[Oneshot] Paradise Within Thee

pwt

a KPop fanfiction by Liana D. S.

EXO Suho x Red Velvet Irene x EXO Lay (as Rei)

Spiritual, Romance, Drama, Oneshot, Teen and Up (PG-17)

Crossposted here as Suho’s birthday event entry.

.

Di hari aku menginjakkan kaki ke duniamu, aku terlahir kembali.

***

Irene.

Pada perempuan itu, Suho menemukan dirinya yang lain. Dari saat Irene membuka mata di surga sana, mengatakan ‘aku seorang wanita, tak kutahu siapa namaku’, tergetarlah hati Suho dengan amat lembut, bagai petikan dawai yang tidak ketahuan jika tidak berbunyi. Irene—‘Kedamaian’—menenangkan jiwa siapa-siapa yang dekat dengannya, sesuai namanya, dan mengguncangkan jiwa itu andai ia menjauh. Maka, menerabas batas anugerah dan dosa, Suho mengikuti Irene memetik Buah Keabadian dari satu pokok nirwana, menggigit buah tersebut penuh kenikmatan seraya menenggelamkan diri dalam manik hitam si perempuan.

Namun, kini Irene, yang sekian menit lalu masih menganggap Suho sebagai penyelamat, berbalik memandang Suho sebagai ancaman.

“Hatiku sakit kautatap begitu, Irene,” ujar Suho beriring senyum, “Ayolah, kita harus segera pergi. Ivalice akan musnah dan kau sudah setengah jalan menuju kota baru di mana kita bisa tinggal dengan aman. Mengapa kau meragu?”

“Suho, lepaskan!” Irene bersikeras memberontak, “Lebih baik aku tidak pergi daripada meninggalkan Rei!”

“Benarkah?” –Seketika Irene menjerit; pergelangannya yang dicengkeram Suho terbakar— “Sayangnya, aku tidak akan melepaskan tangan ini lagi.”

“Suho … uhuk, makhluk laknat, lepaskan Irene!”

Demi mendengar suara parau tak jauh darinya, Suho berpaling, memandang remeh pria malang berpenyakit yang bahkan tak sanggup menyangga tubuh di atas dua kaki sendiri. Mengagumkan bagaimana pria itu—Rei—dengan nyawa yang tinggal sekian jengkal masih berani mengutuknya.

“Hai Manusia Suci,” Suho menghampiri Rei, “tak perlu susah-susah mengusahakan kembalinya istrimu. Dia boleh meronta-ronta dariku saat ini, tetapi kelak, dia akan menodai kemuliaanmu dengan dosa-dosanya. Aku bisa menyaksikannya menggunakan paras ayu itu untuk menggoda laki-laki lain di masa depan. Lagipula, bukankah kau sebentar lagi akan mati?”

Tendangan Suho pada Rei menutup kalimatnya, lalu ditariknya Irene dalam dekapan. Sebelah tangan Irene gagal menghalangi Suho membelai pipi pualamnya.

“Aku tak habis pikir, bagaimana kau mencintai parasit sekarat seperti Rei jika yang senantiasa membahagiakanmu adalah aku?” Berlagak tak berdosa, Suho memiringkan kepala, “Kau pasti ingat apa yang kulakukan untukmu sejak kita bertemu kembali, kan?” –Tentu Irene ingat: Suho mencegahnya menjual rambut yang menjadi harta terakhirnya untuk membiayai hidup, Suho menjadi satu-satunya yang bersedia mempekerjakannya sebagai pelayan walaupun seluruh Ivalice bilang ia ‘tertulari’ penyakit Rei, dan Suho juga memberinya banyak hadiah— “Bahkan ketika desa di ambang kehancuran, aku masih memikirkan keselamatanmu, Irene. Tidakkah kau tersentuh barang sedikit?”

“Tidak akan!” teriak Irene hingga tubuhnya gemetar, “Biar berkali-kali kita mati dan hidup lagi, aku tidak akan jatuh dalam perangkapmu, Iblis!”

“Aduh, ngilu sekali,” tawa Suho, “Teganya kau memanggilku dengan nama yang sangat tak kusukai itu. Aku bukan iblis, Irene, melainkan malaikat tertinggi yang dicipta dari api nafsu oleh Tuhanmu. Sebagian besar dirimu, akuilah, merupakan nafsu yang gelap-gelap nan menyesatkan. Aku dengar degup jantungmu yang sarat hasrat kala dirimu menuangkan susu dalam bak tempatku berendam satu hari. Kau sebetulnya ingin melihatku, menyentuhku, padahal Tuhanmu jelas memerintahkanmu untuk menjaga diri. Kau gagal, tahu mengapa?”

Dari kejauhan, samar doa Rei tertangkap rungu Suho, memohon perlindungan dari godaan ‘makhlukMu yang terkutuk’. Lucunya, tidak ada yang terjadi. Suho tidak mati. Irene belum mampu beranjak darinya. Di belakang mereka, Ivalice—yang hati seluruh penduduknya telah ditaklukkan bala tentara Suho—tetap kacau balau. Jika Irene dan Rei yakin Tuhan mereka ada di mana-mana, lalu apa alasanNya tidak menghentikan bencana yang Suho picu?

Telunjuk Suho menaikkan paksa dagu Irene. Senyum sang malaikat api berubah miring, angkuh.

“Kau bukan manusia pilihan layaknya Rei. Perlindungan khusus dari Tuhan tidak ada padamu, maka kau, sebagaimana manusia-manusia rusak di desamu, harusnya tidak luput dari rayuanku. Bukan Rei belahan jiwamu, tetapi aku, jadi jangan lari lagi.”

Irene menggeleng cepat, tetapi Suho lantas menahan dagu wanita muda itu dan melumat bibirnya ganas. Bagai candu, tak bakal puas Suho menyesapnya sekali-dua kali. Tidak percuma Suho melewati beberapa putaran inkarnasi dalam kepedihan kalau akhirnya dapat menjamahi wanita ini. Biar kenyataannya Irene tercipta dari sepotong rusuk Rei, Suho merasa utuh ketika mencecap rasa di mulut Irene, begitu intim, begitu familiar, padahal tidak pernah Suho menanam kenangan di wilayah tersebut.

“Jawab aku,” bisik Suho, “Di mana Tuhanmu, Sayang?”

Dan, tentu saja, kekejian Suho tidak memberi kesempatan Irene bicara. Perempuan itu mengerang, menggeliat resah, merasa bersalah membiarkan dirinya disentuh lelaki lain di hadapan suaminya. Ya, suaminya sendiri, yang melawan letih demi menyuguhkan senyum penuh syukur saban hari, yang tiada berucap kecuali demi menyembuhkan nuraninya, yang menganggap musibah adalah hadiah penguat iman dari Tuhan. Kesepian Rei menjadi awal hidup Irene, bahkan namanya pun Rei yang menyematkan. Melalui Rei pula, Tuhan menjaga Irene hingga dirinya terus berada di jalan kebenaran.

Irene mencintai Rei dan membenci Suho.

Tapi … benarkah demikian?

Sebab bohong kalau dibilang Irene rela membiarkan kehangatan yang menyapu bibirnya ini berlalu begitu saja. Sentuhan Suho menyulut rasa yang seharusnya hanya boleh dinyalakan Rei seorang. Kebaikan Suho di masa silam, yang sebelumnya telah disebutkan, juga amat bermakna buat Irene, apalagi saat itu, Irene belum mengetahui identitas asli Suho. Apa pun motivasi sang malaikat api menolongnya, itu tetaplah sebentuk pertolongan yang menegakkan tubuh ringkih Irene manakala semua orang justru menjatuhkannya. Termasuk Rei yang tidak berbuat apa-apa selain berbaring dan berdoa, secara tidak langsung menyebabkan semangatnya runtuh perlahan-lahan.

Suho mengisap satu napas dari Irene sebelum memutus ciuman mereka. Alangkah gembiranya ia menemukan penyesalan di mata Irene ketika membalas tatapan Rei. Si perempuan terduduk lemas di atas tanah, sedangkan sang lelaki terkapar mengenaskan dengan jalur-jalur air mata pada pipi tirusnya.

“Pembalasanku hampir sempurna,” Jemari Suho menyusuri tepian wajah Irene dari belakang, “Menyedihkan ciptaan Tuhan yang satu itu, iya kan, Irene? Dia, yang dulunya dielu-elukan akan menjadi pemimpin dunia, sudah kehilangan kejayaan. Ingat aku bagaimana Tuhan menyuruhku menghormat padanya, padahal kau tahu dia itu apa? Segumpal tanah. Api bisa hanguskan dia. Akal pemberian Tuhanmu pasti membenarkan penolakan yang membuatku terusir dari nirwana itu. Bahkan sumpahku menyesatkan seluruh umat manusia agar menjadi kawanku di neraka bukan sebuah kesalahan.

“Tapi, Irene, aku tidak butuh surga. Kaulah surgaku. Aku heran bagaimana dari tanah yang sama, makhluk yang Dia cipta bisa demikian berbeda; Rei rendah sementara kau begitu indah. Detik itu juga, aku memutuskan bahwa kau milikku. Kau mulia, tidak perlu merendah pada Rei semata karena kata ‘istri’ yang melekatimu, tetapi kau begitu tergila-gila pada Rei hingga apa pun bujukanku tidak kautanggapi, meski dirimu ingin tahu bagaimana rasa Buah Keabadian beraroma menggiurkan itu. Jadi, aku bersumpah atas nama Tuhanmu di hadapan kalian berdua bahwa buah itulah anugerah terbesar dari surga. Rei mengambil buah itu, menyangka aku tidak bisa bermain-main dengan nama penciptanya, dan kau mengikutinya. Mengikutiku melalui tindakannya, lebih tepatnya. Itu keberhasilan pertamaku mengajakmu, sekaligus yang terakhir, sebab di setiap inkarnasiku, kau senantiasa mengikuti jalan lurus Rei yang penuh kekangan.

“Pahamilah sakitku ini, wahai Wanita Surga. Hidup-matiku sebelum dan sesudah ini masih untukmu. Bandingkan dengan Rei yang mencintaimu hanya demi memenuhi perintah Tuhannya. Selain itu, ingat, kau bukan manusia bersih; kau sekadar boneka bagi keinginan-keinginan duniawi, tak patut bersanding dengan Rei, jadi pasrahkan jiwamu padaku supaya kau terputus dari segala nyeri.”

Belaian Suho tidak Irene tepis, kisah ‘pahit’ Suho tidak Irene lewatkan sedikit jua, dan hanya raganya yang menggigil sehebat goyahnya pendiriannya.

“Tidak usah dihiraukan … Irene ….”

Permohonan Rei terpatah-patah; apakah itu disebabkan napasnya yang nyaris habis maupun sesak dadanya menyaksikan sang kekasih direngkuh iblis, tidak penting bagi Suho. Sebetulnya, Suho ingin sekali langsung menuntaskan Rei, tetapi bukan gayanya membunuh makhluk yang tidak bisa memberikan perlawanan. Ia menunggu mukjizat memulihkan kekuatan Rei supaya pertarungan mereka seimbang. Dengan begitu, kebanggaannya setelah mengalahkan Rei akan lebih besar. Maka, ia dengarkan saja nasihat-nasihat terbata Rei biarpun ia yakin itu semua tak akan menjangkau kalbu Irene.

“Apakah kau sungguh-sungguh menganggap cintanya murni? Ia mencintaimu lebih besar dari mencintai Tuhan, lalu menurutmu, cintakah itu, Irene, ataukah berahi? Ingatlah siapa yang meniupkan ruh dalam badanmu, yang menuntun kita berdua pada cahaya, yang mengampuni kita usai kita berbuat dosa tak termaafkan.

“Suho benar soal aku yang bukan pecinta terbesarmu,”  Rei meneguk ludahnya sulit; terbayang betapa terlukanya ia tatkala menyampaikan ini, padahal cintanya pada Irene tak kurang-kurang, “tetapi dia juga bukan kekasih sejatimu. Yang Maha Pengasih-lah pecintamu, maka tetaplah berada dalam naunganNya, Irene.”

Suho masih tampak tenang ketika menyibak seikal rambut yang menutup telinga Irene. Dikecupnya cuping lunak peka itu dengan bibirnya yang panas sebelum melanjutkan.

“Oh ya, kau kan belum menjawab pertanyaanku tadi. Di mana Tuhanmu, Kasihku? Rei barangkali tahu.”

Remuklah hati Rei ketika kemudian, dengan muram dan putus asa, Irene berkata:

“Ya, Rei. Di mana Tuhan kita? Andai Dia memang Maha Pengasih, ke manakah tanganNya yang harusnya menolong kita? Mengapa Dia membiarkan kita terus miskin, sakit berkepanjangan, tak punya putra, dan terusir dari Ivalice? Doa yang kita panjatkan sepanjang waktu, tibakah di singgasana agungNya?”

Dari mulut seseorang yang percaya kehadiranNya, mustahil akan terlontar tanya tak perlu semacam ini. Kata-kata Irene menjadi petunjuk bagi Suho bahwa dirinya telah menggenggam hampir seluruh diri si perempuan dan kesempatan Rei yang sudah kecil terus mengecil lagi. Namun, sebagaimana mestinya manusia pilihan, tiap embusan napas Rei memuat pelita yang sangat mungkin menelan kegelapan dalam jiwa Irene.

“Semoga Tuhan mengampunimu, wahai kekasihku. Dia masih ada di dekatmu, bahkan lebih dekat dari Suho, menunggumu menyambut uluran tanganNya,” Pahit dan manis melukis kurva tipis di bibir Rei bersamaan, “Kesakitanku, deritamu, doa-doa yang seolah tak terjawab itu, kesemuanya adalah ujian karena surga bukan tempat untuk sembarang makhluk.”

“Ya, surga adalah rumah bagi mereka-mereka yang mau melayani Tuhanmu, Rei, tetapi aku—kami,” –Suho merujuk pada dirinya dan Irene sebagai kesatuan selagi membopong raga lunglai Irene—“tercipta untuk berkuasa. Dan, karena aku sudah muak dengan semua ini, bolehkah sekarang kami pergi ke istana baru kami?”

Ketika Suho berbalik, nama Irene meluncur getir dan berulang dari Rei yang berjuang bangkit. Sekepal tanah dalam genggaman pria itu menjadi bukti keras usahanya, tetapi tidak ada ancaman berarti darinya untuk Suho, tidak pula perlawanan dari Irene. Mudah sekali pertarungan ini kumenangkan, batin Suho, tanpa mempedulikan Ivalice di baliknya yang porak-poranda dan sepenuhnya mati, perlahan tertelan ke dalam Bumi. Eksistensi dunia melebur menuju kehampaan, bagi Suho hanya ia dan Irene yang nyata. Ia rasai bara dalam dada Irene menyebar perlahan—api yang sama dengan yang membangun istananya, juga yang menyusun tiap inci jasmaninya. Irene, akhirnya, akan menjadi bagian dirinya.

“Suho ….”

Yang dipanggil memandang Irene gembira; tak pernah namanya terdengar sebegitu manis di ujung lidah Irene.

***

“Aku berlindung pada Tuhan dari iblis terkutuk yang membisikkan dosa ke dalam dada manusia. Tunjukkanlah jalan lurus yang Kau berkati, ya Tuhan, dan bukan jalan mereka yang Kau murkai.”

***

Tanpa sengaja, Suho menjatuhkan Irene, membiarkan tubuh mungil itu jatuh berdebam di atas tanah. Sang iblis mengangkat lengannya—mereka terbakar. Dipandangnya kedua kakinya, mereka menyala. Panas menenggelamkannya, sementara Irene berlari sekuatnya dengan tungkai yang masih lemas sebelum ditangkap kedua lengan Rei.

Oh, Rei kini sudah berdiri tegak. Di sebelah kakinya, memancar air jernih yang kemungkinan besar merupakan sumber penyembuhannya.

Ini adalah putaran inkarnasi terakhir Suho, padahal.

Dan Irene masih sanggup bebas dari jeratnya.

Ah, Tuhan memang selalu punya rencana. Mengapa Suho tidak terhukum lebih awal, mungkin itu karena Dia mempersiapkan hukuman yang lebih buruk. Apa yang lebih buruk dibanding orang yang kaucintai, menghendaki musnahnya dirimu? Doa Irene-lah kunci kelenyapan Suho sebab nafsu Irene—yang merupakan inti hidup Suho—telah terjinakkan hingga titik terendah.

Jadi, beginilah akhirku. Alangkah pedihnya.

Tatapan nanar Rei menembus jantung Suho yang setengah hangus dan seketika, Suho memahami bahwa manusia, boleh jadi, sedikit lebih mulia dari iblis. Manusia sesuci Rei pun sesungguhnya tak lepas dari hasrat, apalagi manusia dari golongan tak istimewa sejenis Irene …

… tetapi pada tangis Irene dan keteguhan Rei, terdapat keimanan yang senantiasa siap menyelamatkan dari jilatan api neraka. Ada pergolakan yang mesti manusia menangkan buat menggapai surga. Suho dan bala tentaranya mengalahkan mereka di sebagian besar waktu, meskipun selalu ada manusia-manusia seperti Irene dan Rei yang tertolong setelah diombang-ambing ombak dahsyat.

Tak acuh pada api yang membunuhnya, Suho mengulas senyum perpisahan. Belum ia terima keagungan Tuhan, kelebihan manusia, dan kehebatan Rei …

… kecuali kau, Wanita Surgaku; kau masih luar biasa.

TAMAT


ehm… ehem. test.

sebelumnya, author meminta maaf jika ini ff yg terlalu keras buat sebagian pembaca.tapi sungguh, di sini saya hanya ingin memvisualisasikan pergolakan yg tiap hari kita hadapi sebagai manusia especially kalo godaannya semenawan suho. plus, saya ingin bereksperimen dgn beberapa hal yg sblmnya ga pernah saya coba, yaitu suho as antagonist, villain POV, dan cinta segitiga. hope i don’t offend anyone T.T  perlu diingat bahwa walaupun kisah ini mirip sama beberapa kisah dalam kitab2 agama2 tertentu, tapi ini tidak bersetting di dunia kita yg sesuai dgn kitab2 tsb.

10 thoughts on “[Oneshot] Paradise Within Thee”

  1. hai kak liana! masih ingat aku? aku tertarik baca setelah ngeliat ada nama suho sama irene. juga ada kata spiritual di kategori genre. fiksi kakak baguuuus banget. aku waktu baca hampir tahan napas. apalagi waktu tau suho itu cinta mati (atau terobsesi?) sama irene yang notabenenya adalah istri orang ((juga suho yang ternyata iblis wkwkwk))
    aku suka baca fanfik yang plotnya gini, kayak ada angel, demon, or something like that. seru gitu kak bacanya hahaha. nice fic kak! kalau tombol like bisa aku pencet berkali-kali, udah aku pencet ratusan kali daritadi😦 keep writing ya kak liana, aku selalu suka karyanya kakak❤

    Suka

    1. iya inget kok😄 first commenter after a century astagaaaa terima kasih banyak kuucapkan.
      trs ya kok tumben2an org dtg stlh baca nama suho, biasanya yg ngundang itu malah nama irene ehe. iya sekali2 dibikin demon lah masa cheonsa melulu biar muka cheonsa hati boleh lah sekali2 dibusukkan *apa *ampun leadernim.
      sekali lagi thanks udah baca fiksiku!😄

      Suka

  2. O MAI GAT INI APA

    Sumpah ini udah berhari hari aku liat di readers aku, masih belom aku liat aja. Akhirnya di pagi hampir siang yang sempi nan membosankan banget ini aku baca sumpah demi apapun ini keren banget kalianaaa

    Aku kayak, bahkan iblis aja bisa ya kaya gitu, soalnya aku ga pernah kepikiran gitu iblisnya bisa suka sama orang sampe setulus itu perasaannya. Tapi aku ngebayangin lay sama suho rebutan cewe yang sama itu kok rasanya ngilu ya dada aku, udah bang gausah berebut, satu sama aku aja sini;;;(

    Suka banget kaliana seriusan. Fighting yaa buat ff selanjutnyaa~
    Zyan

    Suka

    1. hahaha sebenernya suho juga ga tulus2 amat dia kan iblis jadi resek aslinya gangguin lay-rene terus :3 bhaks iya sulay itu sama2 tinggi tempatnya di bias list aku tapi tinggian mas dae sih aslinya ufufufu. makasih ya zyan udah mampir ^^

      Suka

  3. Kak lian ini kereeenn/TOPBGT/acungin4jempol
    ga kebayang wajah cheonsa Suho berhati Demon!! Dan ini mengingatkanku pda berbagai kisah berbau ‘religius’. Tapi ttep aja,selembut lembutnya Suho diakan Iblis,mana ia cintanya murni,yg ada nafsu yg ketaramah.
    Keep writing kak lian!! *ehh emang lahiran berapa ka?! Aku Ai,95line.salam kenal^^

    Suka

  4. Kak lianaaa (lagi-lagi) gimana bisa punya ide kaya gini yaampun ini super exactly amazing job dan kata-per-katanya itu sumpah aku literally speechless yg jadi bikin … ah ngga tahu harus berkata apa lebih-lebih pas Rei bilang: “Suho benar soal aku yang bukan pecinta terbesarmu.” YaAllah kenapa aku jadi baper sekali 😂 (maafin kealayan aku kak li, oke aku stop sekarang).
    Keep writing semangat terus kak lianaa❤❤

    Suka

  5. waaaahhhhhh.. ini kereeeeennnnnn>< aku sebenernya bukan shipper Suho-Irene. tapi seneng baca fanfic mereka. duh, intinya suka banget ama fanfic ini. bahanya emang agak berat buat otak lemotku kkk… cuma tetep dapet kok intinya gimana. good job🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s