Of Darkness and Unanswered Question

1462684831358

by jojujinjin (@sanhaseyo on Twitter)

.

starring NCT U’s Doyoung and OC’s Kang Jia

also (some) NCT members and SR15G members 

Vignette // T // roughly based from a prompt // slight!Comedy, Fluff, Life, Angst, Family, Hurt/Comfort, Drama, slight!Tragedy, Sad

.

If you aren’t afraid of the dark, then what are you afraid of?”

***

“YA AMPUN JAEHYUN—“

“APA SIH?!”

“Kau baru saja menginjak kakiku bodoh!”

“Aduh, menurutmu saja, Taeyong. Memangnya aku bisa melihat gelap-gelap begini?!”

“Paling tidak hati-hati dong!”

“BERISIK!”

Lalu hening.

.

.

.

“BERISIK!”

Lalu hening.

Dengan satu kata yang meluncur dari sela bibir Kang Jia, Taeyong dan Jaehyun akhirnya mengatup lambe masing-masing dan segera duduk di samping Jisung yang terkikik dalam gelap. Meski pun sangat minim penerangan—hanya remang cahaya bulan sabit lewat jendela—dua lelaki yang baru saja kena sembur itu bersumpah mereka dapat merasakan tatapan tajam Jia dari sisi lain ruang tengah yang sontak penuh sejak mati lampu beberapa menit yang lalu.

Jia mendecak. Melarikan senter ke tiap inci ruang tengah sebelum membuka suara, “Apa ada yang butuh sesuatu?”

“Lilin, duh,” jawab Hyein cepat. “Atau senter, atau apalah, Kak.”

“Maksudku selain itu. Sebentar lagi Doyoung memang mau mengambil lilin di gudang atap.”

“Aku lapar,” ucap Jaemin, mengundang tawa Jia. Jeno di sampingnya nampak menyikut pinggul Jaemin yang secara tak langsung berujar; jangan merepotkan di saat-saat seperti ini, Na Jaemin.

“Apa ramen instan bisa mengenyangkanmu?”

“Aku juga lapar, deh,” timpal Sungkyung.

“Aku haus,” Minhyung ikut menyahut.

Sebelum Jia dapat membalas Sungkyung yang merebahkan diri di atas sofa panjang, seseorang merebut senternya dan menyorot wajah Sungkyung dekat-dekat. Memicu gadis itu memekik lantang.

Yah, kau menghabiskan kulit ayam gorengku saat makan malam tadi, Sungkyung! Masih belum kenyang juga, ha?”

Jia menatap kosong Doyoung yang pada detik selanjutnya sudah menjatuhkan senter di genggamannya, menggelitik sekujur tubuh Sungkyung dengan kadar semangat berlebihan ditambah balas dendam—tentu saja Doyoung masih tidak bisa mengikhlaskan kulit ayam bumbu kentucky yang sudah ia pisahkan susah payah dimakan seenak jidat oleh Sungkyung.

Tak ada yang mencoba untuk memisahkan Doyoung dari Sungkyung. Anak panti yang lain malah tertawa keras, apalagi setelah pekikan-pekikan Sungkyung berubah menjadi sesunggukan.

Sudut bibir Jia terangkat sedikit.

“Rasakan!” kata Doyoung akhirnya, mengakhiri pembalasan dendamnya dengan menjulurkan lidahnya.

“Kak Doyoung! Kata Kak Jia mau ngambil lilin? Kapan?” tanya Koeun setengah berteriak. “Aku mau tidur nih, di kamar gelap banget.”

“Oh? Aku? Ambil di mana, Ji?” tanya Doyoung, namun Jia tidak lekas menjawab. Ia memutar badan dengan jemari menarik ujung kaus Doyoung.

Langkah Jia terlihat tenang meski senter yang sedari tadi berada di tangannya kini sudah berada di tengah ruangan, meninggalkan ia dan Doyoung dalam perjalanan ke daerah belakang panti (tidak sebelum ia berpesan pada Jaehyun untuk menjaga anak panti agar tidak terjadi hal-hal yang aneh) ditemani gelap belaka.

“Seingatku senter dan lilin ada di gudang atas.”

“Aduh!”

Jia menoleh ke belakang, “Eh? Doyoung?” matanya menyipit, namun ia hanya mampu melihat siluet Doyoung setengah membungkuk.

Uh—hanya menabrak kaki meja. Aku tidak apa-apa,” Doyoung mencari keberadaan Jia setengah panik.

Dan kalau tidak sedang dalam keadaan genting, Jia pasti sudah mengatainya setengah mati. Namun untuk sekarang ia hanya terkekeh kecil sebelum menyambut jemari tersesat Doyoung dengan lengannya. “Ini tidak lucu tahu, Jia! Jangan lepas, jangan lepas.”

Bibir Jia melengkung jahil.

Mereka lanjut merajut langkah sampai tangga kurus yang cukup terlihat kontras dengan dinding putih berada di hadapan mereka. Doyoung menyadarinya, lantas ia meraba badan tangga sesaat sebelum menaikkan telapak kakinya ke batangan besi terbawah. Jia pikir Doyoung akan segera naik dan meninggalkannya untuk mengambil lilin sendirian, tapi tidak.

“Kenapaㅡ”

“Ayo naik,” kata Doyoung. Memberi ruang pada Jia.

“Kau sendiri saja yang naik, kenapa?”

“Kamu yang tahu tempatnya, ‘kan? Kita akan lebih cepat, Ji. Kasihan anak-anak menunggu.”

Jia nyaris saja protes kalau Doyoung tidak memberinya satu cubitan peringatan di pinggang. Jadi ia memajukan bibir bawah, menaiki tangga dan meraba langit-langit ruangan untuk membuka selot pintu kecil gudang.

“Selotnya susah dibuka,” Jia mendesah.

“Bisa nggak?” Doyoung merapatkan diri ke tangga, seolah bersiap-siap jikalau Jia jatuh kapan pun.

“Ini karataㅡWHOA!”

“AWAS!”

.

.

.

“AWAS!” Dan benar saja. Jia berhasil membuka selotnya; namun mendapat imbas tergelincir dari tangga.

Untung Doyoung sudah siap sedia, menaham tubuh Jia yang kehilangan keseimbangan selama beberapa sekon.

I’ll justㅡ” Jia melepaskan diri dari rengkuhan Doyoung, tiba-tiba bersyukur pada gelap yang melingkupi mereka because who knows, kalau ternyata kedua pipinya sudah memerah? “Aku akan naik duluan; um, terserah. Kau tunggu di sini saja pun tidak apa-apa.”

Jia adalah tipikal perempuan yang mahir sekali menyembunyikan refleksnya di segala momen, jadi wajar saja kalau Doyoung menahan tawanya sebelum menganggukkan kepala mendapati gestur gugup gadis itu. Bibir melontarkan sebuah ‘oke’ kala menyadari Jia tak bisa melihatnya.

“Di sini sangat gelap,” Jia menapaki lantai kayu gudang atap dan ia merasa seperti tengah menutup matanya. “Aku tidak bisa melihat apa-apa.”

Doyoung yang menyusul beberapa sekon di belakangnya sontak memekik. “Astaga Tuhanㅡ”

“Kenapa?”

“Aku buta, ini gelap sekali, aku butaㅡ”

“Aku di sini, Doyoung. Jangan bodoh.”

“Di mana?! Berikan tanganmuㅡAHH! AKU MERASAKAN SESUATU BERJALAN MELEWATI KAKIKU!”

Saat Jia akhirnya menemui tangan Doyoung, pria tersebut memeluk lengan Jia seakan garis hidupnya terletak di sana.

“Kamu takut gelap, ya?” tanya Jia, bermenit-menit setelah petualangan mencari tempat senter dan lilin tak membuahkan hasil.

Selama itu, Doyoung tidak henti-hentinya terkejut di sisi Jia dan mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. Sementara Jia terfokus pada tujuan awalnya, menyingkirkan debu dari berbagai permukaan yang ia temui dengan tangan telanjang dan membuka kardus-kardus usang.

I’mI’m not scared of the dark!” balas Doyoung; setelah meloncat di atas lantai gudang karena lagi, ia merasakan sesuatu melintasi jemari kakinya.

Jia tersenyum lebar. “Really?” Mengumbar serangkaian kekeh mengejek, gadis itu tiba-tiba mengambil beberapa langkah besar ke depan. Berhasil melepas kontak Doyoung dengan lengan kirinya yang entah sejak kapan sudah berkeringat.

“Jia!!”

“Jawab aku,” ujar Jia, susah payah menahan rentetan tawa yang hendak keluar dari bibirnya. Di dalam hati Jia kecewa karena ia tak ingin apa pun kecuali melihat ekspresi Doyoung sekarang (merekamnya bahkan bila memungkinkan). “If you aren’t afraid of the dark, then what are you afraid of?”

Kiranya telinga akan menerima jawaban pembelaan diri, atau segala kalimat yang singkatnya berarti ‘aku tentu saja tidak takut pada gelap’ dilontarkan oleh Doyoung Si Keras Kepala, Jia justru dicumbu sunyi.

Ada sesuatu dalam hening di tengah kegelitaan gudang yang melebur senyum Jia. Kayu yang menyangga berat tubuhnya tak lagi menjerit-jerit pelan di bawah sepasang tungkainya. Jia mencoba kembali menggapai Doyoung, tapi justru ditangkapnya bunyi merbau yang menggeliat kasar. Degup jantungnya seketika berantakan.

Ada sesuatu dalam hening di tengah kegelitaan gudang yang membuat Jia menyesal; entah atas perkataannya, tingkah lakunya, atau apa pun. Entah pula mengapa, Jia sendiri gagal paham. Netra terus dipaksa mencari-cari lebih, dan sekadar menerima hitam.

“D-doyoung?”

“Yang belum kita periksa tinggal dua tumpuk kardus di belakangmu, Ji.”

“Apa—“

“Cepat, k-kumohon.”

Jia menemukan tiga buah senter serta satu kotak penuh lilin yang masih utuh setengah menit kemudian, sekaligus pula ‘kehilangan’ Doyoung. Yang nampak seperti patung hidup, raut sekusut jerami hancur saat mereka berdua kembali ke ruang tengah tanpa percakapan sama sekali. Doyoung pergi ke kamarnya seperti pergi meninggalkan sekumpulan orang asing, sudut bibir tertarik kuat ke bawah. Tentu saja semua anak panti langsung menyadarinya, dan tak sungkan untuk mendorong Jia agar menyusulnya secepat kilat.

Tapi Jia menggeleng. Diam di atas permadani merah marun yang terasa hangat; wondering what did she do wrong.

.

.

.

Keesokan harinya, Minhyung mendapat sepasang orang tua dan kakak lelaki baru. Semua anak panti melambai pada Minhyung yang tersenyum lebar dengan satu tas tentengan di tangan kiri—yang tak lama kemudian diambil alih oleh Hyungwon, nama kakak barunya yang menjulang bak tiang.

Semuanya nampak ikhlas melepas bocah berumur enam belas tahun tersebut meski ada segelintir rasa sedih di ain mereka; dan Doyoung pun tidak berniat menyembunyikan awan-awan gelap yang menggantung di atas kepala. Ia bahkan masih duduk di sudut ruangan tatkala mobil keluarga bermarga Chae tersebut melaju meninggalkan halaman panti asuhan.

Jia awalnya hendak mengikuti anak-anak panti yang lain berkumpul di ruang makan, namun keberadaan Doyoung menghambatnya di sana. Menghela napas, Jia mengambil tempat di samping Doyoung.

Kiranya Doyoung akan lantas bangkit, meninggalkannya tanpa alasan mengingat semenjak semalam perilakunya berubah menjadi aneh (ia melakukan apa pun diiringi diam yang eksesif). Tapi Doyoung bertahan di tempatnya, mengabaikan Jia yang ragu untuk membuka mulut. Jadi Jia hanya berusaha menekankan bahwa eksistensinya ada di sana. Menekankan kalau Doyoung tidak sendiri, dan kalau tingkah lakunya membuat ia tak nyaman bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata.

“Doyoung,” sebut Jia akhirnya, menyikut lengan Doyoung yang melingkari kaki tertekuknya. Enggan menyinggung kejadian tadi malam dan bertingkah seakan mereka tidak apa-apa. “Ayolah.”

Doyoung menggumam, “Hm?”

“Memang sudah takdirnya satu per satu dari kita harus pergi, ‘kan?”

Doyoung tersenyum pahit mendengar kalimat tersebut sebelum membalas.

“Tidak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkan tempat ini,” jawabnya pelan. “Memangnya kau pernah?”

Giliran Jia yang bungkam.

Meninggalkan panti asuhan? Tempatnya hidup dari umur tujuh bulan sampai ia yang mengurus segala kebutuhan anak panti sejak meninggalnya bibi Ahn satu tahun yang lalu?

Sadar kalau Jia tak mampu bercakap, Doyoung melanjutkan, “Kalau kau meninggalkan panti asuhan ini, nanti siapa yang mengurus anak-anak, Ji?”

“Mereka sudah besar,” ujar Jia lirih.

“Bahkan seringkali aku merasa masih seperti anak kecil. Kau adalah anak perempuan tertua di panti, Ji. Sosok ‘ibu’ buat anak panti sejak bibi Ahn tiada. Kumohon kau tak lupa.”

Kalimat itu mengalun di telinga Jia perlahan namun pasti, memaksa benaknya untuk bekerja lebih keras agar mampu memaknainya dengan sempurna.

Antap yang melingkupi mereka berdua mengalir dengan tenang, menemani Jia yang kini tertunduk lesu dan Doyoung yang menatap kosong pintu utama panti yang masih terbuka lebar. Sinar sang fajar pun kian lama tak lagi menimpa permukaan karpet tebal ruang tengah, mengingat rotasi bumi terus berlangsung meski sepasang insan tersebut berkelana dalam lengang di pikiran masing-masing.

“Aku minta maaf, tadi malam….”

At that, Jia mendongakkan wajahnya.

“Tadi malam, masa lalu sontak memenuhi kepalaku seperti ombak besar yang menyapu bersih pantai dalam sekejap.”

Melankolis, melankolis.

Doyoung bercakap dengan titik-titik kegelapan di tiap abjad yang ia rangkai. Dan jangan salahkan Jia kalau ia mendadak tahu Doyoung tengah berduka, dan kalau dukanya mempunyai relasi tersendiri dengan kelam. Karena bola matanya pagi itu menyimpan rapat sebongkah emosi suram, alih-alih turut memancarkan pendar batara surya seperti biasanya.

“Ah,” Doyoung tersenyum kecut. “Aku sudah menebak kau akan menjadi orang pertama yang akan tahu alasan mengapa aku berada di sini, Ji.”

Itu fakta.

Dan doyoung tidak membiarkan Jia meresponnya, lekas mulai bercerita.

“Aku dan kakakku tidak pernah akur, kami selalu berlomba-lomba di segala hal. Tapi … di luar semua itu, tentu saja kami menyayangi satu sama lain. Pada suatu malam, terjadi korsleting. Satu gedung apartemen menjadi gelap gulita.

“Aku dan kakakku saat itu tengah menonton di ruang tengah. Ayah ibuku berada di kamar. Kakakku menertawaiku yang mencoba mendekat dengannya karena aku tidak bisa melihat apa pun kecuali hitam. Ia bertanya apakah aku takut gelap, dan tentu saja aku enggan mengakuinya, jadi aku menjawab tidak. Meski kenyataannya, aku takut gelap Ji. Aku selalu takut pada gelap.”

“Doyoung—“

“Tolong, jangan minta maaf Ji,” helaan napas Doyoung berat. Ia membalas air muka Jia yang keruh dengan sebuah senyum ikhlas. “Tapi mungkin kau tidak mau mendengar kelanjutannya. Karena, yeah, semuanya terjadi begitu cepat dan simpel.”

The rest of the morning goes blur.

Satu-satunya hal yang Doyoung ingat hanyalah hangatnya pelukan Jia ketika ia berusaha menyelesaikan ceritanya dengan air mata mengalir deras.

“Kedua orangtuaku m-menyuruh kami berdua agar segera pergi keluar gedung. Karena ibu tidak memasak, aku berpikir k-kami pasti akan makan malam di salah satu restoran Cina favorit ayah. D-di perjalanan, kakakku bertanya lagi. Persis seperti yang kau tanyakan tadi malam; jika aku tidak takut pada gelap, lalu apa yang aku takuti?

Aku tidak tahu. Aku t-tidak menjawabnya—tidak s-sampai aku berdiri sendirian di trotoar dan kakakku pergi kembali ke atas karena ia meninggalkan telepon genggamnya. Lantas sebuah ledakan besar terjadi dan d-demi Tuhan, mainan robotku yang biasanya kutaruh di dekat jendela mendarat di dekat kakiku seperti sebuah apel yang jatuh dari pohonnya.”

Jia menggigit bibir bawahnya. “Dan kau tidak sempat menjawab pertanyaan kakakmu.”

“D-dan aku tidak sempat menjawab pertanyaan kakakku,” ulang Doyoung, napas memburu di pundak Jia yang basah. “Aku tidak punya waktu untuk menjawab bahwa: tidak, tidak. Aku tidak takut gelap. Aku lebih takut kehilangan orang-orang yang berada di dalam lingkaran hidupku, aku lebih takut kehilangan orang-orang yang kusayangi. Ayah, ibu, kakak, anak panti—kau, Kang Jia.

Doyoung tidak memperbolehkan Jia untuk melepas rengkuhannya sama sekali bermenit-menit setelah Doyoung menyuarakan namanya lewat bibir yang bergetar.

“Terima kasih, Ji.”

.

.

.

“Terima kasih, Ji.”

Ketika Jia merasakan lengan Doyoung di pundaknya mengerat, merasakan senyum di kulit sensitif lehernya; ia memberanikan diri melarikan jemarinya di sela surai lembut Doyoung sebelum mengistirahatkan tangannya di tengkuk Doyoung, “All I do is hugging you, Young.”

Doyoung merasa tiada hal lain yang harus ia takuti selain gelap

And that’s exactly what I need.”

karena ia yakin (setidaknya untuk saat ini); Jia tak akan meninggalkannya.

Fin.

.

a/n: loh ya niatnya mau buat ficlet kok jadi panjang WKWK halooo semuaa!🙂 feedback would be nice! aNW ini unedited dan gitulah you know haha

xx

6 thoughts on “Of Darkness and Unanswered Question”

  1. haiiiii kak laiisss 😀 sumpah ini tadi aku nengok email dan ada nama kak lais muncul disitu dan yahh langsung cus deh wkwk 😆 haduuh aku suka banget kak, idenya kak lais bisa aja deh yaa 😄 tadi aku penasaran setengah mati pas doyoung diem ini kenapa, aku udah ngirs yang enggak-enggak gitu uh syukur ngga kenapa2 /eh/ dan itu juga gabisa ditebak kak lais, kenapa doyoung tiba2 diem, aku cuma mikir pasti ada masa lalu suram gitu tapi ngga sampe jauh2 banget ehhh ternyata itu justru alasannya doyoung ada di panti huhuhu 😢 as always, nice fic kak! keep writing! ^^

    Suka

  2. aduuuh ini apaan??? aku pengen marah saking lucunya tapi posternya rada rada horror begimana😀 mas do kasian banget sumpah, traumanya pasti nakutin banget😦 daripada sama mbak jia mending peluklah daku sini mass mueheee
    btw ini lebih wow panjang wow dari Hitungan Kelima. tapi kusukaaa,
    keep writing, love!❤❤

    Suka

  3. astaga Doyoungku, kok kita sama ya takut gelap :v wkwk. suka banget kak, kirain waktu Doyoung diem itu dia kesurupan atau gimana eh ternyata inget masa lalu toh
    btw, kenalin, Elisa, 00L🙂

    Suka

  4. Sial kukira horror lho dek -_- kecele gue 😂😂😂 udah dugeun dugeun takot ada cetan nya nongol trnyara haru-biru 😂😂
    nah lho kok aku bhagia liat hyungwon nyempil disana 😍😍

    lope lope diudara untukmu dek💕💕💕

    Suka

  5. Iya yaampun….. Aku sama kaya kakdel, ngiranya ini horror masa udah deg-degan😄 Eh taunya engga, mas Doyoung hanya butuh pelukan :’) sini mas kupeluk /plak/ditempeleng/ 😂😂
    Keep writing!😀

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s