[Vignette] Ditto

[FFPOST] Ditto

(photo © i’m yours)

elfxotic12152  present

a film with Lim Changkyun a.k.a I.M of Monsta X

Romance, failed!Fluff, AU | Vignette (1.240Ws) | G

.

Kau berbaring lemas di atas futon-mu, yang terasa amat sempit—paling sempit di antara waktu tidurmu yang lainnya. Napasmu sesak dan panas, terasa seperti siksaan untuk paru-parumu. Matamu berat, dan segalanya terlihat kabur juga remang-remang. Padahal kalau kaulihat di jam kecil yang tergantung di dinding di hadapanmu, sekarang sudah pukul delapan. Satu jam lagi sebelum keberangkatan teman-temanmu.

Sudah sejak sebulan yang lalu kau, Joon, Jooheon, Changkyun, dan beberapa orang lainnya merencanakan liburan ini. Rencananya kalian akan berkeliling Jeollanam-do. Tapi sialnya sudah dua malam ini kau sakit karena kerja keras untuk uang tambahan, dibantu juga hujan salju waktu malamnya. Sudah mana, orang tuamu pergi ke luar negeri untuk menghadiri pesta pernikahan orang yang sebetulnya tidak mereka kenal baik.

Kauraba bidang kosong di sampingmu, berusaha menemukan handphone yang semalam kauletakkan di sana. Begitu benda tipis itu sudah berada dalam genggammu, langsung kau buka aplikasi media sosial. Joon harus tahu bahwa kau sakit. Siapa tahu mereka akan membatalkan perjalanan ini kalau kau tidak muncul-muncul.

Nada sambung terdengar tiga kali, lalu, “Halo?

“Hai, Joon, ini aku,” ujarmu cepat. Mengeluarkan satu kalimat dalam dua napas malah akan membuatmu sesak karena asma.

Oh? Kenapa? Kau sudah siap, ‘kan?

“Aku sudah siap, sih, tapi aku tidak bisa pergi.”

Lho? Bukannya orang tuamu sudah bilang boleh?

“Iya, tapi aku sakit.”

Telepon berakhir dengan Joon mendoakanku agar cepat sembuh. Dia juga menyesal bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan. Joon menutup sambungan telepon dengan agak enggan. Katanya dia khawatir denganmu. Masa’ begini saja dikhawatirkan? begitu pikirmu. Kemudian, kau mulai terlelap lagi ke dalam mimpi yang menyiksa, dimana Changkyun sedang asyik bermain di pantai dengan teman-teman yang memakai bikini. Dalam mimpimu, musim panas sedang berlangsung. Di pantai yang bercuaca bagus, Changkyun berdiri di antara kau yang bersembunyi di dalam futon dan manusia-manusia bikini, dan menatapmu menyesal.

Siapa suruh tidak ikut,” begitu katanya.

Kemauanmu atau bukan, kau terbangun saat shoji utama digeser dengan ceroboh. Ada sekelumit rasa senang karena mimpi itu selesai, tapi kemudian kau berubah panik. Siapa yang masuk? Mama, Papa, ‘kan, sedang di Jepang.

Langkah kaki yang lembut mendekat ke kamarmu. Saat sudah cukup dekat, siluet yang terpatri di shoji kamarmu menggambarkan orang yang membawa tas besar di sebelah pundaknya. Kemudian orang itu tanpa ragu menggeser shoji.

Gelap, jadi kau tidak bisa melihat. Orang itu juga tidak bisa melihat, jadi dia menekan saklar di dinding dekat shoji.

Lho?

“Biar kutemani.”

Changkyun—orang itu Changkyun—meletakkan tasnya asal dekat bagian bawah futon-mu. Dia kemudian duduk bersila dekat meja rendah di sebelah kirimu. Dia bersila menghadap meja, seakan dia sedang menggeluti sesuatu. Tapi kau tahu dia tidak menggeluti sesuatu, dan memang tidak. Belum sampai tiga menit dari dia mulai duduk, dia memutar pantatnya untuk menghadap ke arahmu.

“Kenapa kamu pakai sakit segala, sih?”

Changkyun mengeluarkan pertanyaan retoris dengan sikap yang kelewat serius. Sikunya bertumpu di lututnya, tangannya menggenggam satu sama lain. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahmu, ala penanya dalam interogasi penting. Rautnya aneh—ada rasa khawatir, tapi juga rasa menyesal karena sudah datang ke sini.

“Lupakan,” katanya sambil menatap jam dinding. Aku bahkan tidak berniat menjawab, umpatmu.

“Aku lapar,” tuntutmu kemudian. Changkyun menoleh cepat dengan mata berbinar. “Aku juga,” ia menjawab dengan senyum aneh, “Aku masak, ya?”

Ada sebuah firasat negatif yang mendorongmu untuk menolak tawarannya, tapi rasanya tidak akan lebih baik kalau dia diam saja di sini, melongo seperti orang bodoh. Jadi, setelah menatapnya lamat-lamat, dan menghembuskan napas dalam-dalam, kau mengangguk berat. Changkyun bahkan tidak repot-repot berterima kasih, atau apa. Anak itu langsung bangkit dengan antusiasme milik Goku.

Setengah jam kemudian kauhabiskan di dalam kamar, berbaring, dan hanya menatap langit-langit. Itu, dan mengkhawatirkan apa yang sebenarnya terjadi di dapur ibumu. Bunyi besi saling beradu yang paling sering terdengar. Suara minyak meletup-letup adalah yang kedua. Tapi yang paling mengerikan adalah waktu membayangkan sumber bau-bau aneh yang mulai berdatangan.

Kau menutup mata, mulai masa bodoh dengan apa yang Changkyun lakukan di luar sana. Tapi kemudian, shoji digeser terbuka, dan kau melihat Changkyun datang dengan panci berisi. Ia tersenyum lucu sebelum masuk dan menutup shoji. Panci itu diletakkan di atas meja rendah, dengan alas majalah mingguan yang belum kau baca hingga tuntas. Biarlah, pikirmu malas.

Changkyun membuka tutup panci itu, dan uap berhamburan keluar. Bersamaan dengan uap itu, aroma yang terlalu familiar mengisi udara di kamar ini. Sepasang sumpit kayu sudah siap di tanganmu, tapi begitu mengenal apa yang ada di dalam panci itu, kau menatap Changkyun tidak percaya.

“Aku sakit, kamu malah masak ramyeon? Ramyeon?”

Changkyun tidak mendengarkan. Dia justru sudah sibuk dengan sejumput ramyeon di ujung sumpit kayunya. Dengan kesal, kau meletakkan sumpitmu ke atas meja, dan kembali ke futon panasmu. Matamu terpejam jadi kau tidak bisa melihat Changkyun melihatmu dengan gusar. Baru satu suapan, lalu dia ikut meletakkan sumpitnya.

“Oh,” serunya, “Tadi aku beli makan.”

Mau tak mau, matamu terbuka, hanya untuk melihat Changkyun sedang merangkak menuju tasnya. Di bawah kendali tangannya, tasnya terbuka lebar-lebar, dan isinya berhamburan keluar. Handuk, kupluk, sweater, dan macam-macam benda penting dimuntahkan tas itu. Tapi tidak ada makanan.

“Mana, ya?” Changkyun bergumam untuk dirinya sendiri, sambil membungkukkan punggung dengan lesu. Tahu-tahu, dia meraba-raba perutnya sendiri.

“Oh? Ini dia,” ia merogoh saku hoodie-nya, dan mengeluarkan banyak hal dari dalam situ. Dengan senyum, ia merangkak ke arahmu, dan menyodorkan benda-benda itu.

“Nih, aku tadi beli di minimart. Ternyata tercampur hot pack, jadi masih hangat. Mungkin.”

Di telapak tangannya ada dua kimbap segitiga, dan sebuah hot pack sedang. Kau mengambil salah satunya, dan membenarkan bahwa hot pack-nya menghangatkan kedua kimbap segitiga itu. Kau merobek plastik bungkusan salah satunya, dan menggigit besar-besar. Changkyun membiarkanmu makan, dan kembali ke ramyeon-nya.

Begitu kimbap kedua sudah ludes, Changkyun menyeka mulutnya dengan lengan hoodie, berkata, “Sebentar,” kemudian dia berlari keluar menuju dapur. Tidak lama ia sudah kembali, dengan cerek penuh air, dan mangkuk kecil.

“Tadi aku beli sup miso instan,” jelasnya saat mengambil posisi duduk bersila di dekatmu. Satu deret bungkusan perak kecil ia tarik dari tumpukan benda yang tadi sudah ia acak-acak. Salah satunya ia pisahkan dari rombongannya, kemudian ia robek, dan isinya dituangkan ke dalam mangkuk bersama dengan air panas dari dalam cerek.

Entah sudah berapa lama kalian makan, tapi setelah sama-sama merasa kenyang, Changkyun merapikan semuanya. Peralatan makan ia taruh di atas meja dengan rapi, dan ia mengosongkan spasi di samping futon-mu. Setelah mengelap spasi di sampingmu, ia berbaring, dan mengerang pelan.

“Aku lelah,” cetusnya. Tangannya ia gerakkan untuk digunakan sebagai alas kepalanya.

“Aku juga.”

“Aku ingin bermain, tapi malas,” tangannya berpindah, menjadi menggenggam satu sama lain di dalam saku hoodie-nya.

“Aku juga.”

“Aku ingin tidur, tapi tidak bisa,” tangannya ia keluarkan, dan di posisikan di sisi tubuhnya.

“Aku juga.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi sekali lagi mengubah posisinya. Ia berbalik menghadap ke arahmu. Kaki ditekuk di dekat dada, dan di peluk dengan tangan kirinya, sementara yang kanan dijadikan bantalan. Ketika kau menoleh ke arahnya, tatapannya terasa aneh.

“Aku…” kalimatnya tergantung di udara, kemudian, “Tidak jadi, deh.” Dan Changkyun tersenyum lucu lagi dengan mata terpejam.

“Aku juga.”

“Hah?” matanya terbuka dan menatap bingung. “Kamu juga apa?”

“Ya, itu tadi. Yang mau kamu bilang apa?”

“Aku, ‘kan, bilang tidak jadi.”

Matamu terpejam. “Ya, pokoknya yang mau kamu bilang itu, aku juga.”

“Kamu mau main air?”

Oh, main air? “Iya.”

Hening. Lalu kau mendengar Changkyun menarik napas. “Berarti kalau aku bilang aku suka kamu, kamu juga, dong?”

Aku tidak mau jawab, pikirmu. Pikir saja sendiri, lalu kau merapatkan selimutmu sampai sebatas pucuk kepala.

“Dasar wanita jahat,” Changkyun mengumpat.

“Kalau bilang dari dulu, ‘kan, kita bisa saja lebih maju dari Jooheon sekarang.”

FIN.

Buat yang gatau shoji, silakan cek di sini. Aku tau ini aneh tapi aku suka banget bayangan ayem membaur sama hal2 jepang cem duet dia sama juhon di kcon japan bhai

Pergi dulu—ppyong!

Zyan

3 thoughts on “[Vignette] Ditto”

    1. ok boonk gw kemari lagi HAHAHAHAHAHAHAHHAAHNJ*NGDYGRYGERY ingin berkata kasar aku tuh zyan kamu paham ga?????? maksudnya apa lagi sakit malah dibikinin mi mz changkyun?????????????????? Qm mau qhu mateq???

      tapi

      terlepas

      dari

      kebego-an

      dia

      ya

      “Berarti kalau aku bilang aku suka kamu, kamu juga, dong?”

      YA IYA LAH GIMANA MAKE NANYA. HAELAH KESEL BANGET GUE ZYAN TANGGUNG JAWAB W LAGI SAKIDH NIE BUTUH QAWAND-TAPI-MESRA CEM AYEM JUGA. HHHHHHHHHHH

      ~~sebelum semuanya terbakar di sini, lebih bae jojujinjin out~~

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s