The Story Only I Didn’t Know [6/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [6/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1. 2. 3. 4. 5

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Park’s House

Rose Flower Garden – 07.00 am

Minjung menghembuskan nafasnya pelan di sepanjang langkahnya kini, berjalan menuju taman bunga mawar merah yang ada di belakang rumah yang sangat di sukainya. Taman bunga mawar yang di tanam sendiri oleh Minjung, di beberapa tahun yang lalu bersama Chanyeol. Di sampingnya Kim Sangwon berjalan pelan dengan membawa sebuah nampan kecil, berisi beberapa botol obat yang akan di minum Minjung pagi ini.

Minjung mendudukkan tubuhnya pada bangku kayu di dalam area taman, mata senjanya menatap tak henti puluhan bunga mawar yang mulai menampakkan, kelopak indahnya dengan sempurna. Minjung kembali menghembuskan nafasnya, pikiran wanita itu melayang ke beberapa tahun yang lalu, tahun di mana dia bersama Chanyeol menghabiskan waktu bersama di taman itu, tertawa bersama saat memetik beberapa tangkai mawar, lalu membawanya pulang ke rumah.

Rindu. Minjung merindukan suasana hangat itu, merindukan pelukan sayang Chanyeol di bahunya, rindu rengekan putranya itu saat tak mendapat ciuman selamat tidur darinya. Mata Minjung berembun, rasa hampa itu semakin menggrogoti hatinya, rasa hampa buah dari rasa kecewa pada wanita yang melahirkan Chanyeol ke dunia, dengan semua kenyataan pahit yang ikut andil di dalamnya.

“Nyonya sudah saatnya anda minum obat,” Minjung mengerjab, tersadar dari lamunannya seraya mengalihkan pandangannya, tersenyum sekilas ke arah Sangwon yang menyodorkan beberapa butir pil warna warni yang sudah Minjung konsumsi, sejak kejadian kelam itu.

Minjung meraih pil itu lalu menelannya dengan segelas air putih yang di sodorkan oleh Sangwon, kembali menerawang menatap puluhan bunga mawar merah di hadapannya. Sangwon yang berdiri tepat di samping Minjung, tampak memandang majikannya itu dengan tatapan ibanya.

Sangwon tahu jika selama ini Minjung masih sangat menyayangi Chanyeol, masih selalu menyiapkan syal, sarung tangan dan pakaian dingin Chanyeol, secara diam-diam karna Minjung tahu pasti Chanyeol sering melupakan hal-hal kecil seperti itu. Duduk termenung di depan taman di tiap minggu pagi seperti ini, persis seperti yang dulu pernah Minjung lakukan bersama Chanyeol.

“Bagaimana dia sekarang?” pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Minjung, membuat Sangwon terkejut seraya menatap Minjung yang masih memandang lurus ke depan.

“Nde? Maksud nyonya, tuan muda Chanyeol?” tanya Sangwon memastikan, Minjung tidak menjawab hanya mengerjab dengan tatapan yang tidak terbaca oleh Sangwon.

“Dia semakin tinggi dan sangat tampan Nyonya,” jawab Sangwon dengan tersenyum. “Sekarang dia sudah menjulang dengan tinggi 185cm, selalu mendapat peringkat 3 besar di kelasnya, tuan muda juga sudah jarang sekali terlibat dengan pembulian kepada teman-temannya, dia juga semakin baik di permainan gitar dan drum.”

Ah! Sekarang dia juga sudah punya pacar bernama Song Jiyeon, nyonya pasti mengenalnya dia adalah putri dari tuan Song Jongki, teman baik dari directur Park, pemilik perusahaan Hyundai dan KIA Car. Tuan muda sepertinya sangat menyukai gadis periang dan cantik itu nyonya, mereka suka bertengkar tapi— terlihat sangat manis,” lanjut Sangwon dengan penuh semangat, Sangwon bahkan tertawa pelan saat menceritakan Chanyeol yang selalu, bangun lebih pagi sejak berpacaran dengan Jiyeon.

Hingga Sangwon tidak menyadari senyum tipis di wajah Minjung saat ini. Senyum kelegaan karna ternyata, Chanyeol tumbuh dengan sangat baik, bahkn lebih dari yang pernah Minjung bayangkan selama ini.

***

Basketball Court

Chanyeol menarik nafas panjang, menopang tubuhnya di atas tangan yang di letakkan di atas kedua lututnya. Tertawa pelan dengan beberapa pelayan laki-laki yang pagi ini, menemaninya bermain basket. Keringat meluncur di dahi laki-laki itu, beberapa pelayan wanita yang berdiri sejak tadi di pinggiran lapangan, dengan sigap menghampiri Chanyeol membawa nampan berisi handuk kecil, air putih dingin dan handphone milik laki-laki itu.

Chanyeol meraih handphonenya, menenggak minumannya, handuk kecil berwarna putih sudah melingkar di lehernya. Laki-laki itu tertawa puas dengan permainan basket pagi ini. Chanyeol mulai melangkahkan kakinya keluar dari lapangan basket, berjalan melewati semua pelayan yang membungkuk hormat, saat laki-laki itu melewati mereka.

Chanyeol terus berjalan memasuki rumah besarnya, tangan laki-laki itu sibuk menekan beberapa nomor yang di hafalnya hingga tersambung dengan seorang gadis di seberang sana. Senyum bahagia pun tergambar jelas, di wajah tampan Chanyeol saat ini.

“Ada apa?” Chanyeol tersenyum saat suara gadis itu mulai terdengar.

Cih! Kenapa dengan suara mu? Terdengar sangat aneh.” Tanya Chanyeol dengan senyum tertahannya, laki-laki tahu jika gadis itu pasti masih berkutat di atas ranjang tidurnya.

Apa masalah mu, tuan muda Park Chanyeol!” ucap gadis itu dengan nada tak suka, tapi justru membuat Chanyeol semakin ingin menggoda gadis itu.

“Aku merindukan mu— My Angel,” ucap Chanyeol dengan suara pelannya, laki-laki itu terlihat susah payah menahan tawanya, saat tak ada jawaban apapun di seberang sana. Laki-laki itu sudah bisa menebak dengan pasti, jika gadis itu pasti sedang terkejut, dengan exspresi wajah yang terlihat bodoh.

“Yak! Song Jiyeon! Kau masih di sana,” Chanyeol menghentikan langkahnya, menyandarkan tubuh tingginya pada tembok tepat di seberang anak tangga.

“Heem— ne wae?”

“Hari ini aku ingin mengajak mu berkencan, seingat ku sejak kita menjadi sepasang kekasih, kita belum pernah berkencan, benar begitu?”

“Cih! Siapa yang kau bilang kekasih mu, Chanyeol bodoh? Ingat kau memaksa ku, jadi—“

“Aku tidak peduli!” potong Chanyeol dengan cepat, raut wajah laki-laki itu berubah seketika, terlihat kecewa. “Nanti siang aku akan menjemput mu dan kita akan berkencan. Ingat aku tidak menerima penolakan!” ucap Chanyeol seraya memutuskan sambungan telephone begitu saja.

Chanyeol mengerang kesal mendapati jika hingga detik ini, dia belum mampu menaklukan hati seorang Song Jiyeon. Seorang gadis yang sudah membuat dunia Chanyeol jungkir balik, hanya dengan menatap mata bening gadis itu, selalu mampu membuat Chanyeol kehilangan jati diri yang sebenarnya dan selalu mampu membuat Chayeol merindu, dengan semua yang ada pada gadis itu.

Chanyeol menegakkan tubuh tingginya, berniat ingin melanjutkan langkahnya. Namun laki-laki itu tertegun saat mata bulatnya, menatap Minjung yang berjalan pelan menuju arah ujung tangga, menatap sekilas ke arahnya dengan tatapan sangat datar. Di belakang Minjung berdiri Sangwon yang kini, sudah menundukkan kepalanya ke arah Chanyeol.

Chanyeol membungkukkan tubuhnya ke arah Minjung yang tiba-tiba menghentikan langkahnya, kembali menatap Chanyeol dengan tatapan yang tak mampu laki-laki itu artikan. Chanyeol terlihat menahan dirinya untuk menyapa Minjung, atau pun berlari memeluk ibu yang sangat di sayanginya itu, dengan mengeratkan genggaman tangannya.

Perlahan Minjung mengalihkan pandangannya, melanjutkan langkahnya menaiki tiap anak tangga secara perlahan, meninggalkan Chanyeol yang masih mematung di belakang sana tanpa pernah berniat untuk menoleh sedikit pun.

“Eomma,—“ ucap Chanyeol dengan suara lirihnya, tangannya masih mengepal dengan kuat, menarik nafasnya dengan gusar, saat tiba-tiba butiran airmata mulai memenuhi pelupuk matanya dan mengabaikan tatapan sedih Sangwon yang masih berdiri di ujung tangga.

***

Sungmin’s Room

Sungmin duduk dengan tegab di atas ranjangnya, menganguk mengerti saat suara wanita dari handphone yang menempel, di telinga laki-laki itu kembali memberinya perintah. Sedikit kerutan terlihat di dahi Sungmin, berfikir tentang semua rencana yang baru saja di terimanya, rencana yang harus di laksanakan dengan rapi tanpa cacat, jika dia tidak ingin nyawa saudaranya menjadi korban.

“Ne nyonya saya mengerti, hari ini juga saya akan melaksakan semuanya. Saya sudah menambahkan Psilocybin dengan dosis tinggi,” ucap Sungmin dengan bangga saat pagi tadi dirinya berhasil, mengganti salah satu botol obat yang di konsumsi Minjung, dengan botol berisiPsilocybin.

“Saya pastikan dia sudah meminumnya. Saya akan memanfaatkan efek halusinasi dari obat itu, nyonya tenang saja.” Lanjut Sungmin dengan pasti.

“Bagus! aku mengandalkan mu, mungkin siang nanti aku sudah mendarat di Korea. Seungho dan Jungsoo baru akan kembali beberapa hari lagi, jadi itu akan mempermudah semuanya.”

“Ne nyonya saya mengerti.”

Sungmin menghembuskan nafasnya saat sambungan telephone sudah terputus, mata tajam laki-laki itu menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di meja kecil, di samping ranjangnya. Foto dirinya bersama Xiumin saat masih di Guangzhou, menatap satu-satu nya alasan dia menerima pekerjaan ini, menerima pekerjaan yang mungkin akan membuatnya terlibat dalam persoalan keluarga yang rumit.

Kembali hembusan nafas berat terdengar keluar dari rongga pernafasan Sungmin, beranjak dari tempatnya sekarang seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidurnya. Membawa semua rencana yang sudah di susunnya dengan sangat rapi di dalam memori otaknya, rencana yang akan di lakukannya sebentar lagi.

***

Song’s House

Jiyeon’s Room – 09.00 am

Jiyeon masih duduk dengan malas di atas ranjang tidurnya, gadis itu lagi-lagi mengacak rambutnya, memukul-mukul bantal berbentuk Hello Kitty pemberian ayahnya dengan kesal. Ya gadis itu menjadi sangat kesal sejak mendapat telephone, dari makhluk yang di yakini Jiyeon, adalah makhluk paling menyebalkan yang ada di muka bumi ini.

Bisa-bisanya laki-laki yang dengan seenak hati, menjadikan dirinya sebagai kekasih dari laki-laki itu memaksanya untuk berkencan siang ini. Tidak! Bukan kali ini saja Jiyeon di buat kesal oleh laki-laki itu, bahkan di tiap hari gadis itu bertemu dengannya, selalu saja mampu membuat Jiyeon murka.

“Nona Jiyeon? Ada apa?” Jiyeon menolehkan kepalanya, menghentikan sesaat aksi brutalnya pada bantal tak berdosa yang terlihat lunglai, dengan leher yang masih berada dalam gengaman gadis itu.

“Jung Ahjumma? Sejak kapan ahjumma ada di kamar ku?’ tanya Jiyeon dengan mengerjab pelan, menatap bibi paruh baya yang kini sudah berjalan menghampirinya. Senyum hangat sudah terpasang di wajah bibi Jung, lalu duduk tepat di hadapan Jiyeon yang terlihat masih sangat kesal.

“Sejak beberapa menit yang lalu sayang,” tangan bibi Jung terulur membelai rambut panjang Jiyeon, seraya menatapnya dengan lembut, menatap seorang gadis yang sudah di anggapnya lebih dari seorang anak majikannya.

Jiyeon menghembuskan nafasnya, meletakkan bantal Hello Kitty di atas pangkuannya. “Siang ini dia mengajak ku untuk— untuk berkencan.” Ucap Jiyeon dengan nada ragu, menatap bibi Jung yang justru terlihat syok dengan mata yang berbinar senang.

“Benarkah? Park Chanyeol, tuan muda tampan itu mengajak nona berkencan? Ah! Itu bagus sekali.” Jiyeon memandang bibi Jung dengan tidak percaya, wanita paruh baya itu tersenyum lebar seraya bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju Walk in Closet  milik Jiyeon.

Jiyeon menatap ke arah bibi Jung yang baru saja menghilang di balik pintu Walk in Closetmiliknya, merasa menyesal karna sudah mengatakan rencana Chanyeol pada bibi Jung yang jelas-jelas sangat memuja laki-laki menyebalkan itu.

Jiyeon menopang dagunya di atas tangan kanannya, mata bening gadis itu terlihat bergerak malas mengikuti bibi Jung, berjalan mondar mandir dengan membawa beberapa pakaian Jiyeon dan meletakkannya di atas sofa biru tepat di hadapan gadis itu.

“Ahjumma, sebenarnya siapa yang akan berkencan di sini? Kenapa ahjumma yang terlihat sangat sibuk?” tanya Jiyeon seraya bangkit dari duduknya, memperhatikan bibi Jung yang sedang memilah-milah pakaian gadis itu.

“Tentu saja kau sayang,”  bibi Jung menghentikan kegiatannya, memutar tubuhnya seraya menatap Jiyeon dengan tatapan yang sedikit binggung. “Kenapa nona Jiyeon belum mandi juga? Ayo bergegas setelah itu ahjumma akan membantu mu menyiapkan semuanya,” lanjut bibi Jung lalu kembali berjalan menuju walk in closet, terlihat menarik nafasnya pelan saat mendapati Jiyeon yang belum juga mau beranjak dari tempatnya berpijak.

“Ayo tunggu apa lagi nona?”

***

Park’s House

Minjung’s Room – 10.30 am

Minjung menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ada di sudut kamarnya, mata wanita itu terlihat berkedut, saat merasakan kepalanya yang sedikit berputar. Minjung mengusap dahinya menatap menerawang kesekeliling kamarnya yang sunyi, perlahan wanita itu seperti melihat potongan-potongan kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang terjadi di kamarnya ini.

Minjung membulatkan matanya, menatap tak percaya ke arah ranjang tidurnya. Seorang wanita berparas seperti dirinya, tersenyum licik ke arahnya lalu merebahkan tubuhnya di sebelah seorang laki-laki yang terbaring di sebelahnya.

“Lee Eunjung?” gumam Minjung dengan tatapan tak percayanya.

Minjung mengeleng pelan saat wanita yang di yakini Minjung, sebagai Eunjung itu merangkul laki-laki yang tertidur di sampingnya dengan erat, seraya terus menatap Minjung dengan senyum kemenangannya. Nafas Minjung tertahan saat laki-laki yang tertidur itu, perlahan mulai membuka matanya, bangkit dari posisinya lalu duduk dengan merangkul wanita di sebelahnya.

Nafas Minjung memburu, wanita itu bangkit dari duduknya seraya mengapai wanita, yang kini mulai mencium laki-laki di depannya. Laki-laki yang di kenal Minjung itu tersenyum, membalas ciuman wanitanya, menatap Minjung sesaat sebelum melanjutkan kegiatannya.

Minjung mengepalkan tangannya, wanita itu berlari menuju ranjang seraya berteriak dengan kencang. “SEUNGHO OPPA!!!”

Minjung kembali berteriak, menarik selimut dengan kuat seraya memukul bantal yang ada di atas ranjang. Wanita itu terlihat binggung saat tak menemukan, siapapun di atas ranjangnya, Minjung mengedarkan pandangannya, tawa riang Eunjung mulai terdengar memenuhi ruangan itu, tertawa dengan keras dan membuat dunia Minjung serasa berputar.

Minjung kembali berteriak, menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya. Terduduk lemah di lantai, saat suara-suara itu tak juga menghilang. Minjung tersentak saat sepasang tangan meraih tangannya, wajah Minjung terangkat, menatap laki-laki muda yang kini sudah tersenyum ke arahnya.

“Chanyeol-aa,” ucap Minjung dengan suara tertahan.

Namun laki-laki muda yang di yakini Minjung sebagai Chanyeol itu hanya kembali tersenyum, bangkit dari posisinya lalu berjalan ke arah wanita dan laki-laki paruh baya yang berdiri di belakangnya. Minjung menatap tak percaya pemandangan di hadapannya, menatap laki-laki paruh baya yang tak lain adalah suaminya Park Seungho, merangkul pundak Chanyeol dengan seorang wanita yang sangat mirip dengannya, bergelayut manja di pundak suaminya itu.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak Minjung tak tertahan, namun ketiga orang itu hanya tertawa lalu berlalu dari hadapan Minjung bergitu saja.

Minjung bangkit dari posisinya, berlari menyusul ketiga orang itu. Kembali berteriak saat tak melihat siapapun di sekitarnnya. Kembali Minjung merasa dunianya berputar, teriakkan melengking seorang wanita memenuhi gendang telinganya.

Minjung menutup kedua telinganya yang mulai terasa sakit, berjalan terhuyung menuju pinggiran tangga, dengan mata yang mulai tertutup guna menghalau bayangan masa lalu, yang menari-menari di benaknya.

Sesaat kemudian Minjung merasakan tangan seseorang menyentuh pundaknya, membuat wanita itu berbalik dan di detik berikutnya tubuh lemah Minjung sudah terhuyung, terjatuh lalu berguling tak terbendung, di tiap anak tangga yang meliuk hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.

Seorang pelayan yang tak sengaja melihat kejadian itu, menjerit seketika saat melihat tubuh Minjung, sudah mendarat di ujung tangga dengan darah yang mulai keluar dari hidung dan mulut wanita itu.

“NYONYAAAA!!!”

***

Chanyeol mengeryit saat mendengar suara gaduh dari arah luar kamarnya, laki-laki yang tengah mempersiapkan penampilannya di depan kaca itu pun, bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Berjalan cepat menuju tangga dan sesaat kemudian laki-laki itu membulatkan matanya, saat menatap Minjung yang sudah tak sadarkan diri dan di bopong oleh beberapa pelayan, dengan darah yang mulai berceceran di lantai.

“EOMMAAAA!!!!”

Chanyeol berlari menuruni anak tangga, menahan nafasnya yang memburu saat menatap, keadaan Minjung yang jauh dari kata baik-baik saja. Laki-laki itu mengejar pelayan yang membawa Minjung, menuju mobil yang sudah siap di halaman depan. Chanyeol menatap Sangwon yang berjalan tergesa di samping pelayan yang membopong tubuh Minjung, wajah laki-laki paruh baya itu terlihat pucat, berbicara terbata dengan seseorang melalui sebuah handphone yang tertempel di telinganya.

“Ahjussi apa yang terjadi? Eomma,— kenapa dengan eomma?” tanya Chanyeol pada Sangwon yang baru saja mengakhiri pembicaraan dengan para tim dokter, tentang keadaan Minjung saat ini.

“Tenanglah tuan muda, dokter akan menangani semua ini,” ucap Sangwon dengan nada tertahan, mengusap bahu Chanyeol sesaat sebelum masuk ke dalam mobil. “Aku ikut!” ucap Chanyeol lalu ikut masuk ke dalam mobil yang akan membawa Minjung ke rumah sakit, tanpa bisa Sangwon cegah.

***

Seoul International Hospital

Minjung VVIP Room – 01.00 pm

Sangwon berdiri tak jauh dari ranjang pasien, tempat Minjung terbaring dengan selang infuse yang terpasang di salah satu tangan wanita itu. Dua orang dokter di bantu dengan beberapa perawat,  terlihat memeriksa keadaan Minjung dengan cermat dan hati-hati.

Di samping ranjang berdiri Park Chanyeol dengan wajah pucat dan mata yang memerah karna sejak di perjalanan menuju rumah sakit, Chanyeol terus menangis dengan menggengam erat tangan Minjung. Dan sekarang laki-laki itu belum juga mengeluarkan suaranya, pandangan laki-laki itu pun tak pernah perpaling dari Minjung, walau itu hanya satu detik

“Keadaan nyonya Park sudah lebih baik, tidak ada hal serius yang perlu di khawatirkan.” Ucap Dokter paruh baya bernama Moon Seunghyun.

Dokter dengan semua keahlian yang sudah di akui di mata dunia, dokter yang sejak dulu sudah menjadi dokter keluarga bagi keluarga Park. Sangwon yang mendengar semua penjelasan itu, tampak menghembuskan nafas leganya, menatap sekilas ke arah Minjung yang tertidur dengan nyaman di ranjangnya.

“Tapi— ada satu hal yang ingin saya sampaikan,” ucap Seunghyun dengan ragu. “Kami menemukan kandungan Psilocybin dalam darah nyonya Park.” Lanjut sang dokter, membuat kerutan binggung di dahi Sangwon mulai terlihat.

“Maksud dokter?”

“Psilocybin adalah zat yang terdapat dalam jamur, zat yang dalam dosis kecil bisa menjadi obat untuk penderita depresi. Namun jika di konsumsi dalam jumlah yang banyak, bercampur dengan obat penenang bisa menimbulkan efek halusinasi yang hebat.” Seunghyun melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melanjutkan ucapannya.

“Yang saya binggungkan adalah, bagaimana bisa zat itu ada dalam darah nyonya Park? Padahal saya tidak pernah sekalipun menambahkan Psilocybin, dalam daftar obat yang di konsumsi nyonya Park.” Seunghyun menatap Sangwon seraya menghembuskan nafasnya pelan. “Saya tidak berani berasumsi lebih lanjut, mungkin hal ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan direktur Park.”

Sangwon menganguk mengerti. “Saya sudah menghubungi direktur dan juga tuan muda Jungsoo, mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Seoul.” Seunghyun tersenyum lalu berjalan ke arah Minjung, di ikuti Sangwon yang berjalan selangkah di belakangnya. Memastikan sekali lagi keadaan Minjung, sebelum berlalu dari ruangan itu bersama tim dokter dan perawat lainnya.

Sangwon menunduk saat Seunghyun melewatinya, selanjutnya laki-laki paruh baya itu menghampiri Chanyeol yang masih di posisinya, berdiri mematung di pinggir ranjang. Tangan laki-laki itu terlihat bergetar, airmata bahkan sudah kembali memenuhi pelupuk mata Chanyeol saat ini.

Perlahan Sangwon mengusap lengan Chanyeol dengan lembut, lalu mendekatkan sofa yang ada tak jauh dari sana. Menuntun Chanyeol untuk duduk di sana, perlahan Sangwon menarik satu tangan Minjung, yang terbebas dari selang infuse, lalu menyatukannya dalam genggaman Chanyeol.

Airmata Chanyeol jatuh begitu saja, rasa rindu bercampur rasa khawatir pada sang ibu, membuat laki-laki itu kembali tak mampu menahan isaknya. Mengeratkan genggaman tangannya, seraya menenggelamkan wajahnya disana. Sangwon yang berdiri di samping Chanyeol, tampak mengerakkan tangannya, mengusap bahu Chanyeol yang bergetar.

“Nyonya akan baik-baik saja tuan muda, percayalah pada ku.” Ucap Sangwon seraya memeluk punggung Chanyeol yang semakin bergetar, sebulir airmata jatuh di pipi Sangwon, menyaksikan luapan kerinduan yang tertahan, antara anak dan ibu karna kejadian kelam di masa lalu.

***

Dari luar ruangan Minjung tampak seorang laki-laki bermata tajam, memperhatikan semuanya sejak tadi. Laki-laki itu tampak tersenyum puas seraya melangkahkan kakinya menjauh, mengerakkan tangannya saat merasakan getaran dari sebuah handphone yang berada di saku celananya.

“Semuanya sudah saya laksanakan, Nyonya Lee Eunjung. Saya akan tiba di bandara sebentar lagi, kita harus bertindak cepat sebelum tuan Park dan tuan muda Jungsoo tiba di Korea. Karna dari yang saya tahu laki-laki tua itu, baru saja menghubungi tuan Park dan tuan muda Jungsoo.”

“Tenanglah, Lee Sungmin! Pesawat ku akan mendarat sebentar lagi dan aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan saudara kembar ku itu,” ucap Eunjung dengan tawa kemenangannya.

Sungmin mempercepat langkahnya, berburu dengan waktu yang kian menipis. Melanjutkan rencananya bersama Eunjung sebentar lagi dan Sungmin benar-benar berharap jika tugasnya ini, akan berakhir hanya sampai di sini.

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

3 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [6/9]”

  1. Jahat banget sih itu sama nyonya minjung awas aja si sungmin, jd nyonya minjung punya sodara kembar? Masih penasaran sm ibu kandung chanyeol jgn2 si eunjung ibu kandung chanyeol. Gara2 sungmin semuanya, ngeganggu kencan chanyeol sm jiyeon aja!

    Suka

  2. Jahat banget sumpah-.-
    Rasanya pengen aku lempar dari menara eiffel–”
    Author jjang wkwk bikin suasananya menegangkan gini, feel nya dapet menurutkuu~
    Moga moga aja bentar lagi konfliknya selesaaii😢

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s