[Oneshot] At the End of Their Third Meeting

At the End of Their Third Meeting

Title: At the End of Their Third Meeting

Scriptwriter: nchuhae

Main Cast: Lee Donghae, Jessica Jung

Support Cast: Wu Yifan, Kim Heechul, Ahn Sohee

Genre: Drama, (mild) Romance

Duration: Oneshot

Rating: PG-15

***

Bagi Donghae, Jessica adalah gadis yang spesial. Dia tidak tahu apa tepatnya yang menjadikan gadis itu terlihat lebih menarik dibanding yang lain. Satu hal yang dia pahami dengan baik adalah fakta bahwa gadis itu mampu membuatnya melakukan banyak pengecualian—sesuatu yang sebelumnya dia pikir tak akan pernah dilakukannya.

Donghae menyukai Jessica.

Itu bukan jenis perasaan suka yang berjalan romantis, karena bagaimana mungkin sesuatu yang romantis tercipta jika Jessica bahkan tidak pernah menyadari keberadaan seorang pria bernama Lee Donghae di dunia ini? Gadis itu menjalani hari-harinya yang sibuk sebagai seorang desainer tanpa tahu bahwa dari jarak tidak begitu jauh, ada seorang pria yang setiap hari memperhatikannya.

Tapi Donghae tidak keberatan dengan semua itu.

Pria itu tahu banyak hal tentang Jessica, mulai dari urusan remeh seperti tanggal lahir dan riwayat pendidikan yang bisa dengan mudah ditemukan di internet hanya dengan mengetik kata pencarian sederhana seperti Jessica Jung’s profile, sampai pada hal-hal lain yang menuntut pengamatan lebih.

Jessica punya kebiasaan menendang. Itu adalah gerak yang hampir selalu muncul secara refleks, tidak peduli apa yang menjadi alasannya. Dia bisa menendang saat terkejut, saat sedang marah, atau saat sedang tidak ada kerjaan. Donghae beberapa kali mendapatinya melakukan itu, dan hanya bisa tersenyum tipis melihatnya.

Jessica membenci makanan seperti melon, mentimun, dan bawang. Sekali waktu, Donghae pernah melihatnya membuang isi burger yang dibawakan salah seorang asistennya, menyisakan daging asap sebagai satu-satunya makanan di antara dua roti bulat itu. Donghae bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi jijik gadis itu melihat isi burgernya saat pertama kali makanan itu diserahkan padanya, serta bagaimana senyum puasnya mengembang setelah dia menyingkirkan hampir semua isi burgernya ke tempat sampah. Jessica tidak pernah tahu kalau saat itu, beberapa meter dari tempatnya berada, ada seorang pria yang diam-diam mencuri pandang padanya.

Jessica juga sangat gampang mengantuk. Dia bisa tidur di mana saja. Donghae pernah mendapatinya tertidur di sudut sebuah cafe. Padahal beberapa saat sebelum itu, dia masih sibuk mengguratkan pensilnya di atas kertas, memikirkan desain untuk fashion item terbaru yang akan diluncurkannya. Jessica tertidur pulas di sana selama hampir satu jam, sama sekali tidak merasa terganggu oleh suasana cafe yang ramai dengan suara musik dan obrolan para pengunjung. Dia tidak pernah tahu kalau saat itu, beberapa meja dari tempatnya duduk, ada seorang pria yang diam-diam memerhatikannya, menimbang apakah itu adalah momentum terbaik untuk mulai mendekati dirinya.

***

Donghae selalu menghabiskan waktu luangnya untuk memikirkan cara terbaik agar bisa mendekati Jessica. Dia pernah terpikir akan melakukannya seperti adegan picisan di kebanyakan drama, di mana dia akan pura-pura menabrakkan tubuhnya pada gadis itu dan setelahnya, mereka akan berkenalan. Dia juga pernah berharap bahwa di suatu pesta yang dia hadiri, seseorang akan mengenalkannya pada gadis itu dan setelahnya, mereka akan saling bertukar kartu nama.

Tapi Donghae tahu dia tidak akan pernah bisa melakukan itu. Bukan karena dia tidak suka melakukan hal konyol—dia akan melakukan apa saja demi bisa sedikit lebih dekat dengan Jessica—tapi karena ada seorang pria yang selalu berada di samping gadis itu.

Donghae membenci pria itu, siapapun namanya. Bukan karena kenyataan bahwa pria itu terlihat tampan dengan sorot mata tajam dan alis tebalnya yang mempertegas sorot matanya, atau kemungkinan bahwa dengan wajah seperti itu, banyak gadis yang akan tergila-gila padanya. Kenyataan bahwa dia memperlakukan Jessica seperti anak kecillah yang membuat Donghae tidak menyukai pria itu. Dia membuat gadis itu seolah tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Ke mana pun Jessica pergi, pria itu akan menemaninya, berdiri tegap di sampingnya seperti seorang pengawal yang siap menjauhkan putri kerajaan dari bahaya sekecil apapun.

Donghae tahu gadis itu pun tidak begitu menyukai keberadaan pria itu di sampingnya. Itu terlihat dari jarangnya gadis itu tersenyum atau sekedar berbicara padanya. Jessica dengan jelas memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap keberadaan pria itu, tapi entah kenapa dia tetap membiarkan pria itu terus ada di sampingnya, mengambil separuh kebebasannya. Donghae tidak berani menebak alasannya.

Dengan pria itu di samping Jessica, Donghae tahu dia punya kesempatan yang sangat tipis untuk memenuhi keinginannya.

***

Waktu yang ditunggu Donghae akhirnya tiba. Dia lupa pukul berapa tepatnya kejadian itu. Yang dia ingat, sore itu hujan turun dengan sangat deras. Jessica pasti sedang sangat kesal hingga menampar pria yang selalu di sampingnya, lalu berlari menerobos hujan tanpa mengenakan mantel atau payung.

Donghae berada tidak jauh dari Jessica saat semua itu terjadi—pria itu memang tidak pernah berada jauh dari Jessica. Dia ikut berlari. Bukan langsung menyusul Jessica, tapi ke arah berlawanan, di mana dia melihat seorang gadis muda yang siap membuka payung merah jambunya. Donghae menghampiri gadis itu, menawarkan sejumlah uang agar payung merah jambu itu diberikan kepadanya. Gadis itu menatap Donghae dengan pandangan aneh, tapi akhirnya merelakan payungnya diambil lelaki itu.

Pria itu kemudian berlari menyusul Jessica yang didapatinya sedang duduk di sebuah bangku taman. Donghae ikut duduk di samping gadis itu, memegang payung merah jambunya agar melindungi tubuh Jessica dari air hujan, tanpa peduli bahwa dirinya sendiri sudah basah kuyup karena payungnya tidak cukup lebar untuk menaungi mereka berdua.

Jessica melirik ke arah Donghae saat pertama kali menyadari pria itu memayunginya, tapi dia tidak berniat mengatakan apapun, meski itu hanya sekedar ucapan terima kasih. Dia merasa sangat yakin bahwa Donghae hanya salah satu orang yang dikirim untuk memastikan dia baik-baik saja.

Donghae juga tidak tahu harus berkata apa. Dalam hati dia terus bertanya-tanya apakah sudah waktunya untuk melakukan hal itu—hal yang beberapa bulan terakhir berada di daftar teratas hal yang ingin dia lakukan. Donghae merogoh saku mantelnya, hendak mengeluarkan sesuatu, tapi kemudian membatalkan niatnya saat melihat seorang anak berseragam sekolah menengah lewat tidak jauh dari tempatnya berada.

Belum waktunya, Donghae memutuskan.

Butiran hujan terus jatuh sampai beberapa puluh menit kemudian. Ketika akhirnya awan mendung berlalu dan sinar matahari sore kembali menyapa mereka, Donghae menutup payung merah jambunya. Dengan aksen Seoulnya yang tidak bisa dibilang mulus, pria itu berujar pelan, “Hujannya sudah reda.”

Itu adalah kalimat yang tidak butuh jawaban. Jessica dan Donghae sama-sama paham akan hal itu. Maka ketika Donghae beranjak meninggalkan Jessica tanpa berkata-kata lagi, gadis itu hanya menatap dingin punggung pria itu saat berjalan menjauh darinya.

***

Pertemuan kedua mereka berlangsung lama setelah itu. Donghae menghitungnya. 58 hari.

Untuk pertemuan kedua ini, hujan sudah tidak turun lagi. Musim sudah berganti. Butir-butir air sudah digantikan oleh salju yang meski tidak begitu lebat, tapi cukup untuk membuat suhu menurun beberapa belas derajat.

“Siapa kau sebenarnya?”

Donghae meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi tanda agar Jessica diam, atau setidaknya memelankan suaranya. “Wartawan itu bisa mendengarmu. Kau tidak mengingankan hal itu, kan?” bisiknya.

Hari ini Donghae mengikuti Jessica seperti biasa—diam-diam, sembunyi-sembunyi. Gadis itu baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu ruang sidang saat sejumlah wartawan menyerbunya dengan berondongan pertanyaan dan tangan mengacungkan mikrofon serta rekorder. Donghae memperhatikan semua itu dari jarak tidak begitu jauh, dan dia bisa melihat rasa tidak suka yang tergambar jelas di wajah Jessica, seolah di kepala gadis itu ada tulisan tinggalkan-aku-sendiri-sekarang-juga.

Pria yang selalu bersama Jessica juga ada di sampingnya saat itu, tapi dia terlalu sibuk menghalau para wartawan hingga tidak bisa melihat apa yang dilihat Donghae dari wajah gadis itu. Jessica hanya ingin keluar dari tempat itu secepatnya, tapi melihat hausnya para pemburu berita itu akan sesuatu yang kemungkinan bisa dijadikan headline, keinginan sederhana Jessica seperti terlalu muluk.

“Nona Jung sedang tidak ingin diwawancarai,” salah seorang petugas keamanan pengadilan yang saat itu juga mengawal Jessica berujar—nyaris berteriak—kepada wartawan.

Percuma. Ucapan itu tidak diindahkan sama sekali. Sepersekian detik setelahnya, riuh pertanyaan kembali memenuhi tempat itu.

Jessica semakin terdesak, dan entah bagaimana, gadis itu terdorong ke dinding. Kepalanya terbentur cukup keras hingga gadis itu mengaduh. Melihat itu, pria yang selalu berada di samping Jessica akhirnya kehabisan kesabaran. Dia melayangkan tangannya yang terkepal ke arah salah seorang wartawan yang berada paling dekat dengan jangkauannya.

Tindakan itu bukannya membuat mereka paham akan keinginan Jessica akan sebuah privasi, malah semakin memancing keriuhan. Atas nama solidaritas sesama pekerja, wartawan lain mulai  ikut melakukan kekerasan, tidak lagi peduli pada seorang gadis berpakaian putih yang sebelumnya menjadi objek utama perhatian mereka.

Jessica memanfaatkan momentum itu untuk menyelipkan tubuh mungilnya di antara tubuh-tubuh besar yang mengelilinginya, berusaha meloloskan diri dari kerumunan kecil manusia yang mengganggu privasinya. Dia berjalan menundukkan kepala melewati lorong-lorong gedung pengadilan, tanpa tahu harus ke mana. Saat itulah seseorang menariknya, membawanya ke sudut sepi gedung itu.

“Siapa kau sebenarnya?” Jessica mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan volume yang jauh lebih rendah dari sebelumnya.

Gadis itu masih bisa mengingat wajah di depannya. Si pria dengan payung merah jambu. Hari itu, setelah emosinya mereda, Jessica menelpon ayahnya, bertanya apakah pria yang sepanjang sore menemaninya di taman adalah suruhan ayahnya. Jawaban yang diperoleh Jessica sama sekali tidak seperti yang dia kira.

“Kau bukan suruhan ayahku.”

“Memang bukan.”

“Lalu siapa kau? Kenapa kau selalu saja muncul secara tiba-tiba di depanku?”

Donghae ingin menjawab pertanyaan itu, tapi bingung harus berkata apa. Kejujurannya mungkin akan menakuti gadis di depannya. Dia sedang memikirkan sebuah jawaban bohong ketika beberapa wartawan yang tadi mengerumuni Jessica berjalan mendekat. Jumlahnya memang sudah tidak sebanyak sebelumnya, karena sebagian masih terlibat perkelahian di depan pintu salah satu ruang siding. Tapi Donghae tahu, itu tetap saja bukan sesuatu yang diharapkan Jessica. Satu atau banyak, mereka tetap akan melontarkan pertanyaan yang tidak ingin dijawab gadis itu.

Sekali lagi Donghae memberi tanda agar Jessica memelankan suaranya.

Sambil mencari-cari jalan keluar terbaik dari gedung tempat mereka berada, Donghae dengan cepat melepas jaketnya dan menyampirkan benda cokelat itu ke bahu Jessica. Setidaknya pakaian yang dipakai Jessica sebelumnya sudah cukup tersamarkan dengan jaket itu, meski dia masih belum yakin apakah itu cukup untuk membuat orang-orang tidak lagi mengenalinya. Pria itu sempat berpikir untuk sekalian memakaikan topinya agar wajah gadis itu tertutupi, tapi segera mengurungkan niatnya saat sadar tempatnya sekarang berada. Tempat ini dipenuhi orang yang hampir semuanya berpakaian formal. Seorang gadis yang memakai jaket pria sudah cukup tidak wajar. Memakaikan topi hanya akan membuat Jessica semakin menarik perhatian.

“Kau ingin keluar dari tempat ini, kan?”

Jessica mengangguk. “Kau tahu jalan keluar rahasia?” tanyanya antusias.

“Tidak,” Donghae menjawab jujur. Saat itu memang adalah pertama kalinya pria itu memasuki tempat ini. Saat persidangan Jessica yang sebelumnya, Donghae hanya berdiri di luar, memperhatikan gadis itu masuk, dan dengan sabar menunggu gadis itu keluar lagi. “Tapi ada cara agar mereka tidak mengenalimu,” pria itu menambahkan.

Jessica menaikkan alisnya, bertanya.

“Peluk aku, berpura-puralah menangis. Usahakan agar wajahmu tidak terlihat. Mereka mungkin akan mengira bahwa kau adalah keluarga terdakwa di persidangan lain,” ujar pria itu.

Jessica tahu dia tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan segala kemungkinan. Wartawan itu bisa menemukan dirinya kapan saja. Membayangkan rentetan pertanyaan yang selalu sama dilayangkan pada dirinya membuat gadis itu muak.

Dulu, ketika kariernya baru beranjak naik, dia sangat senang ketika ada wartawan yang ingin bertemu dengannya. Dia menganggap hal itu sebagai tanda kalau mereka menaruh perhatian tehadap karyanya. Itu sekaligus adalah metode yang baik untuk promosi. Sekarang, wartawan itu datang untuk menanyakan beragam hal tentang sebuah peristiwa yang tidak sengaja menyeretnya—yang tidak ada hubungan sama sekali dengan kariernya. Dan Jessica tidak terlalu menyukai itu.

Memutuskan mempercayai feelingnya, gadis itu menuruti perintah Donghae dan ikut melangkah ketika pria itu mulai beranjak dari tempat mereka bersembunyi sebelumnya.

***

“Wartawan itu menyebalkan!” Jessica berujar kesal.

“Mereka hanya melakukan pekerjaannya,” Donghae menimpali dengan nada yang terlalu kaku untuk didengar, membuat gadis di sampingnya mendengus semakin kesal. Gadis itu juga sebenarnya tidak tahu jawaban apa yang pas untuk ucapannya barusan, tapi dia merasa jawaban pria di sampingnya itu sangat dingin.

Mereka berdua sedang berjalan di depan jejeran toko pakaian di kawasan pertokoan tidak jauh dari pengadilan tempat mereka berdua tadi bertemu. Donghae sudah melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu sejak beberapa menit sebelumnya. Mereka berhasil mengelabui para wartawan dan menjauh dari gedung pengadilan dengan trik sederhana yang diusulkan Donghae. Pria itu menyebut ini sebuah keberuntungan. Jessica memutuskan menyebutnya hutang budi.

“Aku tidak tahu kau siapa dan kenapa kau selalu muncul di saat aku butuh, tapi kau harus tahu, bantuanmu sangat berarti,” gadis itu berujar tulus.

Donghae hanya bisa diam. Dia terus berjalan dengan Jessica mengekor di belakangnya, menunggu jawaban yang tidak pernah datang dari mulut pria itu. Donghae tidak terbiasa mendengar orang berterima kasih padanya. Dan di dalam hatinya, dia pun yakin, seandainya Jessica tahu apa yang sebenarnya terjadi, gadis itu akan menarik kembali ucapan terima kasihnya.

“Kau suka kopi?”

Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik, mendapati Jessica menatapnya dengan tatapan menunggu.

“Kupikir secangkir kopi akan cukup menghangatkan tubuhmu di cuaca seperti ini. Yah, biarpun aku tahu itu tidak akan cukup untuk membalas kebaikanmu, tapi setidaknya—”

“Kau dengan putus asa ingin menghindari kerumunan wartawan yang mengejarmu, lalu sekarang setelah kau berhasil kabur, kau malah ingin kembali ke tempat ramai? Kau harus mempertimbangkan kemungkinan di tempat itu ada orang yang iseng menelpon kantor berita dan wartawan lain akan mengejarmu sampai ke sana,” pria itu memutus perkataan Jessica dengan satu kalimat panjang.

Jessica mengerucutkan bibirnya karena kesal. Kesal karena pria itu menanggapi ajakannya bukan dengan wajah tertarik. Kesal karena pria itu tidak mengacuhkannya dan malah memilih lanjut berjalan setelah kalimat panjangnya selesai. Kesal karena perkataan pria itu benar.

Gadis itu ikut mengayun tungkainya, menyejajarkan langkahnya dengan Donghae hingga mereka berjalan bersisian. “Kau berbicara seperti Yifan,” ujarnya mencoba membuka topik pembicaraan baru.

Donghae sebenarnya tidak bertanya siapa pemilik nama itu, tapi Jessica merasa harus menjelaskan. “Pria yang selalu ada di sampingku, namanya Yifan. Dia seorang bodyguard yang disewa ayahku untuk melindungi aku sampai persidangan ini selesai. Karena aku menjadi saksi untuk sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan politisi besar, ayahku berpikir nyawaku kemungkinan sedang terancam. Apalagi setelah dua saksi lain ditemukan meninggal dengan cara yang aneh, ayahku jadi semakin yakin kaki tangan politisi itu sudah menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan kami.”

Jessica melanjutkan ceritanya ke topik lain sepanjang perjalanan tak tentu arah itu. Tentang kronologi hingga dia bisa secara tidak sengaja menyaksikan pembunuhan itu. Tentang persidangan panjang yang seperti tidak ada habisnya—kasus ini sudah berlangsung hampir setahun dan belum ada tanda selesai karena penyelidik kesulitan mencari bukti. Tentang pertanyaan para wartawan yang selalu sama sejak persidangan pertama—yang awalnya dia jawab dengan santun dan jelas, tapi kemudian diberitakan dalam versi berbeda oleh media. Dan tentu saja, tentang kebebasannya yang terenggut.

Semua itu, Donghae mengetahuinya dengan baik tanpa harus diberitahu oleh gadis itu.

“Kita sudah sampai,” pria itu berujar pelan.

Jessica sebenarnya kesal. Masih belum habis rasa kesalnya tadi, sekarang ditambah lagi karena pria itu bahkan tidak menanggapi ceritanya yang panjang dengan balasan yang memperlihatkan rasa simpati. Padahal dia sudah menceritakannya dengan begitu bersemangat. Memang apa yang dia ceritakan barusan bukan hal baru, setidaknya 90 persen dari ceritanya sudah diberitakan di koran dan tv. Tapi tidak bisakah pria itu sedikit lebih simpatik?

“Kau ingin mentraktirku kopi, bukan?”

Pertanyaan itu akhirnya menyadarkan Jessica di mana dia sekarang berdiri. Di depannya ada sebuah kedai kopi kecil yang tidak begitu ramai. Dan kenyataan bahwa pria itu ternyata menanggapi dengan serius ajakannya sudah cukup untuk membuat rasa kesal gadis itu menguap entah ke mana.

Ahjumma pemilik tempat ini adalah kenalanku. Kau aman dari wartawan di sini.”

Jessica tersenyum. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang asing mampu membuatnya merasa begitu senang. Penuh semangat, gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kedai sederhana yang ada di depannya.

***

“Kau sama sekali tidak berniat memberitahukan namamu?” Jessica bertanya saat mereka berdua sudah duduk di bangku di pojok kedai, dekat dengan pemanas ruangan. Gadis itu mengaduk kopi pekatnya sambil menunggu jawaban.

“Aku bisa memberitahumu, tapi kemudian aku harus membunuhmu.”

Jessica mendongak, menatap pria di depannya, dan mendapati ekspresi pria itu masih sekaku sebelumnya.

Menyeruput kopinya, Donghae menjelaskan dengan singkat, “Itu kutipan dari film favoritku.”

Jessica tersenyum tipis pada detik selanjutnya. Entah kenapa, dia merasa satu fakta yang baru saja dia temukan ini sangat lucu. “Top Gun,” ujarnya, mengingat lagi salah satu adegan ketika Letnan Maverick mengucapkan kalimat yang sama kepada Charlie. “Itu juga film favoritku.”

Ini adalah pengetahuan yang baru bagi Donghae. Selama ini, semua yang diketahuinya tentang Jessica hanyalah sebatas hasil observasi, tidak ada yang secara langsung dikonfirmasi oleh gadis itu. Itu menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi pria itu.

Jessica juga berbagi kesenangan yang sama. Setelah kasus yang melibatkan dirinya bergulir, satu per satu temannya menjauhi dirinya. Jessica berusaha maklum, meski baginya alasan tidak-ingin-ikut-dikejar-wartawan-demi-konfirmasi-tidak-penting terdengar terlalu dibuat-buat. Hari ini, untuk pertama kalinya sejak kasus itu ramai diberitakan media, dia merasa normal—tanpa pengawalan berlebihan dari bodyguard terlatih, hanya dia dan seorang pria asing bersorot mata sendu yang ternyata menyukai film yang sama dengannya. Dia merasa seolah mendapat teman baru yang menyenangkan.

Mereka berdua menghabiskan waktu sekitar satu jam di tempat itu, sebelum ponsel Jessica berbunyi. Panggilan dari ayahnya adalah sesuatu yang tidak bisa dia tolak. Dan meski gadis itu sudah berulang kali mengatakan bahwa dia berada di tempat yang aman, ayahnya masih bersikeras menyuruh gadis itu agar bersedia dijemput.

“Yifan sebentar lagi akan datang untuk menjemputku,” beritahu Jessica ketika dia menutup telepon.

Donghae mengangguk paham.

Mereka menghabiskan waktu setengah jam lagi dengan sejumlah obrolan bertopik ringan sampai jemputan Jessica tiba. Donghae mengantarnya sampai ke mobil dan akhirnya berhadapan langsung dengan pria yang selama ini dilihatnya selalu berada di samping Jessica: Yifan.

Jessica mengenalkan kedua pria itu satu sama lain. Yifan sebagai seorang bodyguard membosankan—yang ditanggapi dengan senyum tipis oleh Donghae dan ekspresi sedatar mungkin oleh sang pemilik nama, serta Donghae sebagai si-pria-penolong-yang-tidak-ingin-disebutkan-namanya. Kedua pria itu saling mengangguk pelan, tidak ada yang berinisiatif mengulurkan tangan untuk berjabat.

Jessica mengenal Yifan sebagai orang yang tidak suka berbasa-basi. Dan hari itu, sekali lagi dia membuat Jessica yakin bahwa penilaian gadis itu terhadapnya tidaklah salah. Setelah perkenalan dengan Donghae, Yifan segera membukakan pintu mobil, mempersilakan Jessica masuk dan mengingatkkan bahwa gadis itu harus segera pulang karena ayahnya sangat khawatir.

Jessica menurut. Bagaimanapun, Yifan hanya melakukan tugasnya. Jessica sedang dalam mood yang baik hingga bisa dengan bijak memahami semua itu dan memutuskan untuk tidak mempersulit pria itu kali ini. Dia melepaskan jaket cokelat yang sejak tadi dipinjamkan Donghae padanya, kemudian menyerahkan benda itu kembali pada pemiliknya.

“Kau benar-benar tidak ingin memberitahu aku tentang dirimu?” tanya Jessica.

Donghae tersenyum tipis dan berbisik pada dirinya sendiri, “Belum saatnya.”

“Apa? Aku tidak bisa mendengarmu.”

“Aku bisa memberitahumu—”

“—tapi kemudian kau harus membunuhku,” Jessica bergumam kesal di tempatnya berdiri. Apa susahnya memberitahukan sebuah nama?

Sekali lagi Donghae memamerkan senyum tipisnya. “Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberitahukan semua rahasiaku,” janjinya.

Jawaban itu berhasil mengubah ekspresi kesal Jessica menjadi senyum tipis penuh makna. Dia bahkan tidak tahu kapan tepatnya waktu itu akan tiba, tapi ada sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa itu tidak akan lama.

Gadis itu masuk ke mobilnya setelah mengucapkan kalimat perpisahan kepada Donghae, yang ditanggapi dengan senyum tipis oleh pria itu dan tatapan silakan-naik-ke-mobil-secepatnya dari Yifan.

Yifan sendiri masih menyempatkan waktu beberapa lama untuk menatap Donghae dengan pandangan menyelidik, mungkin karena pengaruh pekerjaannya yang menuntut dia selalu waspada. “Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.

“Mungkin. Korea tidak begitu luas. Kita mungkin saja pernah kebetulan berpapasan di suatu tempat.”

Yifan mengangguk setuju. Mungkin dia hanya terlalu curiga. Lagipula, jika memang pria di depannya ini punya niat tidak baik pada Jessica, pasti saat ini kliennya itu sudah berada dalam bahaya—atau mungkin lebih buruk dari itu.

Mengulurkan tangan, pria itu berujar, “Terima kasih sudah menemani Nona Jung.”

Donghae menyambut uluran tangan itu dan tersenyum tipis. Setelahnya, Yifan kembali ke dalam mobil, di mana Jessica sudah menunggunya. Donghae masih sempat menangkap Jessica menatapnya dari balik kaca jendela, tapi sampai mobil itu melaju membawa Jessica kembali ke rumahnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mengucaprkan sesuatu.

Donghae mengamati mobil mewah berwarna hitam itu berjalan menjauh dengan ekspresi tak terbaca. Setidaknya, hari ini usahanya mengalami banyak kemajuan. Tidak pernah sekalipun dia membayangkan bisa menghabiskan waktu selama itu dengan Jessica, apalagi mendengar gadis itu bercerita banyak tentang dirinya. Apa yang diceritakan Jessica tadi memang bukan sesuatu yang penting bagi kebanyakan orang, tapi tetap saja, Donghae menghargainya.

Berbeda dengan kali pertama mereka bertemu, kali ini Donghae menyempatkan diri menengok jam tangannya dan memutuskan akan mengingat waktu itu dengan baik. Pukul 17.35, dia berpisah untuk kedua kalinya dengan Jessica.

Pertemuan kedua mereka berakhir seperti itu. Donghae menyebutnya sebuah langkah maju. Jessica, dengan segala kenaifannya, menyebut itu sebuah kencan buta.

***

“Hari yang menyenangkan, huh?”

Donghae baru saja memasuki apartemennya saat suara itu terdengar menyapanya. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seseorang sedang duduk di atas sofa ruang tamunya sambil menatapnya dengan pandangan menggoda.

“Hyung!” seru Donghae. Dia berjalan—setengah berlari—mendekati pria berwajah cantik itu dan langsung memeluknya. “Aku merindukanmu!”

Kim Heechul, pria yang dipanggil hyung oleh Donghae itu langsung melepaskan lengan yang melingkar di tubuhnya dan menghadiahi sang pemilik dengan tatapan diva-nya yang khas. “Kau membuatku sesak napas,” keluhnya. “Kita bertemu dua bulan lalu, dan itu bukan waktu yang begitu lama untukmu merasa begitu rindu padaku.”

“Aku hanya terlalu senang bisa melihatmu lagi. Bagaimana kabarmu?”

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, sekarang malah menanyakan hal lain. Katakan padaku, apakah minum kopi bersama Jessica Jung menyenangkan?”

“Hyung, kau datang jauh-jauh dari London ke Seoul hanya untuk menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya?”

Heechul tersenyum simpul. “Oh, baiklah kalau kau tidak mau menjawabnya langsung. Aku anggap itu sebagai jawaban iya,” candanya, yang berhasil membuat Donghae menghadiahinya pukulan pelan di lengannya.

“Jadi, kapan kau akan melakukannya?” tanya Heechul lagi, kali ini dengan wajah yang lebih serius.

Pertanyaan itu membuat raut wajah Donghae berubah. Sebuah pertanyaan singkat yang menghentikan semua kesenangannya.

“Waktumu tidak banyak, Hae. Kau tahu itu,” Heechul menambahkan.

Pria yang lebih muda itu diam sesaat sebelum menjawab, “Tidak lama lagi, Hyung. Aku janji.”

Heechul menggerakkan bahunya seolah berkata terserah-kau-saja. Dia kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi pil-pil berwarna merah lalu menyodorkannya ke arah Donghae. “Aku datang untuk membawakanmu ini,” ujarnya.

Donghae menerima benda itu dan mengamati isinya dengan wajah tidak tertarik.

“Komposisinya sudah disempurnakan, jadi khasiatnya juga akan lebih baik dibanding yang terakhir kuberikan padamu,” beritahu Heechul.

“Aku tidak suka bergantung pada obat-obatan seperti itu.”

Heechul tersenyum paham mendengar jawaban dongsaeng kesayangannya itu. “Aku mengenalmu sejak kecil, Bodoh! Bagiku kau seperti buku yang terbuka lebar. Apa yang tidak kau suka dan apa yang kau suka, aku lebih mengetahuinya daripada kau sendiri. Dan aku juga tahu kalau dengan waktumu yang tidak lama itu, kau membutuhkan benda ini. Jadi jangan keras kepala!”

Donghae akhirnya mengangguk patuh demi menghentikan ocehan Heechul. Kalau dia tidak melakukan itu, hyungnya itu pasti tidak akan berhenti menceramahinya tentang betapa pentingnya dia menggunakan obat itu—mungkin Heechul juga akan berbaik hati menjelaskan proses rekayasa cerdas yang telah dilakukannya hingga benda merah itu bisa tercipta.

“Hyung, kau sudah makan? Aku lapar,” ujar Donghae mengalihkan pembicaraan, yang disambut dengan penuh semangat oleh Heechul.

“Ayo kita makan samgyupsal! Aku juga mau minum soju sebanyak-banyaknya. Di London tidak ada yang seperti itu.”

***

Meski sadar nyawanya terancam, Jessica tidak serta merta meninggalkan kehidupannya yang sibuk dan dikelilingi banyak orang dengan berbagai kepentingan. Sebagai seorang desainer, dia tetap aktif mengikuti peragaan busana dan mempromosikan karyanya di berbagai acara. Bahkan saat sidang putusan pengadilan tentang kasus yang melibatkannya sudah hampir tiba, gadis itu masih sempat melakukan serangkaian meeting untuk membahas peragaan busana tunggal yang sudah sejak lama dia rencanakan. Tentu saja, dengan Yifan di sampingnya.

Di antara kesibukan itu, Jessica tetap punya waktu mengingat seorang pria yang bahkan tidak dia ketahui namanya. Sebut saja itu penasaran. Jessica meyakinkan dirinya bahwa itulah yang menjadi alasan kenapa setiap kali dia melihat benda berwarna merah jambu, dia akan teringat sebuah sore saat turun hujan di mana seorang pria memayunginya dalam diam. Jessica juga mengganggap rasa penasaranlah yang membuatnya selalu teringat pria itu setiap kali dia menyesap kopinya.

Jessica menghitungnya. 24 hari. Dan pertemuan yang dia harapkan tidak pernah terjadi.

“Aku pasti sudah gila!” gumamnya.

“Maaf?”

Pertanyaan bernada bingung itu membuat Jessica sadar di mana dirinya berada—dan apa yang sedang dia lakukan. Di depannya berdiri seorang model bermata seperti kucing yang sedang menatapnya, menunggu instruksi.

Jessica meminta maaf karena ketidakfokusannya, meletakkan gelas kopi yang tadi digenggamnya ke meja terdekat, lalu mulai menjelaskan konsep pakaian yang akan dikenakan model itu untuk acara yang akan dilaksanakan kurang dari 24 jam lagi. Gadis di depannya adalah model utamanya. Dialah yang akan mengenakan rancangan terbaik Jessica, sekaligus yang nanti akan berjalan bersamanya di puncak acara saat semua model sudah maju dan waktunya bagi sang desainer untuk tampil.

Sejenak, Jessica larut dalam pekerjaannya dan lupa pada pria yang tidak dia ketahui namanya itu.

***

Acara puncak hanya tinggal beberapa jam lagi ketika Jessica melihat wajah yang terakhir kali dilihatnya 24 hari lalu itu. Dari jauh dan hanya sekilas, tapi Jessica sangat yakin dia tidak sedang berkhayal. Itu orang yang sama.

Jessica kemudian mendapati dirinya setengah berlari ke arah pria itu, mengabaikan asistennya yang kebingungan karena ditinggal di tengah-tengah geladi resik. Itu belum termasuk Yifan yang sempat menahan langkah Jessica di depan pintu yang membatasi backstage dengan panggung utama—yang hanya dibalas dengan tatapan penuh peringatan dari gadis itu.

Jessica tahu penantiannya selama lebih dari tiga minggu akhirnya selesai ketika melihat pria itu berdiri di hadapannya dengan jaket cokelat yang sama, wajah sendu yang sama, dan senyum tipis yang sama.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin menemuimu. Bisa kita bicara sebentar?”

Jessica menanggapinya dengan sebuah senyum tipis pengganti jawaban iya. “Tunggu sebentar, aku akan mengambil jaketku. Aku tahu satu tempat yang tidak terlalu ramai,” ujarnya.

Di belakangnya, Yifan memandang dari kejauhan.

***

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanya Jessica ketika mereka sudah sampai di tempat yang tadi dimaksudnya. Tempat itu adalah sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari kantin yang menjual makanan siap saji. Pada jam tertentu, tempat ini bisa sangat ramai. Tapi saat itu hawa sedang sangat dingin, karenanya hanya ada beberapa orang yang terlihat.

Donghae merapatkan jaketnya sebelum menjawab, “Berita tentangmu sangat mudah diakses belakangan ini.”

Ah, tentu saja, Jessica bergumam, mengiyakan jawaban Donghae.

“Aku ingin mengucapkan selamat tinggal,” pria itu berujar pelan, tapi itu sudah cukup untuk membuat lawan bicaranya mendengar ucapannya dengan jelas. “Mungkin menurutmu ini tidak penting, tapi aku merasa kau perlu tahu.”

Jessica tidak tahu harus berkata apa. Beberapa kali setelah pertemuan mereka di hari yang bersalju itu, Jessica sering membayangkan seperti apa pertemuan mereka selanjutnya akan berlangsung. Dia menantikan hari ketika pria itu berjanji akan memberitahukan namanya sama seperti anak kecil menantikan Natal tiba. Pernah, sekali waktu, dia mendapati dirinya begitu asyik memikirkan akan membicarakan apa saja dengan pria itu. Mungkin dia akan mengejek namanya—kalau ternyata nama pria itu terdengar aneh. Mungkin juga mereka akan mengobrol tentang film atau hal lain yang mereka sukai. Apa saja, selain pembicaraan tentang selamat tinggal.

Jessica melirik pria itu, menyadari ada sesuatu yang sejak tadi dia pegang.

“Itu untukku?” tanya Jessica.

“Ah, iya. Aku membelinya dalam perjalanan ke sini. Tapi sepertinya sudah dingin. Kau mau?” ujar Donghae sambil mengangsurkan segelas kopi yang di kemasannya tertera nama toko yang pernah dia dan Jessica kunjungi.

Gadis itu menerimanya dengan senang hati dan langsung meminumnya.

“Terima kasih,” kata Jessica dalam nada menggantung, menunggu pria itu menyebutkan namanya agar kalimatnya bisa selesai.

“Donghae.”

“Ah, ternyata namamu Donghae. Terima kasih, Donghae-sshi.”

Mereka terdiam beberapa lama, sampai Jessica bersuara lagi, “Kau mau ke mana? Beritahukan padaku, mungkin suatu hari nanti aku berkesempatan mengunjungi tempat yang akan kau tuju dan kita bisa bertemu.”

“Tempat yang jauh. Aku tidak yakin kita akan bertemu lagi setelah ini.”

Ucapan Donghae terdengar seperti nada final bagi Jessica. Gadis itu lalu sibuk meenduga-duga, kenapa pria di sampingnya begitu yakin bahwa mereka tidak akan bertemu lagi. Apakah mungkin dia adalah seseorang yang menderita penyakit mematikan dan sebentar lagi akan meninggal? Bukankah banyak orang yang sering menganalogikan kematian dengan tempat yang jauh?

Jessica menggeleng, menghalau pikiran jeleknya. Dia tidak tahu mengapa ada perasaan sedih yang terselip dalam hatinya karena hal ini. Pria itu hanya dikenalnya sebentar, tidak banyak hal berarti yang terjadi antara mereka, Jessica bahkan hanya tahu nama dan salah satu film kesukaan pria itu, tapi dia merasa tidak begitu yakin bahwa dia tidak akan merindukan Donghae suatu hari nanti.

Gadis itu meneguk kopinya lagi, kemudian menghirup napas panjang, menikmati udara dingin yang menyelubunginya. Dia memandang ke sekitarnya, merasa bosan menunduk tapi juga tidak ingin menatap Donghae secara langsung. Mata sendu pria itu mungkin akan membuatnya lebih sedih dari seharusnya.

“Kau tahu, sejak aku menjadi saksi kasus pembunuhan itu, ayahku tidak pernah membiarkan aku berada di tempat seterbuka ini bersama orang asing. Katanya sangat besar kemungkinan seorang sniper menembakku dari tempat tersembunyi,” Jessica mulai berbicara lagi, tidak mengerti mengapa dia malah membahas hal seperti ini.

Tapi itu adalah kenyataan. Sudah lama sekali rasanya gadis itu terisolasi dari dunia luar karena ketakutan berlebih ayahnya kalau dia akan dibunuh. Jessica sendiri tidak yakin dengan hal itu dan memilih untuk menganggap kematian dua saksi selain dirinya hanyalah kebetulan. Buktinya, sampai sekarang, selain gangguan dari wartawan yang seperti tidak bosan memberitakan hal tidak penting tentang dirinya, gadis itu tidak pernah mendapat gangguan lain yang mengancam jiwanya.

“Kalau saja kau adalah orang jahat, kau bisa saja membunuhku di sini. Tidak ada orang yang akan melihatmu,” ujar Jessica menyudahi ucapannya.

“Aku sudah melakukannya,” Donghae menjawab pendek, membuat Jessica langsung menatapnya dengan pandangan tidak paham. “Kopi yang kau minum sudah kuberi racun. Tidak lama lagi kau akan mati.”

Penjelasan Donghae yang begitu serius sukses membuat Jessica tertawa. Buruk! Selera humor pria ini sangat buruk. “Selera humormu sangat aneh,” ujarnya.

Donghae tersenyum melihat tawa gadis itu. “Berarti seleramu sama anehnya. Buktinya kau tertawa karena perkataanku.”

Dan Jessica tertawa lagi. Ah, pria ini menyenangkan. Kenapa dia harus pergi?

“Aku senang bisa mengenalmu,” gadis itu berucap tulus.

“Terima kasih.”

“Hei, tidakkah seharusnya kau bilang bahwa kau juga senang mengenalku? Paling tidak demi sopan santun,” protes Jessica.

“Apakah kau hanya mengetahui sesuatu setelah semua diucapkan secara gamblang padamu?”

Pria itu mulai lagi dengan retorikanya yang menusuk—dan sayangnya benar. Jessica mungkin memang senaif itu. Dia tidak begitu pandai membaca sikap orang lain. Kalau dia bisa pun, dia tetap tidak berani menyimpulkan bahwa pendapatnya benar.

Jadi, apa jawaban untuk pertanyaannya barusan?

Jessica tidak pernah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, karena setelah itu, telepon genggamnya berbunyi. Ada panggilan dari asistennya yang meminta dia segera kembali ke tempat pegelaran akan dilangsungkan. Acara tinggal satu jam lagi, katanya.

Donghae mengantar Jessica sampai di depan pintu gedung. Mereka berhenti di situ selama beberapa saat, hanya berdiri berhadapan tanpa ada yang berbicara. Jessica tidak tahu kenapa dia hanya diam saja ketika kemudian pria di depannya menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu. Dia juga tidak tahu apa makna dibalik tatapan sendu yang sekilas muncul lagi dari mata pria itu. Dia hanya tahu bahwa tangan pria itu dingin, sementara pipi Jessica malah memanas karena aliran darah yang mendadak jadi tidak biasa karena perlakuan tiba-tiba pria itu.

“Semoga acaramu berjalan dengan sukses,” ujar Donghae sesaat setelah dia melepaskan tangannya dari wajah Jessica.

Pria itu kemudian berbalik dan meninggalkan Jessica yang memandangnya menjauh dengan wajah yang masih panas.

***

Pikiran Jessica terbagi. Di satu sisi, dia ingin sekali fokus pada acaranya. Di sisi lain, dia tidak bisa lagi menahan lelahnya hingga yang terpikir hanyalah tidur.

Acara malam ini memang sangat menyita waktunya. Beberapa hari terakhir dia hanya tidur satu atau dua jam sehari. Dia jadi sangat bergantung pada kopi agar matanya tetap terbuka. Biasanya, dia akan melupakan rasa kantuknya jika sudah terlarut dalam pekerjaan. Tapi rasa sakit di kepalanya membuat gadis itu sadar, tubuhnya butuh istirahat.

Jessica meneguk kopi pemberian Donghae yang masih tersisa sedikit. Hanya sebentar lagi, pikirnya, setelah itu dia bisa tidur sepuasnya dan terbangun dengan berita tentang acaranya yang sukses besar.

“Nona Jung, sudah saatnya,” beritahu seorang gadis muda yang dijadikan Jessica sebagai asisten.

Jessica bangkit dari duduknya dengan tubuh yang limbung. Dia bisa saja jatuh andai asistennya tidak sigap menahan tubuhnya. “Sepertinya Anda terlalu lelah,” ujar gadis yang lebih muda itu.

Jessica melepaskan dirinya dari pegangan asistennya dan tersenyum sebelum memberikan sebuah jawaban menenangkan, “Tidak apa-apa, jangan khawatir.”

Tapi ternyata bukan hanya asistennya saja yang menaruh kekhawatiran pada Jessica. Ahn Sohee, model utamanya malam itu juga sempat menanyakan pertanyaan yang sama sesaat sebelum mereka berjalan beriringan melintasi catwalk untuk menyapa semua orang yang hadir di acara itu.

Jessica berusaha memasang senyum dan melambaikan tangannya ketika berjalan. Senyumnya semakin lebar ketika menyadari ada seseorang yang sangat dikenalnya duduk di barisan tamu undangan. Lagi-lagi hanya sekilas, tapi Jessica tahu betul dia tidak salah lihat. Pria bermata sendu itu duduk di sana, balik tersenyum padanya.

Bukankah dia tadi bilang dia akan pergi? Atau itu hanya bentuk keisengannya saja? Ah, sepertinya jawaban yang kedua lebih mendekati kebenaran. Dan Jessica merasa bahagia akan hal itu.

Tapi perasaan bahagianya berakhir ketika gadis itu mendapati kakinya melemah, yang kemudian disusul dengan tubuhnya yang jatuh menghempas lantai panggung.

Suasanya yang awalnya riuh oleh hingar-bingar perayaan puncak, mendadak berubah menjadi bentuk keriuhan yang lain. Orang-orang langsung ramai mendekatinya. Dan di saat yang begitu singkat sebelum kesadarannya hilang, Jessica masih sempat melihat pria bermata sendu itu tetap duduk di tempatnya, tersenyum padanya, tanpa menunjukkan sedikitpun ekspresi kaget seperti orang lain di sekitar mereka. Potongan-potongan pembicaraannya dengan pria itu kembali melintas di kepalanya.

Siapa kau sebenarnya?

Aku bisa memberitahumu, tapi kemudian aku harus membunuhmu.

Ah, ternyata namamu Donghae. Terima kasih, Donghae-sshi.

Kalau saja kau adalah orang jahat, kau bisa saja membunuhku di sini. Tidak ada orang yang akan melihatmu.

Aku sudah melakukannya. Kopi yang kau minum sudah kuberi racun. Tidak lama lagi kau akan mati.

Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberitahukan semua rahasiaku.

Setelah itu, kegelapan menelan Jessica.

***

Donghae berjalan keluar dari gedung itu, menjauh dari orang-orang yang dengan panik membopong tubuh seorang wanita yang baru saja terjatuh dengan dramatis tak jauh dari hadapannya. Pria itu menoleh, mendapati Heechul sibuk mengetik sesuatu di telepon genggamnya yang diberi case bergambar salah satu karakter animasi.

“Aku tidak ingin dia mati, Hyung.”

Heechul menghentikan sejenak aktivitasnya dengan benda di tangannya untuk menatap Donghae. Dia menaikkan alisnya dan memberi tatapan menggoda pada dongsaengnya itu. “Kau menyukainya, huh?”

Donghae hanya menggerakkan bahunya, membiarkan Heechul memutuskan sendiri jawaban atas pertanyaannya.

Pria yang lebih tua itu berujar bangga, “Sudah kubilang, obat ini sudah kurekayasa sedemikian rupa sesuai permintaanmu. Gadis itu tidak akan bernasib sama seperti dua orang saksi lain. Dia hanya akan mengalami kelumpuhan di seluruh anggota tubuhnya. Sepertinya itu cukup untuk membuat dia tidak bisa bersaksi dan klien kita terbebas dari tuntutan. Benar, kan?”

“Permanen?”

“Huh?”

“Kelumpuhannya.”

Heechul mengibaskan rambut cokelatnya yang mulai memanjang. “Tergantung. Kalau aku bisa menemukan obat lain untuk menetralisir pengaruh obat yang telah kau berikan padanya, yang mana aku sangat yakin bisa aku ciptakan dengan kejeniusanku ini, dia akan sembuh. Sebelum itu terjadi, dia hanya akan jadi mayat hidup, karena aku yakin tidak akan ada yang bisa menemukan penawarnya selain aku. Ah, jangankan menemukan penawarnya, mendeteksi obat itu pun, aku rasa mereka masih belum bisa,” ujarnya bangga.

Donghae mengangguk paham, sama sekali tidak meragukan kebenaran kata-kata Heechul. Pria itu memang selalu berucap dengan nada sombong, tapi Donghae tahu kalau semua kesombongaan itu beralasan. Dalam hati Donghae berjanji akan memaksa Heechul membuat penawar itu ketika kasus yang melibatkan klien mereka sudah ditutup.

“Terkirim!” seru Heechul.

Donghae menatapnya dengan penasaran. “Sebenarnya kau sedang apa, Hyung?”

Heechul memperlihatkan telepon genggamnya kepada Donghae dengan senyum puas menghias wajahnya. Donghae memperhatikan di layar benda tipis itu ada foto Jessica saat terjatuh tadi. Di bawahnya ada tulisan: MISSION SUCCESS.

***

Bagi Donghae, Jessica adalah gadis yang spesial. Dia tidak tahu apa tepatnya yang menjadikan gadis itu terlihat lebih menarik dibanding yang lain. Satu hal yang dia pahami dengan baik adalah fakta bahwa gadis itu mampu membuatnya melakukan banyak pengecualian. Dalam kariernya sebagai pembunuh bayaran—jika membunuh bisa dikategorikan sebagai sebuah pekerjaan, hanya Jessicalah target yang membuatnya tidak ingin buru-buru menuntaskkan tugasnya.

Donghae menyukai Jessica. Di antara semua nama yang masuk ke dalam daftar targetnya, Jessica dengan segala perlindungan ketat yang mengelilinginya seperti memberi sebuah tantangan tersendiri bagi Donghae untuk membuktikan kemampuannya.

Itu bukan jenis perasaan suka yang berjalan romantis. Tentu saja. Donghae cukup profesional untuk bisa membedakan kapan romansa harus hadir dalam kehidupannya. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali romansa menjadi bagian dari hari-harinya.

Tapi Donghae tidak keberatan dengan semua itu.

THE END

A/N: Cerita ini pernah dipublish di blog pribadi saya dengan judul dan karakter yang sama.

3 thoughts on “[Oneshot] At the End of Their Third Meeting”

  1. Ini spy2 gitu ya? Crime?Baru nemu lagi fanfic sj stelah lama ga baca. Romancenya jga ada ditengah keprofesionalannya jalanin tugas buat bnuh para saksi. Donghae oppa,miss you !!

    Suka

    1. hai. maaf aku baru baca komentar ini. resiko jadi freelancer ya gini, gak tahu ff yang dikirim ke sini udah publish apa nggak. ff ini belum sampai ending kok, nantinya bakal happy ending, of course, tapi kalau sampai menikah, kayaknya nggak deh. terima kasih sudah baca cerita ini dan ninggalin komentar. really appreciate it🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s