The Story Only I Didn’t Know [4/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [4/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1. 2. 3

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Jiyeon’s House – 07.00 am

Udara di bulan Desember semakin dingin, salju tebal mulai terlihat di segala penjuru Seoulmembuat orang-orang harus memakai pakaian berlapis coat tebal jika tidak ingin membeku saat pergi keluar rumah. Para pekerja pemerintah yang bertugas untuk membersihkan jalanan utama dari tumpukan salju, juga tampak semakin banyak berkeliaran di sepanjang jalan dan bekerja dengan penuh semangat di bawah derasnya salju yang turun pagi ini.

Sebagian orang lainnya yang terlalu malas berperang dengan suhu dingin di luar rumah, memilih membungkus tubuh mereka dengan sweater tebal dan duduk manis di dalam rumah, mengatur suhu penghangat ruangan dengan suhu yang lebih tinggi.

Song Jiyeon gadis cantik di dalam kamar tidurnya yang bercat biru dan sangat membenci musim dingin, tampak semakin menggulung tubuhnya dalam hangatnya bedcover berwarna biru muda dan tidak berniat sama sekali untuk bangun dari tidurnya saat ini.

Dengan mata bengkak dan wajah yang terlihat masih sangat sembab, setelah gadis itu menghabiskan malamnya dengan menangis dan memutuskan untuk tidak bersekolah hari ini. Karna terlalu memalukan jika nanti dia harus menjelaskan tentang keadaan wajah dan matanya, kepada sahabatnya Jihyun atau teman-temannya yang lain jika mereka menanyakan tentang semua kekacauan di wajah gadis itu saat ini.

Namun sesaat kemudian gadis itu terlihat mengerjabkan matanya pelan, saat dia merasakan nafas hangat seseorang menerpa permukaan kulit wajahnya. Perlahan gadis itu membuka matanya, mengerjab beberapa kali guna mengumpulkan semua kesadarannya dan mendapati wajah seorang laki-laki, dengan senyum menyebalkan sudah berada tepat di atas wajahnya. Sontak mata bening gadis itu terbuka lebar, dengan raut wajah terkejut yang terlihat jelas di wajahnya saat ini.

“Annyeong Jiyeon-aa,—-“ suara yang beberapa hari ini selalu di dengar Jiyeon itu pun mulai terdengar, membuat Jiyeon yang terlihat masih sangat syok itu langsung bangun dari posisi tidurnya, seraya menarik bedcover untuk menutupi tubuhnya yang terbalut baju tidur bahan katun dengan motif hello kitty yang juga berwarna biru, hingga hanya menyisakan bagian kepala saja.

“YAK!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR KU, PARK CHANYEOL!!!” teriak Jiyeon tak tertahan saat semua kesadarannya sudah terkumpul sempurna, tapi laki-laki tinggi yang ada di hadapan gadis itu justru hanya tertawa dengan keras dan sama sekali tidak peduli dengan tatapan murka Jiyeon saat ini.

Chanyeol menegakkan tubuhnya berusaha menahan tawanya lalu duduk di tepi ranjang, membuat Jiyeon membulatkan matanya dan memundurkan tubuhnya, tangan gadis itu terlihat semakin kencang menggenggam bedcover warna biru yang menutupi tubuhnya.

“Membangunkan mu,— karna yang aku dengar kau menolak untuk bangun karna tidak ingin masuk sekolah hari ini.” Jawab Chanyeol dengan santai.

“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamar ku Park Chanyeol?!” tanya Jiyeon masih dengan emosi yang meledak ledak. “Tentu saja dari pintu Song Jiyeon ku sayang,— setelah sebelumnya Jung Ahjumma memberi izin pada ku untuk membangunkan mu,” jawab Chanyeol dengan memamerkan senyum lebarnya, tangannya bergerak ingin menyentuh wajah pucat Jiyeon namun dengan cepat gadis itu menepisnya.

“JUNG AHJUMMA!” teriak Jiyeon lagi dengan geram, gadis itu terlihat mengumpat kesal dan berfikir jika dia akan memberi hukuman pada bibi tersayangnya itu sebentar lagi, karna sudah sangat lancang mengizinkan makhluk menyebalkan ini masuk ke dalam kamarnya.

“Kau ini kenapa hobi sekali berteriak?” Chanyeol menekan telinganya yang terasa berdengung dan berasumsi jika gendang telingannya pasti akan rusak lebih cepat, jika berada terlalu lama dengan Jiyeon.

“YAK! Park Chanyeol,—-“ ucap Jiyeon dengan takut saat Chanyeol menatapnya dengan tatapan yang aneh. “Keluar dari kamar ku sekarang, PARK CHANYEOL!” teriak Jiyeon lagi saat Chanyeol mulai menaiki tempat tidurnya, merangkak pelan mendekati tubuhnya dengan senyum yang membuat Jiyeon bergidik ngeri.

“Ap—apa—apa yang mau kau lakukan?” ucap Jiyeon tergagap, gadis itu memundurkan tubuhnya saat Chanyeol semakin mendekat. “JUNG AHJUMMA!! TOLON—,” ucapan gadis itu terputus seketika saat tiba-tiba Chanyeol mencium keningnya dengan lembut, mata bening gadis itu membulat dengan hawa panas yang tiba-tiba saja sudah muncul di permukaan kulit wajahnya.

“Berhentilah berteriak! Apa berteriak itu sangat menyenangkan, eoh?” tanya Chanyeol dengan santai, laki-laki itu menumpukan beban tubuhnya pada kedua tangannya yang berada di antara tubuh Jiyeon yang terlihat kaku, mata bulatnya menatap Jiyeon yang kini berada tepat di bawah tubuhnya dengan senyum yang tertahan, karna hingga detik ke 5 gadis itu masih terpaku dengan wajah yang merona. “Aish! Kenapa wajah mu terlihat sangat bodoh? Aku hanya mencium kening mu Jiyeon bukan bibir mu, jadi berhentilah berreaksi berlebihan seperti ini,” ucap Chanyeol dengan kekehan menyebalkannya.

Jiyeon mengerjab pelan kesadaran gadis itu telah terkumpul sempurna, nafas gadis itu pun mulai memburu dengan aura kemarahan yang kembali naik ke permukaan hatinya. Dalam satu gerakan gadis itu mendorong Chanyeol yang masih di posisi menunduknya, membuat Chanyeol terjungkal ke belakang seketika itu juga.

“DASAR LAKI-LAKI MESUM TIDAK TAHU DIRI, AKU BENCI PADA MU PARK CHANYEOL BODOH!!!” umpat Jiyeon dengan memukul mukul Chanyeol menggunakan bantal tanpa ampun, tapi yang di pukul hanya tertawa terbahak-bahak, membuat Jiyeon semakin bernafsu untuk memberi pukulan yang lebih keras.

Jiyeon kembali memukul Chanyeol yang masih terbaring di atas ranjangnya, namun kali ini Jiyeon menggunakan kedua tangannya hingga menimbulkan teriakkan kecil dari Chanyeol. “YAK! Itu sakit Jiyeon,— YAK!! Hentikan,” Chanyeol berusaha menghindar dari pukulan membabi buta Jiyeon yang terasa mulai menyakiti tubuhnya.

“BERHENTI ATAU AKU AKAN MENCIUM MU TANPA AMPUN!!” seketika itu juga Jiyeon menghentikan aksi brutalnya, gadis itu menatap Chanyeol yang kembali sudah menampilkan tawa menyebalkan khas seorang Park Chanyeol.

“KAU—-“ Jiyeon menunjuk wajah Chanyeol dengan telunjuknya, menggerang tertahan karna saat ini gadis itu benar-benar menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun, dengan cepat gadis itu meraih handphone miliknya yang tergeletak di atas meja kecil yang ada di samping ranjang.

Dengan lincah gadis itu menekan 1 tombol untuk terhubung langsung dengan seseorang, mata gadis itu melirik Chanyeol yang kini sudah duduk dengan manis, tangan laki-laki itu bergerak merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan, membuat Jiyeon menjulurkan lidahnya kesal.

“Ayah,—- ada seorang,—“ Jiyeon membulatkan matanya saat Chanyeol yang tiba-tiba merebut handphone dari tangannya, membuat gadis itu memekik tertahan. “Paman Song,—Annyeonghaseo aku Chanyeol putra kedua dari Park Seungho adik dari Park Jungsoo, apa paman ingat?” ucap Chanyeol dengan tenang, laki-laki itu melirik Jiyeon dari ekor matanya dan mendapati gadis itu sudah melipat tangannya di depan dada dengan nafas yang terlihat naik turun dengan kasar.

“Eoh— putra kecil Park Seungho? Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku lupa dengan putra dari teman baik ku,” Chanyeol terlihat tertawa saat Song Jongki ayah dari Jiyeon tertawa di seberang sana.

“Hari ini aku menjemput putri anda, yang berniat membolos dengan alasan yang tidak jelas.” Chanyeol kembali melirik Jiyeon dari ekor matanya.

“Aku hanya ingin menjadi pacar yang baik untuk putri anda, jadi— tindakan ku ini sudah benarkan paman?” ucap Chanyeol dengan suara manisnya, laki-laki itu memutar pandangannya menatap Jiyeon yang sudah terlihat sangat syok dengan mulut yang menganga lebar itu dengan senyum kecilnya.

“Ini,—“ ucap Chanyeol seraya menyerahkan handphone gadis itu. “Ayah mu ingin bicara,” dengan ragu Jiyeon menerima handphonenya kembali.

“Ayah,— itu— aku,—“

“Ah! Sepertinya ayah sudah banyak tertinggal dengan cerita mu sayang dan—Pilihan mu sudah tepat sayang, Chanyeol adalah anak dari teman baik ayah, bahkan waktu kalian kecil kalian pernah bertemu sebelumnya, tapi mungkin kau lupa karna waktu itu kalian masih sama-sama berumur 5 tahun,”

“Ayah,—-“

“Bersikap baiklah dengannya, eoh? Ayah menyayangi mu dan semoga hubungan kalian bahagia selamanya, Sarangae,—” Jiyeon menggengam handphonenya dengan erat, menahan kata-katanya yang tertahan di ujung lidahnya saat sambungan telephone tiba-tiba saja sudah terputus secara sepihak.

Gadis itu masih diam seraya bergumam pelan. “Kapan ayah dan ibu kembali? Aku sudah sangat merindukan kalian,” Jiyeon menundukkan wajahnya, sebulir airmata jatuh melewati hidung mancung gadis itu.

“Ayah ku juga butuh waktu yang lama untuk kembali ke rumah,” Jiyeon tertegun, gadis itu mengangkat kepalanya menatap Chanyeol yang kini sudah tersenyum hangat ke arahnya. “Itu resiko yang harus kita terima Song Jiyeon, karna kita terlahir di keluarga yang sangat sibuk dengan pekerjaan sebagai pengusaha kaya.” Ucap Chanyeol dengan lembut, tangan laki-laki itu mengacak pelan rambut Jiyeon yang memang sudah acak-acakan sejak gadis itu bangun.

Jiyeon terdiam matanya masih menatap Chanyeol yang kini masih mengusap kepalanya pelan, ya Chanyeol benar keluarga mereka memang sangat sibuk dengan urusan bisnis perusahaan keluarga mereka. Sebenarnya Jiyeon sudah terbiasa bahkan sangat sudah terbiasa dengan kesendirian tanpa kehangatan kasih sayang dari kedua orangtuanya, hanya terkadang Jiyeon merasa jika dia tidak bisa menahan luapan rasa rindu terhadap orang tuanya itu.

“Bersiaplah, aku akan menunggu mu di meja makan dalam waktu 15 menit,” ucap Chanyeol seraya bangkit dari duduknya, merapikan seragam sekolahnya dan menatap Jiyeon dengan kembali memamerkan senyum lebarnya.

“MWO??” ucap Jiyeon dengan keras.

“Aish! Jangan berteriak lagi Jiyeon, ayo cepat waktu mu tidak banyak!” Chanyeol menatap Jiyeon dengan senyum anehnya, saat di lihatnya Jiyeon yang belum mau bergerak dari posisinya. “Atau— kau mau aku yang memandikan mu?” Chanyeol mengerlingkan matanya dengan senyum nakal yang membuat Jiyeon kembali bergidik ngeri.

“YAK!! KELUAR DARI KAMAR KU SEKARANG JUGA, PARK CHANYEOL MESUM!!!”

***

Kekesalan Jiyeon masih saja belum hilang walaupun saat ini gadis itu sudah duduk di sebelah Chanyeol, berada di dalam mobil laki-laki menyebalkan itu lagi. Gadis itu memilih diam di sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, merasa terlalu lelah setelah perdebatan panjang dengan Chanyeol, perdebatan yang tetap berlanjut saat di meja bahkan saat mereka akan berangkat ke sekolah beberapa saat yang lalu.

Chanyeol menatap Jiyeon yang sejak tadi memalingkan wajahnya, memilih untuk menatap pemandangan jalanan ramai Gangnam-gu dari kaca mobil yang terlihat sedikit berkabut, karna langit yang semakin lebat memuntahkan salju putihnya ke bumi. Menatap gadis yang sempat membuatnya khawatir sejak dia tahu dari Jung Ahjumma, jika gadis itu menangis semalaman setelah dirinya mengantarkan gadis itu pulang kemarin sore.

“Mata mu masih sangat bengkak,” Chanyeol bersuara pada akhirnya. “Heem— kau bisa bilang jika kemarin kita bertengkar dan membuat mu menangis semalaman.” Ucap Chanyeol lagi namun Jiyeon tetap tak bergeming.

“Aku tidak tahu cerita apa yang pernah ada di antara kalian, tapi— bisakah kau tidak menangis lagi untuk laki-laki itu?” Jiyeon tertegun gadis itu merasa jika matanya mulai kembali memanas, entahlah rasanya terlalu sakit jika harus membahas seorang Choi Siwon. “Aku benar-benar merasa,— merasa sakit saat kau menangisinya seperti kemarin,” ucap Chanyeol dengan suara lirihnya, membuat Jiyeon perlahan mulai mengerakkan kepalanya, menatap Chanyeol yang ternyata sudah menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata yang tertutup.

Jiyeon menatap Chanyeol dengan pandangan yang sulit untuk di artikan, menatap laki-laki yang tiba-tiba saja hadir di hidupnya dan membuat semuanya lebih berwarna dengan semua ulah menyebalkan laki-laki itu, laki-laki yang bahkan baru 3 hari menemani harinya namun mampu membuat Jiyeon merasa sedikit melupakan masalah hatinya pada Siwon, pada laki-laki yang sudah di sukainya sejak kecil.

Jiyeon tetap diam dan kembali memalingkan wajahnya, terlalu dini jika dia harus menceritakan kisahnya pada Chanyeol dan memilih untuk tetap menyimpannya sendiri, setidaknya untuk saat ini. Jiyeon juga tidak pernah tahu jika Chanyeol sekarang balik menatapnya dengan tatapan dalam penuh kelembutan, tatapan yang baru pertama kali Chanyeol tujukan untuk seseorang. Entahlah Chanyeol juga belum terlalu yakin dengan rasa yang mulai muncul di permukaan hatinya, perasaan aneh sejak laki-laki itu menatap mata bening Jiyeon di halte beberapa hari yang lalu.

Namun yang pasti sekarang Chanyeol merasa sakit saat melihat gadis itu menangis, merasa senang saat melihat gadis itu berada dalam jarak pandangannya, hingga mampu membuatnya melupakan sesaat beban hidup yang di tanggungnya selama ini.

***

Park’s House

Minjung melangkahkan kakinya menuruni tiap anak tangga, senyum anggun sudah mengembang di wajahnya, wajah yang masih terlihat sangat cantik di usia 49 tahun. Tersenyum ke arah laki-laki yang mempunyai garis wajah yang terpahat menyerupai wajah rupawannya, dengan sedikit campuran dari wajah sang suami, membuat laki-laki yang berpredikat sebagai putra pertamanya itu memiliki wajah tampan di atas rata-rata.

“Eomma,— selamat pagi?” ucap laki-laki itu saat Minjung sudah berada di anak tangga terakhir. “Jungsoo-aa eomma sangat merindukan mu,” ucap Minjung seraya merengkuh Jungsoo dalam pelukan hangatnya.

“Semalam eomma sangat lelah, hingga tidak bisa menemui mu,” ucap Minjung dengan tatapan menyesalnya, tangannya mengusap wajah putranya itu dengan lembut.

“Gwenchana,— yang penting pagi ini eomma harus menemaniku sarapan,” ucap Jungsoo dengan tersenyum lalu menggengam tangan sang ibu, berjalan perlahan menuju meja makan yang sudah di kelilingi beberapa pelayan termasuk Kim Sangwon yang kini terlihat sudah membungkuk hormat.

“Selamat pagi Nyonya Park, tuan muda Jungsoo.” Ucap Sangwon saat Jungsoo dan Minjung sudah berdiri di hadapannya, Jungsoo tampak tersenyum ke arah Sangwon dan pelayan lainnya sesaat sebelum menarik satu bangku dan mempersilahkan Minjung untuk duduk.

“Tentu saja sayang, pagi ini eomma akan menemanimu sarapan,—“ Minjung pun mulai menyiapkan roti selai strawberry kesukaan Jungsoo sejak dulu, senyum tak pernah lepas dari bibir Minjung walau itu hanya satu detik, karna sudah 1 minggu lebih Minjung tidak bertatap muka dengan putra tersayangnya itu.

“Hari ini ayah berangkat ke Macau dan baru akan kembali dalam 3 hari kedepan, dan aku— akan kembali ke Milan untuk menyelesaikan pekerjaan ku yang tertunda, karna kepulangan dadakan ku di ulang tahun Chanyeol kemarin,” ucap Jungsoo sambil meminum jus Jeruk yang tersaji di atas meja.

Minjung menghentikan gerakan tangannya mengoles roti, wanita itu memandang Jungsoo dengan kesal. “Bisakah tidak menyebutkan nama bocah itu di hadapan ku?” ucap Minjung dengan nada yang mulai meninggi, Sangwon yang berdiri tepat di seberang Jungsoo tampak memberi perintah tanpa suara ke pada semua pelayan, untuk meninggalkan meja makan dengan segera.

“Eomma,— sampai kapan Eomma akan membenci Chanyeol? Dia tidak tahu apa-apa dengan masalah itu, dia bahkan tidak pernah tahu tentang cerita itu jadi menurut ku tidak sepantasnya jika dia harus menanggung kebencian eomma karna ulah ibunya di masa lalu,”

–PRANG!!

Minjung membanting garpu yang di pegangnya ke lantai, matanya menatap marah Jungsoo yang terlihat terkejut dan menyesal, dengan topic pembicaran yang dia tahu pasti akan selalu menyakiti hati sang ibu.

“Cukup Park Jungsoo! Cukup!!— aku benar-benar tidak mau membahas masalah bocah itu pagi ini, setidaknya tidak dengan mu,” ucap Minjung dengan emosi tertahan, menahan luapan rasa sakit yang kembali naik ke permukaan hatinya.

“Eomma,— Miannata,” Minjung menarik nafasnya, berusaha untuk tersenyum hingga tidak merusak moment kebersamaannya dengan Jungsoo, yang akhir-akhir ini jarang sekali terjadi karna kesibukan putranya itu dalam mengurusi perusahaan keluarga mereka.

“Lanjutkan sarapan mu,” ucap Minjung dengan tersenyum, menyembunyikan perasaan terlukanya di balik tatapan lembutnya saat ini. “Kau harus makan yang banyak Jungsoo-aa, sekarang kau terlihat sangat kurus,—“ ucap Minjung dengan menyajikan roti selai di atas piring Jungsoo.

Jungsoo menatap sang ibu dengan lembut, dia tahu pasti jika saat ini sang ibu sedang menahan semua emosinya ke tingkat paling rendah, tahu pasti jika hingga saat ini sang ibu masih merasa sangat terluka dengan kejadian yang dulu sempat membuatnya membenci sang ayah. Namun dengan berjalannya waktu apalagi saat Jungsoo melihat, jika sang ayah benar-benar menyesal dengan perbuatannya itu, pada akhirnya Jungsoo memaafkannya dan menerima kembali sang ayah. Sedangkan Chanyeol? ya sejak dulu Jungsoo tidak pernah bisa membenci adik semata wayangnya itu, karna Jungsoo terlalu menyayangi Chanyeol melebihi nyawanya sendiri.

“Eomma— Sarangeo,” ucap Jungsoo dengan suara pelannya, membuat Minjung tersenyum lalu mengusap wajah putranya itu dengan kedua tangannya. “Eomma do Sarangae—,” Minjung kembali tersenyum, wanita itu pun mulai menuangkan Yogurt ke dalam mangkuk yang berisi potongan buah  strawberry dan kiwi yang menjadi kesukaannya.

“Eomma,— berjanjilah untuk selalu tersenyum seperti saat ini,” ucap Jungsoo lagi dengan tersenyum dan Minjung pun menganggukkan kepalanya pelan.

Jungsoo mulai menyantap sarapannya, kembali menatap ibunya yang masih tersenyum itu dengan senyum kelegaan dan berharap jika senyum itu tidak akan pernah hilang lagi dari wajah sang ibu. Senyum yang dulu selalu dapat di lihatnya di wajah sang ibu sebelum cerita kelam itu terunggap, hingga mengubah sang ibu menjadi seorang wanita temperamental, yang nyaris di rawat di rumah sakit jiwa karna depresi hebat yang di alami oleh sang ibu 5 tahun yang lalu.

***

Next’s Day

YeomKwang High School

Jiyeon berjalan cepat menuju perpustakaan di mana Jihyun menunggunya, gadis itu terlihat melirik keadaan sekitar melalui ujung ekor matanya, memastikan jika tidak ada teman-teman Chanyeol yang mengikutinya. Sejak kemarin gadis itu selalu menghindar dari Chanyeol yang tiba-tiba membuat peraturan untuk mereka berdua, peraturan yang mau tidak mau harus di patuhi oleh Jiyeon dan memutuskan secara sepihak hingga membuat Jiyeon kembali murka pada laki-laki menyebalkan itu.

Mulai kemarin mereka berdua harus selalu datang dan pulang bersama, makan siang bersama dan melakukan kegiatan apapun bersama, membuat Jiyeon benar-benar putus asa dengan itu. Dan beberapa saat yang lalu Chanyeol baru saja mengirim pesan, agar Jiyeon menemui laki-laki itu di gedung seni, membuat Jiyeon dengan segera berlari mencari Jihyun untuk menolongnya, karna Chanyeol hanya akan menerima penolakan jika Jiyeon menjadikan Jihyun sebagai alasan. Salah satu point yang sudah Chanyeol sepakati, saat Jiyeon bersikeras jika dia tidak pernah bisa menolak ajakan sahabatnya itu.

“Jihyun-aa,” ucap Jiyeon saat baru saja masuk ke dalam gedung perpustakaan, membuat seorang gadis cantik berkacamata yang duduk di bangku yang ada di sudut perpustakaan itu, melambaikan tangannya ke arah Jiyeon.

“Kenapa berubah pikiran untuk menemani ku ke perpustakaan?” tanya Jihyun sambil mengerakkan jarinya menelusuri judul buku, yang tertata rapi di rak tinggi yang ada di perpustakaan.

Sesekali gadis itu melirik Jiyeon yang berdiri di sampingnya, sedikit binggung dengan sahabatnya itu yang tiba-tiba saja berubah pikiran, memutuskan menemaninya mencari buku diktat matematika untuk menyelesaikan hukuman dari Kyuhyun Seonsaengnim, yang tak berperasaan itu karna Jihyun lagi-lagi mendapatkan nilai 8 di ujian matematika kemarin. Padahal sebelumnya Jiyeon menolak mentah-mentah ajakan gadis itu untuk ke perpustakaan dan lebih memilih bergabung dengan teman-teman mereka yang lain, untuk membahas tentang siswa baru yang menurut gosib di kalangan siswi yang hobi bergosib memiliki wajah yang sangat mengemaskan.

“Karna aku sahabat mu Jihyun-aa dan karna aku juga ingin menertawakan mu karna kau mendapat hukuman dari sang Demon,—“ ucap Jiyeon seraya mengerakkan jari-jarinya layaknya seorang penyihir jahat di cerita Snow White, yang dulu sering di tontonnya bersama JungAhjumma di iringi kekehan menyebalkan khas seorang nenek sihir.

“Aish! Yak ! benar-benar,” ucap Jihyun sambil memukul pelan bahu Jiyeon yang masih terkekeh itu, dengan buku diktat matematika berisi 1.000 halaman yang baru saja di tariknya dari rak buku di hadapannya.

Jihyun membalikkan tubuhnya mengabaikan Jiyeon yang mengomel, karna rasa sakit yang di akibatkan pukulannya barusan. Gadis itu kembali duduk di bangkunya, memulai membuka lembaran buku dan terlihat serius menyelesaikan sebuah rumus matematika yang sangat rumit.

“Jihyun-aa,” ucap Jiyeon saat baru saja duduk di hadapan sabahatnya, yang masih menatap buku dictat dengan sangat lekat. “Kau tenang saja, aku akan membantu mu menyelesaikan hukuman mu dan membuat Demon itu berdecak kagum pada mu,” Jihyun menghentikan gerakan menulisnya, menatap Jiyeon yang sudah tersenyum itu seraya membenarkan tata letak kacamatanya.

“Sejak kapan kau memanggil Kyuhyun Seonsaengnim dengan panggilan mengerikan itu?” tanya Jihyun pelan. “Sejak dia memberi ku hukuman yang berlebihan tempo hari, hingga aku harus pulang telat dan pada akhirnya aku bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu untuk pertama kalinya,” ucap Jiyeon dengan raut wajah kesal yang tiba-tiba sudah terlihat, di wajah cantiknya saat ini.

“Nugu?” tanya Jihyun dengan sedikit berfikir. “Maksud mu,— Park Chanyeol ku yang tampan itu?” Jiyeon mengangguk malas.

“Eoh! pangeran impian yang selalu kau puja-puja itu,” ucap Jiyeon lagi sambil memutar mata beningnya tanpa minat, membuat Jihyun tertawa pelan seketika.

“Berarti kau harus berterima kasih pada Kyuhyun Seonsaengnim, karna berkat dia kau sekarang punya kekasih Jiyeon-aa,” ucap Jihyun di sela-sela tawa tertahannya. “Dan berhentilah memanggil Kyuhyun Seonsaengnim dengan sebutan Demon, karna dia jauh lebih tampan dari itu,” ucap Jihyun lalu kembali menatap dictat di hadapannya.

Jiyeon hanya mengembuskan nafasnya kesal, gadis itu mulai merasa menyesal karna sudah menemani sahabatnya ini, jika saja gadis itu tidak ingin menghindar dari Chanyeol dia pasti tidak akan ada di perpustakaan dan tetap bergosib dengan teman-temannya membahas kelas yang akan di tempati oleh siswa baru.

“Jiyeon-aa kau berhutang sesuatu pada ku,” ucap Jihyun sesaat sebelum kembali menatap Jiyeon yang terlihat sudah mengerutkan dahinya binggung. “Kau belum bercerita masalah apa yang terjadi di antara kau dan Chanyeol, hingga membuat mu menangis kemarin.”

“Nde?” tanya Jiyeon sedikit terkejut. “Kemarin kau bilang mata mu bengkak karna kau bertengkar dengan Chanyeol, memangnya apa yang kalian ributkan?” tanya Jihyun dengan suara pelannya, membuat Jiyeon terlihat sedikit tergagap.

“Eoh! Itu— tidak ada,” ucap Jiyeon dengan mengerakkan matanya gusar, membuat Jihyun memajukan bibirnya. “Apa dia menyakiti mu?” tanya Jihyun lagi dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, namun Jiyeon hanya menggelang pelan.

Jihyun menarik nafasnya pelan. “Jika dia sampai menyakiti mu, maka aku tidak akan tinggal diam!” ucap Jihyun dengan penuh semangat, membuat Jiyeon tersenyum kecil.

“Hey! Aku serius,— aku pasti akan membuat perhitungan dengannya, karna aku tidak akan membiarkan laki-laki manapun menyakiti sahabat ku.” Kini Jihyun sudah tersenyum lebar membuat Jiyeon terdiam untuk beberapa saat.

“Jinjjayo? Ah!— kau benar-benar sahabat sejati ku,” ucap Jiyeon lalu ikut tersenyum tangan gadis itu terulur mengapai tangan Jihyun yang juga sudah terulur, saling mengenggam lalu tertawa pelan bersama.

“Jadi— ayolah ceritakan pada ku, aku ini kan sahabat mu lagi pula selama ini aku selalu menceritakan semua masalah ku dengan Siwon oppa, sekarang giliran mu menceritakan masalah mu dengan pangeran tampan ku itu,” ucap Jihyun lagi dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Jiyeon.

Jiyeon terdiam lalu sedikit menunduk, memainkan jemarinya dengan gusar sebelum akhirnya menjawab. “Hanya masalah kecil dan tidak terlalu penting, aku— aku saja yang berlebihan,” ucap Jiyeon lagi dengan memaksakan sebuah senyuman.

Jihyun menarik nafasnya pelan dan mengangguk mengerti. “Arraseo jika kau tidak mau menceritakannya,—“ ucap Jihyun pada akhirnya. “—- dan sekarang sepertinya aku akan menerima tawaran mu untuk membantu ku, menyelesaikan rumus menyebalkan ini,” ucap Jihyun seraya menyodorkan dictat tebal itu pada Jiyeon yang terlihat sudah mengangguk antusias.

***

Jiyeon’s Class

Jiyeon tertegun saat mata bening crystalnya menatap lurus ke depan, ke arah seorang laki-laki berambut hitam dengan pipi chubi nya hingga membuat wajah laki-laki itu terlihat imut dan sangat mengemaskan, berdiri di sebelah guru sastra mereka Kim Jongwoon. Seorang laki-laki dengan gigi kelinci yang terlihat saat laki-laki itu tersenyum, sesaat setelah memperkenalkan dirinya di depan kelas, laki-laki pindahan dari Republic China yang baru saja menjadi siswa baru di YeomKwang High School dan sempat menjadi topic hangat di kalangan siswi pagi ini.

“Baiklah semoga kalian semua bisa bersikap baik, hingga membuat teman baru kalian betah berada di kelas ini.” Ucap Jongwoon seraya menepuk pelan pundak siswa baru yang masih tersenyum manis itu, membuat beberapa siswi termasuk Jiyeon semakin terpesona.

“Kau duduk di bangku kosong yang ada di belakang Jiyeon dan Jihyun,” ucap Jongwoon dengan tersenyum, siswa baru itu menunduk hormat lalu mulai berjalan pelan menuju bangku yang di tujukan untuk dirinya.

Jihyun terlihat menyikut lengan Jiyeon, saat gadis cantik itu melihat Jiyeon memutar tubuhnya dengan tersenyum yang terlihat berlebihan, saat siswa baru itu melewati mereka sesaat sebelum duduk di bangkunya.

“Yak! Jiyeon-aa hentikan senyuman bodoh mu itu?” ucap Jihyun geram, saat Jiyeon tetap di posisinya dan sama sekali tidak memperdulikan dirinya.

“Annyeong,—“ sapa Jiyeon sambil melambaikan tangannnya, tak lupa dengan senyum berlebihan yang masih menghiasi wajah cantiknya. “Aku Jiyeon,— Song Jiyeon dan ini,—“ Jiyeon memutar bahu Jihyun hingga sahabatnya itu menghadap ke belakang. “— ini Lee Jihyun sahabat ku,”

Siswa baru itu kembali tersenyum, senyum yang terlihat ramah dan hangat, senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya yang membuat wajah laki-laki itu terlihat tampan dan lucu dalam waktu yang bersamaan, dan sungguh membuat Jiyeon lagi-lagi di buat terpesona.

“Aku Xiumin,— senang bisa berkenalan dengan kalian berdua,” ucap laki-laki itu dengan sedikit menundukkan kepalanya, Jiyeon terlihat mengangguk berulang-ulang sedangkan Jihyun terlihat sudah memutar bolamatanya dengan malas.

***

Jiyeon terlihat tersenyum saat dirinya berjalan pelan di samping Chanyeol menuju mobil Chanyeol yang terparkir di halaman sekolah, gadis itu bahkan sudah tersenyum tak jelas sejak Chanyeol menjemputnya ke kelas gadis itu untuk pulang bersama beberapa saat yang lalu. Sedari tadi gadis itu hanya memainkan syal biru yang melilit dengan manis di lehernya, mengeratkan coatyang di kenakannya sambil mengigit jari telunjuknya, bahkan gadis itu selalu tersenyum saat Chanyeol menanyakan sesuatu padanya.

Chanyeol menatap Jiyeon dengan binggung, gadis itu bahkan tidak memarahinya saat dia menarik narik ujung rabut gadis itu sedari tadi, membuat Chanyeol melirik Jihyun yang juga berjalan di samping kekasihnya itu, menatap gadis berkacamata itu dengan tatapan butuh penjelasan.

“Eoh! Dia?” ucap Jihyun dengan suara pelannya seraya menunjuk Jiyeon, saat mengerti dengan tatapan Chanyeol pada dirinya saat ini.

Chanyeol mengangguk dan dengan cepat Jihyun berjalan memutar hingga berada di samping Chanyeol. Jihyun menarik syal merah yang kenakan laki-laki itu, hingga membuat Chanyeol sedikit menunduk.

“Sepertinya dia sedang terkena sindrom terpesona berlebihan, pada siswa baru di kelas kami.” Ucap Jihyun dengan suara pelannya, membuat Chanyeol membulatkan matanya seketika.

“Apa kau bilang?” ucap Chanyeol dan serta merta menghentikan langkahnya, membiarkan Jiyeon yang tidak menyadari jika dia dan Jihyun berhenti, berjalan sendirian menuju mobilnya yang terparkir di depan sana.

“Jadi,— dia menyukai siswa baru dari China itu dan berniat untuk berselingkuh?” tanya Chanyeol tidak percaya, raut wajah laki-laki itu terlihat marah dan panic dalam waktu yang bersamaan.

“Anio,—“ jawab Jihyun dengan cepat denga mengibaskan tangannya di depan wajah Chanyeol.” Ani— bukan seperti itu, dia hanya— hanya mengagumi seperti aku yang— mengagumi mu,” ucap Jihyun sambil tersenyum malu-malu.

Chanyeol mengacak rambutnya, menatap Jiyeon yang sudah ada beberapa langkah di depannya dengan mengerang tertahan. “Arraseo aku akan menayakannya langsung pada Jiyeon,— dan baiklah aku dan Jiyeon pulang duluan, annyeong Jihyun-aa,” ucap Chanyeol lalu menyusul Jiyeon dengan langkah cepatnya, membiarkan Jihyun berjalan sendiri menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya kini.

Chanyeol menghembuskan nafas dinginnya saat dia sudah berdiri di samping Jiyeon, gadis itu  kini juga sudah menghentikan langkahnya sesaat setelah Chanyeol menyentuh bahunya. Laki-laki itu terlihat semakin kesal saat di lihatnya Jiyeon yang masih tersenyum, dengan tatapan lurus ke depan tanpa menatapnya sedikit pun, menatap seorang laki-laki yang membuat Jiyeon menjadi aneh hari ini, laki-laki bernama Xiumin yang berdiri diam tak jauh dari mobil Chanyeol terparkir.

“YAK! Song Jiyeon apa kau benar-benar berniat untuk berselingkuh dari ku?” teriak Chanyeol dengan keras, seraya memutar bahu Jiyeon hingga menghadap ke arahnya.

“Mwo?” ucap Jiyeon terkejut, gadis itu mendonggak dan menatap Chanyeol yang terlihat marah itu dengan hanya mengerjabkan matanya, membuat Chanyeol mengerang tertahan.

“Jangan pura-pura tidak mendengar ku, Song Jiyeon!” ucap Chanyeol masih dengan nada marahnya. “Aish! apa maksud mu? Memangnya siapa yang berselingkuh?” ucap Jiyeon yang terlihat binggung dengan pertanyaan Chanyeol, pertanyaan yang terdengar konyol di telinga gadis itu.

“Jangan berlagak tidak tahu, aku tahu— bahkan aku tahu semuanya,” ucap Chanyeol masih dengan raut wajah kesalnya. “Kau menyukai siswa baru itu kan? Dan berniat berselingkuh dari ku, Ayo mengaku!” ucap Chanyeol seraya menunjuk laki-laki yang bahkan masih berada di posisinya.

“Mwo?” seketika itu juga Jiyeon tertawa dengan keras, membuat Chanyeol semakin kesal lalu melepaskan cengkaramannya di bahu gadis itu. “Maksud mu aku berselingkuh dengan Xiumin begitu? yak ampun,— Park Chanyeol jangan bilang kalau kau sedang cemburu dengan Xiumin?” ucap Jiyeon di sela-sela tawanya.

Chanyeol membulatkan matanya, mulut laki-laki itu bahkan sudah terbuka lebar dan dengan cepat laki-laki itu mengelengkan kepalanya. “Cih! Siapa yang cemburu,” jawab Chanyeol dengan gugup saat Jiyeon menatapnya dengan kembali tertawa.

Namun sayang expresi gugup dan wajah yang sedikit memerah itu tertangkap oleh mata bening Jiyeon, membuat gadis itu memutuskan untuk tidak menyiayiakan kesempatan ini, kesempatan untuk menggoda laki-laki yang selama ini membuat gadis itu selalu merasa kesal.

“Aigoo wajah mu memerah tuan muda Park Chanyeol, ah! Lucu sekali,—“ ucap Jiyeon dengan kekehan kecilnya, membuat laki-laki itu mengerang kesal. “Apa kau akan berexpresi bodoh seperti ini, tiap kali kau merasa cemburu dengan kekasih mu, eoh?” ucap Jiyeon masih dengan tertawa pelan, tangannya terulur ingin menyentuh wajah merona Chanyeol, tapi dengan cepat laki-laki menepis tangan Jiyeon yang ingin menyentuhnya.

Jiyeon terlihat semakin tertawa dengan senang dan terus menggoda Chanyeol yang semakin kesal, membuat mereka berdua tidak menyadari tatapan Lee Sungmin yang berdiri tepat di depan mobil mewah milik Chanyeol. Menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan handphone yang masih menempel di telinganya, laki-laki itu pun terlihat tersenyum dingin lalu memutar pandangannya sesaat setelah suara di seberang sana kembali terdengar.

“Lakukan tugas mu dengan baik, dan sebagai hadiah untuk pengabdian mu selama ini aku memberi sedikit kejutan untuk mu,—“ Sungmin terlihat terpaku dengan mata yang sedikit membulat, menatap seorang laki-laki yang di kenalnya sudah berdiri tepat di seberangnya.

Sungmin masih dapat melihat dengan jelas laki-laki yang berada di antara, siswa siswi yang berlalu lalang di sekitar laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan memiliki tinggi badan sama seperti dirinya, memiliki tektur gigi yang juga sama dengan dirinya, memiliki garis wajah dan senyum imut persis seperti dirinya, bahkan laki-laki itu juga menguasi Material art seperti yang di kuasainya.

“Ne saya mengerti Nyonya saya pastikan jika saya tidak akan mengecewakan anda, dan— terima kasih untuk kejutannya,” ucap Sungmin seraya memutuskan sambungan telephone.

Sungmin menatap laki-laki yang masih menatapnya itu dengan tersenyum, perlahan laki-laki itu terlihat sedikit menundukkan kepalanya ke arah Sungmin dengan senyum kecil yang yang sudah terbentuk di wajah tampannya. Sungmin melebarkan senyumannya mengerakkan bibirnya, guna mengucapkan beberapa kata tanpa suara yang di tujukan untuk laki-laki, yang masih setia berdiri dengan diam di depan sana.

“Welcome back to Korea my Little Dongsaeng,— Lee Xiumin!”

 

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

5 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [4/9]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s