[Vignette] Mind Your Language

[FFPOST] Mind Your Language

elfxotic12152  present

a film with Lee Minhyuk of Monsta X  OC

Romance, failed!Fluff |  Vignette (1.570Ws) | G

.

“Oy, oy!” suara dari dalam belakang membuatmu menoleh ke arah aula gedung fakultas ilmu komunikasi. Dari dalam, Minhyuk sudah melambaikan tangan sambil berlari. Buku-buku tebal di tangannya jatuh berserakan karena goncangan dari gerakannya. Kemudian ia berhenti sebentar, dan mengoceh sebal sambil memungut bukunya satu-persatu sebelum mulai berlari lagi.

Allo,” ia menyapamu dari dekat dengan napas yang memburu.

“Halo. Itu Bahasa Spanyol?” tanyamu memastikan.

Minhyuk duduk di sampingmu dan meletakkan semua barangnya di atas meja. “Hmm-hmm,” ia menyenandungkan jawabannya sembari mengangguk dengan mata tertutup. Kemudian, dari balik lensa kacamatanya ia menatapmu dengan mata membulat.

“Oh, oh, aku punya halwaa banyak,” katanya sebelum meraih tasnya, dan mencari-cari sesuatu dari dalam sana.

“‘Halwaa‘ itu apa?” tanyamu. Ia mengeluarkan tangannya dari tas, dan menunjukkan segenggam benda kecil dengan bungkus berwarna-warni, dan menjawab, “‘Halwaa‘ itu permen, Bahasa Arab. Kau mau?”

Tanpa menjawab, kau mengambil satu permen yang dibungkus kertas. Begitu permen itu mulai merangsang lidahmu, di saat yang bersamaan kau teringat akan suatu hal.

“Oh, iya. Hari ini kita ada kencan buta, ‘kan?” tepukkan pelan di pundak Minhyuk membuatnya menoleh dari buku kuliahnya. Setelah matanya menjelajah tanpa arah, ia kembali menatap matamu sambil berseru, “Aah, betul juga. Aku lupa.”

“Kamu jam berapa?”

“Tunggu,” Minhyuk merogoh tasnya lagi dan mengeluarkan smartphone-nya. “Jam setengah tujuh.”

“Aku juga,” katamu sambil tersenyum.

“Mau naik kereta berdua?”

“Apa-apaan? Kamu, ‘kan, harusnya menjemput kencanmu. Lagian kencanku akan menjemputku, kok.”

Gwelaf,” katanya, menggumamkan kata yang lagi-lagi tidak kau mengerti.

“Itu bahasa apa?” pertanyaanmu membuatnya mengangkat pandang dari bukunya lagi.

“Itu Bahasa Wales. Artinya, kira-kira, ‘Benar juga, ya’,” Minhyuk dengan senang hati menjelaskan. Dengan tiba-tiba, ia menutup bukunya dan memasukkan semuanya ke dalam tas.

“Kalau kita punya kencan, harusnya kita siap-siap, ‘kan?” Dijulurkan tangannya ke arahmu, yang dengan senang hati kaugenggam.

***

“Kau kuliah jurusan apa?”

“Aku musik. Sekarang sedang siap-siap untuk recital beberapa minggu lagi.”

Kau melahap steak-mu sambil bergumam kecil sebagai balasan. Matamu yang membulat hanyalah reaksi palsu yang kesekian kalinya kautunjukkan untuk kencanmu. “Kau bermain apa?”

“Aku? Aku piano. Tapi aku sebetulnya belajar conducting orkestra,” kencanmu lagi-lagi menjelaskan tanpa diminta. Sejujurnya kau menyukai orang ini—dia membiarkanmu memilih tempat makan, membiarkanmu memilih tempat duduk, menjawab semua pertanyaanmu, sampai bereaksi dengan menyenangkan untuk setiap pernyataan yang kaukeluarkan. Tapi ada satu hal yang mengganjal—satu hal yang sialnya mengganjal.

Pikirku apa, sih? Ini, ‘kan, masih kencan buta, mana mungkin langsung cocok? begitu pikirmu. Kau terus mengiris steak-mu hingga satu potong daging tiga ons itu ludes. Kencanmu mengelap bibirnya dengan serbet putih, kemudian menatapmu, “Mau pesan pencuci mulut, atau…” ia menggantung kalimatnya, lagi-lagi memberikanmu pilihan yang luas.

“Ya, aku ingin pencuci mulut. Terima kasih,” balasanmu cukup cepat, membuat kencanmu lagi-lagi melempar senyum hangat. Ia mengangkat tangannya, mencari pelayan. Begitu buku menu sudah disajikan, pesan masuk ke dalam handphone-mu. Diam-diam, kaubuka pesan itu.

MinMinMin: Hiiiiiing

MinMinMin: Kencanku tidak seru:((((

MinMinMin: Bantu aku:((((

Kau tersenyum kecil karena tingkah konyol Minhyuk. Berulang-kali kau mengetik, dan menghapus kalimat untuk membalas pesannya. Kau masih tidak sadar tempat sampai kencanmu berdeham rendah.

“Ya?” kau akhirnya memalingkan wajahmu hanya untuk melihat wajah kencanmu yang menginginkan jawaban.

“Ah, aku—,” kau melihat buku menu untuk basa-basi, kemudian, “Aku tiramisu saja, terima kasih.”

Segera setelah pelayan pergi dengan pesanan masing-masing dari kalian, kau kembali ke smartphone-mu.

Me: Aku juga;(( Nanti habis ini makan ramyeon yuk;)

MinMinMin: Yapyap😙😙😙

Tawa kecil lolos dari mulutmu saat membayangkan seberapa membosankan kencan buta Minhyuk hingga sebegitu inginnya ia makan ramyeon setelah ini. Saat kembali ke kencanmu, laki-laki di depanmu menatapmu lembut. Kau sempat heran apa maksud tatapannya, tapi kemudian ia berbicara.

“Pesan dari teman dekatmu, ya?”

Seperti kebiasaan Minhyuk, kau menyenandungkan jawabanmu. “Hmm-hmm.”

“Bahkan aku tidak perlu lihat isinya, lho, untuk tahu hal yang terjadi antara kalian.”

“Maksudnya?”

“Kamu suka dia, ‘kan? Bahkan dari awal kencan ini aku tahu. Aku cukup sakit hati, lho,” laki-laki itu menghindari tatapan matamu dengan menatap langit-langit restoran.

“Aku—maaf,” kau menunduk, enggan juga menatap lawan bicaramu. Anehnya, bersama dengan laki-laki asing ini membuatmu sendiri mengakui bahwa kau memang menyukai Minhyuk.

“Bercanda, bercanda,” ia kemudian tertawa. “Setelah tiramisu-nya, biar kuantar pulang,” ia menawarkan.

“Tidak, tidak usah. Aku ada janji lagi setelah ini.”

“Aku tahu,” balasnya cepat. Saat alismu terangkat sebelah, ia berkata lagi, “Tapi tidak ada salahnya mencoba, ‘kan?”

Tiramisu-nya berjalan dengan hening. Sepotong panganan manis-pahit itu menutup kencanmu dengan laki-laki baik itu. Tanpa terlalu menyesali kencan itu, kau langsung berlari menuju halte bus, dimana bus yang akan mengantarmu ke rumah makan ramyeon akan segera tiba.

Saat kau memasuki rumah makan ramyeon yang sudah kau dan Minhyuk sepakati, laki-laki itu sudah di sana, membaca menu ramyeon kelewat serius. Ia melambaikan tangan penuh semangat, dan berbisik, “Hier, hier.”

Kau melepas seluruh bawaanmu begitu menduduki bangku kayu di seberang Minhyuk. “Itu bahasa apa?”

“Bahasa Jerman. ‘Sini, sini’, artinya,” ia tersenyum lebar-lebar.

“Aku senang sekali bisa makan ramyeon, hehe.” Minhyuk mengungkapkan rasa senangnya dengan gamblang.

“Memangnya tadi kamu tidak makan malam?”

“Makan. Tapi makan seafood, aku mual,” katanya sambil membuat cemberut palsu.

“Ya, sudah. Pesan semaumu, biar kubayar.”

Matanya melebar karena senang. “Serius?” ia bertanya dengan intonasi tidak percaya, tapi segera setelah kau mengangguk, ia memesan banyak makanan. Ia tidak henti-hentinya tersenyum hingga berporsi-porsi pesanannya datang.

Saat sumpit sudah siap di tangannya, ia menangkupkan kedua tangannya bersama dan meletakkannya di hadapan hidungnya, menutup mata untuk berdoa sejenak. Setelah matanya terbuka kembali, Minhyuk tersenyum, dan menatapmu, “Je t’aime, hehe,” kemudian tertawa kecil sebelum melahap makanannya. Kau tersedak kolamu saat mendengar apa yang baru diucapnya.

Santai, saja. Itu maksudnya berterima kasih, ‘kan? “Iya, aku juga,” katamu. Minhyuk mengangkat pandangannya dari mangkuk keramiknya, dan menatapmu kaget. Satu detik, dua detik, dan dia masih menatapmu lamat-lamat.

“Hehe,” hanya itu yang dia ucapkan. Lalu kembali ke ramyeon panasnya.

Ah, sial.

“Oh, iya. Kencanmu bagaimana tadi?” Kau membuka obrolan antara kalian. Minhyuk menengguk sisa makanan dari mangkok pertamanya, dan mengelap mulut. “Bosan.” Ia lalu menenggak sepertiga isi botol kolanya sebelum melanjutkan.

“Cewek itu banyak omong. Aku tidak sempat bicara apapun soal diriku. No fun,” ia bicara dengan bibir dimajukan, dan tatapan kesal ke lantai. Saat ia menatapmu lagi, senyumnya kembali. “Tapi biar. Yang penting sekarang aku bisa makan enak dengamu, hehe.”

Ia kembali ke makan malamnya seperti tidak ada apapun yang baru terjadi. Sedang untuk dirimu, kau cukup menyesap kolamu lagi, berusaha menenangkan laju jantungmu yang seperti gila.

“Kau… sendiwi?” Minhyuk bertanya di antara kunyahannya.

“Aku juga bosan. Aku merasa berdosa, tahu.”

“Kengapa?”

Kau mengambil sepotong mandu goreng yang segera saja Minhyuk tidak setujui lewat tatapannya. Tapi dia tetap fokus ke semangkok supnya. “Dia baik, soalnya.”

“Jadi?”

“Ya, aku merasa berdosa karena tidak suka orang itu.”

“Memangnya dosa, ya, kalau tidak suka orang baik?”

Kau melahap mandu gorengmu bulat-bulat. “Mungkin.”

Mendengar jawabanmu membuat tangan Minhyuk berhenti di udara. “Berarti dosamu segunung,” lalu ia memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya.

“Makhuknya?”

Nichts,” kemudian dia menenggak supnya hingga tuntas.

Sudah tiba saatnya kau membayar makanan Minhyuk. Tapi sepertinya ini hari sial Minhyuk, karena uangmu habis entah kemana. “Minhyuk,” panggilmu. “Ya?”

“Uangku habis. Hilang dimakan angin.”

“Tidak apa-apa, aku bawa uang sendiri, kok. Kamu duluan saja.”

Kaubuka pintu restoran, menyebabkan bel di atasnya berbunyi menyenangkan. Angin malam ini cukup kencang, dan sialnya, alih-alih berpakaian sebagai kebutuhan, kau berpakaian untuk mempercantik diri. Tentu saja cardigan tipis tidak membuatmu hangat.

“Sudah selesai,” suara Minhyuk tiba-tiba terdengar dari sampingmu. “Ayo, aku antar pulang.”

Kalian berjalan bersampingan. Jalanan masih ramai dengan orang meskipun ini sudah malam. Malam ini bintangnya terlihat jelas, dan bulan sabitnya cantik sekali. Kau kenyang, dan senang meskipun kencan butamu tidak begitu memuaskan. Mungkin Minhyuk yang membuat malam ini lebih baik.

Lama kalian berjalan bersisian, hingga akhirnya kausadar dia tidak lagi di sampingmu. Kau menengok, dan menemukan dia sedang berkutat dengan sweater-nya. Ia menggeliatkan tubuhnya seperti cacing tanah untuk melepas sweater violetnya. Samar-samar, kau juga bisa mendengar dia mendengking pelan.

“Kenapa dilepas?”

“Dingin soalnya.”

“Jadi, kenapa malah dilepas?”

“Biar kamunya tidak kedinginan.” Minhyuk menghampirimu dengan sweater di tangannya. “Tangan ke atas,” ia memberi perintah. Kauangkat tanganmu, dan dengan mudah Minhyuk memakaikan sweater-nya untukmu.

“Nah,” ia berujar puas dengan senyum bangga.

“Terima kasih.” Rasa terima kasihmu mungkin tidak tersampaikan dengan baik, karena alih-alih menatap matanya, kau menatap aspal jalanan.

“Hehe, kita seperti di drama-drama, deh,” ia berkomentar. Kauangkat wajahmu, dan bisa kaulihat Minhyuk tersenyum aneh. Senyum yang seperti di drama-drama.

Lalu ia menggenggam tanganmu, dan berbisik, “Saranghae.”

Lima detak jantung berlalu, dan masih belum aa yang terjadi sesudah itu. Kemudian, “Itu… bahasa apa?” tanyamu tak yakin. Apa aku yang salah dengar?

Alis Minhyuk berkerut bingung. “Bahasa Korea?” ia sendiri menjawab tidak yakin. Anggukan kecil kauberikan setelah mengerti. Dia… baru menyatakan perasaannya, ya?

Setelah berlama-lama menatap aspal, dan menikmati keheningan, tahu-tahu tangan Minhyuk bergetar, sebelum ia melepaskannya dari genggaman kalian. Kaulihat dirinya, memeriksa apa yang sebetulnya terjadi. Minhyuk berlompatan girang, dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan—mata terpejam erat-erat, gigi meringis, dan hidung berkerut. Tubuhnya memantul naik-turun dengan pose seperti orang menahan kesakitan.

Setelah akhirnya dia berhenti—dia tidak benar-benar berhenti, dia lari di tempat—dia berseru, “Kita seperti di drama-drama sekali,” kemudian dia lanjutkan dengan ‘hmm’ panjang tidak terkendali.

Akhirnya, dia betul-betul berhenti. “Kok, kamu tidak bicara, sih?” ia memprotes.

“Aku kaget.”

“Aku juga, hehe.”

“Jadi yang kamu bilang waktu makan tadi itu, kode, ya?”

Minhyuk memutar matanya, mencoba mengingat. “Iya, hehe.”

“Dasar.”

“Hehe,” Minhyuk hanya meringis. “Lho, tapi, kalau kamu kaget, berarti kamu juga suka aku, dong?”

“Tidak usah dibilang seperti itu.”

“Hehe. Ya sudah, ayo pulang.” Minhyuk menggandeng tanganmu tanpa diminta. Anak ini… kenapa semau kepalanya sendiri, sih?

Tapi…

Tapi, tidak apa-apa, deh.

FIN.

BTW yang blind date sama si cewe itu si abang. Aku salah fokus ke si abang blind date😔

Pergi dulu—ppyong!

Zyan

9 thoughts on “[Vignette] Mind Your Language”

  1. Annyeong Zyan (wkwk biar ga kalah sama Minhyuk) duh lucu banget NGET minhyuknya😦 tipikal nerdy tapi asik gitu ga sih? Aku bayanginnya gitu soale:”3

    Kaya di drama drama….wah jangan jangan minhyuk maraton nongton drama nih kerjaannya:
    Ficnya maniss, tapi manisnya gemes pengen nampar ((lah)) wkwk walopun aku nemu typo, tapi gapapa mungkin bisa dibenahi? Hehe

    Pergi doeloe ya! Tetep nulis yg lebih kece dari ini zyaaaan ~\’o’/~

    Suka

    1. haihaihaihai HALUU (biar gakalah juga) Iya anak-kacamataan-gaul-asek-beresek gimana gitu yah, duh pikiranku melayang ke tumblr boys #salah

      Kok
      ketawan
      minhyuk-nya
      suka maraton drama?😦

      Abis yaaa gimana ya, hidupnya udah kaya gitu juga, dianya merasa masih kurang rasa gitu, yah. Biarkan saja dia

      Duh manamana typo-nya biar kusikat dia. Makasih yaa udah mampir~ :***
      Zyan

      Suka

  2. GOTCHA! Kali ini ketemu yang Minhyuk (yeay!) aku suka ceritanya soalnya disini gaya bahasa Author bener-bener kayak Minhyuk asli(?) aku baru sadar kalau dibikin semacam series gitu ya? Aku buka-buka lagi ternyata fanfic yang awal itu pake tokoh Jooheon heheh. Seneng deh ketemu. Tinggal Kihyun ya, Author? Semangat! Semangat!

    Suka

    1. Sukur deh kalo kamu nangkep ini minhyuk yang asli. Sumpah, ini aku bingung banget dia mau dibikin cerewet kaya apa lagi. Kayaknya dia hidupnya ngomong mulu deh.

      Iyaaa tinggal kihyun, ditunggu yaa;;;) Sekedar hint, itu nanti married life, kaya yang kamu bayangin di ff wonho pas itu;;;)

      Makasih yaaa
      Zyan

      Suka

      1. Wah Authornya masih inget aku ya? Hahaha asik!asik! Sebenarnya aku pernah ngebayangin gimana Kihyun didalam genre married life, akhirnya terealisasi juga. Kutunggu ya Author!!!

        Suka

  3. hello zayn, lagi iseng searching fic trus nemu fic kamu berasa dpt rejeki siang bolong /lol wkwk
    DAEBAK! beneran ngebayangin krn karakter minhyuknya persis kyk karakter si minhyuk yg real
    trus ceritanya lucu…. gemesyinnnnnn >< Ah suka sukaaaakkk!!
    trus aku ngebayangin pas si oc blind date sama abang yang baik, aku ngebayangin minhyuk satunya lagi itu juga dan ternyata pas sama bayangan kamu jg wkwkwkwk

    sukses yaa!!! terus lahirin karya lucu lucu kyk gini❤

    Suka

    1. O MAI GAT AKU DIBILANG ZAYN MALIK OMAIGAT
      Rejeki di siang bolong duh, sebegitu nikmatnya ya bayangin si minhyuk nge bawel pake 1001 bahasa ;;( Tapi btw itu bayangan aku sih bbomb ya si abang blind date, seriusan muka dia baik tapi kesian minta di jahatin gimana dong:(

      Makasih yaa
      Zyan

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s