[Oneshot] You Got Everything You Want

STAND ALONE 3 - you got everything

You Got Everything You Want

Title: You Got Everything You Want // scriptwriter: ER // cast: Go Junhoe (iKon), Kim Jongdae a.k.a Chen (EXO), Daisy Jung (OC) // Genre: Romance, Work-Life // Duration: Oneshot ± 4077 words // rating: PG-17

Disclaimer : i just own the Plot and The Original Character

ER’s Notes [ please read it first] :

  1. Kim Jongdae dipakai untuk penceritaan dari sudut pandang author. Chen dipakai untuk penceritaan tokoh Jongdae dilihat sebagai seorang idol dari sudut pandang tokoh utama wanita dan tokoh lain. jadi author memakai ‘Chen’ untuk menjelaskan keadaan dan pola pikir para pemeran di fanfic ini.
  2. Istilah seperti SM Sky Bar dan jenis pekerjaan yang ditulis di fanfic ini adalah fiksi, author tidak tahu hal itu benar-benar ada atau tidak. Author hanya tahu tentang organisasi perusahaan pada umumnya, tapi kurang paham tentang organisasi perusahaan entertainment. jadi jangan dianggap serius ya..

Summary :

“EXO Chen dating a girl. This girl confirmed as SM Entertainment’s staff of Financial Department. As Chen Types, she is pretty, elegant, looked smart, and has a bright career……………”

 

***

Awal musim panas tahun ini sungguh indah bagi seorang gadis berambut sebahu warna hitam dan berkacamata meskipun bukan kacamata minus. Ia terlihat cantik, modis dan terkesan cerdas dengan kacamata yang dipakainya. Ialah Daisy Jung.

Kenapa awal musim panas tahun ini terasa indah baginya? Tentu saja karena Go Junhoe –kekasihnya– yang pergi ke luar negeri tiga tahun yang lalu tanpa memberikan kabar, akhirnya kembali ke Korea dan mereka dapat melanjutkan hubungan mereka kembali. Mereka memang tidak pernah putus, sih. Meskipun mereka tidak saling mengabari.

Dan yang kedua, gadis itu sekarang sudah diterima bekerja di SM Entertainment, perusahaan agensi idol terbesar di Korea dengan harga saham paling tinggi saat ini, dan ia menempati posisi sebagai salah satu staff di Divisi Keuangan perusahaan. Itu adalah hal yang membanggakan baginya. Karena ia bisa bekerja di divisi keuangan perusahaan bonafit, dan juga, ehm.. ia berada di perusahaan yang disebut-sebut sebagai museum para bintang.

Belum bekerja saja, gadis itu sudah berandai-andai siapa saja idol yang akan dijumpainya setiap hari entah itu di lobi atau di lift. Berandai- andai saja ia sudah merasa bahagia. Ya, nona Daisy memang SMstan. Itu poin utamanya.

Lalu dimana Go Junhoe sekarang? Pria itu bekerja di Stasiun televisi kabel Arirang, ia kembali ke Korea memang karena ia mendapat panggilan kerja dari Arirang. Kalau tidak, mungkin dia sekarang masih ada di Singapura, bekerja di salah satu stasiun televisi kabel terkenal di negara itu. Dan disinilah Pangeran Junhoe sekarang. Di divisi program, dan menjabat sebagai kepala departemen Research and Development. Ia bertanggung jawab kepada direktur perusahaan itu di bidang pengembangan program televisi. Bukankah pekerjaan pria ini sangat keren untuk ukuran pria yang belum berkepala tiga?

Pasangan ini memang sama-sama cerdas, dan memiliki karir yang cukup cemerlang. Mereka tahu mereka akan sangat sibuk. Tapi sepertinya mereka siap menanggung segala akibat dari hubungan yang diciptakan oleh dua orang cerdas yang keduanya akan mulai sangat sibuk oleh tuntutan-tuntutan dan deadline untuk proyek yang dikerjakan oleh mereka.

*

Dan sekaranglah waktunya.

Daisy Jung melangkah masuk ke SM Building dengan mantap dan percaya diri. Dan tentu saja ia tak lupa memakai ID Card, karena itu adalah kartu sakti yang membawanya bebas keluar-masuk gedung itu. Ia memakai baju kantor yang rapi dan elegan, sungguh ia benar-benar terlihat berkelas namun tidak berlebihan untuk sekelas karyawan biasa di perusahaan itu. Itulah daya tariknya, ia mampu berpakaian sesuai situasi, istilah lainnya ia juga cerdas dalam berpakaian. Mungkin dia bisa menjadi fashion stylish kalau dia mau.

Sepertinya, Go Junhoe benar-benar beruntung memiliki gadis itu.

Daisy masuk lift bersama karyawan lain. Tak lupa ia membungkuk sembilan puluh derajat sebagai salam perkenalan. Meski ia tak yakin orang-orang di lift itu tahu kalau dia adalah karyawan baru. Oh tunggu, ada seseorang yang menerobos masuk, sepertinya terburu buru. Ia memberi salam pada beberapa orang kemudian berdiri menghadap ke pintu lift. Ia berada paling dekat dengan pintu lift. Dan lihat, itu EXO Chen!

Astaga, Daisy hampir berhenti bernapas. Itu kan Chen, idolanya. Ia lebih suka menyebut nama panggung Chen, karena ia mengidolakan Chen, bukan Kim Jongdae –nama asli Chen-. Baginya seorang idol mungkin berbeda antara di panggung dan di dunia nyata. Makanya ia tak mau ambil pusing dengan mencari tahu seperti apa Kim Jongdae itu. Toh faktanya, apa yang terlihat di publik biasanya merupakan settingan dari agensi untuk menciptakan imej mereka. Makanya ia mengidolakan Chen, dengan imej yang melekat pada dirinya. Ia sangat menyukai suara Chen. Suara Chen dari ipodnya lah yang menemani gadis itu setiap ia menunggu kedatangan Junhoe yang tak pasti. Ia memang menyimpan lagu-lagu Chen. Entah lagu bersama EXO, atau lagu yang ia nyanyikan sendiri seperti OST, cover lagu, atau lagu yang ia nyanyikan saat mengikuti King of The Mask Singer. Tentu saja, hal itu sangat memorable bagi gadis mellow sepertinya.

Akhirnya pintu lift terbuka. Tapi kenapa Chen tak keluar. Aduh, apa Daisy harus melewati idolanya itu? Terpaksa iya. Ia tak mau terlambat untuk hari pertamanya bekerja. Ia juga tak mungkin menyapa Chen. Dia itu fans yang elegan, tak mungkin bertindak kekanakan dengan menyapa Chen yang bahkan tetap menghadap ke pintu lift, kalau ia menyapa, mungkin akan diacuhkan. Karena Chen yang warm-hearted mungkin hanya ada di acara tv. Itulah pertimbangannya. Maka ia pun keluar lift tanpa menyapa sang idola. Dia agak menyesal sih. Tapi, toh ia bisa kapan saja bertemu Chen, secara kebetulan tentunya.

Dan apa yang terjadi pada Chen atau Kim Jongdae itu? Idola bersuara emas itu menyadari sesuatu saat seseorang melewatinya. Dia gadis itu, gadis yang akhir-akhir ini sering ia mata-matai saat gadis itu duduk sendirian di pinggir danau malam-malam dan terlihat menyedihkan. Dan kegiatan spionase-nya itu ia hentikan saat gadis itu tak lagi disitu, tentu saja karena kekasihnya sudah kembali, jadi untuk apa gadis itu menunggu di pinggir danau lagi?

Jongdae benar-benar tak menyangka bahwa itu adalah Daisy Jung. Ia tahu namanya saat mendengar seorang pria –Go Junhoe- memanggil nama gadis itu dengan sayang. Dan setelah kejadian itu, Jongdae benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Ia merasa kalah sebelum berperang. Bagaimana bisa ia patah hati oleh seorang gadis biasa yang bahkan sama sekali tak ia kenal? Perasaan yang aneh.

Saat pintu lift menutup dan berjalan ke lantai di atasnya dimana ia akan berlatih vokal, ia memencet tombol lift menuju lantai di bawahnya. Lantai dimana kantor tempat gadis itu berada.

Ini gila, Chen seorang idola akan memasuki ruangan staff yang bahkan tak berhubungan langsung dengan pekerjaannya sebagai seorang artis. Memang alasan apa yang akan ia buat kalau ada seseorang yang bertanya?

Tapi, akhirnya ia melakukannya juga.

“halo.. selamat pagi semuanya, saya EXO Chen” sapa Jongdae sambil membungkukkan badannya seraya matanya mencari-cari dimana letak meja Daisy –gadis yang menjadi alasannya memasuki ruang divisi keuangan dengan membawa sekantong penuh kopi kaleng

Orang-orang yang disapa hanya membalas sapaan Jongdae dengan raut wajah keheranan. Tentu saja mereka heran karena tak biasanya seorang idola masuk ke ruang staff tanpa kamera yang mengikutinya. Mereka semakin bingung saat Jongdae memberikan kopi kaleng satu per satu kepada mereka.

“sekali-kali Saya ingin memberikan ini kepada kalian, kalian sudah bekerja keras untuk perusahaan yang telah membesarkan EXO, maka dari itu Saya ucapkan terima kasih” kata Jongdae sambil membungkukkan badannya. Kemudian ia melirik Daisy.

Sedangkan gadis itu dengan tidak elitnya terus memandangi kopi pemberian Jongdae, seolah tak memperhatikan Jongdae yang sedang berpidato, ia terus memandangi kopi pemberian sang idola.  ia merasa istimewa, padahal seluruh karyawan memang diberi kopi oleh Jongdae. Entah mengapa ia merasa seperti itu.

Jongdae? Dia hanya tersenyum melihat tingkah gadis cerdas itu.

benar-benar gadis yang sulit’ pikirnya.

*

*

“sayang. Aku sudah selesai, kau jadi menjemputku tidak?’

maaf tidak bisa sayang.. aku lembur” Junhoe berbicara di seberang sana lewat telepon

“lagi-lagi kau lembur, bahkan dulu di hari pertama saja kau sudah lembur”

“kami sedang dikejar deadline sayang, kau tahu stasiun tv seperti apa kan?”

“ya aku mengerti. Baiklah aku naik taksi saja sayang”

Hati-hati sayang, jangan lupa telpon aku”

*

*

Seperti yang diperkirakan, begitulah mereka. Semenjak hari pertama mereka bekerja, mereka jarang sekali bertemu dan hanya dapat bertemu lewat telepon, itupun hanya sebentar.

Lama kelamaan, Daisy merasa frustasi juga. Maka malam ini ia memutuskan untuk menghabiskan waktu di SM Sky Bar. Dari namanya saja kita sudah tahu kalau bar itu ada di gedung SM dan berada di lantai paling atas gedung. Alasan mengapa SM memiliki bar sendiri karena SM Entertainment tidak ingin artisnya terkena skandal seks atau narkoba karena mengunjungi club-club malam yang tak jelas. Maka perusahaan itu memutuskan untuk membangun sebuah bar yang difungsikan untuk memfasilitasi semua artis SM yang sekedar ingin minum-minum dan menghabiskan waktu. staff di SM juga bisa masuk ke bar itu sih, tapi tentu saja ada ketentuannya. Entah apa itu, yang pasti Daisy sudah ada di dalam bar itu sekarang.

Gadis itu minum bir sendirian, memang kadar alkohol bir yang tidak sampai 5% tak membuatnya mabuk, tapi itu cukup membuatnya sedikit pusing dan mual karena dia sudah menghabiskan satu botol penuh bir. Dia gadis yang sangat jarang minum, dan tidak kuat minum banyak. Biasanya Junhoe yang menemaninya minum, itupun ia hanya diperbolehkan minum sedikit, hanya sekedar coba-coba katanya. Ah tapi sekarang bahkan Junhoe sedang sibuk dengan pekerjaannya. Telepon saja hanya sekedar kalau ingat, apalagi pergi minum bersama, itu mustahil. Junhoe benar-benar berubah. Ia tak sama lagi seperti dulu. Hubungan ini hanya formalitas saja sepertinya. Formalitas bahwa mereka memiliki pasangan, pertanda bahwa mereka laku. Arrgghh Daisy benar-benar frustasi. Ia memukul-mukul kepalanya seperti orang gila. Itu benar-benar sedikit memalukan. Kau melakukannya di tempat para artis sedang nongkrong, nona Jung. Sadarlah!

“kau disini rupanya”

GLEK.

Itu suara Chen.

Apa baru saja ia melihat tingkah Daisy yang tidak elit itu?

‘um iya”

“wajahmu lucu sekali saat kau mabuk” Jongdae tidak bermaksud menggoda, ia hanya ingin-

“namaku Kim Jongdae” -memperkenalkan dirinya

“aku Daisy Jung, senang bertemu denganmu Chen-ssi” gadis itu agak canggung saat mengucapkan kalimat itu.

‘jangan panggil nama panggungku, panggil saja Jongdae, hanya Jongdae” kalimat Jongdae itu seolah-olah ingin meruntuhkan batasan-batasan di antara mereka yang harusnya tak boleh dilewati.

emh.. baiklah Jongdae-ssi.. eh Jongdae-a”  Daisy mengganti sebutan itu saat Jongdae sedikit melotot tanda tak suka dipanggil dengan sebutan –ssi. Karena ia tak ingin ada batasan formal di antara mereka. Dia ingin dekat dengan gadis itu. Sekarang dia sadar bahwa ia tetaplah manusia biasa yang dapat jatuh cinta kepada siapa saja. Tentu saja ia tak menolak saat ia jatuh cinta kepada Daisy, gadis elegan yang cerdas yang mana malam ini ia melihat lagi sisi lain dari gadis itu, wajah yang tampak menyedihkan. Jujur saja, raut wajah menyedihkan itulah yang telah menarik hati Jongdae, bukan raut wajah elegan dan kesan cerdas yang ia tunjukkan setiap hari selama di kantor.

Tapi walau bagaimanapun keadaannya, Daisy tetaplah gadis yang disukai Jongdae dengan segala dimensi yang  ada pada dirinya.

Ia ingin melindungi gadis itu. Dan malam ini gadis itu menunjukkan sisi rapuhnya lagi. Ia terlihat menahan beban yang berat, bahkan terlihat lebih parah daripada saat Jongdae memata-matainya di pinggir danau malam-malam beberapa bulan yang lalu. Tapi meskipun rapuh, entah mengapa Jongdae merasa hangat dan nyaman saat ada gadis itu di sekitarnya.

“ini sudah jam 10, kau tak pulang?”

“kau sendiri kenapa ada disini sementara kau tak minum apapun?’ ups! Chen tertangkap basah.

“aku hanya ingin menyegarkan pikiran saja. Kalau di luar kan berbahaya. Jadi aku kesini saja jadi tak harus repot-repot berurusan dengan fans” kilahnya.

‘oh.. “

ehm, ngomong-ngomong.. apa kau kesini karena pria itu tak menjemputmu hari ini?” Jongdae mulai menunjukkan rasa ingin tahunya tentang kehidupan pribadi gadis setengah  mabuk itu.

“hmm”

gadis itu menjawab sekenanya karena ia merasa hal seperti itu tak perlu diketahui orang lain, ia tak suka urusan pribadinya diketahui atau bahkan dicampuri oleh orang lain. Tapi yang bertanya ini Jongdae, jadi mau tak mau ia menjawab, karena ia tak ingin memberi kesan buruk pada idolanya. Tapi, yah, selain itu karena ia sedang pusing sih, jadi ia menjawab sekenanya saja.

-Ponsel Daisy berdering-

‘halo”

Sayang.. aku sudah selesai dan ini mau pulang, kau dimana? Kenapa tak menelponku?”

“aku masih di kantor”

jam segini kau masih di kantor??” Junhoe di seberang telepon meninggikan nada suaranya.

“ya. Aku sedang bersama Chen sekarang, dia sangat tampan” -yang disebut hanya bisa tersenyum malu-malu, entah mengapa ia merasa sangat bahagia saat gadis itu menyebutkan tampan. Padahal sebutan itu selalu ia dengar setiap hari.

“apa? Kenapa bisa? Kau tidak bisa melakukan itu. Tunggu, sebentar lagi aku ke kantormu. Tunggu aku di tempat biasa sayang”

“hmm”

Telepon pun ditutup begitu saja tanpa kalimat penutup. Daisy benar-benar menunjukkan sisi lainnya sekarang.

*

“Jongdae-a.. aku pergi dulu”

“apa itu pacarmu?’

“hm.. ya..”

“ah, ayo kuantar sampai depan”

“tidak usah, aku bisa sendiri”

“dengan kondisi seperti ini, aku tak yakin kau tidak kesasar”

“tapi aku tidak mabuk”

“tapi kepalamu pusing”

“oh baiklah, ayo”

Akhirnya Jongdae berhasil mengantar Daisy sampai lobi gedung, dan tentu saja ia tak lupa untuk memapah gadis itu dengan cara memeluk bahu gadis itu.

Sungguh tindakan yang berani. Untung ini di dalam gedung SM. Kalau di luar sana mungkin sudah menjadi skandal yang diberitakan oleh media seperti Disp*tch.

*

Di mobil Junhoe

“kau mabuk?”

“hanya sedikit pusing”

“jadi kau minum dengan Chen?”

ah, tentu saja Junhoe tahu Chen, ia tahu karena kekasihnya itu selalu menyebut-nyebut Chen sebagai idola dengan suara yang sempurna. Hanya Chen yang ia tahu, selebihnya ia tak tahu menahu tentang idol lain, karena urusan pekerjaannya tak berkaitan langsung dengan mereka.

“dia kebetulan ada disana, dan dia tidak minum, hanya aku yang minum”

“bukankah sudah kubilang kalau kau hanya boleh minum denganku?” –

“apa kau tak tahu akibat yang mungkin akan terjadi kalau kau minum sendirian? Atau jangan-jangan kau sering pergi minum saat aku tak ada di Korea?” -Junhoe  menambahkan dengan kalimat panjang yang terdengar intimidatif.

“aku lelah, besok saja kita bicarakan ini”

“kau sudah berubah nona Daisy Jung!” kalimat itu muncul begitu saja dari mulut Junhoe tanpa dapat ia kendalikan-

“baiklah kukatakan sekarang, selama aku di bar dan perjalanan pulang ini, aku sudah berpikir, sepertinya hubungan kita sudah tak bermakna” –dan kalimat reflek Junhoe tadi berhasil memancing Daisy untuk membicarakan tentang hubungan mereka-

‘apa yang kau katakan, sayang?”

“kau bahkan kembali ke Korea karena kau mendapat panggilan kerja dari Arirang, bukan karena kau ingin kembali padaku” –tersirat kepahitan pada kalimat yang baru saja diucapkan gadis itu.

“sayang, ini tak seperti yang kau pikirkan. Kita kan sudah sama-sama dewasa, harusnya kau tahu bahwa ini bukanlah masalah yang besar. Bukankah dulu kita sepakat bahwa kita tidak akan menjalani hubungan ini seperti drama-drama di tv, kita kan sudah sepakat untuk menjalaninya dengan apa adanya”

“kurasa aku sudah tak sanggup. Kesibukanmu itu di luar ekspektasiku.”

“aku sama sibuknya seperti saat aku bekerja di Singapura, sayang”

“aku memang sudah memikirkannya setahun yang lalu, saat kau mengingkari janjimu untuk kembali setelah dua tahun, namun nyatanya kau baru kembali setelah tiga tahun. Dan itu membuatku hampir menyerah.”

“..”

“apa kau tahu? Malam itu saat kau datang, tepat sebelum itu aku memutuskan kalau malam itu kau tak datang, aku akan menyerah, tapi ternyata kau datang, dan itu benar-benar memberiku harapan. Tapi yang terjadi sekarang bahkan lebih buruk. Kita ada di dalam satu Kota, tapi aku merasa sangat jauh denganmu. Tidakkah kau merasa bahwa hubungan ini terasa hambar? Tidak, kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu jawabannya. Mungkin kau tak tega mengatakannya lebih dulu, jadi biar aku yang mengatakannya. Mari – kita – putus” Daisy mengakhiri kalimatnya dnegan suara tercekat, dia sebenarnya tidak rela berpisah dengan Junhoe, tapi ia sudah tak kuat dengan hubungannya dengan Junhoe yang tak jelas arahnya.

“apa kau tidak akan menyesal?”

“aku menyesal, tapi aku akan lebih menyesal kalau aku melanjutkannya, karena itu akan membuatku lebih sakit.”

“tapi aku masih mencintaimu, Daisy-a”

“aku tahu, tapi aku dan perasaanmu kepadaku, itu bukan prioritas bagimu. Aku sangat memahamimu, asal kau tahu Go Junhoe”

‘maafkan aku”

Junhoe menundukkan kepalanya, tanda ia menyesal. Tapi di hatinya, ia lega?

“meski begitu, mari kita berteman.” Kalimat itu menambah kelegaan di hati Junhoe.

Daisy mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Junhoe. Hatinya hancur, tapi juga lega karena akhirnya hubungannya dengan Junhoe sudah jelas.

“kau harus berjanji padaku nona Jung, jangan memusuhiku. Mungkin sulit bagimu untuk hanya bersahabat dengan pria tampan sepertiku, tapi kalau kau belum siap memaafkanku, jangan hubungi aku dulu, karena itu pasti akan lebih menyakitkan bagimu. Aku tak akan menghubungimu lebih dulu, aku akan menunggumu menghubungiku. Dan apabila saat itu tiba, aku yakin bahwa kau sudah benar-benar melupakanku. Dengan begitu, persahabatan kita akan berjalan baik tanpa melibatkan perasaan apapun di antara kita. Jadi, kau tak usah tergesa-gesa”

Junhoe benar-benar terlihat baik-baik saja saat ia mengatakan hal itu. Apa memang ia baik-baik saja? Jadi selama ini?

‘aku tahu June.”

“aku tak akan membuatmu menunggu terlalu lama.” –tambahnya.

“kau memang istimewa, tapi sayang sekarang sudah jadi mantan pacarku” Junhoe tersenyum manis sekali. Dia berusaha mencairkan suasana yang sedikit –hampir- beku tadi..

Dan mereka bisa mengobrol tanpa beban setelah itu. Mereka memang sudah menjalani hubungan yang dewasa, dan mereka mengakhirinya dengan dewasa juga. Meski di hati mereka timbul sedikit penyesalan, tapi hubungan baru yang terjalin di antara mereka justru tak akan memisahkan mereka seumur hidup mereka. Sahabat. Mereka sudah benar-benar bersahabat. Karena tak butuh waktu yang terlalu lama bagi mereka untuk menenangkan diri dan menerima kenyataan bahwa mereka tak lagi dua orang yang saling mencintai.

Dan disinilah mereka sekarang, mereka saling membutuhkan, tapi tak saling menuntut. Itulah sahabat.

*

*

“ Nona Jung, Kau dipanggil ke ruangan Direktur Produksi”

Kepala divisi keuangan mengatakan hal yang menurut Daisy aneh. Bagaimana mungkin ia bekerja di divisi keuangan tapi ia dipanggil ke ruangan direktur produksi. Apa ia akan di debutkan sebagai artis? Ah itu sangat tak mungkin. Bukankah staff di suatu divisi perusahaan tidak akan berurusan dengan divisi lain? Bukankah yang berwenang hanya kepala divisinya? Sepertinya Daisy belum mengerti bagaimana perusahaan entertainment bekerja.

“Saya?”

“iya kau”

“untuk apa?”

“kau akan tahu sendiri. Pergilah”

*

Tok Tok

Daisy dengan ragu-ragu mengetuk pintu ruangan direktur produksi. Dia benar-benar tak bisa mencerna alasan yang membawa ia sampai kesini.

“masuk”

“selamat siang, Direktur. Saya Daisy Jung, staff divisi keuangan”

“oh iya, silahkan duduk”

“baiklah Nona Daisy Jung, Saya adalah orang yang bertanggung jawab atas artis-artis di perusahaan ini. Tugas Saya adalah mengelola artis dari proses audisi sampai menciptakan artis yang populer dan karirnya dapat bertahan lama di industri entertainment. Bagaimanapun caranya.”

Bagaimana pun caranya. Bagaimana pun caranya. Bagaimana pun caranya

Kalimat itu membuatnya bergidik. Tapi tetap saja ia belum bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Jadi, Daisy hanya menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui kalimat yang baru saja diucapkan direktur itu.

“Alasan Saya memanggil Anda kesini karena Anda adalah orang yang Saya rasa sangat tepat untuk proyek ini.”

Deg.

Kalimat itu benar-benar membuat Daisy tersentak. Ia tak mau berandai-andai.

“Anda cantik, cerdas, pekerja yang handal, elegan, dan yang paling penting, Anda dapat menunjukkan citra wanita berkelas namun tak berlebihan sehingga tak sulit untuk digapai oleh pria kelas menengah ke atas, namun tak sembarang pria bisa mendapatkan orang seperti Anda. Itulah citra pada diri Anda yang Saya tangkap selama Saya mengamati Anda.

Apa? Mengamati? Jadi selama ini dia diamati?

“maaf, Direktur. Saya belum mengerti arah pembicaraan ini.”

“Dengan kata lain, dengan citra yang ada pada dirimu, Anda cocok untuk proyek ini.”

“proyek apa, Direktur?”

“kau pasti tahu pemerintah Korea Selatan baru saja gagal melakukan negosiasi perdamaian dengan Korea Utara. Dan hal itu ditakutkan akan menimbulkan kekacauan bagi rakyat Korea Selatan karena mereka takut akan serangan Korea Utara yang bisa datang kapan saja dengan bom nuklirnya. Dan kau tahu apa yang biasanya pemerintah lakukan apabila terjadi hal-hal semacam ini?”

“pengalihan isu” Daisy hanya menggumam seperti ia tak sadar apa yang telah ia katakan

“Anda memang cerdas. Tak salah bila tim produksi memilihmu untuk menjadi pacar Chen”

Apa? Pacar Chen? Maksudnya menjadi pacar EXO Chen? Apa direktur bercanda? Mana mungkin!

Tentu saja umpatan itu hanya ada di hati Daisy. Sebagai buktinya, ia hanya menunduk dengan elegan -agak gelisah- tak berani menatap direkturnya. Ia tak mungkin menolak, memangnya dia bisa apa? Industri hiburan sama kotornya dengan industri lainnya. Itu yang ia pahami sekarang. Kenapa kotor? Karena SM Entertainment pasti mendapat kompensasi yang tak sedikit dari pemerintah karena mengalihkan isu dengan menggunakan salah seorang anggota boygroup paling fenomenal di Korea saat ini, dan dikenal memiliki fans yang, ya, sedikit galak pada wanita-wanita yang digosipkan dekat dengan idola mereka. Ya, Daisy pasti akan gila bila ia ‘berpacaran’ dengan Chen. Sudah pasti ia akan diserang oleh para fans.

“Maaf, saya menjadi pacar EXO Chen? Apa saya tidak salah dengar?”

“direktur keuangan sudah memberikan ijin kepadaku untuk mencatut namamu sebagai pacar Chen. Biarkan kujelaskan dulu”

‘…”

Daisy lagi-lagi hanya bisa mengangguk tak bisa menolak.

“Jadi dari semua anggota EXO, Chen adalah anggota yang tidak pernah terkena skandal. Imejnya sangat bersih. Ia terkenal memiliki selera yang baik terhadap wanita, dan ia tidak berselera untuk memacari artis atau sesama idol. Penggemar Chen juga terkenal yang paling tenang, dengan begitu, sangat mungkin saat kau nanti diumumkan berpacaran dengan Chen, mereka tidak akan menyerangmu, karena citra dirimu yang elegan dan berkelas, mereka tidak akan berani menyerangmu, apalagi nanti akan ada tambahan bahwa kau adalah salah satu karyawan yang paling bisa diandalkan dari perusahaan ini, jadi mereka akan mengagumimu dan mendukung hubunganmu dengan Chen. Dengan begitu, skandal pemerintah Korea Selatan akan segera tertutup oleh berita tentang kalian yang pasti akan diberitakan secara masif oleh media karena berita tentang Chen berpacaran adalah hal yang luar biasa, mengingat selama ini ia tak pernah terlibat skandal apapun, apalagi skandal berpacaran. “

Sekarang, Daisy tak tahu harus bahagia atau takut. Bagaimanapun, Ia kan penggemarnya Chen, meski ia tak pernah menyatakannya.

“lalu, apa yang harus Saya lakukan?”

“Anda cukup pergi berdua dengan Chen besok malam, Anda harus berusaha menutupi identitasmu seperti halnya Chen, tapi biarkan media menebak dengan mudah siapa dirimu. Jangan ubah citramu, cukup menjadi dirimu sendiri dengan gayamu. Jika berita skandal kencan Chen sudah menyebar, kami akan mengkonfirmasi hubungan kalian. Tapi kalian tak perlu datang, karena kalau kalian datang justru akan terlihat bahwa ini hanya settingan. kemudian kalian hanya perlu berkencan beberapa kali di tempat umum, setelah itu, kalian hanya perlu tampil sedikit mesra, tunjukkan kedekatan kalian di lingkungan kantor atau di manapun. Anda perlu tahu bahwa hal ini hanya diketahui oleh jajaran direktur, manager EXO dan membernya, dan yang pasti Chen. Jadi jangan bocorkan pada siapapun. Konsekuensinya sangat besar apabila hal ini terbongkar sebagai pengalihan isu. Dan ingat, status pacaran kalian adalah satu tahun. Jadi selama satu tahun, berhati-hatilah, jangan sampai terlibat skandal dengan pria lain. Karena itu sangat berbahaya. SM Entertainment akan diuntungkan bila kau terlibat skandal dengan pria lain saat kau menjalin hubungan dengan Chen, karena berita tentang Chen dan Anda tak akan ada habisnya, dan tandanya saham SM Entertainment akan mengalami kenaikan tetapi itu akan sangat merugikan Anda. Anda tahu maksud Saya, kan?

“lalu, apa Chen sudah tahu tentang hal ini? Saya hanya takut bahwa ia menolak.”

“bahkan dia harus mengikuti semua yang diperintahkan untuknya. Anda pasti tahu itu, Nona Jung.” Direktur itu mengatakan hal itu dengan angkuhnya-

“jadi, nanti malam datanglah ke ruang manager EXO, kalian harus rapat dulu sebelum proses eksekusi” –

“oh iya, Nona Jung, kau akan mendapat kompensasi atas kerjasamamu ini. Lebih besar daripada gajimu sebagai staff divisi keuangan” – pungkasnya.

Direktur itu menyeringai karena ia berhasil mengendalikan dua orang yang akan membuat pundi-pundi perusahaan membengkak seketika.

Daisy Jung yang malang –atau beruntung– ? entahlah.

*

*

“ya! Junhoe Oppa kau harus tahu berita ini lebih dulu dari yang lain”

Meskipun mereka sudah putus, tapi panggilan Junhoe-Oppa  tak bisa begitu saja dihilangkan oleh Daisy, meski panggilan itu sudah tak bermakna apapun baginya. Hanya sebagai penghargaan karena Junhoe lebih tua beberapa bulan dari Daisy.

“berita apa?”

“aku yakin kau pasti akan patah hati setelah mendengar ini”

“….”

Junhoe di seberang telepon hanya menunjukkan wajah malasnya sambil mengomel tanpa bersuara karena gadis itu benar-benar mengganggu waktu istirahatnya yang berharga.. Daisy –mantan pacarnya itu- adalah gadis yang tak pandai membuat lelucon. Jadi mau bagaimanapun ia tak akan pernah terdengar lucu.

“aku punya pacar”

“siapa?” Junhoe bertanya dengan santainya, seolah tak menunjukkan minat pada obrolan itu.

“EXO Chen!” Daisy mengatakan itu dengan nada ceria yang menunjukkan.. kebahagiaan?

“oh” – tanggapan datar keluar dari mulut pria tampan itu.

“ha?! siapa?!” – imbuhnya terkejut, saat ia sadar siapa nama yang barusan disebut oleh mantan pacarnya itu.

“Chen!”

“kau jangan mengarang cerita seperti anak kecil, kau ini sudah 24 tahun”

“aku serius, lihat saja sebentar lagi !”

TUT. TUT. TUT. Telepon terputus tanpa pemberitahuan. Seperti itulah kebiasaan Daisy saat menelepon Junhoe. Ia benar-benar tak beretika terhadap sahabat barunya itu. Eh tapi memang dari dulu sih ia seperti itu. Hanya pada Go Junhoe. Catat itu.

*

*

“EXO Chen dating a girl. This girl confirmed as SM Entertainment’s staff of Financial Department. As Chen Types, she is pretty, elegant, looked smart, and has a bright career…………………………………………………. as this news released, SM Entertainment not confirmed yet.”

What the hell ! jadi dia benar-benar berpacaran dengan Chen?”

“ini terasa seperti cerita drama”

“seorang artis memacari penggemarnya”

“Ah dia menang!”

shit!”

Bukannya Go Junhoe cemburu atau apa, tapi dia hanya sebal karena gadis itu bahkan bisa bersenang-senang dengan memacari seorang idol, di tengah-tengah kesibukannya berkutat dengan milyaran won uang perusahaan sebesar SM Entertainment setiap hari. sedangkan ia masih berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Bagaimana bisa Daisy bisa bersenang-senang sementara ia menderita karena beban pekerjaan yang sangat berat?

Padahal Junhoe hanya tak tahu saja cerita dibalik berita itu. Tapi setidaknya Daisy merasa puas di tengah kecemasannya terhadap reaksi para fans dan netizen karena berhasil mengerjai mantan kekasihnya yang sedang stres berat karena pekerjaan yang telah membuat mereka putus. Daisy sedang balas dendam dengan cara yang sangat manis rupanya.

FIN –

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s