[Vignette] Suddenly I Meet You

Suddenly I Meet You

Suddenly I Meet You

.

He always speaks his mind.

And he always use his eyes not his mouth

.

CAIZHE SERENADE present

Kim Myung Soo (L), Bae Suzy || Romance, Drama, Fluff

Vignette|| PG-15

 

Semua bermula ketika aku pulang kuliah. Hari sangat cerah dan angin sedang berhembus saat itu.

I get it, i’ll handle it really quick! Bye.” Aku menurunkan ponsel dari telingaku dan mengangkat wajah. Tiba-tiba saja, aku melihatnya, entah dari mana, seorang pria muncul dihadapanku dengan wajah serius.

“Namamu Bae Suzy, kan?” aku mengangguk. “Kita harus menikah sekarang juga!”

Aku menatapnya bingung. “HAH???”

Baiklah, kalian mungkin bingung bagaimana kejadian itu berlanjut. Mungkin pria itu sudah gila atau mungkin dia salah orang. Tapi apapun alasannya aku tidak tahu karena sekarang aku sedang berada bersamanya di sebuah cafe dekat kampus.

“Jadi maksudmu, kau hanya mengikuti permintaan kakekmu sebelum beliau meninggal, Kim Myung Soo ssi?”aku bertanya lagi ambil melihat nama yang tertera pada kartu nama yang dia berikan padaku.

Sekarang aku tahu kalau dia adalah CEO salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea Selatan. Dan sudah bisa dipastikan kalau aku menikah dengannya, aku tidak lagi perlu memikirkan masalah uang sedikit pun. Pemikiran itu sedikit menggangguku.

Lagi pula, wajahnya tidak buruk juga. Baiklah, aku mengaku. Pria ini memiliki wajah diatas rata-rata yang pasti kau tidak akan menyesal kalau ingin mengenalkannya pada teman-temanmu. Wajahnya menarik, perpaduan antara cute dan hot juga calm disaat yang sama. Tuhan memang tidak adil. Bagaimana Dia bisa menciptakan manusia seindah ini?

Aku mulai menggerutu dalam hati.

Pria itu mengangguk pasti. “Aku tahu ini gila. Tapi itulah yang terjadi.” Dia menatapku tanpa emosi.

“Lalu bagaimana kau…”

“Bagaimana aku mengenalmu atau bagaimana kakekku mengenalmu?” tanya pria itu sebelum aku selesai bicara.

Aku menyesap cappucino didepanku sebelum melanjutkan. “Keduanya.” Tiba-tiba aku merasa haus.

“Kau ingat acara amal yang pernah kau ikuti di Insa-dong? Kau pernah membantu kakekku disana.”

Aku mencoba mengingatnya. Aku memang pernah membantu seorang kakek yang sedang berjualan tteokbokki disana. Mungkinkah?

Pria itu mengangguk. Sepertinya tanpa sadar aku sudah menyuarakan pikiranku. Sekarang aku mulai megerti dari mana semua ini berasal. Aku ingat bagaimana kakek itu bertanya padaku apakah aku ingin menikah dengan cucunya atau tidak setelah aku selesai membantunya berdagang. Dan dengan polosnya aku menjawab ‘ya’ karena kupikir kakek itu sedang bercanda.

Aku menutup wajahku dengan telapak tangan, sadar dengan kekacauan yang sudah kubuat sendiri dan menghembuskan napas panjang.

“A-aku tidak bisa! Aku tidak bisa menikah denganmu. A-aku sudah punya pacar.” Jawabku terbata-bata.

Pria itu mengangguk lagi. “Aku tahu. Oh Sehun kalau tidak salah.” Dia mendengus. “Aku tidak percaya kau menganggapnya sebai pacar. Aku sudah mencari latar belakangmu lebih dulu sebelum kesini, asal kau tahu saja.”

Aku menatapnya kesal. “Kau tidak tahu apapun tentangnya dan hidupku. Jadi jangan ikut campur!” aku menatapnya tajam dan mengambil tasku hendak bergegas keluar.

“Apa yang kau maksud pacar adalah orang yang selalu memanfaatkanmu?”

Aku berbalik dan menatapnya. “Sehun ssi tidak seperti itu. Dan aku tidak dimanfaatkan. Aku hanya membantunya.”

“Well, kalau begitu kau sangat bodoh karena membantu orang yang salah.” Pria itu melipat tangannya didepan dada.

Aku menatapnya kesal. Dia bahkan tidak tahu apapun dan bertindak seolah dia tahu segalanya. Aku meninggalkan uang di meja dan keluar dari cafe.

Saat menunggu bus untuk pulang, kudengar ponselku berdering. Aku mencari benda kecil itu dan menempelkannya disamping telinga.

Yeoboseo, Sehun sii? Waeyo? Pinjam uang? Lagi?” aku menghembuskan napas panjang. “Aku tahu kau belum mendapatkan uang dari orang tuamu, tapi apa tidak lebih baik kau mencari pekerjaan part-time?” aku sedikit menjauhkan ponsel dari telinga saat mendengar Oh Sehun berteriak padaku. “Mianhaeyo, aku tahu kau sibuk. Mianhae, aku salah bicara tadi. Aku akan mengirimkannya padamu. Berapa banyak yang kau butuhkan?”

Sejak percakapan kami di cafe, Kim Myung Soo sering muncul dihadapanku. Entah saat aku pulang kuliah atau saat aku sedang menunggu bus. Intinya dia sering sekali muncul dihadapanku dan itu membuatku terganggu. Bukan karena kehadirannya –well mungkin itu juga, tapi lebih kepada kata-kata yang selalu dia ucapkan setiap bertemu denganku. Seperti siang ini…

“Bae Suzy ssi, kita harus menikah sekarang!”

Aku meliriknya cepat dan berjalan cepat melewatinya. Aku harus menghiraukannya! Kataku dalam hati.

Tapi semakin aku berjalan cepat, dia semakin mengikutiku. Saat aku hendak berlari, pria itu menahan tanganku.

“Bisa tidak kita bicara dengan tenang?” pria itu menatapku seperti biasa, tanpa emosi.

Tenang? Apa bisa seseorang bicara dengan tenang tanpa punya keinginan untuk berlari menjauh jika seseorang terus membuntutiku seperti stalker, ah bahkan stalker lebih baik. Pria ini bahkan membuntutiku secara terang-terangan. Dan setiap aku bertanya dia selalu menjawab kantornya berada tidak jauh dari kampus dan itu hanya kebetulan.

Tentu saja itu bukan kebetulan. Bagaimana itu bisa kebetulan kalau aku selalu bertemu dengannya setiap hari? SETIAP HARI!!!

Aku baru saja hendak membuka mulut untuk protes, tapi bunyi ponsel menghentikanku.

“Ah, Sehun ssi? Museun il-lya? J-jeongmal mianhae, aku lupa mengirimnya. Aku sibuk akhir-akhir ini.” Kataku sambil menatap Kim Myung Soo dengan tajam, berharap dia bisa membunuhnya dengan tatapanku.

Aku benar-benar sibuk memikirkan bagaimana menghindar dari pria yang satu ini. Dan hebatnya tidak berhasil sama sekali. “A-aku akan mengirimnya sekarang.” KLIK. Dia menutup teleponnya.

“Kau puas sekarang?” tanyaku tanpa menoleh dan terus berjalan mencari ATM terdekat.

“Tidak juga.” Suaranya persis dibelakangku dan itu membuatku terkejut.

Aku tahu kalau kepalaku sudah pasti mencium tanah dan terinjak orang lain yang sedang menyeberang kalau Kim Myung Soo tidak memegang lenganku dengan cepat. Aku sangat terkejut dan tanpa sadar membalikan tubuhku menghadapnya. Hal yang sudah pasti mustahil dilakukan mengingat banyaknya orang yang sedang menyeberang ke arah berlawanan.

“Aku belum puas sebelum berhasil membuatmu menikah denganku.” Katanya datar sambil membalikan posisi tubuhku lalu mendorongku pelan sampai berhasil melewati kerumunan orang yang seakan tidak peduli kalau aku jatuh tadi.

Aku tidak tahu mengapa, tapi sentuhannya terasa panas di lenganku. Mungkin hanya perasaanku saja.

“Aku tahu mungkin ini sedikit terlambat,” pria itu menghentikan langkahnya, membuatku ikut berhenti.

Aku tahu seharusnya kau berlari meninggalkannya. Tapi nada bicaranya membuatku tersihir. Seakan aku harus patuh padanya, seakan setiap katanya adalah perintah bagiku.

Dia mengalihkan pandangannya pada jalanan disampingnya “ketika kudengar kau mau membantu kakekku di acara amal yang dia buat sendiri, tanpa tahu siapa dia, kupikir, kau orang yang baik. Dan hal itulah yang membuatku mau bertemu denganmu.”

Nada bicara serius dan tulus. Membuatku ingin memeluknya dan menepuk punggungnya sambil mengatakan semuanya baik-baik saja. Tunggu, pikiran aneh dari mana itu? Sepertinya cuaca panas hari ini membuat pikirannya kacau.

“Jadi sekarang kau akan megirimkan uang untuk your useless boyfriend?” nadanya kini merendahkan.

Nah, apa kubilang, pikiran aneh itu pasti karena sinar matahari yang menyengat. Tidak mungkin pria ini orang yang baik karena pada detik ini dia bisa terdengar sangat tulus dan detik berikutnya dia membuatku ingin meninjunya dengan sangat keras.

“Sehun ssi hanya tidak ingin merepotkan orang tuanya!” Kataku berkelit membelanya.

“Kalau begitu kenapa kau tidak menyuruhnya mencari kerja part-time saja?”

“Dia sibuk.”

“Itu hanya alasan.”

“Dia memang sibuk sekali dengan kuliahnya!”

Kim Myung Soo mendengus. “Menyedihkan sekali, mengapa hanya kau saja yang berusaha keras?”

“Aku hanya membantunya. Dia bilang…”

“Kau membodohi dirimu sendiri.” Dia memotong kalimatku. “dia menggunakanmu, dan kau tahu itu!”

Aku menatapnya kesal. Aku tahu dengan jelas apa yang dia bicarakan. Aku sangat sadar apa yang aku lakukan pada Sehun hanyalah untuk keuntungannya. Tapi kenapa aku tidak bisa berhenti? Mendengar orang lain mengatakannya padaku semakin membuat pikiranku terbuka dan itu tidak menyenangkan.

“Sepertinya kau hanya bisa mencela orang lain, kan?” aku menatapnya berapi-api.

Marah karena dia membuatku mendengar hal yang tidak menyenangkan, marah karena aku sadar bahwa aku membohongi diri sendiri selama ini, marah karena aku tahu aku bodoh karena terus mengikuti permainan Oh Sehun hanya karena dia mengatakan kalau dia mencintaiku.

“Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Dan itu bukan celaan!” jawabnya datar.

“Kau bahkan baru mengenalku beberapa hari dan kau dengan angkuh menghakimiku begitu saja!”

Dia mendesah. “Bae Suzy ssi, kau harus putus dengan pria itu secepatnya, i definitely have need of you.

“Dan itu hanya karena permintaan terakhir kakekmu, kan?!” tanpa sadar aku menaikan suaraku. Aku bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapku aneh.

Kim Myung Soo terlihat terkejut dengan perkataanku dan menarikku ke arah berlawanan dari tempat tujuanku.

Yaa, kau mau membawaku kemana? Yaa! Kim Myung Soo ssi!” aku mencoba menarik tanganku dari cengkramannya.

Beberapa jam kemudian, aku sudah berada di halaman depan sebuah rumah yang bukan hanya big tapi lebih kepada HUGE.

“Kau tunggu apa lagi? Ayo masuk.”

Aku melihat Kim Myung Soo membuka pintu rumahnya untukku. “Ini rumahmu?”

Aku melangkah masuk melewatinya, dan suasana didalam membuatku berdecak kagum. Interiornya bagus dan sudah pasti mahal. Semua tertata rapi dan bersih. Mustahil pria ini yang membersihkannya sendiri.

“Duduklah di ruang tamu, maaf kalau sedikit kotor. Aku belum selesai membersihkan rumah ini kemarin.” Kata Kim Myung Soo lalu berjalan kearah dapur.

Aku membalikan badan dan menatapnya heran. “Kau yang membersihkan rumah ini? Sendirian?”

“Apa kau menatap orang lain selain kita disini?” dia terlihat kesal dengan pertanyaanku.

“Aku kan hanya bertanya.” Jawabku lalu mendudukan diri di sebuah sofa nyaman berwarna hitam.

Aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini didominasi warna hitam dan putih. Sangat maskulin. Di ruang tamu sendiri ada sofa warna hitam dan satu set home theater. Tidak jauh dari ruang tamu ada tangga yang memisahkan ruang makan dan dapur yang juga didominasi warna hitam dan putih.

Kim Myung Soo datang sambil membawa sepiring besar tiramisu dan dua piring pasta lali meletakan keduanya dihadapanku. “Kau mau makan disini atau di meja makan saja?”

Aku menggeleng. “Disini saja.” Jawabku singkat.

“Aku hanya punya ini di kulkas. Kalau kau ingin sesuatu bilang saja. Kita bisa membelinya atau memasaknya.” Dia memotong tiramisunya dan memberikannya padaku.

Aku tidak tahu dia sengaja atau tidak, karena dia menggunakan kata ‘kita’ bukan ‘aku’ atau ‘kau’. Well, anggap saja dia tidak sadar. Aku sedang tidak ingin berpikir yang tidak-tidak sekarang.

Kami berdua terdiam. Sibuk dalam makanan masing-masing, walaupun sebenarnya aku memang sibuk memakan tiramis yang sangat lezat ini. Entah bagaimana dia membuatnya, tapi rasanya benar-benar enak. Aku tidak tahan dengan kesunyian ini. This silent can kill me, jadi aku membuka percakapan.

“A-aku…” aku menghentikan kata-kataku begitu juga Kim Myung Soo karena kami berbicara bersamaan.

“Kau duluan saja.” Dia memberiku waktu dan menatapku lekat-lekat.

Aku menggigit bibir bawahku. “A-aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Karena marah padamu tanpa alasan.” Aku menghembuskan napas. “Aku tahu seharusnya aku tidak marah padamu.”

Tidak ada suara. Tidak ada jawaban. Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajahku. Dan aku melihatnya. Dia tersenyum padaku untuk pertama kalinya. Senyum yang hangat. Senyum yang dapat dipercaya. Aku hanya bisa melihatnya dalam diam. Seperti terkena sihirnya lagi, aku tidak bisa mengalihakan perhatian itu dari senyumnya.

I know. Seharusnya aku tidak bicara begitu saja.” Jawabnya masih dengan senyum yang sama.

Aku menggeleng. “Anio, gwaenchana!. Kau hanya bicara berdasarkan pikiranmu. Aku hargai itu.” Aku membalas senyumnya.

Keesokan harinya, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran. Dan aku sepenuhnya menyalahkan Kim Myung Soo dan senyumannya. Entah bagaimana senyum itu terus menghantuiku. Bagaimana bisa aku terus mengingatnya dan berharap dia bisa seperti itu terus jika bertemu denganku?

“Aku bisa gila.” Aku mendesah.

“Kau bisa gila kenapa?” sebuah suara mengejutkanku dan membuatku melompat kebelakang.

Dengan cepat dia menangkapku sebelum aku jatuh ke lantai. Seperti waktu itu.

“K-kau? Bagaimana kau bisa masuk kesini?”

Kim Myung Soo mengangkat bahu. “Aku hanya berkata ingin menemuimu dan penjaga itu memperbolehkanku masuk.”

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan keluar gedung. Aku harus mengirimkan uang untuk Sehun. Dia sudah meneleponku lagi hari ini dan aku harus menepati janjiku.

Aku melangkah menyeberangi jalan. Detik selanjutnya aku menghentikan langkahku. Aku hanya bisa berdiri disana mematung. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku tahu seharusnya aku segera menghampirinya dan menamparnya keras di pipinya. Tapi aku tidak bisa. Jadi aku hanya bisa menatapnya, Oh Sehun, didepan mataku, sedang bergandengan dengan mesra bersama seorang wanita.

“Kau tidak takut pacarmu memergoki kita?” samar-samar aku bisa mendengar suara wanita itu.

Oh Sehun tertawa. “Pacar apa? Aku hanya meneleponnya kalau aku butuh uang.” Dia tertawa lepas. “Dia bukan siapa-siapa.”

Aku membalikan tubuhku dan langsung berhadapan dengan Kim Myung Soo. Oh tidak. Kenapa harus dia dari semua orang yang bertemu dengannya sekarang?

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Aku tidak bisa lagi menatapnya. Air mataku bisa jatuh kapan saja kalau aku menatapnya.

“Apa kau akan mengatakan kalau aku tidak berguna juga?” aku bertanya tanpa mengangkat wajahku.

Dia diam sesaat. “Sudah kukatakan padamu ratusan kali kalau aku ingin menikahimu. Menikah itu tentang menghabiskan sisa hidupmu dengan orang lain yang bisa menghargaimu.” Dia menarik tanganku menuju mobil yang terparkir tidak jauh darinya. “Bukannya membuangmu dan menjadikanmu budaknya.”

Entah bagaimana dia sudah mendudukanku  di dalam mobil. Dai menutup pintunya dan menghampiri Oh Sehun.

 “Aish, kenapa dia harus sekuat itu?” Kim Myung Soo menggerutu.

“Kenapa kau melakukannya kalau kau bisa terluka begini?”

Aku mengobati luka di wajahnya dengan kapas. Dia mendesis saat kapas itu menyentuh ujung bibirnya.

Kim Myung Soo tersenyum masam. “Dari sekian banyak informasi tentangmu, aku tidak ingat kalau dia pemain rugby.

Aku tertawa kecil. “Mungkin karena kau terlalu fokus denganku sampai lupa detail lainnya.”

Kim Myung Soo menatapku lembut. “Mungkin benar. Mungkin aku memang terlalu fokus padamu sampai lupa dengan  yang lain.” Dia masih menatapku. “Kau berhasil membuatku tidak dapat mengalihkan pandanganku darimu.”

Oh tidak! Jangan senyum itu lagi. Senyum itu berbahaya untuk jantungku. See? Sekarang jantungku yang malang mulai berdetak dua kali lebih cepat. Aku berharap dalam hati mudah-mudahan dia tidak bisa mendengar jantungku yang nakal ini.

“Kau akhirnya tersenyum.” Katanya kemudian. “Kalau begitu haruskah kita menikah?”

Pernyataannya yang tiba-tiba membuat pipiku terasa panas. Aku tahu sekarang pasti pipiku semerah tomat. Aku mendengus dan memalingkan wajahku.

“Kadang kau melakukan hal yang diluar dugaan.” Gumamku. “Kadang aku penasaran dengan isi kepalamu itu.”

“Kalau begitu lihat saja.” Jawabnya santai. “My only thoughts are of you, and only you.

Oh tidak, jangan mulai lagi…

Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku, tapi kehadiran Kim Myung Soo sudah menjadi sesuatu yang biasa sekarang. Aku terbiasa melihatnya didepan gerbang menungguku. Aku terbiasa melihatnya makan denganku. Aku terbiasa melihatnya berada didekatku.

Aku melewati jalan yang sama untuk pulang ketika aku melihat Kim Myung Soo di salah satu cafe bersama seorang wanita. Ah benar, kantornya tidak jauh dari sini. Mungkin dia sedang bertemu koleganya, pikirku.

Ah, sekarang wanita itu tertawa padanya. Apa ini? Perasaan apa ini? Mengapa aku merasa sesak napas? Mengapa hatiku terasa sakit melihat mereka berdua?

“Bae Suzy ssi?” kudengar Kim Myung Soo memanggil namaku.

Aku mengangkat wajahku dan memaksakan seyumanku yang terbaik. Aku masih sulit bernapas saat melihatnya. “Aku baru mau pulang dan aku melihatmu dari luar. Kau sedang meeting?” tanyaku dengan nada bicara yang kuharap baik-baik saja.

Kim Myung Soo mengangguk. “Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.” Nadanya terdengar serius.

Dia membawaku kembali kedalam cafe setelah mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Entah kenapa, tapi sejak tadi dia tidak menatap mataku sama sekali dan selalu mengalihkan pandangannya.

“Umm,” dia berdeham dan menyerahkan selembar kertas padaku. “seperti yang kau lihat, kakekku ternyata hanya main-main. Dia bahkan tidak minta maaf sama sekali. Dasar old man!” dia menggerutu.

Aku membacanya dengan seksama. Dan rasa sakit itu kembali lagi.

“Kau tahu aku minta maaf soal kakekku karena…”

Aku meletakkan cangkir yang sejak tadi kugenggang. “Kau tahu Kim Myung Soo ssi, aku sudah menduga kalau ada sesuatu yang tidak beres karena kau tidak menatapku sejak tadi.” Aku menggigit bibir bawahku. “kupikir kita sudah dekat sekarang. Now you no longer needs me, right?” aku tertawa hambar.

Pria itu menatapku tajam. “Apa maksudmu?”

“Kau tahu apa yang kumaksud.” Aku melanjutkan. “Kau menikah denganku hanya karena permintaan terakhir kakekmu.” Sekarang rasa sakit itu semakin menyiksa. “itu tujuanmu dari awal, kan?” aku bahkan tidak percaya aku sanggup mengatakan ini semua.

Kim Myung Soo meletakan cangkirnya dengan keras. “Aku tidak mengerti apa maksudmu dan aku tidak mengerti bagaimana kau bicara seperti itu.” Dia menatapku dengan marah. Aku belum pernah melihatnya semarah ini. “Kenapa kau bisa sebodoh ini?”

Hanya dengan kalimat itu dia pergi meninggalkanku sendirian. Perlahan air mataku mulai menetes. Awalnya hanya setitik, tapi kemudian aku tidak bisa mengontrolnya lagi. Aku tahu aku seharusnya mengejarnya. Aku tahu seharusnya aku berterima kasih padanya karena sudah memperhatikanku selama ini. Aku tahu itu.

Aku mengambil tas dan jaketku lalu bergegas mengejarnya. Aku melihatnya. Berjalan memungguiku. “Kim Myung Soo ssi!” teriakanku berhasil membuatnya menoleh.

Aku berlari ke arahnya. Entah atas dorongan apa tapi aku merasa lega karena bia menghentikannya. Aku memeluknya hingga kami berdua jatuh terduduk.

“Aku tahu ini tidak masuk akal, but please don’t go! I really need you!” aku masih memeluknya erat.

Dia terdiam beberapa saat sebelum melepaskanku dari pelukannya. “Kau tahu, saat aku mengetahui permintaan terakhir kakek, aku berpikir ‘ah, dia pasti bercanda’ dan mengabaikannya begitu saja.” Dia menatapku dalam. “Lalu aku mulai melihatmu, berjalan santai dengan yang lain. Aku tahu seharusnya aku menghampirimu, aku ingin bicara denganmu, tapi… tapi aku terlalu nervous untuk dekat denganmu.”

Aku menatapnya dalam diam. Menunggu sampai dia selesai bicara. “Dan sekarang kau berada disini. Tepat disini, didepanku.” Dia menghembuskan napas panjang. “Kau tidak tahu bagaimana kehadiranmu membuat semua berantakan. Kau tidak akan menyangka kalau kau selama ini, selalu ada disini,” dia menyentuh kepalanya. “disini,” dia menunjuk matanya, “dan disini.” Dia menunjuk dadanya.

Aku menatapnya tanpa berkedip. Aku bingung harus mengatakan apa. “A-aku… aku…”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku karena Kim Myung Soo sudah menutup bibirku dengan ciumannya. Ciumannya terasa dalam dan panas tapi juga terasa lembut disaat yang sama Membuatku tidak bisa berhenti.

Lalu dia melepaskannya. Napas kami memburu, seakan tidak mau melepaskan diri. Kim Myung Soo menempelkan keningnya padaku. “Saranghaeyo. Neomu saranghaeyo.

Aku tahu Kim Myung Soo memang orang yang pendiam. Dan ketika dia membuka mulut dia selalu mengatakan yang sebenarnya. Dia mengatakan apa yang ada dipikirannya. Tapi mengapa itu semua tidak membuatku terkejut? Mungkinkah karena dia yang selalu seperti itu dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika terjadi sebaliknya. Karena dia selalu menggunakan matanya bukan mulutnya. Karena itu membuatnya lebih teliti dan rasional. Dan karena itu juga membuatku jatuh cinta padanya.

-Fin-

Honestly, cerita ini dari ide iseng karena mau ngelanjutin FF aku yang sampe sekarang belom selesai. Karena writer block tanpa sengaja terciptalah FF aneh bin ajaib ini. Aku tau FF ini udah nentang hukum alam karena Suzy punya pacar. Tapi aku ga bisa move on dari couple ini…gimana dong???

Well, thanks for reading. I really appreciate your comment below

3 thoughts on “[Vignette] Suddenly I Meet You”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s