The Magician and the Doll (Chapter 7)

The Magician and The Doll

Scriptwriter: @arinnai ||  Title: The Magician and The Doll  || Main Cast:  Sandara Park, Lee Donghae, Xi Luhan, Kim Hyoyeon || Duration: Chaptered  || Genre: Romance, comedy, school || Rating: PG

Previous: Prologue // 6

            Sejak festival itu, aku berusaha melupakan Donghae dan maksudku benar-benar melupakannya. Aku sudah memutuskan berhenti dari pekerjaanku sebagai asisten sulapnya dan aku benar-benar mencoba meminimalisir pertemuanku dengan Donghae di sekolah. Sesekali aku melihatnya dari kejauhan, seperti biasa sang pangeran sekolah selalu terlihat tenang dan menawan, aku belum bisa sepenuhnya menghilangkan perasaan ku terhadapnya tapi setidaknya aku berusaha.

“Sandara nuna!” panggil Luhan yang tengah melambaikan tangannya di depan gerbang sekolahku

“Luhan-ah! Maaf aku tidak sedang bersama Donghae, mungkin kau bisa Tanya anak-anak kelas 2” ujar ku

“ania, aku mencari mu nuna” senyum mengembang di wajah Luhan, senyum yang sudah lama tak kulihat

“aku? Ada perlu apa denganku?”

“ini” Luhan memberiku secarik tiket untuk ke sebuah pameran lukisan di tengah kota

“apakah kau mau menemaniku nuna?” ujarnya sambil tersenyum ke arahku, terlintas wajah Donghae ketika aku menatap Luhan karena wajah mereka berdua memang mirip

“apa kau yakin kau ingin pergi denganku Luhan?” tanyaku untuk memastikan

“ne, aku hanya ingin pergi denganmu nuna” sebuah senyum mengembang lagi di wajahnya, tapi yang ku lihat di wajah itu hanyalah bayang-bayang wajah Donghae.

“baiklah! Aku ikut! Hehe” ujarku menerima ajakan Luhan, lagipula Luhan sudah sering membantuku saat aku dihadapkan dengan masalah-masalah yang diberikan Donghae untukku

“benarkah?! Aku akan menjemputmu besok jam 7 malam ya!” ujarnya

“okay Lu!”

Luhan lalu pergi menjauh dan menoleh ke arahku “nuna!!” ia memanggilku dari kejauhan. “mwoya?” jawabku kencang, “it’s a date” ujarnya, senyuman itu terlukis lagi di wajahnya. Senyuman yang membuatku teringat pada Donghae.

MWOYA?! Apa dia bilang?! D-d-d-d-date?! Kenapa butuh waktu 10 menit bagiku untuk menyadari ada yang salah dengan ucapan anak itu?! dan kenapa malah wajah Donghae yang ku lihat saat menatap wajah Luhan? Ada yang salah denganku.

……………………..

            Akhirnya aku bisa mengajak Dara nuna untuk kencan, butuh keberanian untuk mengajaknya karena selama ini mata Dara nuna hanya tertuju pada Donghae hyung dan aku tidak bisa membiarkan ini terjadi karena Hae hyung telah menyakiti perasaannya, perasaan perempuan yang ku sukai.

“yak Luhan-ah apakah kau bisa membantuku besok? Aku akan mengisi acara di suatu festival budaya” ujar Donghae hyung

“mian hyung, aku ada kencan besok” ujarku

“serius?! Woah kau sudah tumbuh besar Luhan-ah, jadi siapa gadis yang beruntung itu?”

“San-Sandara nuna” ucap ku agak berat, aku menoleh ke arahnya tapi ia hanya diam dan memberikan tatapan itu padaku, sebagai adiknya aku sendiri sulit memahami ekspresi Hae hyung

“ganbatte..” ucapnya setelah jeda yang cukup lama diantara percakapan kami, lalu ia beranjak menuju kamarnya

            Aku tahu pasti ada sesuatu dengan dirinya dan aku tahu jeda yang ia berikan tadi pasti ada arti tersembunyi. Entah ia menyukai Dara nuna atau membenci nya aku pun tidak tahu, karena hanya Hae hyung yang mengerti arti dari ekspresi yang barusan ia berikan pada ku.

…………………………

            Hari ini aku tidak percaya aku benar-benar pergi kencan dengan Luhan, aku rasa ini bukan ide yang bagus karena aku berusaha menghindari kakak nya dan lalu aku pergi kencan dengan adiknya, aku tidak tahu apa yang terjadi di kepala ku sekarang.

‘tin tin’ suara klakson motor yang sudah familiar bagiku, aku pun bergegas turun menghampiri asal suara itu

“mian nuna, apakah kau menunggu lama?” ujarnya, aku tidak pernah melihat Luhan se rapih ini, ia mengenakan kemeja flannel dan jeans yang sudah belel, sangat menghilangkan kesan cute yang selama ini melekat di dirinya

“ania, aku juga baru selesai bersiap-siap”

“woah nuna kau terlihat sangat cantik dengan dress itu!” ujarnya, laki-laki ini sangat manis, berbeda dengan Donghae yang tidak bisa sekali saja memuji ku

            Kami berangkat ke pameran lukisan disebuah hotel ternama. Aku baru tahu kalau Luhan sangat menyukai hal-hal artistic seperti  ini padahal sudah lama sejak aku pertama kali mengenalnya. Kalau dipikir-pikir aku tidak tahu banyak tentang Luhan, yang aku tahu hanyalah Luhan sering membantu Donghae dalam mempersiapkan sulapnya.

“nuna, apa pendapat mu tentang ini” ujar Luhan sambil menunjuk salah satu lukisan, didalam lukisan itu terdapat sebuah topi bewarna hitam dan sebuah kelinci yang mengintip dari dalam topi itu

“ah ini kelinci dan topi sulap!”

“haha iya aku tahu, tapi menurutmu apa makna yang terkandung didalamnya, menurut nuna saja, kita mencoba mengapresiasikan sebuah karya seni disini” ujar Luhan

“hmm… menurutku orang yang menggambar ini pasti sangat menyukai sulap, ia mengerahkan hidupnya untuk menciptakan trik trik baru, ia sangat senang membuat orang terhibur…” ujar ku

“woah kau hebat sekali nuna, seakan-akan kau seperti mengenal pelukisnya” ujar Luhan, mengenal ya? Aku tidak mengenal pelukis itu. dan barusan bukan pikiran ku tentang lukisan itu, melainkan pikiran ku terhadap Donghae

“ah ngomong-ngomong soal sulap, aku merasa tidak enak pada Hae hyung, ia pasti melakukan pertunjukan itu sendiri sekarang” ujarnya

“mwo? Pertunjukan apa? Dimana?” Tanya ku

“di festival budaya di sebuah lapangan didekat sini” ujar Luhan

‘ctar’ suara petir menyambar sebuah pohon diseberang tempat pameran, aku menoleh ke luar jendela dan yang benar saja aku tidak menyadari bahwa hujan besar sudah menyapu seluruh jalanan

“Donghae-ah… apa kau baik-baik saja? Apakah pertunjukannya berjalan dengan lancar? Aku harap kau tidak terlalu memaksakannya” pikirku di dalam batin

            Aku menoleh kembali ke lukisan topi dan kelinci itu. yang ku pikirkan hanyalah wajah Hae saat ini. Bagaimana kalau ia ke hujanan dan terkena flu dan lebih buruknya lagi bagaimana kalau pertunjukannya gagal dan dia depresi. Aish aku harus berhenti berpikiran yang tidak-tidak.

“Dara nuna, apa kau mendengarku!!” ujar Luhan sambil melambai-lambaikan tangannya didepan ku

“ah! Maaf Luhan aku hanya sedang berpikir” aku pun kembali ke dunia nyata berkat wakeup call Luhan

“kalau kau khawatir, sebaiknya kau menghampirinya…” ucap Luhan

“apa yang kau bicarakan Lu?”

“Hae hyung.. kau khawatir kan? Ini” ujar Luhan sambil memberikan payung padaku

“aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini” ujar ku

“baiklah kalau begitu apakah kau mau mengecek keadaannya untukku?” senyumnya mengembang lagi di wajahnya

“apa kau yakin kau tidak apa kalau aku pergi?” tanyaku memastikan

“ya sepertinya begitu, lagi pula kita baru setengah jalan di pameran ini dan aku masih mau melihat sisanya” ujarnya

“okay! Aku akan pergi!!” aku langsung berlari menjauhi Luhan dan menoleh sesaat untuk memberikan lambaian terakhir pada Luhan

            Aku membuka paying dan berlari secepat mungkin menerobos terjangan hujan yang cukup deras. Payung kecil yang diberikan Luhan tak 100% melindungiku dari hujan. Sesampainya aku di lokasi aku tidak melihat adanya tanda-tanda festival budaya lalu aku bertanya pada warga local yang ada disana.

“maaf pak bukannya harusnya ada festival budaya disini?” tanyaku

“ah festivalnya dibatalkan karena ada salah satu pengisi acara yang tertimpa tiang penyangga panggung barusan ia dilarikan ke rumah sakit X”

‘deg’

            Jantungku berhenti berdetak untuk seketika, aku mencoba meraih ponselku dan menelpon Donghae. “nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan” dan malah nada itu yang kudapat. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju rumah sakit yang bapak tadi sebutkan. Bagaimana mungkin, ini tidak nyata, tidak mungkin Hae terluka. Aku menanggalkan paying yang luhan berikan karena paying itu menahan ku untuk berlari cepat menuju rumah sakit. Air mata yang bercampur air hujan membasahi pipi ku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Hae, aku mencintainya. Sungguh, aku sangat mencintai Lee Donghae dan aku tidak ingin melupakannya! Aku ingin terus memikirkannya, aku ingin terus melihatnya.

            Sesampainya dirumah sakit aku langsung menyambar meja resepsionis, seisi ruang tunggu melihatku dengan bingung, karena penampilanku yang sangat kacau saat ini.

“apa pasien korban kecelakaan di festival budaya masih ada disini?” ujarku pada sang resepsionis yang juga bingung penampilan ku yang sangat kacau

“ah itu dia baru saja dipulangkan, ia mengalami patah tulang di leher dan siku kanan barusan saja ia pergi meninggalkan rumah sakit ini bersama keluarganya” begitu selesai mendengarkan penjelasan resepsionis itu aku langsung berlari menuju apartemen Donghae, akupun sudah tidak bisa membayangkan aku sudah berlari berapa meter hari ini.

‘ting tong’

‘ting tong’

‘ting tong’

Aku memberikan serangan bertubi- tubi pada tombol bel apartemen Donghae tapi tetap tidak ada jawaban. “Hae-ah ini aku Dara!!” aku bertriak didepan pintu apartemennya. “Hae-ah kalau kau di dalam tolong jawab aku” air mataku tumpah lagi untuk yang kesekian kali. “Hae-ah aku mohon…” aku bersender di ambang pintu apartemennya

‘cekrek’ suara kunci pintu terbuka

‘brug’ aku pun terjatuh, seseorang membuka pintu itu

“Apa yang kau lakukan disini?” ujarnya, mwo? Dia tidak terlihat seperti orang yang habis tertimpa  tiang penyangga

“k-k-kau tidak terluka sama sekali?!” ujarku kaget

“kenapa aku harus terluka? Dan apa yang terjadi padamu kau sangat kacau” ujar Hae

“kenapa kau tidak ada di festival??” tanyaku

“ah itu, aku terlambat memasang alaram dan terimakasih padamu sekarang aku bangun” ujarnya. Aku mengangkat badanku yang basah kuyup ini dan mencoba bangun. Aku hanya menatap wajah laki-laki itu mencoba memahami mengapa aku rela melakukan semua ini hanya untuk memastikan apakah Donghae baik-baik saja

“yak kau kenapa?! Jawab aku Dara!” ujarnya sambil mengguncang-guncangkan bahuku. Aku memeluknya, aku tidak bermaksud untuk memeluknya tapi itulah reflek tubuhku saat itu, aku merasa lega karena ia tidak terluka sedikit pun

“J-jangan membuatku khawatir, jantungku hampir berhenti berdetak data ku pikir kau tertimpa tiang penyangga itu. aku tidak akan memaafkan diriku kalau kau sampai terluka… jangan membuatku mengawatirkan mu lagi.. hatiku sangat sakit” ucapku

            Donghae hanya mematung sesaat setelah mendengar ucapanku barusan. Badannya basah karena menempel dengan baju ku yang basah kuyup. Perlahan aku bisa merasakan tangannya di punggungku ia memelukku juga dan aku juga bisa merasakan dagunya tepat bersender diatas kepalaku.

“wajah mu…” ucapnya

“mwo?”

“aku tidak melakukan apapun terhadap wajahmu, tidak ada sihir atau apapun… kau memang sudah cantik ketika aku pertama kali bertemu denganmu, aku tidak melakukan sihir apapun terhadapmu” ujarnya

“lalu bagaimana wajahku bisa seperti ini?” tanyaku

“molla.. aku sendiri tidak tahu” ucapnya. Mata kami saling bertemu, aku lega aku bisa melihat tatapan itu lagi

“jangan pernah menghindari ku lagi… dan jika kau menyukai ku, tetaplah menyukai ku aku tidak akan menyuruhmu untuk melupakan perasaan itu” ujarnya diikuti dengan tatapan khasnya

“jangan bengong, ayo masuk kau bisa kena flu kalau terus-terusan memakai itu” ujarnya

“yak kau yang membuatku basah kuyup seperti ini”

Sudah ku putuskan, aku akan tetap mencintainya.

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s