[Oneshot] At the Drop of A Hat

atthedrop

AT THE DROP OF A HAT

a movie by doremigirl

Casts: BTS’ Jung Hoseok (J-Hope), OC | Genre: fantasy (hungergames!AU), slight!romance | Rating: PG-17 (for language) | Length: 1500+ words

.

.

For you I’d bleed myself dry.

Yellow, Coldplay

.

INSTINGNYA terjaga meski kantuk memaksa kedua matanya untuk menutup. Baru saja ada suara gemerisik semak-semak dan ia tahu bukan binatang yang menyebabkan keributan itu. Berusaha tenang, ia tetap memejamkan mata seraya menggenggam sebilah belati di pinggang.

Orang itu akhirnya datang untuk membunuhnya setelah hampir dua minggu penuh keduanya saling melarikan diri. Baguslah, tubuhnya sudah gatal digigit serangga; ia juga sudah diare lagi gara-gara salah makan beri beracun kemarin. Makin cepat ia mati, makin baik. Sempat terlintas pikiran bodoh untuk bunuh diri, tapi ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati kakaknya jika melihat lehernya digorok saat siaran.

Terdengar seperti ia bertahan hidup hanya untuk dibunuh? Ya.

Ia tak pernah menyangka akan berhadapan dengan pria itu. Bermimpi ia akan jadi salah satu dari dua orang yang bertahan hidup pada babak penentuan saja tidak pernah. Ia pikir ia akan mati di tangan orang-orang dari distrik lain pada detik permainan terkutuk ini dimulai.

Jemarinya mengelus ukiran pada pegangan belati yang dingin. Tangannya mulai berkeringat. Instingnya untuk bertahan hidup memang terlalu kuat. Saat di kamp, ia menjadi yang pertama berlari dan mengambil belati—senjata yang paling ia kuasai. Padahal inginnya ia menyerah saja dibanding harus memuaskan obsesi aneh orang-orang di Capitol untuk melihat manusia saling membunuh seperti binatang.

Biar jijik dengan permainan ini, ia tak punya pilihan lain. Masih jelas diingatannya, belati perak itu pernah menancap tepat di dada sebelah kiri lelaki tinggi besar dari distrik 5. Tangan besar lelaki itu mencekik lehernya sampai nyaris patah. Beruntung lelaki itu tidak cukup cerdas untuk melucuti senjatanya sebelum menyerang.

Hanya lelaki itu yang ia serang selama berada di ‘arena’ ini. Karena darah nelayannya, ia banyak berada di tepi sungai saat dini hari untuk menangkap ikan, lalu kembali masuk ke dalam hutan agar tidak bisa ditemukan. Berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain seperti monyet dan menerima bantuan untuk luka-lukanya dari sponsor yang mungkin simpatik akan keinginannya untuk bertahan hidup. Ia terserang diare, juga malaria selama hampir seminggu penuh. Ia pikir ia akan mati gara-gara penyakitnya.

Sampai akhirnya pria dari distrik 2 itu menemukannya di salah satu pohon dan memberinya sekaleng pil penyembuh. Sungguh lucu bagaimana seseorang menjadi malaikat penyelamat dan malaikat pembunuh secara bersamaan.

“Aku tidak mau membunuh orang sakit. Sampai ketemu lagi?” Begitu katanya saat itu.

Terdengar bunyi sepatu yang mulai memanjat batang pohon. Berbeda dengan ekspektasinya, sang pria malah mendudukkan diri di batang pohon yang lain.

“Tempat yang bagus. Kamera para bajingan itu tidak akan menemukan apapun di sini.” Pria itu berkemam dan menarik napas panjang. “Aku tahu kau tidak benar-benar tidur. Jadi lebih baik temani aku berbicara.”

Ia akhirnya membuka mata. Napasnya terengah, sialan. Tubuhnya malfungsi terus, ia mulai tidak tahan. Figur sang pria berada di dahan cukup besar di sebelahnya. Distrik 2 terkenal karena banyaknya orang yang bekerja sebagai pemasok batuan, namun pria itu cenderung kurus. Separuh wajahnya ditutupi masker, hanya mengekspos sepasang mata yang nyalang dingin. Di tas ranselnya, ia dapat melihat pedang dan tongkat panjang yang ia yakini sebagai palu tembaga. Kalau dihancurkan dengan kedua benda itu, belatinya sepertinya tidak berarti apa-apa.

“Kenapa tidak kaukeluarkan saja senjatamu, lalu bunuh saja aku?”

Sang pria mendengus. Ia dapat merasakan senyum di balik masker hitam itu. “Kautahu apa yang lucu? Pertanyaan itu baru saja mau kukeluarkan. Aku dapat melihatmu menyentuh belati itu sedari tadi. Sudah menyerah hidup, Fox?”

Fox. Sebutan itu sama seperti yang ia dengar dari koalisi distrik 3 dan 6. Ia sempat mendengar mereka kasak-kusuk tentang si Fox ini sebelum akhirnya melarikan diri. Hatinya mendadak teriris ketika mendengar cacian lawannya, meski sedikit bangga karena ternyata ia ditakuti. Kejadian tertusuknya belati ke dada kiri pria distrik 5 menjadi fenomenal setelah sempat pria itu digadang-gadang menjadi calon pemenang.

“Boleh aku tanya sesuatu? Kenapa kalian semua memanggilku fox—rubah?”

Kali ini sang pria benar-benar tertawa. “Cocok denganmu, kan? Si kepala merah yang ternyata berhasil membunuh calon pemenang di permainan yang sudah berlangsung selama hampir empat dekade.”

Fox mendengus. Oh iya, ia hampir lupa kalau rambutnya merah. Saat masih tinggal di distrik, banyak yang iri dengan warna rambutnya. Ia nyaris mengira surainya berwarna cokelat mengingat betapa seringnya ia tidur di tanah.

“Terdengar seperti wanita penjilat di telingaku.” Fox berujar seraya membenarkan posisi kantong tidurnya. Lawan bicaranya mengedik bahu santai. Ia mengeluarkan tambang dan mulai melilitkan benda itu pada dahan agar tubuhnya seimbang. Sepertinya sang pria belum berniat untuk membunuhnya.

“Kudengar kalian sangat loyal.” Memberanikan diri, Fox membuka pembicaraan lagi. Yang ia maksud adalah distrik 2. Sebagai salah satu distrik paling kaya seantero Panem, distrik 2 juga terkenal karena perekrutan Penjaga Kedamaian. Banyak pemuda dari sana yang dibawa ke Capitol dan dilatih untuk disebar ke dua belas distrik. Itulah sebabnya Fox mengira ia akan langsung dibunuh saat sang pria menemukannya tertidur di atas pohon.

Mereka yang loyal. Bukan aku,” timpal sang pria masam. Manik matanya menyala-nyala penuh amarah sejenak. “Aku cukup loyal sampai mereka menjebloskanku ke permainan gila ini. Para keparat itu seperti memberimu makanan enak untuk hari ini, lalu menyuruhmu untuk bunuh diri di kemudian hari. Tidak bisa dipercaya.”

Hening menyelimuti mereka sejenak. “Aku hanya tinggal selangkah lagi menjadi Penjaga Kedamaian, sampai akhirnya lotere sialan itu melibatkan nyawa adikku. Dia masih sepuluh tahun untuk beberapa hari saat itu dan aku tidak bisa membiarkannya meregang nyawa di tempat terkutuk ini.”

“Lalu kau akhirnya menawarkan diri untuk menggantikannya.” Fox mengambil kesimpulan. Sang pria mengangguk sambil membuang napas. Tangannya dengan lincah membuka ikatan masker, lalu menurunkannya ke leher. Meski diterangi cahaya temaram, Fox dapat melihat hidungnya yang tinggi, serta fitur wajahnya nyaris mendekati definisi angkuh.

Perut Fox terasa mual. Cepat-cepat, ia meraih botol air dan meminumnya secara serampangan. Sang pria menoleh, merasakan kejanggalan. “Kau sakit, Fox?”

Fox mengecap benda melegakan itu sebelum akhirnya tertawa sarkastik. “Iya. Bukankah lebih menguntungkan jika kau langsung membunuhku di sini? Demi apapun, kau punya banyak senjata di sana. Kau bisa mengoyakku dengan pedang, atau membocorkan kepalaku dengan palu itu.”

Sang pria tidak langsung menjawab. Seperti sedang berkontemplasi dengan pikirannya sendiri. Beberapa menit mereka terdiam sebelum akhirnya satu stoples barang melayang-layang di dekat tangan pria itu. Sponsor.

Fox tidak heran, ia yakin sang pria dapat banyak sponsor. Wajahnya cukup mendukung. Wanita Capitol akan suka dengan kombinasi surai jelaga, mata tajam, dan hidung panjang itu. Tubuhnya cukup tinggi, dan biar kurus Fox tetap menyimpan keyakinan sesungguhnya sang pria cukup atletis. Cara mendapatkan keuntungan di tempat ini memanglah seperti itu. Berkisar antara kau punya drama untuk ditampilkan, atau kau punya wajah menarik untuk tetap dipertahankan di arena.

Fox menghela napas, berniat untuk kembali melanjutkan tidur. Jika ia tidak bisa bangun lagi keesokan pagi, ia tidak akan memprotes takdir.

Tangan sang pria menyentuh lengannya. Fox menoleh malas. “Kau diare?” tanya sang pria. Fox mengangguk cuek. Tak lama, ia menyodorkan stoples yang baru saja diterimanya ke arah sang gadis.

“Bagaimana aku tahu itu bukan racun?” ujar Fox defensif. “Demi apapun, aku bahkan tidak mengenalmu. Kenapa aku harus menerima stoples itu?”

Sang pria memutar bola mata. “Namaku Jung Hoseok dari distrik 2, puas? Lagipula, kau daritadi memintaku untuk membunuhmu, lantas kenapa harus takut jika aku memberimu racun alih-alih obat? Oh, ya maaf aku menghancurkan harapanmu untuk segera mati,” ujarnya pedas. Tangannya menggerakkan stoples itu agar segera diterima. Fox mengambil stoples tersebut, lantas menemukan tulisan obat diare.

“Ini dari sponsormu? Wah, mereka pasti tidak mau Jung-si-calon-Penjaga-Kedamaian punya pencernaan yang buruk.” Fox mengambil salah satu pil, lantas meneguknya. Perutnya bergejolak. Capitol memang sialan, tapi mereka punya tenaga medis terbaik seantero Panem.

Fox menemukan Hoseok mengamatinya lagi. “Kalau kau? Namamu siapa?” tanyanya penuh dengan kuriositas.

“Aku Lena.” Sesaat kemudian ia tertawa. “Tapi kau boleh tetap memanggilku Fox. Lama kelamaan aku mulai suka sebutan itu.” Fox menghabiskan  persediaan air terakhirnya, lantas melanjutkan. “Kalau aku tidak sakit lagi, apa kau mau membunuhku?”

Hoseok mendengus. “Dan membuatku sama seperti para tikus itu? Tidak.” Fox mengangkat alis. Apa itu artinya ia menyerahkan diri untuk mati di tangannya? “Aku juga tidak mau mati di tanganmu.” Seakan membaca pikiran Fox, ia menambahkan. “Aku ke sini untuk menawarkan satu opsi untuk kita berdua.”

“Opsi apa?”

“Drama. Ini antara kita berdua yang sama-sama mati, atau kita berdua yang sama-sama hidup.” Hoseok menelan ludah sebelum melanjutkan. “Tapi aku tidak mau pilihan pertama, dan selama ini kita sudah menjalani pilihan yang kedua. Sudah jelas ke mana kita akan pergi.”

Hal itu terdengar menggelikan di telinga Fox. Sontak, ia tertawa. “Kautahu, Jung? Aku tidak berminat. Menurutku, ikut permainan ini saja menjadikanku sampah, apalagi kalau aku kembali karena kita berdua sama-sama selamat. Bisa-bisa aku disalahkan karena sudah membuat Capitol murka.”

“Tapi distrikmu punya kemampuan untuk melawan.”

Apalagi distrikmu, Jung. Kalian dapat pasokan senjata karena banyak yang menjadi Penjaga Kedamaian, tapi kalian tidak melakukan apapun selama ini.” Fox menarik napas, berusaha menurunkan tensi. Beruntung mereka berada pada titik gelap arena. Hanya bantuan dari sponsor yang bisa menemukan mereka. “Kita sama-sama tidak berdaya, Jung. Terima saja. Pilihan yang tersisa hanyalah kau yang membunuhku, atau aku yang akan membunuhmu.”

Bermenit-menit berlalu, Fox hanya menemukan siluet Hoseok yang menatap kosong ke arah dedaunan. Mendadak siluetnya terasa familiar. Ini mirip seperti kali pertama sang pria menemukannya sekarat di pohon pinggir sungai. Ia menurunkannya dan menopang kepalanya agar bisa menelan pil, lalu menunggu seraya menatap ke belakang kepala Fox. Ekspresinya sama.

Sesuatu berdesir lebih cepat dibanding darahnya sendiri. Fox mendadak ingin menangis. Ia tahu jawaban yang akan dilontarkan Hoseok setelahnya.

“Kalau begitu kau harus membunuhku.”

“Kenapa?” Fox benci ia harus dijatuhkan pada kenyataan bahwa ia selalu berutang budi pada Hoseok. Pria itu muncul saat ia sekarat, dan sakit. Pada beberapa waktu, Hoseok secara kebetulan menyelamatkannya dari musuh yang mendekati. “Kenapa tidak bisa kaubunuh saja aku? Aku tidak mau berutang budi lagi padamu, Jung kalau itu maksudmu.”

Hoseok menatap matanya dalam. Fox membiarkan dirinya terjatuh dalam bayang-bayang iris itu. Bulan purnama dan bintang menyinari wajahnya yang lelah. Benda langit membuatnya terlihat seperti setengah manusia, setengah dewa. Sesuatu bergelenyar aneh dalam diri Fox.

Sang pria tidak menjawab. Ia hanya perlahan mendekat dan berbisik meminta izin. Fox mengangguk, dan semudah itu ia mengecupnya dalam gelap. Fox bisa saja menarik rambutnya dan menjatuhkannya dari batang ini, tapi ia tidak mau. Hoseok seakan sedang memberi jawaban yang ia cari selama ini, dan ia harus mendengarnya.

Aneh, malam ini memang benar-benar aneh. Mereka seharusnya saling mengancam dengan senjata masing-masing, bukannya saling menguatkan seperti ini.

Mengikuti insting, Fox menyentuh belatinya dan Hoseok menyentuh pedang. Pada akhirnya, mereka tahu opsi mana yang akan mereka pilih.

—fin


A/N: sebelumnya saya mau minta maaf karena saya banyak banget nggak aktifnya di sini. saya sibuk persiapan buat ujian beberapa waktu ke belakang dan kebanyakan hanya aktif di blog pribadi aja. semoga teman-teman masih inget saya ya :”) oh ya ini sebenernya au banget, sih mengingat mas hosiki harusnya jadi orang yang pertama kali mati di hunger games gara-gara teriakannya hahaha. semoga berkenan, ya teman-teman. review sangat ditunggu!

4 thoughts on “[Oneshot] At the Drop of A Hat”

  1. Akhirnya bikin haru masaa…
    Padahal mah saling bunuh yaa, tapi, tapi… Aku jatuh cinta sama Hoseok di sini, aiguuu dia keliatan keren sekaliii.
    Aku suka bgt sama gaya nulisnya, santai.
    Keep writing ^^

    Suka

  2. Suka sama cerita dan pembawaannya. Apalagi hoseok yang biasanya jauh dari kata serius. Disini malah serius banget dan aku suka!
    Nice ff^^

    Suka

  3. Gaya penyampaiannya baik ka?! Terharuuu meskipun ga terlau ngeh,tapi itu mati semua dan kata2 terakhir adalah saling nguatin. Fighting!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s