AIRPLANE – Part 3

airplane

AIRPLANE

Title : Airplane

Scriptwriter : BBYWIND

Main Cast : Kim Hanbin [iKON] Lee Seo-a [OC]

Genre : Vulnerable

Rating : General

Summary :

Maafkan aku, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai seorang teman. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mencintaimu. Maafkan aku, karena tak bisa menghilangkan perasaan lebih padamu.”

Disclaimer : I just own the poster and storyline.

Part 1Part 2 – Part 3 – Part 4

Saranghae, Seoa-a.”

Bisikku pelan, setelah melepaskan tubuh Seoa dari dekapanku. Bersamaan dengan bisikanku, suara terompet mendengung keras. Memang sengaja, aku hanya belum ingin gadis dalam pelukanku ini mengetahui tentang perasaanku sebenarnya. Bukan apa-apa, aku hanya masih takut kehilangannya. Rasa takutku masih lebih besar dari keberanianku. Nyaliku belum sebesar itu.

“Apa? Aku tidak mendengarmu dengan jelas.”

 “Tidak. Bukan apa-apa.”

Aku tersenyum kemudian berbalik, berjalan meninggalkan Soea yang memperlihatkan ekspresi bingung. Setidaknya hatiku sedikit lega. Aku melambaikan tanganku, tanpa berbalik badan.

***

Dua minggu berlalu. Survival kedua bagi Team B sudah dimulai lagi. Yang sajangnim telah mendiskripsikan tentang survival kami. Namanya Mix and Match. Mendengarnya saja sudah membuatku mengerti. Ditambah dengan kedatangan dua member baru, Jinhyeong dan Chanwoo, semakin meperkuat dugaanku. Aku sungguh tidak mengerti dengan Yang sajangnim kenapa beliau begitu menyukai program survival seperti ini. Sudahlah, setidaknya kami memiliki kejelasan tentang keberlangsungan Team kami. Nantinya, setelah survival ini, kami akan berada dalam satu grup bernama iKON. Lagipula aku yakin, Team B akan berhasil lolos dan berada dipanggung dengan nama iKON.

Kami sedang istirahat dari berlatih dance ketika Seoa datang dengan dua kantung plastic besar ditangannya. Junhoe dan Donghyuk langsung menghampirinya dan mengambil kantung plastic itu darinya.

“Ya. Junhoe-a, Donghyuk-a, aku ini bukan ahjumma, aku masih kuat menentengnya.”

Ucap Seoa ketus dengan muka anehnya. Bukan karena tidak suka, tapi itulah caranya berterima kasih, unik memang. Tapi justru itu yang membuatku tertarik pada sosoknya.

Noona, aku ini pemuda yang berbudi luhur.”

Jawab Junhoe seraya tersenyum jahil setelah mendapatkan kantung plastic dari Seoa.

Jinhyeong dan Chanwoo hanya tersenyum dibelakang, mungkin mereka merasa aneh. Ya, aneh memang, keberadaan gadis itu adalah sebuah keanehan yang menyenangkan. Awalnya cukup sulit menerima kedua anak itu, tapi seiring berjalannya waktu aku merasa baik-baik saja. Toh, kami sama-sama berjuang, dan kami bersaing secara adil tentunya.

“Chanwoo-a, Jinhyeong-a. Perkenalkan dia Seoa, bukan siapa-siapa. Hanya gadis biasa yang kurang kerjaan.”

Ucapku memperkenalkan Seoa yang dibalas lirikan setajam pisau kearahku. Aku terkikik, pun dengan Chanwoo dan Jinhyeong. Sedangkan sang korban hanya tersenyum canggung.

Bangawo, Jinhyeong-a, Chanwoo-a. Panggil saja aku noona, aku adalah pengusik disini. Aku sama dengan kalian, trainee YG, spesialisasiku adalah dance.”

“Ya. Apa kau sedang wawancara pekerjaan, oh?”

Bobby hyeong menimpali, kemudian mengambil buah jeruk dari tangan Seoa, yang dibalas tatapan tajam dari pemilik tangan. Laki-laki berkulit putih itu memang yang paling pertama dekat dengan kedua member baru kami. Ya, memang begitu kepribadiannya, ramah kepada semua orang, bahkan ia juga ramah dengan anjing tetangga.

“Seoa-a. Apa yang kau bawa?”

“Beberapa buah. Eomma bilang kau terlihat kurus di TV, jadi dia menyuruhku membawa ini untukmu, Hanbin-ssi.” Seoa mengeluarkan beberapa jenis buah, kemudian meneruskan bicaranya. “Ah, iya. Hanbin-a, aku sudah berhasil memperagakan gerakan yang kau berikan beberapa bulan lalu.”

Aku mendekati Soea, tangan kiriku merangkul bahunya, sedangkan tangan kananku asik memilah buah. Seoa masih mengeluarkan buah-buah itu dari kantung plastic, dibantu Junhoe yang asik mengeluarkan buah sambil memakannya.

“Ya! Singkirkan tanganmu itu, berat, bodoh!”

Seoa kembali memaki, tapi tak kuperdulikan. Aku menyomot buah apel kemudian menggigitnya. Seoa menatap tajam kearahku membuatku refleks menurunkan lenganku dari bahunya.

“Ngomong-ngomong, kapan kau akan menunjukkan gerakan itu?”

Seoa terlihat berfikir. Ia menyudahi aktifitas mengeluarkan buah setelah anak-anak mulai mencomot buah yang ia keluarkan. Kini ia duduk dikursi, diikuti aku yang duduk tepat disampingnya. Masih menunggu jawabanku, aku asik memakan buah apel ditanganku. Seoa masih berfikir, oh astaga, apa susahnya menajawab pertanyaanku? Toh dia belum punya banyak schedule.

“Mungkin setelah penilaian bulanan kalian nanti. Aku tak ingin mengganggu fokusmu, Hanbin-ssi.”

Ia beranjak meninggalkanku, menuju pintu keluar dan memutar knopnya. Ia berhenti diambang pintu yang sudah sedikit terbuka kemudian menoleh kearah para member.

“Habiskan saja buah itu, anggap saja traktiranku untuk keberhasilan program baru ini. Aku pergi dulu.”

Seoa sedikit berteriak kepada para member yang ditanggapi dengan ocehan-ocehan tak jelas. Intinya mereka berterima kasih. Gadis itu melambaikan tangan kemudian menghilang dibalik pintu. Ia tak bisa lama-lama lagi bersama kami, karena terlalu banyak kamera disekitar. Dia hanya akan datang ketika waktu break, atau ketika malam hari setelah latihan.

“Hanbin hyeong, apa kau menyukai noona itu?”

Pertanyaan itu berakhir dengan jitakan tepat didahi Chanwoo. Bagaimana bisa dia mengetahuinya secepat itu? Terlalu kentara ‘kah? Kupikir tidak, karena sampai sekarang pun Seoa masih belum menyadarinya.

***

Suasana berubah seketika sesaat setelah penilaian bulanan berlangsung. Lagi-lagi Yang sajangnim memberi kejutan tak diinginkan. Kami semua dalam suasana kacau sekarang. Donghyuk sudah mulai berkaca kaca. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku harus terpilih menjadi member iKON tanpa tiga member team B lainnya. Donghyuk mulai menangis, Yunhyeong hyeong mencoba menenagkannya, pun dengan member lainnya.

Saat semua orang terdiam tiba-tiba Seoa masuk dengan sebuah kotak ditangan kanannya. Ia menatap kami dengan seksama. Dan seakan mengerti apa yang terjadi gadis itu mendekati Donghyuk dan duduk disampingnya. Ia mulai mengelus punggung Donghyuk mencoba menenangkannya.

“Donghyuk-a. Gwaenchana, uljima.”

Gadis itu berhasil membuat kupingku memanas sekarang. Bahkan untuk alasan apapun, aku merasa cemburu sekarang. Meskipun aku tahu Seoa hanya mencoba menenangkan Donghyuk tapi tetap saja, hatiku terasa terbakar. Aku memalingkan wajahku, sosok Chanwoo tertangkap oleh kedua mataku. Anak itu terlihat tertekan. Ingin rasanya aku menenagkannya, tapi aku tidak sedang dalam situasi yang baik saat ini.

Sesaat setelah shooting diakhiri aku langsung berlari kecil menuju atap YG. Hanya tempat itu yang aku pikirkan sekarang. Mungkin melihat bintang di langit akan sedikit menenangkan pikiranku. Setelah Chanwoo dan Jinhyeong, haruskah ada member baru lagi? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran Yang sajangnim.

Aku duduk di sofa menikmati pemandangan malam kota Seoul. Seseorang mendekat, membuatku seketika menoleh. Seoa datang, bersama Bobby hyeong. Aku hanya menatap mereka sekilas kemudian kembali pada langit malam. Seoa duduk disebelahku, diikuti Bobby hyeong. Seoa berada ditengah, diapit olehku dikanannya dan Bobby hyeong dikirinya.

“Hanbin-a. Aku sudah mendengar semuanya. Semuanya akan baik-baik saja, Hanbin-a. Dan juga, lebih baik aku menunjukkan gerakan dance itu setelah penilaian bulanan selanjutnya.”

Aku seketika menoleh kearah Seoa. Aku benar-benar ingin melihat tariannya. Aku benar-benar merindukan melihat gemulai tubuhnya didepan cermin besar. Aku benar-benar rindu berlatih bersamanya. Bahkan aku sudah tak pernah berangkat sekolah sekarang. Ya, karena perusahaan memintaku untuk mengambil home schooling, sama seperti Donghyuk dan Junhoe.

“Kenapa? Apa kau terluka? Atau kau akan pergi untuk sementara?”

Mata gadis itu terbelalak. Meskipun aku tak yakin, akibat cahaya temaram malam ini. Reaksinya seperti menunjukkan bahwa aku benar.

“Ya! Apa kau sudah tak ingin melihatku, oh?”

Gadis itu kembali pada langit malam, kembali menghindari kontak mata denganku.

“Ya, kalian berdua. Aku masih disini.” Terdengar suara Bobby hyeong menyela. “Seoa hanya ingin kau focus dengan mix and match dulu. Kenapa pikiranmu begitu negative, Kim Hanbin?”

Aku melengoskan wajahku. Kenapa malah orang itu yang menjawab. Memangnya dia siapa? Pengacara Seoa? Menjengkelkan. Kenapa semua orang begitu dekat dengan gadisku? Membuatku merasa kecil disini.

Aku menyandarkan tubuhku, kemudian memejamkan mataku. Aku mendengar derap kaki mendekat, dari suaranya dapat aku pastikan ada banyak orang saat ini. Dan benar, member kami berada disini. Tunggu, ini ‘kan tempat rahasiaku, kenapa semua orang ikut datang kemari? Oh astaga, lagi-lagi wilayah privasiku diambil alih.

Mereka memposisikan diri duduk disofa dan kursi kayu disekirarku, tanpa meminta ijinku terlebih dulu. Kadang mereka bersikap menjengkelkan, tapi entah mengapa aku tak merasa keberatan. Mungkin karena mereka sudah seperti bagian hidupku.

“Langitnya indah.” Celetuk Yunhyeong hyeong yang diiyakan oleh member lainnya, termasuk Seoa.

Aku tersenyum kecil. Benar, untuk apa aku merasa terbebani? Padahal mereka selalu ada disampingku, mendukungku, dan membantuku berdiri saat aku terjatuh. Aku mengedarkan pandangan pada semua member yang tengah menikmati indahnya langit. Mataku terhenti ketika melihat wajah Seoa. Matanya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku memperdalam tatapanku, dan semakin aku memperdalamnya, semakin aku yakin gadis itu menyembunyikan sesuatu dariku.

***

“YA! KIM HANBIN!”

Suara melengking masuk menusuk gendang telingaku. Jeritannya berhasil membuatku sadar dari tidurku. Pupilku menangkap sosok Seoa tengah berdiri berkacak pinggang di depanku. Entah mengapa dia tiba-tiba meneriakiku, padahal aku tak melakukan apapun, sungguh. Dua hari ini aku hanya tinggal dalam ruang recorder bersama Hongseok hyeong dan Donghyuk, dan terkadang ditemani Lee Hi, karena project untuk penilaian bulanan nanti. Tunggu, apa mungkin dia cemburu?

Wae? Kau sungguh berisik.” Jawabku, sambil meregangkan tubuhku yang terasa kaku akibat tidur diatas kursi.

“Tidak, aku hanya kesal. Aku sudah membangunkanmu selama lebih dari lima belas menit, tapi tidak ada respon darimu. Berapa lama kau tidak tidur, ha?”

Ia kini duduk di sampingku, menyodorkan se-cup americano yang mulai dingin. Aku menyambutnya dengan senang hati, aku memang butuh kopi. Susah sekali rasanya untuk terjaga belakangan ini.

“Aku sedang mengerjakkan project penilaian bulanan, bagaimana bisa aku tidur?”

Seoa menyeruput kopi ditangannya. Ia memanyunkan bibirnya, seperti bebek. Rasanya ingin kutarik bibirnya itu, ah tidak, rasanya ingin aku menyentuh bibir itu, dengan bibirku.

“Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Hanbin-a. Kau sungguh sulit untuk dimengerti.”

Aku memandanginya yang menatap sejurus ke depan. Ingin rasanya aku mengatakan perasaanku padanya. Apakah ia akan menerimanya? Atau menolaknya? Bagaimana reaksinya nanti? Aku sungguh penasaran sekaligus takut. Sudahlah, aku katakan saja, mumpung mood-nya sedang bagus.

“Seoa-a?”

“Hmm?”

Ia kini menoleh dan berpandangan denganku. Membuat degup jantungku makin kencang.

“Aku menyukai-“

Belum sempat aku meneruskan perkataanku, Donghyuk datang diikuti Hongseok hyeong. Gagal lagi. Sudahlah, itu artinya tuhan memang tidak mengijinkanku untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Kenapa? Teruskan perkataanmu itu.”

Seoa menatapku intens, tapi aku melengos. Lebih memilih menyambut kedatangan kedua orang penganggu itu. Aku tak ingin Seoa melihat wajahku. Karena wajahku sudah semerah udang rebus sekarang.

“Hanbin-a. Aku pergi dulu. Donghyuk-a, fighting.”

Ne, noona.”

Seoa hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruang latihan sebelum Donghyuk kembali memanggilnya. Tunggu, apa yang anak itu lakukan? Aku menatap tajam kearah Donhyuk yang kini mulai berlari kecil menuju Seoa didepan pintu. Aku terus mengamatinya, ia terlihat membisikkan sesuatu pada Seoa dan keduanya tiba-tiba tertawa. Hatiku memanas seketika, astaga apa yang mereka berdua lakukan? Ingin rasanya aku menarik Donghyuk dari sana saat itu juga.

“Ah, Hanbin-a. Kapan kalian selesai latihan? Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”

“Mungkin pukul 9 malam, noona.”

Donghyuk yang ada dihadapannya langsung menimpali. Aku memutar bola mataku, kesal.

“Ah, baiklah. Hanbin-a. Tunggu aku di atap nanti.”

“Perintahmu adalah kewajibanku, yang mulia.”

Seoa kini menghilang dibalik pintu. Aku masih menatap pintu itu dengan seksama. Sedang dua orang disampingku hanya diam melihatku. Donghyuk menepuk pundakku, membuat kesadaranku kembali. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa sedih. Rasanya Seoa akan mengatakan sesuatu yang menyedihkan. Entahlah, mungkin aku hanya kurang istirahat.

***

Aku berjalan menyusuri koridor menuju atap, sebenarnya latihan belum selesai, tapi aku undur diri. Aku tidak ingin membuat Seoa menunggu, apalagi dicuaca sedingin ini. Aku membawa jacket tebal ditanganku, aku tidak ingin gadis itu sakit. Kau tahu sendiri seberapa ekstrem suhu musim dingin di korea.

Mataku langsung tertuju pada Seoa yang tengah duduk disofa, setelah membuka pintu. Gadis itu masih belum menyadari kedatanganku, membuat pikiran jahil itu meminta untuk direalisasikan. Aku mengendap, mendekati bahu Seoa, dan menepuknya perlahan. Membuat sang pemulik bahu terkesiap , sedikit melompat.

“Ya!”

Sebuah jitakan mendarat didahiku. Kini Seoa tengah menatapku, tak lagi menghindari kontak mata denganku. Membuatku bisa dengan leluasa menatap kedalam manik hitam kecoklatan itu. banyak pertanyaan muncul dibenakku saat melihat kedalam matanya. Tapi tak berani untuk aku tanyakan.

Aku meminta maaf kemudian duduk disampingnya. Benar saja, gadis itu tidak membawa jacket. Dia memang gila. Aku melingkarkan jacket yang ku bawa, menutupi punggungnya. Gadis itu menatapku dan tersenyum. Aku balas tersenyum, dengan senyum termanis yang aku punya. Walaupun kalian tahu, senyumku selalu saja terlihat kaku.

Aku melihat didepanku kini sudah tersedia meja dengan cukup banyak camilan diatasnya. Dari makanan ringan sampai makanan cukup berat. Dari samgyupsal sampai tteoboki. Membuat salivaku bergejolak.

“Ini untuk apa?”

“Untuk dimakanlah. Namanya juga makanan.”

“Bukan itu maksudku.”

“Untuk Kim Hanbin yang terlalu bekerja keras. Hanya itu. Makan sebelum dingin.”

Aku tak lagi bertanya. Mulutku sudah tak lagi tahan, aku melahap satu persatu makanan yang ada didepanku pun dengan Seoa. Selesai dengan tteobokki, kini aku tak lagi memakan apapun. Aku memperhatikan Seoa dengan seksama, gadis itu terlihat menikmati samgyupsalnya. Aku sesekali tersenyum melihatnya menyantap makanan dengan begitu lahap. Aku sudah merasa kenyang hanya dengan melihatnya makan.

Seoa berdiri setelah menghabiskan samgyupsal dan beberapa makanan ringannya. Ia berjalan menuju ke tepi balkon, sedang aku masih setia duduk diatas sofa. Cuaca dingin membuatku enggan untuk bergerak. Aku melihat tas Seoa terbuka disampingku, menyembulkan sebuah kertas kecil diantara resletingnya. Dari bentuknya, kertas itu seperti sebuah tiket. Tanpa dikomando, tangan kananku meraihnya dan mengambil kertas itu dari tas Seoa.

Mataku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang ada ditanganku saat ini. Selembar kertas ditanganku ini adalah sebuah tiket pesawat terbang tujuan Swedia. Aku melihat ketanggal keberangkatan, dan sialnya tanggal itu sama dengan tanggal penilaian bulanan kami. Aku memasukkan tiket itu kembali sesaat sebelum Seoa menoleh.

Aku mendekati gadis itu dengan perasaan ragu. Berdiri disampingnya kemudian merangkul bahunya. Yang dibalas senyuman manis. Ia kembali melihat kearah langit. Aku masih memandangnya, ragu untuk menanyakan tiket itu atau tidak. Terlihat jelas olehku, matanya mulai berkaca dan hidungnya mulai memerah.

“Hanbin-a. Aku baru sadar ternyata bintang itu sangat jauh.”

Ia menjulurkan tangannya, seperti hendak meraih bintang dilangit. Aku masih terdiam, mengamati wajah gadis itu dengan seksama.

“Bagaimana aku bisa meraihya jika itu sangat jauh? Haruskah aku menyerah saja?”

Aku melepaskan rangkulanku, meraih kedua bahunya kemudian menggesernya menghadapku. Kutatap mata itu satu-satu.

“Dulu kau selalu bilang untuk jangan menyerah, kenapa sekarang kau yang ingin menyerah Seoa-a?”

Nadaku sedikit tinggi. Entah mengapa aku merasa marah akan keputusannya. Atau mungkin aku marah karena tiket itu? Entahlah. Aku pun tidak mengerti dengan perasaanku sendiri saat ini. Yang pasti aku sudah merasa kehilangan bahkan untuk detik ini.

“Hanbin-a. Sepertinya aku mulai kehilangan arahku. Aku harus berhenti sebelum keputusanku merugikanku dan orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin merubah apapun, aku ingin semuanya akan tetap sama seperti dulu. Aku ingin mengejar mimpiku, tapi jika itu justru melumpuhkanku, haruskah aku mengejarnya?”

Tak mempersilahkanku menjawab, gadis itu menepis tanganku. Berjalan menjauhiku dan pergi meninggalkanku setelah mengambil tasnya. Sedang aku masih mematung ditempatku. Masih berusaha mencerna kata-kata Seoa. Tak mengerti dengan apa yang dibicarakannya, aku berusaha mengejarnya.

Aku mencarinya disetiap sudut gedung, tapi kurasa ia sudah pergi. Aku mencari diluar gedung, bertanya pada beberapa orang tapi tak ada yang melihatnya dalam gedung maupun diluar gedung. Aku menghela nafas panjang. Aku hendak menelponnya sebelum Donghyuk memanggilku untuk kembali berlatih. Aku hanya berharap aku bisa melihatnya esok hari.

***

Keesokan harinya aku sudah bersiaga didepan gedung. Berharap gadis itu muncul. Sungguh, kumohon, muncullah, Lee Seoa.  Jangan buat aku khawatir Seoa-a. Aku mondar-mandir didepan gedung, kemudian Jinhwan hyeong datang dan menghampiriku.

“Hanbin-a, ada apa?”

“Seoa, hyeong. Dia bersikap aneh semalam.”

“Mungkin dia sedang lelah saja, sudahlah, gadis itu akan baik-baik saja. sekarang lebih baik kita latihan. Seminggu lagi penilaian bulanan.”

Perkataan Jinhwan hyeong menyadarkanku. Tiket itu, tiket Seoa. Swedia? Apa yag sebenarnya terjadi pada gadis itu? Kenapa ia harus pergi disaat seperti ini? Kenapa ia pergi ditanggal yang sama dengan penilaian bulanan kami? Apa ia sengaja? Tapi mengapa ia harus menghindariku? Apa alasannya? Aku menghela nafas frustasi sebelum akhirnya mengikuti Jinhwan hyeong msuk ke dalam gedung, masi dengan mata yang mengamati keluar gedung.

Moodku benar-benar hancur hari ini. Tarianku terasa tak memiliki jiwa. Pelatih kami pun berkali-kali menegurku agar aku lebih focus. Member yang lain pun berulang kali mengingatkanku. Tapi entahlah. Fikirannku saat ini berada ditempat lain, bukan disini.

“Hanbin-a. Jika kau tak sungguh-sungguh, lebih baik tinggalkan posisimu itu.”

Pelatih koreo kami kembali menegurku, kini nadanya tak lagi datar, tapi ditekankan pada beberapa kalimat, intonasinya pun cukup tinggi. Aku benar-benar melakukan kesalahan besar. Kenapa dengan diriku ini?

“­Jwisonghamnida seongsaengnim­.”

Aku kembali kedalam gerakanku. Mencoba mengembalikan seluruh fokusku. Aku tak ingin mengacaukan timku. Kali ini lupakan dulu masalah Seoa, tapi rasanya sia-sia saja. Gadis itu masih tak mau hilang dari otakku. Berulang kali tangis dan perkataan gadis itu muncul dalam otakku. Mungkin aku akan bisa melupakannya, jika aku kehilangan sadarku.

Aku tak bisa membendung emosiku semalam akibat tiket pesawat itu. Harusnya aku lebih tenang. Harusnya aku menghiburnya. Bukanlah Seo-a jika ia berhenti bermimpi akan impiannya menjadi seorang dancer. Aku tahu persis dia. Aku hafal semua tentangnya.

Disela-sela waktu istirahatku, aku kembali teringat akan ekspresi Seo-a alhir akhir ini. Terutama setelah penilaian bulanan ketiga kami. Aku ingat jelas ekspresinya ketika aku bertanya apa dia baik-baik saja.

“Kenapa? Apa kau terluka? Atau kau akan pergi untuk sementara?”

Mata gadis itu terbelalak. Reaksinya seperti menunjukkan bahwa aku benar.

Aku yakin, sesuatu telah terjadi. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu  dariku.

“Hanbin-a hyeong, kita harus latihan lagi.”

Suara Donghyuk mengembalikan jiwaku dari lamunan. Aku beranjak, kembali berlatih untuk penilaian terakhir sebelum penilaian final. Sebenarnya aku ingin ijin untuk mencari Seoa dirumahnya, tapi aku tak boleh egois. Kepentingan team ku lebih diutamakan sekarang. Walau berat rasanya.

***

Hari penilaian datang, berarti hari ini juga Seoa akan pergi dari Korea. Sudah dipastikan dia akan pergi. Kenapa ia harus pergi? Aku pun tak tahu alasannya sampai detik ini. Aku hanya berharap, aku bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, setidaknya aku ingin mengungkapkan perasaanku sebelum dia pergi. Swedia bukan tempat yang dekat, akan sulit bagiku untuk menemuinya lagi.

Aku berdiri dibelakang panggung setelah melakukan rehearsal. Miris rasanya, aku harus menghapusnya untuk mengembalikan konsentrasiku. Aku mencintainya, tapi aku tak pernah memperjuangkannya. Lelaki macam apa diriku ini? Sungguh menyesal rasanya aku tak pernah mengungkapkan perasaanku ini padanya. Menyesal rasanya aku tak memberanikan diri untuk mengungkapkannya.

“Hanbin-a, aku tahu kau sedang bermasalah, tapi aku mohon, demi team, lupakan sejenak masalahmu itu. Kau harus tampil maksimal, mengerti? Walaupun berat. Aku akan selalu mendukungmu. Lagipula, jika kalian ditakdirkan bersama, jarak dan waktu tak akan jadi penghalang.”

Arraseo, Jinhwan hyeong. Aku hanya berharap, penilaian kali ini akan selesai sebelum pesawat Seoa take off. Aku ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Aku ingin memeluknya untuk terakhir kalinya.”

Jinhwan hyeong mengusap punggungku pelan lalu pergi meninggalkanku menuju ruang wardrobe. Aku mengekor dibelakangnya. Sudah seperti tak bernyawa rasanya.

***

Penilaian bulanan kali ini sungguh berat bagiku. Seluruh team menangis. Aku tak lagi bisa membendung air mataku. Aku menangis. Menangisi team ku juga Seoa. Menangisi team ku karena tak bisa lolos bersama, Yunhyeong hyeong tak bisa masuk dalam seleksi penilaian bulanan kali ini. Membuat kami sadar, peluang yang kami miliki tak sebesar itu. Kami juga batasan. Menangisi Seoa karena kepergiannya yang tiba-tiba setelah menghilang tanpa kabar apapun.

Setelah drama penilaian bulanan selesai, kami berkumpul diruang latihan. Duduk melingkar untuk berdiskusi. Ingin rasanya mengejar Seoa, tapi aku tak bisa mengabaikan team ku, keluargaku disini. Kami saling sharing tentang kejadian hari ini. Saling menguatkan satu sama lain. Hampir dua jam kami duduk berdiskusi, setidaknya dengan berdiskusi kami bisa menjadi lebih dekat dan memahami satu sama lain. Seharusnya aku juga sering berdiskusi dengan Seoa agar aku bisa memahaminya.

Satu jam sebelum Seoa berangkat, aku terus memandangi layar ponselku. Rasa gelisah tak lagi bisa aku tahan. Ingin rasanya aku memutar waktu. Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. Aku merindukanmu Seoa-a, kumohon, jangan pergi. Aku membutuhkanmu, Lee Seoa.

“Hanbin-a, jam berapa Seoa berangkat?”

Jinhwan hyeong kembali memecah lamunanku. Aku tak berpaling dari layar ponselku. Membuat sang pelontar kata mendekatiku.

“Hanbin-a?”

“Eoh? Ah, hyeong, maaf. Ada apa?”

“Ayo kita susul Seoa, siapa tahu pesawatnya delay?”

Bobby hyeong mengusulkan, dibalas dengan anggukan dan ocehan tak jelas member yang lain.

“Lupakan kejadian hari ini, dan ayo kita kejar Seoa. Dia juga bagian dari kita ‘kan?”

Yunhyeong hyeong menimpali sambil sedikit menyeret lenganku membuatku berdiri dan mengikuti langkahnya. Aku tak tahu apakah ini akan berhasil. Aku tak tahu apakah kami sempat bertemu Seoa. Aku takut kecewa, aku takut tak bisa menerima kenyataan. Aku takut keilangan Seoa. Aku benar-benar takut kehilangan gadis yang aku cintai selama beberapa tahun terakhir ini, yang akan tetap aku cintai sampai kapanpun.

“Aku saja yang mengejarnya.”

Perkataanku menghentikan langkah member lain. Aku berlari keluar dari ruangan tanpa mempersilahkan member lain menanggapi perkataanku. Aku berlari menuruni tangga, tak terfikir untuk menunggu lift. Aku hanya ingin bergegas sampai di airport. Sampai di depan gedung aku langsung menghentikan taksi.

“Incheon Airport, pak.”

***

One thought on “AIRPLANE – Part 3”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s