[Vignette] Welcoming a Hostility

welcoming-hostility

a movie by Jung Sangneul

// Welcoming a Hostility //

Starring [Actor] Lee Minho and [Miss A] Suzy || Genre Romance, Action, Crime!Au || Duration Vignette || Rating PG-17

based on MV Huh Gak – Already Winter © 2016

.

Apa pun bisa terjadi pada agen intelijen sepertiku.

.

.

 

PERANG antara Korea Selatan dengan Korea Utara terencana untuk diletuskan lagi. Batas perdamaian yang dibatasi oleh suatu sekat tak bernama, dijaga oleh prajurit-prajurit penjaga perdamaian yang dinaungi langsung oleh PBB hendak dijebol saja oleh negara kami. Prajurit dari Korea Selatan itu mungkin saja lengah karena kami memberi pernyataan tidak akan menyulut perang jika mereka tidak memulainya.

Tapi, sebagai gabungan tim intelijen Korea Utara yang bergerak diam-diam, aku tahu sebetulnya Utara masih senantiasa ingin menguasai dataran Korea. Kalau bisa, negara maju seperti Korea Selatan itu dilindas habis dan digantikan oleh paham komunisme milik Utara. Kami mungkin memang bukan negara maju, tapi itu hanya masalah waktu.

“Agen 101 Lee, sudah mendapat kabar terbaru mengenai pasukan penjaga perdamaian?”

Handie talkie gemerisik itu segera kutempelkan lekat-lekat ke bibir untuk menjawab pertanyaan dari Kepala Intelijen. Untuk beliau, aku tidak dapat menggunakan telepon yang berkemungkinan disadap. Handie talkie murahan sudah dihapus dari daftar akses di Korea Selatan sana. Itulah kelemahan negara maju seperti mereka yang selalu menertawai teknologi lama.

“Ya, Kepala. Pasukan penjaga perdamaian itu akan segera dibubarkan apabila dalam tiga bulan kita tidak bergerak atau memberi ultimatum apa-apa. Perang bisa segera dimulai setelah tiga bulan berlalu.”

Tawa terdengar dari seberang, bergabung dengan gemerisik mengesalkan itu.

“Baik, Agen 101 Lee. Akan kusampaikan kabar baik ini pada Sersan Kelas Satu, untuk menyusun strategi perang. Kalau bisa, kita keluarkan meriam besar seperti milik Turki Usmani dulu.”

Aku menyeringai mendengarnya, kemudian meletakkan handie talkie butut itu kembali ke dalam laci meja. Kususuri komputer untuk melihat jaringan-jaringan di Korea Selatan yang tidak menunjukkan tanda-tanda siaga. Mereka begitu tenang untuk ukuran negara yang sedang dalam target pengincaran. Ini berarti pergerakan diam-diam bagian Utara benar-benar berhasil tidak tercium.

“Minho-ya.

Panggilan dari belakang membuatku segera mengalihkan fokus untuk menengok. Tersenyum simetris ketika melihat Bae Suzy, kekasihku, sudah berdiri di situ dengan syal berwarna biru laut melingkari lehernya. Jangan lupa blazer-nya yang menjuntai hingga bertemu potongan di bagian siku.

“Kaumau pergi, hm?”

Ia beranjak menuju mejaku, duduk di pangkuanku. Tenang karena memang ini kantor pribadiku, wilayah khusus untukku bekerja.

“Mau pamit pulang ke Selatan,” jawabnya sambil terkekeh.

Ya! Sudah kubilang, nanti saja setelah rencana perang ini selesai, Suzy. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa,” ujarku sambil memainkan anak rambutnya.

Dia mengerucutkan bibir. “Tidak bisakah kita jalan-jalan dan kautinggalkan dulu pekerjaan sialan ini?”

“Di Selatan?”

Suzy memang asli Korea Selatan, dan dia mengangguk untuk pertanyaanku. Ia pasti rindu sekali dengan kampung halamannya yang asri, tidak setandus Utara. Tapi, lagi pula negara asri itu akan jadi wilayah kami juga, jadi ketandusan kami akan segera terhapus setelah ini. Batas tidak bernama itu akan segera roboh.

“Memang kaumau ke mana?”

Ia menelengkan kepala, berpikir. “Ke Busan, mungkin? Atau ke Ilsan. Main ski, nonton bioskop, makan ddokbokki, ke pasar malam, menikmati salju pertama.”

Demi melihat matanya yang berbinar ceria, aku tidak sanggup juga menolak. Kulirik sebentar kalender di meja kerja, memperhitungkan waktu yang tepat. Aku adalah agen, dan pergerakanku bisa terjamah kapan saja.

“Kautahu konsekuensinya, ‘kan? Aku agen intelijen, Sayang.”

Suzy mengangguk kaku. “Ya, aku tahu. Aku bisa sendiri, kok.” Matanya sayu ketika mengatakan itu.

“Minggu depan, bagaimana? Kukira itu tepat salju pertama turun.”

“Kaumau pergi?”

Kuanggukkan kepala, dan secepat kilat ia memeluk leherku erat-erat. “I love you!”

I love you, too, Honey.

***

“Kautahu risikonya, 101 Lee,” ujar Ah-in, temanku yang juga Letnan Jenderal Angkatan Bersenjata, ketika kuminta menemani mengurus kepergianku ke Selatan.

“Aku mempelajari beberapa hal tentang kemiliteran, dan akan membawa pistol cadangan kalau memang perlu.”

Ah-in mengedikkan bahu. “Itu hak prerogratifmu, aku tidak bisa mengganggu gugat. Hanya saja, bukan tidak mungkin, pergerakan diam-diam kita dibalas dengan serangan diam-diam juga dari Selatan. Mereka selalu jadi musuh dalam selimut.”

Aku mengangguk paham. Yoo Ah-in memiliki banyak pengalaman di medan pertempuran. Ia menguasai berbagai jenis senapan dan pistol. Latihan memanah hingga menembak, bahkan pandai berkuda jika memang situasi sedang darurat. Bekas-bekas luka di pelipis, leher, hingga tangan dan kakinya menjadi bukti bahwa ia berperan besar dalam perebutan wilayah antara Utara dan Selatan.

“Siapa nama pacarmu itu?”

“Bae Suzy,” jawabku.

“Dia seperti ulzzang,” ujarnya sambil menipiskan bibir. Menimang sejenak, ia berkata, “Pastikan dia bukan jebakan yang dipersiapkan Selatan untukmu. Wanita cantik, harta yang banyak, kedudukan …, mereka sering menggunakan itu untuk menarik intel agar berkhianat. Kau pasti tahu kasus 97 Yoon.”

Kuanggukkan kepala dalam diam.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan.” Kutepuk punggung Ah-in, meyakinkan.

***

Sehari sebelum keberangkatan menuju Korea Selatan, aku sudah mengaktifkan alarm siaga di komputerku. Ponselku bisa disadap oleh anggota kantor intelijen, sementara setiap pergerakanku akan terpantau aktif lewat layar nirkabel. Jika ada yang berbahaya, sistem keamanan akan memberikan tanda merah, dan akan segera disalurkan ke ponselku dalam model alarm peringatan.

“Ingat, jika tandanya masih juga merah, hubungi aku lewat handie talkie,” pesanku sebelum mengangkat tas.

Anggota-anggota intelijen mengangguk sigap. Mereka satu per satu mempelajari pemakaian teknologi yang aku dan Kepala Intelijen rakit selama bertahun-tahun. Ya, Utara tidak lagi seprimitif dulu, namun orang-orang di luar sana tak perlu tahu fakta yang satu itu.

Keluar kantor, Suzy sudah melambaikan tangan. Kusambut dirinya dengan pelukan di pinggang, sambil mengecup pipinya.

“Rindu?” tanyaku.

Suzy tertawa. “Neomu neomu neomu bogoshipeoyo.”

Sisi kanak-kanaknya selalu membuatku terkekeh samar. Kami berjalan beriringan menuju mobil yang telah kumodifikasi menjadi anti peluru dan rudal. Plat nomornya sengaja kuuruskan dari Selatan dengan bantuan Suzy. Ya, setidaknya, ia tidak pernah benar-benar peduli pecah perang seperti apa.

“Memangnya kau tidak takut dengan perangnya?” pernah aku bertanya suatu kali.

Dia menggeleng sambil menjawab, “Aku lebih takut, jika perang itu meletus, negaraku menggencarkan ultimatumnya dan menghabisi kekasihku. Apa pun bisa terjadi padamu ketika itu, Minho-ya.

Apa pun memang bisa terjadi pada agen sepertiku, karena dari akulah semua informasi akurat berasal. Jika tidak ada aku dan badan intelijen yang menaungiku, mungkin Utara selamanya akan tertinggal informasi dan tidak juga bisa menyusun strategi.

“Kita mau ke mana dulu?” pertanyaannya membuyarkan lamunan sesaatku.

“Kau sendiri mau ke mana?”

Suzy tersenyum. “Dengarkan aku, ya,” dia berhenti sejenak, “ke mana pun kaupergi, aku ikut.”

Ya ampun, dia mencoba merajuk ternyata. Kuusap kepalanya dengan gemas. Setir segera kukemudikan untuk menembus tembok pertahanan itu. Pergerakan ini, mudah-mudahan tidak terbaca sampai esok hari. Mudah-mudahan semuanya lancar, tanpa alarm berbunyi pertanda bahaya. Keselamatan Suzy, cintaku, berada di genggamanku kini.

***

Anggap saja acara jalan hari ini sudah selesai. Mobil kuparkir di samping jembatan Busan. Malam menjemput, dan Suzy minta memandangi gemerlap lampu pelabuhan dahulu sebelum pulang. Di samping perairan yang biru itu, gedung-gedung pencakar langit berdiri megah menghiasi kota Busan. Kota ini jadi menyempit, namun pelabuhan tetap memperindah dan menyejukkannya.

Aku baru saja membenarkan letak syal Suzy ketika salju pertama menjatuhi kemejaku.

See, benar apa kubilang. First snow.

Suzy berseru senang melihatnya. Ia mendongak menatap langit, berharap salju-salju lain turun segera. Dan, benar saja, suhu udara menurun dalam beberapa menit, salju-salju lainnya terburu-buru jatuh dalam ritme lambat. Menyenangkan menunggunya jatuh ke telapak tangan untuk kemudian menyusut menjadi air.

“Suzy-a,” panggilku. Tanganku masih setia mendekap bahunya, mencoba menghangatkan.

Ia menengok ke arahku, masih sambil memainkan salju, mendinginkan tangannya.

Aku tersenyum. “Aku mencintaimu.”

Suzy hendak menjawabnya ketika aku menyela bibirnya dengan satu ciuman panjang. Sesuatu yang menghangatkan hati dan terasa begitu romantis di bawah langit Busan. Ketika Suzy telah mengalungkan tangannya di leherku, aku sadar kalau udara semakin dingin. Tangannya beku.

Kulepaskan ciumanku. “Masuklah ke mobil, nyalakan penghangatnya. Kubelikan cokelat panas dulu, ya.”

Ia menggeleng, hendak mencuri ciuman yang tertunda lagi, namun aku menggeleng. “Kau kedinginan, Sayang. Masuklah.”

“Jangan lama-lama,” pesannya kemudian.

Setelah menganggukkan kepala satu kali, aku segera beranjak menuju kedai cokelat terdekat. Memesan dua gelas cokelat panas dan menunggu pesananku selesai dibuat sambil melihat jam tangan. Sudah pukul sepuluh.

Tiba-tiba saja alarm berdering-dering. Sumbernya tentu dari ponselku yang tersimpan di dalam kantong.

Tanpa harus memeriksanya dulu, aku segera berlari kembali ke mobil. Tidak, tidak mungkin, aku tidak lupa menguncinya. Tidak ada yang terjadi, seharusnya. Tidak kupedulikan teriakan penjual cokelat yang hendak menyerahkan pesananku. Aku harus kembali. Suzy dalam bahaya.

Deg.

Pintu mobilku terbuka. Ada yang menyusup. Kutelusuri dalamnya, penghangat ruangannya belum sempat dinyalakan, syal Suzy tertinggal di dalamnya.

“Keparat!”

Kukeluarkan handie talkie-ku dan mulai mendengar laporan dari Utara.

“Halo, 101 Lee di sini. Apakah merah?”

“Terang sekali, Agen 101 Lee. Kepala tidak bisa dihubungi. Sepertinya ada yang melakukan sandera diam-diam. Halo, 101 Lee?”

“Ya—”

Terlambat. Obat bius disumpalkan ke pernapasanku, dan aku tidak lagi sempat memberi instruksi ke arah handie talkie. Salju pertama itu pertanda nasib sialku.

***

Seperti masuk ke dalam akuarium kaca. Yang pertama kali kulihat adalah sosok Suzy terkapar lemah di seberang sana. Tetapi, ruangan ini bersekat kaca, persis akuarium, sehingga ketika aku beringsut ke arah Suzy, kaca itu menghalangiku.

“Suzy-a, bangun!” teriakku sambil memukul-mukul kaca dengan kepalan tanganku.

Suzy belum bangun. Kurogoh-rogoh saku celanaku, hanya ada ponsel di sana. Tanpa sinyal pula. Pistolku tertinggal di mobil beserta dengan alat-alat pertahanan lainnya, sialan.

Mestinya tidak sebodoh ini kalau yang pergi ke Selatan adalah Ah-in. Aku tidak mempelajari banyak soal kemiliteran untuk mempertahankan diri. Lebih banyak belajar memperbaiki posisi Utara dan melacak jalur-jalur militer milik Selatan. Dan, yang bisa melakukan hal sekejam ini sudah pasti berasal dari sumbu kepolitikan, bukan militer.

“Suzy, bangun!” teriakku lagi.

Saat itu juga, akhirnya ia terbangun. Matanya menyipit sejenak, menyesuaikan diri dengan cahaya yang entah datang dari mana, mengingat tidak ada lampu yang menempel di kaca.

“Minho-ya.”

Suaranya lemah namun sanggup memantul ke sini. Sepertinya, ada lubang-lubang kecil yang memungkinkan itu terjadi. Tapi, aku tidak punya kesempatan untuk memikirkannya.

Boom!

Ledakan pertama itu mempreteli kaca sekat di antara kami. Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan monitor kecil menempel di dinding. Bukan berisi rekaman atau video, hanya menampilkan tulisan menggunakan hangeul yang memerintahkan beberapa hal yang perlu kami lakukan.

Mainkan gunting-batu-kertas.

Aku tertawa kecil. “Permainan apa ini, hah?! Kaupikir kami anak TK?!” teriakku kencang-kencang.

Balasannya adalah tembakan keras, dan tanpa sempat kuhindari, menembus kakiku begitu saja. Sakit bukan main, sampai aku mengerang putus asa, jatuh terduduk.

“Minho-ya!” Suzy berseru terkejut. Tangannya menggapai-gapai ke arahku lewat kaca yang tidak roboh sepenuhnya. Aku menggeleng, memintanya tenang, meski air mata tentu sudah meluncur jatuh ke pipinya.

Monitor itu berkedip sekali, kemudian meneruskan pekerjaannya. Tulisan selanjutnya bergulir.

Siapa pemenangnya akan berhasil selamat. Yang kalah akan mati.

Aku mengerang, tidak berani menyuarakan kekesalanku. Sementara, Suzy sudah tersedu sambil menutupi mulutnya. Air mata menganak sungai di pipinya.

Jika hasilnya seri, kalian berdua akan mati.

Lakukan dalam ….

15.

14.

Hanya limabelas detik? Keparat sinting!

“Suzy, Suzy, Sayang, berdirilah, oke. Kita harus melakukannya. Tenanglah.” Tanganku menjangkau pipinya dan menghapus air matanya.

“Bagaimana kita melakukannya?” tanyanya.

“Kau keluarkan batu, dan aku gunting. Kauharus selamat, masa depanmu masih panjang.”

Dia menggeleng. “Kau juga harus selamat. Kau agen negara. Aku bukan siapa-siapa.”

Tiba-tiba, alarmnya berbunyi.

7.

6.

“Kaubilang kita akan terus bersama-sama, tapi aku tidak peduli jika aku mati lebih dahulu. Tidak apa-apa,” katanya lagi.

Aku menggeleng keras. “Kita akan terus bersama-sama. Kalau begitu, kita keluarkan gunting bersama. Kita akan bersama, ‘kan?”

Suzy menengok ke monitor.

3.

2.

Ia mengangguk.

Aku tidak pernah rela Suzy mati untukku. Tidak akan kumaafkan diriku sendiri, bahkan jika kami mati bersama. Seharusnya kujaga dia selalu, bukan kutinggalkan sendiri. Semuanya salahku.

Aku yang harus mati. Kapan pun aku bisa mati, tapi dia harus hidup.

            Ketika alarmnya berbunyi lagi, sambil meneteskan air mata, kukeluarkan kertas. Aku siap mati.

Waktu terasa melambat, dan mataku melotot ketika kulihat Suzy mengeluarkan batu, membuatku menjadi pemenang.

Duarr!

Peluru itu …, tanpa aba-aba, secepat kilat, menyambar jantung Suzy setelah menabrak dinding kaca yang tersisa. Suzy-ku ….

“TIDAAAAAKKK!!!!” teriakku keras-keras.

Kulewati dinding kaca itu dan menggoyangkan bahu Suzy. “Sayang? Tidak, Suzy, kau tidak boleh pergi! Kumohon!”

Ia tersenyum sambil berusaha mengusap pipiku yang basah. “A-aku …, tahu, kau akan …, mengalah un-untukku. Tapi …, hi-hidupmu, jauh le-lebih berharga, Sayang.”

Ketika tangisanku semakin keras terdengar, dia menutup matanya. Bukan untuk tertidur di dekapanku, juga bukan untuk merajuk dalam pelukanku seperti biasanya. Bukan untuk menghidu aroma parfumku kuat-kuat, atau untuk bermanja di pangkuanku.

Darah yang berceceran di tanganku memberitahuku bahwa dia pergi. Dan, yang menyakitkan, tidak berencana untuk kembali lagi. Selamanya.

“Suzy-a, aku akan membalaskan ini. Aku akan membalaskan ini!”

***

Tahun berikutnya, aku membangun jaringan yang besar untuk memperbaiki sistem koneksi internet di Utara. Pelacakan sekarang dapat dilakukan melalui berbagai benda yang tersamarkan, seperti kacamata atau anting sekalipun. Komputer telah tergantikan dengan layar hologram yang menampilkan apa saja melalui gelombang suara yang masuk.

“Pasukan penjaga perdamaian resmi dibubarkan, Bung.”

Ah-in tersenyum bahagia hari itu. Berlawanan dengan seringai licikku yang terpancang sejak kematian Suzy. Sejak hari itu, aku meninggalkan identitas Lee Minho dan semua berpura-pura berbelasungkawa untukku. Pak Kepala menghilang dan dinyatakan terbunuh hari itu.

Badan Intelijen masih berdiri menjadi agen di bawah tanah, dengan aku sebagai pimpinan gelapnya—orang yang dianggap sudah mati oleh Selatan.

“Kujamin, pergerakan kali ini tidak akan terbaca.”

Aku sudah berusaha keras untuk membalaskan nyawa itu dengan seribu nyawa lain dari tanah Selatan.

Tunggu saja letusan tak terduganya, Kawan.

Hari itu, mereka memberiku ultimatum lewat alarm di monitor. Hari ini …, aku akan menyerang, tanpa ultimatum apa-apa.

 

—fin.

Author’s note:

Mohon maaf kalau nggak suka pairing-nya, atau bukannya crime malah kayak action. Dikarang dalam waktu satu setengah jam, jadi mohon dimaafkan jika feel-nya kurang. Komentar dan like sangat ditunggu untuk menambah semangat dalam berkarya. Terima kasih.

2 thoughts on “[Vignette] Welcoming a Hostility”

  1. Niswa/?
    Aku suka bagian aksinya. Emang bener sih lebih ke action tapi tetep suka, kok.

    Cuman gak tahu kenapa aku mikirnya malah suzy juga mata2 dari Selatan tp ternyata bukan, ya? Wkwk

    Selebihnya aku suka, aku ngerasa ada di bagian cerita:3

    Suka

    1. haloo, Tob. Ketemu lagi hehehehe. Iyaah bener bukan mata2 dari selatan. Sebetulnya aku juga pengen bikin dia jadi mata-mata, tapi apa daya, mv-nya nggak cerita kayak gitu ehehe. Makasih komentarnya yaa ^^

      Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s