[Ficlet-Mix] Le Vent

Le Vent

Le Vent

 

A cracked sad life story written by salsberrymous

Starring by EXO’s Baekhyun, Kai, Chanyeol with someone Duration Ficlet (mixed) Rating Teen

Enjoy reading!

*

Lelaki itu, dia dengan segala gurat masalahnya. Segala gurat luka tak tampaknya. Goresan kecil maupun besar di dalam lubuknya.

Aku mengerti akan satu hal yaitu, ia seperti angin.

*

Byun Baekhyun.

Sudah hampir sepuluh menit aku memperhatikannya. Dia, seorang pemuda yang tengah merenung di pinggir lapang basket. Manik kelamnya memandang lurus, kearah sekawanan murid lelaki lainnya yang sibuk beradu basket tanpa mengenal lelah. Hembusan napas resah menciut keluar dari bibirnya.

Telunjuk lelaki itu bergerak, membenahi letak kaca netranya yang merosot setiap lima detik itu. Dengan menautkan jari-jemarinya, ia membuka mulutnya hendak mengucap sesuatu.

“M-Maaf, b-bolehkah aku ikut bermain?” ia menyahut dengan gagap. Tersemat rasa ketakutan pada setiap kata yang terlontar darinya.

Sekelompok lelaki berpeluh itu lantas menengok pada Baekhyun, menatapnya dengan tatapan meremehkan. Seraya menyunggingkan senyum sarkastis, mereka berujar beberapa patah kata yang menurutku dapat menyakitkan pemuda itu.

“Apa katamu? Ikut bermain? Memangnya idiot sepertimu mampu bermain basket dengan kami? Bermimpi saja sana!”

Aku terhenyak, apalagi pemuda bermarga Byun yang tengah terduduk di sana tentunya. Ia hanya menunduk, mengunci bibirnya amat rapat seolah enggan berkata apapun lagi. Aku geram, sungguh. Ingin sekali aku menampar semua lelaki berengsek yang sudah menilai dan menghina orang sembarangan seperti mereka, yang tidak bisa mengolah kata yang hendak mereka lontarkan, yang selalu menindas anak nerd seperti Byun Baekhyun tanpa mengetahui apapun tentangnya.

Tetapi aku lemah. Aku hanya bisa melakukan hal nihil. Aku tidak bisa membantunya dengan menyeretnya menjauhi kerumunan murid lelaki itu, atau berlagak seperti pahlawan dengan meninju mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah memandang siluetnya yang berangsur menghilang.

Aku tahu, pemuda itu adalah orang yang baik. Ia cerdas, tak jarang mendapat nilai sempurna. Namun yang kerap menghampiri telinganya hanyalah gunjingan dan umpatan, bukan pujian. Hanya karena keterbelakangan mental, ia menjadi terpojokkan. Bukanlah suatu alasan yang kuat untuk membuat nyawa seseorang melayang.

Sebab saat aku mengikuti jejaknya, memijakkan kakiku di lantai teratas gedung sekolah ini, aku dapat melihat,

Byun Baekhyun sudah tergeletak tak bernyawa.

Aku tertohok beberapa jenak. Klise memang, mengingat apa yang dialaminya bisa membuatnya berlaku nekat seperti ini. Menyisakan isak tangis bagi keluarganya, dan tawa bahagia bagi orang-orang yang menindasnya.

Aku mengerti akan satu hal yaitu, ia seperti angin.

 

*

Kim Jongin.

Pemuda itu berderap, melangkahkan kakinya berat. Penjuru lorong sekolah memandangnya dengan berbagai macam pandangan—iba, geram, jijik, dan sebagainya. Ia menyadarinya, tetapi enggan menanggap. Karena secuil anggapan yang terlontar pasti akan berbuah makian pula gunjingan.

Rambutnya hitam legam, sudah teracak tak berbentuk. Lingkaran kehitaman di kelopak mata bawahnya menandakan pemuda itu sering terjaga hingga larut malam. Serta rokok menyala yang terapit di antara telunjuk dan jari tengahnya. Kendatipun hal tersebut sangat kontras dengan seragam sekolah yang dikenakannya.

Lelaki itu sudah mendudukkan dirinya di pojok kelas, tepat di atas bangkunya. Ia sudah penat, kini hanya rokok lah yang setia menemaninya.

Namanya Kim Jongin, pemuda nakal yang selalu bersama barang haramnya. Aku selalu memerhatikannya, tetapi tidak ikut menggunjingnya seperti murid lainnya.

Jongin sosok yang ceria—dulunya. Tetapi kenakalannya membuat resah para teman sekelasnya. Jongin seringkali menjahili kawan-kawannya, spesifiknya kawan gadisnya. Ia tak jarang mabuk-mabukkan, pergi ke klub malam, menghabiskan waktu dengan rokok juga barang haramnya, melewatkan kelas dan pelajaran.

Memang, pada awalnya semua orang memaklumi tingkahnya. Sampai suatu hari, kenakalannya memuncak hingga membuat semua murid geram. Alhasil, pemuda itu dikucilkan.

Aku mengerti betul apa yang dilandanya. Kesepian. Ya, kedua orang tuanya memang jarang pulang ke rumah atau sekedar menanyakan kabar anaknya sendiri. Kedua orang tuanya lebih memilih pekerjaan dibanding dengan Jongin. Mereka mengira Jongin akan lebih senang jika mereka membebaskannya, namun bukan itu yang ia inginkan. Sejujurnya, Jongin hanya butuh kasih sayang orang tua. Alih-alih ia tak bisa mendapatkannya, maka ia bersikap demikian guna menarik atensi dari semua orang. Tetapi entah realita ataupun takdir, keduanya tidak berjalan seperti yang diinginkannya.

Sama seperti biasa, seharian penuh dilewatkan Jongin dengan cemoohan dan berbagai macam umpatan padanya. Jongin hanya diam. Ia tak berniat melawan walau emosinya kian memuncak, malah sibuk menghisap rokoknya.

Namun, berbeda dengan keesokan harinya.

Pagi menjelang siang ini aku belum melihat Jongin. Rasanya janggal, meskipun bukan yang pertama kali Jongin tidak menghadiri kelas.

“Hei, semuanya! Dengar, aku ada pengumuman.”

Itu ketua murid kelasku. Air mukanya tak dapat kuartikan. Sontak semua murid bertanya-tanya ‘ada apa‘.

“Kim Jongin meninggal. Katanya dia bunuh diri dengan memakan berbagai pil haram dan alhasil dia overdosis.”

Aku tercengang. Tuturan itu jelas membuatku terkejut. Seketika kelas ricuh, ada yang bersorak dan ada yang bersedih. Oh, siapa yang bahagia saat temanmu meninggal? Mungkin orang gila.

Otakku paham sekarang. Menilai seseorang tanpa mengetahui betul latar belakangnya bukanlah hal yang pantas dilakukan. Terlebih jika kasusnya sedalam kasus Kim Jongin ini.

Aku mengerti akan satu hal yaitu, ia seperti angin.

 

*

Park Chanyeol.

Pemuda berusia dua puluhan itu membuka pintu penuh debu tersebut. Senyuman merekah di bibirnya tatkala ia sedang berinteraksi dengan adiknya. Ia mengelus rambut adiknya penuh kasih sayang, seraya berkata,

“Kakak berangkat kerja dulu. Kau baik-baik di rumah, ya?”

Dengan ujaran itu, lantas lelaki tersebut berjalan menjauhi rumahnya. Penampilannya dekil, dengan topi bundar yang butut serta pakaian lusuhnya, juga tangannya yang menggamit sebuah karung besar. Aku menatapnya iba, sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Lelaki itu bernama Park Chanyeol, ia tetanggaku. Rumahnya kecil—mungkin seluas kamar tidurku, tetapi dirasanya cukup untuk ia dan adiknya. Ia tak punya pakaian bagus, atau setidaknya pakaian layak pakai. Tidak, dia hanya berpenampilan seadanya dengan pakaian berwarna cokelat yang selalu membalut tubuhnya setiap musim.

Pernah sekali aku berbincang dengannya, ketika aku hendak pergi ke kantor dan ia hendak berangkat kerja memungut sampah seantero jalanan kota Seoul. Kisah hidupnya rupanya lebih menyakitkan dari yang kuduga. Gajinya per hari hanya cukup membeli makan untuk satu kali dalam satu hari, artinya ia hanya makan tujuh kali dalam seminggu.

Aku tak jarang mendengar tetanggaku yang lainnya sibuk menggunjingkannya, terlebih saat para petugas keamanan hendak menyita rumah usangnya. Namun hal itu tak lantas membuatnya kehilangan senyum berharganya. Ia selalu menebar senyuman padaku kala ia menyapaku.

Tetapi tidak untuk hari ini. Baru saja lelaki itu melangkahkan kakinya untuk pergi bekerja, tetapi petugas yang beberapa tempo lalu datang, kini menemuinya untuk sekian kalinya. Tentu saja ia terhalangi oleh para petugas yang menyeretnya menuju rumahnya secara paksa. Pemuda itu lantas memohon, hingga ia berlutut di hadapan sekawanan petugas yang sibuk beradu mulut dengannya. Dengan iming-iming penuh keyakinan bahwa Chanyeol tak memiliki sertifikat rumah, atau secara tidak langsung rumah miliknya ilegal.

Berbagai cemoohan mulai menggelegar di area perumahan ini, terlebih kala petugas itu kembali membuat kericuhan.

Tidak, bukan si petugas yang dicemoohkan, tetapi Park Chanyeol.

Lantas adik Chanyeol berlindung di belakang tubuh kakaknya, sembari terisak. Petugas itu menyita rumah tersebut, tanpa belas kasihan sama sekali. Aku terheran dengan kejadian ini, tidak bisakah para petugas membiarkannya? Toh, rumah itu sudah usang dan tidak bisa dipakai apa-apa. Sayang sekali jika dihancurkan, mengingat masih banyak insan yang membutuhkan tempat tinggal untuk tetap bertahan hidup—seperti Park Chanyeol misalnya.

Pada akhirnya petugas itu pergi, meninggalkan Chanyeol serta adiknya yang sudah terkulai di tanah. Menangisi dan meratapi nasibnya. Kata-kata kasar memojokkan mereka berdua, hingga kupikir bahwa para tetanggaku itu tidak memiliki hati.

Sementara aku hanya bisa terdiam, memandang prihatin tanpa bisa melakukan apa-apa. Sampai pada akhirnya, semua kekhawatiranku terjadi.

Malam ini terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara isak tangis seorang gadis kecil. Itu suara adik Park Chanyeol. Lantas aku bertanya padanya, “Apa yang terjadi?”

Gadis kecil itu menatapku dengan kedua mata berairnya, deraian air mata nampak tak dapat berhenti meluncur. Jari mungilnya menunjuk pada sesuatu di hadapannya, seolah ia tak sanggup berbicara lagi. Aku melihatnya, aku dapat melihat dengan jelas.

Park Chanyeol tengah terlelap dalam mimpi abadinya.

Aku termangu. Netraku menatap lirih pada raganya yang sudah ditinggalkan nyawanya. Sayatan di sepanjang tangan kanannya sudah menandakan ia telah menyerah dalam hidupnya. Park Chanyeol, tetanggaku yang selama ini selalu mengumbar senyum tanpa lelah, akhirnya sudah menyerah berpura-pura hidup dalam lindungan topengnya.

Aku tahu betul apa pengaruh terbesarnya. Bukan petugas yang mengambil alih rumahnya. Tidak, dia tidaklah terpengaruh sedikitpun dengan rumah usang itu. Ia sanggup bertahan hidup sekalipun ia tinggal di bawah kolong jembatan. Melainkan segala ujaran tak pantas yang diterimanya. Hal yang menyakiti batin serta merusak mental pemuda penyabar itu.

Aku mengerti akan satu hal yaitu, ia seperti angin.

.

.

.

.

.

Angin.

 

Eksistensimu bagaikan angin.

 

Kau ada, tetapi tak ada yang menganggap.

 

Kau berusaha menarik atensi dengan bersuara, tetapi tak cukup membuat orang menyadari.

 

Manusia berlindung ketika kau menghembuskan dirimu begitu kencang.

 

“Takut masuk angin,” katanya.

 

Mereka menutup jendela rumah kala kau hendak masuk, seolah kau adalah bahaya yang mengancam.

 

Mereka selalu mengacuhkanmu.

 

Tiada yang mengerti perasaanmu, tiada yang menghargaimu.

 

 

 

 

FIN.

 

 

HAAAI AKU KEMBALI! Maaf ya ceritanya membosankan, hiks. Aku kepikiran untuk buat fic life kayak gini. Jadi aku coba buat bikin tiga sudut/sisi dari orang-orang atau tokoh-tokoh yang sering digunjing. Kayak Baekhyun si nerd, Jongin si anak nakal yang kurang perhatian ortu, dan Chanyeol si miskin. Aku coba ngejelasin kisah hidup mereka, dari sudut pandang mereka, kalo sebenarnya hidup itu gaadil untuk beberapa orang termasuk mereka. DAN MAAF KALO CRACK HUHU.

 

Btw, “Le Vent” itu artinya angin dalam bahasa prancis (menurut g-translate LOL).

 

Lastly, semoga suka ya! Byebye.

 

Love, salsberrymous.

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] Le Vent”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s