The Story Only I Didn’t Know [3/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [3/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1. 2

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

YeomKwang High School

Jiyeon berjalan pelan menuju kelasnya, gadis itu tampak masih tersenyum kecil saat kembali mengingat kelucuan yang di buat Chanyeol bersama teman-temannya di gedung seni beberapa saat yang lalu. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika laki-laki menyebalkan itu, punya sisi yang lebih manusiawi yang sedikit menyenangkan untuk gadis itu.

Jiyeon memutar bolamata beningnya saat di rasanya jika siswa dan siswi yang tidak sengaja bertemu dengannya di sepanjang langkahnya kini, terlihat memperhatikan gadis itu dengan intens, membuat gadis itu sedikit menelitik penampilannya hari ini yang menurut gadis itu jauh dari kata aneh.

Saat ini Jiyeon hanya mengunakan seragam sekolahnya, tanpa jaket atau sweater, rambut panjang gadis itu di biarkan tergerai tanpa tambahan atribut apapun di kepala gadis itu. Jiyeon tampak menaikkan bahunya tak peduli dan terus melangkah menuju kelasnya, mengabaikan tatapan ingin tahu yang tersirat dari sebagian siswa yang memperhartikannya.

Jiyeon melambaikan tangannya ke arah Jihyun yang terlihat sedang berkumpul dengan teman-teman mereka yang lain, Jihyun terlihat langsung berdiri dari bangku yang di dudukinya, gadis berkacamata itu bahkan segera berlari menghampiri sahabatnya itu dengan tatapan penuh kecurigaan.

“Wae—waeeyooo?” tanya Jiyeon tergagap saat Jihyun memandangnya penuh selidik, bahkan Jihyun melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa memandang ku seperti itu? memangnya ada yang aneh di wajah ku?” ucap Jiyeon lagi dengan meraba wajahnya, namun Jihyun tak bergeming, gadis cantik itu kini malah mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Jiyeon.

“Kau— berpacaran dengan Park Chanyeol?” tanya Jihyun dengan tatapan yang semakin curiga, gadis itu juga terlihat ragu dengan pertanyaannya sendiri, tapi apa boleh buat gadis itu harus tetep menanyakannya, karna gosib tentang Jiyeon yang di gandeng Chanyeol menuju gedung seni beberapa saat yang lalu sudah merebak di kalangan siswa siswi yang tadi sempat melihat kejadian itu.

“MWO?” teriak Jiyeon tak tertahan, gadis itu membulatkan mata beningnya, terlihat sangat syok dengan pertanyaan sahabatnya itu. “Aa—apa yang kau katakan Jihyun-aa, mana mungkin aku berpacaran dengan laki-laki menyebalkan itu?” jawab Jiyeon dengan tergagap, gadis itu terlihat tertawa sumbang guna mengusir kegugupan yang menyergap tubuhnya, sesaat setelah semua mata yang ada di dalam kelasnya kini menatapnya penuh minat.

“Tapi banyak yang melihat mu pergi ke gedung seni dengan Chanyeol, kau bahkan— hey! kau bahkan membolos di pelajaran seni Jongwoon Seonsaengnim, Song Jiyeon!” ucap Jihyun lagi dengan penuh semangat, membuat Jiyeon terdiam seketika.

Jiyeon memutar otak brilliant yang dia punya dengan cepat, guna mencari jawaban yang masuk akal untuk menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Jihyun, karna sungguh Jiyeon benar-benar tidak berharap jika kesalahpahaman yang di buat Chanyeol pada dirinya ini semakin berlarut larut.

“Ne itu benar tapi—-aku tidak berpacaran dengannya, aku hanya—-“ ucapan Jiyeon terputus seketika saat suara yang berasal dari  pengeras suara yang ada di sepanjang koridor sekolah dan di semua ruangan yang ada di sekolahnya ini, suara dari seorang siswa yang sangat di kenal oleh semua penghuni YeomKwang High School ini mulai membahana di segala penjuru sekolah.

“Aku Park Chanyeol ingin memberikan pengumumam yang sangat penting untuk kalian semua,”Jiyeon memejamkan matanya, dia tahu pasti apa yang akan sebentar lagi laki-laki itu akan umumkan, membuat gadis itu menundukkan kepalannya seketika.

“Mulai hari ini dan seterusnya, Song Jiyeon dari kelas 11-C adalah pacar ku, jika di antara kalian ada yang berani mengganggunya atau pun membuat gadis ku itu merasa tidak nyaman, maka kalian semua akan berurusan dengan ku, ARRASEO!!!”

Jiyeon meremas jemarinya dengan gusar, menghembuskan nafas putus asanya dengan kasar, karna gadis itu tahu pasti apa yang akan di dapatnya setelah ini. Namun sedetik kemudian gadis cantik itu tampak menegang sempurna saat mendengar kata-kata  terakhir yang di ucapkan Chanyeol di pengumumannya kali ini, kata-kata yang mengundang teriakkan histeris dari semua siswi YeomKwang High School, bahkan Jihyun yang tadinya hanya berdiri di samping Jiyeon dengan mulut yang terbuka lebar, kini sudah memeluk Jiyeon yang masih mematung di tempat dia berdiri itu dengan sangat erat.

“Song Jiyeon— Saranghamnida!”

***

Jiyeon menyandarkan tubuh langsingnya di depan mobil mewah milik Chanyeol, sesaat setelah jam sekolah selesai, gadis itu bahkan meninggalkan Jihyun begitu saja saat sahabatnya itu memintanya untuk pulang bersama hari ini, karna Jiyeon benar-benar harus bicara dengan Chanyeol tentang semua yang terjadi seharian ini.

Jiyeon terlihat mulai bosan saat harus menunggu Chanyeol yang tak kunjung datang, padahal gadis itu sudah menunggu selama hampir setengah jam. Gadis itu sengaja menunggu laki-laki itu untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka, yang menurut Jiyeon sudah melewati batas. Masih teringat di benak Jiyeon saat Jihyun yang memeluknya dengan erat, sahabatnya itu bahkan meneteskan airmatanya saat memberikan ucapan selamat pada Jiyeon, sesaat setelah pengumuman menghebohkan dari Chanyeol selesai.

Jiyeon juga masih sangat ingat dengan tatapan senang dari teman-temannya yang lain, saat memberinya ucapan selamat untuk statusnya sebagai kekasih dari sang penguasa sekolah yang tampan, Park Chanyeol. Gadis itu juga masih sangat ingat saat sebagian siswi yang terlihat murka saat melihat ke arahnya, gadis-gadis yang di yakini Jiyeon sebagai penggemar berat dari laki-laki menyebalkan dan tak tahu diri itu, membuat Jiyeon lagi-lagi harus mengusap dadanya guna meredam rasa kesal yang semakin memuncak pada sosok seorang Park Chanyeol.

Di samping Jiyeon menyandarkan tubuhnya terlihat seorang laki-laki bermata tajam dan berwajah imut hingga membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, memiliki tinggi badan 175 cm dan berbadan tegab atletis, berdiri beberapa langkah di sebelah Jiyeon, sesekali laki-laki itu terlihat menunduk hormat dengan senyum hangatnya tiap kali Jiyeon menatap ke arahnya.

“Apa tuan muda mu itu selalu pulang terlambat?” tanya Jiyeon ke arah laki-laki yang tak lain adalah sopir pribadi dari Park Chanyeol, membuat laki-laki itu untuk sekekian kalinya menundukkan kepalanya sekilas sebelum menjawab pertanyaan dari Jiyeon.

“Tidak juga nona Jiyeon, hanya terkadang—“ Jiyeon mengangkat tangannya, membuat laki-laki itu menghentikan ucapannya. “Sudahlah tidak usah di jelaskan, oiya! nama mu siapa paman— ah!Tapi kau belum setua paman Kim, jadi aku harus memanggil mu apa?” tanya Jiyeon seraya menelitik laki-laki di hadapannnya itu, laki-laki muda dengan senyum imutnya itu, memang masih sangat muda, Jiyeon bahkan menebak jika laki-laki itu masih seumuran dengan Choi Siwon.

“Saya Sungmin— Lee Sungmin,” jawab laki-laki itu dengan kembali tersenyum, membuat Jiyeon ikut tersenyum. “Kalau begitu aku akan memanggil mu— Sungmin oppa.” ucap Jiyeon sambil menatap Sungmin yang kini sudah mengibaskan tangannya berulang-ulang tepat di depan wajah Jiyeon.

Ania— nona Jiyeon, saya hanya sopir pribadi tidak pantas seorang nona muda, memanggil saya seperti itu,” ucap Sungmin dengan nada sungkannya, menatap Jiyeon yang malah hanya tertawa pelan.

“Hey! Tenanglah aku bukan nona muda mu, aku bukan majikan mu Sungmin oppa, majikan mu laki-laki menyebalkan itu bukan aku—- jadi aku berhak memanggil mu sesuka hati ku,” ucap Jiyeon lagi-lagi dengan tertawa pelan, menatap Sungmin yang terlihat kembali tersenyum sungkan, sebelum akhirnya mengangguk.

Jiyeon masih saja tertawa hingga tidak menyadari jika sudah ada 4 laki-laki tampan yang berdiri di belakangnya. Jiyeon memutar pandangannya saat melihat Sungmin yang membungkuk hormat di depannya, gadis itu terlihat langsung mengubah expresinya menjadi dingin saat matanya melihat Chanyeol yang sudah tersenyum lebar ke arahnya.

“Wah! Benar-benar sulit di percaya— ternyata pacar ku yang cantik ini, sudah menunggu di sini. Ada apa sayang? Apa kau sudah sangat merindukan ku hingga membuat mu menunggu di depan mobil ku?” ucap Chanyeol seraya merangkul pundak Jiyeon dengan lembut, membuat 3 orang laki-laki yang datang bersamanya itu tertawa dengan keras.

Namun berbeda dengan Jiyeon, gadis itu terlihat semakin kesal lalu melepaskan rangkulan Chanyeol di bahunya dengan sedikit kasar. “Yak! Kenapa kau sangat menyebalkan Park Chanyeol-ssi!” ucap Jiyeon dengan wajah murkanya, gadis itu terlihat mendonggak agar bisa melihat laki-laki jangkung yang berdiri di depannya itu.

“Sepertinya pacar mu sedang datang bulan Chanyeol, jadi lebih baik kau berhati-hati.” Ucap Kai dengan cengiran lebarnya, laki-laki tinggi itu tampak mengangkat kedua tangannya saat Jiyeon menatap marah ke arahnya.

“Lebih baik kita pulang sekarang, benar begitu kan Yixing, Luhan?” tanya Kai pada kedua temannya, saat melihat exspresi Jiyeon saat ini yang benar-benar marah, membuat Yixing dan Luhan mengangguk setuju lalu segera menuju mobil mereka masing-masing, yang terparkir tepat di sebelah mobil milik Chanyeol, setelah sebelum berpamitan pada Chanyeol.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakana pada ku, Jiyeon?” tanya Chanyeol sesaat setelah laki-laki itu melambaikan tangannya pada teman-temannya yang sudah berlalu dengan mobil mereka.

Jiyeon masih diam gadis itu terlihat mengatur nafasnya, Chanyeol hanya tersenyum sekilas laki-laki itu menatap ke arah Sungmin yang masih berdiri di dekat meeka. “Sungmin hyung— tunggulah di dalam sebentar,” ucap Chanyeol dengan tersenyum, membuat Sungmin mengangguk mengerti lalu berlalu dan masuk ke dalam mobil.

Chanyeol laki-laki tinggi itu tampak menunduk hingga membuat Jiyeon tidak terlalu mendonggak, untuk dapat melihat wajahnya, laki-laki itu menatap ke dalam bolamata bening Jiyeon yang baru di sadari oleh Chanyeol sangat indah itu, dengan tersenyum membuat Jiyeon terdiam untuk beberapa saat.

“Ap—apa maksud ucapan mu tadi siang? Kau tahu jika semua siswa di sekolah kita sudah menganggap jika kita berdua benar-benar berpacaran sekarang?” ucap Jiyeon dengan emosi yang tertahan, namun Chanyeol hanya tersenyum. “Dan— dan— apa maksud kata-kata terakhir mu, yang mengata—“ Jiyeon menghentikan ucapannya, gadis itu benar-benar tidak bisa jika harus mengulang kata cinta yang di ucapkan Chanyeol tadi siang.

“Ah! Kata-kata jika aku mencintai mu?” tanya Chanyeol seraya menegakkan tubuhnya, laki-laki itu bahkan tertawa pelan hingga tidak sadar dengan tatapan dingin Jiyeon saat ini.

“Ne kata-kata itu! kau tahu— jika kata-kata itu sangat sacral dan penuh makna di baliknya? bukan kata-kata ringan yang bisa di ucapkan seenaknya,—“ ucap Jiyeon dengan suara yang lebih rendah, membuat Chanyeol menghentikan tawanya dan menatap gadis itu dalam diam. “Laki-laki brengsek seperti mu tidak akan pernah mengerti tentang itu, tidak akan pernah mengerti jikacinta bukanlah sekedar kata-kata sederhana— tapi juga sebagai ungkapan perasaan yang suci kepada seseorang.” Ucap Jiyeon dengan suara yang semakin lirih.

Jiyeon mengalihkan pandangannya saat Chanyeol hanya menatapnya dalam diam. “Kalau begitu buat aku mengerti tentang hal itu,” ucap Chanyeol dengan suara rendahnya, membuat Jiyeon menetap laki-laki yang ternyata sudah menatapnya itu dengan menghembuskan nafasnya pelan.

“Park Chanyeol— bisakah kita mengakhiri semua ini dan mengembalikan semuanya seperti semula?” tanya Jiyeon dengan tetap menatap Chanyeol, gadis itu terlihat benar-benar putus asa dalam menghadapi laki-laki yang tiba-tiba saja hadir dan mengacaukan hidupnya.

“Tidak bisa!” ucap Chanyeol dengan suara beratnya yang terdengar sangat dalam.

“Park Chanyeol,—-“ ucapan Jiyeon terputus seketika saat suara seorang gadis memanggil namanya.

“Jiyeon-aa!” Jiyeon memutar pandangannya dan saat itu juga gadis itu terlihat menegang, karna dari arah pandangnya kini, gadis itu melihat seorang laki-laki tampan berjalan ke arahnya bersama Jihyun, tangan mereka bahkan saling bertautan, membuat Jiyeon mencengkram ujung rok seragam sekolahnya dengan kuat.

“Apa hari ini kau pulang dengan Chanyeol?” tanya Jihyun saat sudah berdiri di hadapan Jiyeon dan Chanyeol, sambil mengerlingkan matanya menatap Jiyeon yang belum beraksi, gadis itu terlihat mencuri pandang ke arah Chanyeol yang sudah tersenyum manis ke arahnya.

“Annyeong Chanyeol-ssi,” ucap Jihyun sambil menundukkan kepalanya sekilas, membuat Chanyeol mengangkat tangannya lalu mengerakkannya kekiri dan ke kanan dengan tetap tersenyum.

Jihyun tampak tersenyum senang seraya mengeratkan gengaman tangannya pada laki-laki tinggi di sampingnya, membuat gadis itu mendapat usapan sayang di kepala dari laki-laki tinggi itu.

“Jadi dia tuan muda yang kau kagumi itu?” ucap laki-laki yang berdiri di samping Jihyun dengan tersenyum ke arah Chanyeol.

“Ne! Siwon oppa, apa kau tahu jika sekarang adik mu Jiyeon, berpacaran dengan tuan muda ku ini?” tanya Jihyun sambil bergelayut manja di lengan Siwon, kekasih hatinya yang hari ini datang untuk menjemputnya dan tidak sadar jika saat ini Jiyeon sedang susah payah menahan butiran crystal yang mulai memenuhi ujung mata gadis itu dan siap terjun bebas kapan saja.

“Benarkah itu Jiyeon?” tanya Siwon sambil menatap Jiyeon yang sedari tadi hanya diam, membuat Chanyeol yang berdiri di samping gadis itu segera merangkul bahu Jiyeon dengan lembut. “Ne itu benar, mulai hari ini bahkan kemarin kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih,” ucap Chanyeol seraya mengeratkan rangkulannya, karna Chanyeol tahu jika gadis di sampingnya ini sekarang sedang tidak baik-baik saja.

“Syukurlah dan ingat kau harus menjaga adik ku ini dengan baik, Jiyeon— adalah gadis manis yang sangat baik, tapi dia suka sekali menangis bahkan sejak kecil dia suka sekali menangis karna hal kecil.” Ucap Siwon dengan kekehan kecilnya.

“Adik?” tanya Chanyeol. “Ne sejak dulu Jiyeon sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri,”

Jiyeon membeku di tempatnya perlahan Jiyeon mengerakkan matanya, menatap Siwon yang masih tertawa pelan di hadapannya itu, dengan tatapan penuh luka yang di sembunyikan dengan susah payah oleh gadis itu di balik mata beningnya. Laki-laki yang dulu selalu menemani hari-harinya, laki-laki yang pernah berjanji akan selalu berada di sampingnya dan menjaganya dari segala sesuatu hal yang buruk di dunia ini hingga maut menjemput mereka suatu hari nanti.

Tapi sekarangnya semua sudah berubah, sekarang tidak ada lagi Siwon oppa untuk Jiyeon, tidak ada lagi laki-laki yang suka mengendongnya saat gadis itu tidak sengaja tertidur di meja belajarnya, tidak ada lagi laki-laki yang suka menyayikan lagu saat gadis itu merasa sedih karna merasa rindu dengan orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.

Ya sekarang yang ada hanyalah Choi Siwon seorang anak laki-laki dari sahabat orang tuanya, seorang laki-laki yang sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO muda dari perusahaan milik keluargan laki-laki itu, seorang laki-laki yang kini hanya menatap pada seorang gadis cantik yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Lee Jihyun.

Sahabat yang di kenalkan Jiyeon saat gadis itu berulang tahun yang ke 15, yang hingga kini selalu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup gadis itu, karna sejak hari itu Choi Siwon sudah memilih Lee Jihyun sebagai kekasih pujaan hatinya, hingga membuat seorang Song Jiyeon terpuruk ke dalam dasar kesedihan hingga detik ini.

“Tentu saja aku kan menjaganya, Siwon hyung tenang saja.” Suara bass dari Chanyeol membuyarkan lamunan Jiyeon seketika, gadis itu terlihat tergagap saat Jihyun mulai menatapnya dengan khawatir.

“Jiyeon-aa gwenchanayo? Kau— terlihat pucat.” Jiyeon tersenyum sekilas lalu mengeleng pelan.“Ani-— aku baik-baik saja,” jawab Jiyeon lagi-lagi dengan memaksakan sebuah senyuman.

“Jinjjayo?” tanya Siwon dengan wajah yang terlihat juga mulai khawatir. “Ne Oppa aku baik-baik saja, tenanglah.” Ucap Jiyeon dengan kekehan kecilnya, membuat Siwon tersenyum lega.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu,” ucap Siwon seraya memberi isyarat kepada sopir pribadinya untuk mendekat ke arah mereka. “Jiyeon-aa aku pulang duluan,” ucap Jihyun sesaat setelah Siwon membukakan pintu mobil untuk dirinya.

Siwon tersenyum ke arah Chanyeol dan juga Jiyeon, laki-laki itu melambaikan tangannya saat hendak masuk ke dalam mobil. “Siwon Oppa,—“ panggilan Jiyeon yang tiba-tiba itu sontak mengurungkan niat Siwon untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Nde?” Jiyeon melangkahkan kakinya perlahan, membuat Chanyeol melepaskan rangkulannya pada gadis itu, Jiyeon menatap Siwon dengan tatapan dalam penuh kerinduan yang tersimpan di balik tatapannya kini.

“Oppa— gwenchana?” tanya Jiyeon dengan suara yang mulai terdengar serak.

“Ne— – oppa bahkan sangat baik-baik saja, waeyo?” ucap Siwon seraya membelai pelan puncak kepala Jiyeon, membuat gadis itu semakin sulit menahan airmatanya agar tidak jatuh di pipi pucatnya.

“Ak—aku—“ Jiyeon sedikit meundukkan kepalannya, berusaha mengeluarkan suaranya yang tiba-tiba saja tersumbat di kerongkongannya, gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat lalu kembali menatap Siwon yang mulai terlihat kembali khawatir.

“Aku— Gomawo— gomawo untuk semua yang sudah oppa lakukan untuk ku sejak dulu,” ucap Jiyeon pada akhirnya, menahan kata-kata yang sudah di siapkannya dan di tahannya sejak dulu, kata-kata yang ingin dia ucapkan pada laki-laki yang sudah memporak porandakkan hatinya itu, agar laki-laki itu tahu perasaan yang sudah di pendamnya selama ini.

“Kau adik ku, sampai kapan pun aku akan melakukan apapun untuk mu,” ucap Siwon dengan kembali dengan tersenyum, sesaat sebelum membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam mobilnya.

Jiyeon tetap diam di tempatnya, saat mobil yang membawa Siwon dan Jihyun mulai melaju, airmata yang sudah di tahan gadis itu sedari tadi akhirnya jatuh juga, membuat tubuh Jiyeon bergetar saat berusaha menahan laju airmatanya yang semakin tak terbendung. Perlahan tangan gadis itu bergerak menutup mulutnya hingga isaknya tak terdengar, membuat Chanyeol yang berdiri di belakang gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat.

Chanyeol berjalan pelan lalu berdiri tepat di hadapan Jiyeon, menatap gadis yang menunduk dengan tetap menangis itu dalam diam, sama seperti yang di lakukan gadis itu saat dirinya menangis di halte waktu itu. Tapi itu hanya bertahan selama 1 menit karna di detik berikutnya, Chanyeol sudah menarik gadis itu ke dalam dekapannya, dan membiarkan Jiyeon menangis dengan kencang di dalam pelukannya, karna sungguh Chanyeol tidak tahan jika harus melihat gadis itu terluka seperti saat ini.

Gadis yang tidak sengaja di temuinya di sebuah halte yang selalu di datanginya tiap kali laki-laki itu merasa terpuruk, halte yang dulu pernah menjadi tempat dirinya dan sang ibu menunggu mobil pengganti saat mobil yang membawa mereka saat itu mengalami kerusakan mesin, dan sejak itu pula halte tersebut menjadi tempat favorid untuk seorang Park Chanyeol.

***

Park’s House

Chanyeol tampak menghembuskan nafasnya saat dirinya, baru saja turun dari mobil mewahnya, laki-laki itu masih teringat dengan jelas wajah Jiyeon yang menangis, masih teringat dengan jelas saat gadis itu tertidur di bahunya saat dirinya mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Gadis yang bahkan tetap menangis dalam tidurnya, bergumam memangil nama Choi Siwon dalam isaknya yang terus terdengar di sepanjang gadis itu tertidur, membuat Chanyeol mengusap wajahnya dengan frustasi.

Chanyeol juga tidak terlalu mengerti mengapa dirinya merasa sangat sakit, saat melihat Jiyeon yang menangis, merasa kesal saat menyadari dirinya tidak bisa melakukan apapun saat gadis itu terluka karna seorang Choi Siwon, laki-laki yang Chanyeol yakini sebagai penyebab Jiyeon terluka hingga begitu dalam.

“Ah! Apa mencintai seseorang itu harus sesakit itu?” tanya Chanyeol pada dirinya sendiri, lalu mulai berjalan menuju pintu rumahnya.

“Saengil Chuka Hamnida—“ Chanyeol membulatkan matanya saat pintu rumahnya mulai terbuka, mulut laki-laki itu bahkan sudah terbuka dengan lebar dan terlihat sangat syok dengan pemandangan yang ada di hadapannya kini.

“Ayah? Jungsoo hyung?” ucap Chanyeol tidak percaya dengan apa yang di lihatnya kini.

Di hadapannya kini sudah berdiri seorang laki-laki paruh baya, yang tak lain adalah Park Seungho, sang ayah dengan senyum hangatnya yang bahkan memakai topi kerucut khas ulang tahun. Di samping sang ayah berdiri seorang laki-laki tampan dengan senyum malaikatnya, membawa Black Forest Cake berukuran besar dengan ukiran namanya yang menggelilingi pinggiran cake yang bertabur coklat itu dengan sesekali tertawa pelan, laki-laki yang tak lain adalah Park Jungsoo kakak laki-laki Chanyeol yang memutuskan untuk pulang lebih awal dan meninggalkan pekerjaannya di Milan, hanya untuk merayakan ulang tahun dari adik laki-laki tersayangnya itu.

Tak lupa pula paman Kim yang bahkan sudah menggunakan kostum Santa Claus lengkap dengan jenggot dan kumis putihnya, membuat Chanyeol tertawa keras lalu merangkul ayah dan kakak laki-lakinya itu dengan erat.

“Ayah dan Jungsoo hyung benar-benar membuat ku hampir mati karna terkejut,” ucap Chanyeol saat sudah melepaskan rangkulannya. “Hyung bagaimana bisa kau pulang hari ini? BukankahHyung bilang masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan?” tanya Chanyeol dengan penuh minat.

“Demi adik tersayang ku, aku meninggalkan pekerjaan ku,—“ jawab Jungsoo dengan tersenyum, laki-laki itu memberi isyarat agar Sangwon mulai menghidupkan lilin yang ada di atas cake ulang tahun Chanyeol. “Sekarang tidak usah bertanya lagi, yang harus kau lakukan adalah membuat permintaan dan segera tiup lilin ulang tahun mu, Park Chanyeol,”

Chanyeol mengangguk antusias lalu memejamkan matanya, laki-laki itu kembali mengucapkan permintaan yang selalu di ucapkannya sebelum tidur, dan Chanyeol sangat berharap jika doannya kali ini akan segera terkabul.

Seungho tersenyum saat Chanyeol selesai meniup lili ulang tahunnya, tangannya mengusap kepala Chanyeol dengan lembut. “Selamat ulang tahun putra ku, aku selalu berdoa agar kau selalu bahagia,” ucap Seungho dengan menepuk pelan pundak putra keduanya itu.

“Terima kasih Ayah, Jungsoo hyung, paman Kim,” ucap Chanyeol masih dengan tersenyum, mereka berempat pun berjalan pelan menuju meja yang ada di tengah ruangan.

Jungsoo dan paman Kim terlihat masih tertawa bersama dengan terus menyayikan lagu ulang tahun, sedangkan Seungho terlihat mulai menyuapi Chanyeol dengan cake, sesekali lelaki paruh baya itu tampak menempal coklat ke pipi Chanyeol hingga membuat Chanyeol mengerang tertahan.Chanyeol pun kini tampak sudah tertawa bersama ayahnya itu saat Sangwon, mulai berusaha menirukan gaya seorang Santa Claus yang hasilnya jauh dari kata mirip.

Mereka semua larut dalam hiporia kebahagian ulang tahun Chanyeol, hingga tidak menyadari tatapan murka dari seorang Park Minjung yang berdiri di ujung tangga, wanita itu mengepalkan tangannya, menatap muak ke arah suaminya yang merngkul Chanyeol dengan tertawa bahagia.

“Kenapa kau selalu menyakiti ku Seungho-aa, kenapa?” tanya Minjung dengan menahan airmata yang tiba-tiba saja sudah memenuhi pelupuk mata wanita cantik itu, membuatnya memilih berbalik dan menghilang di balik pintu kamarnya yang kokoh.

***

Chanyeol’s Room

Chanyeol terlihat antusias saat mencoba sweater yang di hadiahkan sang ayah pada dirinya, sweater berwarna merah dengan perpaduan motif pohon cemara berwarna hijau, yang terdapat di sekeliling dada. Chanyeol tak henti-hentinya tertawa pelan di depan sebuah kaca besar yang ada di kamarnya ini, dengan mengubah-ubah posisi tubuhnya dari tegab, menyamping bahkan sedikit berputar.

“Eomma— apa ini terlihat sempurna?” tanya Chanyeol seraya menatap jam tangan berwarna merah yang melingkar di pergelangan tangannya, jam tangan yang di dapatnya di perayaan ulang tahun terakhirnya bersama sang ibu.

“Lihatlah aku memakai semua barang yang berwarna merah,— warna kesukaan mu, Eomma.”ucap Chanyeol lagi dengan memaksakan sebuah senyuman, seraya berjalan mendekat ke sebuah pigura foto besar yang ada di kamarnya ini. “Eomma— apa eomma tahu jika sekarang aku sudah punya kekasih yang sangat cantik?” ucap Chanyeol lagi kali ini dengan memandang foto keluargnya itu.

“Paman Kim yang memberi saran agar aku menjalin hubungan dengan gadis itu, ayah gadis itu bahkan berteman baik dengan ayah, jika nanti— eomma bertemu dengannya aku sangat yakineomma pasti akan langsung menyukainya,” ucap Chanyeol dengan suara yang mulai terdengar serak, seiring airmata yang mulai terbentuk di pelupuk matanya.

“Eomma— Bogoshipoyo,—“ ucap Chanyeol dengan menyentuh wajah sang ibu yang ada di dalam foto, sebulir airmata yang sudah di tahannya pun pada akhirnya jatuh membahasi pipinya, saat rasa hampa dan rindu kepada sang ibu itu kembali memenuhi relung hati Park Chanyeol.

***

Seungho’s Room

Minjung duduk di pinggiran ranjang tidurnya, menatap kosong ke arah pil berwarna merah muda yang ada di tangannya, pil bernama Lexotan yang sudah menjadi minuman wajibnya di tiap malam kelam di hidupnya. Wanita itu menengak pil merah muda itu sesaat sebelum memandang muak ke arah Seungho suaminya, yang baru saja keluar dari kamar mandi, wanita cantik itu terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat menahan semua luapan emosi, tiap kali dia harus berada berdekatan dengan laki-laki yang hingga detik ini tetap bersikeras mempertahan dirinya sebagai istri dari laki-laki itu.

“Apa kau senang jika anak haram mu itu kini sudah berusia 17 tahun?” tanya Minjung dengan suara dinginnya seraya bangkit dari duduknya, membuat Seungho terdiam di tempatnya berdiri dengan menatap ke arah istrinya itu dengan dalam.

“Sampai kapan kau mau menyiksa ku seperti ini, Park Seungho?” ucap Minjung dengan nada yang mulai meninggi.

“Tahukah kau apa yang aku rasakan tiap kali melihat mu dan juga Chanyeol? Tahukah kau betapa sakitnya aku melihat mu tertawa bahagia bersama anak haram mu itu? jawab aku— JAWAB AKU PARK SEUNGHO!!” teriak Minjung dengan keras, airmata wanita itu tiba-tiba saja sudah jatuh membasahi pipinya yang terlihat pucat.

“Minjung-aa,” ucap Seungho seraya melangkah mendekat, tapi dengan cepat Minjung memundurkan tubuhnya. “Jangan mendekat— kau sengaja membuat ku tersiksa dengan semua ini kan? Kau sengaja tidak menceraikan aku dan memaksa ku untuk tetap tinggal bersama mu dan anak mu itu, hingga aku menjadi gila dan melupakan perbuatan busuk mu itu kan? YAK! AKU MEMBENCI MU SEUNGHO, SANGAT MEMBENCIMU MU!!” teriak Minjung lagi dengan keras, seraya melempar pas bunga ke lantai yang berada di atas meja, tepat di samping tubuhnya hingga membuat pas bunga itu pecah berkeping-keping.

Seungho memejamkan matanya, menatap terluka kearah Minjung yang sudah terduduk di lantai, menatap wanita yang sangat di cintainya itu yang terluka karna perbuatannya. Perbuatan yang tidak di sengaja terjadi di puluhan tahun yang lalu, hingga membuat kebahagian pernikahannya bersama Minjung hancur tak tersisa.

Perbuatan nista yang membuat Minjung mengalami depresi hebat hingga harus mengkonsumsi obat tidur dalam jangka waktu yang lama, membuat seorang Park Minjung yang selalu tersenyum dengan hangat itu menjadi seorang Park Minjung yang dingin dan tak tersentuh.

Namun Seungho tetap saja tidak akan bisa dan rela jika harus melepaskan Minjung dari takdir hidupnya, satu-satunya wanita yang di cintainya sejak dulu hingga nyawa terlepas dari raga. Egois memang tapi jika Seungho melepaskan Minjung dari hidupnya, itu sama saja dengan Seungho melepaskan nyawanya sendiri.

***

Chanyeol menarik nafasnya menghapus sisa airmatanya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, saat seperti ini laki-laki itu akan lebih memilih duduk di bangku taman bunga yang ada di belakang rumahnya. Taman bunga milik seorang ibu yang sangat di cintainya itu, taman yang berisi bunga mawar merah, bunga yang menjadi favorid dari sang ibu.

Chanyeol mulai berjalan pelan menuju anak tangga, laki-laki itu menatap sekilas pintu kamar orang tuanya yang sedikit terbuka itu dalam diam. Menatap kamar yang dulu menjadi tempat favoridnya saat dirinya tidak bisa tidur di malam hari, menjadi tempat favoridnya di pagi hari  dirinya membangungkan ibunya dengan kecupan sayang di pipi, yang membuat sang ibu tertawa senang lalu memeluknya dengan hangat.

Tapi sekarang yang bisa di lakukan Chanyeol hanyalah menatap kamar itu dari jauh, tanpa berani untuk menyentuhnya.

PRANG—

 Chanyeol membulatkan matanya saat suara pecahan kaca terdengar dari kamar orang tuanya, samar-samar Chanyeol mendengar tangisan sang ibu yang sungguh menyayat hatinya. Ini bukan kali pertama Chanyeol mendengar ibunya menangis bahkan berteriak histeris, Chanyeol bahkan sudah terlalu sering mendengarnya sejak usianya menginjak 12 tahun, sejak sang ibu berubah menjadi pribadi yang beku dan tak tersentuh.

Dengan ragu Chanyeol melangkahkan kakinya mendekati kamar orang tuanya, laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan kuat saat sudah berdiri di balik pintu, dan mendengar tangisan sang ibu yang semakin terdengar pilu. Perlahan Chanyeol mulai mengintip dari balik pinggiran pintu, mata bulat Chanyeol menatap Seungho yang duduk berlutut di hadapan Minjung yang masih menangis dengan berteriak histeris.

“Aku membenci mu Park Seungho, aku benar-benar membenci mu—“ Seungho hanya diam, laki-laki paruh baya itu hanya menatap Minjung dengan tatapan terlukanya. “Kenapa kau melakukan ini pada ku, kenapa Seungho-aa?” ucap Minjung lagi dengan menarik-narik rambut pendeknya.

“Berapa kali lagi aku harus bilang jika malam itu aku terjabak Minjung-aa, berapa kali lagi aku harus menjelaskan ini pada mu,” ucap Seungho lirih dengan bergerak mendekat ke arah Minjung yang sudah menatapnya dengan tatapan kosongnya.

“Aku benci pada mu,” ucap Minjung dengan suara yang terdengar lirih, airmata wanita itu tak henti-hentinya mengalir sedari tadi.

Perlahan Seungho mulai mengulurkan tangannya, menarik Minjung ke dalam pelukannya, laki-laki itu bahkan tidak peduli saat Minjung menolak dan tetap mengeratkan pelukannya saat Minjung mulai meronta. Namun tepat di menit ke 3 tangisan Minjung mulai mereda, dengan Seungho yang tetap memeluk Minjung dengan sangat erat.

Setengah jam pun berlalu Chanyeol masih berdiri di tempatnya, melihat ayahnya yang masih memeluk ibunya dengan erat, hingga tidak sadar jika airmatanya sudah membahasi wajah pucatnya sedari tadi.

Chanyeol memang tidak bisa mendengar apa yang ayahnya ucapkan, tapi Chanyeol sangat yakin jika ayahnya sangat terluka dengan keadaan ibunya saat ini, Chanyeol pun memilih untuk membalikkan tubuhnya, menghapus sisa airmatanya lalu berlalu menjauh dari pintu, saat dirinya merasa semakin sesak dengan keadaan kedua orang tuanya.

Perlahan Seungho mengangkat tubuh Minjung yang sudah tertidur, karna efek obat tidur yang di konsumsi istrinya ke atas ranjang tidur mereka. Laki-laki paruh baya itu terlihat menyelimuti tubuh Minjung dengan selimut, tangannya perlahan membelai pipi Minjung yang terdapat bekas airmata di sana dengan sayang.

Seungho menundukkan tubuhnya mengecup pelan kening Minjung lalu membisikkan kata-kata yang selalu laki-laki itu ucapkan sejak laki-laki itu mengucap janji pernikahannya dengan Minjung di puluhan tahun yang lalu.

“Sarangae— Park Minjung,”

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

6 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [3/9]”

  1. Chanyeol anak haram?terus ibu kandungnya chanyeol siapa dong?aduuh kasian ternyata si jiyeon suka toh sama pacar sahabatnya sendiri. Semoga chanyeol serius deh sm jiyeon trs jiyeon lama2 luluh sama chanyeol

    Suka

  2. Aduuuhh chanyeol kayanya bener bener deh sama jiyeonn…
    Cuma belum ketara aja yaaa
    Jangan sampe chanyeol tauuuu takutnya reaksinya…

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s