The Story Only I Didn’t Know [5/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [5/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1. 2. 3. 4

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Jiyeon’s House – 02.00 pm

Jiyeon berjalan pelan memasuki rumahnya, tersenyum ke arah beberapa pelayan yang menyambut kepulangan gadis itu dari sekolah. Aroma harum dari masakan yang tersaji di atas meja, sedikit mengelitik lambung gadis itu, membuat gadis itu tersenyum lalu berlari memeluk seorang bibi paruh baya yang terlihat sangat sibuk menata meja makan.

“Jung Ahjumma,—“ ucap Jiyeon masih dengan memeluk bibi tersayangnya itu dengan erat, bibi yang selalu menemani gadis itu sejak kecil hingga sekarang, bibi yang menjadi pengemar berat dari Park Chanyeol dan selalu terlihat tersenyum berlebihan tiap kali laki-laki menyebalkan itu datang untuk menjemput Jiyeon.

“Ya ampun nona Jiyeon kau mengagetkan ku,—“ Jung Ahjumma mengusap dadanya saat Jiyeon sudah melepaskan pelukannya, wanita paruh baya itu terlihat mengusap kepala Jiyeon dengan sayang.

“Ganti pakaian mu dan segera makan, arrachie?” Jiyeon menganguk lalu segera berlalu menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Jiyeon membuka pintu kamarnya dengan bersenandung kecil, meletakkan tas sekolahnya di atas sofa biru yang ada tepat di samping pintu lalu merebahkan tubuhnya di sana. Gadis itu mengeratkan syal biru muda di lehernya, tersenyum kecil saat bayangan wajah lucu Chanyeol yang merona, kembali memenuhi pikirannya bahkan gadis itu mengelengkan kepalanya tak habis fikir, jika ternyata laki-laki menyebalkan itu bisa juga berexspresi lebih manusiawi dari biasanya.

“Sepertinya kau sangat senang Jiyeon-aa, hingga tidak menyadari kehadiran ku di kamar mu ini.” Jiyeon tersentak seketika gadis itu segera menegakkan tubuhnya, menatap terkejut ke arah seorang laki-laki yang duduk di tepi ranjangnya.

Laki-laki tampan dengan senyum memabukkan yang mampu membuat jantung gadis itu, selalu berdetak tak normal jika berada di dekat laki-laki itu. Laki-laki yang selalu mampu membuat Jiyeon bahagia dan terluka dalam waktu yang bersamaan.

“Siwon oppa?” ucap Jiyeon masih dengan keterkejutannya, laki-laki itu tersenyum lalu berjalan mendekati Jiyeon. “Waeyo? Apa aku sekarang terlihat seperti hantu?” tanya laki-laki itu dengan mengusap kepala Jiyeon dengan lembut, saat sudah duduk di samping Jiyeon yang masih menegang.

Gadis itu masih terlalu terkejut dengan kedatangan laki-laki yang sudah memporak porandakan hatinya ini, lama Jiyeon menatap laki-laki yang selalu mampu membuatnya merindu. Semuanya belum berubah, senyum hangat itu masih sama, sentuhan lembut laki-laki itu masih terasa sama, bahkan pandangan sayang laki-laki itu pun terasa masih sama untuk gadis itu, dan perasaan gadis itu untuk laki-laki itu juga tetap sama seperti dulu.

“Sejak kapan oppa berada di kamar ku?” tanya Jiyeon pada akhirnya, gadis itu masih memandang laki-laki tampan itu nyaris tanpa kedipan.

“Eoh! Sejak 1 jam yang lalu. Aku dengar dari Jung Ahjumma kau sakit sejak kemarin, maka dari itu aku datang kemari.” Ucap Siwon seraya kembali mengusap kepala Jiyeon dengan lembut, membuat Jiyeon tertunduk, terdiam dengan perasaan rindu yang berkecambuk hingga membuat mata gadis itu mulai memanas.

“Oppa mengkhawatirkan ku?” tanya gadis itu dengan suara pelannya. “Tentu saja Jiyeon-aa kau adik ku, jadi sampai kapan pun aku akan selalu mengkhawatirkan mu,” Jiyeon tertegun mengusap tangannya yang sudah membeku itu dengan gusar. “Jika saja dunia bisa berputar ulang maka aku akan datang tepat di hari kau sakit, bukan hari ini.” Ucap Siwon dengan nada menyesalnya.

Jiyeon kembali terdiam terkunci di rasa yang semakin tak bisa di kendalikannya, rasa ingin memiliki laki-laki yang seharusnya menjadi miliknya bukan milik sahabat baiknya, rasa ingin bersikap egois dengan merebut laki-laki itu tanpa pernah peduli dengan perasaan Jihyun.

“Jika waktu bisa berputar ulang, ku pastikan aku tidak akan pernah mengenalkan Jihyun pada mu,” gumam Jiyeon tanpa sadar dengan suara yang sangat lirih.

“Nde?” tanya Siwon seraya menatap Jiyeon yang masih menunduk.

“A– ania—“ jawab Jiyeon dengan sedikit tergagap. “Aku tidak sakit oppa aku hanya kelelahan kemarin, Jung ahjumma saja yang berlebihan karna aku sempat berniat tidak ingin masuk sekolah, jadi Jung Ahjumma berfikir kalau aku sakit.” jawab Jiyeon dengan suara yang terdengar mulai gemetar, mengeleng pelan seraya membuang niat jahat yang ingin menguasai hatinya.

Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya dan memaksakan sebuah senyuman.“Oppa aku lapar,” ucap gadis itu. “Apa oppa masih mau mengendong ku ke bawah seperti dulu?” tanya Jiyeon dengan ragu, menyembunyikan semua rasa terlukanya di balik senyum tipisnya saat ini.

“Tentu saja Jiyeon-aa,” Siwon menganguk lalu membalikkan tubuhnya, ya sejak dulu Jiyeon memang suka sekali meminta Siwon untuk mengendongnya. “Ya Tuhan kau berat sekali sekarang,” ucap Siwon dengan kekehan kecilnya saat Jiyeon sudah berada di atas punggungnya.

“Oppa,—“ ucap Jiyeon seraya memukul bahu Siwon dengan memajukan bibirnya kesal, Siwon tertawa pelan. “Aku hanya bercanda,” ucap Siwon dengan suara pelannya lalu memutar tubuhnya, membuat Jiyeon tertawa dengan jerit yang tertahan lalu menyandarkan dagunya di bahu Siwon.

“Jiyeon-aa,—“ panggil Siwon seraya mulai melangkahkan kakinya, keluar dari kamar tidur Jiyeon berjalan pelan menuruni tiap anak tangga.

“Eoh?”

“Berjanjilah untuk selalu tertawa seperti ini, dan jangan sakit lagi— karna jika kau sakit aku benar-benar merasa sangat khawatir, aku benar-benar merasa bersalah dan merasa tidak berguna,” Jiyeon terdiam dengan airmata yang kembali memenuhi pelupuk mata beningnya.

“Ayah mu meminta ku untuk selalu menjaga mu dengan baik, jadi— tetaplah sehat dan bahagia, kau mengerti?” airmata Jiyeon akhirnya jatuh juga, menetes melewati hidung mancung gadis itu lalu berakhir di atas syal yang gadis itu kenakan. Jiyeon mengeratkan dekapan tangannya di bahu Siwon, menahan isakannya karna airmata yang terus mengalir dari bolamata beningnya.

“Oppa— sarangaeo,—“ ucap Jiyeon tak tertahan, suara gadis itu terdengar serak dan bergetar. Jiyeon benar-benar sudah terlalu sakit, jika harus terus menahan semua luapan perasaannya terhadap Siwon selama ini, menahan kata-kata yang ingin sekali di ucapkan gadis itu sejak dulu.

Siwon menghentikan langkahnya, tertegun sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis mendengar kata-kata Jiyeon barusan. Kata-kata yang selalu di ucapkan oleh gadis kecilnya itu sejak dulu, sejak Siwon masih sangat sering mengunjungi gadis itu, gadis yang selalu Siwon anggap sebagai adik kecilnya, dan benar-benar sangat di sayangi oleh laki-laki itu melebihi apapun di dunia ini.

“Nado sarangae,— Song Jiyeon.” Airmata Jiyeon kembali mengalir saat gadis itu memejamkan matanya, menahan dadanya yang mulai terasa semakin sesak. Gadis itu tahu betul jika jawaban itu bukan ungkapan perasaan seorang laki-laki terhadap seorang gadis, kata-kata itu hanyalah kata-kata ungkapan rasa sayang, yang sejak dulu selalu di ucapkan Siwon sebagai jawaban tiap kali gadis itu mengucapkan kata-kata itu.

“Mulai sekarang kau harus mengganti kata-kata itu, Jiyeon. Karna jika ada laki-laki di luar sana yang mendengarnya, mereka pasti akan menganggap mu sebagai kekasih ku, bukan adik kecil ku.” Ucap Siwon lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Gadis itu tidak menjawab hanya mengangguk pelan, dengan airmata yang semakin deras membahasi pipinya. Jiyeon bersyukur karna saat ini dirinya mengunakan syal tebal di lehernya, hingga airmatanya tak mengenai pundak Siwon dan membuat laki-laki itu tak pernah tahu, jika saat ini gadis itu sedang menangis dalam perasaan perih yang tak berujung.

Kembali Jiyeon mengeratkan pelukannya di bahu laki-laki itu dan sangat berharap jika anak tangga di rumahnya ini tidak akan pernah berakhir, hingga gadis itu bisa terus memeluk Choi Siwon, memeluk laki-laki yang sangat di cintainya sejak dulu.

***

Xiumin’s Apartement – 08.00 pm

Xiumin mendudukkan tubuhnya di atas sofa coklat yang ada di ruang utama apartement, menatap laki-laki yang memiliki garis wajah seperti dirinya itu dengan tersenyum, laki-laki yang sudah duduk di sofa itu sejak setengah jam yang lalu.

“Aku benar-benar tidak menyangka hyung akan membelikan apartement ini untuk ku.” Xiumin tersenyum sekilas. “Dan— berapa lama aku harus tinggal di Seoul, hyung?” tanya Xiumin seraya meraih remot tivi lalu menghidupkan tivi layar datar yang baru saja di bawa oleh laki-laki yang duduk di sebelahnya, memencet tombol chanel guna mendapatkan siaran tivi yang di minatinya.

“Aku belum tahu, nikmati saja kehidupan baru mu di sini,” jawab laki-laki itu masih dengan pandangan lurus ke depan.

“Aku tidak begitu suka tinggal di sini, aku lebih suka tinggal di Guangzhou,” ucap Xiumin dengan kembali memencet tombol di remot tivi. “Aku lebih suka tinggal di sana bersama mu, —seperti dulu.” Xiumin menghembuskan nafasnya lalu meletakkan remot tivi, menatap layar tivi yang kini sedang menayangkan film animasi terlaris di tahun 2013 yang lalu, animasi dengan banyak sekali makhluk pendek berwarna kuning, yang di namai sebagai Minion di film itu.

Laki-laki itu menatap Xiumin dengan senyum samarnya, menatap laki-laki yang kini sudah tertawa dengan adegan lucu di televise. Laki-laki itu mengusap bahu Xiumin dengan lembut, membuat laki-laki bermata sipit itu memandangnya. “Mungkin—- mungkin nanti kita akan kembali hidup di Guangzhou, setelah semua tugas ku berakhir,” ucap laki-laki itu dengan tersenyum.

Xiumin mengerutkan dahinya merasa binggung dengan laki-laki yang berpredikat sebagai kakak laki-lakinya itu, karna yang Xiumin tahu kakak laki-laki nya ini bukan polisi, bukan pula agen rahasia negara, yang dia tahu kakaknya ini hanyalah seorang sopir pribadi yang bekerja pada seorang konglomerat di daerah distric Gangnam-gu.

“Tugas?” tanya Xiumin pada akhirnya, laki-laki itu mengangguk. “Ne tugas penting dan rahasia,” laki-laki itu tersenyum saat melihat wajah Xiumin yang semakin binggung. “Tidak usah di pikirkan cukup nikmati saja hidup mu dengan baik,” laki-laki itu mengacak pelan rambut saudara satu-satunya itu lalu beranjak dari sofa yang di dudukinya.

“Hyung— kau sudah mau pulang?” tanya Xiumin seraya mengikuti langkah laki-laki itu hingga ke ambang pintu apartement. “Ne— berhati-hatilah selama tinggal di kota ini, tetap waspada dengan semua yang ada di sekitar mu dan tetaplah bernafas dengan benar, karna— hanya tinggal kau yang aku miliki di dunia ini,” ucap laki-laki itu dengan suara yang terdengar tegas namun hangat.

“Tenang saja adik mu ini menguasai beladiri dengan sangat baik,” ucap Xiumin dengan tertawa pelan, laki-laki itu hanya mengangguk lalu membalikkan tubuhnya. “Sungmin hyung-— berhati-hatilah,” laki-laki menolehkan kepalanya, tersenyum tipis ke arah Xiumin lalu kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari pintu apartement.

***

Next’s Day

YeomKwang High School – 07.00 am

Sungmin terlihat melebarkan senyumnya saat melihat Chanyeol dan Jiyeon, belum juga menghentikan perdebatan mereka sejak tadi. Laki-laki itu terlihat menundukkan kepalanya sesaat setelah Chanyeol turun dari mobil di ikuti oleh Jiyeon di belakangnya.

Gomawo Sungmin hyung,” ucap Chanyeol seraya meraih pergelangan tangan Jiyeon, selanjutnya laki-laki itu sudah menarik Jiyeon untuk mengikuti langkahnya, mengabaikan teriakan protes dari gadis itu di belakangnya.

Sungmin masih tersenyum tangan laki-laki itu bergerak membuka kembali pintu mobil, mendudukkan tubuhnya dengan nyaman di balik kursi kemudi. Sesaat kemudian laki-laki itu merogoh handphone miliknya, dari balik saku jas yang di pakainya saat benda mati itu bergetar, mata tajam itu memandang sekilas ke arah layar yang menampilkan nama seseorang yang sedari tadi di tunggu oleh Sungmin.

Apa kau sudah mendapatkannya?” tanya seorang wanita di seberang sana tak sabar, sesaat setelah Sungmin menerima panggilan itu.

Ne Nyonya saya sudah mendapatkannya,”

Benarkah?”

Ne, bukan hal yang sulit bagi saya untuk menemukan Psilocybin dan saya pastikan ini akan berefek seperti yang nyonya inginkan jika di konsumsi bersama obat penenang yang biasa di konsumsinya.”

“Bagus! Ingat kau harus segera melakukannya sebelum aku kembali menginjakkan kaki ku ke Korea, pastikan kau membuat wanita itu menjadi gila— jika nanti dia mempersulit rencana ku, kau bisa membunuhnya!”

“Ne Nyonya saya mengerti.” Ucap Sungmin dengan dingin sesaat sebelum wanita di seberang sana memutuskan sambungan telphonenya.

***

Jiyeon’s Class

“Ingat kau jangan terlalu dekat dengan laki-laki China itu, jika kau melakukannya ku pastikan kau akan mati, Arraseo?!” ucap Chanyeol saat dia dan Jiyeon sudah sampai di depan kelas gadis itu.

Tak ada jawaban dari Jiyeon, gadis itu hanya menatap Chanyeol dengan bolamata yang berputar tanpa minat. Gadis itu pun melepaskan genggaman Chanyeol di tangannya, seraya membalikkan tubuhnya berjalan pelan memasuki kelas nya begitu saja.

“Annyeong, Jiyeon-ssi,” Jiyeon terlonjak dalam satu gerakan, gadis itu sudah menarik laki-laki yang baru saja menyapanya itu ke tembok tepat di belakang pintu kelas.

Gadis itu memutar pandangannya, memastikan jika makhluk menyebalkan yang selalu mengganggunya itu sudah menjauh dari kelasnya kini. Jiyeon menghembuskan nafas leganya saat tidak mendapati Chanyeol di ambang pintu, gadis itu bahkan tidak sadar jika laki-laki yang tadi menyapanya dengan ramah, sudah menatapnya dengan kerutan kebinggungan di keningnya.

“Apa yang kau lakukan, Jiyeon-ssi?” Jiyeon mengerjab saat dirinya kembali sadar jika masih ada seorang laki-laki berdiri di hadapannya, gadis itu memutar pandangannya lalu tersenyum dengan sangat manis.

Ah! Bukan apa-apa,—“ jawab gadis itu seraya menata penampilan rambut panjangnya, hingga menyisakan tatapan heran sekaligus senyum tertahan dari laki-laki tampan di hadapan gadis itu. “Waeyo? Apa ada yang aneh di wajah ku, hingga kau menatap ku seperti itu Xiumin-ssi?” tanya Jiyeon dengan tatapan polosnya.

“Tidak apa-apa hanya saja— kau terlihat berbeda dari siswi yang lain,” ucap laki-laki itu dengan tersenyum, hingga memperlihatkan gigi kelincinya yang lucu dan sungguh itu membuat Jiyeon merasa terpesona. “Kau terlihat sedikit— aneh,” laki-laki itu mengangkat jari telunjuk dan jempolnya, tepat di depan wajahnya.

Mwo?” tawa Jiyeon pecah seketika, gadis itu bahkan mengabaikan tatapan heran dari teman-teman satu kelasnya ini untuk pertama kalinya Jiyeon tertawa dengan sangat keras. Jiyeon menggelengkan kepalanya, menutupi wajah cantiknya dengan satu tangannya lalu berjalan pelan menuju bangkunya, di ikuti Xiumin yang terlihat tersenyum kecil di belakang gadis itu.

“Apa laki-laki itu tadi— kekasih mu?” tanya Xiumin saat sudah duduk di bangkunya, yang ada tepat di belakang Jiyeon, membuat gadis itu memutar tubuhnya seraya mengangguk pelan. “Bisa di katakan seperti itu karna hubungan kami— sedikit rumit,” laki-laki itu menaikkan satu alisnya dengan menganggukkan kepalanya berulang-ulang.

“Dia laki-laki menyebalkan yang aneh, kau tahu— dia bahkan selalu terlihat kesal saat aku sedang membicarakan mu, Xiumin.” Jiyeon terkekeh pelan. “Dia aneh bukan?”

Xiumin tersenyum kecil. “Mungkin— dia merasa cemburu pada ku,” lagi-lagi Xiumin tersenyum saat melihat Jiyeon yang sudah kembali tertawa dengan sedikit keras. “Yang aku tahu laki-laki itu adalah anak pemilik sekolah dan suka membulli anak anak yang lain, sedikit aneh jika dia punya kekasih seperti mu,”

Jiyeon mengerjab pelan, gadis itu memperhatikan Xiumin yang sudah mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam tas punggungnya. “Apanya yang aneh?” tanya Jiyeon seraya mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis yang sedari tadi belum bisa di temukan di jarak pandangnya.

“Kau terlihat seperti gadis baik dan pintar, sedangkan dia,—“

“Park Chanyeol! namanya Park Chanyeol kau harus tahu itu Xiumin, jika kau tidak ingin mendapat masalah nantinya. Dia memang menyebalkan tapi— terkadang dia juga menyenangkan,” tanpa sadar gadis cantik itu sudah tersenyum, hingga sebuah tepukan mendarat pelan di bahu gadis itu.

Yak! Song Jiyeon apa yang kau lakukan dengan Lee Xiumin selama aku tidak ada?” tanya gadis berkacamata yang tiba-tiba saja sudah muncul di hadapan Jiyeon dan Xiumin tanpa basa basi, sosok gadis yang sedari tadi di tunggu Jiyeon itu, mendudukkan tubuh langsingnya seraya memaksa Jiyeon untuk kembali menghadap ke depan.

“Jihyun? Wae?” tanya Jiyeon binggung, gadis berkacamata itu memandang sekilas ke arah Xiumin yang tersenyum di belakangnya, lalu merapatkan tubuhnya pada Jiyeon yang memandangnya aneh. “Kau lupa jika Chanyeol tidak suka saat kau terlalu dekat dengan Xiumin?” ucap gadis itu dengan sedikit berbisik.

“Aku tahu itu,” Jihyun sontak langsung memutar tubuhnya, saat mendapat jawaban bukan dari Jiyeon melainkan dari suara di belakangnya.

Nafas gadis itu di buang dengan kasar saat mendapati Xiumin yang sudah tersenyum manis, dengan posisi tubuh yang condong ke depan. “Kau?” tunjuk Jihyun dengan jari telunjuknya, gadis itu sudah bersiap mengeluarkan kata katanya saat dengan tiba-tiba sebuah tangan membungkam mulutnya.

Gwenchana Xiumin-aa, dia memang suka seperti ini jangan di pikirkan, eoh?” dengan cepat Jiyeon memutar tubuhnya dan juga Jihyun, membulatkan mata beningnya dan memerintahkan Jihyun untuk tidak melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak akan ikut bertanggung jawab jika Chanyeol memamarahi mu nantinya,” ucap Jihyun pada akhirnya, lalu memalingkan wajahnya dari Jiyeon yang sudah tersenyum.

“Kenapa kau begitu peduli dengan laki-laki menyebalkan itu, Jihyun-aa?” Jiyeon menyentuhkan bahunya pada bahu Jihyun, dengan senyum menggodanya membuat Jihyun langsung tersenyum lebar dengan expresi yang terlihat berlebihan

“Itu karna Chanyeol adalah pangeran impian ku Jiyeon-aa,” jawab Jihyun dengan mengenggam tangannya dan meletakkannya di depan dada. “Jika saja aku di beri kesempatan untuk bertukar tempat dengan mu, aku pasti akan sangat rela menukar Siwon oppa dengan pangeran tampan ku itu,” ucap Jihyun lagi lagi dengan expresi yang terlihat menjijikkan.

“Apa kau bilang? Yak! Siwon oppa sangat mencintai mu Lee Jihyun! Bagaimana mungkin kau mau menukarnya dengan Park Chanyeol!” Ucap Jiyeon tiba-tiba dengan nada yang tertahan, merasa sangat kesal dengan kata kata yang di ucapkan Jihyun barusan, bahkan mata bening gadis itu sudah terlihat sedikit berembun.

Jihyun menghentikan senyum tidak pentingnya, menatap Jiyeon dengan tatapan terkejutnya, gadis itu bahkan sedikit bergidik ngeri mendapati Jiyeon yang masih menatapnya dengan marah. “Ya—ya— aku hanya bercanda. Eoh! Aku hanya bercanda Jiyeon-aa,” ucap Jihyun dengan nada menyesalnya, gadis itu pun langsung memeluk sahabatnya itu dan menguncangnya pelan.

“Jangan marah pada ku Jiyeon-aa, mana mungkin aku rela menukar Siwon oppa mu dengan laki-laki lain,— aku hanya bercanda, eoh!” tak ada jawaban dari Jiyeon gadis itu hanya menghapus airmatanya saat Xiumin yang tiba-tiba saja sudah menatapnya.

***

Jiyeon mencibirkan bibirnya saat kembali membaca pesan singkat, yang di kirimkan Chanyeol pada gadis itu. Gadis yang masih sedikit kesal dengan sahabatnya itu bahkan sudah mengumpat tertahan saat kakinya mulai melangkah menuju ruang seni, tempat yang di sebutkan Chanyeol dalam pesan singkatnya beberapa jam yang lalu.

Aish! Kenapa dia selalu saja menyusahkan ku,” gumam gadis itu lagi, mengacak rambut panjangnya asal dan menghentakkan kakinya berulang di sepanjang langkahnya menuju tempat tujuannya kini.

Gadis itu berdiri di ambang pintu ruang seni, tangannya bergerak menggeser pintu seraya memanjangkan lehernya, menelitik ke dalam ruangan yang terlihat sangat sepi. Tak ada satu orang pun di dalam, sunyi dan senyap hingga membuat bulu kuduk gadis itu sedikit meremang.

“OMO!!” pekik gadis itu tertahan saat seseorang menepuk pundaknya pelan.

Jiyeon mengusap dadanya menatap terkejut ke arah seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya, laki-laki tampan dengan lesung pipi yang kini mulai terlihat seiring senyum manis yang terbentuk di wajah laki-laki itu.

“Maaf aku membuat mu terkejut, Jiyeon-ssi.” Laki-laki itu menatap Jiyeon dengan menyesal, menundukkan kepalanya seraya kembali meminta maaf pada Jiyeon.

Gwencahana Yixing-ssi,—“ jawab Jiyeon dengan tersenyum, menyakinkan laki-laki di hadapannya ini jika dia baik-baik saja.

“Kau sedang mencarinya?” tanya Yixing dengan membuka pintu lebih lebar, lalu perlahan masuk ke dalam ruang seni. “Eoh, tapi sepertinya laki-laki menyebalkan itu membohongi ku,” jawab Jiyeon dengan kembali memajukan bibirnya kesal.

Yixing membalikkan tubuhnya, memandang Jiyeon dengan menahan tawanya. “Menyebalkan?”

Jiyeon mengangukkan kepalanya seraya melangkahkan kakinya memasuki gedung seni. “Eoh, teman mu itu memang sangat menyebalkan, suka memaksa dan suka sekali membuat ku marah.” Ucap gadis itu lagi, Yixing tertawa pelan berjalan menuju sebuah piano yang ada di ujung ruangan.

“Aku ingin berlatih piano di sini, kau bisa menunggu Chanyeol di mana pun kau suka,” Yixing kembali tersenyum ke arah Jiyeon, yang memilih duduk di salah satu bangku yang ada tepat di depan Yixing.

Ah! Ternyata selain kita sama-sama suka buku JK Rowling, kita juga sama-sama menyukai piano,” ucap Jiyeon dengan senang, sedikit berfikir bagaimana bisa laki-laki hangat seperti Yixing bisa berteman dekat dengan Chanyeol yang menyebalkan itu.

Yixing membuka penutup piano menatap Jiyeon yang kini sudah menopang dagunya, di atas tangan kirinya. “Mau bermain bersama?”

***

Chanyeol berjalan tergesa ke arah gedung seni, sedikit berlari saat Baekhyun memberitahunya jika Jiyeon sudah berada di gedung itu. Laki-laki itu sedikit menyesal saat tadi menemani Kai dan Luhan bermain basket, hingga dia lupa jika sudah membuat janji dengan Jiyeon, gadis yang sudah menjadi kekasihnya secara paksa selama beberapa minggu terakhir ini.

Langkah Chanyeol terhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka, mata bulat laki-laki itu melebar saat menatap Jiyeon bersama sahabatnya Yixing, terlihat sedang bermain piano bersama. Gadis itu tertawa senang tawa yang bahkan belum pernah Chanyeol liat sebelumnya, saat gadis itu sedang bersama dirinya. Chanyeol menahan nafasnya saat tiba-tiba ada perasaan tak rela saat harus melihat Jiyeon tertawa bahagia bersama Yixing, membuat tangan Chanyeol mengepal kuat lalu dalam satu gerakan laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan.

“Jiyeon-aa!” panggil Chanyeol dengan suara kerasnya.

Jiyeon menghentikan pergerakan jarinya di atas piano, begitu pula dengan Yixing mereka berdua terlihat menatap Chanyeol yang sudah berdiri di hadapan mereka, dengan tatapan yang tidak bisa mereka artikan makna di baliknya.

Yixing tersenyum lalu bangkit dari bangku yang di dudukinya. “Ah! Kau sudah datang, Jiyeon sudah menunggu mu sejak tadi.” Ucap Yixing seraya berjalan mendekat ke arah Chanyeol yang tak bergeming.

“Ternyata dia juga suka bermain piano, sama seperti mu Chanyeol.” Yixing memutar pandangannya, menatap Jiyeon yang masih duduk di tempatnya. “Jiyeon-ssi gomawo sudah menemani ku latihan hari ini,— aku pergi.” Ucap Yixing lalu tersenyum ke arah Chanyeol yang menganggukkan kepalanya, saat Yixing melewati sahabatnya itu.

“Kau juga suka bermain piano?” tanya Jiyeon. “Aku lebih suka bermain drum,” Chanyeol menarik nafasnya berjalan menghampiri Jiyeon, lalu duduk tepat di sebelah gadis itu. “Maaf aku terlambat,” ucap Chanyeol tanpa melihat ke arah Jiyeon yang hanya menatap Chanyeol tanpa minat.

“Ada apa?” tanya Jiyeon dengan suara datarnya, rasa senang saat berada bersama Yixing tadi sudah menguap seiring kedatangan Chanyeol di ruangan itu.

“Tidak ada,— hanya ingin bertemu dengan mu,” jawab Chanyeol seraya menyentuhkan jarinya di atas piano hingga menimbulkan suara yang memecahkan suasana tak nyaman di antara mereka

Nde? Bukankan tadi pagi kita baru bertemu? Lagipula setiap hari juga kita selalu bertemu,” ucap Jiyeon pelan, tidak begitu mengerti dengan arah pembicaraan Chanyeol saat ini. “Kalian sama-sama suka piano, sama-sama suka membaca novel,” ucap Chanyeol lagi dengan kepala yang tertunduk, membuat Jiyeon semakin binggung.

Chanyeol mengangkat kepalanya, memutar tubuhnya lalu menatap Jiyeon dengan dalam. “Kenapa kau tidak pernah tertawa seperti tadi, saat sedang bersama ku?” Jiyeon tertegun. “Kau bahkan tertawa dengan sangat senang saat sedang bersama Yixing tadi.” Gadis itu mengerjap pelan saat Chanyeol terus menatapnya dengan raut sedihnya, membuat gadis itu merasa sedikit tidak nyaman.

“Itu— itu karna kau selalu saja menyebalkan dan membuat ku kesal,” jawab Jiyeon dengan gugup yang tiba-tiba saja sudah menyelimuti tubuh gadis itu, saat Chanyeol terus menatap ke dalam bolamatanya, menguncinya hingga gadis itu tak mampu memalingkan pandangannya.

Jinjjayo?” laki-laki itu mengantungkan kalimatnya. “Kau tahu Jiyeon,— ibu ku juga tidak pernah tertawa senang jika sedang bersama ku, tidak pernah merasa bahagia jika sedang berada di dekat ku, apa— apa aku sebegitu menyebalkannya, hingga orang-orang selalu merasa kesal pada ku?” tanya Chanyeol lagi dengan suara yang semakin lirih.

“Buk—bukan seperti itu maksud ku Chanyeol-ssi,” Jiyeon tergagap merasa binggung harus menjawab apa, entahlah gadis itu hanya merasa jika dia sudah menyakiti hati laki-laki yang selalu ada di hari-harinya beberapa minggu ini, dan sungguh itu membuat Jiyeon merasa bersalah.

Chanyeol tersenyum tangannya terulur lalu mengacak rambut Jiyeon dengan lembut. “Gwenchana, jangan menatap ku seperti itu Jiyeon-aa,” ucap Chanyeol dengan kekehan kecilnya, mengabaikan wajah Jiyeon yang sedikit merona karna sentuhannya barusan.

Chanyeol menegakkan tubuh tingginya, menarik tangan Jiyeon untuk bangkit dari bangku yang di dudukinya, seraya menunjuk sebuah drum yang ada di ruangan kaca. “Temani aku bermain drum, sekarang!” laki-laki itu terlihat hanya menatap Jiyeon tidak peduli, saat gadis itu meronta di belakang punggungnya, meminta agar laki-laki itu melepaskan gengamannya.

Shireo! Aku ada ujian Biologi hari ini, Chanyeol-ssi,” ucap Jiyeon dengan kembali duduk di bangku yang sedari di dudukinya, berusaha melepaskan genggaman Chanyeol di tangannya. “Aku sudah bilang pada Asha Seonsaengnim jika hari ini kau akan membolos di kelas Biologi,” jawab Chanyeol dengan santai seraya kembali duduk di sebelah Jiyeon, saat gadis itu terus menarik narik tangannya.

“MWO? YAK!!” teriak Jiyeon tak tertahan, gadis itu pun mulai memukul punggung dan lengan Chanyeol bertubi-tubi dengan tetap berteriak, memaki apa saja saat laki-laki itu hanya memandangnya tanpa ada niat untuk melepaskan genggamannya sedikit pun.

YAK! Lepaskan aku Park Chanyeol! Kau menyebalkan, aku— aku benar-benar membenci mu!” ucap Jiyeon saat dirinya sudah lelah memukul Chanyeol yang tak bergeming, gadis itu menatap Chanyeol dengan genangan airmata yang mulai memenuhi bolamata beningnya.

“Kenapa kau selalu saja membuat ku kesal, Chanyeol!” Jiyeon mulai terisak saat sebulir airmata meluncur dari bolamata beningnya. “Sebenarnya apa salah ku padamu? Kenapa kau selalu saja menganggu hidup ku, kenap—“ ucapan Jiyeon terputus seketika saat tiba-tiba saja Chanyeol menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, tanpa sempat gadis itu cegah.

Chanyeol mengeratkan pelukannya di tubuh Jiyeon yang menegang. “Ibu ku— juga sering sekali menangis, dengan berteriak seperti yang kau lakukan saat ini,” ucap Chanyeol tepat di telinga Jiyeon, tangan laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya seakan akan Jiyeon akan menghilang jika laki-laki itu melonggarkan pelukannya.

Jiyeon ingin sekali mendorong Chanyeol menjauh, hingga membuatnya terlepas dari dekapan erat laki-laki itu, tapi entahlah gadis itu merasa jika pelukan Chanyeol saat ini terasa hangat dan nyaman, sama seperti saat laki-laki itu memeluknya saat Jiyeon menangis tempo hari.

“Aku merasa jika ibu ku tidak begitu menyukai ayah ku, aku tidak tahu apa penyebabnya tapi— yang pasti ibu sering sekali menangis di tengah malam karna hal itu. Tidak ada yang bisa menenangkannya kecuali pelukan ayah ku,” Chanyeol semakin menarik Jiyeon ke dalam dekapannya, membuat Jiyeon semakin tenggelam di dalam dekapan laki-laki tinggi itu, dekapan yang entah sejak kapan selalu mampu membuat tubuh gadis itu membeku dengan jantung yang berdetak lebih cepat.

“Apa kau tahu apa penyebabnya, Jiyeon-aa?” tanya Chanyeol seraya meletakkan dagunya di bahu Jiyeon, gadis itu masih diam mencari-cari ke dalam otak pintarnya, guna menemukan jawaban yang tepat di tengah degupan jantungnya yang kian memaju.

“Itu— itu karna mereka masih saling mencintai,” jawab Jiyeon dengan suara pelannya. “Aku sering melihat ayah dan ibu ku saling memeluk satu sama lain, saat mereka sudah lama tak bertemu karna pekerjaan mereka, dan ibu selalu bilang pada ku jika pelukan dari seseorang yang kita cintai akan selalu mampu membuat kita merasa baik-baik saja,”

“Benarkah?” tanya Chanyeol masih dengan memeluk Jiyeon dengan erat, Jiyeon pun mengangguk pelan dari dalam pelukan laki-laki tinggi itu.

Chanyeol tersenyum seraya melepaskan pelukannya, menundukkan tubuh tingginya menatap ke dalam bolamata bening milik Jiyeon, bolamata yang sangat di sukai Chanyeol sejak pertama kali laki-laki itu menatapnya. Tangan laki-laki itu bergerak membelai pipi Jiyeon dengan lembut menghapus sisa airmata di sana, membuat Jiyeon semakin tidak bisa mengerakkan otot tubuhnya yang terasa mati rasa.

Gomawo,—“ ucap laki-laki itu seraya mendekatkan wajahnya.

Jiyeon mengerjab pelan gadis itu bahkan menahan nafasnya saat Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya, perlahan gadis itu mulai memejamkan matanya saat Chanyeol semakin memangkas habis jarak di antara mereka. Namun setelah beberapa detik berlalu gadis itu tidak merasakan apapun, hanya nafas hangat Chanyeol yang menerpa wajahnya membuat gadis itu membuka kembali matanya dan mendapati Chanyeol yang sudah terlihat menahan senyum menyebalkannya.

Wae?” tanya Chanyeol dengan senyum lebarnya, yang terlihat sangat menyebalkan di mata Jiyeon. “Apa kau berharap aku mencium mu, Song Jiyeon?” gadis itu membulatkan matanya, wajah merona gadis itu kini terlihat kesal seraya bangkit dari bangku yang di dudukinya.

Mwo? Yak! Si— siapa bilang aku berfikir kau akan mencium ku? Dasar laki-laki mesum, aku benci pada mu Park Chanyeol bodoh!” ucap Jiyeon seraya mendorong Chanyeol dengan kuat, hingga membuat tubuh Chanyeol terjungkal dari bangku yang di dudukinya dan berakhir di lantai.

Tawa lepas Chanyeol membahana di segala penjuru gedung seni, saat Jiyeon memakinya tanpa henti, gadis itu berjalan menuju pintu mengabaikan laki-laki menyebalkan yang hampir saja membuat jantungnya terlepas dari tempatnya itu, tetap tertawa kencang hingga merebahkan tubuhnya di lantai. Namun baru saja gadis itu hendak memutar knop pintu, tiba-tiba tangan hangat Chanyeol sudah kembali menggenggam tangan gadis itu dengan erat.

Mianhae,—“ ucap Chanyeol dengan senyum manisnya, kembali laki-laki itu menundukkan tubuh tingginya menatap Jiyeon dengan tatapan hangatnya. “Maaf selalu saja membuat mu kesal saat bertemu dengan ku, tapi— aku juga ingin berterima kasih pada mu,” Chanyeol menegakkan tubuhnya, membuka pintu ruang seni lalu menarik pelan jemari Jiyeon yang sudah di genggamnya itu hingga membuat gadis itu mengikuti langkahnya.

“Terima kasih karna bersedia berada di hidup ku, walaupun itu hanya— hanya karna aku yang memaksa mu untuk melakukan itu,” Chanyeol kembali menatap Jiyeon yang berjalan pelan di sampingnya, menatap gadis yang diam-diam selalu membuatnya merindu, membuatnya tertawa di tengah perasaan sedihnya terhadap sang ibu. Gadis yang selalu Chanyeol harapkan menatap ke arahnya suatu hari nanti dan melupakan perasaannya kepada Choi Siwon, laki-laki yang Chanyeol yakini di sukai gadisnya itu.

Jiyeon tidak menjawab gadis itu hanya tersenyum dengan menundukkan wajahnya, menatap tangannya yang bertaut erat dengan Chanyeol, tangan yang akhir akhir ini selalu mengantarkan rasa hangat hingga ke dalam hatinya yang beku, tangan laki-laki yang selalu membuatnya marah, dan tersenyum dalam waktu yang bersamaan.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari keduanya hingga waktu yang lama, mereka berdua terus melangkah pelan menyusuri koridor panjang, yang di bagian sisi luarnya di penuhi bunga sakura yang mulai menampakkan kelopaknya di awal musim semi ini.

Sesekali mereka berdua terlihat tersenyum, terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing, perasaan bahagia yang entah mulai kapan selalu menyelimuti hati keduannya saat tangan mereka saling bertautan, perasaan yang perlahan mulai tumbuh di antara keduanya tanpa pernah mereka sadari.

***

Park’s House – 11.30 pm

Suara langkah seorang laki-laki terdengar memecahkan kesunyian di rumah besar itu, berjalan pelan menaiki tiap anak tangga dengan sebuah senyum tenang yang terlukis di wajah tampan laki-laki itu. Tangan yang mengepal perlahan mulai dia jejalkan ke dalam saku jas yang kini tengah di pakaiannya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi sesuatu yang penting.

Mata tajam dengan pandangan dingin itu tampak menelitik sekali lagi, memastikan jika yang ada di genggamannya kini adalah benar yang dia butuhkan sebentar lagi. Sesuatu yang harus dia letakkan tepat di sasaran utamanya, lagi laki-laki itu tersenyum tipis seraya melanjutkan langkahnya.

Langkah itu terhenti takkala sudah berdiri beberapa langkah dari sebuah kamar utama di rumah mewah itu, laki-laki itu terlihat kembali menelitik keadaan sekitar sebelum kembali melangkahkan kakinya, mendekati sebuah benda mati yang kokoh dan perlahan bergerak memutar benda bulat yang sudah di genggamannya.

“Sungmin-ssi,” laki-laki itu menghentikan pergerakan tangannya memutar knop pintu, memasukkan kembali botol kecil yang di genggamnya ke dalam saju jasnya, mengumpat tertahan saat mendapati seseorang yang sudah menganggu niatnya.

“Eoh! Sangwon Ahjussi,” jawab laki-laki itu sesaat setelah membalikkan tubuhnya, tersenyum tipis seraya membungkukkan tubuhnya, pada laki-laki paruh baya yang menatapnya dengan tatapan penuh selidik.

“Apa yang hendak kau lakukan di depan pintu kamar Ny.Park?” tanya Sangwon saat mulai melangkah mendekati Sungmin yang tak bergeming dari tempatnya berpijak. “Aku hanya ingin memastikan jika Ny.Park baik-baik saja, karna— aku mendengar seperti suara teriakkan dari dalam,” jelas Sungmin dengan suara tenangnya, memundurkan tubuhnya saat Sangwon berjalan semakin mendekat dengan raut khawatir.

“Benarkah?” tanya Sangwon memastikan dan dengan tenang Sungmin menganggukkan kepalanya. “Mungkin jika tidak berkeberatan, Sangwon Ahjussi bisa memeriksanya langsung,” ucap Sungmin dengan kembali menundukkan kepalanya pelan.

Sungmin tersenyum puas saat Sangwon menyetujui usulannya, dengan terburu-buru laki-laki paruh baya itu membuka pintu kamar Minjung dengan raut khawatirnya. Laki-laki paruh baya itu menghembuskan nafasnya pelan, saat menatap majikannya yang terlihat nyaman di balik selimut tebalnya.

Sungmin membuang nafasnya saat Sangwon mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, laki-laki itu memutar bolamatanya tanpa minat saat harus berbicara tak penting lagi, dengan Sangwon yang kini sudah meminta penjelasan di balik tatapannya kini.

“Maafkan aku Sangwon ahjussi sepertinya aku salah menduga,” ucap Sungmin dengan membungkukkan tubuhnya, wajah tampan laki-laki itu memperlihatkan senyum menyesalnya.

Sangwon menepuk pelan pundak Sungmin. “Istirahatlah,— kau pasti sangat lelah hari ini,” ucap Sangwon dengan senyum hangatnya, perlahan tangan tua itu menutup kembali pintu kamar Minjung nyaris tanpa suara.

“Baiklah, selamat malam ahjussi,” ucap Sungmin lalu membalikkan tubuhnya, seulas seringai kesal di balut kekecewaan tergambar jelas di wajah Sungmin saat ini, karna malam ini untuk pertama kalinya dia gagal dalam menjalankan misi rahasianya.

Dan sepertinya setelah ini Sungmin akan mulai memperhitungkan Sangwon, jangan sampai laki-laki tua itu kembali menggagalkan pekerjaan pentingnya.

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

4 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [5/9]”

  1. Jiyeon jgn mikirin siwon mulu dong kasian chanyeolnya wkwkwk tapi lucu ngeliat hubungan mereka jiyeonnya kyk ogah2 tp mau. Ih sungmin mau ngapain nyonya park tuh

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s