[IFK Movie Request] She Said Love

joonisa

Requested by Joonisa

Casts DK – Lee Seokmin [Seventeen], Min Aylen [Joonisa’s OC] Genre Comedy, romance, office-life Duration Vignette Rating PG-17

© 2016 namtaegenic

.

Bagian satu: Awal Mula Penghancuran Nama Baik

… karena sebaiknya kalian harus tahu dari sekarang bahwa Lee Seokmin—yang mana adalah aku sendiri—tadinya adalah karyawan baik-baik, dengan prestasi rata-rata (namun cukup baik!) dan perilaku yang lurus (dan sangat baik meskipun aku tidak yakin semua orang menyadarinya). Percayalah, bahwa aku baru saja hendak membuat laporan grafis mengenai kenaikan jumlah konsumen dan meningkatnya pembelian rumah, ketika tiba-tiba saja Min Aylen garis miring auditor garis miring penyihir hitam garis miring penjahat lorong gelap garis miring rubah berekor sembilan garis miring—

“Lee Seokmin.”

Aku mendongak ketika ia menyebut namaku. Komputer di mejaku baru saja menyapa dengan trek pembukanya, ketika kulihat wanita itu tersenyum manis sekali ke arahku, lalu menumpukan kedua tangannya di pimggiran meja. “Ada yang harus kubicarakan.”

Beberapa orang barangkali langsung bergidik kala mendengar kalimat tersebut ditujukan pada diri mereka. Tapi kurasa aku langsung kena serangan jantung berikut gangguan pencernaan—karena tepat setelah Aylen tersenyum lagi, aku langsung sakit perut. Jauh di dalam sini, seluruh sarapanku berteriak atas namaku, Seokmin tidak bersalah! Seokmin tidak bersalah!

“Uhm…, bisakah bicaranya nanti saja? Ada laporan yang harus ku—“

Aylen memotong ucapanku dengan lambaian tangan penuh kuasa. Saat inilah aku mengerti, tidak ada yang bisa mencegahnya untuk merealisasikan ‘ada yang harus kubicarakan’. Maka, aku memberinya isyarat untuk bicara.

“Kautahu siapa auditor di sini?”

“Kau.”

“Bagus, jadi kautahu siapa di sini yang berkuasa?”

“Tidak ada,” aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Ia pasti mau menyuruh-nyuruhku melakukan sesuatu yang remeh seperti mengangkat galon ke dispenser, membersihkan sarang laba-laba di sudut ruangannya dengan sapu, dan semacamnya—padahal kantor kami punya OB yang berkeliaran dan siap membantu.

“Oh, jawaban yang cerdas sekali, Lee Seokmin!” Aylen bertepuk tangan dengan meriah. Aku mendengus, tidak terpengaruh.

“Nah,” ia melenyapkan spasi. “Kau pasti lelah bekerja terus tiap hari sampai malam.”

Eh? Eh, eh, mau apa dia? Tidak, tidak, jangan menggoda Lee Seokmin. Aku masih menahan napas ketika tahu-tahu saja hidungnya sudah terpisah sepuluh sentimeter dariku.

“K-kau mau apa?”

“Aku mau bolos—“

“JANGAN GODA AKU—apa? Bolos?”

Aylen mengangguk, alis kanannya terjungkit sempurna. “Bolos.”

“Bolos?”

“Bolos.”

“Bolos?!!” aku masih yakin bahwa telingaku sedang berkhianat. Tidak mungkin. Min Aylen adalah staf dengan kedudukan tertinggi di bawah general manager. Dia lulusan ilmu bisnis dan perdagangan di Wharton, Universitas Pennsylvania, peraih cum laude pada masanya, dan sudah dipercaya direktur utama untuk memenuhi janji temu dengan klien-klien dalam dan luar negeri.

Staf yang kuceritakan prestasinya di atas tadi baru saja mengajakku bolos. Dia pikir aku akan percaya? Min Aylen, berkebalikan dengan semua pencapaiannya sejauh ini, adalah staf yang sok berkuasa, suka mengeluarkan perintah yang tidak masuk akal—‘tolong buatkan aku teh susu dengan keju cheddar tiga parutan, tolong bersihkan sarang laba-laba di pojok atas sana, tapi jangan ada debu yang jatuh di lantai’—dan tidak pernah ada OB yang mengaku pernah diperlakukan seperti itu olehnya. Berarti hanya aku. Oh, please. Begini-begini aku lulusan diploma dari Universitas Nasional Korea, tahu! Aku mungkin tidak cum laude, lulus terlambat, indeks prestasi pas-pasan—oh, yeah, sudahlah.

“Aku tidak akan bolos. Dan kau tidak bisa memaksaku untuk yang satu ini,” aku langsung mengalihkan perhatian pada dokumen yang sudah terpampang di layar, berharap Aylen menyerah. Nyatanya, wanita itu malah merengut. Ah, lagu lama. Ia selalu merengut jika ada yang tidak sesuai dengan rencananya.

Aku tidak akan bolos dengannya.

Tidak akan.

.

.

Bagian dua: Aku Memang Payah Sebaiknya Aku Makan Rambutku Sendiri

Dan yang pasti akan kumakan lebih dulu adalah poniku yang berharga, karena di sanalah letak harga diriku yang porak-poranda karena aku mengingkari ucapanku sendiri. Beberapa detik yang lalu aku masih berada di kubikel yang nyaman dan terhampar udara sejuk. Detik berikutnya, aku berada di jok belakang KIA merah milik Min Aylen garis miring auditor garis miring penyihir hitam garis miring penjahat lorong gelap garis miring rubah berekor sembilan garis miring—

“Kau kok, duduknya di belakang?” tanyanya sebelum men-starter mobil. Aku menatapnya dingin sembari bersedekap. “Untuk menghindari prasangka orang-orang mengenai kita.”

“Memangnya kita kenapa?”

“Bolos.”

“Kita memang bolos.” Kudengar Min Aylen mendengus. “Oh, tolonglah, memangnya di sekolah dulu kau tidak pernah bolos?”

“Tidak pernah.”

“Tidak pernah?”

“Tidak pernah.”

“Kau memang tidak punya kehidupan, Lee Seokmin. Duduk di sebelahku!” perintahnya. Aku menggeleng kuat-kuat dan ia menatap pantulanku lewat spion depan. “Tapi itu tidak sopan! Aku bukan sopirmu!”

“Kau yang mengajak, berarti kaulah sopirnya.”

Tampaknya Aylen menyerah. Ia mengangkat bahu, lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir khusus staf kantor. Mobil kami menelusuri jalan-jalan rimbun menuju ke jalan protokol, berbelok ke persimpangan Gangmi, menuju daerah Myeongdom.

Destinasi bolosnya ke pusat perbelanjaan, dan mengapa aku tidak terkejut. Dalam hitungan serempat mikrosekon, Aylen sudah menyeretku menerobos lautan manusia yang sedang tawar-menawar. Kami mampir ke toko barang antik, toko aksesoris (ew), toko boneka (ew ew), toko pakaian (selama tiga jam, tidaaakkk!!!), dan akhirnya ke restoran masakan tradisional Korea (hore!!!). Kami memesan seperangkat makan siang yang berisi ramyeon, kimbap, kimchi, dan sup rumput laut. Aku memesan japchae lagi tanpa merasa perlu minta izin dulu pada Aylen yang menatapku dengan takjub.

“Ususmu panjang juga,” komentarnya, lantas aku menudingnya dengan sumpit dan berbicara di sela-sela kunyahan. “Diam saja, tolong. Kurasa lututku sudah turun sampai ke mata kaki saking capeknya.”

“Ih, telan dulu makananmu dasar jorok!”

Aku berdecap-decap hingga mulutku berlepotan minyak hanya untuk membuatnya bergidik. Aylen meletakkan sumpitnya di atas bibir mangkuk, meringis kehilangan napsu makan.

“Tidak mau?” aku menunjuk mangkuknya.

“Melihatmu mengganyang semua ini sudah bikin aku kenyang sekaligus mual.”

“Bilang saja kau takut gemuk.”

“Aku tidak pernah takut gemuk,” ia membalas cibiranku. Lantas wajahnya kembali ceria. “Terima kasih sudah mau kencan denganku, Seokmin!”

“Yha, swama-swama—uhuk! Hwapha?”

“Kubilang telan dulu makananmu!”

Aku melumat makananku dan terbatuk-batuk demi mendengar ucapannya barusan. Kencan? Kencan? Kencan?

“Kita tidak kencan. Kita bolos,” aku mengingatkan, setengah tidak rela, karena anggapan kencan itu rasanya manis juga (sebagai catatan saja bahwa aku belum pernah berkencan karena aku terlalu sibuk mengikuti ujian perbaikan dan—oh kenapa aku payah sekali?)

“Tapi ini hari Sabtu.”

“Kenapa kalau hari Sabtu?”

“Perempuan dan laki-laki, jalan-jalan hari Sabtu, berdua saja, itu namanya kencan.”Aylen bersedekap menegaskan pendapatnya yang selalu benar. Aku berusaha mencerna ucapannya, tapi kadang-kadang kenyang memang membuatku bagaikan tidak punya otak.

Lalu aku mengerti. Kami kencan. Setidaknya itulah yang ia katakan. Aku memicingkan mata, menatapnya dengan curiga. Ini pasti jebakan. Min Aylen yang hebat mau-maunya berkencan denganku? Film Civil War sampai kalah fiksionalnya.

“Baiklah, jadi katakan apa maksudmu sebenarnya?” aku menginterogasi. Sementara dahi Aylen berkerut, tidak suka dengan reaksiku, barangkali.

“Tidak ada maksud. Aku cuma mau jalan denganmu.”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena kau membenciku.”

“Aku tidak benci.”

“Lalu kenapa kau suka menyuruhku yang tidak-tidak?”

“Apa aku menyuruhmu mengisap bisa ular?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Aylen terdiam, maniknya menatap hidangan yang sudah tandas. Ia menggigit bibirnya. Dan karena tampaknya ia tidak akan menjawabku, maka kuganti pertanyaannya.

“Kenapa tidak jalan dengan Choi Seungcheol dari bagian pemasaran? Ia baru dapat fee karena berhasil closing kemarin. Lagi pula dia kan suka menempel-nempel padamu seperti kotoran hidung.” Sebentar, kenapa seakan aku mengakumulasi rasa sebalku tiap kali melihat Choi Seungcheol yang tampan itu mendekat Aylen? Tidak, tidak, aku tidak sebal. Aku hanya merasa terganggu dan itu tidak ada hubungannya dengan semua hal-hal sentimental.

“Choi Seungcheol cuma suka memamerkanku pada teman-temannya. Karena aku lulusan bisnis di universitas luar negeri, karena aku staf panutan, karena aku pandai, karena aku cantik.”

“Memuji diri sendirrriii…,” cibirku jijik. Namun Aylen tidak tersenyum ala rubah berekor sembilan seperti yang sering ia lakukan padaku. “Itu benar, dia seperti itu. Aku tidak suka jadi properti pameran yang membuktikan bahwa Choi Seungcheol bisa dapat gadis yang sempurna.”

Bisa dapat gadis yang sempurna itu memuji diri sendiri juga sih, tapi karena kupikir ia tidak sedang menyombong, jadi aku bersikap sebagai pendengar.

Setidaknya sampai ia menatapku lekat-lekat.

“Bagaimana kalau kubilang bahwa aku suka padamu?”

“Aku akan menjawab bahwa aku sebenarnya anggota Power Rangers.”

Aylen memiringkan kepalanya. “Cukup adil.” Ia memangkas jarak. “Aku suka padamu.” Dan kubalas ia dengan “aku anggota Power Rangers”-ku.

“Aku sungguh-sungguh suka padamu, lho!”

“Kau mau lihat aku memanggil megazord? Alpha? Dimitria?”

Aylen akhirnya tertawa. Ia memanggil pramusaji untuk memberikan bill­, sementara aku mencegahnya untuk mengeluarkan uang. Aku memang belum pernah jalan berdua saja dengan seorang gadis (bukan berarti kehidupanku menyedihkan, harap dicatat!), tapi ketika saatnya tiba, bukan gadis itu yang akan membayar makanan kami. Memangnya aku laki-laki macam apa.

Lalu kami masuk ke mobil, kali ini aku menghargainya dengan duduk di bangku sebelah sopir. Ia melempar senyum padaku, dan kami kembali ke kantor.

.

.

Bagian tiga: Kisah Ini Belum Selesai

Enak saja, belum, belum! Kau pikir apa yang ada di kepalaku sewaktu dia bilang suka? Power Rangers? Megazord? Alpha? Tidak!

Dia suka padaku, Bung! Min Aylen memang sejumput semut api yang tidak bisa dipercaya, tapi aku tahu ucapannya tadi sungguh-sungguh. Mana mungkin aku bersembunyi di balik pernyataan aku anggota Power Rangers demi menangkis kenyataan itu. Serius, deh, kupikir setelah aku meresponsnya dengan candaan, hal-hal seperti pernyataan cinta ini akan pudar oleh ruang dan waktu. Kenyataannya tidak. Kautahulah, hal-hal sensitif seperti pernyataan cinta, benda-benda merah muda, lagu-lagu Richard Marx yang tiba-tiba muncul dari music player mobil ini, dan intonasi Min Aylen ketika bicara padaku—pasca pernyataan cintanya tadi.

“Laporannya belum selesai?” suaranya lembut menggelitik.

“Seharusnya sih sekarang sudah selesai kalau saja—“

“Oh, maaf. Aku pasti sudah sangat mengganggumu. Nanti kubantu, oke?”

Apa? Apa?! APA?! APAAAA?!!!

“Sesungguhnya kau tidak perlu repot-repot—“

“Aku memaksa untuk membantumu.”

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana? Seseorang bisa bantu aku? Seseorang, kumohon? Seseo—

“Sabtu depan bolos lagi?”

TOLONG! JANGAN SAMPAI AKU JADI SUKA PADANYA!

FIN.

18 thoughts on “[IFK Movie Request] She Said Love”

  1. 1.. 2.. 3 tes tes 1.. 2.. 3..
    KAKECIIIIIIIII (sebelumnya hai dulu) HAI KAKECIIIIIIIII
    Terima kasih ya sudah mau nge-take request-an ku yg ini. Eksekusinya: PERFECT SESUAI KEINGINAN. MANSEEEEE!!!
    – “Min Aylen auditor garis miring penyihir hitam garis miring penjahat lorong gelap…” —-> ngakak level 1. Kaeci sesungguhnya Min Aylen di bayanganku adalah burung gagak /GAK/
    – “JANGAN GODA AKU—apa? Bolos?” —-> Dokyom Ge eR. Ngakak level 1,5
    – ‘Dia lulusan ilmu bisnis dan perdagangan di Wharton, Universitas Pennsylvania, ‘ ——-> Kaeci aku jadi pengen sekolah lagi di sini /plak/
    – ‘tolong buatkan aku teh susu dengan keju cheddar tiga parutan, tolong bersihkan sarang laba-laba di pojok atas sana, tapi jangan ada debu yang jatuh di lantai’ ——> Demi Tuhan Kakeci aku ngakak ampe nutup muka pake kerudung😄 teh susu pake keju cheddar tiga parutan (duh), jangan sampai ada debu yg jatuh ke lantai (duh duh) XDXD Dokyom anakku kasian sekali kamu nak😄
    – ‘Kami mampir ke toko barang antik, toko aksesoris (ew), toko boneka (ew ew), toko pakaian (selama tiga jam, tidaaakkk!!!), dan akhirnya ke restoran masakan tradisional Korea (hore!!!).’ ——> ew, ew ew😄 ini ngakak level 3 ampe keluar air mata😄
    – Terima kasih sudah mau kencan denganku, Seokmin!”

    “Yha, swama-swama—uhuk! Hwapha?”——> Seokmin memang pria idaman😄
    – ‘Film Civil War sampai kalah fiksionalnya.’ ——-> Kakeci bawa2 captain america aku terharu😄 (suka sekali soalnya)
    – “Lalu kenapa kau suka menyuruhku yang tidak-tidak?”

    “Apa aku menyuruhmu mengisap bisa ular?” ———> Anjir banget kakeci. Menghisap bisa ular ….. XDXD (
    sabar ya nak Dokyom)
    -“Memuji diri sendirrriii…,” cibirku jijik. —–> ga salah lagi, Dokyom memang anak ibu(nya).😄
    -“Aku sungguh-sungguh suka padamu, lho!”

    “Kau mau lihat aku memanggil megazord? Alpha? Dimitria?” ——-> ngakak level 4 sampai keselek cemilan kacang koro-koro😄 Yasalam kakeci kok tahu aku suka power ranger😄

    -TOLONG! JANGAN SAMPAI AKU JADI SUKA PADANYA! ——> Ya ampun suka aja kali kyom suka aja ga papa😄

    Kakeci abis baca fic ini aku jadi belajar beberapa teknik menulis yang baru, dan fic ini inspirasional sekali kak. DOkyom yang polos sementara Aylen yang kaya rubah tapi ternyata so swit gitu bisa dipadukan jadi fic yang ajib, itu perlu teknik dan kakeci berhasil AYEY!
    Mangatse kakeciii!!! Keep writiiiing!!!!
    (aku udah baca fic ini 4 kali sebelum komen hahaha)

    Suka

      1. wah maaf, kalo req-nya ke aku kayaknya ngga bisa soalnya aku sudah overload request. tapi bisa coba req ke penulis lain yang namanya tersedia di page Request – Movie Making. terima kasih dan terus dukung IFK ^^

        Disukai oleh 1 orang

  2. Kak eciii!!! Akhirnya aku menemukan seokmin karena kebanyakan josh lagi josh lagi. Huft. Aaaa, seneng banget pas tahu ini comedy kren… ya, seokmin kan happy virusjdi pas banget buat cerita ini. Aaaa, suka deh apalagi pas bagian yang ngaku jadi power rangers, ih lucu banget!:3

    Kak eci emang jagonya buat bikin ff romance tapilucu tapi asyik tapi mais! Ditunggu cerita selanjutnya, kak!^^

    Suka

    1. loh hahaha jadi selama ini alifah nungguin seokmin hahaha thanks to nisjoo yang sudah rikues seokmin ya hehehe makasih alifah sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

  3. Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa > / / / <
    Kak ini sungguh…. keren! Keren! Oh my, Seokmin!
    (Butuh bagian empat, lima, dst karena butuh kejelasan perasaan Seokmin yang sesungguhnya pada Aylen! Hehehee…)
    (^__^) Keep a good work, Kak~

    Suka

  4. ECI RUMAH DIMANA? SINI MO GUE SAMPERIN!
    SIAL!!
    DEKA MINTA GUE CEBURIN KE LAUT APA 😔 NI FI T GA NYANTE JEBAL!! GUE BACA DINI HARI SAMPE NGAKAK DAN TETIBA ADE GUE MASUK KAMAR KAGET GUE KETAWA 😂😂😂😂😂 SIAL

    BHAY CI.. BHAY!!
    BODO AMAT INI CAPS NYALA TEROS.. BODO AMAT!! GUE IRI MA NISA 😭😭😭 TANGGUNG JAWAB LU CI

    Suka

  5. Disuruh baca ini atas rekomendasi kakdella. Kakeci /sksd/ jahat ih nulis fic begini konyolnya😂 ngakak atuhlah aku teh yah baca ini malem², jam 12 pula😦 untung ga disangka kunti ketawa /eh amit² :v
    Intinya mah moodmaker pisanlah ini haha😂😂😂😂

    Suka

    1. asli ya si della masih belom move on dari ff ini padahal dia mah sudah kukasih hoseok as movie reviewer masih aja haha. makasih arrylea sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Hehe, kakdel juga waktu cerita ff ini heboh sekalehhhh. Walah, masa? Haha, kata kakdel ff ini unik jadi aja dia inget mulu :v
        Sama-sama kak Eci><
        Btw kak, boleh polbek wp ga? /gatau diri /minta dibalang /hehe /maapkan juniormu ini :'v

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s