[Vignette] of A Nice Lad

[FFPOST] Of A Nice Lad

elfxotic12152  present

a  film with Son Hyunwoo a.k.a Shownu of Monsta X  OC

Romance, failed!Fluff, AU |  Vignette (1.030Ws) | G

.

Dasar semester baru sialan.

Hatimu terus saja mengoceh sejak kakimu menapak keramik lantai di depan Ruang Tata Usaha. Lima kilo tumpukan buku yang berada dalam pelukanmu sekarang bukan suatu penghambat yang besar bagi otakmu untuk bisa terus memikirkan kata-kata ocehan yang kauharap bisa menggambarkan rasa jengkelmu kini.

Gedung kampus terasa asing bagimu. Meskipun kau yang memilih, dan kau yang berhasil memasuki fakultas kedokteran di kampus ini, tetap saja tempat ini masih asing. Belum genap lima hari penuh kau jalani di gedung ini. Tapi, kau tidak bisa menyangkal bahwa cat, keramik, dan pilar-pilarnya membuatmu menikmati masa tersesatmu. Walaupun lima kilo buku tadi memaksa tanganmu memprotes keras.

Di depan suatu ruangan yang kau tidak tahu, kau meletakkan beban dari pelukanmu ke atas keramik dingin. Tanganmu kau hentakkan, berharap rasa pegalnya pergi bersama tiap-tiap kali persendianmu berbunyi, ‘krek‘. Tanganmu kini berpindah ke pinggang, lalu dengan penuh semangat dan rasa sakit, kau meregangkan punggung. Setelah tiga tarikan napas yang dalam, kau memandang ke balik jendela, mendapati dari posisimu sekarang, satu komplek kampus bisa terlihat jelas. Diam-diam kau menyukai yang kaulihat.

Dengan sedikit tergesa, kau merogoh saku celanamu, baru teringat sekarang bahwa sebelumnya kau sudah dibekali peta gedung oleh petugas di Ruang Administrasi. Setelah mencermati peta itu dengan seksama, kau mengangkat kepalamu untuk menyamakan apa yang kaulihat sekarang dengan apa yang sebelumnya kaulihat di peta.

Oh, pasti tangga yang itu.

Tepat di depanmu, ada lorong yang berakhir dengan tangga menuju ke atas, juga ke bawah. Kau cukup yakin untuk pulang kau harus turun, jadi kau mengambil tangga ke bawah. Tapi, kau tidak cukup yakin tubuhmu bisa menahan beban seberat itu. Bagaimanapun juga, tetap saja kau turuni undakan anak tangga yang akan mengantarmu ke lantai dasar gedung.

Jarak pandangmu tidak tertutup dengan tumpukan buku di pelukanmu, tapi jelas buku-buku itu menyita lebih dari setengah atensimu. Sebagian fokusmu untuk menyeimbangkan diri agar setumpuk buku itu tetap diam di posisinya masing-masing, dan sebagian lagi untuk meraba bentuk anak tangga. Bentuk tangga di sini agak kurang familiar untuk langkah-langkahmu yang sudah terbiasa dengan tangga kecil-kecil di gedung SMA-mu dulu.

Kau tidak terantuk tangga, memang. Tapi tepat dari belokan di akhir tangga, ada dua laki-laki dengan masker steril sedang berkejar-kejaran. Dengan segala kecerobohan mereka, buku-bukumu berjatuhan, pasrah dengan tarikan gravitasi. Bukan hanya buku-buku malang itu, tapi juga tasmu dan segala isinya yang berhamburan keluar, akibat kebiasaanmu lupa menutup ritsletingnya.

“Wow, wow,” laki-laki pertama, yang berambut dan bermata pucat, berkata dengan terkejut. “Maaf, ya. Sini biar kubantu,” tawar laki-laki itu dengan aksen yang aneh. Laki-laki kedua juga tidak mau kalah, ia langsung mengambil salah satu buku yang ada di dekat kakinya, dan menumpuknya dengan buku-buku yang lain.

“Mahasiswa baru, ya?” si Albino bertanya dengan pertanyaan yang jelas sekali untuk basa-basi. “Namamu siapa?” tanyanya disertai lirikan genit dari mata terangnya. Tentu saja kau tidak menjawab. Mungkin saja kau mahasiswa baru, tapi kau bukan gadis polos untuk permainan semacam ini.

“Dasar genit,” laki-laki kedua, yang baru saja kausadari memiliki tahi lalat di dekat sudut mata kanannya, menginterupsi. “Jangan pedulikan dia. Dia memang playboy begitu,” dia menjelaskan tanpa diminta.

Playboy katamu? Memangnya aku serendah itu?”

“Ya, memang begitu, ‘kan?” jawabnya tak acuh. “Sudah, kalau kamu diganggu oleh siapapun, terutama si brengsek ini, kamu cerita saja ke oppa, biar oppa yang urus,” si Tahi Lalat kembali bicara padamu dengan nada yang tidak lebih baik.

Bingung harus menjawab apa, kau lebih memilih untuk diam. Sampai—

“Oy!”

—suara dari belakang punggung kedua laki-laki itu membuat kalian bertiga mendongak. Kedua laki-laki itu kemudian bangkit, dan membungkuk 90 derajat ke sumber suara tadi.

“Selamat siang, hyung-nim!” mereka menyapa sumber suara dengan kesopanan yang tergambar jelas, hampir seperti mereka takut, dan mengagumi sumber suara dalam porsi yang seimbang. Kau masih berkutat dengan bukumu yang tidak mau diam meski sudah ditumpuk dengan hati-hati. Dasar cover licin sialan, makimu dalam hati.

“Pergi kalian. Masih semester tiga sudah berani menggoda mahasiswa baru begini. Sana,” sumber suara itu mengusir dua laki-laki yang memang kauharap pergi dari tadi. Dalam hati, kau berterima kasih berkali-kali untuk sumber suara itu, meski hingga sekarang kau belum sempat melihat sosoknya.

“Siap, hyung-nim,” mereka menjawab dengan patuh, kemudian berlalu melewati dirimu. Setelah mereka hilang, si penyelamatmu itu masih ada di sana, berdiri diam saja tanpa bergerak ataupun bicara. Setelah melihat dirimu perlu waktu yang sangat banyak untuk bisa mengatur buku-buku dan peralatan tulis yang berserakan, dia memutuskan bahwa kau perlu bantuan lagi.

Tanpa alasan yang masuk akal, jantungmu berdegup seperti kuda liar di dalam rongga-rongga rusukmu saat dia berlutut. Celana hitamnya membalut kakinya dengan sempurna, tapi tidak menutupi fakta bahwa di baliknya ada otot-otot sempurna yang hanya bisa dibentuk karena olahraga rutin. Tangannya menjulur untuk meraih salah satu buku yang sudah entah berapa kali meluncur dari pelukanmu, dan kau terkejut. Kulitnya coklat sekali, pikirmu.

“Nih,” ia menyerahkan bukumu. “Lain kali hati-hati, ya. Laki-laki semacam tadi bukan hanya dua saja.”

Kau mengangkat pandang selagi berdiri untuk melihat yang sedang bicara denganmu. Mata sipit itu menatapmu dalam, tidak gagal dalam usahanya untuk menekankan bahwa hal yang ia utarakan sangat penting. Kemudian, ia tersenyum. Dan semuanya berubah.

Matanya hilang ke dalam lengkungan miring yang anehnya sangat menggemaskan. Dengan nada bersahabat yang canggung, ia menjulurkan tangannya. “Son Hyunwoo, semester lima,” ia memperkenalkan diri, tapi menarik tangannya lagi sambil bergumam, “Oh, iya, tidak bisa jabat tangan.”

“Kalau ada yang mengganggu, laporkan saja padaku. Aku bagian olahraga, sih, tapi nanti bisa kulaporkan ke bagian yang mengurus anak bandel seperti itu.”

“Iya, terima kasih,” kau bergumam pelan, hingga kau sendiri ragu suaramu bahkan keluar. Kemudian, kau mulai melangkah, menjauhi Son Hyunwoo itu. Buku-buku di pelukanmu masih berbobot lima kilo, tapi kupu-kupu kecil dalam perutmu rasanya memberi sedikit bantuan tenaga.

Malamnya, handphone-mu berbunyi. Nomor yang mengirim pesan masih asing.

Unknown: Uh, ini yang tadi siang jatuh di tangga bukan? Ini Hyunwoo

Unknown: Jangan salah sangka dulu, aku dapat nomormu dari pulpenmu, tadi ada yang tertinggal

Unknown: Untung pulpenmu punya alamat (?)

Oh, ini senior yang baik tadi?

Me: Oh? Ada yang tertinggal?

Senior Hyunwoo: Iya, besok kukembalikan sebelum tur di gedung tiga

Me: Terima kasih yaa

Senior Hyunwoo: Sama-sama

Senior Hyunwoo: Ngomong-ngomong besok pakai baju yang mencolok ya

Me: Buat apa? Itu persyaratan acara orientasi besok?

Senior Hyunwoo: Bukan sih…

Senior Hyunwoo: Kalau bajumu mencolok jadi gampang mengawasinya…

FIN.

Fyuh selesai (masih geli)(si bapak berubah jadi anak kuliahan) Tapi BISA GA SI KITA NGOMONGIN BETAPA SI BAPAK MIRIP BANGET SAMA MINGUK? KOK AKU SUKA INI?!

TBH aku kesulitan milih cover yg kupake sama yg ini?! Lucu semuanya ya?!

Harus pergi—ppyong!

Zyan

8 thoughts on “[Vignette] of A Nice Lad”

  1. Zyaan halo ha ha ha apa ini si pemalu jd senior ala ala gentleman gitu yahahaha malah bikin junior kecantol dah siap2 distalkerin gadis2 kepo(?) eniwei suka zyan lucu mskipun di awal rada bingung kirain yg si tahi lalat itu shownu lah rupanya bukan ya yawdahlah keep it up zyaaan~😀

    Suka

    1. Senior ala gentleman gitu mah siapa yang ga mau yaaa hmm jangankan juniornya, ada kali itu dosen yg ngebet juga sama dia, duh idaman;;;( Lah, aku ngasal aja si itu punya tahi lalat gara2 seoo inguk juga punya, kukira bakal ngasi klu kalo itu justru bukan si bapak…

      Makasih udah mampir ya kaaa~
      Zyan

      Suka

  2. Aku enggak bisa ngebayangin kalau Shownu ada di jurusan kedokteran hihihi. Tapi disini dia lucu banget, terus Author juga jelasin gimana cara dia senyum hihihi. Ah suka deh sama cerita Author.

    Tetap semangat untuk karya selanjutnya!!!

    Suka

  3. AHHH SUKAAA ;;_;;
    suka banget sama fic2 author terutama yang cast nya monsta x dan nge fluff gitu HAHA. dan yang ini shownu nya unyu banget!! masa marahin orang yg modus tapi sendirinya modus? SUKA BANGET POKOKNYA. diperbanyak ya thor fic fluff kayak gini;-; , semangat!

    Suka

    1. Gapapa lah si bapak ngegombal gitu siapa sih yang gasuka digombalin sama bapa bapa kaya gini;;( Cek ff yang baru deh yang house husband itu fluff juga;;) #promosi #ew #apasi

      Makasih yaaaa
      Zyan

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s