[Vignette] Change

change by tazkia

presented by―

tazkia. (@nonasajak)

Starring by [f(x)] Soojung and [EXO] Jongin | Genre slice of life, friendship, slight!romance | Rating Teen | Length vignette | Disclaimer I own the plot and poster.

.

Setiap orang bisa berubah, bukankah begitu?

.

Jadi datang?

Aku menandaskan beberapa teguk terakhir cappuccino—yang sayangnya sudah dingin—kala Jinri menginterupsiku dengan pertanyaan bodohnya. Aku berdecak. Sesaat kutimang untuk langsung memutuskan sambungan telepon agar tak lagi mendengar pertanyaan yang telah dilontarkan Jinri padaku beberapa hari terakhir ini.

Halo, Nona Soojung! Kamu mendengarku ‘kan?

Aku berjingkat saat Jinri menyentakku setengah berteriak. Yah, seharusnya kureject saja dari tadi. “Ya, tentu saja.”

Lalu?” kudengar suara Jinri setengah merajuk. Kutebak dia merasa kesal—dan memang seharusnya begitu. Aku memang menghindari berkomunikasi dengannya akhir-akhir ini karena tiap kali gadis itu menelepon, yang menjadi bahan pembicaraan kami—yang tentu saja selalu dimulai oleh gadis itu—hanyalah seputar reuni SMA. Pernah sekali aku memintanya untuk berhenti membahas hal tersebut, namun dia lekas-lekas menukas dan berkata ‘Aku tidak akan berhenti sampai kamu berjanji akan datang!’ sambil berteriak.

“Aku tidak bisa janji, Jinri,” sepintas bisa kudengar suara desah kecewanya.

Kamu tidak rindu padaku? Atau kamu memang sedang menghindar?

Ya Tuhan! Aku menepuk dahiku saat pertanyaan lain gadis itu menohokku dengan sangat. Sungguh, aku sama sekali tidak berniat menghindari teman lamaku itu. Dan aku juga lumayan merindukannya setelah lima tahun tidak bertemu. “Tidak, Jinri. Tidak sama sekali. Aku cuma….”

Sesaat aku menyadari ada yang aneh dari kalimatku barusan. Otakku masih terus berputar untuk merangkai kata-kata berikutnya, namun tetap saja terasa aneh. Sayangnya, belum sempat sepatah pun kata yang tepat untuk kuucapkan itu kudapat, suara Jinri kembali menginterupsiku. Jauh dari yang aku bayangkan.

Jangan bilang kalau kamu masih mendendam pada Kim Jongin.

Ehm, Jinri,” aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk setenang mungkin, “aku berjanji akan datang besok. Sampai jumpa!”

.

Konversasi dengan Jinri tempo hari pada akhirnya membuatku terpaksa menunda beberapa pekerjaan. Acara reuni kami akan diadakan di gedung serba guna sekolahku dulu—di sebuah desa di pinggiran kota yang jaraknya cukup jauh dari tempatku tinggal. Aku berangkat dari stasiun di pusat kota sekitar pukul delapan pagi dan tiba pukul setengah sepuluh.

Jinri menjemputku dan kami pergi ke rumahnya. Selama perjalan, Jinri terus saja bercerita (dan berteriak, ‘Aku sangat rindu padamuuu, Soojung!’ sebanyak tiga kali) sementara aku hanya menanggapi dengan hm, oh, dan benarkah?. Bukannya tidak tertarik, tapi yang dia bicarakan sejatinya hanya mengulang apa yang sempat kami bahas di telepon. Soal reuni.

“Ayolah, Soojung. Meskipun aku tahu kamu terpaksa karena akan ada Jongin di sana, setidaknya berbahagialah untuk satu hal,” ucap Jinri dan aku menatapnya dengan kelopak terbuka lebar, “berbahagialah karena kamu masih bisa bertemu denganku.”

Ugh, dasar narsis.

“Jadi?” sesaat setelah kami terdiam begitu lama, gadis itu akhirnya kembali membuka suara. Aku menatapnya sejenak, tidak mengerti arah pembicaraannya. Alih-alih menjawab, Jinri justru tertawa. “Jangan naïf—maaf, ya—maksudku Jongin. Kamu masih kesal padanya?”

Aku mendesah panjang. Sangat tidak menyenangkan untuk membahas masa lalu, sedangkan masih banyak hal yang lebih penting untuk dibicarakan. Sekalipun itu soal reuni, kurasa akan lebih baik. “Aku tidak kesal dengannya, kok. Sudah, tidak usah dibahas, ya? Kumohon.”

Jadi, Jinri membungkam mulutnya sampai kami tiba di rumahnya. Bibi Choi menyambut dengan hangat, memelukku erat lantas berkata bahwa dia begitu merindukanku. “Kamu semakin kurus saja. Apa Seoul tidak menyediakan makanan yang bisa membuat gemuk?”

Aku tertawa mendengar gurauannya. Meskipun lima tahun sudah berlalu, keluarga Jinri masih memperlakukanku seolah-olah aku tidak pernah pergi.

Bibi Choi memintaku untuk beristirahat di kamar Jinri sampai waktu makan siang tiba. Jinri menuntunku ke lantai dua dan kembali bercerita tentang kuliah dan pacarnya. “Yah, kadang-kadang pacarku tidak suka aku terlalu keras belajar untuk menyelesaikan S1-ku—karena di saat itulah aku mencampakkannya. Tapi, kupikir ini hidupku. Jadi kami sering bertengkar hanya karena aku keseringan belajar.”

Atau keseringan mencampakkannya. Aku tertawa karena kupikir hal itu terdengar bodoh. Dulu Jinri bukanlah gadis yang seceriwis ini, dan bukan juga gadis yang ingin berpacaran sebelum studinya selesai. Kupikir sudah terjadi banyak perubahan selama lima tahun ini.

Namun aku tak yakin hal yang sama terjadi pada Jongin.

.

Aku berbaring di karpet merah (yang tidak kuduga masih dipakai sejak terakhir kali aku ke sini) di kamar Jinri. Gadis itu sempat mengomel padaku karena tidak mencuci kaki terlebih dahulu, tapi aku tidak mengacuhkannya dan dia menyerah.

Aku menengadah tepat ketika manikku menangkap sebuah pigura di atas nakas. Aku mengangkat tanganku sedikit dan meraih benda itu. Foto kelulusan.

Aku menyunggingkan senyum sejenak, namun lekas-lekas dadaku terasa nyeri. Tidak ada yang berarti dari benda itu, tidak setelah aku teringat bahwa Jongin berada di belakangku saat foto itu diambil. Bukan apa-apa, tapi kalau aku boleh jujur, hingga saat ini aku masih kesal padanya.

Jongin terlalu banyak memberi rasa pahit dalam masa-masa SMA-ku. Dia itu si Mulut Besar Yang Brengsek. Aku tak mengelak bahwa Jongin itu tampan (benar), pintar (benar), dan bertalenta emas (tidak juga, sih). Jongin dikenal sangat mahir menari dan sudah membawa banyak penghargaan. Otaknya juga lumayan cemerlang. Dan memang kurasa setiap manusia yang terlihat sempurna seperti Jongin layak mendapat sanjungan, tapi bukan berarti dia dapat memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain, termasuk aku.

Katanya aku jelek (tidak, sekarang aku cantik, kok).

Katanya aku bodoh (tapi realitanya aku selalu meraih peringkat kedua di kelas).

Katanya suaraku seperti cicitan tikus (sudah kubilang ‘kan, dia itu brengsek?).

Aku membenci Jongin ketika dia sudah berbicara dengan mulut besarnya padaku. Satu kelas—kecuali Jinri—akan menertawakanku sementara dia mengejek. Dia baru berhenti ketika aku sudah menangis dan berlari meninggalkan kelas—tidak lagi berminat mengikuti pelajaran hingga bel pulang dibunyikan.

“Ah, rupanya kamu rindu padanya,” Jinri keluar dari kamar mandi dengan handuk yang disampirkan di pundak. Dia tampak mengerling padaku, namun aku hanya menanggapinya dengan decihan kesal. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, lantas menyunggingkan senyumnya padaku. “Aku masih ingat saat Jongin menyebutmu Sang Cicitan Tikus.”

“Sial,” aku mengumpat, “kamu terdengar seperti Jongin sekarang.”

“Kurasa dia sudah berubah.” aku terdiam mendengar ucapannya. Manusia mungkin saja berubah dari jahat menjadi baik, namun selalu saja ada pengecualian untuk Jongin buatku. Kalau Jinri tahu bagaimana rasanya ditertawakan karena Jongin, diejek karena Jongin, dan mendapatkan masa SMA yang buruk karena Jongin, kujamin dia tidak akan berkata demikian. “Aku hanya bilang ‘kurasa’, tapi tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi.”

Dadaku nyeri lagi. Mendadak aku merasa sangat lelah dan malas untuk menghadiri reuni nanti sore. “Terserah kamu saja. Aku mau istirahat.” Begitu aku mengatakannya, Jinri beringsut dari ranjang dan mempersilakanku untuk tidur. Dia menawariku untuk dibangunkan setelah beberapa jam, namun aku menolak dengan halus. “Aku bisa alarm sendiri.”

Lantas gadis itu keluar dan aku tidur.

.

Kami berangkat pukul setengah empat sore menuju tempat reuni. Awalnya aku sempat berpikir untuk pura-pura demam supaya tidak jadi ikut, namun Jinri keburu menarikku ke kamar mandi untuk bersiap-siap.

Perjalanan kami tidak memakan banyak waktu, sekitar lima belas menit menggunakan mobil. Jinri kembali berceloteh ria sementara aku hanya membuang muka ke arah hamparan sawah dan ladang di sisi kanan dan kiri jalan. Tempat ini belum banyak berubah meskipun satu-dua bangunan berdiri kokoh di lahan yang dulunya merupakan ladang dan lapangan.

“Aku sudah tidak sabar bertemu kawan lama dan guru kita dulu.” kulihat Jinri tersenyum simpul. Tidak tahu kenapa, ada kegetiran yang tersirat di sana. “Sayang sekali, kudengar Pak Ming meninggal setahun yang lalu.”

Aku sekonyong-konyong memutar kepala. Kutatap Jinri dengan sorot bertanya dan gadis itu hanya mengangguk lemah.

Pak Ming adalah seorang guru veteran yang usianya hampir menginjak kepala enam saat aku lulus. Beliau adalah orang yang ramah dan selalu mampu membuatku tersenyum ketika Jongin—dengan brengseknya—mengejekku habis-habisan.

Aku menghela napas panjang. Setelah ini, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Jongin bila bertemu dengannya.

Tapi aku selalu mengharapkan tidak.

.

Ketika kami tiba, belasan mobil dan motor telah terparkir rapi di lahan kosong dekat lapangan olahraga. Kalau tidak salah, lahan ini sering digunakan oleh klub berkebun untuk menanam sayur-sayuran dan berbagai macam bunga. Sekarang, tempat itu sepertinya dialihfungsikan sebagai taman setengah jadi (tidak bisa disebut taman juga, sih, karena rumput yang ditanam di sana tak sampai setengah lahan dan sisanya masih berupa tanah kosong).

“Nah, ayo, Soojung sayang!”

Kudapati Jinri sudah keluar dari mobil dengan semangatnya sementara aku masih diam di tempatku. Gadis itu berjalan memutar, lantas membuka pintu di sampingku dan menarik lenganku dengan sentakan yang lumayan.

“Soojung, ayolah. Kita sudah dewasa.”

Kuresapi kalimat Jinri, namun otakku rasanya bekerja dengan sangat lamban. Aku tahu gadis itu sedang berusaha menyurutkan rasa gugupku akan Jongin. Namun sama saja, aku masih gamang dan enggan jika harus bertemu dengan pemuda itu.

“Hei, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Soojung. Setidaknya, masuklah sebentar. Anggap saja kamu datang untuk teman-teman yang lain.”

Bahuku terkulai sejenak sebelum kutegakkan kembali. “Oke,” dan setelahnya aku mengikuti Jinri masuk ke ruang reuni.

Jinri bertegur sapa dengan beberapa kawan lama sementara aku hanya membuntuti dari belakang. Beberapa orang menyapaku, namun hanya kubalas dengan seulas senyum dan anggukan kecil.

Tak lama, Jinri menghampiriku dengan wajah tertekuk. “Hei, membaurlah dengan yang lain. Kamu terlihat seperti anak yang mengekori ibunya daripada Jung Soojung yang sedang reuni. Nikmati saja.”

Jinri lantas pergi dan bercengkerama bersama sekelompok gadis di dekat jendela. Seharusnya tidak kuputuskan untuk datang sejak awal. Tempat ini hanya membuatku merasa sesak. Aku kenal sebagian dari mereka yang hadir begitupun sebaliknya, namun aku paham bahwa acara ini dibuat sekadar untuk formalitas saja. Kami hanya cukup saling menyapa, makan, lalu pulang.

“Hai, Miss Jung.”

Aku menghentikan langkahku tepat di depan meja hidangan manis tatkala seseorang menginterupsiku. Entah kenapa pannacotta yang tersaji tepat di depan mataku ini jadi terlihat seperti bubur basi. Aku menarik napas panjang, namun tenggorokanku seolah tersekat dan atmosfir di sekitarku berubah menjadi begitu sesak. Aku berbalik. Mendapati seorang pemuda berkulit tan dengan senyum lembut yang terpatri di wajahnya.

Aku terhenyak. Jantungku seolah diremas dan dihujam berkali-kali.

“Kamu… Kim Jongin?”

.

Selama lima tahun sejak lulus SMA, aku bersyukur karena perlahan-lahan aku mampu melakukan perubahan terhadap diriku sendiri. Dulu aku termasuk gadis yang cupu dan—eh—jelek. Semenjak pindah ke Seoul, ibuku lebih memperhatikanku dengan sering mengajakku melakukan perawatan wajah. Sekarang aku cantik (serius, saat kau bertanya siapa Jung Soojung pada, misalnya, Choi Jinri, dia akan menjawab ‘Soojung sahabatku? Yang cantik itu?’ walaupun kedengarannya memalukan).

Aku yang dulu pemalu sekarang jauh lebih percaya diri. Masuk ke perguruan tinggi menuntutku untuk berani unjuk diri di depan banyak orang. Karena kalau tidak, aku akan berakhir seperti ketika aku di SMA. Menjadi seorang pecundang.

Kendati begitu aku membenci tiga hal dari diriku yang nyatanya tak mampu kuubah: 1) pertahanan diriku yang lemah, 2) kehadiran Kim Jongin yang membuat nyaliku ciut, dan 3) rasa minderku karena—tidak tahu kenapa—aku menganggap diriku lebih rendah dari Jongin.

Bahkan ketika pemuda itu memintaku untuk ikut dengannya ke bukit belakang sekolah, aku tidak mampu menolak.

Langkah Jongin agak tertatih saat kami berjalan ke sana. Entah karena pemuda itu yang bermasalah atau memang jalan berbatu yang kami lalui agak menyulitkannya.

Kami duduk bersisihan di atas rerumputan yang mengembun. Tidak ada konversasi hingga bermenit-menit kemudian, dan kami agaknya tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Aku memandang matahari yang bergerak pelan menuju ufuk barat. Sebenarnya, kalau kau mengira kami sedang menyaksikan matahari tenggelam, kau salah besar. Langit masih cerah meskipun rasanya tak seterik siang hari.

Aku melenguh kecil. Kulirik Jongin melalui sudut mataku dan kudapati pemuda itu tengah menengadah. Barangkali memandangi langit, awan, atau sedang mencari apakah ada burung yang akan buang kotoran tepat di wajahnya yang—eh, aku sendiri enggan mengakuinya—tampan.

“Bagaimana pekerjaanmu?”

Kudengar Jongin bertanya dengan suara lirih. Aku hanya membalas singkat, “Lancar.”

“Kudengar kamu juga menjadi penyanyi untuk beberapa acara,” ujarnya kemudian.

Aku hanya diam, lantas mengangguk. Jongin yang sekarang rasanya agak berbeda dengan yang dulu. Tidak ada nada mencela ataupun mengintimidasi, namun aura menjengkelkan masih lekat padanya. Ingin kutimpali ucapannya dengan sedikit berbangga diri, namun aku mendadak enggan. “Hanya sekali-kali di hari libur. Kantor tidak mengizinkanku untuk keluar di hari-hari kerja,” aku menegakkan bahuku. Bercakap dengan Jongin masih membuatku merasa tak nyaman. “Lalu—ehm—bagaimana denganmu?”

“Aku sedang mengejar S2 sambil membantu ayah mengurus usahanya,” kudapati rasa kecewa tersirat dalam kata-katanya. Jongin menghela napas panjang, lantas melanjutkan, “jalanku untuk menjadi seorang dancer makin sempit akhir-akhir ini.” Lalu pemuda itu tertawa.

“Haha, lucu sekali,” ujarku ketus. Suaraku sedikit serak ketika mengucapkannya.

Aku tidak tahu seberapa kejam kedengarannya, tapi kemudian kudapati mata Jongin sedikit membola.

Sesaat aku merasa mual seolah ada yang ingin aku muntahkan. Omong kosong, umpatku. Hampir selama tiga tahun Jongin tertawa di atas rasa maluku, dan sekarang dengan tanpa dosa dia berlagak sok merendah.

“Jangan hanya karena kamu sempurna, kamu masih bisa mengendalikan keadaannya seperti lima tahun lalu. Tidak, Tuan Sempurna. Tidak sama sekali,” aku menggeleng kuat. Menjumputi rumput-rumput di bawahku dan berharap itu bisa meredam emosiku.

Aku memang sangat berharap suatu saat mampu membanggakan diriku di depan Jongin dan membuat pemuda itu menampakkan wajah dungunya karena merasa kalah. Bukan mengalah seperti ini.

“Aku tidak terlalu terkejut, sih,” ujar Jongin kemudian. Suaranya terdengar santai seolah tidak akan jadi masalah sekalipun aku memakinya hingga pita suaraku rusak. “Mau kuberitahu satu hal?” Jongin kembali menatap ke langit. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Kali ini aku merasa benar-benar muak.

Aku bergegas menarik tas selempangku dan hendak meninggalkan Jongin, tidak peduli dengan apa yang ingin dia katakan, namun aku hanya membisu ketika Jongin menyingkap celana yang digunakan hingga selutut. Tidak ada yang aneh, kecuali kakinya yang terlihat jauh lebih mengkilat dan seperti—

—plastik?

“Tiga tahun lalu aku kecelakaan. Bisa dibilang parah. Dua dari empat temanku meninggal,” pemuda itu tersenyum getir. Kurasakan jantungku seperti diremas. Pandanganku sejenak mengabur. “Aku selamat, namun dengan kondisi kaki kananku yang harus diamputasi.”

Oh, apa ini sebuah lelucon? Bagus, Jongin membuatku semakin membencinya. Aku diam selama beberapa menit. Angin berembus pelan. Anak-anak rambut pemuda itu beterbangan dengan lembut. Entah kenapa dia tidak terasa seperti Jongin yang dulu. “Jangan bercanda,” aku menunduk.

“Terserah, deh,” Jongin mengendikkan bahunya. Aku mendadak kecut. Aku merasa bersalah namun sangsi. “Hidup itu lucu ya? Rasanya baru kemarin aku mengejek suaramu, tapi sekarang semesta yang mempermainkanku.”

Aku mendesah. Jinri benar. Jongin sudah banyak berubah. “Itu… bagus,” kataku dan Jongin tersenyum tipis. “Kamu harus tahu rasanya menjadi diriku yang selalu kamu ejek.”

“Jangan marah. Aku tidak pernah serius soal itu,” katanya kemudian. Dia mengerling padaku. Memberikan kode bahwa dia agaknya tidak menganggap perlakuannya dulu padaku sebagai perkara besar. “Aku minta maaf.”

Aku lekas-kelas memutar leher. Jongin tampak santai. Tangan kanannya menjumput rumput di samping kakinya, lantas mengulurkannya padaku. “Tidak ada bunga di sini, jadi anggap saja sebagai tanda permintaan maaf.”

Sialan, aku menggerutu dalam hati. Jongin tidak banyak berubah. Masih seenaknya. Namun, kali ini aku merasakan sesuatu menghangat dalam tubuhku. Kuterima rumput itu, kemudian berkata, “Oke.”

Aku tidak percaya seorang Jongin mengucapkan kata maaf, namun aku jauh lebih terkejut saat menyadari bahwa aku menyetujuinya. Salah satu hal yang tidak kuharapkan adalah berurusan dengan Kim Jongin, namun perkataan Jinri kurang dari enam jam lalu membuatku sadar akan satu hal.

Setiap orang bisa berubah. Termasuk Jongin. Kedengarannya memang menggelikan, tapi harus kuakui itu.

Lagi, Jongin tersenyum. “Jadi, kita baikan, nih?”

“Mungkin,” aku mengendikkan bahu.

Matahari benar-benar hanya menyisakan setitik kecil ketika Jongin tertawa padaku, sementara aku membayangkan bagaimana reaksi Jinri ketika tahu bahwa kami sudah berbaikan.

.

.

.

Fin.

Catatan kaki:

Terakhir kali (dan pertama kalinya)  saya menampakkan diri adalah awal semester gasal tahun lalu, itupun dengan nama pena SpringSabila. Artinya saya sudah sangat lama nggak posting apapun sejak itu. Sedih😥

Fiksi ini saya buat beberapa bulan lalu, tapi saya abaikan setelah 70% jadi karena kesibukan sekolah. Baru saya revisi akhir-akhir ini, jadi harap maklum kalau banyak typo dan ending yang maksa.

Hooo, saya termasuk yang pasif di sini, jadi, silakan buat yang mau tendang atau cubit atau beliin saya Dear Nathan, saya ikhlas😄

Akhir kata, terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca! Kritik dan saran sangat diterima!😉

Salam hangat,

Tazkia.

 

10 thoughts on “[Vignette] Change”

  1. Hai (kak?) Tazkia! Dhani di sini hehe. Aku baca baca ifk lagi nii (yey!) setelah sibuk un wkwk. Aku baca ceritamu ini keren, menghibur. Bahasanya enak, ngalir dan nggak bikin otak berasap. Dan soal jongin dan kaki plastiknya itu…..ga nyangka aja! Ga nyangka!

    Sekian dulu aja cuapku di sini. Tetep nulis keceh kaya gini ya! Tetep berjuang walopun aku yakin banyak siders yg bikin jengkel tp isokei islop❤

    Suka

    1. Hai! Tazkia di sini (anyway, saya dari garis 00, jadi sepertinya nggak perlu pakai ‘kak’). Serius? Terima kasih sekali! Saya memang nggak terlalu menonjolkan soal kaki Jongin dan apa yang terjadi sama dia setelah lulus SMA, karena yang saya fokuskan di sini adalah soal perasaannya Soojung.

      Ho, tenang saja. Saya menulis karena saya suka, dan soal silent reader sebenarnya juga bukan masalah besar. Sekali lagi terima kasih!❤

      Suka

  2. Aku suka ceritanya, jadi keinget in a blue moon’nya Ilana Tan *maklum itu novel yg baru abis aku baca 😂😂😂😂
    Walau cuma friendship tapi aku suka, bahasanya ngalir 😆 dan feelnya dapet,,

    Suka

    1. Hai! Wah, saya malah belum baca novel yang kamu sebut itu😀 well, saya nggak benar-benar yakin feeling-nya tetap bisa sampai ke pembaca secara konsisten, karena fiksi ini tertunda sangat lama pengerjaannya :’D tapi terima kasih banyak untuk review-nya!🙂

      Suka

  3. oh ternyata jonginnya udah diamputasi, astaga… rada nyesek sih, dan paragraf pembukanya sedikit *sedikit lhoya* kepanjangan menurutku hehe. tapi gapapa, itu memancing rasa penasaranku dg baik, trs hahaha tanda maafnya rumput… anak2 bgt si jongin :p
    keep writing!

    Suka

  4. Halo Kia…

    Cukup terkejut juga kalo kakinya Jongin udah diamputasi. Yah, pantes saja doi gagal jadi penari profesional.

    Ceritanya terlihat natural dan saya suka pesan dalam cerita ini. Setiap orang akan selalu berubah, bukan?

    Intinya, terima kasih untuk ceritanya hehehehe

    Disukai oleh 1 orang

    1. Inisumpahkakandriya ._.

      Oot bentar ya, Kak. Aku kaget masa ada nama Kakak di notifikasi. Duh, kayanya sudah lama banget nggak lihat nama Kakak di wordpress :’)))

      Iya, pesannya hanya jangan terlalu terpaku dengan masa lalu dan mengabaikan semua kemungkinan yang ada. Aku yang harusnya berterima kasih karena Kakak sudah berkenan baca dan memberi komentar 😊

      Suka

  5. Baper kak bacanya, tapi sedih jongin kudu di amputasi huhuhu. Kayanya keren kalo ada sequelnya nih
    Oh btw, dear nathan kece tapi mahal ya:(

    Suka

    1. Terima kasih sekali! Haha, iya. Nggak apa, lah. Ini juga buat memberikan semacam “kejutan” buat Soojung atas semua persepsinya.

      Tapi saya pernah kok nemu ada yang jual cuma Rp75.000,00 (olshop, sih).

      Terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s