[Ficlet] Adamant

Adamant

scriptwriter XiuJoy

starring

EXO Chanyeol, f(x) Krystal (Jung Soojung)

genre Fantasy, duration Ficlet, rating Parental Guide 13+

 

Beberapa ranting kering berbunyi saat Chanyeol tidak sengaja menginjaknya, mempersulit malam sunyi di dalam hutan pinus mengerikan. Janggal sekali ia rasa, banyaknya ranting yang ia injak tidak menimbulkan efek. Setidaknya makluk itu sudah keluar sejak awal jika kupingnya benar sensitif. Tapi sama sekali tidak ada pergerakan dari penjuru arah. Sama sekali dari binatang kecil seperti tupai atau kelinci, serangga kecil seperti jangkrik atau kumbang. Seharusnya mereka meramaikan sedikit malam. Tidaklah wajar kalau mereka mendadak hening. Kecuali …

Suara geraman muncul setelah bunyi mendarat yang sukses. Chanyeol membalikkan punggung seketika, sudah tahu apa yang dihadapinya tapi cerobohnya lupa menodongkan panahnya. Saat ia melihat langsung ke kedua mata itu.

Matanya yang ungu. Sarat akan cinta  ….

  dan  hasrat

Di bawah rembulan, tepat di bawah sinar dewi malam itu jatuh, (Chanyeol tidak salah lihat) mata ungu itu bersinar lebih terang dari wajahnya. Bak senter, Chanyeol tidak butuh senter atas kehadiran mata bersinar itu. Kedua mata yang mengagumkan. Tidak salah jika sangat diinginkan oleh atasannya. Ungu yang berpadu cantik dengan tirai cahaya bulan. Sedetik kemudian mata itu mengerjap pelan, tidak sengaja mempertontonkan bayangan bulu mata lentik di atas netra ungu menyala. Selanjutnya bau kayu manis yang tidak terduga sangat manis masuk indera penciuman Chanyeol.

Chanyeol mengernyit, ini sangat manis, tapi terlalu, dan keterlaluan. Lebih mirip feromon. Tapi tunggu, bisa saja ini feromon, hanya saja bukannya feromon binatang tidak berpengaruh pada manusia? Makluk di depannya punya unsur binatang yang kental, walaupun masih punya unsur manusia, tapi tetap saja, binatang.

Trespasser,” mata itu mengerling pelan, tidak ada niatan menggoda pria jangkung di depannya, yang malahan tanpa sengaja jatuh tergoda saking cantiknya ia.

Chanyeol tersadar saat cakar lengkung menghunus keluar dari jari-jari lentiknya. Pemuda itu memiringkan kepalanya, menatap remeh. Oh, posisi siap bertranformasi atau posisi siaga membunuh. Chanyeol merendahkan tubuh dan tersenyum, senyum merayu yang khas. “Senang bertemu denganmu, lady.”

Mata ungu violet itu maju, tiga langkah rapat dan lambat. Saking ringannya hampir Chanyeol memutar mata jengah. Dasar penggoda.

“Aku tidak suka penjilat, hunter. Basa-basimu tidak diperlukan.”

“Ow, aku tersinggung mendengarnya, lady. Salam, Park Chanyeol.” Chanyeol melepaskan topinya, menuruni bawah dagunya. Si mata ungu itu tersenyum kecil, kembali melangkah mendekati Chanyeol, kali ini dengan langkah lebih lebar tetapi masih seringan sebelumnya.

“Jangan sungkan menodongkan senjatamu, hunter. Aku bisa saja menggigit.” Ia menyeringai tipis, loloslah sedikit taring yang tidak manusiawi itu membuat Chanyeol sadar si lady ini makluk apa.

“Terima kasih atas peringatannya. Berjalannya waktu kuamati kedua mata ungumu sungguh cantik, majesty.” Chanyeol mengernyit pelan, begitu pula si mata ungu. Menyadari betapa bodoh dan cheesy kalimat itu keluar dari mulut Chanyeol. Juga sebenarnya adalah kejujuran karena keduanya tahu alih-alih Chanyeol menerobos hutan pinus malam-malam demi bertemu musuh supranatural sepertinya.

“Aku suka caramu mengatakannya.” Ia memberi satu langkah ringan lebih dekat. Tepat di titik jatuh cahaya rembulan, wajahnya bersinar lebih terang dari mata ungunya. Chanyeol bisa tanpa sadar membuka mulut dan meneteskan liur, karena demi Zeus,

Tidak. Ada. Makluk. Secantik. Ini!

Perawakannya adalah seorang wanita yang lebih pendek, rambutnya sewarna merah kayu jatuh menuruni punggungnya, wajahnya benar-benar di luar batas manusiawi, bahkan surgawi. Apa benar wanita jadi-jadian di depannya ini serigala? Bukan inkubus? Koreksi, seorang dewi, mungkin?

Apapun itu tertawa pelan, sangat merdu dan lutut Chanyeol mulai bergetar saking kagumnya, “Jangan menatapku berlebihan, nanti kau lupa tujuan awalmu untuk apa.”

“Mungkin ada baiknya untuk lupa, kurasa,” pemuda jangkung itu tertawa bodoh, alam bawah sadarnya terpesona oleh makluk di depannya.

“Kerjamu akan lebih mudah kalau aku jelek.” Bukan untuk sombong, tapi makluk itu sendiri tahu kastanya berada di mana, Chanyeol pun tahu.

Percakapan berjalan dengan polos seolah berbincang dengan gebetanmu yang notabenenenya anak teraduhai di sekolah. Sok malu-malu dan menggemaskan bukan main. Makluk itu sendiri tampak menikmatinya dan mengendurkan cakarnya. Sadar akan situasi, Chanyeol lebih memilih mengakhirinya dengan maju satu langkah mendekati sosok cantik itu kemudian menodongkan panah searah hidung mancungnya.

“Ada kata terakhir ….., beautiful ?”

Makluk itu tidak bergerak tegang. Bukan normalnya seperti mangsa yang terdesak dan tahu ini ajalnya. Ia tampak santai tidak juga menantang.

Ini bukan roman picisan, Chanyeol maupun wanita tidak manusiawi di depannya tahu Chanyeol tidak akan pernah menurunkan tangannya dan dengan sengaja melepaskan incaran indahnya; untuk kabur, hidup, dan menampakkan diri dalam bentuh yang tidak ada sama sekali ingin dilihat. Yang sama sekali bukan dirinya sekarang.

“Sayangnya ada, lumayan banyak. Jangan bosan mendengarkan,” Chanyeol memutar matanya jengah, tidak dapat menahan inernya berkata, penggoda. Jarinya mulai menarik pelan pelatuk sebagai ancaman bagi si cantik. “Woaa, sabar sedikit hunter!” wanita itu terkikik pelan. Hampir saja ia mati dengan kalimat terakhir yang payah. “Yang pertama, aku tidak tahu bakal mati di tangan pemburu setingkat ketampananmu, aku tidak akan menyesal pernah dibunuh olehmu.

Kedua, salam untuk bosmu! Akhirnya ia bisa menyimpan mataku di lemari koleksinya. Kerjamu yang terbaik dari semua pegawainya. Mungkin kau akan diberi kenaikan jabatan besok.

Ketiga, kau tahu kedai ramen terdekat? Aku melihatmu makan di sana tadi sore. Kalau aku masih hidup, maukah membawaku ke sana? Aku selalu bersemangat untuk menjalani kehidupan manusia.

—oh, aku hampir meneteskan mata! Baik, aku akan menyelesaikannya. Terima kasih sudah bersabar. Sudah saatnya ya? Baiklah, selamat tinggal,

namaku Soojung”

Melesatnya anak panah tepat menembus kepala Soojung membuat tubuhnya jatung terjungkang ke belakang dengan darah banjir di mana-mana. Tapi cairan kental itu sama sekali tidak membuat Soojung tampak mengerikan apalagi menjijikkan, darah-darah itu sama sekali tidak menghilangkan keindahannya, senyuman terakhirnya (walau agak menyeramkan) Chanyeol bahkan bisa menangis seolah membunuh kekasihnya sendiri. Tapi tidak, rasa kasihan itu tidak pernah singgah barang sebentarnya hela napas. Ia pergi setelah mengambil dua netra ungu redup dari pemiliknya. Keduanya sama-sama tak lagi bernyawa

tetapi masih yang terindah, mata ungu dan pemiliknya.

“Senang bertemu denganmu, lady. Salam, Park Chanyeol.”

9 thoughts on “[Ficlet] Adamant”

  1. Haloo^^
    Baca cerita ini, aku paling suka bagian percakapan antara soojung dan chanyeol😄😄
    Keep writing, semangatss 🙌🙌

    Suka

  2. Ada bberapa kata yg ‘salah ketik’ ^ ^,tp msh ngerti si.Percakapan sblum bunuh membunuhnya mengesankan,meskipn dikit si ia. Tapi ini rada dark ya ka!! Keep writing,fighting !!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s