[Vignette] Sweet as Jungkook

sweet as jungkook 2

Title: Sweet as Jungkook

Scriptwriter: dangerfanfic / syellykezia_

Cast: Jungkook, Jae In (OC)  Support cast: DO (EXO) // Genre: Fluff // Rating: PG-13 // Duration: Vignette

Recommended Song: Loving You – Super Junior K.R.Y

Jungkook adalah Jungkook. Hal yang disukainya selain Toko Permen dan permen itu sendiri, adalah Jae In. tapi apakah yang terjadi jika ia kehilangan salah satu dari ketiga hal itu?

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

Story begin:

“Ke toko permen? …. lagi?”

Jungkook mengangguk dengan sebuah cengiran konyol diwajahnya. Jika dihitung-hitung mereka telah berkencan sebanyak tiga puluh sembilan kali dan sebanyak tiga puluh delapan kali Jungkook mengajak Jae In—kekasihnya—berkencan di sebuah toko permen.

Jae In hanya menyilangkan tangannya kesal. Jungkook benar-benar tidak tahu tempat lain selain toko permen yang menurutnya bagus untuk berkencan.

Yang benar saja! berkencan di dalam toko permen?!

“Aku sudah bilang,kan sebelumnya. Aku tidak makan permen! Dan kau selalu mengajakku ke toko permen.”

“Ayolah Jae In,” Jungkook meraih tangan Jae In, dan Jae In melepaskannya.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau merubah tempat kencan kita!” Jae In bersikeras. Walaupun itu terdengar bodoh, tapi itu memang benar, bagaimana bisa Jungkook selalu mengajaknya ke tempat yang sama selama dua puluh delapan kali berturut-turut.

Jungkook hanya diam, entah berpikir tentang apa.

“Kenapa diam saja? kau tidak bisa merelakan surga kecilmu itu? jadi kau lebih memilih toko permen sekarang, huh?”

Jungkook kembali diam berusaha mencari kata-kata yang tepat di dalam otaknya.

“Ok! Sekarang kita putus.”

“A-APA?! PUTUS?!” Jungkook terkesiap. Demi Spongebob yang tinggal di bikini bottom, apa yang baru saja Jae In katakan?

Jungkook berusaha tertawa— menganggap kata-kata itu hanyalah sebuah candaan di siang bolong. Sekali lagi dia dia mengambil tangan Jae In namun Jae In menahannya.

“Kau tidak dengar, hah?”

“Tidak!”

“Baiklah, kalau begitu lupakan!”

“A-apa?!” Jungkook tak percaya. “Ya—“ sebelum ia melanjutkan kata-katanya Jae In sudah masuk ke dalam rumahnya, menutup pintunya rapat-rapat begitu juga dengan tirai jendelanya.

Awalnya Jungkook punya pacar, tapi sekarang status itu berubah menjadi mantan pacar. Jungkook putus dengannya hanya karena masalah permen! Ya, Jae In memutuskannya hari anniversary mereka yang ke satu tahun.

Kini ia hanya bisa melihat semua gantungan itu menjadi pajangan semata di toko permen.

Ia sudah menyiapkan semuanya. Spanduk bertuliskan, “I LOVE U JAE IN”, beberapa foto mereka berdua yang berukuran besar, barang-barang kesukaan Jae In, dan permen-permen yang di desain khusus berbentuk orang  yang mirip dengan mereka berdua.

Yang paling ia ingat, di atas langit-langit toko itu ada sebuah Spanduk berukuran besar dengan sebuah tulisan disana, dan ketika pelayan toko menarik talinya maka yang akan terlulis adalah..

“Will You Marry Me?”

Semuanya kini hanyalah kenangan. Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan kini terasa seperti hari kiamat bagi Jungkook ketika Jae In memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jungkook.

“Maaf Jungkook, jika kau tidak keberatan, kami akan menurunkan spanduk itu.” kata D.O – Pemilik toko permen.

“Terserahlah,” desah Jungkook merasakan bahunya melorot. Rasanya ia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melangkahkan kakinya. “Lagi pula kami sudah putus.”

“Aku turut sedih, kawan.” D.O menepuk bahu Jungkook prihatin

Jungkook hanya tersenyum samar. Apa artinya hidup jika tanpa Jae In? Jae In adalah segalanya melebihi jutaan permen dengan rasa paling langka di dunia ini. Senyuman Jae In mengalahkan permen-permen D.O yang sangat manis, dan kadang ia berpikir untuk diet melihat senyuman Jae In, karena bisa-bisa saja Jungkook mengidap diabetes karena senyuman Jae In yang manis.

Dia patah hati. sangat parah.

Dan rasanya permen-permen D.O tak semanis yang ia pikirkan. Semuanya terasa hambar di lidahnya, dan mungkin menjadi pahit.

Ia tahu, hidupnya tak akan semanis dulu lagi ketika ia sadar suatu kenyataan bahwa Jae In meninggalkannya.

Ia hanya bisa mengulum lolipop kesukaannya yang kadar gulanya melebihi batas normal. Permen itu adalah permen khusus buatan D.O untuk Jungkook, karena Jungkook suka manis. Lima detik pertama tidak ada keluhan, tapi detik berikutnya.

“ASTAGA D.O! JANGAN KATAKAN KAU LUPA MENARUH GULA!” Pekik Jungkook saat ia merasakan ada yang aneh dengan campuran permen kali ini.

Bukan, bukan permennya yang salah, tapi Jungkook. Bagaimana mungkin D.O lupa!

D.O turut prihatin, itu terlihat jelas diwajahnya. “Kawan,” D.O menepuk bahu Jungkook. “Kau masih sakit hati rupanya.”

“Apa?” Jungkook menoleh tak percaya. “Sakit hati kau bilang? Mana mungkin aku sakit hati.” elaknya.

Dia bohong.

Dia berpura-pura baik-baik saja di depan D.O, tapi hatinya tak bisa berbohong, dan itu tergambar jelas diwajahnya. Hari ini dia telah menghabiskan 7 biji permen berukuran besar dengan kadar gula super manis, dan sesekali air matanya jatuh di pipinya tanpa sadar.

Ia ingat betul, dulu ibunya pernah bilang kalau Jungkook sedih, maka ia harus membeli permen dan itu selalu manjur. Jungkook bisa melupakan kesedihannya, tapi sekarang berbeda. ia sakit hati dan ia sadar—sekalipun ia memakan semua permen yang ada di toko D.O maka tak akan lagi mempan untuk mengobati sakit hatinya.

“Dengar, Jungkook,” D.O menepuk bahu Jungkook. “Kesempatan tidak pernah datang dua kali. Kalau kau mencintainya, maka katakanlah  begitu sebelum semuanya terlambat.”

Awalnya dia baik-baik saja.

Berpapasan dengan mantan kekasihnya ketika di koridor kampus, tak masalah baginya. Hari-hari mereka pun menjadi terlalu biasa, dan tak ada yang spesial selain bertatapan beberapa detik ketika bertemu. Tak ada sepatah kata, maupun sapaan. Semuanya terlalu biasa.

Dia bisa melawatinya. Jungkook bisa.

Namun itu semua tak berlangsung lama ketika Jungkook sengaja mendengar pembicaraaan Jae In dengan seorang namja kalau tidak salah Jae In memanggilnya dengan sebutan ‘Hunnie’

Hunnie?

Jungkook tertawa namun tawanya terdengar lebih mirip seperti desahan kesal. “Hunnie?! Siapa lagi dia itu?” tanya Jungkook dalam hati.

“Pulang bersama?” tanya Jae In

Jungkook semakin mempertajam indra pendengarannya. Ya, sepertinya bersembunyi di balik loker adalah tempat yang tepat.

“Errr, itu sih kalau kau tidak keberatan.” Namja itu tampak malu-malu saat mengucapkannya. “Kau tidak keberatan, kan?”

Jae In tersenyum.

Jae In, kenapa kau tersenyum pada namja itu? batin Jungkook, sepertinya mulai geram.

“Aku anggap itu ‘iya’”

YAK! SEJAK KAPAN JAE IN BILANG,IYA?!

Kemudian namja yang dipanggil Jae In dengan sebutan Hunnie itu tersenyum manis kepada Jae In, membuat Jungkook ingin sekali melemparkan isi lokernya ke kepala namja itu.

Jungkook seharusnya tidak perduli dengan apa yang dilakukan namja itu saat menatap mata mantan kekasihnya, hanya saja ia tidak suka kalau namja itu dekat-dekat dengan Jae In.

Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba namja itu berhenti, begitu juga dengan Jae In. Ia terlihat menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kata-kata yang tepat di dalam otaknya, kemudian berkata, (jangan lupa kalau namja itu juga memegang tangan Jae In) “Saranghae Jae In. Kau mau jadi pacarku?”

APA?

Tanpa sadar Jungkook keluar dari persembunyiannya, tak perduli jika Jae In menanyakan dari mana dia datang, ia berjalan secepat yang ia bisa kemudian secara sengaja lewat di tengah-tengah mereka dan memblokir pandangan Sehun. “… A-apa yang baru saja kau katakan?” kata Jungkook dengan nada tinggi.

Sehun hanya diam, tidak mengerti kenapa Jungkook memblokir pandangannya.

“Kau siapa?” tanya Sehun bingung. Tidak heran karena dia merupakan mahasiswa baru.

Jungkook hendak mengangkat suara, ketika ia teringat sesuatu.

Jae In telah memutuskannya. Sekarang dia hanya mantan.

HANYA MANTAN! INGAT ITU JUNGKOOK!

“E-eh.. aku… aku…” Shit! Kenapa ia bisa kehilangan suara disaat seperti ini. Ia melihat tangan Jae In kemudian meraihnya. “Dia pacarku! Memangnya kenapa?”

Apa?

Jae In tampak shock, begitu juga dengan Sehun.

“Jangan pernah sekali-kali kau katakan itu lagi jika kau masih ingin gigi-gigi mu itu lengkap!”

Wow, Jungkook, kau sadis!

Detik kemudian Jungkook menarik tangan Jae In meninggalkan Sehun yang tampak masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Jae In melepaskan tangannya secara paksa.

“Hya! Kau mau membawaku kemana, eoh?”

Tanpa berpikir panjang ia berkata. “Kita akan pergi kencan! Wae?! Tidak suka, tidak mau, atau pergi, aku tidak ingin kau mengatakan salah satu dari kata tersebut, titik!”

Dan sebelum Jae In berkata lagi, Jungkook sudah siap dengan motor sportnya. “Cepat naik!” perintah Jungkook setengah memaksa.

“Ak—“

“Aku tidak mau dengar kau mengatakan salah satu dari kata tadi.” Jungkook bersikeras.

Akhirnya Jae In menyerah dan naik motor Jungkook entah Jungkook ingin membawanya kemana, dan yang ada dipikirannya adalah toko permen… dimana lagi kalau bukan disitu. Tapi Jae In salah ketika Jungkook melajukan motornya tanpa berhenti di toko permen saat mereka melewatinya.

“Jungkook, sebenarnya kau mau membawaku kemana?”

Jungkook hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. Sorot matanya yang tajam secara tidak langsung mengatakan kalau ia tidak suka dengan kejadian tadi, tapi Jae In menyadari bahwa dibalik sikap Jungkook yang begitu dingin tadi—terselubung kehangatan di dalamnya dan Jae In bisa merasakan itu.

Jungkook berbelok beberapa kali sebelum akhirnya ia memberhentikan motornya di pinggir pantai.

Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti suasana sore itu. matahari yang mulai tenggelam membuat kencan kali ini terasa sangat berbeda dari yang sebelumnya.

Jungkook melepaskan sepatunya dan berjalan ke bibir pantai, begitu juga dengan Jae In. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum mereka memutuskan untuk berbicara.

“Eh,” kata mereka bersamaan. Jungkook tersipu, begitu juga dengan Jae In.

“Kau duluan.” Kata Jungkook.

“Tidak, kau saja,” sela Jae In.

Jungkook menghela napas. Matahari semakin tenggelam dan kala itu Jungkook membiarkan rambutnya tersibak angin, dan Jae In sadar kalau Jungkook terlihat 10x lebih tampan dibanding sebelumnya dengan sikapnya yang tegas.

“Maaf,” kata Jungkook. Dari sorot matanya tersirat penyesalan. “Tak seharusnya aku mengajakmu kencan di toko permen, kau tahu, aku tidak romantis dan tidak begitu tahu dengan tempat-tempat kencan yang kau sukai.”

Jae In menggeleng penuh penyesalan, dan tiba-tiba saja memorinya mengulang kembali adegan dimana ia memutuskan Jungkook secara sepihak hanya karena ia tidak ingin berkencan di toko permen kesukaan Jungkook. “Tidak, Jungkook.”

“Dulu aku pikir semuanya baik-baik saja, Jae In. Tapi aku salah, semuanya tidak baik-baik saja. tidak perduli berapa banyak permen yang kuhabiskan selama sehari, karena semuanya hanya akan terasa hambar.” Jungkook merasakan bahunya melorot dan tak sanggup lagi berdiri hingga akhirnya dia memutuskan untuk duduk diatas pasir sambil memandang kedepan.

Jae In menghela napas dan mengambil posisi yang sama di samping Jungkook.

“Aku pikir kau lebih menyukai, permen-permen itu daripada aku.” gumam Jae In pelan.

Jungkook memandang Jae In. “Aku memang suka permen, tapi apakah permen bisa menggenggam tangan, atau apakah permen bisa memelukku ketika aku sedih? Oh tidak, Jae In! Satu-satunya yang bisa melakukannya hanya kau. Dan hal itu tak bisa dilakukan oleh sebungkus permen. Damn it!” Jungkook menegaskan.

“Maaf,” gumam Jae In. Betapa bodohnya ia mengira Jungkook lebih mementingkan permen-permennya dibandingkan dengan dia. “Jadi—“ Dia menggantungkan kata-katanya. “Apa kita pacaran?” tanya Jae In ragu

“Tidak.” Jungkook menjawab dengan cepat, dan sebelum Jae In sempat berkata lagi, Jungkook sudah memblokir pandangannya dengan sebuah permen lolipop warna-warni berbentuk hati.

Dan saat itu ia sadar, kalau disana tertulis…

Will U Marry Me?

Jungkook masih memegang lolipop itu, namun dua detik kemudian ketika Jae In hendak mengambilnya, Jungkook melonggarkan pegangannya dan sebuah cincin terjatuh tepat dari permen tersebut menuju tangan mungil Jae In.

Jae In tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, ia bahkan tak bisa mengungkapkannya dengan sepatah kata. Memang, Jungkook tidak membuat sebuah baliho atau semacamnya untuk melamar Jae In, Jungkook juga tidak memberikan Jae In surprise dengan datang di kampus sambil membawa tulisan-tulisan manis untuk melamarnya.

Hanya sebuah permen, dan ia sadar kalau semuanya lebih dari yang ia bayangkan. Lebih manis dari permen termanis yang pernah ia rasakan.

Hanya sebuah permen yang mengungkapkan perasaan Jungkook.

Jungkook menunggu beberapa detik ketika Jae In akhirnya mengangguk terharu dan menghambur ke pelukan Jungkook.

“Sangat manis Jungkook,” gumam Jae In terharu dan Jungkook mengakhiri hari itu dengan sebuah ciuman manis di bibir mungil Jae In

END

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s