3600 Seconds (Chapter 1)

3600 Seconds

Title: 3600 Seconds (Chapter 1)

Scriptwriter: HaeMyeon21

Cast: EXO’s Suho as Kim Jun Myeon, Super Junior’s Siwon as Choi Siwon, GFriend’s Ye Rin as Jung Ye Rin, A Pink’s Chorong as Park Chorong, Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Support Cast:

BTOB’s Min Hyuk as Min Hyuk, Girls Generation’s Yoo Na as Im Yoo Na, Seventeen’s S.Coups as Choi Seong Cheol, And other cast.

Rating: T

Duration: Chaptered

Genre: AU, Thriller, Mystery, Action, Sad, Romance, Hurt.

Cover Poster by.Kwonbinology ARTWORK

Disclaimer: Cast milik Tuhan, orang tua-nya, juga fans-nya kecuali OC. Plot seluruhnya murni hasil imajinasi author sendiri. Cerita ini hanya fiktif belaka. Don’t Plagiat! Don’t be silent Readers! FF ini pernah di publish di salah satu grup FF di Facebook (KOREAN FANFICTION INDONESIA) dan waatpad pribadi author sendiri (@dyyah_21)

Summary: “One way or another …”

#Chapter 1 – Who are you?#

“Manusia itu lebih menakutkan dari pada hantu,”_Yuju.

=====

“Hey! Berhenti … Berhenti …” teriak pemuda berambut hitam itu  dengan tergesah-gesah yang disambut oleh suara kerisihan dari orang-orang di sekitar ‘Ada apa? Ada apa?’ Pagi itu pasar di Distrik Gwangjin begitu ramai. Orang-orang saling menatap—bingung—melihat dua orang lelaki yang berbeda usia saling kejar-kejaran.

 “Kudapat kau!” seru seorang pemuda seperti mendapatkan hewan hasil buruan yang sedang ia incar.

 “Mawar merah, Baby breath, dan Mawar  putih …”

 BRUKKK

     Pria paruh baya yang mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan topi fedora kusam itu berusaha lari, terbebas dari pemuda yang jatuh tersungkur mengenai hamparan pot dengan berbagai macam bunga yang berwarna-warni.

  “Aishh …” pemuda itu mengeram kesal sementara seorang gadis yang ada di hadapannya memutar bola matanya malas. Matanya membesar, langkahnya bergerak seperti ingin segera menghardiknya di depan banyak orang.

 “Astaga, apa yang kau lakukan? Huh!” pemuda itu bergeming, beranjak lalu berlari tanpa mempedulikan gadis berkucir satu di hadapannya yang sebentar lagi akan berujung pada ledakan.

 “Hey! Jangan lari!” teriak gadis itu nyaring—mengambil sesuatu benda yang bisa ia jadikan peluru—untuk mengenai sasaran.

 “Aku akan membayarnya nanti!”  gadis itu tergesah-gesah mengambil sebuah apel pada seorang Ahjumma yang tengah menjajankan dagangannya.

BUKKK …

 “Argghhh” ringis pemuda itu kesakitan.

 “Jangan lari! Aku akan melaporkanmu pada polisi!!!” gadis itu berteriak dengan penuh penekanan, menghampiri pemuda berambut hitam itu dengan tawanya yang jahat, “Hufft … Lelah sekali,” gadis itu kelelahan, “Kau tidak akan kabur kan?” tanya-nya meyakinkan.

Pemuda itu tak menanggapi, malah ia berbalik bertanya,  “Apa? Ganti rugi?” matanya langsung melotot.

 “Ya, mawar merah 35 ribu won, mawar putih 40 ribu won, pot yang kau pecahkan 50 ribu won dan …” gadis itu berbicara namun pemuda itu tak merespon,  “Hey! Kau ingin kemana?” dengan segera ia mengeluarkan jurus hapkidonya. Menyenggol siku kaki sang pemuda dengan satu kali hentakan.

 “Arghhh …”

 “Jika kau tak membayarnya sekarang juga! Aku akan melaporkanmu pada polisi,” kali ini gadis itu benar-benar tak membiarkannya untuk kabur.

 “Ya, kau sudah melaporkannya kan?

 “Apa maksudmu? Tak ada polisi yang mendengarku di sini.”

 “Aku seorang polisi bodoh!” pemuda itu mengerem kesal, menampilkan kartu identitasnya secara jelas, ‘Kim Jun Myeon?’

 “Apa?!” gadis itu tidak habis pikir. Dalam sekejap, pemuda itu sudah berlari dan lenyap dari hadapannya.

 “Mana dia?”

 “Hey! Kau!!!”

=====

     Jun Myeon menghiraukan kejadian yang tadi—dialaminya—demi menangkap buronan nomor satu di kota Seoul itu. Kedua sudut bibir Jun Myeon melihat partner setianya datang dari arah berlawanan berhasil menyekap satu mangsa untuk hari ini.

 “Seong Cheol-ah, kau berhasil menangkapnya?” matanya berbinar. Menyambar satu pasang borgol dari jaketnya.

 “Iya Hyung,” pemuda berambut coklat keorens-oresan itu tidak menyadari. Pria tua yang berada di sekapannya mengeluarkan santapan licik.  “Sung Cheol-ah, awas …” belati bertubuh mungil pun jatuh mengenai aspal. Seung Cheol mendengus legah lalu tersenyum.

 “Tidak ada alasan! Untuk kau kabur dari kami  pak tua! Maaf!” borgol tersebut sudah terpasang di pergelangan tangannya yang mulai keriput. “Hufft …” dengusnya pelan, mulutnya bergerak menyiapkan kata-kata selanjutnya, “Tuan Ahn, kami dari kepolisian Seoul melaksanakan perintah untuk menangkap anda karena tuduhan penipuan. Anda berhak membela diri dengan didampingi pengacara,” ujar pemuda itu mantap.

 “Hmm …” deheman seseorang terdengar berat. Sorot matanya sangat tajam, diikuti oleh dua rekannya yang sangat berbanding dari pada dirinya.

 “Kerja bagus anak-anak!“ seorang wanita menyahut. Matanya berbinar  tertuju pada dua orang pemuda yang bernaung di bawah dekaman sinar matahari—yang berhasil menyekap musuh—.

 “Drrt … drrt … drrt …” deringan salah satu ponsel membuat semuanya termenung.

 “Yeoboseyo …” pria dengan brewokannya namun tidak akan menghilangkan ketampanannya itu menyahut, saat ia sadar ponselnya telah berbunyi.

 “Ketua Choi ….” ucap nya di ujung telpon.

 “338, arah jam enam,”

 “Gandong?”

 “Nde,” jawab wanita dengan rambut sebahu itu dengan datar.

 “Cepat!!!” pinta ketua Choi yang disetujui oleh semua anggotanya. Sedangkan, Tuan Ahn yang baru saja ditangkap kini segera di bawah ke kantor polisi pusat yang berada di daerah Gangnam.

-oOo-

*Distrik Gandong, Seoul*

      Mereka berlima sampai di TKP, mengedarkan pandangan ke segara pelosok dan berhenti pada sosok Pemuda yang terkapar di atas lantai yang dingin. Salah satu diantara mereka menatapnya dengan mata tajam, dengan seksama memerhatikan lika-liku suasana lingkungan yang ada di rumah ini dengan teliti,

     Pandangannya dimulai dari sebuah rak buku berukuran 1 kali 4 meter, “Usianya 40 tahun. Ia berprofesi sebagai tim pengawas yang bekerja di departemen pendidikan. Ia ahli di bidang matematika dan astronomi. Menyukai sepak bola dan …” deskripsinya berhenti, melangkah pada sebuah ruangan yang terletak di sudut rumah, “Sepertinya ada orang lain yang menemaninya tinggal di sini,” tebak Jun Myeon.

 “Yah! Jun Myeon benar,” suara lembut seorang pria pun tiba-tiba menengah, membuat seluruh anggota tim divisi 3 mendongak, “Ia mempunyai asisten, seorang pria berkepala lima bernama Byun Sang Kyung. Sedangkan korban sendiri bernama Han Jae Hyun dia meninggal karena terserang racun arsenik. Ia meneguknya terlalu banyak hingga menyebabkan nyawanya lenyap. Tim forensik akan memeriksanya lebih lanjut,” pria itu menutup hasil observasinya.

 “Terima kasih, Dokter Lee,” sahut Soo Young. Ia akan terdiam  kagum, ketika dokter tampan itu menjelaskan hasil observasinya. Entahlah …

 “Jun Myeon dan Seong Cheol, periksa kamar korban.”

 “Min Hyuk, cari arsipan catatan dari ponsel korban, dan …”

 “Kau?”

 “Hmm, aku …”

 “Nde, Soo Young-ah kau ikut membantuku. Memeriksa keadaan di sekitar sini.”

=======

 Kamar dengan tempat tidur King Bead itu, terlihat acak-acakan. Dengan sarung tangan plastik yang terpasang rapi, mereka berdua dengan cekatan memeriksa seluruh sudut, bahkan tempat-tempat yang sulit terjangkau di seluruh ruangan ini. Detik kemudian, mata Seung Cheol berbinar seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga …

 “Hyung! Apa kau ingin sesuatu?” tanya Seung Cheol begitu antusias.

 “Apa?”

 “Lihatlah! Aku menemukan banyak lollipop,”  ketika Seung Cheol terlihat bahagia seperti anak kecil. Jun Myeon, mengerjit heran.

 “Tidak. Kau saja,”

 “Ah, baiklah.” Song Cheol mencoba membuka sarung tangannya.

 “Yha! Hati-hati! Kau sedang melakukan observasi, sidik jarimu bisa menempel dimana saja. Dan barang yang kau makan, tak ada yang tahu . Barang itu bisa saja menjadi sebuah bukti.”

 “Ah, iya.” Seong Cheol mengerti. Jun Myeon meninggalkan lemari. Matanya menyirat, melihat sebuah benda terselip di bawah king bead tersebut. Ia berjongkok, berusaha meraih benda itu dengan tangannya. Sebuah kertas berwarna putih, yang menggambarkan sebuah kubus dilengkapi oleh titik sudutnya yang berinisialkan huruf alphabet  H, P, B, R, W, T, D, dan Z dengan panjang kali lebar berjumlah 11, “Setelah ia tua seperti ini, makanannya masih sama, yaitu rumus … ckckck pandai sekali,” gumamnya takjub. Pandangan Jun Myeon beralih dari kertas ke sebuah jam berwarna biru yang terpampang di dinding,  jam itu menunjukkan pukul lima lewat dua puluh lima menit, kurang dari sepuluh detik.

 “17.25.50” beberapa digit angka itu langsung terlontar dari mulutnya. Memorinya berputar sembilan puluh derajat ke belakang. Seperti angin yang membawa segudang debu, satu ingatan berhasil bersarang di otaknya. Mengaitkan, kertas yang hampir ia anggap tak berguna dengan jam rongsokan yang sudah tidak terdengar oleh pemiliknya,  “Bukankah ini …” tangannya melemas—memegang kertas yang begitu ringan dibanding tubuhnya—katanya tak lanjut ia ucapkan.

=====

     Seorang gadis dengan rambut kepang dua tengah berjalan, menyusuri koridor sekolah yang nampak sepi. Ia berjalan diselingi rasa bahagia—atas apa yang baru saja ia terima di ruang guru—namun, alih-alih matanya melebar. Menyiratkan sebuah ketakutan yang mendalam, seseorang tengah lewat di hadapannya seperti sebuah kereta yang berjalan, pelan namun mencekam. Trauma? Phobia? Ia bungkam, dengan cepat ia segera berlari mencari sosok gadis yang sedang ia cari.

 “Ye Rin-ah!” batinnya. Melihat Ye Rin yang tengah duduk manis di antara kursi penonton lapangan sepak bola. Gadis kepang dua itu merasa sedikit legah, meskipun bumbu-bumbu kekhawatiran yang bercampur aduk dengan ketakutan masih menggerogotinya.

 “Ah, Yuju-ah. Kau ada di sini,” sahut seorang gadis yang ber-tag-name Jung Ye Rin itu saat melihat seorang gadis berkepang dua tengah berada di sampingnya. Yuju menarik-narik lengan tangan gadis itu untuk menginisialkannya agar pergi dari sini.

 “Ada apa?”

 “Ada yang ingin aku beritahu,” seorang Son Yuju tak dapat mengeluarkan suara. Ya, Yuju memang terlahir dalam keadaan tuna rungu, tapi tak membuat ia menyerah dalam menjalani hidup. Kalau di lihat dari luar, ia seperti anak-anak sebayanya pada umumnya.

Yuju membawa Ye Rin ke sebuah taman—yang berada di samping sekolah—ia menengadahkan pandangannya sebelum ia berbicara banyak pada Ye Rin.

 “Ada apa?”

 “Orang itu? Orang misterius itu! Ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, topi hitam. Orangnya tinggi, besar, dan Ye Rin-ah! Kau harus berhati-hati,” jelas Yuju, mencoba memberitahukan tentang kejadian yang ia saksikan pada Ye Rin.

 “Yuju-ah apa maksudmu? Mungkin itu hanya halusinasimu saja.”

 “Aku tidak berbohong,” Yuju menginisialkan lagi menggunakan gerak-gerik tangannya yang bergerak lincah.

 “Mungkin itu hanya halusinasimu, tolong jangan membuatku takut.”

 “Aku tidak membuatmu takut. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.” Yuju berusaha meyakinkan. Ye Rin mengerjit heran, akhir-akhir ini Yuju selalu membuatnya seperti itu. Ada makhluk aneh? Manusia misterius? Dan apalagi?

 “Sudahlah, Seonyoung tengah main di lapangan. Aku harus menontonnya.” Ye Rin mengalihkan pembicaraan dan segera beranjak dari bangku taman.

 “Ye Rin-ah, tunggu!”

 “Kumohon, Yuju-ah! Dia tidak ada di sini!” ia mendengus kesal hingga pipi mulusnya menampakkan kemerahannya. Sementara Yuju, ia hanya terdiam  dengan perasaan sedih memerhatikan punggung Ye Rin yang segera lenyap dari pandangannya. Baru kali ini, sahabatnya itu tidak ingin mendengarkan perkataannya dan mencampakkannya begitu saja. Eh, tidak. Ini adalah yang kedua kalinya Ye Rin bersikap seperti itu.

.

.

.

===TBC===

-CATATAN KAKI-

*338: Pembunuhan.

*arah jam 6 berarti arah selatan.

*belati: benda tajam, semacam pisau.

Huah,,,, hayo! Apa ini? Yap! Ini pertama kalinya aku membuat ff dengan genre Thriller dan Mystery seperti ini. Jadi, aku mohon kritik dan sarannya sangat dibutuhkan. Kamsahamnida ^-^

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s