[Oneshot] Fortitude: Melody of Memories

Fortitude

Fortitude: Melody of Memories

Scriptwriter: YoonAra

   Twitter:  (@MutiaraHergiati))

   Facebook:  ( Mutiara Hergiati)

Main Cast(s):

  • Girls’ Generation’s Yuri as Kwon Yu Ri
  • Super Junior’s Yesung as Kim Jong Woon
  • IU As Lee Ji Eun

Support Cast(s): Find it by yourself.

Genre: Romance

Rating: PG-15

Duration: Oneshot

   ѕυммαяу: Melodi sebuah lagu bagi Yu Ri telah membawa kenangan-kenangan yang bahkan tak diingatnya. Dan Jong Woon membiarkan kenangan terindahnya berlalu begitu saja, seperti melodi usang yang dimainkan Lee Ji Eun hari itu…

Fortitude: Melody of Memories

     Seorang gadis sedang terburu-buru keluar dari mobilnya. Begitu ia menginjakkan high heelsnya di trotoar jalan, gadis itu memilih lari tanpa mengindahkan panggilan seorang pria paruh baya yang dari pakaiannya terlihat seperti seorang sopir pribadi.

     Gadis itu berlari menerobos lalu lalang orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sudah tak terhitung berapa kali gadis itu mengucapkan ‘ permisi ‘ ataupun tubuhnya bersenggolan dengan tubuh orang lain.

     Beberapa kali gadis bersurai panjang itu hendak tergelincir akibat high heelsnya. Untung ia memiliki gerak refleks yang lumayan bagus. Dari kejauhan kelopak bunga Sakura yang ditanam di sepanjang trotoar nampak berjatuhan. Seolah ikut mendramatisir suasana.

      “ Aku, Kwon Yu Ri… Tidak boleh terlambat! ” Perkataan gadis itu agaknya adalah kalimat penyemangatnya. Wajah Yu Ri sumringah tatkala restoran bergaya tradisional Korea ada di depan matanya.

      Kwon Yu Ri tersenyum lebar begitu memasuki restoran yang luas bangunannya ia taksir seluas dua kali lapangan sepak bola. Yu Ri mengalihkan pandangan takjubnya ke arah dua orang gadis yang menyentuh pundaknya.

      “ Kami menunggumu selama 10 tahun! ” Ucap seorang gadis sembari memperlihatkan kesepuluh jari tangannya yang berdiri tegak ke arah Yu Ri.

     “ Maaf. ”

     “ Yu Ri-yaa, kau sudah melewatkan acara reuni ini dua kali. Kau ini kemana saja? Bahkan tak ada teman kami yang dapat menghubungimu. Kita semua merasa lost contact denganmu. ” Keluh gadis lainnya yang mengenakan dress berpotongan asimetris.

      Yu Ri terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya.

      “ Ayah, Ibu, Adikku, dan ingatan… Aku kehilangan semuanya. ” Batin gadis itu.

     “ Ah, aku merindukan kalian. ” Ucap Yu Ri pada kedua gadis tersebut. Ia tak mungkin menceritakan keadaannya yang sebenarnya.

       Kedua teman Yu Ri tertawa girang. Mereka mengungkapkan bahwa tempat reuni kali ini benar-benar kuno. Seperti Woo Bin. Selera Woo Bin yang tak pernah berubah.

       “ Hei, setidaknya kita mampu mengundang Lee Ji Eun! ” Seseorang tiba-tiba ikut serta dalam pembicaraan.

       “ Woo Bin, tentu saja. Dia kan yeojachingumu. Apa kau mengenal gadis cantik ini? ” Tanya gadis yang mengenakan dress berpotongan asimetris.

         Woo Bin mengamati Kwon Yu Ri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sambil mengangguk-anggukkan kepala, Woo Bin menyimpulkan bahwa itu Kwon Yu Ri.

         Ia menyebut gadis yang mengenakan dress berpotongan asimetris itu bodoh. Mana mungkin laki-laki sepertinya melupakan sosok Kwon Yu Ri yang setiap hari memukuli teman laki-laki di kelasnya. Ia mentertawai pertanyaan konyol gadis yang dipanggilnya Rae Hee itu. Masih dengan wajah sok polosnya, Woo Bin menyindir Lee Ah Yeon yang tak kunjung memiliki pacar juga.

         Gadis yang dipanggil Ah Yeon itu membela diri bahwa selama ini ia merasa jika semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya tidak cocok dengannya.

         Woo Bin tak tahan mendengar pembelaan Ah Yeon, pria itu segera berlalu sebelum Ah Yeon menyemburkan deretan kata yang siap membuat panas telinga Woo Bin.

         “ Sekarang apa pekerjaan Ah Yeon-sshi? ” Tanya Yu Ri, mencoba mengakrabkan diri. Ia berpikir, setidaknya harus melontarkan satu pertanyaan untuk meraba-raba siapa sebenarnya Ah Yeon itu.

          “ Yu Ri-ah, kau sudah berubah ya. Sejujurnya aku merindukan banmalmu, apalagi saat kau memarahi Woo Bin akibat menghina boyband favoritku. Big Bang. Aku sekarang menjadi editor novel. ”

           Yu Ri tercekat, metode yang biasanya diandalkannya ternyata gagal. Gadis itu tersenyum kaku. Untungnya ia terselamatkan karena Rae Hee mengusulkan agar mereka segera mencari tempat duduk.

            Seorang laki-laki terlihat memperhatikan gerak-gerik Kwon Yu Ri. Laki-laki berjas hitam berpotongan simpel itu belum mengalihkan pandangannya, ia tetap menatap Yu Ri dari kejauhan hingga Yu Ri dan kedua temannya mendapatkan tempat duduk.

           “ Yu Ri-yaa, kau pasti tidak percaya ini. Aku sekantor dengan Jong Woon lho. Ternyata dia sering bercanda saat kami bekerja dalam satu tim. ” Celetuk Rae Hee senang. Yu Ri membelalakkan matanya, ia meniru antusiasme yang diperlihatkan orang yang ia identifikasi sebagai sahabatnya itu.

           “ Syukurlah. Pasti menyenangkan sekantor dengan orang yang kau suka. Rae Hee sshi benar-benar menyukai Jong Woon ya? ” Tebak Yu Ri seraya memasang senyum terbaiknya.

            Rae Hee dan Ah Yeon saling menatap. Mereka terlihat heran dengan perkataan sahabatnya. Sadar telah melakukan kesalahan, Kwon Yu Ri segera meminta maaf.

            “ Orang itu, namanya Kim Jong Woon. Bagaimana menurutmu Yu Ri-ah? ” Tanya Ah Yeon, ia menunjuk seorang laki-laki berjas hitam yang tadi memperhatikan Yu Ri.

            ” Eum? Menurutku, dia terlihat baik. Dia juga tampan. Jadi Ah Yeon sshi yang menyukai Jong Woon ya? ” Yu Ri mencoba menebak arah pembicaraan. Kali ini, gadis itu benar-benar kesulitan.

           “ Yu Ri-ah… Sebenarnya. Bukan aku ataupun Rae Hee yang menyukai Jong Woon. Tapi… ” Ah Yeon menggantung kalimatnya. Ia dan Rae Hee mengambil nafas dalam-dalam secara bersamaan.

           “ Kau. ” Ungkap Ah Yeon dan Rae Hee bersamaan. Yu Ri tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tangan kanannya bergetar, gadis itu mencoba tersenyum lagi. Sejujurnya ia takut kondisinya akan terbongkar. Yu Ri hanya tidak ingin teman-temannya mengkhawatirkan keadaannya.

           Alunan melodi piano yang dimainkan Lee Ji Eun, musisi yang sedang naik daun di Korea Selatan membuat orang-orang yang hadir seperti terhanyut akan setiap nada yang dihasilkannya.

           Kwon Yu Ri memejamkan matanya. Ia merasa kepalanya berdenyut hebat. Ia memegangi kepalanya sembari meringis kesakitan. Kedua sahabat Yu Ri terkejut, mereka menanyakan keadaan Yu Ri. Tapi gadis itu terus berbohong, mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

            Perlahan, mata gadis itu basah oleh air mata yang mengalir. “ Melodi ini… ” Ucapan Yu Ri terputus karena derai air mata terus mengalir. Entah mengapa air matanya terus mengalir, padahal ia tak mengingat melodi itu.

        “ Should I Confess This Feeling. Ini lagu kesukaanmu semenjak SMP Yu Ri-yaa. Kau ingin aku menyanyikannya di depan sana? ” Tanpa menunggu jawaban Yu Ri, Rae Hee mendekati panggung.

            Lee Ji Eun menghentikan permainan pianonya kala Rae Hee meminta pacar Woo Bin itu mengulangi permainan pianonya. Orang-orang saling berpandangan, mereka penasaran. Rae Hee membisikkan sesuatu ke telinga Ji Eun. Lee Ji Eun nampak menganggukkan kepala tanda setuju.

             Rae Hee ingin menyanyikan melodi yang tergolong usang itu. Sudah sepuluh tahun Geum Rae Hee tak bertemu sahabat zaman SMPnya, Kwon Yu Ri. Rae Hee mengingat kembali kegiatan bernyanyi yang sering dilakukannya bersama Yu Ri dan Ah Yeon di sela-sela waktu luang.

              Should I Confess This Feeling adalah judul lagu yang sering mereka nyanyikan semenjak kelas VII SMP. Itu berarti lagu itu berusia hampir 12 tahun. Cukup usang memang.

             “ Oneuldo meonghani haneulman boda… ” Kualitas vokal Rae Hee tak kalah dengan Soyou, penyanyi asli lagu Should I Confess This Feeling. Alunan piano yang dimainkan Ji Eun makin membuat lagu itu terdengar sangat indah.

              Yu Ri mematung. Ia mengingat beberapa kilasan memori. Setelah sepuluh tahun, ia mengingat beberapa memori sekaligus.

              Ia melihat pandangannya selalu mengarah pada bangku pojok kanan nomor dua. Bangku tempat Jong Woon remaja duduk sembari mendengarkan cerita Shin Dong.

              Yu Ri mengingatnya. Omelan Yu Mi seonsaengnim akibat mendengar jawaban kurang memuaskan dari Jong Woon. Sebagai ketua kelompok, Yu Ri membuat alasan bahwa kelompoknya bingung mengukur karena pertumbuhan kacang hijau yang mereka tanam tidak menyentuh 1 milimeterpun.

              Terpancar kelegaan dalam diri masing-masing anggota kelompok Yu Ri manakala Yu Mi seonsaengnim mengangguk tanda mengerti. Kim Jong Woon hanya terdiam, sesekali ia mengalihkan pandangannya saat mata hitamnya menangkap pandangan Kwon Yu Ri.

                Riuh para siswa yang mengamati jaringan bawang merah secara berkelompok memecahkan konsentrasi Yu Ri. Gadis itu mendengus kesal, sedangkan anggota kelompok lainnya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

                Begitulah Yu Ri, itu sebabnya banyak siswa yang ingin berkelompok dengannya. Tidak perlu berpikir, karena sudah ada Yu Ri yang membereskan semuanya. Sebenarnya, Yu Ri tidak suka mengerjakan sesuatu secara kelompok. Ia lebih nyaman mengerjakan semuanya sendiri.

                 “ Sudah selesai! ” Pekik Yu Ri gembira. Anggota kelompoknya segera menghentikan aktifitas masing-masing.

                 “ Sini, biar kutuliskan nama anggotanya. Kwon Yu Ri, Hwang Na Yeon, Jung Seul Bi, Lee Shin Dong, Lee Gyo Bin, dan Jong Woon. Selesai. ” Kata seorang gadis yang duduk di samping Yu Ri.

                  “ Namaku Kim Jong Woon, Na Yeon. ” Ucap Jong Woon berusaha mengoreksi kesalahan Hwang Na Yeon. Gadis itu langsung menambahkan marga Kim ke sisi depan tulisan ‘ Jong Woon ‘ yang masih tersedia.

                  “ Sekarang sudah benar. Biar kukumpulkan ke Yu Mi seonsaengnim. ” Pinta Yu Ri pada Na Yeon yang langsung menyerahkan buku bersampul hijau ke Yu Ri. Gadis itu melangkahkan kakinya ke meja Yu Mi seonsaengnim dengan percaya diri.

              “ Dokter, harusnya aku mengikuti saranmu sejak dulu. Apa aku sudah terlambat? Tapi, hari ini aku tidak terlambat kan? ” Kwon Yu Ri  membatin ucapannya.

XXX

           Area restoran tempat reuni mulai lengang. Beberapa orang yang melewati tempat duduk Yu Ri mengucapkan salam perpisahan pada gadis itu.

        Gadis bertinggi semampai itu tak menyangka akan menjadi pusat pembicaraan teman-temannya. Banyak yang penasaran alasan Yu Ri tak pernah datang ke acara reuni hingga meminta nomor handphone gadis tersebut.

       Usai mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan pada dua sahabatnya, kaki Yu Ri melenggang keluar. Ia berjalan pelan, kakinya tersiksa karena high heels. Sesekali ia mengecek ponselnya, kalau-kalau mendapat balasan pesan pendek dari Lee ahjusshi – sopir pribadinya – .

        Pukul 10 malam waktu setempat, Yu Ri masih duduk di kursi panjang berbahan kayu dekat pohon Sakura di pelataran restoran.

        Kwon Yu Ri menggosok tangannya yang mulai kedinginan. Bahan dress yang dikenakannya memang berbahan katun, ia menyesal tidak membawa mantel bulu favoritnya.

        Gadis itu memandangi kakinya. Bengkak, bagian terparahnya adalah kulitnya yang mengelupas. Yu Ri melepas high heelsnya. Gadis tersebut dapat merasakan dinginnya trotoar.

         “ Apa kau baik-baik saja? ” Tanya seseorang. Yu Ri mendongakkan kepalanya. Untuk beberapa saat Yu Ri terkesiap.

         “ Ne, Jong Woon. ” Jawab Yu Ri, penuh dengan kecanggungan. Jong Woon tersenyum, ia melepas sepatunya lalu memakaikannya ke kaki Yu Ri. Laki-laki itu juga menyampirkan jasnya ke pundak Yu Ri.

         “Terima kasih. Tapi, bagaimana caraku mengembalikannya? ”

         “ Kau masih mengingat rumahku kan? Datanglah. ”

         “ Tidak… Apa itu dekat sini? ”

         “ Tanyakan saja pada Hee Ra. Kau menunggu jemputan? ”

         “ Hee Ra? Baiklah. Iya. Apa, kau tidak kedinginan? ” Tanya Yu Ri ketika memandangi kaki Jong Woon yang tidak terbungkus alas kaki.

          “ Tidak, aku merasa… Hangat. ” Ujar Jong Woon yang dibalas ‘oh’ oleh Kwon Yu Ri. Beberapa menit berlalu, tapi tidak ada yang memulai percakapan lagi hingga sopir pribadi Yu Ri sudah datang.

           Yu Ri pamit pergi, sopir pribadinya heran melihat penampilan Yu Ri. Pria paruh baya itu tersenyum. Sepertinya Lee ahjusshi– sopir pribadi itu- dapat menangkap sesuatu dari gerak-gerik Jong Woon.

            Sepanjang perjalanan Kwon Yu Ri hanya melamun sembari mencoba mengingat-ingat kenangannya lagi. Percuma, kepalanya malah makin berdenyut-denyut.

            “ Nona, apa Anda baik-baik saja? ”

Lee ahjusshi bertanya sembari memelankan laju mobilnya. Gurat wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Yu Ri segera meresponnya dengan anggukan kepala.

           “ Maaf saya terlambat, bibi Anda menyuruh saya mengantarkan beberapa barang ke rumah Paman Suh. ” Jelas Lee ahjusshi.

            Yu Ri hanya tersenyum tanpa menanggapi penjelasan Lee ahjusshi.

XXX

          “ Besok? Baiklah. Ne? Sampai jumpa juga, Yu Ri sshi. ”

           Yu Ri merapikan tatanan rambutnya sekali lagi. Mengecek pakaian yang melekat pada tubuhnya lalu menyemprotkan parfum beraroma cherry blossom.

           Begitu bunyi klakson mobil dibunyikan Lee ahjusshi, gadis itu bergegas mengambil sepatu dan jas milik Kim Jong Woon.

           Gadis itu berharap dapat mengingat kenangannya lagi jika ia berkunjung ke rumah Hee Ra dan bertemu Jong Woon. Lee ahjusshi memfokuskan matanya pada jalanan yang ramai. Sudah beberapa kali Lee ahjusshi mendahului laju truk-truk yang berjalan lambat.

         “ Yu Ri sshi, sudah lama sekali!”  Tutur Hee Ra seraya memeluk tubuh Kwon Yu Ri. Yu Ri membalas pelukan hangat Jung Hee Ra. Hee Ra tersenyum ramah lalu mempersilakan Yu Ri duduk. Tak lupa Hee Ra membuatkan secangkir teh untuk Yu Ri.

           Mereka berbincang akrab, bahkan Ibunya Hee Ra ikut serta usai mengetahui teman Hee Ra semasa SMP itu mampir ke rumah mereka. Yu Ri tak sanggup menahan rasa ingin tahunya tentang keberadaan Yoon ahjusshi, appanya Hee Ra. Maka ia tak sungkan menanyakan hal itu.

             Kwon Yu Ri heran melihat perubahan wajah dari dua orang yang duduk di hadapannya.

             “ Appa… Sudah meninggal 10 tahun yang lalu Yu Ri sshi. Bukankah kau datang ke acara pemakamannya? ” Kata Hee Ra, suaranya bergetar. Seperti berusaha menahan tangis.

             Sadar karena melakukan kesalahan lagi Kwon Yu Ri langsung meminta maaf. Ia mengatakan bahwa dirinya kehilangan sebagian memori semenjak kecelakaan tragis yang menimpa keluarganya, 10 tahun lalu.

             Kali ini ia ingin jujur pada Hee Ra karena ia takut Hee Ra akan membencinya.

              Hee Ra membelalakkan kedua matanya. Sekarang, yeoja berambut keriting itu tahu alasan Yu Ri yang tak pernah mendatangi acara reuni. Ibunya Hee Ra menepuk pundak Yu Ri, seolah memberinya semangat untuk tetap tegar.

               “ Yu Ri sshi, selama 10 tahun… Apa yang kau lakukan? ” Tanya Hee Ra setelah menyeruput secangkir teh buatannya.

              ” Aku… Sembunyi dari dunia. Jika teman-temanku tahu, mereka pasti akan mengasihaniku. Aku tidak suka mendapat tatapan kasihan. “

             “ Lalu, sekarang kau tinggal dimana nak? ” Kali ini pertanyaan datang dari Ibunya Yoon Hee Ra.

            “ Saya tinggal bersama bibi saya. Setelah kecelakaan itu, saya pindah ke London. Mengikuti suami bibi saya yang pindah tugas kesana. ” Tutur Yu Ri.

            “ Yu Ri sshi, ada tempat yang ingin kau kunjungi kan? Aku akan mengantarmu. ” Hee Ra berdiri sembari tersenyum. Yu Ri membalasnya dengan mengangguk.

             “ Ibu akan membuat kue. Jangan pergi terlalu lama. Sebenarnya Ibu takut sendirian. ”

  • ••

             Yoon Hee Ra tersenyum, ia memberi isyarat jika ini rumah yang hendak dituju Yu Ri. Yu Ri menyentuh batang pohon maple yang ada di dekatnya sembari menutup kedua matanya. Gadis itu berusaha menyusuri setiap memori yang ada di otaknya. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Hee Ra yang mulai menjauh.

        “ Kuharap, kau akan mengingatnya. Kau harus membuatnya tersenyum lagi ya. Setelah 10 tahun, kupikir ini adalah waktunya. ” Batin Hee Ra, sekilas matanya menangkap punggung sesosok lelaki yang mendekati Yu Ri.

        Hee Ra berjalan pelan melewati jalanan lengang. Gadis itu merasakan kebahagiaan, ia merasa bahagia untuk Yu Ri.

        Langkah kaki Hee Ra terhenti ketika melihat kursi memanjang kusam, cat cokelatnya telah memudar. Tergantikan oleh hijaunya lumut yang tumbuh di kursi berbahan kayu itu. Banyak sisinya yang berlubang, akibat rayap. Namun, ingatan Hee Ra tak memudar atau hilang tentang kenangan yang ia dapat lewat kursi itu.

          Yu Ri tersenyum malu manakala Hee Ra mampu menebak orang yang disukai seorang Kwon Yu Ri. Tiga gadis lainnya tak henti-hentinya menggoda Yu Ri.

           Tiba-tiba terdengar bunyi perut Hee Ra. Sontak, hal itu membuat semua gadis yang duduk di kursi memanjang itu tertawa keras. Seorang gadis mengusulkan agar mereka beramai-ramai membuat kimchi. Yu Ri setuju, begitu juga gadis lainnya.

            Mereka berjalan bersama, melewati jalan seperti yang dilewati tempat yang ingin dikunjungi Kwon Yu Ri.

           “ Halmeoni, tolong berikan sawi putih untuk kami. ” Pinta Hee Ra ramah. Seorang nenek tersenyum, ia mengambilkan apa yang diminta Hee Ra.

          “ Halmeoni, apa Jong Woon ada di rumah? ” Tanya Yoon Hee Ra setelah membayar belanjaannya. Yu Ri yang membawa belanjaan Hee Ra menyentuh tengkuknya, curiga terhadap tingkah Hee Ra.

         “ Ada. Wae? ”

         “ Aah, temanku ini… Dia menyukai Jong Woon. Namanya Yu Ri. Tolong beritahu Jong Woon ya. ” Tubuh Yu Ri melemas. Gadis itu berusaha membantahnya dengan keras.

         Tiba-tiba terdengar suara Jong Woon memanggil nenek itu dari dalam rumah. Nenek itu segera meninggalkan tokonya lalu berjalan menuju asal suara.

          Kaget, refleks Kwon Yu Ri berusaha lari. Keempat temannya ikut mengejarnya. Mereka tertawa melihat Yu Ri yang sedang salah tingkah.

          “ Yu Ri sshi, aku menyesal tidak banyak membantumu. Di masa lalu, aku hanya sering menggodamu saja. Aku hanya ingin melihat semu merah di pipimu yang terlihat lucu itu. Tapi, sekarang aku ingin melihat senyum lebar di bibirmu. ” Hee Ra masih menatap kursi memanjang itu.

          “ Sendirian? ” Suara seseorang memecah keheningan. Yu Ri membuka kedua matanya, gadis itu berbalik ke belakang.

          “  Ah, tidak… ” Mata Yu Ri mencoba mencari-cari sosok Hee Ra yang sudah menghilang.

          “ Jong Woon, maaf dan terima kasih. ” Ucap Yu Ri, gadis itu menyerahkan sebuah kotak berisi jas dan sepasang sepatu milik Kim Jong Woon. Yu Ri berbalik, hendak pergi dari tempat itu,

          “ Yu Ri, hajima! ” Jong Woon memegangi tangan Yu Ri dengan erat, sangat erat malahan. Hingga gadis itu mengaduh kesakitan.

          Jong Woon melangkah maju, sekarang tubuhnya dan tubuh Yu Ri berhadap-hadapan.

          “ Ini memalukan Jong Woon. Aku tak pernah tahu apa yang kau inginkan dariku. Aku tidak pernah berhasil mengartikan tatapan matamu itu. Aku juga tak mengetahui pasti perasaan apa yang kini kurasakan… ” Rentetan pengakuan Yu Ri membuat Jong Woon termenung.

          Kini, Yu Ri tak sanggup menahan air matanya. Gadis tersebut merasa bahwa dirinya sangat menyedihkan karena tiba-tiba menangis. Yu Ri sebenarnya sangat terkejut karena dapat mengingat semua itu.

          “ Aku menyesalinya sekarang. Kwon Yu Ri, aku menyesal karena membuat hal itu menjadi sebuah kenangan yang berlalu begitu saja. ” Perkataan Jong Woon membuat Yu Ri berlari. Gadis itu terus berlari, dan Jong Woon terus mengejar langkah kaki gadis itu.

          Tapi, Yu Ri tak berminat menghentikan aktivitas larinya. Hingga klakson sebuah truk membuat kakinya seolah berhenti. Jong Woon yang melihat itu segera mendorong tubuh Yu Ri. Yu Ri terjatuh, tubuhnya hanya berjarak beberapa langkah dari Jong Woon. Truk itu semakin keras membunyikan klakson saat Yu Ri berlari mendekati Jong Woon.

           Kim Jong Woon terpaku melihat apa yang dilakukan Yu Ri. Tapi gadis itu malah tersenyum, sampai pandangan Jong Woon berubah menjadi gelap.

  • ••

            Seorang gadis berjalan mendekati Lee Ji Eun yang memainkan melodi lagu Should I Confess This Feeling. Melodi usang karena sudah berumur 15 tahun yang lirik lagunya dinyanyikan Soyou.

            Ji Eun menghentikan permainan pianonya. Ia menatap gadis bergaun pengantin warna putih gading di hadapannya dengan sedih. Lee Ji Eun tiba-tiba saja menggenggam erat tangan gadis itu, seolah tak ingin membiarkan gadis itu jauh darinya.

             “ Yu Ri, kau benar-benar akan melakukan ini? Kau bahkan tak mencintainya! Apa kebahagiaan bibimu lebih penting? ” Tanya Ji Eun, gadis itu ternyata Kwon Yu Ri.

              Yu Ri hanya mengangguk pelan. Ia menambahkan bahwa tak akan ada yang peduli tentang pernikahan ini karena ia hanya mengundang kenalan bibinya, orang tua calon suaminya, dan tentu saja teman-teman calon suaminya.

                Yu Ri tidak mengundang sahabat-sahabatnya ataupun teman-temannya. Ia hanya mengundang Ji Eun sebagai pengisi acara.

              Ji Eun tersenyum miris mendengar penuturan Yu Ri. Lee Ji Eun berpikir bahwa gadis yang ditemuinya 5 tahun lalu berbeda dengan sekarang. Terutama mengenai kepribadian Yu Ri yang makin hari terasa makin dingin.

              “ Aku tidak mengharapkan ingatanku kembali lagi. Ketika aku sudah mengingatnya sebagian, sebagian hatiku telah hancur berkeping-keping. ” Batin Yu Ri, ia mengingat kecelakaan 5 tahun lalu.

               Bayangan dirinya yang menangisi kepergian Jong Woon di rumah sakit selalu menghantui hari-harinya. Bahkan setelah 5 tahun berlalu. Yu Ri tak pernah menemukan Jong Woon lagi, tidak ada kabar. Lelaki itu masih hidup atau tidak, Yu Ri tak mengetahuinya.

               Tapi, Yu Ri tetap menanamkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi pada Jong Woon. Mungkin saja sahabat dan teman-temannya tak ingin gadis itu larut dalam kesedihan mendalam jika mengetahui sebuah kenyataan.

                Di hari yang paling dinantikan para wanita seperti ini, Kwon Yu Ri tidak merasakan perasaan bahagia setitikpun. Ia menganggap kebahagiaannya telah sirna 5 tahun lalu, bersama hilangnya Kim Jong Woon.

                 “ Agasshi? Apa kau bersedia hidup dalam suka maupun duka dengan Choi Tae Yang? ” Tanya sang pastor. Tak ada respon dari Yu Ri. Hingga sang pastor mengulang pertanyaan lagi. Yu Ri benar-benat seperti orang linglung.

                 Ia baru tersadar ketika Tae Yang menyikutnya pelan. “ Eh? ”

                 “ Apa kau bersedia hidup dalam suka maupun duka dengan Choi Tae Yang? ” Dengan muka yang mulai terlihat tak sabar, pastor itu mengulangi pertanyaan itu lagi.

                 “ Aku… Ber… ”

                 “ Tunggu! ” Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah 3 orang perempuan, mereka tiba-tiba menghambur ke arah Yu Ri dan menarik tangan Yu Ri. Menyuruh gadis bergaun pengantin itu mengikuti langkah mereka.

                 Yu Ri menengok ke arah Ji Eun. Ji Eun mengedipkan sebelah matanya. Ia bersyukur 3 orang itu hadir, walau agak terlambat dan tidak sesuai dengan skenario yang sudah direncanakan.

                 Tae Yang sebenarnya berusaha mengejar, tapi Lee Ji Eun melarang lelaki itu pergi. Sementara Bibi Yu Ri meminta maaf, sepertinya ia juga harus menahan malu.

                  Karena terburu-buru, high heels Yu Ri terlepas. Tubuhnya hampir oleng jika Yoon Hee Ra tidak menahannya. Rae Hee melepaskan sepasang sepatunya, Ah Yeon lalu memakaikan flat shoes warna putih Rae Hee ke kaki Yu Ri.

                  Meski Yu Ri terus berteriak meminta penjelasan, ketiga orang itu tetap saja menggiring Yu Ri hingga halte bus. Ketika keempat orang itu memasuki bus, karuan saja semua penumpang menatap mereka dengan pandangan heran. Apalagi saat mereka menatap penampilan Yu Ri dengan wedding dress-nya.

                Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu satu jam. Walau satu jam berlalu, baik Hee Ra, Rae Hee, maupun Ah Yeon tidak mengatakan petunjuk apapun atas segala pertanyaan Yu Ri. Mereka hanya menyuruh Yu Ri turun di pemberhentian berikutnya.

                Dan Yu Ri menuruti perintah ketiga orang yang menculiknya dari acara pernikahan mewahnya. Di sinilah Yu Ri, duduk tanpa tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan. Gadis itu ternyata masih menggenggam buket bunga mawarnya.

                Dari kejauhan, ia melihat barisan tentara bergerak maju. Walau samar, ia dapat menangkap sosok seseorang yang dikenalnya.

Gadis itu berlari. Nafasnya tidak beraturan. Ia meminta barisan tentara itu untuk berhenti. Permintaannya dituruti, seorang tentara meminta izin pada atasannya untuk tinggal sebentar.

               Setelah yakin barisan tentara itu pergi, ia menghampiri sosok lelaki berpakaian tentara tersebut. Tanpa mengucapkan apapun, Yu Ri menampar lelaki itu.

               “ Aku sudah tahu. Apa yang kau inginkan, arti tatapan matamu, dan perasaanku. ”

               “ Kau tahu? ”

               “ Kau menginginkanku. Artinya kau menyukaiku. Mengapa semua tingkah dan perkataanmu itu selalu ambigu bagiku? Aku sudah mengingat sebagian ingatanku. Aku menyukaimu, semenjak kita satu kelompok di kelas VII SMP. Menanam kacang dan mengamati jaringan yang ada di bawang merah melalui mikroskop, kau tak tahu bagaimana senangnya aku kan? Aku berharap mendapat ucapan selamat darimu ketika mendapatkan piala-piala itu. Kau adalah motivasiku untuk meraih semua penghargaan itu…Kim Jong Woon! ”

              “ Aku selalu berangkat pagi, berusaha menghadap ke arah Shin Dong saat berbicara di bangkuku, berpura-pura mengalihkan pandangan saat berbicara denganmu, berusaha menahan malu saat harus berbicara denganmu, berlari dan menutup pintu kelas karena tak tahu harus bagaimana, dan hanya bisa memandangimu saat perpisahan kelas IX. Aku ingin selalu melihatmu, melihat berbagai ekspresimu. Saat itu aku hanya berpikir ingin melihatmu. ”

              “ Lalu, mengapa kau melakukannya padaku? Mengapa kau tiba-tiba mengaku menjadi pacarku dan mengatakan bahwa kita hanya berteman? Hatiku sakit. ”

              “ Karena, kau adalah Black Pearl. Kau mampu bersinar dengan caramu sendiri, itu yang membuatmu disukai banyak orang. Saat itu, Kyu Hyun membuka pesan pendekmu. Dan aku belum menghapusnya, aku tak akan menghapusnya. Tapi, ia malah menanyakan apakah kau pacarku. Aku bingung, tapi aku segera mengangguk. Lalu, aku tahu bahwa Han Geng menyukaimu. Aku tidak mungkin bersaing dengan sahabatku sendiri. Maaf, aku menyesal. Kau benar, aku menginginkanmu. ”

                Yu Ri menitikkan air matanya, gadis itu mendapatkan jawabannya. Jawaban yang selalu diinginkannya. Tanpa kebohongan.

              “ Walau waktu telah berlalu dan mengubahku. Aku tak dapat menghapusmu Jong Woon-ah… ” Yu Ri menangis sesenggukan. Gadis itu begitu emosional.

             Tanpa keraguan, Jong Woon memeluk erat tubuh Yu Ri.

             “ Tidak. Kau selalu menjadi Black Pearl. Tangisanmu masih sama. Kau selalu menangis dan memukul setiap orang yang mengganggumu. Kau selalu begitu. ”

             Yu Ri mencoba melepaskan pelukan Jong Woon yang dirasanya terlampau erat. Namun Jong Woon tetap bersikeras memeluk Yu Ri.

           “ Hei, apa yang kau lakukan! Aku tidak bisa bernafas! ” Teriak Yu Ri, tepat di telinga kanan Jong Woon.

           Hembusan angin perlahan menggugurkan dedaunan pohon maple. Jong Woon melepaskan pelukannya. Belum sempat Yu Ri menghela nafas panjangnya, Jong Woon mencium pelan bibir Yu Ri.

           Yu Ri yang shock pun terjatuh.

           “ Apa itu? Itu untuk suamiku! ” Racaunya sembari memegangi bibirnya. Gadis itu sungguh tak pernah mengira Jong Woon akan menciumnya.

          “ Yah, ciuman. Sebenarnya… Itu juga first kissku… ” Jong Woon mengatakan hal itu sembari memegang tengkuknya. Yu Ri hanya bisa terpana mendengar pengakuan Jong Woon.

         “ Aku akan menjadi suamimu. ”

Yu Ri POV

        “ Aku akan menjadi suamimu. ” Selalu saja seenaknya berkata. Setelah membuatku patah hati, lalu membuatku menyia-nyiakan kemudaan dan waktuku, mencuri ciuman untuk suamiku, dan sekarang ia berkata akan menjadi suamiku!

        Terima kasih…

        Karena selalu begitu.

        Tanpamu..

        Aku tak akan tahu arti hidup.

        Tak akan tahu arti persahabatan.

        “ Kau kenapa? ”

         Tentu saja aku terkejut, bodoh! Hei, apa yang kau lakukan? Jangan mendekat, jangan!

Yu Ri POV END

         “ Kau kenapa? ” Tanya Jong Woon pada Yu Ri. Laki-laki itu perlahan mendekat ke arah Yu Ri. Gadis itu memundurkan langkahnya sembari memegangi bibirnya.

         “ Berhenti! ”

         “ Kubilang berhenti! ”

         “ Baiklah! Ayo kita menikah. ”

           Jong Woon tersenyum kecil, ia meraih tangan milik Yu Ri. Mereka tersenyum bahagia seolah hari esok yang indah telah menanti di depan mata.

THE END

    Omona! Ini FF pertamaku dengan kiss scene yang absurd. Sahabat-sahabatku memaksaku untuk menambahkan kiss scene. Mereka mengancam tak akan membaca FFku jika tanpa kiss scene. Maaf jika kiss scene-nya terlihat dipaksakan. Aku suka pasangan YulSung, dan ini FF keduaku tentang mereka. Well, ini sudah 2 tahun semenjak debutku dengan FF Illa-Illa. Aku harap kemampuan menulisku di genre romance semakin baik. Jadi, bagaimana menurutmu? Terimakasih sudah membacanya. Jangan lupa comment, like, dan share ya! Kunjungi juga blogku, yoonara.blogspot.com. Terima kasih!

                                                                                                 A Lot of Love

                                                                                                   YoonAra

2 thoughts on “[Oneshot] Fortitude: Melody of Memories”

  1. Ini ff Yulsung barukan yach 😊😊soalnya baru nemu senengggg bngttt ahirnya ada juga auhtor Yulsung 😊😊 ceritnya bagus chingu kritik dikit yach
    Aku rada gx enak bacanya soalnya antara flash back sama sekrang gx ada Notifnya jd rada bingung.. alurnya agak kecepetan dikit tapi bagusss aku seneng feelnya dapet aku suka kalau itu yulsung happy happy..
    Aku juga suka nulis ff yulsung jika berkenan boleh promo yach

    fanfictionyulsung94blog.wordpress.com

    Makasihhh terus bikin ff yulsung abis udah langkaaa

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s