[Drabble-Mix] U(s)ntitled

untitled

by jojujinjin (@sanhaseyo on Twitter)

.

starring Seventeen and You

13 drabble(s) // G // School-Life, Slice of Life, Fluff, Friendship, Romance // these are all prompter-fic, the prompt(s)? here!!!

.

....since 'you and me' became 'us', and 'us' became everything.

***

.

.

.

“Berisik!”

Kamu terlonjak di tempat dudukmu, jelas tidak mengekspektasi pekikan frustasi Seungcheol yang kamu kira menikmati celotehanmu tentang film ‘Captain America: Civil War’. Di sebrangmu, Seungcheol memejamkan mata rapat.

Pensil di genggamannya tinggal menunggu detik untuk ajal.

U-um, maaf….” ujarmu gelagapan. Masih di ambang ketakutan akibat gertakan Seungcheol. “Aku k-kira, kamu tidak masalah aku ngomong terus. H-habis kamu diam….”

Ketika kamu mengangkat kepala, Seungcheol menatapmu. Pensil jatuh menggelinding di lantai.

“Aku suka mendengarkanmu bicara, sungguh,” Seungcheol menghela napas. “Tapi kali ini aku butuh berkonsentrasi penuh, dan aku baru mau mengajakmu nonton film itu nanti malam,” helaan napas lagi. “Dasar spoiler!”

.

.

.

“Aku pinjam pensil, ya?”

Alis Jeonghan menyatu keheranan mendengarmu.

“Tumben? Kamu tidak bawa tempat pensil?”

Kamu mengulas senyum ala kadarnya. “Ketinggalan.”

Jeonghan mendecak, dan kamu pun hanya mampu mengulang perkataanmu. Akhirnya pria itu menyodorkan salah satu pensil mekaniknya.

Nahas, dia menariknya kembali bahkan sebelum kau sempat mengambilnya.

“Tapi kembalikan,”  kata Jeonghan tegas. “Janji?”

Kamu mengangguk pasti. “Janji, janji.”

Kamu nyaris menjambak rambutnya ketika Jeonghan terang-terangan menunjukkan kalau dia meragukan janjimu. “Kalau nggak?”

“Kalau nggak….” kamu berpikir, menggosokkan telunjuk di dagu. “Kalau nggak, aku akan traktir kamu makan malam di Wendy’s. Bagaimana?”

Jeonghan termangu, lekas tersenyum lebar.

“Kalau begitu, jangan dikembalikan.”

.

.

.

“Matematika itu mudah, tahu.”

Kata Jisoo suatu hari ketika kamu uring-uringan di ruang tamu akibat matematika. Jisoo kemudian meletakkan buku sejarahnya, beralih ke buku matematika milikmu.

“Misalkan yang ini. Hmm, 3 log 9 kan sama dengan 2….”

Tatkala Jisoo menjelaskan, kamu justru fokus pada mulutnya yang lihai mengeluarkan kata, atau keningnya yang sesekali berkerut saat tulisanmu tidak terbaca.

“….selesai. Hasilnya itu 0,” Jisoo lantas melirikmu. “Bagaimana?”

Kamu diam.

“3 log 9 kenapa bisa jadi 2, ya?”

Rahang Joshua jatuh begitu saja.

Lho, dasarnya pun kamu tak paham?”

Kepalamu melenggut pelan.

Joshua mengusap wajahnya kasar. “Well, mungkin tidak untuk semua orang.”

.

.

.

“Ulanganmu dapat berapa?”

Tanyamu pada Mingyu.

“Ulangan apa?” Mingyu balas bertanya.

“Yang barusan, ulangan kimia.”

Tiba-tiba matanya melebar. Dan sebelum kamu mengetahuinya, Mingyu meremukkan sebuah kertas di genggaman, menggelengkan kepalanya. “Rahasia.”

Kamu tersenyum miring. “Jelek ya?”

Gak tahu.”

“Ayolah, Kim.”

“Diam kau.”

“Jahat sekali kau ini.”

“Jangan sampai aku mendorongmu keluar jendela.”

“Sejelek apa sih, Mingyu?” kau terkekeh, kemudian mendapatkan ide cemerlang. “Apa—oh! Ssst, ada Sohee!!”

Mingyu langsung menoleh ke belakang, ke arah pintu. “Mana?!”

Lalu kertas ulangan kimianya sudah berada di antara jemarimu.

“Dasar bodoh,” kamu mendengus, membuka kertas ulangannya—untuk mendengus yang kedua kalinya. “30. Memang bodoh.”

.

.

.

Waktunya tidur siang.”

Kamu yang mendengar kalimat itu tersenyum sedih.

Tipikal seorang Wonwoo pada pukul satu tepat, meneleponmu agar tidak melupakan tidur siangmu. Tipikal seorang Wonwoo yang selalu melakukan apa pun tepat waktu.

“Benarkah?” tanyamu, menggeser kardus-kardus yang menghalangi langkahmu. Sisa barang yang baru sampai dari Seoul tadi pagi. “Aku tidak melihat jam dari tadi.”

Iya,” jawab Wonwoo. “Sudah jam satu lewat.”

Kamu menggumam. Kamu sedang apa?”

Aku juga mau tidur siang.”

“Kalau aku hendak makan malam, Wonwoo.”

Hening melanda, sampai akhirnya kau mendengar helaan napas berat Wonwoo.

Aku masih belum terbiasa dengan zona waktu, dan belum terbiasa merindukanmu. Sial.”

.

.

.

“Kamu bisa pakai sandalku.”

Kamu mengangkat kepala, menatap Minghao yang sedang memasang wajah seriusnya.

Barusan, hak sepatu heels-mu lepas. Dan kamu mengaku lelah, sehingga Minghao memutuskan kalian harus istirahat dulu.

“Sudah mulai malam, kita harus kembali. Jadi bagaimana?” tanya Minghao lembut, masih sambil menenteng sepasang sepatu rusakmu.

“Kamu bisa pakai sandalku … atau aku bisa meminjamkan punggungku untukmu.”

Ukuran kaki Minghao kecil, sementara telapak kakimu panjang—jadi kamu menemukan dirimu mengalungkan lengan di leher Minghao tak lama kemudian.

“Terima kasih,” ucapmu di pundak Minghao. Mencium pipinya secepat kilat.

Dan Minghao tak membalasmu, tapi rona merah di pipinya sudah cukup untukmu.

.

.

.

“Beli dua es krimnya.”

“Aku tidak punya uang, Seungkwan.”

Kamu kira setelah berkata seperti itu, Seungkwan akan mentraktirmu. Tapi ia malah menatapmu dengan tatapannya yang menjengkelkan.

“Siapa bilang satunya untukmu?” cibir Seungkwan, dan kamu hanya bisa memalingkan muka menahan malu. “Aku makan dua.”

Menyebalkan, kamu membatin, jemari telanjang bergesekan dengan pasir pantai.

Lalu tiba-tiba—

“Nih,” Seungkwan menyodorkan sebatang es berwarna putih ke hadapanmu. “Nanti ganti, ya.”

Kamu melipat lengan di dada. “Gamau.”

“Serius?”

“Serius.”

“Untukmu, deh. Aku traktir.”

Kamu nyengir, dan segera merebut es krim rasa vanilla tersebut. Menjilatinya sebelum Seungkwan berujar.

“Tapi kerjakan PR biologi dan bahasa Inggrisku, ya.”

.

.

.

“Lututku berdarah.”

Hansol membungkuk, mengamati lutut kirimu yang mengeluarkan cairan merah segar. Bola basket terabaikan di dekat tiang ring.

“Keras kepala sih,” cecar Hansol. Ia lebih khawatir alih-alih kesal, karena kamu sudah jatuh berkali-kali, namun baru kali ini sampai luka. “Sekarang tunggu di sini, aku mau ke minimarket.”

Hansol kembali dengan tiga botol air serta plester.

“Minum,” katanya, memberikanmu sebotol yang sudah terbuka olehnya.

Kamu menatap lamat Hansol yang mengurusi lutut terlukamu.

“Hansol.”

“Iya?”

“Aku boleh main lagi?”

Hansol menilikmu intens, dengan secercah kehangatan yang selalu ada di sudut netranya.

Selalu.

“Boleh.”

Kamu refleks melukis senyum.

“Tapi sambil kugendong, ya.”

.

.

.

“Hatiku tetap kelabu.”

“Kau habis menelan bensin, Chan?” tanyamu, tidak percaya dengan kalimat yang dilontarkan Chan. Pun dengan ekspresi terpuruk Lee Chan yang terlampau kentara dibuat-buat.

“Aku sedang bersedih, apa kau tidak tahu?” Chan menatapmu tajam, menatapmu seolah kaulah teman terburuk yang pernah ia punya. “Apa kau tidak ingin menghibur temanmu yang sedang bersedih ini?”

Dahimu mengerut bingung.

“Kamu kenapa sih?”

“Aku sedih.”

“Karena?”

“Ibuku tidak memberikanku sesuatu yang aku inginkan.”

Dengan itu, kau menangkap maksud perilaku melankolis Chan.

“Oh astaga. Tidak, tidak, Chan—“

“Belikan aku—“

Lee Chan.”

“Belikan aku standing figure Iron Man—“

God, save me!”

.

.

.

“Di mana kamu sekarang?”

Kamu tidak repot-repot menyembunyikan rasa khawatirmu, mencari-cari jaket sembari menahan ponsel antara pundak dan pipi.

Taman—aw! Astaga, sepertinya tulang kakiku patah. Entahlah; yang pasti, aku kesakitan—“

“Diamlah, Seokmin,” potongmu. “Jangan bergerak-gerak.”

Satu menit lalu, Seokmin meneleponmu. Mengerang bak ibu melahirkan. Berkata barusan dirinya terkena insiden tabrak lari dan tiada siapa pun di sekitarnya.

Aku mau mati, dan kau tetap saja galak?

Kau mengembuskan napas panjang, tangan menyentuh knop pintu utama. “Iya, Sayang. Tunggu—“

Pintu terbuka, memunculkan Seokmin di balik gerbang. Terpingkal setengah mati. “S-sayang? Tumben?”

Seokmin tetap tertawa meski kau sudah membanting pintu.

.

.

.

“Rasanya sakit, ya?”

Jun mengangkat alisnya, menatapmu yang masih serius menulis catatan bingung.

Sudah hampir satu jam kalian berdua berkutat dengan buku di perpustakaan yang sepi, mengantisipasi penuh ulangan akhir yang tinggal seminggu lagi.

“Apa yang sakit?”

Menyadari kau tidak berniat untuk memperjelas pertanyaanmu, Jun kembali tenggelam ke bacaannya.

Kau membuang pandang ke belakang Jun, di mana mantannya tengah berpacaran dengan kekasih barunya.

“Aku tahu.”

Kaget, kakimu pun terantuk meja. Jun terkekeh kecil.

“Ada mantanku di belakang, ya?” lanjutnya berbisik.

Kamu mengangguk seadanya.

“Ah, tak apa,” ujar Jun, melarikan jemari di antara surainya. “Toh aku juga sedang berbahagia di sini.”

.

.

.

“Makan saja.”

Kalimat itu sampai di telingamu bersamaan dengan roti dan susu diletakkan di depan wajahmu.

Si pelaku, Lee Jihoon, masih berdiri di samping mejamu meski kau tak mengangkat kepala demi berterimakasih kepadanya.

Kamu memutar kepalamu, membelakanginya.

“Aku bawa bekal.”

Dapat kau dengar embusan napas putus asa Jihoon mengudara di kelas yang hanya berisi kalian berdua.

“Kenapa sih kamu selalu bohong?”

“Ada masalah dengan itu?”

“Aku tidak suka.”

“Kalau begitu—“

“Kalau begitu jauhi kamu, begitu? Jangan dekati kamu lagi?” Jihoon mendecak, dan kali ini kamu menatapnya.

“Kenapa—“

“Kalau aku nggak suka denganmu, dari dulu juga aku sudah berhenti.”

.

.

.

“Tak ada mimpi!”

Hah?”

Siang itu Soonyoung mendatangi mejamu di kantin seperti peluru yang menyambangi targetnya. Kamu menyuruhnya untuk mengambil napas, sebelum bertanya.

“Tadi, apa? Tak ada apa?”

“Tak ada mimpi!” Soonyoung menjambak rambutnya. “Tadi malam aku memimpikanmu, dan terakhir aku bertanya apakah kau mau menjadi kekasihku, lalu aku terbangun.”

Bagaimana caranya agar tidak terlihat bodoh?

Well, kamu lupa.

“A-apa….”

“Dari jam pertama sampai pulang sekolah aku pergi ke UKS supaya aku bisa tidur, tapi aku sama sekali tidak bermimpi,” Soonyoung menarik tanganmu yang tengah menggenggam botol minum. “Jadi kupikir lebih baik bertanya langsung kepadamu—kau mau jadi pacarku, tidak?”

.

.

.

Fin.

a/n: 13 CURUTKU DATANG KE NEGRI KITA TERCINTA HOW TO NOT EMO

7 thoughts on “[Drabble-Mix] U(s)ntitled”

  1. Omoooo laaaayyyssss sini kucium dulu kamu X”” tau aja lg butuh hiburan layysss huhuhu kucium lays kucium X* lays naiseu as always btw yg bgian coups ada typo kh itu yg bgian
    Ketika kamu mengangkat kepalapan, << kepalapan mngalihkan duniaku lays masa aku bcanya kapalan-__-
    Well well keep writing lays sayang X"D kpn2 kita kolab svt ucul kali ya lays ((siapa lu dit siapa??)) ❤

    Suka

  2. Nisa… ((gpp kan ya panggilnya nisa/? Apa lais/?)) kenapa akhir-akhir ini fict-mu sering bikin baper sih. Kan jadi berasa kayak orang macam apa ini malem-malem baca sambil gigit jari ((iya ini baper banget. Serius!))

    Paling suka bagian seokmin!((bias pula)) ((lah gapenting wkwk)). Dia mah gitu ya nyebelin bohong tapi bodor. Apalagi pas bagian ‘sayang? Tumben’ ini tuh minta dilemparin sepatu hak tinggi.

    ditunggu fict seventeen lainnya apalagi seokmin!💝💝💝 ((lah nyuruh-nyuruh/?))))
    Pokoknya nice!💝

    Suka

  3. Lho lho, senyum senyum sendiri. Hansol kayak kakak senior di ekskul basket yang perhatian gitu ya. Lah baperrr. ((btw baper svt mau ke indo juga pfft))

    p.s: Long time no see, lais. Inget aku ga? c’:

    Suka

  4. Eum
    gimana yha
    mau kesel gabisa
    mau bahagia juga gabisa

    Tapi Kent wi tolk abt JUN? JUN? DIA BACA BUKU TERUS NGE GOMBAL SAMBIL NGE-SWAH-IN RAMBUT?! APA-APAAN?!

    CUKUP:)

    CUKUP:)

    CUKUP:)

    Tunggu besok lais pesananmu tiba. Kau, aku, dan mas aiyem akan berkumpul menjadi satu di lapangan suci hamalakewa. Salam, wahai sang penghancur malam yang gerah ini
    Zyan

    Suka

  5. ngubekin ff seventeen dan nemu ini. eyo wazap mas seokmin. semuanya lucu masa, ada nyebelinnya, ada aw-awnya. kupaling suka yang seokmin (well dia emg bias juga sih), soalnya berasa keselin bgt nelpon-nelpon bilang di tabrak lari.

    well, nice fic kak ^^ keep writing, apalagi cast svt ya /?

    Suka

  6. CIUM AKU LAIS! CIUM!! CIUM CEPET!!!!
    Oke, aku suka banget bagian seungcheol, wonwoo, soonyoung, jun juga, jihoon juga, hansol apalagi, semua deh.
    ini bagus banget pokoknya…. AAAKKKK /peluk + cium/

    Dan, kok aku suka banget ya sama kalimat ‘how to not emo’ ?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s