[Vignette] On the Train

On the Train

ON THE TRAIN

A New Storyline by peperomint

Cast Seventeen members | Genre AU, friendship | Duration vignette (1555w) | Rating G

.

“Aku yakin kalian telah menantikan liburan ini, bukan? Jadi nikmatilah perjalanan ini sepenuh hati.”

.

.

“Hansol, cepat!” seru Soonyoung dari dalam gerbong kereta. Kepalanya melongok ke luar jendela. Yang dipanggil segera berlari-lari kecil di sepanjang peron stasiun. Dengan satu lompatan, Hansol sudah berada di dalam kereta. “Nah, hampir saja kau tertinggal… Untung larimu masih gesit.”

“Ya, hampir saja aku harus merugi karena membeli 2 tiket dengan tujuan yang sama. Ini semua karena jam beker sialan itu. Aku menyetel alarmnya pada pukul 5 pagi, tapi saat aku bangun, jam itu tidak kunjung berbunyi.”

“Lalu kenapa kau bisa terlambat? Toh, kau tetap bangun pagi walau tanpa dibangunkan,” ujar Wonwoo yang duduk di deret kedua bersama Mingyu.

“Jam itu kacau, kesal aku karenanya…” Hansol segera duduk di samping Seungkwan tanpa dikomando. “Jadi aku tidur lagi hingga jam beker itu berbunyi. Tetapi malah terlambat bangun, karena rupanya jam itu kehabisan baterai.”

Semuanya tertawa serentak seusai Hansol menyelesaikan ceritanya. Benar-benar bodoh, bisa-bisanya ia diperdaya oleh sebuah jam beker.

“Hey, semuanya sudah di sini, kan? Tidak ada yang tertinggal di stasiun, kan? Apa Jisoo sudah kembali dari Amerika?” tanya Seungcheol dengan suara yang dikeraskan.

“Sudah,” seru Jisoo yang entah duduk di mana.

“Coba berhitung. Satu!”

“Dua.”

“Tiga!”

“Hey, Seokmin! Giliranmu.”

“Hmm…” gumam Seokmin yang diartikan sebagai “empat” oleh Seungcheol. Setelah pada hitungan ke tiga belas, ia baru bisa bernapas lega. Kalau saja ada seorang dari rombongannya yang tertinggal, rencana yang telah disusunnya pasti akan berantakan.

“Baiklah, sudah lengkap. Sekarang posisikan tubuh kalian senyaman mungkin, karena ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang. Walau begitu, aku yakin kalian telah menantikan liburan bersama ini setelah menghabiskan liburan di rumah masing-masing, bukan?” Yang lain membalasnya dengan cengiran kecil. “Jadi nikmatilah perjalanan ini sepenuh hati.”

Suasana gerbong pun menghangat setelah Seungcheol duduk kembali di kursinya bersama Junghan. Riuh terdengar dari sana-sini. Semua orang sibuk bertukar cerita dan melempar lelucon. Rasanya seperti sudah sangat lama mereka tidak bertemu satu sama lain.

“Xu Minghao, apa kau makan banyak selama di China? Kau kan selalu makan sedikit saat berada di asrama.”

“Kau bicara apa, sih? Asal kau tahu, aku selalu makan dengan baik. Kau sendiri jangan terlalu banyak makan jeruk, Seungkwan!” balas Minghao tajam. Seungkwan pun segera menyembunyikan sepotong jeruk yang hendak dilahapnya. Ibunya memang membawakan ia banyak jeruk dari kampung halamannya di Jeju.

“Jihoon, ada lagu baru lagi?”

“Tentu saja ada.” Dengan semangat yang sedikit berlebihan, Jihoon berdiri dari tempat duduknya. Ia hendak memperdengarkan lagu barunya kepada teman-temannya. Namun ia harus berdiri agar semua dapat melihatnya. “Lagu ini kutulis setibanya aku di rumah. Entah memori apa yang merasukiku, namun saat aku menginjakan kaki di dalam rumah, tanganku langsung terasa gatal ingin menuangkan semua ide di otakku yang cemerlang ini.”

“Bisa kau mulai sekarang?” Semua orang menoleh ke arah suara tersebut. “Aku sangat ingin mendengarkan lagumu, tetapi aku lebih ingin ke kamar mandi. Lebih baik kau cepat!” seru Mingyu yang diakhiri dengan tawa jahil.

“Wah, Kim Mingyu rupanya… Chan, kau lihat gitarku? Yang berwarna cokelat muda. Warnanya hampir sama dengan milik Jisoo, tapi jangan sampai tertukar.” Jihoon masih sibuk dengan Chan, sedangkan dahi Mingyu telah dibasahi oleh keringat dingin. Ya Tuhan, jangan gitar sialan itu lagi… Keinginannya untuk ke kamar mandi telah hilang sepenuhnya. “Nah, di situ rupanya. Bisa kau berikan pad-“

“Jihoon cepatlah!”

Fyuhh… Sistem pernapasan Mingyu kembali lancar. Ia harus berterima kasih pada Junghan, karena telah menyelamatkannya dari gitar-maut-milik-Lee-Jihoon. Saat Jihoon asyik berceloteh panjang lebar mengenai lagu barunya, Mingyu lebih memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia takut salah bicara lagi.

Beberapa menit kemudian, suasana gerbong menjadi lebih sunyi. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sibuk berfoto ria, mengobrol, bahkan tidur. Namun yang paling tidak habis pikir adalah Jun yang malah asyik mengamati pemandangan di luar jendela, walau di luar sangat gelap. Ia mencondongkan tubuhnya hingga dekat sekali dengan jendela kereta dan menaruh telapak tangan kirinya di samping wajah, untuk menghalangi cahaya lampu. Perjalanan memang dimulai pada malam hari, agar mereka bisa tiba di tempat tujuan keesokan harinya setelah matahari terbit.

“Hey, bau apa ini?” Chan bertanya dengan panik. Entah panik untuk dan karena apa.

“Siapa yang buang angin?”

Seketika semuanya terdiam.

“Seokmin! Seokmin yang buang angin.” Sejurus kemudian sebuah pukulan kecil mendarat di dahi Soonyoung. “Apa?! Bukan kah itu kau?”

“Menuduh sembarangan. Jangan-jangan kau yang buang angin,” balas Seokmin tidak mau kalah.

“Bukan… Bukan Seokmin ataupun Soonyoung.” Semua menoleh ke arah Hansol.

“Lantas?”

“Entah, yang pasti bukan aku.”

“Eyy…” Lemparan tissu dan botol plastik sudah mengunci satu target. Choi Hansol.

“Sudahlah, mengaku saja Jun! Aku lelah mendengar mereka terus berteriak.” Seruan Wonwoo membuat seluruh pasang mata mengarah pada Jun yang duduk di deret paling belakang bersama Minghao. Lemparan tissu dan botol plastik pun seketika memiliki target baru.

“Hehehe… Maaf.” Permintaan maaf yang simple disertai dengan tawa polos seolah-olah tidak berdosa.

“Wen Junhui!!”

***

“Masih berapa lama lagi? Apa masih jauh? Seungcheol…” rengek Junghan pada rekan sebangkunya.

“Bersabarlah sedikit, kita kan baru duduk selama 1 jam lebih.”

“1 jam 45 menit lebih tepatnya,” sambung Jisoo.

“Hey, ada yang tahu permainan tentu saja?” Seungkwan menyembulkan kepalanya dari balik sandaran kursi di depannya. “Daripada mengeluh terus, lebih baik bermain sesuatu, bukan?”

“Ya, ide bagus!” Mingyu melonjak-lonjak di kursinya, membuat tubuh Wonwoo—yang duduk di sebelahnya—mau tidak mau ikut terlonjak juga.

“Baik, siapa yang mau ikut?” Seungkwan menghitung beberapa tangan yang teracung. Mingyu, Jisoo, Soonyoung, Seokmin, dan juga Seungcheol. Jumlah keseluruhannya ada 5 orang. Eh, tunggu! Jadi 6. Ia lupa menghitung dirinya sendiri. “Kwon Soonyoung, lawanmu adalah Seokmin.”

Assa!” seru Soonyoung dan Seokmin bersamaan. “Aku yang mulai,” lanjut Soonyoung.

“Silahkan…”

“Seokmin, aku ini lebih tampan darimu, kan?”

“Tentu saja.” Seokmin tersenyum jahil. “Tapi saat menari, aku terlihat jauh lebih keren dibandingkan kau.”

“Apa-apaan? Kau terlihat seperti penguin saat menari!” Ups, Soonyoung kelepasan. “Eh, maksudku ‘tentu saja’. Tentu saja kau lebih keren.”

“Sudah-sudah! Soonyoung kau kalah. Selanjutnya Jisoo dan Seungcheol.”

Seungcheol meregangkan tubuhnya seakan-akan mereka hendak bergulat. Sedangkan Jisoo seperti biasa, bersikap cool disetiap situasi. Mereka berdiri berhadapan dan saling menatap sengit. “Kau mulai duluan,” tantang Jisoo.

Bukan Seungcheol namanya jika tidak mau kalah. “Oh, baiklah, Jisoo ssi… Kau bersikap seperti seorang gentleman hanya di depan para wanita, kan?”

“Tentu saja… Cheol, kau masih sering buang air kecil di celana, kan?”

Seungcheol tersenyum kecut, “T-tentu saja!”

“Woah, kau bersemangat sekali.” Seketika mereka terkikik karena sebuah celetukan kecil dari Jun.

“Diamlah…” Kemudian Seungcheol melanjutkan, “Apa kau menyukai Junghan lebih dari sekedar teman?”

“Hah?! Oh, tentu saja.” Wah, hampir saja Jisoo menyanggahnya. Kalau sampai ia berkata ‘tidak’ atau kata lain yang bermakna demikian, ia pasti sudah kalah. Namun sepertinya teman-temannya lupa kalau ini hanyalah sebuah permainan, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang berubah drastis. “Eyy… Ada apa dengan wajah kalian? Ini tidak sungguhan. Ah, sudahlah, aku selesai! Nikmati kemenanganmu, Seungcheol.” Seungcheol menari kegirangan. Bagaimana tidak, ia telah memenangkan permainan ini dan juga mempermalukan Jisoo. Jackpot!

“Mingyu, sekarang giliranmu dan aku!” Seungkwan bangkit dari kursinya dan menghampiri Mingyu yang sudah terlebih dahulu berdiri. Sedetik kemudian ia melangkah mundur satu langkah, agar tidak perlu mendongak untuk bertatap mata dengan Mingyu yang 10 senti lebih tinggi darinya. “Mulailah!”

Mingyu mengangguk. Ia sudah memikirkan sebuah pertanyaan yang pasti bisa membuat seorang Boo Seungkwan mati kutu. “Apa benar kalau bahasa Inggris-mu itu sangat low quality seperti kata Hansol?”

What…? I’m the best quality!” Kedua bola mata Seungkwan bertambah bulat. Bibirnya mengerucut dan telunjuknya terarah ke dada Mingyu. “Bahasa Inggrismu lebih payah!”

I’m engrish better than you,” sahut Mingyu dengan raut wajah yang disombongkan. Inginnya Mingyu membuat Seungkwan bertambah kesal, namun malah membuat tawa Hansol dan Jisoo meledak saat itu juga. “Apa, sih? Memangnya salah?”

“Seharusnya ‘my english is better than yours‘, grammar-mu masih salah,” terang Hansol pada Mingyu yang sesekali diselingi tawa tertahan.

“Sudahlah, Hansol. Mereka kan masih belajar.”

“Wah, Jisoo, sejak kapan wajahmu ada dua? Kau kan juga ikut tertawa bersamaku tadi,” balas Hansol ngotot.

“Cukup! Semuanya, lebih baik kemasi barang-barang kalian karena sebentar lagi kita akan tiba.”

“Horee!” Semuanya bersorak sekeras mungkin tanpa diberi aba-aba. Untung saja di gerbong ini hanya ada mereka. Akhirnya, perjalanan selama 4 jam ini usai sejalan dengan berhentinya mereka di stasiun.

“Ayo, jangan sampai ada yang tertinggal lagi. Kalau tidak, kalian harus turun di stasiun selanjutnya yang berjarak 1,5 jam dari sini.” Seungcheol berkoar-koar seperti seorang penjual obat di pinggir jalan.

“Sial, Jihoon, berhenti menendang sepatuku! Entah dimana sekarang sepatu yang sebelahnya,” omel Chan pada Jihoon yang memang pada dasarnya, kedua kakinya itu tidak bisa diam.

“Minghao, tolong bangunkan Jun, Seokmin, dan juga Soonyoung! Apa mereka tidak sengaja menelan pil tidur? Kenapa belum bangun juga?”

“Aku sudah bangun, Wonwoo… Jadi berhentilah berkicau seperti burung beo,” sahut Jun sembari meregangkan tubuhnya. Soonyoung dan Seokmin pun ternyata juga sudah kembali dari alam mimpi. Jadi seharusnya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan oleh Wonwoo.

Laju kereta yang mereka tumpangi pun berangsur-angsur melambat, menandakan posisi stasiun yang semakin dekat. Roda kereta yang berdecit membuat Junghan meringis. Ia paling benci suara-suara seperti itu, hanya membuat telinganya sakit saja. Beberapa saat kemudian, kereta pun telah sepenuhnya berhenti. Satu per satu dari mereka melompat turun sambil menggendong ransel masing-masing. Raut bahagia seakan enggan meninggalkan wajah mereka. Karena pada akhirnya, mereka tiba di tujuan yang telah dinanti-nanti.

“Wah, aku baru pertama kali ke sini.” Pernyataan Minghao tersebut diiyakan oleh Jun dan Jisoo. Maklum saja, ia dan Jun bukanlah penduduk asli negara ini, sedangkan Jisoo tumbuh besar di Amerika.

“Karena itulah aku mengajak kalian semua ke sini. Aku tahu sebagian besar dari kalian belum pernah ke sini, kan?” Lagi-lagi Seungcheol bermulut besar, ada saja yang bisa dicelotehkan olehnya.

“Hey, jangan bicara terus! Siapa pun yang paling akhir meninggalkan stasiun ini, harus membayar 13 porsi sarapan.”

End

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s