[IFK Movie Request] Serendipity

serendipity

Requested by wintalias

Casts Brian Kang [DAY6], Kashiragi Mariko [wintalias’s OC] Genre Romance, office-life Duration Ficlet Rating PG-17

© 2016 namtaegenic

:::::

“Entahlah, aku merasa dimusuhi.”

.

Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak Kashiragi Mariko, bahwa ia akan kembali bertatap muka dengan Brian Kang—masa lalu yang menjengkelkan dan membuatnya tidak ingin bertemu dengan pria itu. Bagaimana mungkin sekarang Brian Kang berada di Tokyo, di perusahaan real estate tempat Mariko bekerja? Bagaimana mungkin Brian Kang yang dulu menghabiskan waktunya dengan mengencani gadis mana pun, kini berdiri di hadapannya berbalut setelan necis berwarna beige dan hitam—yang mana membuatnya terlihat super keren namun Mariko tidak akan mengakuinya tersurat dan tersirat. Bagaimana mungkin Brian Kang ternyata adalah—

“Aku datang untuk membantu pamanku.”

—keponakan direktur perusahaan ini? Bagaimana mungkin dunia begitu sempit? Kenapa ia bisa punya paman yang punya darah Jepang?

“Ia bilang, ada yang menyembunyikan berkas berisi advice planning kavling tanah perusahaan yang ada di Saitama. Ah, menyembunyikan mungkin terlalu halus. Tepatnya, mencuri. Kau arsiteknya kan, Kashiragi Mariko? Kau pasti tahu sesuatu mengenai hal ini.” Lagaknya seperti Kogoro Mouri yang sedang berada pada detik-detik terbodoh dalam sejarah pemecahan kasusnya.

“Arsitek tidak pernah memegang advice planning, Tuan Muda. Benar, aku mempelajarinya, tapi kukembalikan pada pengarsipan,” ujar Mariko, mencoba untuk tidak terintimidasi, dan tampaknya berhasil, karena Brian Kang lantas memelototinya. “Kok kau nggak sopan?”

Mengangkat bahu, Mariko membuang muka.

“Oke, oke,” kata Brian akhirnya. “Atas perintah pamanku (dia senang sekali berada di bawah ketiak pamannya, pikir Mariko), aku akan berada di perusahaan ini untuk menyelidiki soal di mana advice planning itu.”

“Kau polisi?”

“Bukan.”

“Detektif?”

“Bukan.”

“Lalu kenapa harus kau yang menyelesaikan ini?”

Brian menghela napas, seakan Mariko sudah menyedot habis kesabarannya. “Pokoknya kau harus membantuku.”

Sial.

:::::

“Aku tidak tahu kenapa kita harus mengendap-endap seperti ini.” Mariko menyikut perut Brian agar tidak berdiri terlalu dekat dengannya, membuat pria itu melompat kaget dan terpaksa menjaga jaraknya agar tidak mendapatkan pukulan kedua. Mariko cenderung kurus dan sikunya bisa melukai siapa saja.

“Seperti inilah penyelidikan, Nona!”

“Atau penerobosan privasi!” Mariko balas mendesis, disambut dengan Brian yang menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, menyuruh Mariko diam. Saat itu adalah jam istirahat, para karyawan biasanya menikmati makan siang di kafetaria bawah tanah. Kantor sepi pada jam-jam itu, kecuali mungkin beberapa yang masih menyelesaikan tugasnya, mereka memilih mengunyah sambil bekerja.

Target pertama penyelidikan adalah Kusunoki Fu—bagian pengarsipan. Jelas sekali bahwa kehebohan mengenai advice planning itu berawal dari laporan Kusunoki bahwa tidak ada advice planning daerah Kouta, Saitama, yang akan menjadi lokasi dibangunnya perumahan baru beserta taman sambutan. Direktur Matsukura marah sekali waktu itu, tapi ia tidak segera mengurusnya. Karena itulah Brian Kang di sini. Mariko masih berusaha mengira-ngira silsilah keluarga Brian yang memiliki darah Jepang. Barangkali kakak perempuan dari ibu atau ayahnya menikah dengan orang Jepang, yang mana membuat Brian sebenarnya tidak berhubungan darah langsung dengan Direktur Matsukura, atau ada orang tuanya Brian punya saudara tiri berbeda ayah yang menikah dengan orang Jep—

“Kau mau ke mana?” tanya Mariko begitu dilihatnya Brian masuk ke ruang arsip. Tanpa menjawab, Brian dengan tangkas membuka-buka laci meja Kusunoki. Mariko seperti terkena serangan jantung melihat aksinya. Gerakannya begitu cepat sehingga belum-belum ia sudah berpindah-pindah laci, lemari, dan file cabinet. Mariko bertanya-tanya apakah Brian Kang pernah melakukan aksi kriminal dengan memanfaatkan kegesitan tangannya.

Oh, mungkin ia hanya terbiasa main gitar.

Brian keluar lagi dengan tangan kosong. “Advice planning-nya memang hilang.”

“Sungguh tidak terduga!” sindirku. Brian mengerutkan dahinya lantas menarikku ke tepi.

“Kau kenapa, sih?”

“Kenapa apanya?” Mariko melepaskan tangannya dari Brian.

“Entahlah, aku merasa dimusuhi.”

“Memangnya kita anak SD?”

Brian memandang Mariko dengan tatapan memicing, lantas tawanya lolos dan ia mengangguk-angguk. “Aku tahu.”

“Tahu apa?” tanya Mariko.

“Kau bertingkah biar aku kembali padamu, kan?”

Mariko yakin kini mulutnya sedang menganga lebar. Bisa-bisanya pria di hadapannya ini mengarang-ngarang cerita demi memenuhi khayalan tingkat tingginya mengenai hubungan mereka yang sudah kandas dua tahun yang lalu. Percaya diri sekali!

“Kembali padamu dan menjadi salah satu dari gadis yang namanya ikut serta dalam lirik lagu yang sama? Tembak saja kepalaku!”

Brian termangu, tampak tidak menyangka rentetan kalimat itu meluncur bebas dari mulut Mariko. Ingatannya berkelana mundur, ketika Mariko tidak sengaja membuka catatan berisi lirik-lirik lagu yang ditulis oleh Brian. Ada sebuah lirik, yang tadinya ditujukan untuk Mariko lengkap dengan permainan gitar dari si penulis sendiri, dan waktu itu namanya bukan lagi nama gadis itu. Begitu pula dengan lagu-lagu yang lain. Seakan nama Mariko menguap begitu saja dari catatan Brian, dan tergantikan oleh nama lain.

Waktu itu Mariko hanya menghela napas dalam-dalam. Ia tidak perlu waktu lama untuk melontarkan kata putus dan melempar buku catatan Brian ke selokan.

“Sedang apa kalian di depan ruanganku?” tiba-tiba saja Kusunoki sudah berada di sana. Napas mariko tercekat, tidak mempersiapkan alasan sama sekali. Tapi Brian menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang.

“Urusan pribadi. Dia teman lamaku.”

:::::

Seakan lupa pada pembicaraan di depan ruang pengarsipan siang kemarin, Brian kembali menarik Mariko saat jam makan siang untuk bertualang ke ruang selanjutnya. Mengorbankan jam makan siang hingga beberapa hari ke depan, Brian dengan cekatan memeriksa ruangan masing-masing divisi, dan melemparkan pertanyaan yang memancing kala tak sengaja mengobrol dengan beberapa karyawan. Belum juga menemukan pelakunya, Brian menyerah.

“Kenapa tidak kautanyakan pada… bukannya aku menuduh… office boy perusahaan ini?” Mariko akhirnya merasa tergerak untuk membantu. Sebenarnya, penyelesaian dari hilangnya berkas Saitama itu bisa diatasi dengan mencetak ulang di pihak yang berwenang. Tapi Direktur Matsukura punya nama baik, dan menghilangkan berkas penting seperti itu akan mencorengnya dan menobatkannya sebagai atasan yang tidak becus.

Brian bangkit, seakan ide itu begitu briliannya sampai-sampai tak pernah terlintas di benaknya padahal setiap hari para office boy itu mondar-mandir di seantero kantor.

Lantas ia mencolek Satoh Maika, seorang office girl yang baru saja mengangkat cangkir-cangkir untuk dicuci. “Adakah di antara kalian yang menemukan berkas milik perusahaan yang tertinggal di meja atau di mana pun kalian membersihkan?”

Tanpa diduga-duga, Satoh mengangguk. “Tanya sama Nakamura, Pak. Seminggu yang lalu ia menemukan satu map plastik berisi kertas-kertas. Ditaruhnya di ruang istirahat kami.”

Brian menepuk dahinya, begitu pula dengan Mariko.

“Kenapa tidak ada yang bilang?”

Satoh menggaruk tengkuk dan dengan polosnya menjawab. “Tanya Nakamura saja, Pak. Saya tidak tahu apa-apa.”

Lalu ia melesat pergi tanpa permisi.

:::::

Nakamura Minori bertubuh mungil dan memiliki gigi kelinci yang sangat mencolok. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Mariko. Nakamura Minori adalah office girl yang kapan hari didamprat habis-habisan oleh Supervisor Ichikawa, mengenai kelebihan jumlah hari cuti. Ichikawa mengancam akan melaporkannya pada Direktur Matsukura agar ia diberi sanksi—atau dipecat sekalian. Nakamura Minori sudah berusaha menjelaskan bahwa anaknya sakit, dan ia harus mengurus hal-hal lainnya. Tapi surat peringatan bertandatangan Direktur Matsukura sudah bertengger di meja pantry beberapa hari selanjutnya. Beberapa karyawan membicarakan hal itu, betapa kasihannya Nakamura Minori, dan betapa mereka sebal pada Ichikawa yang tukang mengadu.

Jadi, menurut Mariko, Nakamura tidak langsung menyerahkan berkas advice planning yang ketinggalan di meja ruang kumpul karyawan, bukan karena ia lupa atau karena tidak ada yang bertanya. Tapi karena ia marah pada Direktur Matsukura.

Setidaknya, itulah yang diakui Nakamura Minori saat Mariko dan Brian menanyakan berkas tersebut. Tidak ada yang memaksanya menjelaskan apa pun. Nakamura sendiri yang bercerita dengan gemas. Mungkin ia juga butuh tempat untuk melapor.

Saat itu Mariko pikir Brian akan melaporkan Nakamura pada pamannya. Tapi advice planning itu diakui Brian terjatuh di bawah meja tamu dekat ruang arsip, tanpa menyalahkan Kusunoki karena kecerobohannya meninggalkan berkas penting itu di sembarang tempat.

Untuk kali ini, biarlah Mariko berpikir Brian sudah jadi pahlawan para karyawan.

:::::

Brian menraktir Mariko makan sushi sebagai ganti makan siang gadis itu yang tertunda belakangan ini lantaran ia seret tangannya ke mana-mana. Tentu saja Mariko senang bukan kepalang. Ini restoran sushi terbaru di daerah kantornya, dan semua karyawan membicarakan rasanya yang memanjakan lidah.

Dan tampaknya makan siang ini juga jadi perpisahan.

“Jadi, kau naik penerbangan pukul berapa?” tanya Mariko, berusaha menahan diri menghadapi indahnya susunan sushi  di hadapannya.

“Penerbangan pertama, besok subuh. Jadi kau tidak perlu repot-repot menyuguhkan adegan perpisahan berurai air mata di bandara.”

“Sial!” Mariko menendang kaki Brian, tapi mereka tertawa. Jeda diisi keduanya dengan menikmati makanan, kemudian Brian kembali membuka konversasi.

“Oh iya, aku belum minta maaf soal yang waktu itu.”

Mariko melambai-lambaikan tangannya. “Ah sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah lupa. Lagi pula yang waktu itu tidak sepenuhnya salahmu.”

“Tentu saja itu salahku! Aku masih terlalu muda untuk berpikir bahwa kau… um… “ ucapan Brian menggantung di udara, dan tidak ada potongan sushi untuk dikunyah mulutnya demi mengulur waktu.

“Bahwa aku…?” Mariko menagih kelanjutannya.

“Bahwa kau… tetap tinggal meskipun kau pergi,” Brian menempelkan ujung telunjuk ke dadanya sendiri. “Tinggal di sini.”

“Kau tidak mau mengusirku dari sana?” tanya si gadis. Brian memutar bola matanya. “Percayalah, aku sudah berusaha keras. Tapi kau tidak mau pergi. Apa menurutmu aku harus menyewa satpam untuk mengusirmu dari hatiku?”

Mariko mengerang jijik sekaligus geli. Brian Kang belum berubah, masih norak. Norak, menyebalkan, tapi berbakat, dan mudah sekali dirindukan. Terutama tawa renyahnya.

“Carilah pacar baru,” Mariko menasihati.

“Kau saja.”

“Aku saja yang cari pacar?”

“Kau saja yang jadi pacarku.”

“Lagi?”

Brian mengangguk, membuat Mariko salah tingkah. Ia akan pikirkan soal ini, pasti. Tapi Brian tidak boleh dapat jawaban cepat. Mariko harus meningkatkan standar penilaiannya. Brian harus berusaha dulu. Kali ini lebih keras.

Hingga Mariko menyatakan bahwa Brian-lah pemenangnya.

FIN.

16 thoughts on “[IFK Movie Request] Serendipity”

  1. Wua… Makasih, makasih, makasih Kak Ecii😄😄
    Aku nggak tahu harus berkomen seperti apa:)) pokoknya bagus! Kak Eci mah selalu membuat hati ini cmiwinggg😳😳 dan Bribri.. Ah sudahlah:))
    Paling suka bagian yang ada nyuruh-nyuruh jadi pacar lagi, hiyyyyyaaaa😄😄
    Aku sih yakin kalo genre-genre kayak gini pasti habis ditebas (?) sama Kak Eci. Pokoknya keep writing kakkk!!

    Sebelumnya aku juga minta maaf, karena mungkin baru beberapa kali melapak(?) di tulisannya Kak Eci😢 itu karena aku suka speechless orangnya, susah mengungkapkan kekaguman dalam kata-kata(?) Tapi untuk ke depan kuusahakan untuk komentarin part-part favoritku di tulisannya Kak Eci😂😂😂 Tulisannya Kak Eci pokoknya, cerdas, disiplin, luar biasa, YESSS!!

    Sekali lagi, terimakasih! 😊😊

    Suka

  2. Tulisan kak eci ini asyik dan walaupun romance juga gak romance-romance tapi asyik tapi suka tapi susah lagi mau bilang apa pokoknya ditunggu cerita lainnya^^

    Suka

  3. Aku mauu jadi pacarmu, Bri… /siapague/ daripada kamu pacaran sama Jane atau Lisa (baca: bass-nya dia) mending sama aku deh😄

    Fic nya manis semanis senyumnya Yongkeh *ehm* Brian maksudnya… (panggilan kesayangannya keluar deh)😀

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s