[Oneshot] Old Friend

Old Friend

Old Friend

Scriptwriter: deerochan | Casts: Seungcheol (SVT), Jeonghan (SVT) | Support Casts: Min (OC), Mi Jin (OC) | Genre: friendship, sad | Rating: PG-13 | Duration: Oneshot, 3000+ words

Summary:

Seungcheol… Terima kasih untuk enam tahunnya.

 

Aku menyeret kakiku keluar kamar, terseok-seok. Dengan tisu di hidung dan selimut menutupi seluruh tubuhku, aku membuka pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarku.

            Jgrek! Jeonghan tampak terkejut ketika aku membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk. Ia menurunkan pundaknya dan menghela napas singkat, “Rupanya kau, toh.”

            Ia sedang berkutat dengan tugasnya lagi, aku tahu dengan sekali lirik begitu melihatnya. Kacamata yang singgah dengan manis di atas hidungnya, sebuah mug dengan cappucino yang sudah dingin, rambutnya yang digulung ke atas, serta beberapa buku referensi tebal-tebal di samping laptop putihnya.

            “Ini sudah jam sepuluh malam, ada apa kemari?” Jeonghan membetulkan letak kacamatanya dan mengembalikan fokusnya pada tugasnya itu. Tik, tik, tik, jemari Jeonghan dengan lihai bermain di atas keyboard laptop.

            “Unggg…” aku menggumam, memperdengarkan suara flu-ku padanya.

            Jeonghan menoleh, ia  melepas kaca matanya dan menaruhnya di atas meja belajar. “Demi Tuhan, Seungcheol? Ini sudah ketiga kalinya minggu ini.” Ia segera turun dari kursi belajarnya, membereskan kasurnya sedikit—yang sebenarnya sudah terlampau rapi—untuk membiarkan aku berbaring di sana. Aku cengengesan, berbaring di kasur empuk nan bersih milik Jeonghan dan menyelimuti tubuhku sampai leher. Jeonghan membuka lemari dan mengambil sebuah selimut dari sana.

            “Maaf ya. Ah, hey—tidak perlu selimut baru!”

            Jeonghan tersenyum ringan. “Tidak apa-apa. Ini baru saja dari laundry, kau akan suka baunya.” Laki-laki itu melebarkan selimut putih dan aroma pewangi pun merebak. Ia menyelimutiku di atas selimut, membuatku makin hangat.

            “Thank you, malaikatku.” Aku memperlihatkan wajah menangis terharu sedangkan Jeonghan mendengus.

            “Dari pada bilang terima kasih, sebaiknya kau cepat ke dokter, oke? Lagi pula, harusnya kau segera bilang pada pengurus asrama kalau pemanas di kamarmu rusak. Kalau begini terus, flu-mu tak akan sembuh.” Jeonghan mengambil mug dari raknya yang rapi.

            “Apa itu cokelat panas?” tanyaku penasaran, menyembul dari balik selimutku. Jeonghan mengangguk tanpa suara. “Kau sudah minum obat, ‘kan?”

            “Sudaaah,” jawabku berbohong. Obat flu-ku sudah habis, dan aku tak mau lebih merepotkan Jeonghan dengan menyuruhnya pergi ke apotik jam sepuluh malam.

            Pandanganku menyapu kamar asrama Jeonghan. Dilihat sekilas pun, kamar temanku ini memang berpuluh kali lipat lebih nyaman ketimbang kamarku. Jeonghan adalah orang yang sangat teliti dan suka kebersihan. Barang-barang di kamarnya didominasi oleh warna putih—sprei, tirai, rak, selimut, gadget, karpet, pakaian, alat makan dan sebagainya. Ia rajin mengganti spreinya, ia pun menaruh pengharum ruangan beraroma bunga. Karpet di kamarnya selalu bersih. Rak bukunya berisi buku-buku bacaan berat yang aku tidak mengerti sama sekali serta banyak CD kompilasi musik jazz. Bukan hanya itu, ia mengurutkan pakaian dari warnanya dan buku dari alfabetnya dengan telaten. Kamarnya selalu bersih dan harum. Ia terlampau cermat sebagai anak lelaki.

            Aku dan Jeonghan sudah bersahabat dari SMU. Tahun ini adalah tahun keenam kami bersama, kami pun sama-sama tinggal di asrama kampus. Sejak SMU, Jeonghan adalah seseorang yang amat populer. Dia disukai pria maupun wanita. Laki-laki senang berteman dengannya, perempuan pun menggilainya. Belum cukup, ia disukai orang tua—guru-guru, dosen, bahkan orang tuaku—serta dekat dengan anak kecil.

            Tuhan menciptakan Jeonghan dengan banyak kelebihan. Paras, otak serta kepribadian. Ia selalu sabar mempunyai teman sepertiku, itulah mengapa aku selalu saja bersandar padanya. Jeonghan yang sudah seringkali menjadi ketua itu juga sabar dalam mengajari teman-temannya pelajaran yang tidak mereka mengerti. Cowok berambut panjang itu mengurus dirinya dengan amat baik meski sekarang kami jauh dari orang tua.

            Aku selalu bersamanya dan menganggap dia adalah bagian dari diriku. Tapi, selama enam tahun ini, percaya atau tidak… Aku sama sekali belum pernah pergi ke rumahnya.

            Ya, Jeonghan tak mengizinkanku. Ia selalu tertutup jika itu masalah keluarganya. Aku percaya ia berasal dari keluarga berada, dilihat dari kemampuannya membeli banyak pakaian dan barang mahal. Jika aku bertanya, ia selalu menjawab ‘tidak’.

            Yah, tapi siapa peduli? Selama kami masih berteman baik, aku tak akan melanggar privasinya. Lagipula, meski hanya aku yang paling sering menceritakan semua tentang diriku, dia tampak senang-senang saja.

            “Hey, apa kau tidur? Cokelat panasmu menunggu,” suara Jeonghan membuyarkan lamunanku. Aku membalikkan badanku dan tersenyum, berusaha duduk untuk menikmati cokelat panasku.

            Ia duduk di sisi tempat tidur dan ikut mengambil mugnya untuk menyesap cappucino. Terlihat guratan lelah di wajahnya, tapi tugas-tugas kami memang sudah terlalu banyak untuk ditunda lagi. Terlebih, Jeonghan tipikal yang tak bisa santai sebelum tanggung jawabnya selesai.

            “Maafkan aku, ya,” aku menggumam. Jeonghan tertawa tanpa suara dan menggeleng.

            “Kuharap kamu tidak akan tertular flu-ku. Itu akan menyusahkanmu, pasti.”

            “Kuharap tidak,” balasnya, “Apa kau merasa nyaman? Atau haruskah aku menggelar kasur lipatku di bawah?”

            “Apa? Heeei, hentikan. Kasurmu ini besar sekali. Lagipula, tentu saja aku nyaman. Dibandingkan kamarku, kamar ini seperti surga.”

            “Kau harus membersihkannya sesekali, Seungcheol.” Jeonghan menatapku serius. Ia telah menasehatiku begini beberapa kali. Tak ingin membahasnya lebih lanjut, aku hanya mengangguk.

            Jeonghan dan aku diam beberapa saat. Kami larut dalam pikiran masing-masing.

            “Hey, Jeonghan.”

            “Hm?”

            Aku mengambil napas. “Aku putus dengan Yoon Ra.”

            “Apa katamu?” Jeonghan menoleh dan menatapku tak percaya. “Lagi?”

            “Yup.”

            “Kapan?”

            “Kemarin malam.”

            Jeonghan terdiam. Tatapannya lurus ke mataku. “Kenapa kau tak segera cerita?”

            “Kau tidur pulas kemarin malam,” jawabku. “Sudahlah, kurasa ini yang terakhir kalinya.”

            “Kau sudah bilang begitu empat kali, Seungcheol.”

            “Ini benar-benar sudah yang terakhir kali, Jeonghan,” balasku dengan nada pelan. Bibirku terangkat naik. “Sedih, memang, tapi aku merasa lebih lega sekarang.”

            “Itu sayang sekali. Padahal sepekan lalu, Yoon Ra masih sering meneleponku untuk menanyakan keadaanmu,” ucap Jeonghan, mendesah pelan.

            “Wah, wah,” aku membelalakkan mataku. “Jangan-jangan… Karena itu? Yoon Ra memutuskanku karena ia sudah terpikat padamu? Hahaha!” gurauku lalu tertawa pada ucapanku sendiri. Namun sebaliknya kulihat Jeonghan hanya diam, menatapku tertegun.

            Ups. Sepertinya aku sudah salah bicara. Aku menghentikan tawaku segera. Yah… Bisa dibilang ini adalah topik sensitif bagi kami berdua.

            “Maafkan aku,” kata Jeonghan pelan. Tuh, kan… Seungcheol bodoh, umpatku dalam hati.

            “Hei, hei, aku cuma salah bicara. Lupakan soal gadis Mi Jin itu, oke? Itu sudah lebih dari setengah tahun yang lalu. Ah, dasar mulut jelek ini,” aku menunjuk mulutku dan Jeonghan pun tersenyum kembali.

            “Ngomong-ngomong, kamu bagaimana? Dua puluh satu, lho. Masa kamu sama sekali belum pernah pacaran selama dua puluh satu tahun kamu hidup, Jeonghan?” tanyaku mengalihkan topik sekaligus menggodanya.

            “Aku pernah, kok,” jawabnya singkat sambil cemberut.

            “Cinta monyet saat kau berumur tiga belas tahun itu? Cih, dasar. Itu tidak bisa disebut punya pacar!” ejekku sambil menendang kakinya di sela selimut tebalku. “Padahal kau ini sangat populer di kampus.”

            “Tidak, kok. Kau membicarakan dirimu sendiri.”

            Aku meneguk cokelat panasku. “Semoga Tuhan membukakan matamu.” Ucapku membuatnya mencibir, “Apa tidak ada satu pun gadis yang menarik perhatianmu?”
Jeonghan hanya diam dan menatap acak ke lantai. “Aku juga tidak tahu.”

            “Kau tahu, tidak? Kadang-kadang kau terlalu serius.” Aku mendorong dahinya dengan jari telunjuk, dan Jeonghan hanya mengaduh pelan. “Ayo kita refreshing. Bulan depan setelah ujian, aku akan pulang ke rumah. Ikut, ya?”

            “Kau pulang?” tanya Jeonghan, memastikan ucapanku.

            “Yup! Aku sudah kangen setengah mati sama Min,” jawabku. “Ikutlah!”

            Jeonghan terdiam sejenak. “Ayolah, apa, sih, yang mau kamu lakukan di asrama ini selama berbulan-bulan? Biasanya kau juga tidak pulang. Ya? Kau sudah lama tidak ke sana, ‘kan. Ya? Ya? Ya?”

            “Hmm, baiklah,” Jeonghan akhirnya tersenyum dan mengangguk setuju.

  • ••

            Minggu ujian yang berat sudah terlewati. Tugas-tugas yang menguras jam bersantai dan jam tidurku pun mampu kuselesaikan—meski 50% dengan bantuan Jeonghan, sih.

            Aku sudah sampai di rumahku kemarin malam. Pagi di hari libur yang malas terasa seperti surga dunia bagiku. Aku rindu kamar dengan ratusan komik dan video game ini!

            Tapi, jangan harap saat terbangun Jeonghan akan ada di sampingku, ikut bermalas-malasan di pagi hari. Yang namanya Jeonghan akan bangun lebih pagi dari yang lain dengan kasur yang sudah rapi—mungkin meskipun ada undang-undang yang mengharuskan orang untuk bersantai di hari libur, lelaki sepertinya masih akan merasa gelisah dan akhirnya memutuskan bangun pagi.

            Jeonghan sudah lama tidak kemari. Ia pernah bilang bahwa ia menyukai kolam ikan di kebun belakangku. Kadang-kadang, aku menemukannya di sana sedang duduk menikmati udara pagi atau sore.

            Aku memutuskan mencarinya di sana. Aku berdiri, meregangkan otot-ototku dan berjalan menuju kebun belakang. Namun ketika aku sampai di sana, aku melihat Min, adik perempuanku juga berada di sana. Ia tampak baru saja datang untuk memberi Jeonghan sepiring semangka.

            Sontak saja aku yang sudah rindu setengah mati padanya berlari dan memeluknya erat dari belakang. Min yang mungil itu terlonjak dan memekik kecil. “YAH! Kakak, kau mengagetkanku, tahu!”

            “Hehehe,” aku terkekeh dan mencium rambut Min. “Habis tadi malam ketika aku sampai, kamu sudah tidur. Nggak asyik, tahu.”

            “Kalian selalu saja mesra,” sahut Jeonghan melihat aku masih memeluk Min lama. Hubunganku dan Min sangat dekat sejak kecil. Kami hanya dua bersaudara. Itulah sebabnya, Min dan aku pernah menangis bersama saat aku hendak masuk asrama.

            “Jeonghan-sshi, apakah kakakku juga selalu menempelmu seperti ini?” tanya Min sebal, berlagak akan melepaskan pelukanku namun tidak berhasil.

            “Bisa dibilang begitu,” aku menjawabnya lebih dulu dengan cepat. Jeonghan tertawa sementara Min hanya geleng-geleng kepala.

            Beberapa hari aku menghabiskan liburanku bersama Min dan Jeonghan. Karena sudah lama tidak pulang, aku memainkan kembali semua kaset video game-ku. Jeonghan mau-mau saja selama itu bukan game gulat dengan darah yang muncrat ke mana-mana, karena ia bisa pusing melihatnya.

            Jeonghan terlihat cukup menikmati liburan kami. Wajah anak lelaki itu menjadi lebih segar dan ceria sekarang. Belakangan lalu, ia selalu terlihat lelah dan jenuh.

            Syukurlah.

  • ••

            Rabu sore yang mendung, minggu ketiga aku dan Jeonghan berada di rumahku. Saat itu aku pulang dari minimarket untuk membeli kebutuhan rumah yang diminta Min. Ibu dan Ayahku tidak pulang malam ini untuk menginap di rumah Nenek yang katanya sedang sakit.

            Tak terlintas pikiran apapun sesampainya aku di rumah. Aku hanya heran melihat lampu ruang tengah belum juga dinyalakan. Memang, sih, aku pergi cukup lama karena mampir ke kedai mi yang dulu sering kukunjungi.

            Ke mana Jeonghan dan Min? Apa mereka di kamar masing-masing? Kurasa Jeonghan sedang tidur, batinku.

            Aku pergi ke halaman belakang rumah untuk menengok apakah Jeonghan ada di sana lagi. Namun kakiku yang mengarah ke sana pun berhenti seketika saat dari jarak beberapa meter aku melihat pemandangan yang belum pernah kubayangankan sebelumnya.

            DEG! Jantungku berpacu dengan cepat melihat siluet dua orang yang kukenal dari belakang di kebun belakang rumahku. Aku mendekat perlahan, dan menatap lekat mereka berdua.

            Jeonghan dan Min. Apa yang mereka lakukan?

Langkahku kian mendekat hingga pintu kaca kebun belakang tinggal selangkah lagi dariku. Tenggorokanku kering melihat apa yang ada persis di hadapanku.

Mereka sedang berciuman.

            Ya. Sahabatku Jeonghan dan adikku Min.

Wajahku mengeras, masih berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang kulihat benar-benar nyata. Tapi mereka tak kunjung selesai.

BRUG! Aku menjatuhkan kantong belanjaanku dan membuat wajah mereka yang tadinya saling bertautan menoleh kaget. Aku membuka pintu geser kaca dengan kasar, gemuruh di dadaku berkobar.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

Aku bisa mendengar suaraku menggema ke seluruh sudut rumahku. Wajah Jeonghan kaku, tak mampu berkata-kata melihat aku tiba-tiba muncul di sana. Wajah Min adikku jauh lebih pias lagi. Aku bisa melihat dengan jelas kakinya yang gemetaran saat berdiri.

“Kakak, ini…”

“Jeonghan,” aku menggertakkan gigiku, maju selangkah, menekan emosiku sekuat tenaga. Kalau aku tidak ingat bahwa dia adalah sahabat terdekatku, aku akan memukul rahangnya kuat-kuat saat ini.

“Aku…” Jeonghan mengerjap-ngerjap takut. Ia bingung mencari kalimat penjelasan dan berakhir tak berkata apapun. Mulutnya menutup kembali. Ekspresinya seperti menyiapkan hati.

Sementara aku, emosiku sudah sampai ubun-ubun. Dengan segala kemarahan, aku meneriakinya. “Cepat keluar dari rumahku sebelum aku memukulmu.”

“Kakak!” Min membelalakkan matanya tak percaya. “Kau bahkan tak mau mendengarkannya dulu!”

“DIAM!” aku berteriak lagi, kali ini pada Min. Aku tak tahu kapan terakhir kalinya aku bersuara keras padanya. Min bungkam.

“Seungcheol… Apa salahnya aku mencium orang yang kusukai?”

Pertanyaan singkat Jeonghan membuatku makin naik pitam. Aku ingin menjawab seribu alasan mengapa Jeonghan salah besar mencium adikku. Tapi satu-satunya hal utama yang kupikirkan saat ini adalah, “Dia masih lima belas tahun, Jeonghan!!!”

Jeonghan terdiam menatapku, tampak tak berniat untuk membalas bentakanku. Min menunduk, aku tak tahu apakah ia menangis atau tidak. “Kau tak pernah berkata apapun tentang orang yang kau sukai, kau pun tak pernah berkata apapun tentang Min,” aku menekan nada bicaraku serendah mungkin. “Dan sekarang tiba-tiba kau menciumnya? Mencium adik perempuanku?” lanjutku, mendesis.

Jeonghan masih diam. Aku sama sekali tak tahu apa yang dipikirkannya maupun apa arti dari rautnya yang susah dibaca. Tanpa mau menunggu waktu lama, aku menarik bahunya kasar menuju ruang tengah. “Kau masih ingat pintu keluar rumahku, bukan? Ambil barang-barangmu dan keluar.”

Mulut Jeonghan seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tetap berjalan menuruti perintahku. “Seungcheol…”

“Tak perlu repot-repot menjelaskan apa-apa. Aku sudah kecewa.” Aku bisa mendengar nada suaraku bergetar. “Amat kecewa.”

“Maaf.”

Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Jeonghan sebelum ia benar-benar meninggalkan rumahku.

Min masih terisak-isak, tak berani melangkah kemanapun. Aku memandanginya tak mengerti, bagaimana dia bisa melakukan hal semacam itu dengan Jeonghan.

“Masuklah kamarmu,” perintahku membuat Min mengangkat kepalanya. “Kita sama-sama mendinginkan kepala. Sampai aku kembali tenang, aku tak mau melihatmu lagi.”

Kata-kata tajamku mampu membuat Min segera berlari memasuki kamarnya. Mataku terasa nyeri menatap langkah Min menjauh dengan isakannya yang terdengar pilu.

Hancur sudah hubunganku dengan dua orang yang paling berharga bagiku, batinku.

Hancur sudah.

  • ••

Sudah seminggu sejak kejadian yang membuat hubunganku dengan Jeonghan retak. Aku tak pernah bertengkar dengannya selama ini. Biasanya, hanya terpaut beberapa jam saja, kami akan melupakan segala pertengkaran dan kemarahan kami.

Tapi kali ini beda. Ini menyangkut adik perempuanku satu-satunya, yang tak akan kuserahkan pada sembarangan orang.

Aku duduk di sofa ruang tengah, tak melakukan apapun. Satu-satunya hal yang kudengar saat ini adalah detik-detik jarum jam dinding. Hari-hari ini terasa amat lambat. Dan kosong.

Aku tak menghubungi Jeonghan sama sekali, begitupun sebaliknya. Jeonghan juga pasti merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.

Cklek! Aku mendengar pintu dibuka. Rupanya Min baru saja pulang dari sekolah. Aku tetap diam, seolah tak mendengar apapun. Sudah seminggu ini pula Min dan aku tak saling bicara.

Aku mendengar derap langkah Min menuju dapur. Ia membuka kulkas dan menuangkan air dingin di gelasnya.

Biasanya aku akan bilang, “Jangan minum air dingin! Cuaca sedang buruk, kau bisa batuk.”

Tapi aku hanya diam. Tak berniat mengatakan apapun.

“Kakak.”

Aku terkejut dengan panggilan Min yang tiba-tiba. Aku melirik ke arahnya, ini pertama kalinya dalam seminggu ia bicara padaku.

“Kakak,” ulangnya, kali ini dia mendekat padaku. Aku diam, memandang dirinya yang masih berseragam sekolah mengambil duduk di sofa kecil di depanku.

“Sampai kapan kakak akan mendiamkanku seperti ini?”

“Sampai kau sadar bahwa apa yang kau perbuat itu salah,” balasku cepat.

Min mendesah panjang. “Aku sadar, aku salah. Tapi apakah kakak tidak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali?”

Aku bangkit dan mengambil posisi duduk berhadapan dengannya, sadar ini akan menjadi pembicaraan serius di antara kami. “Apa yang akan kau jelaskan? Apa kau ingin bilang bahwa kalian hanya tak sengaja berciuman? Atau kalian sedang latihan drama, huh?” sindirku tajam.

Tiba-tiba, mata Min berkaca-kaca. Aku segera menghentikan ucapanku dan diam-diam menyesalinya.

“Tidakkah kakak ingin mendengarkan penjelasanku dulu?”

Aku diam. Sudah seminggu berlalu, mungkin ini sudah saatnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Aku juga ingin meluruskan semuanya. Lagipula aku tak ingin melihat Min menangis—tidak lagi.

“Kakak, apakah salah jika aku menyukai Jeonghan Oppa?” tanya adikku itu dengan wajah sendu. Aku tak mampu menjawabnya. Aku tak ingin kami salah menangkap maksud satu sama lain, jadi aku memilih diam.

Sesungguhnya bila dipikirkan dengan baik, siapa yang tak menyukai Jeonghan? Bahkan tanpa kenal baik pun, semua perempuan bisa menyukainya hanya dengan melihat paras dan senyumnya. Apalagi dengan Min yang sudah mengenal pribadi bak malaikatnya bertahun-tahun.

Tapi menurutku, itu salah.

“Apakah salah aku menyukai Jeonghan? Di saat kakak selalu menceritakan semua hal tentangnya padaku. Di saat kakak berulang kali menceritakan kebaikan-kebaikan Jeonghan pada kakak selama ini. Di saat kakak selalu saja membahas dirinya setiap kali kita berdua bertemu?”

Aku tertegun mendengarnya.

“Aku hanya menyapanya jika dia datang kemari. Pada awalnya, aku hanya merasa berterimakasih padanya karena telah mengurus kakak dengan sangat baik. Lalu, tumbuh rasa kagum akan pribadinya. Ia sungguh berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Tanpa peduli bahwa ia enam tahun di atasku, aku mulai jatuh cinta padanya.”

“Tahukah kakak sejak kapan? Sejak tiga tahun lalu. Aku mulai menyadarinya saat kakak akan pergi ke asrama bersamanya. Selain berat melepaskan kakak, aku juga merasa amat berat melepaskan Jeonghan. Dia tak akan datang kemari lagi. Aku tidak akan melihat wajahnya lagi untuk berbulan-bulan. Semakin kupikirkan, aku semakin sedih. Aku menangis tanpa tahu apa alasannya pada awalnya,” jelas adikku terputus-putus, ia menyeka setitik air mata pada mata kirinya. Aku hanya bungkam seribu bahasa.

“Dan jika kakak ingin tahu, aku menyatakan perasaanku tiga tahun lalu padanya,” lanjut Min membuat aku terpaku. Min… Menyatakan perasaan pada Jeonghan?

“Dia menolakku, tentu saja,” Min tertawa di sela-sela tangisnya, “dia bilang aku terlalu muda dan salah mengartikan cinta. Ya, aku memang masih dua belas saat itu. Dia tidak akan percaya. Tak seorang pun akan percaya.”

“Tapi aku tak berhenti mengaguminya. Lama-lama semakin besar. Aku menjadi kecanduan. Aku meneleponnya beberapa kali dalam seminggu, tanpa peduli apakah dia menginginkannya atau tidak. Aku rindu sekali, sama seperti aku merindukan kakak.”

“Apa?!” aku memotong ucapannya tak terima. “Kenapa aku sama sekali tidak tahu soal itu?”

“Jeonghan berkali-kali mengingatkanku bahwa kami tidak baik begini karena aku adalah adik dari sahabat karibnya.  Ia tak ingin kakak merasa Jeonghan mengambil manfaat dari persahabatan kalian. Ia ingin berhenti, tapi aku tak pernah mau. Aku menangis malam itu di telepon, berkata bahwa aku sangat menyukainya. Sangat.”

Min mengatur napasnya sebelum melanjutkan. “Tahun ini hubunganku dengan Jeonghan berkembang baik. Kurasa ia mulai benar-benar melihatku sebagai perempuan, meski aku tak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak. Bulan lalu dia bilang dia akan menginap di rumah kita. Aku senang bukan kepalang, tapi di saat bersamaan, ia memberitahu sesuatu yang membuatku syok.”

Aku menelan ludah mendengarnya. Min berkata sesuatu yang lagi-lagi, tak pernah kubayangkan akan terjadi dalam hidupku.

“Jeonghan bilang ia akan pergi ke Australia setelah ujian akhir ini untuk meneruskan kuliahnya di sana. Orang tuanya ingin ia mengambil kuliah khusus yang telah disiapkan untuknya, karena orang tua Jeonghan merasa sudah waktunya ia meneruskan bisnis Ayahnya.”

Jantungku mencelos mendengarnya. “Apa katamu tadi…?”

“Dia bilang, ‘jangan bilang Seungcheol dulu. Aku tidak ingin kami melewati liburan yang dia siapkan untukku dengan hati sedih. Akan kuberitahu sendiri, nanti’. Aku tak bisa berkata apapun padamu, Kak. Aku merasa serba salah.”

Tubuhku lunglai seketika, jatuh ke sandaran sofa. Kepalaku terasa pening mendengarnya. Hidup tanpa Jeonghan, tak bisa kubayangkan betapa sengsaranya aku tanpanya di asrama. Tak bisa kubayangkan bahwa ia akan pergi meninggalkanku begitu saja.

“Karena itulah, yang waktu itu, aku memaksanya untuk menciumnya,” kata Min dengan terisak-isak. “Jeonghan bilang itu tidak sepantasnya kami lakukan. Tapi aku memaksa. Aku ingin aku menciumnya sebelum kami berpisah selama bertahun-tahun. Aku tidak tahan, Kak. Aku tidak mau melepasnya begitu saja.”

Kepalaku berdenyut. Jantungku pun berdebar, tak tahu harus apa lagi. “Min…” aku mendesis, tubuhku terasa lemas.

“Maafkan aku, Kak. Itu minggu terakhirnya berada di sini. Aku tak bisa berpisah dengannya. Tak bisa,” Min menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara aku terlonjak dari sofa.

“Minggu terakhir…?!” aku berdiri dan memegang pundak Min, menggoyang-goyangkannya. “Apa maksudmu? Katakan kapan Jeonghan berangkat ke Australia, Min?!”

“Li-lima hari yang lalu,” Min terisak-isak pelan, pundaknya bergerak naik-turun. “Aku ingin memberitahumu, tapi kau bahkan tak mau bicara padaku. Kepalaku penuh, Kak. Aku tak tahu lagi…”

Tanpa menunggu apapun lagi, aku berlari naik ke atas menuju kamarku. Kuraih ponselku dari rak buku dan mencoba untuk menelepon Jeonghan.

Tak ada sambungan sama sekali. Aku panik, kepalaku terasa panas. Aku takut. Aku takut kami akan benar-benar berpisah begini saja.

Terdengar sebuah suara. “Halo? Halo?!”

Tidak. Itu adalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor Jeonghan sudah tidak aktif lagi. Aku membuang ponselku ke kasur dan meremas rambutku frustasi.

Demi Tuhan, Jeonghan adalah teman yang paling berharga untukku. Aku tidak akan rela melepasnya begitu saja. Melepasnya dengan kesalahpahaman dan kata-kata jahat. Bukan…., bukan aku yang kecewa padanya. Jeonghan-lah orang yang kecewa padaku.

Ia pasti kecewa setengah mati.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat, frustasi. Teringat kembali betapa banyak kebaikan-kebaikan yang ia lakukan untukku selama ini. Teringat bagaimana dia dengan sabar mengurusku yang selalu bersandar padanya. Dan apa balasanku?

Aku mengusirnya keluar dari rumahku.

Mataku terasa panas. Apa ia tahu jalur bus dari rumahku kembali ke asrama kampus saat itu? Emosiku yang menggelapkan mataku bahkan tak membiarkanku berpikir dengan menyertakan hati nuraniku. Jeonghan telah berbuat segalanya untukku. Segalanya.

Muncul suatu luka hati tentang cerita lamaku dengan Jeonghan. Mi Jin, mantan pacarku memutuskanku saat itu karena ia jatuh cinta pada Jeonghan.

Dengan amat berdosa aku mengakui bahwa aku melihatnya. Aku melihat rasa cinta di mata Jeonghan untuk Mi Jin, sama seperti yang Mi Jin rasakan. Tapi aku egois, berpura-pura tak melihat apapun. Aku menyukai Mi Jin, jadi dengan segala cara aku berusaha mendapatkannya. Ketika kami pacaran, Jeonghan sama sekali tak marah atau apapun. Dia tersenyum, mendukung kami, dan aku tak tahu sampai sekarang seberapa besar luka hatinya.

Bukan Jeonghan yang membuat aku dan Mi Jin putus. Akulah yang dari awal merebut gadis yang dicintainya.

Mataku panas mengingat segala kesalahanku padanya. Dengan langkah gemetar, aku mengambil dompet dan mengenakan jaketku.

Sore itu, dengan perasaan yang sangat kacau, aku menuju asrama kampus. Aku menuju ke sana dengan harapan yang hampir 0 persen… Berharap ia menunda keberangkatannya untuk meninggalkan Seoul.

  • ••

Jam menunjukkan pukul dua belas.

            Detik ini, hari sudah berganti menjadi hari Kamis. Aku menatap lemah jendela kamar asramaku, melihat langit gelap bertabur bintang sedikit.

            Angin malam berhembus dari sela-sela jendela yang tak tertutup rapat. Ah… Mataku yang tadinya basah sudah kering.

            Dengan hanya diterangi cahaya bulan, aku terduduk di kamar asramaku. Sejak sejam lalu menatap kotak yang sama. Memegang kertas yang sama.

            Aku menatapnya lagi, tersenyum. Menatap kotak berwarna putih dengan stick note bertuliskan ‘kue kering kesukaan Seungcheol’ di atasnya.

            “Heh…” aku terkekeh lemah. Bisa-bisanya ia membuatkanku kue kering kesukaanku sebelum ia pergi.

Aku mengangkat tangan kiriku yang menggenggam surat kecil yang sudah kusut. Membaca kata per kata sekali lagi, membuat dadaku sesak sekali lagi. Tapi aku berusaha tersenyum. Seperti senyuman terakhir yang ditulis Jeonghan di pesan singkatnya.

Seungcheol…

Aku tak tahu apa kau mau memaafkanku, tapi aku tetap akan meminta maaf. Maafkan aku; soal Mi Jin, dan juga soal adikmu.

Terima kasih untuk enam tahunnya.

Jika kelak kita sama-sama menjadi seorang yang berhasil mewujudkan mimpi kita, aku percaya kita akan bertemu lagi. Pasti.

Janjilah, pada saat itu, kau mau tersenyum dan jangan marah lagi, oke?

Jangan pernah kena flu lagi dan kerjakan tugas-tugas kuliahmu dengan baik.

Jangan lupa bersihkan kamarmu. Aku serius, lho. Hehehe.

Dan jangan pernah menyerah! Tetaplah tersenyum dan semangat seperti sahabat karib yang kukenal selama ini.

Sampai jumpa lagi, Seungcheol.🙂

Kawan lamamu,

 

Jeonghan.

Fin.

(Note)

Hai hai ^^ Salam kenal dan semoga kalian suka. Please give a comment below if you read it til the end, your feedback means a lot~ thank you fam!

 

One thought on “[Oneshot] Old Friend”

  1. Huaaa chinguu kerennn bangett ,
    Aku lagi free class trus liat ff ini muncul pas lagi ngscroll
    Awalnya biasa aja pas ketengah air mata udah mau tumpah aja .
    Pas udh mau beress sedih bgtttt, ga kuattt euyy
    Soalnya aku sama sahabat aku juga lagi berantem jadi feelnya dapett😢
    Thanks chingu udh bikin ff sebagus ini . Keep writinggg chinguu 😊

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s