Amato (Part 6)

amato

Title: Amato chapter 6

scriptwriter:

Main Cast:

  • Oh Sena
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Shin Chanmi

Support Cast: find by your self

Genre: Romance, family life, comedy

Duration: chapter

Rate: pg 15

Previous part: 1 / 2 / 3 / 4 / 5

Chanyeol pov

              Aku melihat banyak orang di ruangan ini. Para kolega appa, teman kantorku maupun teman kantor tempat Noona bekerja. Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam. Ku teruskan langkah kakiku berat menuju ruang penghormatan terakhir untuk appa. Eomma, Noona, dan istriku berada disana. Ya, aku benar-benar tak tahan lagi melihat semua ini. Bahkan ini bukan mimpi. Jadi bolehkah aku menangis sekarang? Kulakukan penghormatan terakhirku pada Appa. Isak tangis Eomma dan Noona disebelahku benar-benar membuatku semakin terlarut dalam tangisku. Kutatap foto Appa yang sedang tersenyum disana. Seketika teringat semua pembangkanganku terhadapnya selama ini. Betapa aku selalu membuatnya sulit dan sering melawan apa yang diinginkannya. Kurasakan ada tangan yang mengelus pundakku lembut. Aku tahu ini tangan Sena, sedari aku datang, dialah yang menenangkan eomma dan Noona. Kutatap dia sekilas.

              “aku kedepan untuk melayani tamu didepan. Sehun pasti kewalahan. Kau bias kan menenangkan eomma dan Eonni?” kuanggukan kepalaku dan mengalihkan kembali pandanganku pada foto Appa.

              Entah ini sudah jam berapa dan aku masih berada disini. Kulihat eomma dan Noon mulai menghentikan tangisnya. Mereka terlarut dalam diam sambil menyandarkan kepalanya pada dinding yang dingin. Yah, malam ini terasa begitu dingin dari malam biasanya. Karena sang penghangat keluarga ini telah tiada. Tamupun juga tak ada lagi yang memasuki ruangan ini. Kuputuskan untuk ke ruang depan tempat Sena, Sehun dan ibu mereka menjamu para tamu. Seperti dugaanku tamu di ruangan inipun hanya tinggal beberapa saja. Sena dan Sehun sibuk membereskan mangkuk-mangkuk dan botol minuman yang berserakan. Sedangkan ibu mereka duudk sambil memangku Queeni yang tertidur pulas. Benar, aku melupakan keponakanku satu-satunya itu. Betpa aku berhutang budi pada keluarga istriku ini. Sena melewatiku begitu saja dengan membawa beberpa botol minuman kosong. Entah dia melihat keberadaanku atau tidak yang jelas aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya. Saat dia kembali melewatiku dan tetap tak menyadari keberadaanku, kutarik tangannya dan memeluknya erat.

              “ kau tidak merindukanku?”

              “ eoh..” jawabannya menggantung dan dia juga tidak membalas pelukanku. Padahal aku yakin sekali terakhir kita berkomunikasi melalui telpon, dia menangis karena merindukanku.

              “ yak, apa kalian sedang syuting drama korea? Cepat bereskan ini dan pulang. Kalian ingin keponakan kalian sakit karena tidur ditempat seperti ini?” serentak kulepaskan pelukanku dan menatap gugup kea rah Sehun yang tengah mendengus kesal menatap kami.

              Kugendong Queeni dari pangkuan ibu Sena. Sedangkan sena menggandeng eomma dan Noona menuju mobil. Sehun memutuskan untuk mengantar ibunya pulang menggunakan motornya. Hingga kita berpisah ditempat parkir ini. Setelah sampai dirumah, kubawa Queeni ke kamar Noona dan Sena menemani Eomma ke kamarnya. Kulihat han Ahjumma sibuk membawakan barang Appa selama dirumah sakit sebelum akhirnya meninggal tanpa aku disampingnya. Diruang tamu ini, aku berdiri tepat didepan foto keluarga kami. Appa, eommam Noona dan aku yang sewaktu itu baru saja lulus dari universitas. Appa tersenyum dengan wibawanya. Tiba-tiba kurasakan lengaku dipeluk oleh seseorang.

              “ kau merindukannya?”

              “ eoh”

              “ ini belum seberapa. Kau akan lebih merindukannya ketika semakin lama kau tidak bersamanya. “

              “ aku hanya menyesal.”

              “ wae?”

              “ aku selalu membangkang dan tidak pernah membahagiakannya.” Sial, air mataku menetes lagi.

              “ ya, kau memang pembangkan dan menyebalkan. “ kutatap istriku dengan tatapan tajam.

              “ wae? Aku mengatakan hal sebenarnya. Kau sering membuatnya marah, Appa sendiri yang mengatakannya padaku. Dia benar-benar membencimu. Aku yakin sekarang dia mengutukmu di surga sana. “ kulepaskan tangannya yang melingkar di lenganku dengan kasar.

              “ tapi dia juga sering bercerita padaku bahwa dia bangga denganmu. Begitu bangganya dia padamu hingga menceritakan kisahmu padaku dengan menggebu-gebu. Bahwa kau selalu berada di peringkat pertama ketika disekolah dan lulus diuniversitas dengan nilai tinggi. Lalu kerja di tempat yang keren tanpa bantuan Appa sama sekali. Dia begitu membanggakanmu, Chanyeol-ah. Dan juga…” kutatap Sena penasaran.

              “ terakhir aku mendengar ceritanya tentangmu. Dia…” air mata Sena mulai menggenang.

              “ dia mengatakan sangat bahagia ketika kau mulai berubah baik padaku.” Air matanya benar-benar jatuh melewati pipinya.

              “ kau seharusnya bersyukur. Setidaknya kau pernah membahagikan Appa sebelum dia pergi. Tidak sepertiku. Bahkan wajah Appaku saja aku tidak tahu. Jadi kau tidak perlu menyesal lagi. Kau tahu, jika kau terlalu bersedih sekarang, Appa pasti akan sangat marah disana. Aku yakin dia menginginkanmu menjadi pria kuat yang  akanselalu meindungi Eomma dan Eonni. Berhentilah menyesal dan berubah menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya. Kau tidak boleh menyesal dan bersedih lagi…” Sena semakin terisak dalam tangisnya. Aku tersenyum melihatnya. Betapa Appa memilihkan istri yang unik untukku. Dia mencoba menenangkanku dan melarangku bersedih tapi dia sendiri seperti ini.

              “ kau tersenyum? Apa ada yang lucu?” dia melotot kearahku.

              “ jika kau ingin menenangkan seseorang, tenangkan dulu dirimu. Lihat. Ingusmu mulai keluar dan ada dimana-mana. Benar-benar menjijikkan.”

              “ yak!! Leluconmu benar-benar tidak lucu park Chanyeol!!” dia berlari menuju kamarku sambil membersihkan ingusnya. Benar-benar menggemaskan.

Sena pov

              Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Chanyeol halmeoni. Ya, sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengannya karena dia tak datang diacara pernikahanku dengan cucunya. Terang saja, karna dia tak menyetujui pernikahan itu. Penampilannya seperti bangsawan. Aku dengar dari beberapa karyawan yang ikut di pemakaman Appa hari ini bahwa dia memang terkenal kaya dan memiliki banyak saham dibeberapa perusahaan terkenal termasuk di perusahaan tempat Yoora eonni dan Chanyeol bekerja. Namun sayangnya Chanyeol Appa tak sedikitpun diberi saham olehnya karena pembangkangan Appa yang telah menikahi Eomma. Bahkan harta dan kekayaan yang Appa miliki sekarang menurut supir kim hasil keringat Appa sendiri yang bekerja sama dengan temannya yang tak lain adalah Appa dari presdir Park, atasa Chanyeol.

              Hatiku semakin berdegup kencang ketika Halmeoni semakin mendekatiku dan menataku tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tiba-tiba kurasakan tangan Chanyeol menggenggamku erat. Kutatap wajahnya yang sedang menatap halmeoni yang berada tepat didepan kami.

              “ jadi ini istrimu?” Chanyeol tak menjawab. Aku hanya menduduk dan semakin mngeratkan genggaman tanganku pada tangan Chanyeol.

              “ kita belum berkenalan bukan, Oh Sena.” Ku dongakkan kepalaku memberanikan diri menatapnya karena telah mengetahui namaku. Lalu menunduk dan menganggukan kepalaku. Entahlah aku rasa suasan seperti ini seperti ketika aku baru pertama kali mengenal Chanyeol. Benar, Chanyeol yang dulu aku kenal mirip dengan Halmeoni.

              “ tidak ada yang perlu kalian bicarakan. Kajja.” Chanyeol menarikku untuk pergi dari tempat itu. Aku masih tetap dalam diamku sampai Chanyeol menyalakan mesin mobil hendak pulang.

              “ Chanyeol-ahh…”

              “ jangan katakan apapun. Aku sedang tidak ingin berbicara.” Kurapatkan mulutku dan menatap keluar jendela mobil. Aku tahu Chanyeol sedang dalam suasana hati yang kurang baik. Kuputuskan untuk tidak bertanya apapun padanya.

              Kami sedang berada dimeja makan. Masih dalam suasana berduka, eomma dan Noona tak banyak berbicara. Terutama Eomma. Wajahnya yang menua namun tetap terlihat cantiknya itu semakin pucat saja. Beberapa hari setelah Appa sakit dia memang jarang makan. Hari ini pun aku membujuknya sekuat tenaga agar dia bisa berada dimeja makan ini dan makan bersama. Kursi yang biasa diduduki Appa tetap kosong. Chanyeol enggan menggantikan posisi itu karna tak tahu harus mengatakan apa pada Eomma. Hingga suara bel berbunyi dan han Ahjumma bergegas untuk membuka pintu.

              “ maaf nyonya, ada..” belum selesai Han Ahjumma berbicara kulihat seseorang dengan gaya elegannya memasuki ruang makan ini. Seketika hatiku kembali bedegup kencang. Halmeoni datang kerumah ini.

              “ wae? Kalian tampak tidak senang aku datang kemari. Bukankah ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku dirumah anakku?” kudengar Yoora Eonni mendengus kesal.

              “ silahkan duduk Eommanim. “ eomma mengeluarkan suara dan berdiri dari duduknya lalu menarik kursi untuk Halmeoni.

              “ anni, teruskan saja makan kalian. Aku aka menunggu diruang tamu.” Kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi ruang makan. Aku kembali menatap chanyeol dengan perasaan campur aduk. Aku rasa Chanyeol mengerti apa yang sedang kurasakkan. Dia menggenggam erat tanganku dan tersenyum.Setelah menyelesaikan makan, kami langsung ke ruang tamu. Chanyeol tetap , menggenggam tangaku erat hingga ruang tamu dan betapa terkejutnya kami ketika sampai diruang tamu. Gayeon. Ada gayeon disana. Duduk tepat disamping Halmeoni dengan angun dan cantik seperti biasanya.

              “ gayeon-ah..” kurasakan genggaman Chanyeol terlepas dari tanganku. Langsung kutata wajahnya yang sedang menatap Gayeon dengan terkejut. Rasanya ada yang meledak didadaku. Benar-benar sakit.

              “ annyeong, sudah lama kita tidak bertemu.” Gayeon menyunggingkan senyumnya. Senyum yang dari dulu hingga sekarang tetap manis dan semakin membuatnya terlihat cantik.

              Kami masih diam seribu bahasa.tak ada pemandangan lain yang bias kutatap selain ujung tangan yang aku mainkan untuk menghilangkan stress dalam situasi ini. Aku enggan melihat Chanyeol yang sedang menatap Gayeon.

              “ maaf karna kemarin aku tak datang di pemakaman Park ahjussi, aku baru datang dari Paris setelah Halmeoni mengabariku.” Ahh jadi selama ini Gaeyon menghilang dan pergi ke Paris?

              “ gwenchana. Kami bias mengerti” eomma bersuara

              “ Chanyeol-ah, kau tidak ingin berbicara sesuatu dengan gayeon? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu.” Jantungku kembali berdetak tidak normal.

              “ tidak begitu lama halmeoni, hanya beberapa bulan saja. Benar kan Chanyeol?” kuberanikan diri menatap Gayeon yang sedang berusaha mengajak chanyeo berbicara.

              “ eoh.” Jawab Chanyeol

              “ ahh, Sena-yah bagimana kabarmu?kandunganmu baik-baik saja?” kuanggukkan kepalaku pelan.

              “ mwo? Kandungan? Wanita ini mengandung anak Chanyeol? Benarkah?” halmeoni mulai menaikkan nada bicaranya. Lagi-lagi kutundukkan kepalaku dan menggit bibir bawahku.

              “ yak, kau hamil dengan Chanyeol bahkan ketika pernikahanmu hanya pernikahan kontol dan belum didaftarkan pada catatan Negara? Kau tidak takut sewaktu-waktu Chanyeol membuangmu begitu saja. Eoh?”

              “ HALMEONI!!” Chanyeol dan Yoora eonni berteriak serempak.

              “ sudah cukup, jika Halmeoni kemari hanya untuk membuat kerusuhan, sebaiknya halmeoni pulang. Kami masih dalam suasana berduka. Apa Halemoni tidak sedang berduka karna putra tunggal Halmeoni baru saja meninggal?” Yoora eonni berbicara sambil berdiri hendak meninggalkan ruangannya ini.

              “ woaah, jadi cucuku sekarang sedang mengusirku? Chanyeol-ahh, pikirkan baik-baik soal pernikahan konyolmu dengan wanit ini. Bukankah kau begitu mencintai Gayeon? Hanya dia wanita yang cocok untukmu. Dan Halmeoni datang kesini untuk merubah masa depanmu. “ kemudian halmeoni berdiri dan meninggalkan rumah disusul dengan gayeon yang berpamitan pada kami dan keluar mengikuti Halmeoni. Setelah mereka keluar, kepalaku berdenyut hingga rasanya ingin pecah. Dadaku sesak dan air mataku semakin mendesak ingin keluar dari pelupuk mataku. Chanyeol diam seribu bahasa sambil menatap kosong kearah pintu tempat Gaeyeon terkahir kali meninggalkan tempat ini.

              “ Sena-yya, jangan terlalu dipikirkan perkataan Halmeoni. Masuklah dan berisitirahat.” Eomma berdiri dan meninggalkan ruangan ini. Mendengar itu Chanyeol menatap kearahku.

              “ gwenchana??” ia berusaha menatap bola mataku.

              “ tentu saja.” Aku tersenyum. Senyum menyakitkan. Lalu aku berdiri dan meninggalkan ruangan ini. Aku masih memikirkan semua perkataan Halmeoni. Bagaimana tidak. Saat bertemu Gayeon Chanyeol langsung melpas genggaman tanganku. Dan hingga sekarang dia diam seribu bahasa. Eomma, aku ingin pulang segera dan memelukmu dengan erat. Rasanya sakit disini, didadaku. Kurasakan Chanyeol telah menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak menaiki tempat tidur. Aku berpura-pura tidur sambil memunggunginya. Sebenarnya aku butuh tempat untuk menangis. Sungguh aku tak dapat lagi menahan air dipelupuk mataku ini. Setelah beberapa menit kudengar chanyeol mendengkur halus. Kubalikkan badanku dan menata wajahnya yang terlihat lelah. Kurapikan rambutnya yang berantakan. Air mata ini kembali menetes. Chanyeol-ahh, aku ingin tahu apa yang sedang kau rasakan sekarang. Apa kau senang setelah bertemu cinta pertamamu kembali? Bolehkah aku cemburu dengan Gayeon? Apa kau akan benar-benar meninggalkanku? Chanyeol-ahh, aku. Benar-benar. Mencintaimu. Tak butuh waktu lama aku beranjak dari kamar ini dan pergi ke halaman depan untuk melepaskan tangisku yang sejak tadi pagi benar-benar aku tahan. aku benar-benar ingin pulang dan memeluk eomma. Ku elus perutku yang mulai membentuk gundukkan kecil ini.

              “aegy-yya, tak apa kan jika kau nanti besar tanpa seorang Appa? Eomma akan merawatmu seperti eommaku merawatku. Eoh?” tangisku pecah.

              “ Sena-yya..”

Chanyeol pov.

              Kupeluk istriku yang tidur disampingku. Tidak ada. Kubuka mataku dan menatap tempat Sena biasa tidur kosong. Kupanggil dia yang biasanya mengambil minum atau pergi kekamar mandi. Setelah tak ada jawaban kuputuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan mencarinya. Aku tak menemukannya didapur, kamar Noona ataupun kamar eomma. Mesi tak yakin kucpba mencarinya di ruang tamu dan membuka jendela hingga melihat seseorang meringkuk. Samar-samar kudengar tangisnya. Hingga kubuka pintu dan menghampirinya dan tangisnya semakin meledak tanpa menyadari keberadaanku.

              “ Sena-yya..” dia kaget dan membalikkan badan menatapku lalu secepat kita menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya.

              “ kau, kenapa?” kudekati dia yang malah berjalan mundur.

              “ anni, aku hanya… aku hanya… ingin sendiri. Kau sedang apa disini” dia berusaha tersenyum sayangnya dia tak pandai berbohong padaku.

              “ aku yang seharusnya menanyakan itu padamu. Apa kau sedang menangis disini?”

              “ anni, aku hanya sedang tidak bias tidur.”

              “ jangan bohong padaku Oh Sena!” ku naikkan nada bicaraku dan membuat dia semakin menundukkan pandangannya.

              “ aku hanya merindukan Eomma. Sedikit.” Dia tetap menundukkan pandangannya seolah menghindar tatapanku padanya. Kulangkahkan kakiku semakin mendekatinya. Memegang pundaknya

              “ tatap mataku ketika berbicara Oh sena!” dia mendongak dan menatapku.

              “ apa benar karna merindukan eomma hinga kau menagis disini?”

              “ Eoh.” Air matanya menetes. Aku tahu dia berbohong.

              “ apa aku membuatmu terganggu karna menangis disini?”

              “ aku tidak suka kau berbohong padaku. Sudah berapa kali aku katakana berhenti mengatakan kau baik-baik saja didepanku. Dan katakan yang sebenarnya.” Dia masih mengatupkan mulutnya. Beberapa detik berikutnya tangisnya pecah dan memelukku erat.aku berusaha menenangkannya. Menunggu hingga ia puas menangis dan menatakan semuanya. Tangisnya mulai mereda namun ia masih enggan meleas pelukannya. Aku merasakan dingin didadaku karna airmatanya yang mebanjiri piyama yang kukenakan. Kulepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya.

              “ katakan. Apa ini karna omongan Halmeoni?” aku merasa dia terlalu memikirkan perkataan halmeoni tadi pagi. Sena masih tidak menjawab dan kembali meneteskan air matanya.

              “ Chanyeol-ahh…” dia mulai membuka suara namun tetap tak berani menatap mataku.

              “ hmm??”

              “ apa aku boleh cemburu?” kekerutkan keningku menatapnya.

              “ apa aku boleh cemburu ketika meihatmu sedang menatap Gayeon tadi pagi? Apa aku boleh marah ketika kau melepas genggaman tanganku ketika kau melihat ada Gayeon disana? Kau tau, itu terasa sakit bagiku. Sakit…” dia menahan tangisnya. Astaga Oh Sena. Aku benar-benar tak menyangka dia akan mengatakan ini. Aku pikir dia akan kecewa pada Halmeoni? Jadi dia cemburu hingga menangis disini? Kembali kutarik dia dalam pelukanku.

              “ jadi kau cemburu pada Gayeon?” aku sedikit terseyum. Ini pertama kalinya Sena secara terang-terangan mengatakan bahwa dia sedang cemburu.

              “ eoh.” Dia masih menangis dipelukanku.

              “ apa kau pikir aku akan kembali pada gayeon?” dia mengangguk.

              “ dengar, “ kulepaskan pelukannya dan berusaha menatap bola matanya.

              “ kau yang membuatku tak bisa kembali lagi padanya. Karna kau.” Kini dia yang mengerutkan keningnya tak mengerti.

              “ karna kau yang membuatku mencintaimu dan tak bisa kembali pada gayeon.” Aku tersenyum menatapnya yang sedang tertegun menatapku. Aku rasa ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku padanya

              “ kau bohong.” Dia memukul dadaku

              “ yah aku bohong.” Dia melotot menatapku

              “ aishhh, awalnya aku memang terpaksa mencintaimu karna bayi ini. Tapi, aku rasa bayi ini malah membuatku mencintai ibunya.” Ia memelukku erat dan menangis lagi

              “ kau bohong Chanyeol-ahh, jangan membuatku terbang seperti ini jika pada akhirnya akan menjatuhkanku.”

              “ yak, jika aku aku akan menjatuhkanmu, aku akan jatuhkan dikasur agar anakku tidak kesakitan.” Aku menggodanya

              “ yak!!” dia kembali memukul dadaku dengan kencang

              “ geumanhae. Kita teruskan acara peluk memeluknya di dalam. Bagaimana?” kukedipkan mataku sebelah.

              “ dasar mesum!” dia berlari memasuki rumah.

To be continued…

              Holaaaaaa!!! Maapkeun yah reader kalo chapter 6-nya telat banget karna author sibuk kuliah dan olshopan hahaha. Maklumlah anak semester tua kan selalu kencan dengan tugas. Dan juga selain lagi nerusin ff ini authornya lagi kehalang nulis ff genre lain jadinya kecampur deh. Mian mian…

Btw, gimana lanjutannya? Enaknya sampe chapter berapa yah? Jangan lupa juga RCL kalian yah. Pasti aku baca kok ^^

4 thoughts on “Amato (Part 6)”

  1. Ff yang ditunggu, oh iya maaf mau kasih tau ada typo saat nenek chanyeol memarahi sena perihal kehamilannya. Tolong dicek lagi ya, soalnya kata tersebut agak “dirty” jadinya hehe

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s