[Oneshot] Views

movie_views

a KPop fanfiction by Liana D. S. 

EXO Lay (Zhang Yixing) x f(x) Krystal (Jung Soojung)

Romance, Surrealism, Hurt/Comfort, Oneshot, Teen and Up

Poster by Jul aka Zulaipatnam. Inspired by a a surrealistic photo by Logan Zillmer, embedded inside.

.

“Ketika salju turun, akankah hatiku yang terluka tertutup putih?” (EXO – The First Snow)

***

Di atas dataran beku ini, sepasang kaki menanam jejak-jejak berkesinambungan membentuk jalur yang mudah diikuti. Beberapa kali angin merusakkan bentuk si jejak. Kelemahan kaki pengukirnya pun menyebabkan jejak tersebut tak mewujud jelas. Si empunya kaki tersengal-sengal, patahan napasnya menjelma menjadi segumpal kabut yang lenyap nyaris seketika. Tertatih-tatih hingga akhirnya jatuh, pemuda itu berusaha untuk bangkit lagi, hendak menjerit tapi hanya kata-kata lirih yang lolos dari bibir gemetarnya.

“Jung Soojung … beraninya kau memerangkapku di sini …. Keluarkan aku sekarang juga ….”

Namun, pinta itu tak terkabul. Alih-alih memunculkan gadis yang dipanggilnya di hadapan, si pemuda malah mendapati dua lengan ramping—yang permukaannya retak seperti barang porselen tak terawat—merangkulnya dari belakang. Dingin menusuk, menyiksa, bukan sebuah pelukan yang menyenangkan. Sekali lagi si pemuda merintih, meringis kesakitan, dan perempuan pirang yang tengah menyandarkan kepala di punggungnya terkekeh.

“Buat apa melepaskanmu? Toh aku masih mencintaimu, maka kau akan terus berada di sini. Di hatiku, Zhang Yixing.”

Eratnya pelukan ini membuat kristal-kristal es dari tubuh dingin Soojung, si gadis pirang, meresap hingga memasuki pembuluh darah Yixing, pria yang tengah ia sakiti. Yixing mengerang; badannya serasa dibekukan dari dalam. Susah payah digapainya lengan Soojung untuk menyingkirkan lengan tersebut, tetapi ketika disentuh, retakan di permukaan lengan itu makin besar, sehingga Yixing urung melaksanakan niatnya semula.

“Lepaskan,” desisnya, “Kau mencintaiku, tetapi kau tidak tahu betapa menyakitkannya terjebak dalam jiwa gersangmu ini, bukan?”

Perlahan, Soojung membebaskan Yixing dari dekapnya, mengizinkan Yixing berbalik untuk mencoba menebak apa yang ada di balik rautnya. Kurva tipis di bibir Soojung yang pecah-pecah memuat ketidakpedulian berhias secerat rasa puas—dan hal ini didukung oleh pernyataannya kemudian.

“Selama aku mencinta, tak pernah ada orang yang paham laraku, lalu mengapa aku harus paham laramu? Kalaupun kau sampai rusak sepertiku, apa itu urusanku?”

Usai mengucapkan itu, Soojung menghilang ke balik tirai-tirai salju. Suaranya yang halus tanpa perasaan mengantarkan salam perpisahan.

“Kau tak menolak untuk kucintai, maka terimalah akibatnya, Yixing.”

***

Sebelum menjejaki hati gadisnya, Yixing pikir Soojung akan kembali ‘hidup’ bila mendapatkan cinta yang selayaknya, bukan sebatas cinta karena rasa ingin punya, melainkan juga rasa ingin melindungi. Tak disangka, sosok yang ia kasihi malah berubah posesif, mengurungnya dalam kalbu sekarat bersuhu terlampau rendah ini dan enggan mengeluarkannya, bahkan jika itu mengancam nyawanya. Alhasil, Yixing mesti berupaya mencari jalan keluar sendiri, tetapi ke mana pun melangkah, kelambu-kelambu putih melayang di udara dan menutup pandangan; semakin disibak, semakin tersesatlah ia. Selain itu, pagi, siang, dan malam sama saja di hati Soojung sebab tidak ada mentari, maka tidak ada kehangatan, pun tempat berdiang.

Di hari kesekian Yixing terperangkap, ia sudah pasrah akan hidupnya.

Angin berhembus. Tirai-tirai salju seakan menampar wajah Yixing yang tengah bersandar lesu di bawah pokok beranting gundul. Residu napasnya terembus satu-satu, putih, bergabung dengan udara yang terus memberat. Meski tahu akan sangat berbahaya baginya jika tertidur di tempat seperti ini, Yixing telah kehilangan daya, jadi ia biarkan kelopak matanya menutup lambat—yang ujungnya ia buka lagi karena bayang-bayang Soojung selalu muncul tiap ia memejam. Bayang-bayang itu jelita dan bahagia, padahal kenyataannya, Soojung hancur dan muram senantiasa.

Mengira seluruh sudut jiwanya sudah disesaki kebencian pada si gadis, nyatanya Yixing masih belum kehilangan harapan untuk mengembalikan senyum Soojung. Sebuah tujuan sederhana yang membawanya mendekati sang dara rupanya masih hidup hingga kini, di tengah cengkeraman musim dingin abadi. Tangan Yixing terulur, menyentuh tirai salju yang terdekat dengannya, dan menyibaknya ke samping.

Andai aku bisa meraih diri Soojung yang tersembunyi di balik sekian banyak tirai salju ini, pasti aku akan merengkuhnya dan tak akan membiarkannya pergi ….

Sayang, lagi-lagi, percobaan Yixing nihil hasil.

Tapi ada sedikit kehangatan yang menguar di antara sekian banyak butir salju, Yixing merasakan. Penasaran, pemuda itu memaksa dua kakinya yang gemetar untuk menopang raga. Langkah demi langkah dirajutnya kembali, perlahan namun pasti, seraya membebaskan jalannya dari tirai-tirai membutakan. Tak Yixing pedulikan berapa banyak tirai yang telah ia empaskan; ia ingin mencari sumber kehangatan yang tadi sempat menyapa kulitnya. Itu, mungkin saja, adalah sisa-sisa api cinta yang pernah Soojung pelihara.

lo-7
photo by Logan Zillmer

Sret!

Ada seberkas cahaya yang menelusup dan jatuh ke atas tanah putih tatkala Yixing menyibak sedikit salah satu tirai salju. Ia melongok ke balik jendela dan menemukan padang berpagar, berumput hijau, dinaungi atmosfer keceriaan. Bagian dari hati Soojungkah tempat itu, atau bukan? Yang jelas, tempat itu memiliki sesuatu yang amat Yixing butuhkan: kehidupan, maka tanpa ragu, ia menyeberang. Seketika itu pula, darah mengalir lancar dalam raganya, dari ujung kaki sampai kepala, dan ia menghela napas lega.

Luar biasa. Apa aku yang pertama kali datang ke sini?, herannya, mulai berani berjalan lebih jauh untuk menjelajah sekitar, Mengapa Soojung tidak memperluas padang damai ini agar mencapai sisi hatinya yang berbadai?

Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kaki Yixing terantuk satu serpih keramik berwarna cerah. Ia pungut serpihan itu dan mengamatinya, tetapi tidak ada informasi berarti yang dapat digalinya selain warna serpihan itu yang mirip kulit manusia. Mencurigakan, apalagi serpihan keramik tadi ternyata tidak sendiri; mereka berbaris tak teratur menuju satu arah, jaraknya jarang-jarang. Yixing ikuti jalur ini yang mungkin membawanya pada si empunya gerabah. Tidak lupa dikumpulkannya tiap serpihan, siapa tahu bisa dipasang kembali dan memperbaiki barang entah apa yang rusak itu?

Yixing, entah bagaimana, tidak kaget menemukan sosok Soojung di ujung jalur serpihan ini.

Bersama seorang pria.

Tidak, dua. Tiga. Empat. Buru-buru Yixing bersembunyi, hendak memata-matai Soojung dan pria-pria tadi; kalau dia mencintaiku, lalu apa yang dia lakukan sekarang tanpaku?, batinnya menggerutu. Soojung berbincang dengan mereka semua, lebih sering tergelak-gelak, tetapi air matanya tumpah dalam jumlah yang mustahil dicucurkan seseorang yang gembira. Tiap ia tertawa, satu retakan di pipinya melebar, kadang ada serpihan pada wajahnya yang lantas jatuh. Serpihan itu mirip dengan potongan-potongan dalam genggaman Yixing, memahamkan Yixing pada siapa pemilik serpih-serpih ini, tetapi belum membuatnya mengerti apa yang terjadi. Ia tidak sanggup berpikir jernih ketika lukisan kebahagiaan gadisnya yang ganjil menyebabkan dadanya disesaki kecemburuan bercampur amarah dan rasa frustrasi.

Namun, alangkah terkejutnya Yixing begitu pria-pria tadi bergerak sedemikian sehingga tampaklah tubuh depan mereka yang tak sempurna.

Mengapa kepala dan dada mereka berlubang?! Mereka bicara, tetapi raut wajah mereka tidak berubah, lalu dengan siapa Soojung tertawa sebetulnya?

Dunia lain yang kontras di balik tirai salju, serpih diri Soojung, tawa beriring derai air mata, pria-pria dengan kepala dan dada kosong ….

Yixing baru sadar ada di mana dia sekarang.

Raga Soojung mulai berlubang di sana-sini akibat banyaknya serpihan dirinya yang rontok, sampai sinar pagi bahkan dapat menembus badannya. Jika dibiarkan, Soojung bisa menghilang sepenuhnya dalam lanskap semu ini dan tak akan kembali ke hatinya yang asli. Membuang segala keraguan, Yixing meraih bahu Soojung dan membalikkan gadis itu menghadapnya. Sejenak mata Soojung membola, tidak mengira Yixing dapat menemukan tempat yang secara diam-diam ia jadikan pelarian, tetapi senyum angkuhnya cepat mengambil alih kembali.

“Kau pria nyata pertama yang tiba di sini. Selamat.”

“Simpan ucapan selamatmu, Soojung,” Yixing menarik kekasihnya menjauhi pria-pria cacat di belakangnya yang dibangun oleh kerinduan si gadis, “Kita harus menyusun ulang badanmu, lalu pulang ke jiwamu yang sejati. Ya?”

Soojung berusaha melepaskan diri dari genggaman Yixing, tetapi tangan itu telah bertekad untuk tidak membiarkannya lari lagi.

“Aku sih tidak ingin kembali ke tempat yang tidak pantas ditinggali manusia itu.”

“Tapi kau harus kembali!” Yixing mengangkat lengan Soojung yang retak-retak, menunjukkan pada si gadis seberapa parah keadaannya, “Kalau dirimu menghilang dalam kenanganmu sekarang, kau bisa mati! Kau harus hidup dalam ruang kalbumu sendiri, bukannya membohongi diri dalam ingatan indah yang palsu!”

Bagaimana Yixing mengakhiri kalimatnya membuat Soojung tersentak. Telapak tangannya serta-merta mendarat keras pada pipi Yixing, menanamkan bekas merah sekaligus meremukkan telapak itu sendiri pada prosesnya. Tidak ada reaksi dari makhluk-makhluk bayangan di belakang gadis itu, meyakinkan Yixing bahwa Soojung tidak sedang bersama pria-pria sungguhan dari kenangannya. Tamparan Soojung menimbulkan panas dan nyeri di permukaan kulit Yixing, tetapi penyangkalan tersirat yang Soojung lontarkan dengan lantang memicu ngilu yang berkali lipat lebih dahsyat.

“Berani sekali kau mengatakan kenanganku palsu! Kau tak mengerti apa pun tentang jiwa dan ingatanku! Biarkan aku menghilang; itu akan lebih baik ketimbang hidup yang terasa mati!”

‘Hidup yang terasa mati’. Seburuk itukah kehidupan yang dijalani Soojung selama ini? Menilik kembali kebekuan yang mengurung sebelumnya, Yixing sedikit-banyak paham apa yang Soojung maksudkan. Gadis itu terlalu sering dilukai tanpa ada yang mengobati, sehingga api cintanya padam dan jiwanya menjadi dingin … kecuali di satu sudut yang bernama Kenangan, di mana Soojung masih menemukan jejak-jejak kasih pada semua yang pernah disayanginya tapi begitu saja meninggalkannya. Barangkali, Soojung sebelumnya juga seperti Yixing: terjebak dalam hati seseorang dan bersusah-payah keluar darinya, yang mana itu terjadi berulang-ulang. Tak heran tubuh Soojung remuk-redam sebab melarikan diri dari kungkungan perasaan membutuhkan banyak tenaga.

Mengabaikan rasa sakitnya dan perintah Soojung untuk tidak mendekat, Yixing berlutut, memunguti serpihan-serpihan diri Soojung dan memasang mereka kembali ke tempat semula. Tidak mudah memang karena Soojung selalu menolak diperbaiki, beruntung keinginan baik Yixing lebih besar daripada kekeraskepalaan Soojung. Beberapa serpihan Soojung yang nyaris terpasang melayang hilang gara-gara tidak dikehendaki pemiliknya, tetapi Yixing tak berhenti hingga gadisnya utuh kembali dan kegigihannya berhasil memenangkan hati Soojung.

“Begini lebih bagus.”

Yixing merangkum wajah Soojung setelah semua lubang pada kulit Soojung tertambal, dengan ibu jarinya mengeringkan pipi sembab Soojung dan senyum tulusnya terulas sebagai sentuhan akhir yang menyembuhkan. Soojung tidak lagi melawan, sosok-sosok ilusi di ujung penglihatannya memudar kala ia menyadari betapa ia mendamba sentuhan semacam ini, sentuhan yang tak bakal ia peroleh dari makhluk-makhluk tak berkepala—berakal—dan berdada—bernurani—yang belakangan coba ia hidupkan. Tentu saja gagal. Lelaki yang dicipta dari kerinduan tidak bisa dipegang, apalagi ditiupkan ruh ke dalamnya.

“Tangan yang membuatku utuh kelak akan merematku hingga eksistensiku terhapus, Yixing. Kau tidak istimewa.”

“Memang tidak istimewa. Suatu saat, mungkin aku akan menghancurkanmu seperti yang lain-lain,” Yixing menyuarakan keras-keras kekhawatiran Soojung, “Janji diucap hanya untuk dilanggar, karenanya aku tak menjanjikan apa pun, termasuk perlindungan selamanya. Tapi aku berjuang, Soojung. Aku berjuang membangun hatimu, hatiku, dan ikatan yang tak gampang goyah di antara kita.

“Bila tidak dapat memungkiri adanya kemungkinan berpisah, mengapa tidak coba menghindari kemungkinan itu dari detik ini?”

Manis, manis sekali ucapan Yixing itu bagaikan madu. Bukan mustahil berubah jadi racun yang akan membunuh Soojung layaknya ujaran pria-pria yang tadi mewujud dalam bentuk replika di ruang kenangan. Akan tetapi, andai Soojung masih belum mempercayai Yixing, lalu mengapa langit-langit ruang kenangan runtuh, rerumputan bertukar dengan permadani salju luas, dan dedaunan berguguran dari pohon-pohon? Soojung terbeliak, tak tahu harus senang atau sedih karena telah pulang ke jiwanya yang jelek …

“Lihat itu, Soojung.”

… sebelum Yixing menunjukkannya api yang menyala di antara kaki mereka, melelehkan alas putih yang mengerutkan kulit.

“Apa itu?”

Yixing menangkup si api, memotong separuhnya, dan menyerahkan potongan itu pada Soojung.

“Kuduga ini adalah cinta kita. Kita bisa menggunakannya untuk menyingkap rahasia di bawah selubung salju tebal dalam hatimu. Ayo kita tanam ini di segala tempat agar ia tumbuh dan membawa musim semi ke dalam sini.”

***

Saat Yixing membuka mata, ia temukan Soojung terlelap di sisinya. Selimut mereka menutup tubuh sebatas pinggang, agak kusut seperti keadaan diri mereka sekarang. Lihat saja rambut Soojung yang mencuat tak keruan dan pipinya yang berbekas lipatan sarung bantal, tetapi wajah itu begitu damai seolah tanpa beban, tak sampai hati Yixing membangunkan. Ia mengecup perlahan puncak kepala Soojung dengan harapan Soojung tidak terjaga …

… dan ia tertipu.

“Terima kasih sudah membangunkanku.” Soojung tersenyum, masih memejam, kali ini kurva tipis di bibirnya sungguhan cantik lantaran berasal dari hati. Yixing menarik tangannya dan terkekeh malu menutupi kecanggungannya.

“Maaf mengganggumu. Tidurlah lagi.”

Soojung menggeleng. Ia menahan Yixing agar tetap di tempat, kemudian matanya berangsur membuka. Binar dari sana memancarkan rasa syukur, dataran sebening kaca memantulkan wajah bangun tidur Yixing yang sama berantakan dan bahagia. Iris karamel Soojung yang hangat menjadi jendela menuju hatinya dan ketimbang mendahulukan kelambu kamar, Yixing memilih menyibak kelambu jendela jiwa tersebut.

Pemandangan yang menyambut Yixing adalah padang rumput hijau luas bementari, kontras dengan pemandangan di luar jendela rumahnya.

“Apa lihat-lihat mataku? Ada tahi matanya, ya?” canda Soojung. Yang ditanya tertawa kecil dan menjawab dengan gelengan.

“Waktu tidur, aku memimpikan pertemuan pertama kita dalam jiwamu yang lama,” Yixing menautkan jemarinya dengan Soojung, menyebabkan sepasang cincin emas yang mereka kenakan bergesekan, “Mengherankan, bukan, bagaimana api-api yang kita tanam dulu cukup besar untuk menjadi matahari baru dalam hatimu kini?”

TAMAT


aku comeback di ifk! wow. walau ga ada yg kangen biarkanlah aku comeback. dan um, no, di fanficku kaistal tidak real.

8 thoughts on “[Oneshot] Views”

  1. KYAAAAAAAAA!!! :””) PAIR FAV BER INI SIH KAK! /ditempeleng/😄
    wow surrealnya kak :” aku faham setelah baca sampai akhir hehehehe. Ini kereeeeeen serius! X) Keep writing kak Li!❤

    Suka

  2. Kak lian emang ya,bkin otak kerja dh. Aku harus ngulang tiap kalimat. Suka semua surreal versi kaka dh !!
    Dan ya,pair nya aku baru tau juga..ha
    fighting!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s