku akan mati berlutut dihadapan mereka. Aku berjalan menyusuri lorong kearah atap gedung YG. Tak ada tempat lain yang bisa aku pikirkan selain tempat itu. Setidaknya aku ingin menjauhkan diri dari keramaian. Aku tidak ingin berakhir mengumpat pada setiap orang yang aku temui.

Aku membuka pintu atap dan menutupnya keras-keras, tak peduli lagi jika akhirnya gedung ini ambruk. Hatiku sudah lebih dari ambruk sekarang. Apa yang akan terjadi selama survival nanti, aku tak tahu lagi. Aku tak ingin memikirkannya. Tapi tetap saja, kenyataan itu berputar-putar  dipikiranku. Aku merebahkan tubuhku diatas sofa yang tak lagi empuk itu, memberikan sedikit efek suara kayu yang bergesekan. Menutup kedua mataku dengan lengan kananku. Menghindari kontak dengan langit senja kota Seoul.

Aku hendak beranjak sebelum suara pintu terbuka membuatku mengurungkannya. Tak ingin membiarkan orang lain melihat ekspresi bersalah dan kesalku saat ini. Kontak mata dengan orang lain hanya akan membuatku menangisi kenyataaan pahit ini.

“Hanbin-a. Gwaenchana?”

Suara lembut yang menenangkan itu terdengar setelah derap kaki mendekat kearahku. Aku tak ingin menjawab, pun tak ingin membuat pemberi tanya itu menunggu. Aku hanya sekedar menganggukkan kepalaku perlahan yang entah terlihat atau tidak.

“Hanbin-a…”

Tangan lembut meraih lengan kananku bersamaan dengan suara lembut yang menenangkan itu terdengar. Aku tak mengelak pun tak menerima perlakuan Seoa. Ia kini berpindah duduk di samping tubuhku yang merebah di sofa setelah tak mendapat respon dariku. Ia meraih tanganku perlahan, menyentuhnya lembut. Membuatku tak sanggup lagi menahan keinginanku untuk memeluknya.

Dan aku pun tak sanggup menahan keinginanku. Aku menarik tangannya, membuat tubuhnya masuk kedalam pelukanku dalam posisi tertidur. Aku mendekapnya erat, tak memberinya kesempatan untuk melepaskan dirinya. Ia sedikit membuat perlawanan, tapi aku terus mendekapnya lebih erat dan membuatnya berhenti mengelak.

“Sebentar saja, Seoa-a. Biarkan aku memelukmu, sebentar saja.”

Ia kini pasrah dan malah menepuk-nepuk lengan atasku perlahan. Membuatku tak lagi sanggup membendung air mataku. Bulir itu kini mengalir dari singgasananya. Terus mengalir seiring menguningnya langit senja.

***

Aku berusaha meleburkan suasana, pun dengan anak-anak yang lain. Kami berusaha berfikir positif setelah seminggu lalu mendapatkan pemberitahuan tak menyenangkan. Dan setelah sedikit memaksakan diri akhirnya atmosfir diantara kami kembali normal. Tapi yang sangat membuatku tak bisa berhenti khawatir adalah sampai saat ini aku belum melihat Seoa. Gadis itu selalu berkata baik-baik saja ketika aku menanyakan kabarnya melalui pesan Line.

Ruang latihan juga tak pernah terpakai sampai malam lagi, akibat gadis itu tak pernah terlihat disana. Aneh, untuk seorang Seoa yang gila latihan tak mungkin ia bisa tahan tiga hari tak berlatih dance. Member lain pun tak lagi melihat gadis itu berkeliaran di gedung YG. Padahal, bisa dikatakan, bahwa gadis itu selalu rajin datang ke gedung YG. Hampir disetiap jam ia akan terlihat di gedung ini. Entah di dalam ruang latihan, kantin, toilet, bahkan di tangga darurat.

Hyeong, apakah ada yang melihat Seoa akhir-akhir ini?”

Tanyaku pada pelatih koreo kami yang juga melatih Seoa. Aku tak bisa menyembunyikan raut khawatir dari wajahku, membuat pelatih koreo kami mengernyitkan dahinya.

“Khawatirkan dulu survivalmu itu. Gadis perkasa itu tak akan pernah terluka. Kau tahu sendiri dia sudah sekuat baja.”

Aku kembali pada kaca besar didepanku setelah tak mendapatkan jawaban memuaskan dari pelatih kami itu. Benar juga, Lee Seoa tak akan terluka secepat itu ‘kan? Dia pasti baik-baik saja. Dia pasti sedang memulihkan nilainya kali ini. Iya, mungkin saja ia sedang belajar matematika sekarang. Iya, Kim Hanbin. Ber-possitive thinking lah, tak akan terjadi apa-apa pada gadis itu.

Setelah mendengar suara music, aku kembali dalam ketukan, menggerakkan tubuhku sesuai dengan irama. Keringat sudah mulai menetes dari keningku, philtrumku juga sudah diairi keringat sekarang. Aku harus bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya, toh aku juga belum tau apa yang akan terjadi saat survival kedua nanti. Aku hanya berharap tak akan ada tambahan anggota baru lagi.

Musik tiba-tiba berhenti. Membuat tubuhku terhuyung dan hampir terjatuh. Bobby hyeong mematikan music dan meminta kami untuk berkumpul, membentuk lingkaran. Ada apa dengan orang ini, kenapa dia selalu saja tiba-tiba.

Setelah kami membentuk sebuah lingkaran, Bobby hyeong mulai memperlihatkan tampang sok serius miliknya, yang justru terlihat seperti orang menahan kentut. Sungguh terlihat lucu, tapi sayangnya aku tak bisa tertawa melihat ekspresi anggota tim lain yang terlihat begitu tegang.

Ja. Aku langsung saja. Aku ingin meminta satu permintaan pada kalian. Bisakah kalian memenuhinya?”

Bobby hyeong terlihat benar-benar serius kali ini, meskipun nada bicaranya terdengar seperti sedang bergurau. Anggota yang lain hanya mengangguk menanggapi permintaan Bobby hyeong, pun dengan diriku.

“Aku ingin, apapun yang terjadi, kita akan bersama. Meskipun nanti kita tak berdiri –di panggung- bersama. Tapi, pastikan kalian berjanji untuk tetap berjalan bersama menuju mimpi kita.”

Entah mengapa orang itu terlihat begitu keren ketika mengucapkan hal-hal seperti ini. Tak heran jika ia diikuti banyak penggemar wanita, bahkan setelah WIN.

Kami saling memandang satu sama lain. Jinhwan hyeong mulai berkaca-kaca pun dengan Yunhyeong hyeong. Tanpa kata-kata pun dapat disimpulkan bahwa kami menjawab ‘iya’ tanpa keraguan sedikitpun. Ya, apapun yang terjadi nanti Team B akan selamanya menjadi keluarga kami, bagian dari hidup kami yang bagaimanapun tak akan bisa dipisahkan dari rutinitas kami.

Aku mengulurkan tanganku, mengambang diudara. Memberi kode untuk melakukan jargon kebanggaan kami. Diikuti para member yang kemudian membentuk formasi tumpukan tangan diantara ruang hampa.

“GET READY?” Aku meneriakkan aba-aba yang kemudian dijawab dengan serentak oleh member lain.

“SHOWTIME!!”

Tangan kami mengudara. Memperlihatkan bagaimana kami bersemangat untuk menuju langit kami, mimpi kami.

Aku kembali mengecek handphone. Belum ada pesan dari Seoa sama sekali. Tak sanggup menunggu lebih lama akhirnya aku undur diri dari kerumunan anggota tim, dan keluar menuju toilet sambil mengetikan beberapa kata dalam text box kemudian menyentuh tombol kirim sesaat sebelum masuk kedalam toilet. Aku duduk diatas toilet tanpa membuka penutupnya. Hanya sekedar duduk, mencari ketenangan. Tidak, sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan area privasiku.

Aku keluar setelah lima belas menit lamanya aku menunggu balasan Seoa. Gadis aneh itu sudah membaca pesanku tapi ia tak membalasnya. Ada apa sebenarnya dengan dia? Apakah ia sedang patah hati? Atau mungkin dia sedang PMS? Ah, tidak, selama aku mengenalnya, tak ada fase seperti itu pada kehidupan Seoa. Kehidupannya selalu dipenuhi kegilaannya dan dance. Hanya itu. Tapi ia benar-benar aneh belakangan ini, ia tak cepat tanggap dengan pesan yang aku kirimkan.

Daripada frustasi menunggu balasan dari Seoa, akhirnya aku memutuskan untuk kembali berlatih dance bersama anggota lain. Besok adalah hari survival kedua dimulai, jadi aku harus lebih siap. Setidaknya hanya itu yang bisa kau lakukan untuk saat ini.

***

Jam menunjukkan pukul lima pagi. Dan aku sudah berada di YG building. Aku masuk melalui pintu belakang yang untungnya sudah tak terkunci. Aku ingin melanjutkan laguku di ruang recorder, tapi ku urungkan. Lebih baik jika aku menikmati kota Seoul pagi ini. Setidaknya untuk menenangkan pikiranku yang masih saja mengkhawatirkan Seoa dan survival baru kami.

Aku terpaku sesaat setelah membuka pintu atap gedung YG. Kudapati sosok gadis yang belakangan ini berhasil mengusik tidurku. Membuatku tak bisa bernafas lega, meski aku mendapatkan bertabung-tabung oksigen. Ia yang berhasil membuatku tak berani berpaling dari layar handphone karena terlalu takut melewatkan panggilan yang sama sekali tak datang darinya.

Ya, Lee Seoa!”

Aku langsung menghampirinya dan menghamburkan tubuhku memeluk tubuhnya. Persetan dengan degup jantungku. Biarlah jka ia ingin lepas dari singgasana abadinya. Persetan dengan air mataku, yang kini sudah mengalir meninggalkan pelupuk mataku. Persetan dengan ketakutanku kehilangan sahabatku, karena sudah cukup aku merasa takut belakangan ini.

Seoa tak menolak pun tak menerima pelukanku. Membuatku sedikit kikuk, tapi tak sedikitpun pelukanku aku longgarkan. Aku hanya tak ingin kehilangan gadis didepanku itu apapun alsannya.

“Hanbin-a, aku tak bisa bernafas dasar bodoh!”

Sebuah jitakan mendarat di jidatku. Diikuti makian yang terdengar begitu menyegarkan di telingaku. Entah mengapa aku merindukan suara melengking Seoa saat ia tengah memakiku.

Aku melepaskan pelukanku. Memegang kedua bahunya kemudian memastikan seluruh tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Sang korban hanya diam saja dengan ekspresi kesal. Aku sungguh merindukan tatapan tajam itu. Tatapan yang rasanya dapat memakanmu kapan saja.

Ya! Kenapa kau tidak membalas pesanku??”

Tanyaku kesal setelah memastikan dia baik-baik saja.

Ya! Karena pesan bertubi-tubi darimu itu aku harus kehilangan hanphone kesayanganku, kau tahu? Sekarang tanggung jawab! Belikan aku handphone baru!!”

Jawabnya kesal dengan ekspresi yang dibuat-buat. Tenang rasanya melihat ekspresi itu lagi, meskipun entah kenapa aku merasa ada yang aneh dari gadis didepanku ini. Dia memang tak berubah, tapi aku melihat sesuatu yang janggal dari senyumannya. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu, dia terus saja mengelak melakukan kontak mata lebih dari lima detik. Tapi sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Toh, Seoa sekarang tengah berdiri didepanku, berkacak piinggang dengan muka bersungut-sungut akibat kehilangan handphone kesayangannya.

Aku duduk diatas sofa, setelah sekian jam lalu berdebat bodoh dengan gadis disampingku ini. Topic kami masih sama, mengenai handphone Seoa yang harus tercelup kedalam bak mandi akibat pesanku yang membuat handphonenya tak berhenti bergetar. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku, ‘kan? Seharusnya dia lebih cepat tanggap sebelum handphone itu berakhir menyelam di bathup kamar mandinya.

“Hanbin-a. Aku ingin bersepeda.”

“Seoa-a, jangan main-main. Kau tahu ‘kan kalau aku tidak mahir bersepeda. Sama sekali.”

Gadis itu terdiam. Membuatku sedikit merasa bersalah. Tapi apa salahku? Aku hanya mengatakan kebenaran. Lagipula yang seharusnya murung disini adalah aku, bukan kau Seoa-a. Terkadang aku sulit mengerti apa yang ada dipikirannya, apalagi dari tadi dia terus saja menghindari kontak mata denganku.

Arraseo. Aku akan menemanimu. Tapi aku lari saja, lagipula lariku lebih kencang daripada bersepedamu.”

Ucapku, beranjak dari duduk nyamanku. Mengelus pucuk kepala Seoa kemudian melangkah menjauh dari sofa. Aku menoleh setelah tak mendapati suara langkah kaki mengikutiku. Seoa masih duduk diam disana, ada apa dengan gadis itu sesungguhnya?

“Seoa-a.”

Panggilku sedikit berteriak. Membuat sang pemilik nama menoleh dan langsung beranjak, sedikit berlari menghampiriku.

Kajja!”

Balasnya sambil menyeret lenganku. Masih tak mau berkontak mata denganku, ia langsung menyeretku tanpa memberiku kesempatan untuk sekedar membenarkan posisi jumperku yang hampir melorot akibat seretan paksa darinya.

***

Aku berlari kecil, mengikuti Seoa yang melajukan sepeda dengan cukup lambat. Tak seperti biasa, ia hanya mengayuh perlahan sepeda miliknya. Padahal biasanya aku harus berusaha lebih keras untuk dapat menyamai laju sepedanya, meskipun dapat dibilang aku pelari yang cukup hebat.

“Hanbin-a. Aku sungguh merindukan sungai Han.”

Aku melirik Seoa yang tengah memandang ke depan dengan tatapan kosong. Ada apa dengan mata itu, sinarnya seakan hilang hari ini. Aku tak merespon perkataan Seoa, masih terpaku dengan air muka Seoa yang terlihat berbeda. Lagipula gadis disampingku itu seperti tak mengharapkan respon apapun dariku.

“Hanbin-a.”

“Hmm. Wae?”

Aku kembali menatap kedepan, berusaha berpikir positif. Mungkin aku hanya terlalu lelah. Seoa tidak akan mudah terluka secepat itu. Lagipula jika ia dalam kesulitan ia pasti akan menceritakannya padaku. Aku ini Kim Hanbin, sahabat terbaiknya, tak mungkin ia tak terbuka padaku. Aku yakin itu, setidaknya aku ingin meyakini itu.

Aniya, tidak jadi.”

Gadis itu berubah misterius. Apa yang ia makan sebenarnya?

“Ya. Jangan bertindak sok misterius. Bukan style-mu.”

Ia hanya menatapku tajam dengan mulut yang dimanyunkan. Terlihat menggemaskan. Aku melihat ke jam yang melekat ditangan kiriku, hampir melupakan agenda jam satu nanti, ada pertemuan dengan Yang sajangnim, aku harus bergegas kembali ke YG building.

“Seoa-a. Mian, aku harus kembali ke YG. Survival baru, ‘kau tahu.”

Aku berhenti diikuti Seoa yang turun dari sepedanya. Gadis itu tak terlihat kecewa, tapi juga tak terlihat baik-baik saja. Membuatku ragu untuk meninggalkannya.

“Seoa-a. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat aneh. Kau terus saja menghindari kontak mata denganku. Juga, kenapa dengan wajahmu itu?”

“Ada apa denganku? Ya, Kim Hanbin. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku ingin makan bibimbap.”

Entah kenapa aku sedikit ragu dengan jawabannya. Mungkin aku hanya terlalu khawatir. Tapi firasatku bilang gadis itu dalam kondisi buruk. Sungguh.

“Pergilah, nanti anak-anak lain mencarimu.”

Seoa membalikkan tubuhku kemudian sedikit mendorongku menjauh darinya. Aku tak mengerti kenapa tubuhku menolak untuk meninggalkannya. Aku seperti takut kehilangan gadis itu. Astaga ada apa denganku ini?

Aku berjalan meninggalkannya, sesekali menoleh padanya untuk sekedar melambaikan tangan. Tapi entahlah, tubuh ini kembali berbalik dan langsung berlari mendekati Seoa. Aku sedikit terengah, sedangkan Seoa hanya menatapku aneh, ia mengerjapkan matanya bingung. Aku meraih bahunya dengan kedua tanganku, membuat pandangannya sejurus pada mataku. Dan lagi-lagi ia menghindarinya, menghindar dari kontak mataku.

“Seoa-a.”

Aku meraih punggungnya kemudian membawanya kedalam dekapanku. Biarkan jika nanti ia menyadari perasaanku padanya. Aku sudah tak bisa menahannya. Aku ingin mendapatkan posisi istimewa dalam hidupnya, bukan sekedar sahabat baik. Aku ingin menjadi teman hidupnya. Mengisi kehidupannya sebagai seorang yang lebih dari ‘sahabat’.

Saranghae, Seoa-a.”

Bisikku pelan, setelah melepaskan tubuh Seoa dari dekapanku.

2 thoughts on “AIRPLANE – Part 2”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s