The Magician and the Doll (Chapter 6)

The Magician and The Doll

Scriptwriter: @arinnai ||  Title: The Magician and The Doll  || Main Cast:  Sandara Park, Lee Donghae, Xi Luhan, Kim Hyoyeon || Duration: Chaptered  || Genre: Romance, comedy, school || Rating: PG

Previous: Prologue // 1 // 5

“mwoya?! Dia menciummu?!!!” itulah reaksi Parkbom ketika aku menceritakan kejadian semalam, dimana Donghae mencuri ciuman pertamaku.

“ya begitulah…..”

“yak kau tidak bisa membiarkan sembarang orang mencium mu tanpa alasan Dara-ya!! Tapi, bagaimana perasaan mu terhadap pangeran itu?” Tanya Bommie

“aku sudah putuskan!!!” aku berdiri dan naik ke tempat tidur ku

“mwoya? Apa yang kau akan putuskan?”

“aku akan mengutarakan perasaanku pada Donghae!!!” yap, tekadku sudah bulat. Walaupun aku wanita tapi tak ada larangan kan untuk mengutarakan perasaan terlebih dahulu? Lagipula aku tidak bisa tinggal diam, aku harus tau perasaan dia padaku

“apa kau yakin? Donghae sepertinya bukan tipe yang suka berkomitmen…” ujar Bommie

“aku hanya ingin tau apa yang ia rasakan terhadapku, itu saja”

              Aku sudah meyakinkan diriku bahwa aku akan mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tapi jujur saja aku agak takut untuk menebak-nebak apa jawaban yang akan ia berikan. Pertama, ia menciumku. Kurasa itu salah satu fakta pendukung bahwa ia memang menyukai ku juga, tapi kemungkinan terburuknya… ia menolakku. Aniaaa!!!! Mau taruh dimana mukaku kalau ia sampai menolakku!! Terlebih lagi ia pasti akan mengejekku! Andweeeee!! Tapi jika kupendam perasaan ini aku bisa gila, aku harus menyatakan perasaanku apapun resikonya.

…………….

              Semalaman aku memikirkan bagaimana caranya aku mengungkapkan perasaanku ini, aku melakukan riset di internet bahwa pengungkapan perasaan itu harus diikuti dengan pemberian sesuatu atau mengajak orang terkasih ke tempat favorit kita. Sepertinya aku harus mengajak Donghae ke tempat yang romantis, yang pasti hal ini akan ku pikirkan matang-matang.

“yak Dara-ah!” ujar Bommie yang membuat ku terbangun dari lamunan panjang

“Bommie-ah kau membuatku kaget” ujarku

“yak apa kau lupa?!!” ujar nya

“lupa apaa?!”

“hari ini ulang tahunmu! Babo-ya!!” ujarnya

“jinjjaro? Aigoo kenapa aku bisa lupa!”

“yak, kau terlalu banyak memikirkan tentang pangeran itu, ini aku punya sesuatu untukmu” Bommie memberikan kado kecil dibalut bungkus kado hotpink yang sangat lucu

“apa ini?? Woah kau sangat baik Bommie-ah” ujarku sambil mengocok-ngocok kotak itu

“yak dan aku punya satu hadiah lagi!!!”

“apa itu?”

“aku sudah memberitahu Donghae bahwa hari ini adalah hari ulang tahun mu! Pasti ia sudah menyiapkan sureprize untukmu!!” ujarnya menggebu-gebu

“kau memberitahu siapa?!!!!! Ottokae? Aku belum siap untuk bertemu dengannya!”

‘you got one messages’

“siapa itu apakah itu Donghaee?” Bommie langsung menyambar ponselku yang tergeletak diatas meja begitu mendengar nada sms ku

“yak! Bommie-ah!!!”

“mari bertemu sepulang sekolah di rooftop. –Hae, yak!! Sepertinya ia ingin memberikan hadiah untukmu!!”

“jinjjaro?!!!!” aku menyambar ponselku dan ternyata sms itu benar dari Donghae!!!

“kau harus bertrima kasih padaku!” ujar Bommie

“gomawoyoo Bomieee” aku memeluk sahabat ku yang satu itu

              Yang lebih penting apa yang harus kulakukan ketika bertemu dengannya, kenapa keadaan lebih mudah ketika aku tidak jatuh cinta kepada nya. Tapi disisi lain aku ingin semua ini berhasil, aku sangat ingin tahu bagaimana perasaannya terhadap ku, aku tidak bisa tinggal diam dan hanya memendam perasaanku saja. Aku ingin tahu apakah Donghae menyukaiku atau tidak.

              Akhirnya bel menandakan selesainya pelajaran hari ini, sesungguhnya suara bel itulah yang kunantikan begitu menerima sms dari Donghae. Aku membereskan barang barangku lalu berjalan perlahan menuju rooftop. Jantungkui berdebar sangat cepat, seakan ingin melompat keluar dari dadaku. Aku membuka pintu akses menuju rooftop dengan hati-hati, aku masuk dan tidak ada siapa siapa disana. Aku mencoba melangkahkan kaki ku lebih jauh dan tiba-tiba..

“happy birthday..” tiba-tiba ada suara bisikan dari belakang, aku menoleh dan ternyata disanalah Donghae berada

“yak kau mengagetkanku!! Gomawo..” ujarku

“perhatikan ini” ia mengeluarkan topi sulapnya dan mengambil boneka kelinci yang ada dibelakangnya, ia memasukkan boneka itu ke topi nya “dalam hitungan ketiga, kelinci ini akan jadi hadiah untukmu, one, two, three….” Ia menarik kembali boneka yang baru ia masukkan dan tau apa? Boneka itu berubah menjadi kelinci hidup!! Kelinci sungguhan!! Kelinci putih yang lembut sekali

“kau memberikan ku ini??” ujarku sangat senang

“ne, kau rawat dengan baik”

              Apakah harus ku katakan sekarang? Apa ini momen yang tepat untuk mengungkapkan perasaan ku? Tidak ada saat yang benar-benar tepat. Karena perasaan ku ini tidak akan pernah tepat, jadi aku akan melakukan sekarang atau tidak sama sekali.

“aku menyukaimu Donghae-ah…” ujarku tegas

“yak sama-sama ini hanya kelinci kau tidak perlu berlebihan seperti itu”

“ania…. Aku benar-benar menyukai mu, Lee Donghae” kali ini pandangan kami bertemu

“aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap ku…” ujarku

“Dara… aku menyukaimu, tapi tak  lebih dari sekedar teman dan partner kerja… aku tidak memiliki rasa suka yang sama dengan yang kau miliki terhadapku….” Ujarnya tanpa melihat langsung ke mataku

“sudah kuduga… oke aku akan pergi ibu ku pasti mencariku kami akan makan malam” ujarku berjalan kea rah pintu memunggungi Donghae yang diam disana tanpa berkata apa-apa, seharusnya aku sudah mengetahuinya dari awal, cewe bodoh.

………………………

              Sejak hari itu aku tidak ingin bertemu dengan Donghae atau siapapun, aku mencoba menjalani kehidupanku seperti biasa tanpa baying-bayang Donghae, sepulang sekolah aku langsung menuju kerumah agar tidak bertemu Donghae sepanjang perjalanan di koridor. Aku akan mengakuinya bahwa perasaanku saat ini sangat sakit dibuatnya, ku kira aku menangkap sinyal-sinyal yang ia berikan dengan benar, tetapi pada akhirnya aku hanya mempermalukan diriku sendiri.

“Dara-ah sampai kapan kau mau dirumah terus? Ayo kita ke festival!” ujar Bommie di telepon

“Bommie-ah aku sedang tidak berselera untuk keluar”

“ah aku tidak mau mendengar keluhanmu! Aku akan tiba dalam 10 menit!” Bommie memutuskan sambungannya, mau tidak mau aku harus pergi dengannya, aigoo aku benar-benar tidak berselera untuk pergi kemana pun tapi aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke festival bunga itu, kalau bukan Bommie yang memaksaku aku lebih memilih dirumah sambil menonton film-film romansa picisan

“hei kau tidak memakai kimono mu?” ujar Bommie

“aku sedang tidak bersemangat untuk melakukan apapun” ujarku sambil menyeruput jus mangga ku sembari kami berjalan melihat booth2 lucu

“Sandara nunaa!!!” ujar suara dibelakangku, itu Luhan dan Donghae

“nuna kenapa kau tidak memakai kimono?” Tanya Luhan

“ah itu aku tidak sempat menyiapkan kimono nya” ujarku member alasan

              Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Donghae sejak kejadian waktu itu, aku sangat malu sampai tidak berani melihat kearah pria itu. aku memberanikan diriku untuk menoleh ke arahnya tetapi ia hanya memusatkan pandangannya ke langit-langit, mungkin dia juga merasa tidak enak bertemu denganku karena telah menolak perasaan ku waktu itu.

“Luhan-ah bisa kau mengantarku ke booth takoyaki? Aku traktir” ujar Bom

“jinjaro? Okay” lalu Luhan mengikuti Bom layaknya anak anjing, dan disinilah aku berdua dengan Donghae tanpa saling bercakap

“aku tidak pernah melihatmu disekolah belakangan ini… dank au tidak membalas sms ku” ujarnya tanpa melihat kea rah ku

“aku pulang cepat dan akhir-akhir ini aku merasa tidak ingin menggunakan ponsel” ujarku dengan seribu alasan

“tolong lupakan tentang perasaan mu terhadapku… aku mohon karena aku tidak merasakan apa yang kau rasakan” ujarnya, dan sekarang mata kami bertemu

“tenang saja…. Memikirkannya saja membuatku ingin muntah…” aku berbalik dan berjalan menjauhi Donghae, kata-kata yang barusan ku lontarkan sangat tidak sesuai dengan hatiku, aku tidak ingin menjauhinya aku ingin bersamanya….

Aku menangis.

Hatiku saat ini sangat sakit.

Ya Tuhan, kenapa kau membuatku mencintai seseorang…

Seseorang yang tak akan pernah mencintai ku.

“Dara nunaa! Apa kau ma-.” Ucapan Luhan terhenti ketika melihatku melewatinya berlinangan air mata

“yak Dara kau kenapa?!!!” Bommie menjatuhkan takoyakinya dan berusaha mengejarku

LUHAN POV

              Aku melihatnya menangis, berlinangan air mata dan hanya ada satu orang yang bertanggung jawab atas air matanya. Aku berlari dan melepaskan tinjuku kea rah pipi kanan Hae hyung.

“yak!!!! Apa yang kau lakukan?!!” ujarnya terjatuh ke tanah

“kenapa kau membuatnya menangis?!!! Jawab aku hyung!!” emosi ku sudah tak dapat dibendung

“itu bukan urusanmu” ujarnya tengah berdiri sambil menyisihkan darah yang keluar sedikit dari bibirnya

“aku menyukainya… aku akan merebutnya dari siapapun termasuk kau hyung” ancam ku

“terserah, kau mau mengambilnya atau apa aku tidak peduli” Hae hyung pergi meninggalkanku, dan mulai hari ini lah aku tidak akan mengalah lagi pada Donghae hyung. Aku akan mengejar Sandara nuna.

 

 

One thought on “The Magician and the Doll (Chapter 6)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s