[5 of 6] Messed Up

messed up - tsukiyamarisa

a special movie written by tsukiyamarisa

starring [BTS] Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Namjoon, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook duration Chaptered genre AU, Life, Friendship, slight!Angst, Dark, and Psychology rating 17 loosely based on Run MV and HYYH Prologue

previous part

warning I still won’t locked this post; but please, either leave some respectful review, or just don’t read this story at all. This chapter will contain some explicit scene(s), so unless you’re comfortable with it, do not read.

[!] and please read the author’s note at the end of the story

.


Messed Up

But what is a friendship?

Something that collide with us, or something that stay with us during collision?


.

#5: …and What’s Left Behind

.

.

.

“Untuk berjaga-jaga, akan lebih baik jika kita berpencar, bukan?”

Itu adalah saran dari Namjoon, yang lekas disetujui sebelum mereka berangkat tadi. Tak ada yang berniat membantah, pun bisa memikirkan rencana yang lebih baik. Lagi pula, mengingat kebiasaan Taehyung yang terkadang suka kabur dan menyendiri saat sedang kalut, akan lebih mudah jika mereka membagi diri untuk mengunjungi tempat-tempat favorit kawan mereka itu. Namjoon untuk stasiun tua tempat mereka pernah bermalam; Jungkook dan Jimin yang akan pergi ke kedai makan favorit mereka serta lapangan tempat ketujuhnya sering berkumpul; serta Yoongi dan Hoseok yang….

“Aku tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi bukankah ayah Taehyung membunuh istrinya sendiri di rumah itu?”

…sedang dalam perjalanan menuju rumah milik keluarga Kim.

Mengernyitkan kening adalah hal pertama yang Yoongi lakukan, tatap teralih pada Jung Hoseok yang sedang memain-mainkan jemarinya. Menggerakkannya dengan gelisah, saling menautkannya, kemudian beralih untuk menghela napas dalam-dalam seraya membiarkan kedua tangannya berayun di sisi badan. Terus seperti itu, seolah-olah dengan demikian, kecemasannya dapat menguap begitu saja.

Namun, Yoongi tahu lebih daripada itu.

Yeah. Tapi….” Yoongi menjawab lamat-lamat, melirik Hoseok yang sudah kembali terfokus pada jemarinya. “…bukan itu yang membuatmu cemas kan, Hoseok-a?”

“Aku—“

“Ada sesuatu yang lain, bukan?” desak Yoongi. “Sesuatu yang malam itu seharusnya kauceritakan padaku, pada kami semua. Dan aku…” Yoongi mengambil jeda sejenak, lantas mengumpat lirih kala ia tersadar. “Shit, aku lupa. Seharusnya aku juga meminta maaf padamu lebih dulu karena telah—“

“Permintaan maaf diterima,” balas Hoseok tanpa menunggu Yoongi selesai, sekonyong-konyong menjungkitkan sudut-sudut bibirnya. “Tampaknya kau sudah mengucap ‘maaf’ berulang kali, Hyung. Aku paham sekarang, jadi aku memaafkanmu.”

“Hoseok-a….”

Hoseok hanya mengedikkan bahunya, memusatkan atensi pada jalanan yang ada di depan mata. Rumah Taehyung terletak di pinggiran kota, pada tempat yang tak lagi dipenuhi gedung-gedung menjulang ataupun ingar-bingar keramaian toko. Jalan yang menuju ke sana bahkan dipagari oleh petak-petak lapang kosong—beberapa dipenuhi tanaman liar, sementara yang lain dijadikan tempat bermain. Singkat kata, tempat itu adalah jenis tempat yang menenteramkan. Atau seharusnya menenteramkan, lantaran menurut Taehyung, ia tak pernah bisa menganggap tempat di mana ayahnya sering melakukan kekerasan itu sebagai sebuah rumah.

Begitu pula halnya dengan Hoseok, yang tak bisa menganggap tempat itu menenteramkan seraya ia dan Yoongi berjalan bersisian.

Setelah segala yang terjadi pada mereka, kecemasan dan kepura-puraan agaknya mulai menjadi kawan baik Hoseok yang lain. Melekat erat, memberitahunya pada tiap detik bahwa dunia ini tidak dan tidak akan pernah baik-baik saja. Pikiran-pikiran macam itu tidaklah asing baginya; dan kali ini, sembari dirinya berjalan menuju rumah sang sahabat, pemikiran itu kembali datang bersua. Praktis mengambil alih segala ruang di dalam pikirannya, membuatnya tersandung dan nyaris saja jatuh mencium tanah jikalau Yoongi tidak cepat-cepat mengulurkan tangan untuk memegangi lengannya.

“Kau oke?”

Sebuah upaya untuk mengangguk, yang lekas diikuti gelengan sepersekian sekon berikutnya. Meluruskan tubuh, Hoseok menarik napas dalam-dalam sambil memasukkan sebelah tangan ke dalam saku jaket yang ia kenakan. Merasakan botol kecil berisi pil-pil dengan selongsong putih-hijau muda—Prozac—di dalamnya, kemudian menggerakkan tangannya untuk menggenggam botol itu. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak menariknya keluar, untuk tidak menelan satu buah pil lagi demi meredakan kecemasannya. Alih-alih, Hoseok memilih untuk mengeraskan rahang dan memandang Yoongi. Melihat bagaimana temannya itu menjungkitkan alis, menunggu sampai Hoseok mau berkata-kata.

Hyung?”

“Ya?”

Melepaskan cengkeramannya pada botol berisi Prozac itu, Hoseok menarik tangannya dari dalam saku. Bagaimanapun juga, ia memang pernah memiliki niat untuk bercerita pada sahabat-sahabatnya. Dan lagi, Hoseok tahu kalau kehadiran Yoongi saat ini lebih dari cukup. Kawannya yang satu ini boleh saja berlidah tajam, tapi ia akan mendengarkan. Ia akan mendengar tanpa menghakimi, ia akan mengulurkan tangannya untuk membantu Hoseok. Sederhana saja; Yoongi bisa dipercaya dan Hoseok sudah tidak bisa menyimpan semua cerita di dalam benaknya lagi.

“Yoongi Hyung, kautahu….”

“Hm?”

Anxiety disorder. Bagaimana jika aku bilang bahwa aku mengidap penyakit itu?”

Keduanya bertukar tatap sejenak; Hoseok dengan sorot serius, sementara Yoongi sedikit melebarkan pupilnya. Namun, khas seorang Min Yoongi, keterkejutannya itu tak bertahan lama. Sang lelaki hanya bergerak untuk menepuk punggung Hoseok, sebuah tepukan penuh rasa hangat sembari bibirnya merangkai kata, “Aku percaya, tentu saja. Apa ada alasan bagimu untuk berbohong atau mengada-ada demi meminta simpati?”

Eum—

“Itukah masalahmu, Hoseok-a? Yang ingin kaubagi pada kami malam itu?”

Hoseok mengiakan, tanpa ragu membenarkan pertanyaan Yoongi sebelum melanjutkan, “Sudah beberapa lama, sebenarnya. Mungkin bahkan sejak sebelum kita pergi berlibur bersama, tetapi bertambah parah sejak… yah, kautahu sendiri.”

“Seperti segala hal tak pernah berlangsung baik bagi kita, benar begitu?” balas Yoongi, teringat akan bagaimana dirinya juga terlibat dalam berbagai macam masalah. “Aku tidak yakin pernah merasakan apa yang saat ini kaurasakan, tapi yang pasti, aku tahu rasanya berada di ambang kegilaan.”

“Ah, maksudmu penyebab kau dan Jungkook berkelahi?”

Mendengar cara Hoseok menyebut perkara itu, mau tak mau Yoongi pun meringis. “Kurang lebih, yeah. Kupikir aku akan baik-baik saja, tetapi berpura-pura rupanya tak menyelesaikan apa pun.”

“Sama denganku,” timpal Hoseok tanpa jeda, kali ini memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku pun begitu, mengira kalau diriku bisa saja berakhir gila setiap harinya. Kecemasan selalu datang tanpa diundang, bahkan pada saat aku sudah bertekad untuk merasa bahagia. Lalu, setelah ia tiba, pikiran-pikiran tak rasional akan muncul setelahnya. Seakan mengejekku, mengatakan kalau aku tak bisa apa-apa, dan menghancurkan harapanku begitu saja. Sekarang pun….”

“Kau tidak apa-apa, kan?”

“Aku baik-baik saja.” Hoseok memaksakan senyum lemah. “Aku hanya… entahlah, aku terus-menerus memikirkan yang terburuk, Hyung. Bagaimana jika Taehyung—“

“Hei, hei, firasat itu belum tentu benar, bukan? Bukankah sebagian besar hal buruk yang kita pikirkan biasanya malah tidak terjadi?” Yoongi buru-buru berucap, berusaha menenangkan Hoseok. “Kita akan berusaha menemukan Taehyung, dan semuanya—“

“Semuanya akan baik-baik saja?”

Yoongi tadinya memang akan mengucapkan kalimat itu, namun entah mengapa bibirnya kini terbungkam rapat. Sorot mata Hoseok yang penuh permohonan, penuh harapan untuk mendengar susunan kata-kata tersebut, sukses membuatnya enggan melanjutkan. Ditambah lagi, Yoongi tidak mau mengumbar janji yang belum tentu bisa ia tepati. Memang siapa ia, bisa menjamin bahwa Taehyung ada di dalam rumahnya dan dalam keadaan baik-baik saja? Yoongi mungkin memang tidak mengidap anxiety disorder, tapi bukan berarti sifat pesimisnya tidak bisa muncul pada saat-saat seperti ini.

“Maaf, Hoseok-a. Tapi kautahu kan, kalau kita semua pasti akan berusaha?”

Jawaban itu pastinya tak memuaskan, namun Hoseok sendiri tahu bahwa ia tak bisa meminta lebih. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sekarang adalah bergantung pada sekelumit kerasionalan di benaknya, bagian kecil yang masih tersisa agar ia dapat mempertahankan kewarasannya. Karena, terlepas dari semua perkara buruk yang melintas di dalam otaknya kini, Hoseok masih berharap agar semua itu tak menjadi nyata. Agar mereka semua bisa bahagia, agar di penghujung hari nanti hanya senyumlah yang bertahan di lengkung bibirnya dan kawan-kawannya.

Maka, meskipun sedikit terlambat, Hoseok pun memutuskan untuk mengangguk demi membalas pertanyaan Yoongi tadi. Mulut sedikit terbuka untuk menyuarakan pemahamannya, tetapi langsung tertutup lagi kala ia melihat temannya sedang membaca pesan di ponsel dengan ekspresi wajah serius.

Hyung?”

“Jimin berkata kalau ia dan Jungkook tidak menemukan Taehyung.” Yoongi berkemam lirih, tangan menggenggam ponsel erat-erat. “Namjoon juga sama, dan mereka bertiga sudah berada di bus yang menuju kemari untuk menyusul kita.”

“Kalau begitu—“

“Kita harus cepat-cepat mengecek rumah itu,” balas Yoongi, kepala dikedikkan ke arah deretan rumah yang ada di kiri jalan. Tujuan mereka sudah tampak; sebuah rumah sederhana bertingkat satu yang dicat putih, kusam akibat melawan waktu. Di bagian depannya, terdapat halaman berumput yang cukup luas dan sebuah pohon yang daunnya mulai menguning. Pertanda bahwa musim gugur sudah tiba, mendatangkan embusan udara dingin yang membuat hati merasa sepi dan sendiri.

Tanpa perlu membuang waktu, keduanya melangkah semakin dekat hingga berhenti di depan pagar. Memandangi catnya yang mulai mengelupas, juga rangka besi yang tampak berkarat di beberapa tempat. Tak ada yang bersuara, lantaran baik Yoongi maupun Hoseok baru saja menyadari bahwa pintu pagar itu tak terkunci dan sedikit terbuka.

Mengulurkan tangan, Hoseok-lah yang pertama mendorong pagar setinggi pinggang itu hingga terbuka. Timbulkan bunyi berderit yang ditingkahi kersak dedaunan, lantaran dirinya langsung menggerakkan tungkai di sepanjang halaman.

“Menurutmu ia ada di sini?”

Berhenti di depan pintu adalah hal yang Hoseok lakukan kini, kepala tertoleh untuk memandangi Yoongi yang berada tepat di belakangnya. Rasa ragu dan takut kembali datang menyelimutinya, menghalangi Hoseok untuk segera memencet bel atau mencoba membuka pintu. Seakan apa yang akan ditemuinya di dalam sana adalah sesuatu yang mengerikan, dan semua tahu bahwa Jung Hoseok amat benci dengan hal-hal macam itu.

“Kita tidak akan tahu sampai masuk, kan?” Yoongi membalas dengan retoris, praktis membuat Hoseok mendengus pelan sebagai tanggapan. “Maksudku, ini antara Taehyung ada di dalam sana atau tidak. Jadi….”

“Jadi?”

“Kita harus segera menemukannya.”

Hanya itu tanggapan Yoongi, seraya dirinya tanpa ragu menggenggam kenop. Memutarnya perlahan, napas tertahan tatkala ia sadar bahwa pintu itu—sama seperti pagar depan—tak terkunci. Membuat Yoongi lagi-lagi percaya jikalau harapan masih ada; dan semuanya akan bisa terselesaikan seperti apa kata Seokjin di dalam mimpinya.

Karena, yang perlu mereka lakukan sekarang hanyalah melangkah masuk dan mencarinya, bukan?

.

-o-

.

Satu langkah, dua langkah.

Lima langkah melewati lorong depan, kemudian berhenti ketika keduanya dihadapkan dengan ruang tengah yang terlihat berantakan.

Hoseok dan Yoongi bertukar pandang, tanpa kata setuju untuk berpencar dan mempercepat proses pencarian. Toh, mereka juga sudah pernah bertandang ke rumah ini sebelumnya. Dulu sekali, ketika mereka bertujuh masihlah remaja berusia belasan tahun. Saat itu adalah liburan setelah ujian akhir semester, dan ketujuhnya sepakat untuk menonton film bersama. Rumah Taehyung dipilih lantaran ayah dan ibunya sedang pergi ke luar kota, sehingga mereka bisa dengan bebas begadang semalam suntuk.

Yoongi ingat, bagaimana dirinya yang berumur lima belas tahun datang ke sini dengan kantung plastik berisi camilan di tangan. Segerombolan anak-anak yang belum mengenal apa itu alkohol, rokok, ataupun kaleng-kaleng pylox. Bersenang-senang di mata mereka cukuplah seperti ini, tanpa perlu memedulikan bagaimana dunia di luar sana lantaran segalanya masih berjalan lancar.

Well, kalau mau jujur, ia merindukan masa-masa itu.

Masa ketika menjadi muda itu membosankan, ketika mereka sama-sama berharap untuk lekas tumbuh dewasa. Berpikir bahwa menginjak umur dua puluhan adalah sesuatu yang tidak disertai oleh tanggung jawab, bahwa hanya kesenanganlah yang akan datang setelahnya. Oh, betapa naifnya mereka saat itu, mengira jika—di samping umur yang berubah—segala hal lainnya tidak akan berubah.

Tapi, tak ada yang konstan di dunia ini, bukan?

Harapan mereka itu terkabul dengan cepat—mungkin malah terlalu cepat. Diikuti dengan serangkaian perubahan lainnya; hal-hal yang dulu tak pernah mereka bayangkan bisa terjadi. Memasuki masa SMA dan kuliah dengan segudang kesibukan hanyalah pemicu awal, sesuatu yang menyebabkan ketujuhnya menjadi sedikit renggang lantaran tak ada waktu untuk bertemu. Namun, itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan serangkaian perkara yang mengikuti.

Bagi Yoongi, satu-satunya masalah yang ia miliki adalah masa depannya. Ia sudah menolak untuk pergi berkuliah, melalui pertengkaran dengan orangtuanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup mandiri selepas SMA. Suatu keputusan yang—Yoongi pikir—telah membuat hidupnya menjadi berantakan, sampai ia mengetahui masalah kawan-kawannya dan mulai bertanya-tanya: apakah ini jawaban atas permohonan mereka di masa lalu?

Karena, begitu tiba-tiba dan tak diduga, Taehyung membawa kabar bahwa kantor tempat ayahnya bekerja telah bangkrut. Itu adalah hantaman besar, yang berhasil mengubah sikap sang kepala keluarga Kim. Senyum dan sifat pengasihnya lenyap, digantikan dengan emosi dan tindak kekerasan sebagai pelampiasan.

Mereka bahkan belum sempat menghibur Taehyung saat itu, ketika Namjoon dengan lantang berujar bahwa ia memilih untuk kabur. Menyatakan bahwa ia muak dengan korupsi dan kelicikan orangtuanya, sehingga mereka berdua—Namjoon dan Taehyung—mulai sering berkeliaran hingga larut malam. Keduanya merasa senasib, merasa perlu untuk mencari pelampiasan di tengah kerasnya hidup. Dan sebagai sahabat, apa lagi yang mereka berlima bisa lakukan selain ikut membuat onar demi menunjukkan dukungan?

Oh, sialnya, hidup mereka masih berlanjut.

Memasuki semester awal kuliah, giliran Jimin yang mendatangi Yoongi dan memohon agar mereka bisa tinggal bersama. Sederhana saja, Jimin juga ingin membuktikan bahwa ia bisa. Ia ingin mengikuti jejak Yoongi, tetapi ia terlalu takut menghadapi pertengkaran dengan ayah dan ibunya. Maka, alih-alih berhenti pergi ke kampus, Jimin memilih menjalani keduanya. Menanggung beban untuk menyenangkan hati orangtuanya, serta pada saat yang bersamaan mengejar mimpinya. Bukan hal yang mudah, dan Yoongi tahu betapa seringnya Jimin ingin mengucap kata menyerah.

Lalu, ketika Yoongi pikir bahwa ketiga temannya—Seokjin, Hoseok, dan Jungkook—akan tetap bertahan kuat, ia malah dihadapkan dengan kematian Seokjin. Pun dengan keputusan Jungkook untuk kabur karena sikap ibunya menjadi makin tak tertahankan, serta fakta di balik hilangnya sikap ceria Hoseok yang mulai terungkap. Padahal, Yoongi kira, masalah Jungkook hanyalah sesederhana masalah pertemanan di sekolah. Begitu pula halnya dengan Hoseok, yang ia sangka hanya bersedih karena kematian Seokjin. Namun, ia salah lagi, bukan?

Singkat kata, masalah mereka menjadi semakin parah seiring berjalannya waktu. Seolah dunia sengaja berkonspirasi untuk menghancurkan mereka; seakan “berantakan” saja bukanlah kosakata yang tepat untuk menggambarkan segalanya.

Maka, wajar saja kan, jika Yoongi menjadi pesimis seperti ini? Wajar saja kan, jika ia benci dunia ini? Segala sesuatunya tak pernah berjalan baik—

.

.

Y-Yoongi Hyung!! A-aku… Taehyung….”

.

.

—dan tampaknya, hari ini pun tak menjadi pengecualian baginya.

.

-o-

.

Tatkala panggilan Hoseok itu terdengar, Yoongi sedang membuka pintu yang menuju kamar mandi.

Separuh melamun, sang lelaki tersentak kaget. Kepala lekas tertoleh ke asal suara, seraya lamat-lamat dirinya mencerna makna di balik nada ngeri Hoseok. Tambahkan kondisi rumah yang memang sepi, cukup untuk membuat keringat dingin seketika hadir sementara Yoongi berlari melintasi ruang tengah.

“Hoseok-a?”

H-hyung… di… di sini….”

Hoseok terdengar separuh terisak, dan Yoongi tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa temannya itu berada di kamar tidur Taehyung. Bukan hal yang sulit, lantaran Hoseok sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka. Mengizinkan Yoongi untuk cepat-cepat melangkah masuk, namun segera terpaku saat ia melihat pemandangan yang tersaji di dalamnya.

“T-Tae….”

“A-aku tidak tahu, Hyung. A-aku tidak… aku….”

Yoongi hanya bisa menelan ludah, menyadari bahwa Hoseok sudah duduk meringkuk di sudut ruangan. Kedua telapak tangan menutupi wajah, tubuh gemetaran saat ia harus dihadapkan dengan realita pahit itu sekali lagi. Beberapa bulan yang lalu, melihat Taehyung yang tak sadarkan diri karena hipotermia mungkin terdengar buruk. Tetapi, jika dikomparasikan, Yoongi memilih untuk kembali ke masa lalu dan menghadapinya lagi saja. Berulang kali juga tidak apa-apa, mengingat saat itu, mereka masih punya harapan untuk menyelamatkan Taehyung.

Saat ini, mereka tidak punya harapan.

Karena harapan macam apa yang bisa muncul, jika kedua pupil Yoongi saat ini tengah menatap tubuh Taehyung yang terbaring di samping genangan darahnya sendiri? Harapan apa yang bisa menyelamatkannya, jika garis-garis luka itu telah melintang dalam di setiap urat nadi? Seseorang tolong beritahu Yoongi, karena saat ini ia tak lagi tahu harus berbuat apa. Pikirannya tumpul, kepanikan datang, dan ia hanya mampu berjalan tertatih ke arah ranjang tempat Taehyung berbaring.

“Taehyung-a… k-kenapa….” Yoongi menggertakkan gigi, ingin sekali melontarkan kata “kau tidak bersalah” yang bagai tersangkut di kerongkongannya. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak mampu melakukan itu—tidak ketika kelopak Taehyung tahu-tahu menggeletar lemah seraya si pemuda memaksakan segaris senyum penuh keusilan.

“B-biarkan aku… H-hyung.”

Hanya itu. Hanya tiga untai kata, keluar dari bibir Taehyung sebelum ia kembali memejamkan mata. Sebuah pertanda bahwa keputusannya kali ini telah bulat dan final, bahwa ia tak akan menyesalinya barang sedikit pun. Egois memang, tapi kala Yoongi mengulurkan tangan untuk mencari denyut nadi di pangkal lehernya, ia mendadak tahu jikalau kawannya itu sudah benar-benar menyerah.

Denyutan itu lemah; denyutan itu mengajari Yoongi cara untuk melihat dari perspektif baru.

Denyutan itu memberitahu jika dirinya telah ingkar janji.

Tapi, Seokjin pasti mengerti, bukan?

Ia….

“Seokjin Hyung memaafkanmu,” bisik Yoongi, berharap agar Taehyung masih bisa mendengarnya. “D-dan tolong, sampaikan maafku padanya.”

 …ia pasti bisa memahami pilihan Yoongi.

Melangkah mundur, Yoongi membiarkan tungkainya bergerak sampai ia membentur dinding kamar Taehyung. Tembok kokoh yang kini terasa bagai penopang kehidupan, yang menolongnya saat kedua kaki itu tak lagi mampu menahan beban dunia. Jatuh merosot di sana adalah hal yang tak bisa ia kendalikan, selagi kedua manik bergulir untuk mencari tahu kondisi Hoseok. Temannya itu sudah pasti terguncang, tetapi Yoongi mendapati dirinya tak kuasa untuk membantu. Pikirannya saat ini terlalu campur-aduk, terlalu kacau-balau, dan mungkin terlalu rumit untuk dapat dimaafkan.

Sebut saja ini tak biasa, tapi Yoongi baru saja memahami alasan di balik keinginan Taehyung untuk mati.

Sebut saja ini bodoh, tapi Yoongi memang sengaja membiarkan Taehyung pergi.

Dan sebut saja ia tak punya hati, karena diam-diam Yoongi sudah merelakan Taehyung untuk menyusul Seokjin.

Toh, dunia ini memang tidak sempurna, bukan?

.

-o-

.

Entah berapa lama Yoongi berada di sana, terduduk lemas dengan suara tangis Hoseok yang lirih di latar belakang.

Ia bahkan tak menyadari adanya langkah-langkah kaki yang lain, diikuti kepanikan yang merambat seperti api di hutan, teriakan-teriakan yang membuatnya merasa pilu, serta guncangan keras pada tubuhnya. Yoongi pikir ia sudah mati rasa, tapi nyatanya, tarikan Namjoon pada kerah kausnya cukup untuk membuat ia berjengit dan mendongak. Lengkap dengan tatap datar, selagi Namjoon berusaha menahan emosinya yang nyaris menyeruak keluar.

“Apa kalian terlambat?” Namjoon bertanya dengan nada rendah, memaksa Yoongi untuk bangkit berdiri. “T-Taehyung… ia baru saja melakukannya, bukan? A-aku….”

Yoongi hanya diam, sama sekali tak membantu Namjoon yang tengah kesusahan berkata-kata.

“Yoongi Hyung.”

Masih tidak ada jawaban.

Hyung, jelaskan padaku.”

Kali ini, Yoongi memilih untuk memalingkan wajahnya. Sontak membuat Namjoon mengeluarkan geraman tanda kesal, tanpa basa-basi mengempaskan genggamannya pada pakaian Yoongi. Diikuti dengan dorongan keras, selagi ia kembali menghantamkan sang kawan pada tembok kamar Taehyung.

“T-tubuhnya masih cukup hangat, dammit!!” Namjoon membentak, sementara Jimin dan Jungkook yang ikut datang dengannya hanya bisa diam. “Kaubilang aku tidak bodoh, kan? Well, sial bagimu, aku cukup pintar untuk tahu soal itu! Kenapa kau tidak membantunya, Hyung? Apa kau benar-benar terlambat? Benar-benar tak mampu melakukan apa-apa?”

Satu tarikan napas panjang diambil Yoongi, tetapi apa yang keluar dari mulutnya bukanlah jawaban atas pertanyaan Namjoon.

“Jimin-a, Jungkook-a….”

Fuck you, Min Yoongi! Aku yang sedang bertanya padamu di sini!!”

“…tolong bawa Hoseok keluar.” Yoongi melanjutkan, sama sekali tak peduli dengan makian Namjoon. “Pastikan ia baik-baik saja, tanya apa ia membawa obatnya.”

Jimin dan Jungkook terlihat bingung, namun Yoongi tak punya waktu untuk menjelaskan. Lagi pula, menilik dari kondisi Hoseok, sang lelaki yakin jika kedua temannya pasti bisa menebak. Memastikan bahwa Hoseok baik-baik saja adalah hal utama yang terlintas di benaknya saat ini; kendati saat ia bertukar tatap dengan Jimin, Yoongi tahu bahwa tugasnya belum selesai. Jimin dan kebiasaannya melukai diri, dihadapkan dengan Taehyung yang tewas akibat sayatan di nadi. Kira-kira, apa yang tengah dipikirkan oleh teman satu flatnya itu sekarang?

Hyung….

“Tak apa, Jimin-a. B… biarkan aku bicara dengan Namjoon dulu, oke?”

“Kau akan menjelaskan pada kami juga, kan?” Jungkook ikut bertanya, selagi berusaha membantu Hoseok untuk berdiri. “Setelah ini semua….”

Yeah, tentu.”

Jawaban Yoongi itu cukup untuk meyakinkan Jimin dan Jungkook, sehingga keduanya pun bergegas merangkul Hoseok dari kedua sisi agar bisa mengajaknya keluar. Berlalu tanpa melirik ranjang tempat Taehyung berbaring barang sekali pun, memilih untuk berjalan lurus dan menolak realita barang sejenak. Demi Hoseok yang sedang benar-benar terguncang, hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk mencegah duka yang lebih dalam, bukan?

Thanks.

Mengangguk, ketiganya melangkah keluar. Diikuti dengan suara debam pelan kala Jungkook menutup pintu kamar Taehyung, sisakan Namjoon dan Yoongi yang masih bersitegang. Jelas sekali jika Namjoon belum puas dengan penjelasan Yoongi, terlebih ketika dirinya teringat apa isi percakapan mereka beberapa jam lalu. Berusaha memperbaiki, huh? Jadi ini, yang disebut dengan—

“Maaf, Namjoon-a.”

“Kali ini aku tak butuh maafmu,” desis Namjoon, menolak untuk memandang raut terluka yang ada di wajah Yoongi. “Karena kupikir, kau sungguh-sungguh meminta maaf pagi tadi. Karena aku, dengan naifnya, mulai berpikir bahwa ucapanmu layak dipertimbangkan. Sepertinya aku salah, kan?”

“Aku sungguh-sungguh meminta maaf,” sahut Yoongi , kedua kelopak terpejam untuk menahan bulir air matanya agar tak lolos. “Tapi, maukah kau memberiku izin untuk berubah pikiran?”

“Berubah pikiran?!” ulang Namjoon, telunjuk serta-merta terangkat dan diarahkan ke tempat Taehyung tergeletak mengenaskan. “Berubah pikiran dalam arti menyerah dan membiarkannya mati?”

“Apa perlu kau berkata seperti itu di depan….” Yoongi membuang napas, merasa dadanya sesak. “…di depan tubuhnya?”

Namjoon sontak menurunkan jarinya, terlihat malu tapi juga kesal di saat bersamaan.

“Kalau begitu—“

“Tak bisakah kita menghormati keputusannya?” Yoongi melanjutkan, memotong usaha Namjoon untuk berargumen. “Tak bisakah kita… melihat dari sudut pandangnya barang sejenak? Ini hidupnya—“

“Dia tak berhak mati, Min Yoongi!”

“Dia berhak mengambil keputusan apa saja,” balas Yoongi, pada akhirnya membiarkan air menetes menuruni lengkung pipinya. “Ini hidupnya, Namjoon. Sekalipun aku mencoba menyelamatkannya, apa itu akan membuatnya bahagia? Mungkin, apa yang dibutuhkannya hanyalah sedikit pengertian. Dari kita… dari orang-orang yang mengaku sahabatnya.”

Namjoon menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan berusaha menampik ucapan Yoongi barusan. Membiarkan hati nuraninya berdebat, meributkan keinginannya dan keinginan Taehyung yang berlawanan. “Aku… aku tidak….”

“Bisa jadi, kitalah yang selama ini salah.” Yoongi berkemam, perlahan mendekati Namjoon dan meremas pundak temannya. “Sejak hari itu, saat kita berada di pantai, bukankah ini yang diinginkan Taehyung? Untuk pergi setelah bersenang-senang bersama, untuk  melanjutkan hidup sembari membawa memori yang membahagiakan? Kita sudah merusak itu, Namjoon-a. Kita merusaknya—“

“Aku tidak akan menyebut ini dengan memperbaiki.”

“Aku hanya ingin mengabulkan keinginannya,” ujar Yoongi, pandang akhirnya kembali bergulir ke arah tubuh Taehyung. Ia terlihat damai, begitu kontras dengan sayatan dan darah yang ada. Ujung-ujung bibirnya bahkan membentuk senyum tipis, senyum yang menunjukkan rasa terima kasihnya atas perbuatan Yoongi tadi. Dan itu, lebih dari segalanya, cukup untuk menghapus sedikit kesedihan dari hati sang kawan.

“Aku tetap merasa ini tidak benar.”

“Aku tidak akan memaksa, kalau begitu,” balas Yoongi cepat, enggan memulai pertengkaran. “Itu pendapatmu, Namjoon-a. Hanya saja….”

“Hanya saja?”

“Aku belum menyerah, aku belum siap pasrah.” Yoongi berkata semantap mungkin, telapak tangan mengusap bekas-bekas air mata yang sempat ada. “Kita memang sahabat, tapi jalan kita untuk bahagia mungkin berbeda. Dan terlepas dari fakta kalau tindakan ini terlihat seperti mengkhianati pengorbanan Seokjin Hyung, aku ingin menghormati keputusan Taehyung dan juga keputusanmu nantinya. Apa pun itu, asalkan….”

Jeda sesaat, yang dimanfaatkan Yoongi untuk melangkah menjauh dari Namjoon. Memberinya pandang sendu, yang diikuti dengan satu kalimat terakhir sebagai penutup.

“…ayo kita berikan pemakaman yang sesuai dengan keinginan Taehyung.”

.

-o-

.

Memahami dan memaklumi sejatinya tak pernah menjadi hal yang mudah.

Mentari sedang beranjak turun tatkala pemikiran itu datang di benak Namjoon, selagi tangannya terulur untuk membiarkan abu Taehyung diterbangkan embusan angin. Mereka berlima tengah melepas kepergian sang kawan, berdiri di atas tebing tempat Taehyung menerjunkan diri musim panas lalu. Yoongi-lah yang memiliki ide untuk melakukan hal ini, sebuah pertimbangan yang didasarkan oleh kata-kata Taehyung saat mereka berlibur dulu. Bahwa pantai adalah tempat favoritnya, bahwa ia selalu ingin tinggal di pesisir pantai dan menikmati dunia yang bebas.

“Ia pasti bahagia, bukan?”

Menoleh, Namjoon dapat menangkap kata-kata Jimin yang tengah berbicara pada Yoongi. Bertukar kata sejenak, diikuti dengan anggukan dan senyuman singkat dari si lelaki bersurai pirang. Agaknya Jimin juga sudah memilih untuk mengambil persepsi yang sama dengan teman satu flatnya, berpikir jikalau mengikuti keinginan Taehyung adalah pilihan yang terbaik.

“Aku akan merindukannya.”

Itu Hoseok, yang kini bergerak untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatap terlihat kosong, sesuatu yang mengingatkan Namjoon akan kondisi Hoseok pada hari kematian Taehyung. Sahabatnya yang satu itu masih tampak pucat, lengkap dengan jejak-jejak gelap di bagian kantung matanya. Entah kapan kali terakhir ia tidur, tetapi yang jelas, pil-pil Prozac dan penyakit itu tak lagi menjadi rahasia di antara mereka. Kepergian Taehyung telah memaksa kecemasan berlebih Hoseok untuk kambuh begitu saja, membuatnya sempat terkena serangan panik dan tak bisa mengontrol diri.

“Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Yang terakhir itu milik Jungkook, seraya ia berusaha menyembunyikan air matanya yang terang-terangan meluruhkan diri. Sebagai yang termuda, hal semacam ini tentu tidak pernah terlintas di angannya. Hell, bahkan mereka yang lebih tua pun tidak pernah memikirkannya. Memakamkan kawan mereka sendiri untuk kali kedua, dengan berat hati terpaksa menghadapi perpisahan yang lain. Lebih-lebih lagi, Namjoon tahu bahwa Jungkook—seperti dirinya—ternyata tak bisa menerima pandangan Yoongi. Temannya yang satu itu bahkan sudah memohon agar mereka bisa tinggal bersama.

Namjoon mengiakan, tentu saja.

Mengetahui Jungkook akan tinggal bersamanya terasa menenangkan, membuktikan bahwa ia tak akan sendiri setelah semua perkara yang terjadi. Karena kalau boleh jujur, Namjoon bisa merasakan ancaman keretakan itu kembali datang di lingkar pertemanan mereka. Perbedaan prinsip dan pendapat menjadi makin kentara, kegagalan menghantui dirinya setiap malam. Ah, andai saja pada hari itu ia dapat menemukan Taehyung lebih dulu serta menyelamatkannya….

“Kurasa, memang sudah saatnya ia pergi.” Jimin tahu-tahu kembali berkata, melirik Namjoon takut-takut seakan ia bisa membaca pikirannya. “Maksudku, seandainya salah satu dari kita mencoba membawanya ke rumah sakit pun… eum, berdasar cerita Yoongi Hyung, T-Taehyung meninggal tak lama setelah—“

“Ada perbedaan antara diam saja dan berusaha,” sambar Namjoon, selagi ia menarik sebatang rokok keluar dan menyelipkannya di antara bibir. Menyalakan ujungnya, sebelum membalikkan badan dan berjalan menjauh. “Aku butuh waktu sendiri. Kutunggu di rumah, Jungkook-a.

“Namjoon-a!”

Yang dipanggil hanya mengangkat sebelah tangan, sama sekali tak menoleh. Ia tetap menggerakkan tungkainya, kendati laju itu sempat terhenti sepersekian menit kala Yoongi tiba-tiba berujar:

“Aku tak peduli dengan apa pandanganmu terhadapku! Tapi paling tidak, hilangkan kebiasaan burukmu!”

Dengusan samar adalah tanggapan Namjoon, seraya ia tetap memunggungi sahabat-sahabatnya tanpa berniat menyetujui ataupun membantah. Mengesampingkan segala yang terjadi di antara mereka, Namjoon sebenarnya sedikit terkejut mendengar Yoongi berucap demikian. Kawannya itu peduli, tetapi sayangnya, ego Namjoon masihlah terlalu kuat untuk diruntuhkan. Terlebih untuk saat ini, ketika satu-satunya hal yang Namjoon butuhkan adalah waktu. Waktu untuk berduka dan menyembuhkan segalanya; waktu untuk belajar bergerak maju dan mencari kebahagiaannya.

Mereka semua membutuhkan itu, bukan?

Melangkah ditemani desiran angin dan debur ombak di kejauhan, empat orang lainnya pun kini mulai beranjak. Bersama-sama tapi berjarak, meninggalkan pantai yang pernah membawa baik keceriaan maupun kesedihan di dalam hidup mereka. Tempat yang menjadi titik balik di hidup kelimanya, yang tak akan terlupakan seberapa pun kerasnya mereka berusaha. Tak ada yang berbicara, tak ada yang saling melontarkan ucapan “sampai jumpa lagi”. Toh, untuk kali ini, pendapat Namjoon memang tengah digemakan di dalam benak mereka semua.

Menjadi yang ditinggalkan itu tak pernah mudah.

Mereka sadar; dan mereka juga tahu bahwa butuh usaha lebih untuk menemukan harapan itu kembali.

Karena masa muda tak pernah tanpa rintangan…

.

.

.

…dan saat ini, mereka semua terjebak di dalamnya.

.

tbc.

.

a (not so) important note:

I wrote this chapter in two days, with a lot of complicated feelings in mind. Especially during Yoongi’s and Namjoon’s POV, since both of them have entirely different perspective about Taehyung’s suicide.

But, before you throw your review or comment in the box below,  I want you to know that: I never ask you to choose side. I wrote this based on several videos and films that I watched before, videos about people who were left behind.

Yoongi’s POV is based on acceptance. He finally understand Taehyung’s wish, he finally understand that his friend will never want to be alive again, and he choose to accept that. Because sometimes, that’s what people like Taehyung’s need. Not a consolance, not an attempt to fix his life, but an acceptance about how his life was already ruined and how his thought would never be the same again.

On the other side, Namjoon’s POV is based on hope and rationality. He—despite his harsh words—want to believe that everything’s can be solved. That death isn’t a way out, that Taehyung can still be saved no matter what happen. He just want to try, but sadly, he didn’t even have any chance. And maybe, that’s why Namjoon was angry—towards Yoongi, Taehyung, his other friends, and himself.

Again, I don’t ask nor want you to judge. I want you, as a readers, to understand their choice. That nothing is absolutely right, and nothing is absolutely wrong. And in case my words are too hard to be accepted, well I understand. It takes almost a year for me to form that kind of mindset, and I’m not trying to influence you or whatsoever.

Last but not least, this is the last chapter before the epilogue. Thank you for reading, sorry for this long note in English (I reaaally can’t pour out this kind of words in bahasa since it’ll be awkward, sorry), and see you soon on the epilogue!

With love,

tsukiyamarisa

9 thoughts on “[5 of 6] Messed Up”

  1. Entah kenapa part ini bikin aku ingat sama film Habibie & Ainun, berusaha mempertahankan tapi ngga tahu apa yang mereka rasakan. Namjoon cuma ngga mau kehilangan lagi, tapi yoongi tahu rasanya dan merelakan. Keduanya ngga salah, dan sebenernya disini emang ngga ada yang salah. Itu terserah taehyung, jujur, semua orang punya hak untuk menentukan.
    Omong-omong, maaf ya kak, aku jadi ngelantur. Pemikiran kakak terlalu banyak sampai aku pusing nangkepnya. Bahasa cukup ringan, jadi lumayan ngerti. Sebagai reader sekaligus author yang amatir, aku menghormati kakak atas fanfiksi kakak yang selalu buat aku sadar atas masa depan.

    Sorry for my long comment(s), author-nim. From a child-like girl who still doesn’t know about this world, Tira.

    Suka

  2. Although you don’t ask me to choose, I will say my opinion. I prefer yoongi’s perspective. Meskipun saya 100% tidak setuju dgn tindakan bunuh diri, tpi kurasa tiap orang pnya kendali atas hidupnya sndiri, dmna orang lain tidak berhak ikut campur.

    Suka

  3. Demi kak ini FF keren banget,aku suka banget. Yang bener2 bikin bnyak mikir loh 😄 ini bnran kern bngt,gak ngrti harus ngomong gmna ,,pkknya keren banget. SEMANGAT LANJUT CHAPTER TERAKHIRNYA KAK,FIGHTING!!!!! 😍😍 (klw bsa jangan lama2 buat readers menunggu ya kak hehehe)FIGHTING!!!

    Suka

  4. Huhuhu taehyungie..
    Aku sampe mewek2 baca ini, ga nyangka taehyung bakal mati, tapi sudut pandang yoongi sama namjoon yang berlawanan ada benarnya dua2 nya dan bikin gue galau abis dengan segala yang terjadi d persahabatan mereka ini..
    Mangats thor buat next chapter!! Dan selalu kuucap terimakasih untuk karyanya thor🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s