[Oneshot] The Light

The Light

Scriptwriter: @Yunietananda (IG, Twitter)

Title: THE LIGHT

Main Cast: Kim Tae Hyung / V (BTS), Hamasaki Yuna (OC)

Other Cast: Kim’s Family (OC), Mr. Song (OC).

Genre: Hurt / Comfort, Romantic, Family.

Rating: PG-17

Duration: Oneshot

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari lagu The Light milik Girlgroup The Ark. OC dan alur cerita buah pemikiran author, jika ada kesamaan jalan cerita ataupun nama tokoh itu adalah unsur ketidaksengajaan. Kim Tae Hyung nyata milik Army, Bighit dan Keluarganya.

Scriptwriter Notes: Mungkin ada beberapa typo yang terjadi, moho  maaf sebelumnya. Sangat di tunggu komentar, review, kritik ataupun sarannya. Gamsahabnida ^_^

Summary:

Aku membangun tembok pembatas

Dan mulai bersembunyi dari dunia

Mereka tak menginginkanku

Akupun hidup untuk diriku sendiri

Tak peduli akan yang terjadi pada sekitar

Lalu kau datang, meruntuhkan semuanya

Kau mengulurkan tangan kepadaku

Memberi cahaya di tengah gelapnya hidup ini

 

Story:

THE LIGHT

 

[Yuna POV]

Dua mobil polisi terparkir tak beraturan menutup akses menuju rumahku. Terlihat beberapa personil polisi menghalau beberapa awak media yang hendak mengambil gambar dari jarak dekat. Aku hanya tertegun, mematung dan tak tahu harus melakukan apa? Meskipun tak tahu pasti akan apa yang sedang terjadi, tapi bisa dipastikan aku sangat shock dengan semua keributan ini. “Ada apa? Kenapa kalian begitu berisik?” Gumamku yang sontak mencuri perhatian beberapa wartawan. Kini mereka sedang menatapku, melontarkan beberapa pertanyaan tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan baik. Pikiranku kacau, sangat kacau. Tak sampai disana, kilauan lampu blitz dari kamera mereka membuat mataku mulai kabur, lalu gelap!

Kudengar samar – samar Eomma menangis. Setelah ku buka mata, barulah aku mengenali ruang keluarga rumahku. ‘Tunggu! Eomma! Ada apa?’ aku tersentak lalu menuju sumber isakan wanita cantik tersebut. Tak pernah kulihat sebelumnya, rumahku seberantakan sekarang. Bahkan beberapa benda tak lagi berada di tempatnya. Eomma menyadari kehadiranku, ia bangkit lalu memelukku dalam keadaan menangis yang kian menjadi. Aku hanya membisu, tak yakin mengenai hal yang tengah melandaku.

Beberapa jam kemudian barulah Eomma menceritakan kejadian yang sebenarnya. Uri Appa ditangkap atas tuduhan penggelapan dana Perusahaan tempatnya bekerja. Sedangkan barang – barang berharga kami disita sebagai barang bukti sekaligus jaminan. Dan itu artinya, keluarga kami bangkrut.

.

Keesokan harinya berita penangkapan Appa menjadi Berita utama di setiap media cetak maupun elektronik. Perlakuan buruk mulai menimpahku di sekolah, bagi mereka aku adalah anak seorang koruptor yang tak pantas bersekolah dan bergaul dengan murid lainnya. Ingin rasanya aku menangis dan memberontak, sejauh ini aku tidak percaya tentang hal ini. Appaku orang baik, tak mungkin beliau mengambil uang yang bukan haknya. Tapi sekeras apapun aku bertahan tidaklah mampu bagiku menerima pembully-an yang sama setiap hari.

Pasca kejadian pilu tersebut, aku dan Eomma berhijrah meninggalkan Seoul. Tak ada yang bisa kami pertahankan di kota metropolitan itu. 3 bulan sudah kami mencoba menyesuaikan diri hidup di sebuah pedesaan. Eomma bekerja keras sebagai buruh tani. Wanita itu kini benar – benar jauh dari kata Glamour dan Sosialitanya. Ku kira kami akan baik – baik saja dengan kehidupan baru ini. Namun kenyataan berkata lain.

Senyuman yang Eomma berikan padaku setiap pagi, kata – kata indah menyemangatiku kala aku berangkat ke Sekolah, dan impian serta harapan yang ia perbincangkan di malam hari semuanya semu. Eomma meninggalkanku disini seorang diri. Beliau pergi entah kemana. Dari isi surat yang ia tinggalkan untukku tersirat bahwa ia tidak mampu hidup dalam kemiskinan, ia ingin mendapatkan kehidupan yang layak dan jauh lebih baik dari ini. Air mataku mengalir deras, bahkan tiada henti hingga beberapa hari. Apa lagi yang bisa di lakukan anak usia 8 Tahun selain menangis, bukan?

Aku larut dalam kesedihan sekaligus kemarahan, tak ada yang bisa ku percayai selain diriku sendiri. Meskipun hatiku ingin membela Appa, namun bukti dari penuntut terlalu kuat untuk menghukumnya 15 tahun penjara. Eomma, sosok yang ku kira tangguh dan mampu berbagi segalanya denganku kini justru meninggalkanku untuk selama – lamanya. Hanya satu yang terbesit dalam benakku, membuka lembar kehidupan yang baru dan menjadi pribadi yang berbeda.

.

.

.

[Author POV]

Tokyo, Musim Gugur 2014

“Nona, Pemilik kedai sushi itu tetap tidak bersedia menyerahkan lahannya kepada kita.”

“Lakukan sesuatu hingga dia mau menjualnya. Cara apapun tak jadi masalah. Asalkan proyek perluasan arena olahraga kita bisa terus berjalan sesuai jadwal yang di tentukan.” Ujar gadis berusia 16 Tahun itu sembari mengangat sedikit alis mata kanannya. Menggambarkan sosok sadis dari dirinya.

“Saya mengerti.” Sahut Manager perencanaan perusahaan real estate tersebut dengan cepat.

Sepeninggalan pegawai tersebut, masuklah wanita tua ke ruangan sang Presiden Direktur. “Kau sudah bekerja sangat keras Yuna!” celetuknya.

“Nenek!” Seru gadis itu berlari kecil ke arah seseorang yang di panggilnya nenek sejak 8 Tahun yang lalu. “Kenapa nenek datang kemari? Harusnya nenek istirahat saja di rumah.” Imbuhnya.

“Nenek bosan berada di rumah sepanjang hari.”

“Apakah nenek ingin berlibur?”

“Kau mau menemaniku?”

“Tentu saja! Kemanapun nenek pergi, aku akan ada disana bersama dengan nenek. Katakan nenek ingin pergi kemana? Biar segera aku persiapkan semuanya.”

“Mari pergi ke Seoul, Yuna!”

“What? Kenapa nenek tiba – tiba mengajakku kesana?”

“Suamiku orang Jepang, tapi aku adalah orang Korea Yuna! Nenek ingin di makamkan di tanah kelahiran nenek. Maukah kamu menemani nenek untuk beristirahat disana?”

“Kenapa nenek bicara istirahat, makam! Itu sangat menyeramkan! Nenek akan hidup selamanya menemaniku. Bukankah itu yang nenek katakan padaku? Jadi berhentilah berbicara tentang kematian.”

“Baiklah nenek akan berhenti. Tapi ingatlah Yuna, nenek benar – benar ingin di makamkan bersama anggota keluarga yang lainnya disana.”

Yuna hanya menangis setelah mendengar kata – kata wanita berusia 68 Tahun itu. Hatinya miris, dia belum siap mental jika harus kehilangan seseorang sekali lagi.

.

.

.

Seoul, Musim Semi 2015

Headline dari berita hari ini 90% tentang kembalinya pewaris tunggal Hamasaki Group ke Korea. Itu mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi bagi para pebisnis ini adalah peluang emas untuk menjalin kerjasama.

“Aigoo! Apa bagusnya hal seperti ini di masukkan ke dalam acara berita.” seseorang mengomentari salah satu acara TV yang sedang di tontonnya.

“Pewaris tunggal Hamasaki Group itu seorang Yeoja berusia 17 Tahun. Kabarnya dia akan tinggal disini untuk waktu yang belum di tentukan.”

“Jinchayeo? Darimana aboeji tahu hal itu?”

“Hampir seluruh rekan kerja aboeji membicarakannya.”

“Wae?”

“Bagi Perusahaan yang ingin meningkatkan income atau menyelamatkan diri dari gulung tikar, salah satu cara adalah menjalin kerja sama dengan Perusahaan Besar Asing.”

“Aaahh jadi ini sebuah peluang bisnis?”

“Thats right! Kau semakin pandai Taehyung.”

“Tentu saja! Aku kan anakmu, aboeji!”

.

“Eommmaaaa!” yeoja cantik berambut pirang itu berteriak ketakutan memanggil ibunya dipagi yang cerah.

“Ada apa Taehye?” Sahut sang ibu terlihat cemas.

“Eomma, aku melihat seseorang di rumah sebelah! Seperti seorang yeoja!” Tangannya dingin, wajahnya juga pucat pasi. Taehye benar – benar ketakutan kali ini.

“Jincha?” Kali ini wanita paruh baya itu membulatkan matanya dan ikut bergidik ngeri.

“Dwae, Eomma. Eottoeke?” rengek Taehye semakin menggigil dan memeluk eommanya erat.

“Eomma? Taehye? Kalian sedang apa?” Tanya Taehyung heran melihat tingkah kedua wanita kesayangannya berpelukan erat di taman samping rumah mereka.

“Taehyung-ah! Cepat kamu periksa rumah sebelah!” Pintah sang ibu sambil mendorong tubuh anak lelakinya.

“Wae?”

“Taehye melihat sesosok wanita di dalam! Eomma juga sepintas melihat bayangan barusan. Cepat pergi periksa rumah itu!”

“Huh? Naega?”

“Ppaleun! ppaleun! Ppaleun!” Teriak Taehye beserta Eommaninya kompak.

Dengan ragu namja berambut cokelat itu melangkahkan kaki memasuki halaman depan rumah sebelah, sesuai perintah Eommaninya. Ia merasa ada yang berbeda disana, taman itu terlihat bersih dan rapi. Padahal sudah hampir 7 Tahun rumah itu kosong tak berpenghuni. Dia sedikit merinding, tapi tak jadi masalah karena ini masih pagi tak akan ada hantu di pagi hari. Begitulah sekiranya pikir siswa kelas 3 SMA itu. Perlahan tapi pasti diapun berusaha membuka pintu utama rumah tersebut.

“Nugasheyeo?” Seru seseorang mengejutkannya dari arah taman samping.

“Omo! Hya! Kau mengagetkanku!” Bentak Taehyung.

“Kau ini siapa? Kenapa mengendap – endap memasuki rumahku? Kau pencuri?” Gadis berambut hitam panjang itu menatapnya dengan ekspresi datar seolah tak menggubris Taehyung yang masih shock.

“Joesoenghabnida, aku Kim Taehyung. Aku tinggal di sebelahmu. Adik dan Eommaniku ketakutan saat melihat sosok wanita dari rumah ini. Aku kemari untuk memastikannya. Kenapa kau tidak datang ke rumah kami dan memperkenalkan diri? Kau membuat kami ketakutan setengah mati.”

“Kau siapa? Petugas Keamanan? Pejabat Daerah ini? Atau pengelola perumahan disini? Kenapa aku harus melapor pada kalian? Aku membeli rumah ini secara resmi, apa harus mendapat persetujuan kalian dulu untuk menempatinya?”

“Hya! Setidaknya kau harus menyapa tetanggamu! Agar tidak terjadi salah paham seperti ini!”

“Sirheo! Aku sibuk, jika tidak ada urusan lain silahkan tinggalkan rumahku!”

“Hya! Hya! Apa kau mengusirku? Kau ini! Sebenarnya di besarkan di keluarga macam apa kau ini! Tidak punya sopan santun!” Taehyung mencaci habis – habisan yeoja sebayanya itu, namun itu semua tidak dipedulikan oleh si pemilik rumah. Bahkan tak ada satu katapun dari Taehyung yang ia ingat setelahnya.

.

Pagi ini Cheongug High School terlihat sangat ramai, bahkan diluar gerbang telah berjajar puluhan wartawan dari berbagai media. Tentu saja mereka ingin mengetahui wajah sekaligus meliput pewaris tunggal dari Hamasaki Group yang kabarnya bersekolah disini. Kegaduhan terjadi bukan hanya di luar area sekolah, di dalam kelas 302 keributan, lebih tepatnya decak kagum mewarnai seisi ruangan kala Yeojahagsaeng itu memperkenalkan dirinya dengan nama ‘Hamasaki Yuna’. Disalah satu bangku paling ujung dan belakang, seorang namja hanya bisa menelan ludahnya dan berkali – kali menggigit bibir bawahnya. Ia tak percaya bahwa yeoja yang ia rutuki kemarin adalah seseorang yang berada di urutan teratas pada pencarian di internet. Lebih mengejutkan lagi, saat yeoja itu menjadi teman sebangku Taehyung.

“Annyeong, Chingu!” Sapa Taehyung dengan wajah bodohnya.

“Jangan mendekatiku! Bersikaplah seperti tak saling mengenal! Jika mereka tahu tempat tinggalku, itu pasti berasal darimu!” Gumam Yuna lirih dengan nada mengancam dan Taehyung mendengarnya dengan baik.

Seharian Yuna menjadi perbincangan hangat baik dari mulut ke mulut ataupun di media sosial, akhirnya sosok pebisnis muda yang selama ini di pertanyakan kini telah terungkap. Tapi bukan itu topik yang disukai seorang hagsaeng. Tentu saja mereka lebih suka menganalisis sikap dan tindak tanduk Yuna yang tak sopan lalu mendiskusikannya denga murid lain hingga terbentuknya Lovers atau bahkan Haters.

“Apa kau mau ke kantin?” Tanya Taehyung kepada siswi baru dikelasnya itu.

Bukannya jawaban, yeoja itu justru memukul perut Taehyung dengan punggung tangan kanannya sembari bergumam “Enyahlah!”.

“Hya! Tak bisakah kau bersikap sedikit lembut dan manis? Tahukah berapa banyak Haters yang telah kau miliki dalam sehari?” Teriak Taehyung dan hanya mendapat lambaian tangan tanda tak peduli dari Yuna.

Beberapa hari berlalu, Hamasaki Yuna menghabiskan waktu luang sekolahnya dengan berada di Perpustakaan dan selalu begitu. Setiap jam makan siang yeoja itu selalu memilih meja yang sepi dan menyantap menunya seorang diri.

Selama berada di sekolah tak ada satu muridpun yang enggan untuk menyapanya, karena mereka tahu itu tidak akan digubris oleh Yuna. Yeoja cantik itu tak pernah peduli komentar orang atas dirinya, bahkan dia selalu menutupi telinganya dengan sebuah earphone yang terhubung dengan smartphonenya. Dan itu kian mempertegas sososknya yang angkuh.

Melihat hal itu, Taehyung pun tak tinggal diam. Entah kenapa namja itu begitu tertarik pada sosok Yuna yang congkak dan kasar. Tiada hari yang di lewatkan Taehyung tanpa menggoda Yuna. Bahkan saat di rumah, Taehyung bersekongkol dengan adiknya, Taehye untuk ngerjain pribadi tertutup tersebut. Meskipun berulang kali dilarang oleh Eommani dan Aboeji, tapi kedua anak itu kian semangat mengerjai Yuna. Hanya satu tujuan Taehyung, dia ingin melihat Yuna tersenyum walaupun hanya sekali.

.

.

.

[Taehyung POV]

“Belakangan, wajahmu semakin pucat. Apa kamu sakit?”

“Berhentilah bicara! Mendengar suaramu membuatku semakin pusing!”

“Terjadi sesuatu kan? Kau bisa cerita padaku Yuna!”

“Hyyyaaaa!!!!! Shut up your mouth!!!” Semakin keras dia berteriak, semakin aku yakin bahwa ia menyembunyikan masalahnya. ‘Sampai kapan kau akan bertahan dengan cara seperti itu Yuna?’ Pikirku ketika yeoja itu melenggang keluar dari kelas ini.

.

.

“Ini apa aboeji?” Aku melihat beberapa potongan koran lama yang tersusun rapi dalam agenda kerja milik Aboeji.

“Ah itu beberapa berita tentang kasus yang Aboeji tangani.” Uri Aboeji adalah seorang jaksa. Banyak kasus yang telah beliau tangani baik Pidana maupun Perdata.

“Uh?” Mataku tertujuh pada sebuah foto sekaligus artikel. “Bukankah ini lingkungan rumah kita? Kasus Korupsi?”

“Oh kau menemukannya!” Aboeji terlihat lega saat aku menunjukkan potongan artikel tersebut. Sepertinya beliau sengaja mencarinya.

“Itu apa aboeji?”

“Ini adalah kasus tuan Song. 8 Tahun yang lalu ia di jebloskan ke penjara atas tuduhan penyalahgunaan dana perusahaan. Beliau dijatuhi hukuman 15 Tahun masa kurungan.”

“Mwo? Apa bukti saat itu sangat kuat untuk menjatuhkannya?”

“Dwae. Bahkan beliau mengakui bahwa tanda tangan dan pengesahan surat perintah pengeluaran dana adalah tindakannya. Dia hanya menyangkal penggunaan dana tersebut. Tapi saat pemeriksaan rekening, banyak dana siluman yang masuk ke rekening istrinya. Itu yang menjerat dia dan menahannya di penjara.”

“Apa dia tidak mengajukan banding saat itu?”

“Ani! Seluruh hartanya di sita oleh pengadilan. Dia tak memiliki uang untuk menyewa pengacara. Lagipula dia pasrah dan menerima hukumannya tanpa protes.”

“Lalu bagaimana dengan keluarganya? Kenapa mereka tidak membantu tuan Song? Dan kenapa tidak menggunakan jasa pengacara publik saja?”

“Taehyung-ah! Tidak semudah itu menggunakan jasa pengacara publik, mereka memiliki kualifikasi tersendiri. Misalnya membantu tersangka yang tidak mampu, cacat dan lain sebagainya. Mungkin tuan Song juga menginginkan berada di penjara setelah mengetahui keluarganya pergi meninggalkan dirinya.”

“Mwo?”

“Itu benar Taehyung, Istri beserta putrinya meninggalkan Seoul setelah penangkapan tuan Song.”

“Mwo?” Aku shock mendengarnya. Bagaimana bisa sebuah keluarga pergi meninggalkan anggota keluarganya yang tengah kesusahan? Itu sangat keterlaluan.

PPPPRRRRRRAAAAANNNNKKKKKK

 

Suara benda berjatuhan itu berasal dari rumah sebelah dan sontak membuyarkan lamunan panjangku. Secara spontan aku beserta aboeji berlarian kesana. Kami berdua terpaksa mendobrak pintu utama rumah yang terkunci tersebut. Setibanya di dalam kami menyebar mencari si pemilik rumah.

“Yuna! Hamasaki Yuna! Neo gwaenchana?” Aku berusaha membangunkan yeoja yang tergeletak lemas di ruang kerjanya. Tubuhnya panas, nafasnya juga tak teratur bahkan dia mengigau memanggil ‘Heolmani’.

Saat ini Eommani, Aboeji, dan Taehye tengah menemani Yuna yang belum tersadar di kamarnya. Sedangkan aku? Aku berkeliling rumah ini melihat dengan seksama setiap sudut ruangan beserta isinya. Dan aku tak sengaja menemukannya! Foto sebuah keluarga kecil dimana wajah sang ibu dan ayah telah tertutupi coretan spidol.

‘Tapi siapa Heolmani yang ia sebutkan? Kenapa dia mencoret kedua orang tuanya? Ah Yuna, kau rumit sekali.’ Gumamku sembari terkekeh kecil.

.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sambutan sinis itu berasal dari yeoja yang tengah terbaring lemas di ranjang mewahnya yang berwarna merah jambu.

“Eommani membuatkanmu sup ayam. Makanlah selagi panas! Beliau juga berpesan agar kau meminum obatmu.” Aku menyahutinya sembari meletakkan meja kecil yang di atasnya telah kususun rapi sarapan untuknya.

“Kenapa kau..?” Sebelum Yuna mengomel bahkan memarahiku dengan cepat aku memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.

“Meogda! Jika sudah merasa lebih baik dan mendapatkan tenagamu kembali, kau boleh datang kepadaku untuk mengomel. Dan saat itu aku akan mendengarkanmu.” Saat aku selesai bicara yeoja dihadapanku ini menatapku dengan pandangan yang tak biasa.

Dan itu mendorongku untuk mengusap pucuk kepalanya. “Jika semua ini terlalu berat kau lalui sendirian, datanglah kearahku! Aku akan ada disisimu. Saat kau lelah bersandarlah dibahuku. Kapanpun kau membutuhkannya, aku akan datang untukmu. Kau harus membagi beban itu, Song Yuna.” Entah darimana aku menemukan kata – kata itu, tapi yang pasti itu berhasil menyentuh hatinya.

Yuna menangis sejadi – jadinya seolah mengeluarkan semua yang membebani dirinya selama ini. Aku menggenggam tangannya erat, aku ingin dia tahu bahwa aku akan ada untuknya, dan selalu memandang kearahnya.

.

.

.

[Yuna POV]

Tembok pertahananku runtuh kala seorang namja bodoh memanggil nama asliku, Song Yuna. Aku sangat menantikan seseorang yang mengenaliku, dan Taehyung datang menjawab semuanya. Teduh sorot matanya, hangat genggaman tangannya, kelembutan saat ia membelai rambutku, semuanya membuatku tenang dan merasa nyaman. Setelah Heolmani, Taehyunglah orang yang bisa mendengarkanku.

Entah darimana dia mengetahui bahwa aku Song Yuna, putri dari tuan Song si Koruptor. Tapi aku memilih untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Taehyung. Jangan tanya kenapa aku melakukan hal ini! Karena akupun tak tahu pasti alasan tindakanku kali ini.

Saat usia 8 Tahun, Appaku di tangkap atas tuduhan korupsi kurasa seluruh negeri mengetahuinya. Lalu aku dan Eommani tinggal di desa terpencil jauh dari kota. Namun 3 bulan kemudian Eommani meninggalkanku, dia melarikan diri. Saat aku menangis meratapi nasib di sebuah halte bus, sepasang kakek nenek menghampiriku lalu mengadopsiku. Mereka membawaku pergi ke Jepang, dan aku dibesarkan sebagai pewaris tunggal mereka. Tuan Hamasaki meninggal saat usiaku baru 15 Tahun, dan sehari kemudian aku di percaya untuk melanjutkan bisnis milik kakek. 2 Tahun kemudian Nenek menyusul jejak Kakek, karena sebelumnya aku telah berjanji untuk memakamkan jenazah Nenek di Korea, maka datanglah aku kemari.

Awalnya tak ada niat bagiku untuk menetap, namun saat aku berkunjung ke rumah ini tiba – tiba terbesit keinginan untuk kembali. Lalu aku membeli rumah keluarga Song dan menempatinya lagi kemudian aku bertemu dengan Taehyung untuk pertama kalinya.

.

“Ayo kita pergi ke sekolah bersama!” Seru Taehyung sembari tersenyum menunjukkan giginya yang rapi.

“Sirheo! Aku akan ke sekolah di antar sopir pribadiku. Sebentar lagi dia akan menjemputku!” Ya, para pembantu, pengawal serta sopir semuanya tinggal di kediaman Hamasaki. Sesekali mereka datang untuk membantu membereskan sekaligus menjaga rumah ini.

“Ah apa salahnya sekali saja pergi menggunakan bus! Telepon mereka dan katakan kau sudah berangkat!”

“Sirheo!”

“Aiiisshhh!” Kulihat Taehyung mendengus kesal. “Kali ini aku akan menculikmu! Gajja!” lanjutnya.

“Hyaaa!!!” Namja itu menggandeng tanganku dengan erat, langkahku terbawa olehnya. Kemana ia pergi, kesanalah kakiku melangkah.

Ini kali pertama aku naik bus ke sekolah. Penuh sesak! Aku hampir kehabisan oksigen. Aiisshh bagaimana bisa orang – orang ini menghabiskan waktu berdesak – desakan didalam bus setiap harinya? Saat bus berhenti mendadak tubuh ini terduyung hampir jatuh. ‘Ani!’ Pekikku sambil memejamkan mata.

“It’s Ok, you’re save!” celetuk Taehyung memegang pundakku dengan sangat erat. Saat itu jarak kami sangat dekat, terlebih saat tubuh besar seseorang mendorongku hingga menempel ke dada Taehyung yang bidang sehingga aku bisa mendengar detak jantungnya serta mencium parfum namja itu sangat kuat. Tanpa disadari jantungkupun berdebar lebih cepat saat aku menengadahkan kepalaku dan melihat wajah namja itu. Dia benar – benar tampan!

.

“Ah Yuna, bisa kau membawakan tasku ke kelas?”

“Hya! Apa – apaan ini?!?!?!” Belum sempat aku menjawab Taehyung sudah menyerahkan tas dan jasnya kepadaku kemudian dia berlari menuju lapangan basket. Aku mengamatinya sesaat. Banyak siswi yang berteriak histeris kala Taehyung melonggarkan dasinya sambil menjulurkan sedikit lidahnya. ‘Oh apa bagusnya dia?’ Pikirku, tapi saat dia mulai mengacak – acak rambutnya sendiri sosok berbeda tertangkap oleh mataku. He is so adorable, So bad boy, and So charming. Apapun itu, jantungku kian berpacu tak menentu. Bagaimana namja bodoh itu bisa terlihat begitu mempesona? Uh dia juga sangat populer di sekolah, padahal dia bukan seorang idola dan bukan dari keluarga kaya raya.

Bagiku itu sedikit aneh, Bagaimana bisa murid biasa bisa di kenal oleh hampir seluruh sekolah bahkan para guru sangat mengenal baik sosok itu. Entah ini balas budi, penasaran atau yang lainnya, diam – diam aku mulai memperhatikannya. Bahkan berharap dia orang yang mengisi ruang kosong di hidupku.

.

.

.

[Author POV]

Suatu hari Kim Taehyung mengajak Hamasaki Yuna dan Kim Taehye mengunjungi sebuah rumah sakit anak. Namja itu adalah salah satu relawan disana.

“Oppa, kenapa kau mengajak kami kesini?” Sungut Taehye tak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya.

“Tak banyak tenaga perawat disini, jadi bisakah hari ini kalian membantu para tenaga medis untuk menangani beberapa pasien?”

“Mwo?” Yuna dan Taehye sama – sama terkejutnya.

“Ttalawa!” Tanpa banyak bicara Taehyung sudah menuntun kedua yeoja itu memasuki ruang medis dan mengintruksikan agar mereka berganti pakaian.

Akhirnya seharian itu mereka bertiga melewatkan waktu libur mereka dengan anak – anak kurang mampu yang sedang dalam keadaan sakit.

.

“Kenapa kau mengajakku?” Tanya Yuna saat mereka berada di dalam bus menuju ke rumah. Ketika itu hanya Yuna dan Taehyung yang terjaga, sedangkan Taehye sedang tidur disalah satu bangku bus.

“Bukankah ini pengalaman pertamamu? Eottoeke? Apa kamu lelah?”

“Benar! Aku capek! Tapi aku suka. Gomawo.” Ujar Yuna lalu memalingkan wajahnya dari Taehyung, yeoja itu menyembunyikan senyumnya.

“Aku mengajak kalian berdua hari ini agar kalian tahu bahwa masih banyak anak yang kehidupannya tak seberuntung kita. Aku mau, kita sama – sama belajar untuk menghargai kehidupan dan juga menghargai orang lain.” spontan kata – kata Taehyung menyadarkan Yuna akan pesan kakeknya, Tuan Hamasaki yang tak jauh berbeda dari kalimat yang baru saja ia dengar.

Semalaman Yuna tak bisa tidur memikirkan ucapan Taehyung, ‘Ah bagaimana bisa selama ini aku hidup menyakiti orang lain?’ sesalnya dalam tangis kala mengingat perilakunya saat menjalankan bisnis. Menghalalkan segala cara, mengusir pemukiman orang, menutup paksa mata pencaharian orang lain, itulah yang ia lakukan hanya untuk mempelancar bisnisnya.

.

“Good Morning! Bagaimana tidurmu semalam?” Sapa Taehyung kepada Yuna yang baru saja keluar rumah.

“Morning.” Sahut Yuna tak bersemangat.

“Wae? Apa kau menangis? Apa terjadi sesuatu?” Cercah Taehyung dengan ekspresi khawatir.

“Molla!”

“Mwo? Reaksi apa itu! Hya! Aku sedang mengkhawatirkanmu tapi kamu justru mengabaikanku? Hya! Kau ini! Aish Jincha!!!”

“Taehyung-ah!”

“Mwo?”

“Bisakah kamu membantuku menjadi orang baik?”

“Ah? Mwo?”

“Sudahlah! Lupakan!” Sungut Yuna dan bermaksud melangkah pergi dari tempatnya berdiri.

“Aku akan membantumu. Percayalah padaku.” Ujar Taehyung sembari memegang pergelangan tangan Yuna. “Gajja!” seru namja itu masih tidak mau melepaskan genggamannya dari tangan Yuna. Sedangkan yeoja itu tidak berontak seperti sebelumnya bahkan kini terkesan menikmati perlakuan Taehyung terhadapnya.

.

Sejak hari itu, Taehyung lebih sering mengajak Yuna ke acara bakti sosial dan menjadi relawan di setiap acara amal. Perlahan ekspresi Yuna mulai berubah. Ekspresi datar nan dingin sedikit demi sedikit mulai mencair. Bahkan kini dia bersedia menyapa orang lain terlebih dulu. Berbanding terbalik dengan sikapnya sebelum ini yang sangat anti membungkukkan badan kepada orang lain sebelum orang itu yang melakukannya lebih awal.

“Eonnie, apa kau tidak takut tinggal di rumah itu sendirian?” Celetuk Taehye yang setahun lebih muda dari Yuna suatu sore ketika ketiga orang wanita itu sedang minum teh bersama di taman rumah keluarga Kim.

“Ani. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri.”

“Apa saat di Jepang kamu juga tinggal sendirian?”

“Ani Eommani, saat itu aku tinggal bersama dengan kakek dan nenek. Tapi karena rumahnya terlalu luas, ditambah jadwal kami yang sama – sama padat, kami sangat jarang bertemu apalagi berkumpul seperti ini.”

“Lalu dimana kedua orang tuamu, eonnie?”

“Appa di penjara dan Eomma kabur.”

“Mwo???” Taehye membulatkan matanya, namun mulutnya dengan reflek ditutup oleh ibunya.

“Apa kamu tidak ingin menjenguk tuan Song di penjara?” Tiba – tiba suara berat itu angkat bicara.

“Tidak, Jaksa Kim.” sahut Yuna dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.

“Eonnie mengenal uri aboeji?”

“Tentu saja, beliau yang menjebloskan Appaku ke penjara. Bukankah begitu Jaksa Kim?”

“Ingatanmu sangat bagus, Song Yuna. Senang bertemu denganmu lagi. Tuan Song pasti akan senang melihat putrinya tumbuh dengan baik sebagai pebisnis hebat.”

“Gamsahabnida, Jaksa Kim. Aku akan menganggap itu sebagai pujian dari anda.”

“Ttalawa!!!” Taehyung dengan cepat menarik Yuna dari tempat duduknya dan mengakhiri pembicaraan yang kurang mengenakan antara yeoja itu dengan aboejinya.

“Wae?” Sungut Yuna. “Apa kau bersikap baik kepadaku karena tahu bahwa Aboejimu yang mengirim Appaku ke dalam jeruji besi? Apa kau merasa bersalah?”

“Ani!!!” Sangkal Taehyung.

“Lalu?” Hanya bungkam! Taehyung tak bisa menjawab pertanyaan Yuna dengan cepat. Otaknya masih berpikir. “Menjauhlah dariku Kim Taehyung! Kukira kau tulus saat kau berkata akan berada disisiku. Tapi ternyata semua itu karena rasa bersalahmu. Aku telah salah mempercayai orang!” Eluh Yuna.

“Jebal Yuna! Sekali saja percaya padaku!”

“Sirheo!”

“Kumohon, percayalah padaku.”

“Kenapa? Kenapa aku harus percaya kepada orang yang telah mempermainkanku! Aku percaya padamu Taehyung! Tapi apa? Ternyata kau anak Jaksa Kim! Aboejimu mengirim Appaku ke penjara dan memisahkannya dariku! Keluargaku berantakan karena tuntutan yang Aboejimu bacakan!”

“Jebal Yuna! Jebal!” Taehyung berusaha menghentikan Yuna yang memberontak saat dirinya bermaksud untuk memegang tangan Yeoja itu. Akhirnya Taehyung dapat menghentikan pukulan – pukulan Yuna dengan cara memeluk yeoja didepannya tersebut. “Naneun Joh-ae!”

“Mwo?” Yuna benar – benar kesal dibuatnya.

“Dwae, ini semua karena aku menyukaimu. Hamasaki Yuna.” Ujar Taehyung sembari mempererat pelukannya. “Sekalipun dunia menolak kita, aku akan tetap ada untukmu, menatapmu seorang, karena aku menyukaimu.” Kalimat terakhir Taehyung ditutup dengan kecupan manis di bibir Yuna. Air mata yeoja itu mengalir deras dari matanya yang terpejam.

.

.

.

[Yuna POV]

“Na tto, naneun joh-ae Kim Taehyung.” Entah apa yang membuatku berkata demikian, tapi itulah isi hatiku yang sebenarnya. Aku menangis karena bahagia karena akhirnya ada orang yang mencintaiku tak peduli siapapun aku. Dan akupun menerimanya, tak menghiraukan alasan dibalik semua itu.

Hanya dia namja bodoh yang kukenal, dia merutukiku sebagai orang yang tak tahu sopan santun. Padahal diapun sama, bagaimana bisa seseorang mencaci orang lain di awal pertemuannya. Jika mengingat hal itu, akupun jadi ingin tertawa.

Ini sudah 2 bulan sejak Taehyung menjadi namjachinguku. Belakangan ini dia telah berusaha keras meyakinkanku bahwa baik Appaku maupun Aboejinya tak ada yang patut di salahkan. Mereka hanya berusaha bertanggung jawab atas pekerjaan serta kesalahan mereka.

Satu – satunya yang salah ialah orang yang menjebak Appaku dan membawa kabur uang Perusahaan yang sesungguhnya. Setelah mempelajari berkas perkara yang di tunjukkan Jaksa Kim kepadaku barulah aku sadar bahwa selama ini aku telah salah membenci orang. Dan aku sangat menyesal serta merasa malu karenanya.

“Appa, apa Appa sehat?” Hanya itu yang bisa ku katakan saat memandang pria paruh baya yang berada di balik kaca pembatas ini. Ingin sekali aku memeluk namja itu, di lubuk hatiku paling dalam aku merindukannya.

“Yuna! Bagaimana kabarmu? Apa kau hidup dengan baik? Yuna, mianhae. Jeongmal mianhae!” Melihat pria yang kusebut Appa menitihkan air matanya, hatiku teriris perih. Tak terasa akupun menangis karenanya.

“Kenapa Appa membiarkannya? Kenapa Appa mengalah dan menerima penderitaan ini sendiri? Tahukah Appa, selama ini aku membencimu, membenci Jaksa Kim dan membenci orang – orang disekitarku! Aku hidup dengan tembok pembatas Appa! Aku menderita!”

“Mianhae Yuna.”

“Aku akan mengajukan banding untukmu Appa. Kita tangkap penjahat yang sebenarnya!”

“Andwae!!! Jebal, Jangan lakukan itu!”

“Wae? Apa karena pria itu adalah lelaki selingkuhan Eomma? Atau karena Eomma kini hidup bersama orang itu? Apa benar begitu?”

“Yuna, bagaimana kamu tahu?”

“Jaksa Kim, beliau menceritakan semuanya! Aku tetap akan menjebloskan pria itu ke penjara, sekalipun harus membuat Eomma menderita sekali lagi.”

“Andwae! Jebal Yuna!”

“Waeyeo Appa? Eomma sudah menghianati kita!”

“Tapi dia adalah Eommanimu Yuna.”

“Appa, kau begitu mencintainya?”

“Mianhae, Yuna.”

Perasaanku hancur berantakan kala itu. Appaku berkorban, menyiksa dirinya mendekap di penjara hanya untuk melihat Eomma, Ani! wanita yang di cintainya bisa hidup bebas dengan orang lain. Ironis! Sedangkan aku bertahun – tahun membagi – bagi kebencianku dan menumpukknya menjadi gunung dengki kepada orang yang salah. Ah! Betapa bodohnya aku!

Aku ingin Appaku bebas, dan membersihkan namanya. Aku ingin namja itu hidup dengan baik bersamaku. Bagaimanapun caranya, aku akan menyeret koruptor yang sebenarnya. Cukup 8 Tahun saja Appaku mendekap dan merasakan dinginnya suhu penjara. Penjahat itu pasti akan menanggung semua kesalahannya. Meskipun harus melihat istrinya menangis darah tak masalah bagiku. Seseorang yang meninggalkan suami serta anaknya hanya demi harta dan tahta tidaklah pantas di sebut sebagai seorang IBU. Dia juga tak layak untuk di sebut sebagai keluarga. Karena keluarga adalah orang terdekat, yang mendukung kita, menyemangati kita, mendengarkan kita serta mengingatkan kita. Keluarga adalah orang yang akan selalu menerima apapun dan bagaimanapun keadaan kita.

Aku sangat menyedihkan, tak ada yang bisa kulakukan selain menangis. Bagaimana bisa Appaku masih mencintai wanita yang sudah menghianatinya. Naif! Sedangkan aku, tidak akan pernah bisa memaafkannya.

“Neo gwaencana?” Namun semua beban terasa menguap ketika Taehyung bertanya seperti itu, menatapku dengan sorot mata yang teduh sambil mengulurkan tangannya.

“Dwae, nan gwaencana.” jawabku dan menyambut uluran tangannya. Dia tidak akan membiarkanku sendirian lagi dalam menjalani jalan didepanku, karena dia akan berada disampingku. Kapanpun aku membutuhkannya dia akan ada disana, menungguku. Dan ketika aku lelah dengan segala masalahku, bahunya siap menjadi sandaranku. Karena dia cahaya baru di hidupku. Saranghaeyeo, Kim Tae Hyung.

-FIN-

By Yunietananda

23.10.2015

 

3 thoughts on “[Oneshot] The Light”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s