[Vignette] Apology

apology

Apology

Script written by

 

Wonpaws©2016

|| Cast: Yunhyeong and B.I [iKON], Yerin [G-friend] | Duration: Vignette | Rating: G | Genre: Romance, Sad ||

Note:

Thank’s for amazing poster by @Aqueera—Poster Channel

Summary:

Seluruh janji itu hanyalah kebohongan belaka

              Suara gemerisik lonceng yang berbunyi setiap pintu dibuka itu menggangguku. Sungguh, atau mungkin aku yang sedang sensitif hari ini. Kuketuk-ketukkan jariku dan sesekali melirik kepulan asap yang dihasilkan oleh teh manis—yang terasa hambar bagiku. Tanganku mengacak rambut coklat tua yang baru saja kucat minggu kemarin. Yah, aku tak peduli dan siapapun tak akan peduli jika aku telah merubah penampilanku atau tidak.

              Jam dinding berbentuk bulat yang terpampang di dinding menandakan bahwa hari sudah sore. Aku sendiri masih duduk terdiam, tidak ditemani siapapun, dan merasa bodoh. Iya, sangat bodoh. Bisa dibilang statusku ini masih single atau beberapa orang mengatakan jomblo. Sehingga tidak ada seorangpun yang menemaniku disini. Namun tidak untuk beberapa bulan yang lalu sih.

              Aku menghela nafas pelan, sudah satu bulan ini aku putus dengan kekasihku. Dan itupun karena  kesalahanku sendiri. Sedikit kusesali perbuatanku itu, apalagi ketika sudah ada lelaki lain yang ada di sisinya. Aku masih ingat ketika sebulan yang lalu aku menatap wajahnya yang sedang marah dan berlari mengejarnya yang duduk di mobil taksi.

.

              Seperti layaknya drama favorit ibuku yang sering ditayangkan di stasiun televisi, bisa dibilang kisah romantis hidupku ini disebut sebagai ‘cinta segitiga antar sahabat’. Oh yeah, kau mungkin bisa menulis naskah drama dari kisah hidupmu sendiri, Yunhyeong.

              Entah ini suatu kebetulan atau apa, tapi sahabatku dan diriku sendiri pernah menyukai satu orang gadis. Dan give applause untukku karena aku berhasil mendapatkan gadis itu dibanding sahabatku yang berambut Dark Brown itu. Dia bilang dia sudah tidak memiliki perasaan pada gadisku, sehingga aku tidak sepenuhnya percaya padanya. Tapi toh, aku tidak peduli.

              Namun, seperti yang kalian semua tau, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Selang 1 tahun lebih 4 bulan, kami berdua sepakat mengakhiri hubungan karena dirasa tidak cocok satu sama lain. Yang berakibat fatal bagiku 1 bulan setelahnya. Katakan saja, aku menyesal.

.

              Aku mengingat kembali kelakuan bodohku. Disaat dia menungguku karena berjanji untuk mengajaknya kencan, aku datang terlambat 2 jam karena sibuk bermain dengan teman satu gengku. Masih kuingat pula, ekspresinya yang kecewa dan marah karena kukatakan bahwa janji-janjiku selama ini hanya kebohongan. Wajahnya yang cantik itu mengeluarkan air matanya dan kecewa padaku.

              Mungkin aku sedang dilanda emosi saat itu, jadi, aku balik memarahinya dan tanpa sadar kata putus keluar dari mulutku. Yang akhirnya kusesali hingga saat ini. Apa aku masih  mencintainya? Masih! Sangat malah. Namun penyesalan hanyalah penyesalan. Kini aku hanya dapat mendengarkan musik favoritku dengannya dan klisenya, kami tidak memiliki satu foto berdua seperti pasangan lainnya.

              Janji-janji manis yang menurutku sangat menggelikan itu, kini sudah tidak ada lagi. Dan bodohnya, saat ini aku ingin mewujudkan setiap janji yang terlontar dari mulutku saat itu. Tak kusadari, aku merindukan setiap inci darinya dan ingin memeluk tubuhnya saat ini. Namun, aku yakin itu tak mungkin dan tidak akan terjadi. Meskipun aku ingin menemuinya,  sekarang.

              Suara kursi digeser pun terdengar, mataku melihat gadis berambut coklat kehitaman itu, yang kini duduk didepanku. Wajahnya masih putih seperti boneka porselen yang terpajang di dekat jendela cafe sebelah barat. Rambutnya kini sedikit memanjang, melebihi bahu—atau mungkin mencapai sikunya. Dia memang ada didepanku, namun sulit rasanya untuk menyentuhnya.

              Mata hazelnutnya menatapku. Ia menekan bibirnya sambil memainkan ujung sendok kecil yang menjadi hiasan meja cafe ini. “Jadi, ada apa kau mengajakku kemari?”

              Suaranya menyadarkan lamunanku, kepalaku terangkat dan melihat wajahnya yang kurus itu. Aku berdehem pelan, mencoba menghilangkan suara serak akibat tidak berbicara selama beberapa hari ini.

              “Yah, em…  Aku.. aku hanya ingin meminta maaf untuk semuanya.” Tenggorokanku terasa kering setelah mengatakannya dan cepat-cepat meneguk teh hambar itu.

              Gadis itu sedikit terkejut seraya menaikkan alisnya dan memiringkan kepalanya ke kanan, “Kau… tidak berpikir untuk memintaku kembali bukan?”

              Sungguh, pertanyaannya ingin kujawab dengan teriakan iya tepat didepan wajahnya. Pertanyaan polos namun menusuk hatiku itu kujawab dengan senyuman dan gelengan. “Hahaha! Apa?! Tentu saja tidak Jung Yerin!” aku tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana—mungkin.

              “Tentu saja kau harus mendapatkan yang lebih baik dariku. Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin meminta maaf atas segalanya.” Sekali lagi aku menunjukkan fake smileku padanya.

              Gadis bernama Yerin itu terdiam dan tersenyum, senyuman khas miliknya yang membuat lelaki bernama Song Yunhyeong itu mabuk cinta. “Hahaha, mungkin aku yang berpikir macam-macam ya? hehe, tidak apa, aku sudah memaafkanmu dari dulu.”

              Aku terdiam, dan tersenyum terpaksa—membuat bibirku yang kering ini terasa sakit saat digunakan untuk tersenyum. Mungkin, bibirku ini bisa berdarah hanya karena ingin mempersembahkan senyumku pada gadis ini. Apa-apaan sih Song Yunhyeong?

              “Yunhyeong oppa, aku sangat senang kau meminta maaf dan menyadari kesalahanmu itu. Meski, hubungan kita sedikit bermasalah, tapi aku menikmatinya.”  Yerin tersenyum, menunjukkan eyesmilenya yang indah.

              “Yerin.”

              Gadis itu menatapku dan tersenyum kecil. “Masih ingat ketika kau dan aku duduk di salah satu gedung tinggi menyambut tahun baru itu?”

              “Tentu saja aku masih ingat. Ternyata kau juga mengingatnya ya, haha.”

              Aku tersenyum hambar. “Tak kusangka, masa depan yang kita pikirkan tidak sama seperti yang sekarang kita lakukan. Waktu, benar-benar tidak bisa kita prediksikan dengan benar. Walau terkadang aku berpikir bahwa masa depan bisa kuduga, namun Tuhan menggariskan takdir kita dengan hal lain yang membuat kita terkejut.”

             “Oppa, kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini?” kekeh gadis itu pelan. “Aku tidak terkejut sih, kau kan.. dulu siswa terpintar dan mahasiswa terpintar di kampus. Tapi, kau benar. Kukira 10 tahun mendatang, kita akan tetap bersama dan memiliki hidup yang bahagia. Ternyata, kita memang tidak ditakdirkan bersama lagi.”

              Tepat 1 tahun lalu, aku dan Yerin sedang duduk di atap gedung perusahaan ayahku, melihat dan menikmati pertunjukan kembang api yang menakjubkan itu. Kami bertukar pikiran dan berpikir apa yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Apa kita masih bersama? Apa kami jadi orang sukses?

              Yerin berpikir ia akan menjadi artis terkenal, namun sedetik kemudian dia ingin menjadi arsitek atau pemain biola handal. Sedangkan aku sendiri, mungkin akan mewarisi perusahaan ayahku.

              “Mungkin, 10 tahun lagi, kita akan masih bersama oppa. Kau akan melamarku dan kita akan mempunyai anak dan hidup bahagia. Lalu kita akan menghabiskan waktu bersama di pantai.”  Kata-kata gadis itu masih melekat di pikiranku hingga saat ini.

              “Aku minta maaf ya, Jung Yerin.”

              Yerin melihatku bingung dan menghela nafas pelan. “Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau tidak perlu bersalah padaku.”

              “Semoga.. kau mendapatkan yang lebih baik. Yang lebih baik dalam menjagamu dariku.”

              “Kau juga oppa. Maaf jika selama ini aku merepotkanmu.” Yerin menunduk pelan. “Aku pamit pergi dulu.”

              Aku mengangguk pelan dan berdiri ketika gadis itu hendak pergi. Dengan berat aku membalikkan tubuhku, melihat sosok lelaki yang kini mendampinginya. Hingga ketika aku melihat lelaki itu, tanpa sadar aku meneteskan air mata dan tersenyum kecil.

              Dia mendapat lelaki yang lebih baik, jauh lebih baik dariku. Dan beruntungnya lelaki yang mendampingi gadis pujaanku itu kau, Kim Hanbin.

FIN

a/n:

Yesh, aku kembali dengan ff bermain cast Yunhyeong dan Yerin ini! Well, sebenarnya B.I Cuma nyempil nama aja, tapi kan nggak adil kalau namanya nggak ditulis di character? Sebenernya ini ff nggak berkelas amat ya😄 nggak ada sastranya sama sekali. Dan, yep aku ngambil cerita ini dari sudut pandang seorang Song Yunhyeong yang kesepian. Fanfic ini bisa jadi songfic tapi karena lagi males, ciacia kujadikan semacam ff oneshoot gagal😄. Sempilin komen aja plus likenya hehe tengkyu😉

Wonpaws.

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s