s’évanouir

10-11sévanouir

by sparkchanyeol

Casts Kris & Tao Genre Brothership, Angst & Sad

Rating PG-15 Length 500> words [Drabble]

 

“Aku tidak bisa tinggal.”

“Jika begitu, bawa aku pergi bersamamu.”

Malam rabu kala itu tak terlalu dingin, untung, karena musim semi lebih mengalirkan udara yang sejuk di kota Seoul. Di sudut balkon bangunan berlantai dua itu terdapat seorang pria dengan surai emasnya. Tatapan nanar dari kedua maniknya menandakan dirinya sedang kecewa. Ya, Zitao telah kecewa. Kecewa pada seseorang yang telah merasuki jauh relung kehidupannya. Zitao mungkin bisa saja melempari orang itu dengan sepatu-sepatu mahal koleksinya, atau juga membuat orang itu babak belur dengan bakat ahli bela diri—Wushu yang dimilikinya. Namun apalah arti semua itu jika orang itu pergi. Pergi jauh—dan kemungkinan terburuknya dia tak akan pernah kembali. Mungkin ada harapan karena orang itu tinggal di satu negara yang sama dengan Zitao. Tapi sedikit pula harapan Zitao dikarenakan jarang berpulang ke negara asalnya. Zitao ingin marah, tapi untuk apa?

Ia ingin mengeluarkan semua jurus-jurus wushu mematikan untuk mengeluarkan segala rasa kecewanya, tapi untuk apa?

Lalu… Untuk apa arti kebersamaan 2 tahun belakangan ini?

Untuk apa berkeliling sana kemari bersamanya namun akhirnya dirinya tak akan kembali?

Untuk apa Kris datang lalu memasuki jauh relung kehidupan Zitao dan seenaknya pergi begitu saja?

Sekelebat memori tentang Kris muncul memenuhi otak Zitao. Kenangan-kenangan yang termakan oleh waktu, do’a dan perasaan mereka yang saling berbagi. Namun hanya satu kejadian yang membuat Zitao enggan untuk memikirkan Kris lagi. Membuang memori-memori tentang Kris jauh-jauh. Menguburnya dalam dan mungkin akan Zitao rindukan suatu saat nanti.

“Kris-ge?”

Zitao menatap pria yang lebih tinggi dan dewasa didepannya. Pria itu berpakaian rapi, tangan kirinya menggenggam erat surat dan tangan kanannya menarik sebuah koper besar. Namun sayangnya pria itu malah membuang muka, seolah-olah Zitao hanyalah desauan angin yang menggelitik pelan wajah dinginnya.

“Ge, jangan tinggalkan aku.”

Air wajah Zitao memudar, air asin yang berada di kedua manik cokelatnya mengaburkan pandangannya sesaat. Bayangan pria tinggi itu seiring semakin menjauh.

“Aku tidak bisa tinggal, Zitao.”

Zitao terperangah, terkejut namun dirinya tak tahu harus menanggapi apa. Derap kaki pria itu semakin mengecil, namun Zitao tidak ingin sakit. Tidak.

“Jika begitu, bawa aku pergi bersamamu, Ge.”

Suara derap langkah kaki itu tak terdengar lagi, namun ada sekelebat bayangan besar terlihat di kedua manik Zitao yang mengabur karena gumpalan kristal bening. Bayangan itu menggeleng tanda tidak setuju.

Zitao benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi. Ia terduduk sambil memeluk kedua lututnya, namun secarik kertas dan sebuah bolpoin membuat Zitao segera menghapus apa yang menghalangi penglihatannya.

Derap langkah kaki itu masih terdengar, walaupun semakin kecil.

Tangan Zitao bergerak kesana kemari, menorehkan sesuatu yang mungkin dapat dikenang oleh siempunya derap suara langkah kaki tadi. Menuliskan sesuatu yang berarti, meninggalkan kenangan dan terakhir, melepas orang itu pergi jauh. Zitao rela—walau dengan berat hati.

Sekuat tenaga Zitao berlalu mengejar pria itu. Namun nampaknya pria itu hilang terbawa oleh angin kesedihan. Zitao menangis. Tapi tidak dengan angin yang semakin menggelitik wajahnya.

Zitao menerbangkan secarik kertas tersebut, berharap ada seseorang atau sesuatu menyampaikan pesannya.

Larut malam sudah tiba, Zitao hanya menangis, menangis, namun tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Seiring hembusan angin yang kuat, menerbangkan secarik kertas itu hingga terjatuh tepat diujung sepatu boot hitam milik Kris—yang sedang menatap cokelatnya tanah kota Seoul.

“Aku mencintaimu, Kris.”

Dan seketika itu juga Kris merasakan sakit yang amat dalam, ia ingin menangis dibalik topeng dinginnya. Dan hembusan angin pula menerbangkan topeng dinginnya itu, memunculkan rembulan yang berwarna keemasan menerawangi tubuh tinggi Kris. Seiring dengan tetesan kristal bening jatuh membasahi tanah cokelat di kota Seoul malam itu, Kris dengan segenap hatinya yang rapuh berkata lirih;

“Aku mencintaimu juga, Zitao.”

 

2 thoughts on “s’évanouir”

  1. Halo, sebelumnya kenalin ya, aku Niswa 99 line. Kebetulan buka dashboard dan ada tulisan ini, jadi baca, bikos keterangannya brothership bukan boyslove. Eh tapi… pas dibaca kok, ada kata “cinta” ya? Menurutku ini jadi tidak sinkron antara keterangan di atas dengan kontennya.

    Lalu, mau koreksi sedikit kalau kata “rabu” mestinya “Rabu” karena menunjukkan nama hari. Lalu kata “Wushu” seharusnya “wushu” saja, karena tidak ada alasan mesti berhuruf kapital.

    Sebenernya ceritanya bagus, cuma alangkah baiknya kalau pemilihan kata-kata lebih divariasi, supaya nggak bosan. Juga feel-nya lebih disemarakkan lagi, meski hanya fiksi pendek. Semangat berkarya, ya!🙂

    Suka

  2. Pas baca kayak ada baper baper maknyus gimana gitu :’) Keseluruhan cerita bagus sih, tapi masih ada kata-kata yang perlu dibenahi seperti yang sudah dijelaskan diatas(?)
    Keep writing, author-nim! ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s