AIRPLANE – Part 4

airplane

AIRPLANE

Title : Airplane

Scriptwriter : BBYWIND

Main Cast : Kim Hanbin [iKON] Lee Seo-a [OC]

Genre : Vulnerable

Rating : General

Summary :

Maafkan aku, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai seorang teman. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mencintaimu. Maafkan aku, karena tak bisa menghilangkan perasaan lebih padamu.”

Disclaimer : I just own the poster and storyline.

Part 1Part 2Part 3 – Part 4

 

Aku berlalu begitu saja setelah membayar uang taksi tanpa menerima kembalianku. Shit, aku lupa memakai jacket, pantas saja dari tadi aku merasa kedinginan. Ah sudahlah, yang penting adalah menemukan Seoa sekarang.

Aku berlari masuk kedalam area bandara. Sepi. Itu yang aku hadapai sekarang. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang. Aku sejenak mengamati papan pengumuman keberangkatan, dan untungnya pesawat Seoa belum berangkat. Oh tuhan, aku mohon sempatkan aku bertemu dengan Seoa, atau setidaknya bertatap muka dengannya.

Aku menyusuri setiap sudut bandara dengan hati yang tak keruan. Ingin rasanya aku berteriak, tapi aku tak ingin mengundang perhatian. Aku terus berlari mencari keberadaan Seoa. Langkahku terhenti setelah mendengar pengumuman bahwa pesawat tujuan Swedia akan segera berangkat.

Mataku menangkap beberapa orang yang berjalan masuk menuju area dalam bandara. Aku mengamati setiap wajah orang-orang itu. Dan aku menemukan Seoa disana, dengan pakaian tebal sebuah tas dan sebuah koper besar sedang berjalan masuk ditengah penumpang lain. Tanpa dikomando kakiku langsung melangkah menuju orang yang masih tertangkap oleh pupil mataku saat ini.

Aku berusaha menerobos kerumunan orang itu, tapi nihil. Aku tak menemukan sosok yang sedari tadi ada dalam pandanganku. Aku mengedarkan pandanganku, dan menemukan Seoa telah masuk kedalam area bandara. Punggungnya semakin tak terjangkau oleh areal pandangku. Aku hanya bisa menatapnya. Tubuhku seakan mati rasa. Aku hanya bisa mematung mendapati punggung Seoa tak lagi terlihat.

Pandanganku terkaburkan oleh bulir bening yang bergerumul dikelopakku. Ingin rasanya menerobos masuk, tapi sudah pasti tak bisa, ‘kan? Aku hanya bisa melihatnya dan menerima kenyataan. Tuhan memang tak mengijinkanku memiliki hatinya. Takdir kami memang hanya sebatas teman saja. Walaupun sebenarnya aku merutuki takdir ini, tapi apa dayaku? Aku harusnya lebih berani dulu, harusnya aku nekat saja dulu.

Harusnya, harusnya, dan harusnya. Itulah yang ada dalam pikiranku saat mendengar pengumuman bahwa pesawat Seoa telah take off. Kesempatanku kini hilang. Tak hanya kehilangan kesempatan, aku juga kehilangan sahabat yang sangat berharga. Hari ini benar benar menyedihkan. Sepertinya aku harus menandainya di kalender sebagai hari paling menyedihkan selama hidupku.

Harus bagaimana aku sekarang? Setelah kehilangan satu-satunya penyebab penyakit jantungku.

***

Beberapa hari belakangan kami disibukkan dengan jadwal fanmeet di luar Korea. Setidaknya dengan memperbanyak kegiatanku, aku akan sedikit melupakan Seoa. Melupakan? Bagaimana bisa? Sampai saat ini saja aku masih tak percaya ia tak berada di Korea. Miris rasanya setiap melihat ruangan tempat seoa berlatih yang selalu sepi. Lampu yang selalu berpendar sampai malam kini tak lagi aku dapatkan. Aku mencoba sekuat mungkin untuk tak lagi memikirkannya, tapi rasanya sia-sia saja. Aku masih tak bisa melepaskan bayangan Seoa dari benakku. Aku bahkan masih menggunakan foto gadis itu sebagai wallpaper ponselku.

“Hanbin-a.”

Rasanya suara Seoa yang memanggilku itu terus terngiang dalam telingaku. Aku merindukannya. Sosoknya dan semua yang ada dalam dirinya. Bahkan aku merindukan kata-kata kasarnya. Aku semakin gila akan dirinya setiap hari. Semakin aku mencoba menyudahinya, semakin aku memperkuat kenangan bersama dirinya. Membuatku ingin mati saja.

“Hanbin-a. Hanbin-a! Hanbin-a!! Apa kau mulai tuli? Ha?!”

Suara melengking bobby hyeong mengembalikan jiwaku yang entah kemana. Aku memejamkan mataku, mencari lagi kesadaranku yang rasanya telah hilang, digantikan alam bawah sadarku. Lama-lama aku bisa benar-benar gila jika terus seperti ini.

“Aku masih sehat, hyeong. Kenapa?”

“Ini waktunya makan. Anak-anak sudah menunggu.”

“Kalian duluan saja. Aku masih ingin menulis ini. Sedikit lagi selesai. Nanti aku menyusul.”

“Awas kalau kau tidak makan lagi. Sudah dua hari ini kau melupakan makan siangmu. Jangan buat aku menyuapimu.”

Bobby hyeong keluar meninggalakanku bersama secarik kertas dan sebuah bolpint ditanganku. Akhir-akhir ini aku terlalu sering menulis lagu sedih. Sulit rasanya menemukan feeling untuk menulis lagu ceria.

Aku menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhku pada kursi. Menopang kepalaku dengan kedua tanganku. Aku menatap langit-langit. Kosong. Hampa. Aku memejamkan mataku, dan lagi-lagi bayangan wajah itu yang selalu muncul. Ada apa denganku ini? Aku harus bisa mengendalikan diriku. Aku harus bertahan. Bertahan? Omong kosong apa lagi ini? Selalu saja aku membohongi diriku sendiri.

“Hanbin-a! Makan!!”

Hyeong! Makan!!”

Teriakan anak-anak membuatku menyerah. Setidaknya aku harus bertahan hidup. Aku masih punya mereka, meskipun hatiku masih saja terasa hambar. Tapi aku menyayangi mereka. Lagipula Seoa bukannya meninggal, ia hanya sedang berpergian. Dia akan kembali , ‘kan? Dia tak mungkin sejahat itu meninggalkanku tanpa berpamitan. Setidaknya aku ingin mempercayainya. Aku ingin percaya bahwa suatu saat nanti gadis itu akan kembali.

***

Malam berganti, tapi aku masih berada disini, bersama setiap kenanganku bersamanya. Tak ada satupun yang aku lupakan, kecuali satu, kenyataan bahwa ia sudah tak lagi disisiku. Aku membenci diriku sendiri yang masih tetap berada ditempat yang sama. Harusnya aku bergerak cepat agar aku tak punya penyesalan seperti ini. Cintaku tak berbalas, bahkan aku belum sempat mengungkapkannya. Cintaku ini benar-benar konyol.

Tidak semua cinta itu berbalas. Itu yang aku pelajari selama beberapa bulan ini. Kenyataan bahwa aku tak lagi bersama Seoa, membuatku sadar bahwa sesuatu yang kita miliki bisa hilang begitu saja. Seharusnya aku bisa lebih siap. Seharusnya aku menyiapkan bekal sebelum melewati keadaan ini. Sudahlah, lupakan.  Aku juga tak mengerti apa yang sedang aku bicarakan kali ini.

Debutku sudah dimulai. Berbagai kegiatan memenuhi jadwalku. Aku tak lagi punya kesempatan untuk mengenang kembali masa laluku. Hanya hampa yang aku rasakan setiap kali berada di ruang latihan. Biasanya gadis itu sudah berkeliaran disini. Mengobrol bersama member lain atau sekedar duduk-duduk melihat kami berlatih disela-sela latihannya.

“Hanbin hyeong, nyalakan musiknya, apa yang kau lakukan sebenarnya? Apa kau sudah kehilangan kesadaranmu? Sebesar itukah Seoa noona mempengaruhi kerja otakmu?”

Chanwoo terkekeh dibelakang sambil masih mengejekku, membuatku melempar tatapan tajam padanya. Ya, kini Chanwoo menjadi magnae di team B kami, ah bukan lagi team B tapi di iKON. Seperti prediksi Seoa saat pertama kali melihat Chanwoo. Aish, Chanwoo, anak itu, bagaimana bisa dia menjadi magnae kami? Dan bagaimana bisa magnae sekurang ajar itu pada hyeong-hyeong­nya?

“Ya, Jung Chanwoo. Lama-lama aku bisa jatuh cinta padamu.”

Aku terkekeh diikuti member lain. Aku sudah bisa tertawa sekarang. Jangan tanya kenapa. Jika kalian berada di team ini kalian pasti tak akan bisa menyembunyikan tawa kalian. Sungguh. Coba saja. Aku bertaruh ketampananku, kalian pasti akan menjadi gila.

***

Aku semakin sibuk tiap hari, kadang membuatku lupa bahwa Seoa tengah berada di Swedia. Ingin rasanya segera melakukan tour sehingga aku bisa pergi ke Swedia dan bertemu Seoa.

“Aku merindukan Seoa noona.”

Celetuk Donghyuk tiba-tiba, ditimpali anggukan Junhoe dan Chanwoo disampingnya.

“Aku merindukan senyumannya.”

Jinhwan hyeong ikut nimbrung sambil meminum jus dalam botol ditangannya. Kenapa dengan mereka semua? Aku bahkan tak pernah menyebutkan namanya disela-sela latihan seperti ini. Kenapa mereka justru membahasnya sekarang?

Aku hanya melengos ketika mereka mulai asyik bernostalgia dan menceritakan ini-itu tentang Seoa. Aku lebih memilih menyingkir daripada harus meneteskan lagi air mata yang sudah mengering rasanya.

“Aku pergi sebentar.”

Pamitku sebelum beranjak dari kerumunan pemuda gossip itu. Dibalas dengan anggukan dan mengingatkan bahwa kami punya jadwal jadi aku harus kembali 30 menit lagi.

Aku berjalan menyusuri tangga menuju atap gedung, tempat yang sudah lama tak aku kunjungi setelah Seoa pergi. Aku hanya tak ingin menyesali perbuatanku lagi. Decitan terdengar saat pintu terbuka. Sofa tua yang dulu sering kami gunakan masih berada ditempatnya. Aku duduk di sofa kemudian menyandarkan tubuhku.

Tidur ditempat ini mengingatkanku pada Seoa. Jujur aku belum bisa melupakannnya sampai saat ini. Aku juga tak lagi berusaha untuk menguncinya pun menghapusnya dari memoriku. Biarkan saja takdir dan waktu yang menentukannya. Tak lagi berharap banyak pada gadis itu. Aku hanya ingin melihatnya lagi, sehari saja, ah tidak, semenit pun cukup.

Aku tengah merapikan sofa saat melihat secarik kertas disela-sela pojok sofa. Kertas itu mulai usang. Aku membuka lipatannya dan menemukan tulisan disana. Tulisan itu sudah mulai tak terlihat jelas, tapi aku yakin itu adalah tulisan Seoa. Well, aku sudah sering melihat tulisan dan gaya menulisnya selama bertahun-tahu, bodoh jika aku sampai melupakannya. Aku yakin itu tulisan tangan Seoa.

Hanbin-a

Jika kau membaca surat ini, berarti aku telah pergi jauh dari korea. Aku berharap kau tidak akan menemukan kertas bodoh ini. Tapi aku juga tak ingin kau terus bersedih karena aku.

Hey, Kim Hanbin. Aku tahu aku pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi jangan marah padaku. Aku hanya tak sanggup mengatakannya padamu. Lagipula aku masih berharap suatu saat nanti aku akan kembali.

Aku membaca surat itu dengan seksama. Setiap larik tanpa satupun aku lewatkan. Mataku tertuju pada setiap baris tulisan yang makin memudar itu. Tulisan tangannya makin goyah. Itu yang aku yakini saat membaca baris keempat dari awal surat.

Hanbin-a

Maafkan aku. Seharusnya aku jujur padamu dari pertama aku mengetahui kenyataan ini. Tapi aku tak ingin menambah bebanmu. Aku harus menghentikan kegilaanku, Hanbin-a. Aku tak bisa menjadi dancer lagi. Sesuatu terjadi pada tungkaiku. Aku harus berhenti dan aku harus mengobati penyakit bodoh ini. Jadi aku harus pergi.

Maafkan aku. Karena aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal. Aku terlalu larut pada emosiku. Aku takut aku akan goyah karenamu, Hanbin-a. Kau adalah satu-satunya sahabat yang paling mengerti aku di dunia ini. Aku sebenarnya tak ingin perpisahan ini terjadi, tapi aku harus.

Aku benar-benar marah kali ini. Bagaimana bisa Seoa menyembunyikan hal yang besar seperti itu? Apapun alasannya, seharusnya dia memberitahuku jika ia benar menganggapku sahabat terbaiknya. Aku harap ia baik-baik saja saat ini. Gadis itu benar-benar tau caranya membuat orang lain khawatir.

“Seoa-a, kau akan baik-baik saja, ‘kan? Jangan buat aku semakin menyesal, cepatlah sembuh dan cepatlah kembali, Seoa-a.”

Sesalku muncul kembali. Bukan sesal karena tak mengungkapkan perasaanku, tapi sesal karena tak menyadari perubahan pada Seoa. Bagaimana bisa gadis itu sakit tanpa memberitahu apapun padaku?

Aku kembali meneruskan membaca surat Seoa.

Satu lagi. Aku tahu apa yang kau katakan di air mancur saat itu. Jangan pernah mencoba untuk mengutarakannya lagi, Hanbin-a. Aku tak mau membuat karirmu terhambat karenaku. Aku juga tak mau jadi bahan bully-an fans mu nantinya. Cukup saja kita jalani apa yang ada didepan kita saat ini. Aku menyayangimu, Hanbin-a. Tapi aku hanya ingin hubungan kita cukup sebagai sahabat saja saat ini. Biar nanti waktu dan takdir yang menjawab. Jika kita ditakdirkan bersama, mengapa tidak?

Cukup panjang lebarku kali ini. Semoga bisa membuatmu sedikit menghilangkan rasa rindumu, karena aku yakin kau merindukanku, sama seperti aku merindukanmu. Sampai jumpa lagi, sahabat jelekku. Jangan pernah bersedih ataupun menyesal setelah membaca surat ini, atau kau akan menerima pukulanku nanti. Aku menyayangimu, Kim Hanbin.

Begitulah surat itu berakhir. Dan beginilah aku berakhir. Air mataku mengalir begitu saja. Tapi tunggu, dia bilang mengetahui perkataanku padanya di air mancur? Itu berarti cintaku ditolak? Astaga gadis itu, berani-beraninya dia menolak cinta seorang Kim Hanbin yang berkharisma ini?

Aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Setelah membaca surat ini, aku yakin dia baik-baik saja. Tapi maafkan aku, Seoa-a. Sepertinya aku tak bisa dan tidak akan pernah bisa menganggapmu sebatas seorang sahabat. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku mencintaimu.

Maafkan aku, karena tak bisa menghilangkan perasaan lebih padamu. Mungkin butuh waktu. Tapi aku akan mencoba untuk tetap bersikap biasa setelah penolakanmu kali ini. Semoga kita bisa bertemu lagi, Seoa-a. Sebagai seorang idola dan seorang dancer suatu hari nanti.

Aku menatap langit yang mulai menguning. Mengingat kembali masa-masa saat aku masih bersama Seoa. Kedua ujung bibirku seakan ditarik saat mengenangnya. Ternyata begitu banyak kenangan indah diantara kami. Jadi untuk apa aku terus menyesal, toh selama ini aku berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya bahagia.

“Walaupun malam terus berganti, aku tak akan pernah berubah. Hatiku akan tetap disini, Seoa-a.”

Aku melipat kembali kertas di tanganku kemudian menyimpannya didalam dompetku. Keluar dari zona nyamanku, aku kembali kedalam rutinitasku. Ah tidak, sebenarnya pekerjaanku adalah zona nyamanku. Zona dimana aku bisa sedikit melupakan kepergian Seoa.

***

Setahun berlalu dari awal debutku. Aku kembali menjadi Kim Hanbin yang dulu. Kim Hanbin yang maniak latihan. Aku ingin menghargai hidupku, lagipula diluar sana Seoa juga tengah berusaha agar bisa kembali berlatih dance seperti dulu. Kami sama-sama berusaha meraih bintang kami. Meski aku sudah berjalan lebih dulu darinya, tapi aku tetap disampingnya untuk terus mendukungnya. Walaupun aku tak berada disampingnya dalam arti sebenarnya. Tapi setidaknya aku selalu menyelipkan namanya dalam setiap doaku.

“Hanbin hyeong!”

Lengkingan Junhoe mengembalikan kesadaranku. Aku tersenyum padanya, kemudian beranjak dari tempat duduk. Waktunya untuk rehealsal fanmeet iKONTACT di Gangnam.

Aku benar-benar antusias setiap kali kami melakukan fanmeet. Bertemu dengan fans, bertatap muka dengan mereka, berkomunikasi langsung dan saling mengakrabkan diri dengan keluarga baru kami menjadi rutinitas yang selalu aku tunggu-tunggu.

Aku mengambil mic yang terletak dimeja kemudian membalikkan badanku. Aku hendak melangkah sebelum melihat seseorang diambang pintu. Seseorang yang tak lagi asing bagi kedua mataku.

Kedua pupilku menangkap sosok yang berdiri dengan anggunnya. Membuat kedua mataku terbelalak tak percaya. Sosok gadis itu tersenyum manis. Semuanya berubah, kecuali wajahnya. Gaya rambut sampai gaya berpakaiannya berubah. Tapi aku tak melupakan wajah itu, juga senyum manisnya.

“Lee Seoa?”

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s