[Vignette] Fade to Black

Fade to Black

Fade to Black

Biarkan bintang-bintang jalang itu menyalak, berceloteh sepanjang zaman.
Biarkan bara api membakar kertas-kertas masa lalu, kendati pancarannya merobek relung kalbu.
Biarkan mimpiku tenggelam dalam kobaran api hitam, remuk dan hancur menjadi abu.
Akan tetapi satu hal yang kujaga, dirimu … Min Yoongi.

.

Presented by
Classiera (Cookieszt)

Main cast
Min Yoongi/Suga (BTS) || OC

Support cast
Park Jimin (BTS)

Genre
AU || Dark || Psychological || Hurt || Family || Drama

Duration
Vignette

Rating
Teen

Disclaimer © just own the plot and Kim Taehyung ^.^v/no, just kidding.

Warning! No plagiarism! Typo(s) everywhere, Misstypos, Bahasa campur sari antara baku dan tidak baku, OoC maybe? dan masih banyak lagi masalah ini-itu dalam tulisan saya.

.

.

“Seberapa besar rasa sayangmu padaku?”

Yoongi sekilas tersenyum tanpa menyadari kejanggalan dalam pertanyaan adiknya. “Rasa sayang tidak bisa diukur seperti itu, Yoora.”

“Ok, aku tukar pertanyaanku. Apakah rasa sayangmu padaku sebesar hasratmu sebagai pembunuh pembayaran?” Yoora mengukir seringai meremehkan, dia menang kali ini. Pisau dapur yang sedari tadi disembunyikan di balik punggung beralih ke pipi putih Yoongi—bergerak pelan layaknya kuas yang dipakai pelukis untuk membuat sebuah mahakarya. Ah ini benar-benar menyenangkan! Kakaknya sempurna mematung dengan mata membelalak kaget.

Yoora ingin melompat bahagia!

“Kausudah bermain terlalu jauh … Min Yoora,” lirih Yoongi.

Yoora tersenyum, iya … permainan ini sungguh menyenangkan.

.

.

.

Di mana segalanya berubah menjadi tak terkendali, di masa terkotor bumi berputar.
Dunia hitam-putih, kekejaman dan kemurnian.
White lie-black love, something that you can’t resist at all.

Fade to Black ….

Mind to Read and comment?

.

.

.

Hari itu bukanlah hari yang baik bagi Min Yoora, gadis itu mendekap mulutnya sekuat mungkin demi menahan pekikan yang nyaris keluar. Kakaknya, Min Yoongi dihajar habis-habisan oleh kumpulan berandal yang kerap kali keliaran di sudut gang sempit. Biasanya berandal-berandal itu tidak akan berani mendekati kawasan sekolah, namun entah ada angin apa mereka semua nekat datang kemudian memojokkan kakaknya di tempat kumuh nan sepi yang terletak tak jauh dari sekolah.

Segalanya terlihat menakutan dari sudut pandang Yoora, gadis itu berusaha untuk tidak terlihat—mengintai dari jarak jauh—kendati air mata mulai merembes.

Ayolah, kakaknya nyaris mati di tempat. Dipukul, ditendang, dibanting, bahkan mereka juga menyiksa kakaknya dengan alat tumpul. Melihatnya membuat Yoora menahan napas seiring dengan degup jantung yang kian mengeras. Min Yoongi orang baik, kesalahan apa yang diperbuat kakaknya hingga disiksa tanpa kenal kata ampun seperti itu?

Kembali Yoora terkejut, kini berandal itu melepaskan Yoongi dengan tendangan di perut sebagai salam perpisahan. Sungguh, Yoora ingin segera menghambur ke arah kakaknya serta membantunya berjalan. Betapa tidak? Yoongi berjalan sempoyongan bak orang mabuk hilang kesadaran. Namun Yoora urung melakukannya.

Belum saatnya Yoora, tahan sampai kakakmu pergi dari lokasi, batinnya.

Kabut menyelimuti kota, jalanan yang becek pun lengang dari manusia, aroma tanah basah pasca hujan menguar. Sempurna, tertata dengan apik, Yoora menyukainya. Sesaat gadis itu memejamkan matanya, menghela napas, lalu mengambil langkah mantap menuju kumpulan berandalan yang tengah tertawa.

Tentu saja setelah kakaknya beranjak dari tempat tersebut.

Bagaikan terstruktur secara meyeluruh, kedatangan Yoora terang saja mengundang perhatian mereka, menatap gadis itu tak ubahnya segumpal daging yang disodorkan secara cuma-cuma untuk mereka para hewan kelaparan. Tak ada pergerakan yang berarti, Yoora pasrah tangannya ditarik salah seorang dari mereka menuju tempat gelap.

Yoora akan memulai waktu pestanya, pesta yang meriah! Yang tak pernah dilakukan orang kebanyakan.

.

.

.

>>>Fade to Black<<<

.

.

.

Kalau boleh jujur, suara detikan jarum jam itu membuat Yoongi frustrasi. Waktu terus berjalan, kau tidak akan mengerti mengapa seorang anak dapat tumbuh dengan sangat pesat dalam kurun beberapa tahun saja. Walaupun tak dapat dipugkiri, perjalan hidup Yoongi bermula dari sesuatu yang menyakitkan; ketika ibunya kabur dari rumah, disusul dengan sang ayah yang meninggal lantaran sakit keras. Semua itu mengatarkannya pada satu keputusan, membawa adiknya meninggalkan rumah kumuh tak layak huni dan mencari pemukiman yang nyaman ditinggali.

Hanya sebuah apartemen biasa dengan fasilitas lumayan lengkap—dua kamar tidur, sebuah dapur yang bersampingan dengan kamar mandi, ruang tengah, dan balkon kecil tempat menjemur pakaian. Bayaran sewanya pun tak mahal, itulah yang membuat Yoongi memilih apartemen ini. lagi-lagi kenyataan itu menamparnya akan suatu hal, dia butuh uang. Tidak sekadar untuk kelangsungan hidup, membiayai sekolah adiknya juga masuk dalam daftar. Ironis, dia adalah budak pengabdi kehidupan.

Di sana, persis di atas meja. Terdapat handphone yang berdering minta diangkat, lantas Yoongi mengambilnya ketika nama yang terpampang di layar adalah  sumber penghasil uangnya.

“Kenapa?” satu kata terucap, langsung tepat pada intinya.

“Wah wah badmood nih?” jawab orang di seberang telepon.

“Jangan berlagak sok peduli, menjijikan. Katakan keperluanmu.” Lagi-lagi kalimat yang sungguh tidak enak didengar. Jujur saja, Yoongi benci orang ini meski dia adalah sumber uangnya.

“Biar kutebak, kauberkelahi?”

“Seseorang yang terlatih seperti diriku tidak akan membunuh preman jalanan yang bahkan tidak tahu arti sebenarnya dari perkelahian, mereka pun tak tahu titik-titik fatal dari tubuh manusia. Memalukan.” Sedikit meringis, luka di bibir Yoongi memberikan efek pedih ketika ia hendak bicara. Lukanya memang dapat terbilang cukup banyak, namun bagi Yoongi itu semua cuma seperti sayatan pisau kecil—tidak parah tetapi nyeri.

“Oh, pria yang terhormat. Ngomong-ngomong, aku punya sebuah tawaran … mau atau tidak?”

“Kalau tidak?”

“Kuserahkan pada yang lain. Nah lho katanya uangmu kandas, yakin tidak mau?”

“Aku tidak serendah itu kaubajingan!”

Handphoe dilempar dari genggaman, berikut tubuh yang merosot jatuh tak kuat menahan emosi. Ini salahnya, semua salahnya, masuk ke lubang hitam tanpa pikir panjang demi meraup uang. Melibas punggungnya sebab dia adalah budaknya uang. Seseorang, siapa saja … tolong berikan Yoongi sebuah peta untuk keluar dari labirin sihir yang tak henti-hentinya melahap korban.

“Kak Yoongi aku pulang!” pintu apartemen menjeblak terbuka, diiringi suara kresekan plastik yang Yoongi duga terdapat barang belanjaan di dalamnya. Itu adiknya, membuka sepatu kemudian berlari dengan riang ke arahnya … sudah menjadi sifat alami gadis itu.

“Lihat siapa yang babak belur di sini,” ejek Yoora seraya menyentuh sudut bibir Yoongi.

“Ck singkirkan tanganmu. Kauberkata demikian seolah pemandangan di depanmu ini sudah biasa. Seharusnya kaubertanya ‘Apa yang terjadi padamu kak?’” Yoora terkekeh geli, mengubrak-abrik isi plastik demi mencari kotak obat.

“Untuk apa terkejut? Toh mendapati kakak baik-baik saja dan masih bernyawa, aku sudah lega. Yang seperti ini aku memang sudah sering lihat, banyak teman kelasku yang sering kena bully dan lebih parah dari ini.” Tangan Yoora bergerak mengobati luka Yoongi, membersihkannya dan membubuhinya dengan obat merah.

“Jadi kaupikir kakakmu ini korban bully? Aku sudah tamat sekolah, antenamu pendek sekali. Hei darimana kaudapat uang untuk belanja sebanyak ini?” tanya Yoongi.

“Tabungan?”

“Jangan bohongi kakakmu, kaubukan tipe orang suka menabung. Semua barang ini curian bukan?”

“Tidak kak! Aku tidak mencuri!” bantah Yoora sembari menggeleng-gelenggkan kepalanya.

PLAK

Sebuah tamparan, tatapan nyalang, dilayangkan kepada Yoora yang kini tertunduk dalam. Dengan segera Yoongi mengepak semua plastik lalu membawanya keluar, tidak lain tujuannya adalah membuang barang yang disangka Yoongi barang curian dari supermarket.

“Aku tak pernah mengajarimu mencuri. Min Yoora.” Bantingan pintu apartemen membuat susana makin runyam. Gadis itu melepaskan dasi sekolahnya untuk kemudian dilemparkan ke lantai, menggerai rambutnya yang terikat lalu mengacaknya asal.

“Lebam di wajah, punggung, hmm pasti di perut juga ada. Jalannya agak pincang, daaaaan duh aku melihat bercak darah di kausnya. Yhaa seharusnya tadi aku berpesta lebih lama,” gumam Yoora.

“Hehehe. Aku bukan pencuri lho kak, aku ini pekerja paruh waktu.”

Kepulan jarum-jarum bening berjatuhan kembali, mengalir di sela bebatuan, semakin lama kian gencar lewati jutaan lekukan bumi. Ada senyum ganjil yang terpahat sempurna di wajahnya, mengabaikan setetes cairan merah pekat yang merembes keluar dari dari tasnya.

Gadis itu baru saja pulang dari pesta.

.

.

.

>>>Fade to Black<<<

.

.

.

Kesenangan, kepuasan, dan seorang bocah perempuan. Ketiganya saling terkait tanpa ada hambatan yang memisahkan, ketiganya tersusun serangkai menjejali kepala seorang gadis bernama Min Yoora.  Mungkin gadis itu baru saja melakukan tindakan gila hari ini, pergi dari apartemen jam empat pagi demi mengunjungi suatu tempat, di sana dia meretas data-data komputer milik kakaknya. Gila memang.

Pertama kali Yoora diperkenalkan dengan dunia berbau hal-hal kriminal ibarat sebuah bayangan hitam, misterius. Sebagai seorang gadis yang serba ingin tahu dia tercebur ke dalamnya, tidak melihat sama sekali apa yang dia pijak adalah kesalahan fatal. Faktor pendorongnya adalah uang, Yoora tidak tahan jika terlalu sering ditinggal kakaknya seorang diri, hingga semuanya berujung pada sebuah fakta mengerikan.

Yoora Juara umum di sekolah, merangkap seorang hacker.

Yoora gadis yang ceria, tatkala kedua tangannya pernah dinodai cairan merah yang disebut darah.

Yoora gadis cantik, yang melakukan itu semua demi membantu kakaknya.

Menakjubkan bukan? Uang berkuasa atas segalanya.

“Terkadang aku heran, kaumau pekerjaan kotor seperti ini padahal wajah imut begitu? Pfft kebanting banget.”

“Diam atau kurobek mulutmu Eonni,” ujar Yoora yang sekarang sedang membaca semua data-data yang berhasil dia dapat dari komputer kakaknya.

“Aku maklumi jika kau kemari karena ada tawaran pekerjaan. Tapi demi apa pun Min Yoora! Kau kemari hanya untuk meretas komputer kakakmu sendiri? Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Dengarkan aku Eonni! Akhir-akhir ini kakak sering menyembunyikan sesuatu dariku, tidak masalah, aku sudah mendapatkan semuanya. Dan coba tebak apa yang kakakku rahasiakan selama ini?”

Wanita yang dipanggil ‘Eonni’ oleh Yoora terdiam, mendengarkan dengan saksama apa yang hendak gadis itu lontarkan.

“Kakakku seorang pembunuh bayaran.”

TAK

“Aku menjitakmu bukannya tanpa alasan, kalian berdua adalah kakak-adik paling sadis yang pernah kutemui. Layaknya sebuah drama, sang kakak tidak pernah tahu kalau si adik sudah bermain terlalu jauh melewati pagar pembatas huh?”

Yoora tertawa miris, menatap langi-langit ruangan, meja diselimuti serpihan debu seolah menggambarkan dirinya yang terpuruk. Menjadi seorang hacker memang perkara mudah, tetapi tidak untuk seorang pembunuh bayaran. Awalnya Yoora santai dengan tugasnya yang bekerja di balik layar, namun lama-kelamaan situasi memaksanya untuk turun lapangan dan bermain-main dengan genangan darah.

Agaknya Yoora mulai terbiasa dan ketagihan; pembunuhan, sorot mata penuh luka, senjata tajam, teriakan, baku hantam, semuanya. Yoora adalah seorang bocah perempuan, berperang melawan kenyataan, bersitatap dengan segenap kehancuran. Membiarkan masa depannya tenggelam, terabaikan tanpa sedikit pun rasa penyesalan yang membayangi di belakang.

“Apa yang kau-print?” wanita itu akhirnya membuka suara, sejenak memecah keheningan yang melanda.

“Ini? Aaah dia keparat yang sering mengganggu kakak. Dia memerintahkan kakak tak ubahnya sebuah robot si pelayan majikan.”

Wanita itu terbelalak kaget, dia membaca lembar demi lembar informasi yang tertera sangat lengkap dia atas kertas, entah bagaimana cara Yoora mendapatkan semua ini. Min Yoora sangat jenius. “Park Jimin? Jangan bilang kalau—“

“Kakak tak perlu lagi berurusan dengan orang itu.”

“Tapi kenapa Min Yoora?!”

“Yaaa! Dia merebut kakak dariku! Dialah penyebab kakak jarang pulang! Pria itu merenggut hartaku satu-satunya! Kau tak mengerti perasaanku, saat aku berhasil membobol komputer kakakku sendiri, saat aku membaca kata per kata dokumen kakak, saat aku sadar! Kakak tak berniat sama sekali menjadi pembunuh bayaran! Orang itu menyebalkan. Cukup aku saja, cukup aku yang menjadi penjahatnya di sini, kak Yoongi tak perlu menodai tangannya dengan darah.”

Wanita itu terhenyak, mengepalkan buku-buku jarinya hingga memutih.

“Jika kak Yoongi pergi, lantas aku harus pulang ke mana? Dia keluargaku satu-satunya.”

Min Yoongi beruntung memiliki adik seperti Yoora, baik, lembut, penuh kasih sayang. Namun apa? Di balik semua itu ternyata adiknya sedikit mengalami gangguan mental, kasih sayang berlebihan yang merubah adiknya menjadi pecandu kekerasan. Tidak normal.

“Kumohon jangan berlebihan Yoora. Ini sudah tidak wajar lagi.”

“Lihatlah. Yang menyeretku ke dunia krimanal siapa? Dan siapa yang kini menghalangiku? Kenapa tidak dari awal saja Eonni hentikan aku huh? Selamat untuk Eonni, yang berhasil menyetel otakku menjadi pecandu kekerasan. Aku menyukainya kok. Toh aku sudah telanjur kotor sejak menginjak tempat ini. terima kasih sudah mau menemaniku, datanglah sesekali ke apartemen hmm. Pamit dulu ya? Mau pulang nih.”

Pintu menutup, meninggalkan seorang wanita yang nyaris terisak penuh penyesalan di dalam ruangan.

“Park Jimin, ada seorang gadis cantik yang ingin berkenalan denganmu. Berhati-hatilah dengannya.”

.

.

.

>>>Fade to Black<<<

.

.

.

“Seberapa besar rasa sayangmu padaku?” Yoongi berhenti menyendok sarapannya, mengalihkan atensi ke Yoora yang tengah menatapnya tajam.

Tersenyum sekilas tanpa menyadari kejanggalan dalam pertanyaan adiknya. Yoongi lantas berkata, “Rasa sayang tidak bisa diukur seperti itu, Yoora.”

“Ok, aku tukar pertanyaanku. Apakah rasa sayangmu padaku sebesar hasratmu sebagai pembunuh pembayaran?” Yoora mengukir seringai meremehkan, dia menang kali ini. Pisau dapur yang sedari tadi disembunyikan di balik punggung beralih ke pipi putih Yoongi—bergerak pelan layaknya kuas yang dipakai pelukis untuk membuat sebuah mahakarya. Ah ini benar-benar menyenangkan! Kakaknya sempurna mematung dengan mata membelalak kaget.

Yoora ingin melompat bahagia!

“Kausudah bermain terlalu jauh … Min Yoora,” lirih Yoongi.

Yoora tersenyum, iya … permainan ini sungguh menyenangkan. Sampai-sampai dia ingin tertawa sekeras mungkin melihat air muka kakaknya.

“Gyahahaha aku hanya berlatih peranku kak! Bagaimana acting-ku? sempurna ‘kan? aku terpilih menjadi pemeran utama di drama sekolah lho. Pastikan kaudatang saat pertunjukan digelar ya?”

“Hah?”

“Jangan menatapku seperti itu ok? Kalimatku tadi hanya dialog yang harus kuhafal. Walaupun agak kaget kakak bisa bereaksi sesuai dengan skenario yang tertulis di naskah.”

“Oh.”

“Ck berhenti menatapku seakan aku ini orang terbodoh di dunia!”

“Huuft bukan begitu maksudku. Ya sudahlah aku mau keluar sebentar, jangan ke mana-mana … mengerti? Tetaplah di sini.”

Sesaat setelah Yoongi pergi, Yoora segera masuk ke kamarnya. Pisau dapur pun turut serta dibawa masuk. Ada sebuah foto yang terpampang di dinding, lantas Yoora melesatkan pisau tepat mengenai foto tersebut.

“Hai Park Jimin! Namaku Min Yoora, masih SMA. Dengan begini, kauresmi menjadi temanku dan … bersediakah kauberpesta denganku? Aku janji akan menawarkan permainan yang seru.”

Sebilah pisau dibiarkan menancap di dinding, diam tak bergerak menembus lembar foto.

Adalah harga yang patut dibayar mahal, sebuah dunia dalam kotak hitam-putih, berhias pita merah darah. Dunia yang kejam dan indah di waktu bersamaan, sebuah bagian yang tak bisa diambil kembali tatkala semuanya telanjur dibuka.

.

.

.

And my heart is a hollow plain, for the devil to dance again.
And the room is too quiet, oh oh oh [Florence and The Machine—Breath of Life]

.

.

.

~End is only the beginning~

A-baka-little-notes:

Ginilah jadinya apabila Author yang biasa nulis FF romance picisan terjun ke tema psychological yang notabene tema berat, aneh euy!

Sebenarnya, plot FF ini panjang kalau diolah lagi. Tetapi setelah dipikir lebih jauh, daku gak kuat bikin fiksi yang chaptered TAT apalagi menurutku kalau dilanjutin alurnya bakalan berat yang ujung-ujungnya kebablasan jika diteruskan. Duh nyerah sampai sini aja deh *laugh*

Makasih yang udah mau baca, apalagi yang ninggalin jejak! Berharga banget lhoo ^^

 

One thought on “[Vignette] Fade to Black”

  1. Choayoo… unn ini ff psikologi yang bagus banget meski masih ada typo dikit tp ceritanya menarik segini ajah udah bagus banget…..
    (y) (y) (y)

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s