[Ficlet] Healer

Healer

Title: Healer

Scriptwriter: Rin Akira

Main Casts: Yagi Arisa, Oh Sehun (EXO)

Support cast: Wu Yifan (Kris)

Genre: Hurt/Comfort, Friendship, Romance

Duration: Ficlet

Rating: Teen

Disclaimer: Semua tokoh berasal dari dunia nyata, tetapi plot tetap milik Rin Akira seorang. Ingat, bedakan antara inspirasi dan plagiat ya! Ini ff debut Rin Akira di IFK. Jadi mohon reviewnya *bow*

Summary:

Friendzone? Yagi Arisa tidak pernah mengenal istilah itu. Tetapi ia merasakannya. Ia tidak pernah menyangka luka akibat terlalu banyak berharap itu sungguh menyakitkan.

.

.

“Arisa!” Yagi menoleh, tersenyum pada orang yang memanggilnya. Dalam manik matanya, terlihat Yifan tengah memasuki kedai dan menuju ke arahnya.

“Mau pesan apa?” Tanya Yagi riang.

“Kau yakin akan mentraktir?” Setengah alis Yifan terangkat curiga.

“Tidak.” Jawab Yagi enteng.

“Sudah kuduga. Hufft…” Yifan mendengus. Yagi terkikik geli.

“Maksudku, aku tidak ragu untuk mentraktir kali ini. Jangan merajuk begitu.” Yagi mencubit pipi kiri Yifan gemas. Yifan membalas dengan mencium pipi kanannya.

“Lalu, untuk apa kau mengajakku kemari? Jika kau mau traktir, pasti ada maunya.”

“Sudahlah, mau pesan apa? Jangan sia-siakan niat baikku.”

.

.

Kini, di meja mereka, ada dua porsi udon, segelas bubble tea untuk Yagi, dan secangkir teh krisan untuk Yifan.

“Ittadakimasu!” Ucap Yagi riang. Yifan senang melihatnya. Menjadi siswa pindahan seperti dirinya dan Yagi memang tidak mudah. Mereka dituntut untuk beradaptasi dengan bahasa juga budaya negeri tempat mereka berpijak saat ini, Jepang.

“Jadi, imbalan apa yang kau minta atas kebaikanmu ini?” Tanya Yifan disela makannya.

“Aku hanya ingin bertanya, dan kau harus menjawab. Tapi habiskan dulu makananmu.” Yifan mengerutkan dahinya bingung. Tidak biasanya Yagi menunda-nunda maksudnya. Yagi bukan gadis yang suka basa-basi. Yifan mengenal baik gadis itu.

“Jadi, Arisa?” Tanya Yifan butuh kepastian. Yagi heran, mengapa Yifan lebih suka memanggil nama belakangnya? Di sisi lain, Yifan telah menghabiskan makanannya lima belas menit yang lalu, dan Yagi baru mengelap bibirnya dengan tissue. Dasar perempuan!

“Yifan, apa kau tahu jika kita ini teman?”

“Tentu saja.”

“Apa hubungan kita yang seperti ini, masih bisa disebut hanya sebagai teman?”

.

.

“Yagi-san?” Yagi menoleh, sesosok siswa jangkung, berkulit putih pucat, bermata sipit, dan dagu runcingnya tengah menatapnya datar.

“Ya?”

“Apa kau punya data bursa saham milik Yamada sensei?”

“Oh, tentu saja. Apa kau mau memintanya?” Tanya Yagi, ia lalu merogoh saku blazernya, dan menemukan sebuah flashdisk.

“Ya.” Jawab Sehun, siswa itu. Yagi memberikan flashdisknya kepada Sehun. Yagi hendak berbalik untuk pergi, namun Sehun buru-buru menahan tangannya.

“Apa lagi?” Tanya Yagi setengah kesal. Sehun menatap matanya dalam seolah meminta penjelasan.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sehun membuat tubuh Yagi menegang di tempat.

.

.

“Kau tahu apa?” Tanya Yagi sinis. Saat ini, Yagi dan Sehun tengah duduk di ayunan yang bersebelahan. Mereka berada di halaman belakang sekolah.

“Raut mukamu tak bisa berbohong, Yagi-san.” Sehun menatap teman sekelasnya khawatir. Yagi terlihat murung. Ia tahu itu. Sehun juga heran, apa teman-teman Yagi yang lain tidak menyadari jika mood Yagi terlihat buruk hari ini? Apa hanya Sehun yang menyadarinya, atau Yagi memang pandai berakting hingga berhasil menutupi semuanya?

“Hun-ah.” Yagi menatap Sehun sendu. Sehun yang ditatap seperti itu hanya salah tingkah. Sama-sama perantau dari Korea mungkin membuat mereka saling memiliki ikatan batin. Mungkin hal itu juga yang membuat Sehun tahu saat Yagi ada masalah. Walaupun mereka tak bisa dikatakan lebih dekat dari teman sekelas. Ya, hanya teman sekelas. Yagi memang siswi pindahan di Tokyo High School. Ia lahir di China, dibesarkan di Korea dan ibunya merupakan orang Jepang. Salahkan pekerjaan ayahnya, yang menuntut Yagi untuk pindah sekolah bahkan sampai lintas negara.

“Mau cerita?” Tanya Sehun acuh tak acuh.

“Apa cintamu pernah ditolak?” Sehun menoleh. Manik coklatnya memperlihatkan Yagi yang memainkan tali ayunan. Tatapan Yagi menerawang ke depan.

“Tidak. Apa kau baru saja patah hati?” Yagi menoleh dan membalas tatapannya kemudian menggeleng.

“Lalu, untuk apa kau bertanya seperti itu?” Sehun mulai tertarik dan meminta penjelasan lebih. Ia melihat Yagi bangkit dari ayunannya kemudian berjalan mendekatinya.

“Tidak ada apa-apa, ayo pulang!” Ajak Yagi. Ia tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Mata kiri Sehun memicing heran.

“Kudengar kau ingin menjadi seorang psikolog. Kenapa?” Tanya Sehun. Yagi mengerutkan dahi heran. Apa maksud Sehun bertanya padanya tentang hal itu? Walaupun begitu, ia tidak akan keberatan menjawab pertanyaan Sehun perihal cita-citanya.

“Tentu saja. Aku ingin bisa memahami perasaan orang-orang. Aku sering penasaran tentang hal itu.”

“Bagaimana bisa kau memahami perasaan orang lain, sedangkan kau belum bisa memahami perasaanmu sendiri.” Yagi tersentak kaget. Ia tidak menyangka kata-kata Sehun mampu memukul telak perasaannya. Sehun seolah bisa menohok lubuk hatinya yang terdalam dan mampu membaca masalahnya. Sebenarnya yang ingin menjadi psikolog siapa? Kenapa justru Sehun yang sangat ahli membaca perasaannya? Sehun sendiri hanya menggeleng tidak habis pikir dengan sikap Yagi. Apa masalah akan selesai jika ditutupi saja? Ia lalu memberi sebuah sapu tangan di telapak tangan Yagi yang terulur sejak tadi.

“Menangislah, jika kau ingin menangis. Mata aimashou, Yagi-san.” Sehun kemudian pergi meninggalkan Yagi sendirian. Genangan air mata di mata Yagi sangat kentara. Ia jatuh terduduk di atas ayunan. Kenapa tidak ada orang yang mau memahaminya? Ia sudah tidak mau mengingat hal itu lagi. Tapi kenapa justru Sehun membuat lukanya kembali menganga hingga sesakit ini? Tanpa disuruh, Kristal-kristal bening itu mengalir meninggalkan matanya. Ia menangis tanpa suara, berharap itu dapat mengurangi rasa sakitnya walau sedikit.

“Benar Sehun, hiks.. Yifan baru saja menolakku. Dia membuatku berharap banyak, hiks. Tapi aku tak tahu dia hanya menganggapku tak lebih.. hiks, dari sekedar teman.” Yagi menyeka air matanya dengan sapu tangan pemberian Sehun. Ia menangis terisak.

“Terima kasih, Hun-ah.”

END

Ittadakimasu               : Selamat makan

Sensei                          : Guru

Mata aimashou           : Sampai jumpa lagi

Yagi-san                      : -san di Jepang seperti –ssi di Korea. Jadi itu untuk panggilan kepada orang yang gak terlalu akrab atau untuk orang yang dihormati.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s