[Vignette] Just One Day – Epilogue

Just One Day by Hanhra at Poster Channel

Just One Day Epilog

Cast:

  • Jeon Jung Kook
  • Park Yoo Jung (OC)

Genre: Sad, Hurt, Angst (Just for epilog)

Scriptwriter: Chanbee614

Previous: Just One Day

WARNING! Sediakan tissue yang banyak. Mungkin epilog ini cukup menyayat hati anda-anda semua (menurut saya). Dan jangan lupa, dengarkan lagu BTS – Just One Day atau EXO’s Chen and Baekhyun – Really I Didn’t Know.. Jangan gebukin author kalau endingnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian atau nge-gantung. Author tidak ahli dalam urusan ending. Dibaca dan dihayati baik-baik.

.

.

.

.

.

.

.

^o^

.

.

All of this Point of View is Park Yoo Jung

“Apa kau yakin, Jung-ie?” kentara sekali ada nada khawatir dari balik perkataan Ny. Jeon, atau yang sekarang kupanggil ‘Eommonim’ sejak seminggu yang lalu, tepat dimana Jungkook dimakamkan.

“Geurae, eommonim.. Sebentar lagi, Abeoji akan menjemputku. Aku ingin berpamitan terlebih dahulu pada Kookie sebelum aku kembali ke Kota,” aku tersenyum hangat.

“Terserah padamu. Nanti kalau Park sajangnim datang, eommonim akan mengatakan bahwa kau ada di kuburan Jungkook,” Ny. Jeon ikut tersenyum.

Aku memeluk eommonim, “Aku akan merindukan eommonim..”.

“Nado, yeobo..”.

“Kalau eommonim ingin ke Kota, bilang padaku. Nanti aku akan datang menjemput eommonim.”.

“Baik, yeobo.”.

“Annyeong, eommonim.” aku melambaikan tangan.

“Annyeong, yeobo..” balas eommonim.

Aku membalikkan badanku dan berjalan. Tak lama, aku kembali membalikkan badan. Kulihat eommonim tengah terduduk di lantai. Beliau sedang menangis. Kudengar rintihan tangis eommonim.

“Jungkook… Andai kau tahu, eomma dan anak-anak merindukanmu. Terlebih Yoo Jung. Dia menangis sejadi-jadinya ketika kau dikuburkan. Kami semua merindukanmu. Sangat merindukanmu. Semoga kau bahagia di sana. Eomma, anak-anak juga Yoo Jung meng-ikhlaskanmu pergi, nak.. Bahagialah disana,” isak eommonim.

Mataku berkaca-kaca. Dan tanpa sadar, setetes cairan bening nan hangat meluncur bebas dari mata kananku. Aku menepisnya cepat-cepat. Aku harus tahan. Kau harus kuat, Jung-ie. Jangan membuat Jungkook bersedih, bisikku.

.

.

          Aku berjalan pelan memasuki area pemakaman. Aku membawa sebuket bunga. Berjalan dan menghampiri sebuah nisan. Aku berlutut. Kuusap pelan nama yang terukir di nisan itu. Nama yang sangat kukenal.

“Apa kabarmu disana, Kookie?” tanyaku seraya meletakkan buket bunga yang kubawa.

“Apa kau bahagia di sana?” aku mengusap pelan tanah yang di dalamnya terdapat Jungkook yang sedang terbaring di bawah sana.

“Aku merindukanmu,” bisikku pelan. “Aku menyesal. Sungguh menyesal. Sangat menyesal.”.

“Aku sungguh mencintaimu. Sangat. Aku baru tahu kalau ini rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi juga cintai. Sakit. Sangat sakit. Seakan hati kita tersayat oleh sebuah pisau tajam..”.

“Kenapa.. Kenapa.. KENAPA KAU HARUS MENINGGALKAN KAMI? APA KAU TIDAK KASIHAN PADA EOMMONIM? KAU MENINGGALKANNYA SENDIRIAN.. BELIAU BERUSAHA TEGAR, TETAPI BELIAU TIDAK BISA MENAHAN TANGISANNYA KETIKA TAHU BAHWA PADA REALITANYA, KAU MENINGGALKANNYA.. APA KAU TIDAK KASIHAN PADA ANAK-ANAK DI RUMAH KANKER? MEREKA MENANGIS. MEREKA TIDAK MAU KEHILANGAN HYUNG JUGA OPPA YANG MEREKA SAYANGI. MEREKA MEMBUTUHKANMU. SEKARANG TIDAK ADA LAGI HYUNG ATAU OPPA YANG SELALU MENCERITAKAN DONGENG, BERMAIN DENGAN MEREKA.. APA KAU TIDAK KASIHAN PADAKU? SEMALAMAN AKU MATI-MATIAN MENAHAN TANGISAN DIMANA SIANG ITU KAU DIKUBURKAN! AKU BERUSAHA TEGAR DAN MENGUCAPKAN KATA-KATA YANG MEMBUAT ANAK-ANAK AGAR MEREKA TIDAK MENANGIS KARENA KEHILANGANMU, TETAPI AKU SENDIRI MENANGIS KARENA KAU MENINGGALKANKU. AKU KEHILANGAN DIRIMU, SOSOK PRIA YANG MERUBAH HIDUPKU. AKU.. AKU.. AKU MERINDUKANMU. SUNGGUH MERINDUKANMU. SEANDAINYA BISA, AKU INGIN MEMELUKMU UNTUK TERAKHIR KALI.. SEHARUSNYA, BUKAN KAU YANG PERGI. TETAPI AKU.. AKU INGIN BERSAMAMU LAGI. MENGHABISKAN AKHIR HIDUP BERSAMAMU SAMPAI AJAL MENJEMPUTKU NANTI. MENGHABISKAN HARI TUA BERSAMAMU.. HIKSS..HIKSS..”.

Aku menangis. Butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku begitu terpuruk dalam kesedihan ini. Aku begitu kehilangan sosok pria yang kucintai. Sosok pria yang mengajariku bahwa cinta itu begitu suci. Dan sekarang, sosok itu telah pergi. Tiada. Untuk selamanya. Menghilang ke dalam tanah. Dan aku sangat mencintai juga merindukan sosok itu. Sosok yang mengajarkan bahwa waktu sangat berharga. Kita harus selalu menghargai waktu. Jungkook. Dia adalah sosok yang mengajariku bahwa cinta tak memandang segalanya. Cinta hanya butuh ketulusan. Kesempurnaan cinta akan didapat bila ketulusan cinta yang kita beri itu tulus dari hati kita. Cukup lama berlutut, aku berdiri. Aku menatap sendu kuburan itu terakhir kali. Setetes air mata terjatuh dari kelopak mataku. Aku membiarkannya sampai akhirnya air mataku terjatuh ke tanah.

“Sampai jumpa, Kookie,” lirihku pelan.

Aku akan berusaha untuk kuat dan tegar, walaupun aku yakin, setiap malam aku akan menangis tiba-tiba karena mengingat Jungkook. Aku berjalan pelan, keluar dari area pemakaman.

“Kau sudah selesai, yeobo?” Abeoji bertanya. Beliau mengelus rambutku pelan. Dia menungguku.

“Sudah, Abeoji..” aku sedikit tersenyum.

“Mari pergi,” ajak Abeoji.

Aku mengangguk, “Abeoji?”.

“Ya?” Abeoji berbalik badan.

“Bolehkah bila sebulan sekali aku datang ke sini untuk ke pemakaman dan mengunjungi Jeon eommonim? Atau sesekali menginap?”.

“Tentu saja boleh. Kapanpun kau mau. Selama itu membuatmu bahagia dan melupakan kesedihanmu, Abeoji mengizinkannya,” Abeoji kembali membelai pelan rambutku.

Aku tersenyum. Aku menaiki mobil. Terduduk dan merenung.

“Abeoji turun sebentar, ya?” izin Abeoji.

“Ya,” aku mengangguk.

Aku mengalihkan pandanganku ke luar, arah pemakaman. Tunggu! Mataku menangkap sebuah objek. Mataku menangkap tubuh seseorang. Sangat familiar di ingatanku.

“Jungkook?” lirihku pelan.

Aku pasti salah lihat. Aku mengucek mataku. Tapi, tidak! Itu benar-benar Jungkook. Dia memakai pakaian serba putih. Di sekelilingnya pun terdapat cahaya.

Sampai jumpa, Yoo Jung.. Semoga kau akan menjadi wanita yang lebih kuat walaupun aku sudah tiada. Asal kau tahu, hanya kau saja yang kucinta. Dan walaupun aku sudah tiada, Sejarah akan selalu mengingat kisah cinta kita seperti kisah Romeo dan Juliet..” Jungkook tersenyum seraya melambaikan tangannya. “Dengan nama ibuku, nafas juga nyawaku, aku sangat mencintaimu. Aku melepaskanmu agar kau bahagia bersama pria lain diluar sana. Jangan menangis setiap malam karena kepergianku lagi. Kau harus mulai melupakanku. Sesulit atau serumit apapun, kau harus mencoba melupakanku. Demi kebaikanmu, aku rela jika kau melupakanku selamanya. Asal kau bahagia, aku akan bahagia.. Aku mencintaimu, Park Yoo Jung.

Aku tak kuasa menahan air mata yang sudah terbendung ini. Ini sangat sulit. Walaupun Jungkook sendiri yang meminta agar melupakanku, aku takkan pernah bisa. Takkan. “Aku juga mencintaimu, Kookie. Bahagialah disana,”.

“Apa yang kau lihat?” Abeoji memasuki mobil.

Aku menghapus airmataku.

“Abeoji, lihat.. Itu Jungkook!” tunjukku ke arah keluar dengan girang. Aku memalingkan wajahku.

Abeoji menengok keluar, tak lama ia tersenyum. “Tidak ada siapapun disana, yeobo.”.

Aku tak percaya. Aku mengalihkan pandanganku keluar. Dan, benar. Jungkook menghilang.

“Tapi, tadi aku sungguh-sunguh melihat Kookie,” bisikku pelan.

“Itu pasti Jungkook yang ingin memberikan salam perpisahan padamu. Dia ingin melihatmu untuk terakhir kali.” Abeoji tersenyum.

Abeoji benar. Aku ikut tersenyum, “Mungkin itu maksud Jungkook mendatangiku. Dia mungkin tidak ingin aku bersedih dan larut dalam kesedihan yang terlalu dalam.”.

“Kita pergi sekarang?” Abeoji bertanya.

“Ya.” jawabku.

Mobil melaju. Meninggalkan area pemakaman. Seberkas senyuman menghiasi bibirku. Aku sudah melihat Jungkook untuk terakhir kalinya. Akhirnya. Entah kenapa, sekarang aku sangat bersemangat pulang ke Kota. Mengawali hidup juga lembaran baru. Walau hidupku takkan sempurna karena sosok yang kucintai telah tiada dan harus menghabiskan waktu dengan memori sedih yang mendalam. Tetapi, seberapapun sulitnya takdir, takdir ini harus dijalani.

“Aku sangat mencintaimu, Jungkook. Aku merindukanmu. Sampai jumpa, Jungkook..”.

Yoo Jung Point Of View Off

          Tanpa Yoo Jung sadari, Jungkook berdiri di belakang mobil ayahnya. Dia ikut tersenyum manis. Dia berbalik badan dan berjalan menjauh, sampai akhirnya ia menghilang begitu saja.

.

.

THE END

_______________________

Finally, ending! Vignette, ending. Epilog, ending.. Want sequel? Ask me soon. Now, i’m lose idea…!

2 thoughts on “[Vignette] Just One Day – Epilogue”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s