[VIGNETTE] Bonjour, Bizzare

Hello, Weirdo

by jojujinjin (@sanhaseyo on Twitter)

.

starring BTS’s Jungkook and TWICE’s Mina (idk i just feel dat they would look good 2gether)

Vignette // T // this is basically just a cup of school-life romance faiLED FLUFF IM SORRY

.

A cute girl here just confessed back to me, my entire life has been made!

***

“Mana sih….” Mina menggerutu.

Jemari Mina meraba deretan buku baris pertama dari atas sekali lagi, sebelum ia menyerah dan berpindah ke baris kedua. Kepalanya sudah tidak terlalu mendongak seperti tadi.

Bibir Mina melafalkan judul buku di hadapannya satu per satu. Sampai akhirnya ia tersenyum sumringah.

“Ketemu!”

Meski perlu berjinjit lebih tinggi lagi, Mina akhirnya menggenggam buku yang sudah dicarinya sejak sepuluh menit yang lalu itu. Ia membersihkan debu yang menempel di sampul buku tersebut, lantas berbalik dan—

Brukk!

Mina menabrak sesuatu, namun syukurlah ia tidak terjatuh. Ia merasakan seseorang berdiri sangat dekat dengannya.

“Hai.”

Mina—yang entah sejak kapan menutup matanya—mengerjap beberapa kali. Dengan buku yang kini berada di dadanya, direngkuh erat, Mina menatap sosok pria yang agak lebih tinggi darinya. Yang barusan ditabraknya.

Bukan, bukan pria dengan rambut cokelat tersebut yang pendek. Melainkan Mina lah yang memang tingginya ‘agak’ di atas rerata wanita.

“Kamu lumayan tinggi, ya—“ sosok tersebut menyempatkan diri untuk melihat name-tag Mina. “—Mina.”

Mina mengerjap lagi. Menggaruk kepala bingung, ia tersenyum kecil.

Mm, t-terima kasih?” jawab Mina ragu.

Pria itu mengangguk, mengucap sebuah ‘sama-sama’.

“Aku jadi tidak bisa mengambilkan bukunya seperti di film-film romantis.”

Mata Mina membulat sempurna.

“A-apa?”

Pria itu tersenyum, lekas melangkah mundur. Melambai dengan sepasang netra sibuk mengamati Mina yang salah tingkah di tempatnya berdiri.

“Tapi yang penting kau sudah mendapatkan bukumu.”

Mina menemukan dirinya terpaku di sana, bahkan sampai Jungkook—tertulis di dada kanannya, Mina menyempatkan diri melihat—hilang ditelan pintu perpustakaan, Mina masih saja diam.

Butuh waktu lebih kurang satu menit untuk Mina mengerti sepenuhnya maksud Jungkook, dan seharian … ia jadi tak bisa berhenti memikirkannya. Memikirkan sosok yang kehadirannya cukup mengagetkan tersebut.

Jeon Jungkook.

.

.

.

.

Besok paginya upacara.

Mina, yang berdiri beberapa meter dari baris paling belakang dengan rompi red-cross membalut seragamnya, sempat mencuri obrolan dengan teman di sampingnya sampai seseorang menarik lengan kirinya.

Kepala Mina tertoleh kaget.

Dan ia jauh lebih kaget lagi melihat siapa yang tengah memeluk lengannya seperti anak kecil.

”Aku sakit perut.”

Seorang Jungkook sedang merengek—Mina nyaris saja tertawa mendengar intonasi serta wajah kesakitan Jungkook yang terlihat jelas dibuat-buat.

“Ayo ke unit kesehatan, Mina.”

Mina akhirnya mengangguk, bingung harus bicara apa. Eksistensi Jungkook kali ini juga berhasil membuat lidahnya kesulitan mengolah kata.

Mereka jalan bersisian menuju unit kesehatan.

“Sakit banget?” tanya Mina kala kaki mereka sudah menapaki koridor yang sepi. Kepalanya tertengok sedikit.

“Lumayan,” jawab Jungkook, mengekor Mina yang memasuki unit kesehatan setelah membukanya dengan sebuah kunci.

Mina menyalakan lampu, lantas menunjuk jejeran kasur yang tersembunyi di balik tirai.

“Duduklah, aku akan membuatkanmu teh.”

“Oke!”

Sembari mengangguk, Jungkook menarik salah satu tirai dan duduk di tepi kasur yang paling dekat dengan Mina. Memperhatikan Mina yang tengah menyeduh teh untuknya. Tersenyum kecil.

“Minum,” kala Mina menyodorkan secangkir teh di hadapannya, Jungkook justru bengong. Tenggelam dalam iris Mina.

“Eh!” Mina terkekeh, mencoba mengusir gugupnya dengan menjentikkan jemari tepat di depan wajah Jungkook. “Ini, minum.”

“Kamu suka teh?”

Mina awalnya hanya mengernyitkan kening, namun mengangguk saat Jungkook mengangkat alisnya; menunggu jawaban.

“Ya sudah, minum saja.” Telunjuk Jungkook mendorong cangkir tersebut ke arah Mina, dan Mina dibuat bingung karenanya.

“Kamu yang sakit perut, ‘kan? Kenapa aku yang minum?” sebelah alis Mina terjungkit.

“Kamu suka teh, ‘kan?” Jungkook balas bertanya.

Yang ditanya akhirnya menyerah, meminum teh sembari duduk di kasur seberang Jungkook. Sampai akhirnya bel berbunyi nyaring, menandakan upacara telah selesai. Jungkook buru-buru melangkah ke arah pintu.

Mina memanggilnya.

“Jungkook!”

Si pria menahan langkahnya, menatap Mina.

“Kamu tidak sakit.” Itu adalah sebuah pernyataan.

Jungkook nyengir.

“Itu kamu tahu,” ucapnya, mengedipkan mata kiri. “Berterima kasihlah karena aku sudah menemanimu minum teh—lain kali kita minum teh berdua, oke?”

.

.

.

.

Besoknya lagi Mina mampir ke kafetaria sepulang sekolah.

Mina mendudukkan diri di dekat jendela yang menampakkan koridor ramai. Menatap kosong tumpukan kertas yang tergeletak berantakan, Mina menyesap teh hijaunya yang masih utuh sejak ia mengambilnya dari konter.

Bukan tanpa maksud kedatangannya ke kafetaria hari ini—ia teringat perkataan Jungkook kemarin, yang mengucap kalau mereka akan minum teh berdua. Tapi sudah hampir dua puluh menit Mina mengerjakan tugasnya tanpa sosok Jungkook yang tiba-tiba muncul, Mina berpikir keras.

Konyol kalau aku berpikir kalau dia akan menemuiku di sini, ya? Tanya Mina dalam hati. Lagipula, memangnya dia tahu aku di sini?

Mina menghela napas panjang. Harusnya ia langsung pulang saja tadi, atau menerima ajakan Jisoo menonton film bersama pacarnya; tapi pulang terdengar jauh lebih baik daripada menjadi nyamuk di tengah mereka berdua, sih.

Setidaknya Mina menikmati secangkir teh hijau di genggamannya.

Mina merapikan kertas-kertas di meja, lantas menyenderkan punggungnya pada sofa yang empuk. Menatap keluar.

“Kok beli tehnya hanya satu cangkir?”

Mina tidak bisa menyembunyikan raut terkejut kala suara itu menyapa gendang telinganya. Ia menoleh, fokusnya segera bertumbuk ke pria yang baru saja duduk di hadapannya.

“Bukannya aku sudah bilang kita akan minum teh berdua?”

Jungkook membuka jaketnya, lantas memanggil seorang pelayan dan memesan secangkir teh hijau juga. Ditambah sepiring kukis cokelat kacang mede.

Mina tersenyum lebar. Tak mampu mengalihkan pandangannya dari Jungkook yang tengah merapikan rambutnya, sampai profil jangkung tersebut balas menatapnya.

“Kamu baru menyadari ketampananku?”

Tertawa lamat, Mina menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saat seorang waitress mengantar tehnya, Jungkook menahan perempuan tersebut.

“Apakah perempuan di depanku ini sudah menunggu lama di sini?” Jungkook melontarkan pertanyaannya seolah Mina berada di sana untuk menunggunya.

Dan Mina sama sekali tidak keberatan. Ia justru tertawa lagi melihat air muka serius Jungkook dan waitress yang sempat kebingungan.

“Mungkin sekitar setengah jam.”

“Aku terlambat, berarti. Haruskah aku meminta maaf padanya?”

Si pelayan mengangguk. “Kalau kau membuat janji dengan seseorang dan terlambat, tentu kau harus minta maaf.”

“Tapi aku tidak membuat janji dengannya.”

“Oh?”

“Tapi tetap saja aku datang terlambat, ‘kan?”

Mina akhirnya tak tahan lagi. Masih dengan seberkas gelak tawa yang tersisa, ia menyilakan waitress yang mengernyitkan dahi tersebut untuk pergi.

Mina kembali menarik sudut bibirnya, tatkala Jungkook meminum teh miliknya dan menyodorkan Mina sepotong kukis renyah.

“Aku minta maaf ya.”

“Eh?”

“Aku terlambat. Meski kita tidak membuat janji … aku terlambat.”

Kali ini Mina tertawa; menemui seseorang tak pernah terasa sebegitu menyenangkan seperti menemui Jungkook.

.

.

.

.

Besoknya lagi, Mina bergegas pergi ke kantin saat jam istirahat bersama Jisoo—tadinya, sih.

Tapi Jisoo bergegas menuju salah satu meja di kantin tanpa mengambil makanan terlebih dahulu kala teman ekstrakulikuler basket memanggilnya, menambahkan sebuah kata ‘urgent’ pada akhir kalimat dan memaksa Mina untuk mengantre sendiran dengan tray di tangan.

Menjadi yang paling belakang dalam antrean, Mina menghela napas; matanya bergerak lincah menatap jejeran lauk pauk hari itu.

“Makanannya tidak akan berpindah ke tray-mu jika kamu hanya memelototinya seperti itu, Mina.”

Sempat membeku sejemang (meski Mina sudah tahu siapa gerangan yang berkata demikian tepat di punggungnya, mengagetkannya), Mina merajut langkah terseret akibat dorongan dari manusia yang menggeleng-gelengkan kepala di belakangnya.

Manusia yang beberapa hari terakhir mengubah mood Mina hanya dengan eksistensinya, Jeon Jungkook; dan Mina menyerah untuk menahan senyum yang terlanjur terukir.

“Aku sebenarnya tidak tega mendorongmu begini—tapi aku lapar Mina.”

Sadar kalau antrean yang lebih panjang lagi sudah terbentuk di belakang, Mina lekas mengangguk dan mengisi nampan bersekatnya dengan nasi.

“Iya, iya. Sabar.”

Setelah mengambil dua potong yangnyeom tongdak, melumuri nasinya dengan kuah sup tofu, Mina hampir saja menyalip barisan yang masih sibuk mencomoti makanan jika Jungkook tak menahannya.

“Mau ke mana? Tangsuyuk-nya belum kamu ambil,” protes Jungkook.

Mina buru-buru menggeleng. “Gak suka wortel.”

“Ada timunnya juga, ‘kan?”

Mina menggeleng lagi. “Gak suka timun juga.”

Dahi Jungkook berkedut. “Sukanya apa?”

Mina baru saja hendak menjawab, namun seorang siswa di belakang Jungkook sudah lebih dulu menepuk Jungkook agar ia maju. Jadi Jungkook menarik Mina agar kembali ke dalam antrean sepenuhnya.

“Jangan banyak bicara, nanti kena,” bisik Jungkook di telinga Mina sembari mengambil satu langkah dari tempatnya semula, memaksa Mina agar melangkah pula. “Dia senior, lho. Seram lagi wajahnya.”

“Aku harusnya sudah kabur tadi!” tak terima, Mina balas berbisik.

“Kamu harus makan sayur, Mina,” Jungkook melingkari pergelangan tangan Mina yang kecil dengan telunjuk dan ibu jarinya. “Lihat, kamu kurus sekali.”

“Tapi—“ kalimatnya terpotong oleh Jungkook yang dengan satu gerakan cepat menaruh sesendok sayur penuh tangsuyuk ke nampannya. Netra Mina seketika melebar. “—aku tidak suka sayur!!”

Jungkook menggeleng pelan. “Kamu pasti suka.”

“Tidak.”

“Suka.”

“Tidak.”

Sebuah sentilan mendarat di kening Mina.

Aww!”

“Kamu harus makan sayur.”

Lalu Jungkook pergi begitu saja. Meninggalkan Mina di ujung barisan; sedang mencerna apa yang baru saja terjadi. Menatap kosong tangsuyuk di nampannya. Lalu titik fokusnya berpindah ke punggung yang tengah berjalan membelakanginya. Seakan merasakan tatapan Mina, punggung itu memutar. Pemiliknya menunjukkan raut kemenangan ke Mina yang masih terbengong di tempat.

“Habiskan ya, Mina! Aku tidak mau makan bersamamu—pasti nanti kamu nervous.”

Jungkook lagi-lagi berhasil membuatnya tersenyum sendirian seperti orang gila.

.

.

.

.

Mina lupa itu hari keberapa sejak ia menemui Jungkook—mungkin dua puluh? Atau tiga puluh; sebulan?

“Ini gila,” Mina mengurut kening.

Di sisi barat kasur, Jisoo mengangkat sebelah alis. Masih menatap layar kaca di hadapannya. “Apanya—“

Jeon Jungkook, mengajakku nonton film.”

“Bukankah itu hal yang normal?”

“Lalu aku menerima ajakannya.“

“Mina, astaga—“

Dan, sekarang dia sedang dalam perjalanan ke sini. Ke rumahku.”

Mina!”

“Maksudku—apa sih yang normal kalau berhubungan dengan Jeon Jungkook?”

“Kamu kenapa sih Mina? Sakit?”

“Ah, benar juga. Aku pura-pura sakit saja kali ya, Jisoo?”

Ya! Mina. Jangan bodoh,” Jisoo memutar kursinya, mengalihkan pandangan dari layar komputer yang menampakkan permainan The Sims 4. Volume suaranya menaik drastis saat ia menyuarakan pikirannya tanpa berpikir panjang. “Jungkook menyukaimu, dia mendekatimu selama hampir sebulan, kau tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kau tidak menyukainya, lalu dia mengajakmu menonton film. Apa yang aneh?”

Mina berbaring mengenaskan di kasur. Tatapannya memancarkan jelas bimbang serta ragu. Telepon genggam di kepalan tangan Mina yang longgar menunjukkan pesan Jungkook yang terkirim tujuh belas menit lalu, mengatakan bahwa ia akan menjemput Mina di rumah gadis itu sendiri—setelah Mina dengan bodohnya mengiyakan ajakan Jungkook, tentu saja.

Dan, ya. Mina baru panik setelah seperempat jam terlewati.

“Aku sudah jadi idiot sejak mengenalnya,” Mina mendesah. “Why did I say yes at the first place, really.”

Uh, karena kau memang ingin nonton dengannya?”

Wow, terima kasih, Jisoo. Kau sangat membantuku.”

Jisoo mendengus kesal. “Lalu apa yang kau mau? Jungkook sudah dalam perjalanan kemari, Mina. Sangatlah tidak sopan jika kau tiba-tiba menarik kembali persetujuanmu.”

“Aku—“

Lantas tiba-tiba ringtone handphone Mina berbunyi.

Okay, Mina, kalem. Angkat teleponnya. Jika dia bertanya petunjuk arah, jawab dengan benar. Jika dia bilang kalau dia sudah di depan rumahmu; eh? Itu pasti tidak mungkin karena dia tidak pernah—“

Halo, Mina?

Suara Jeon Jungkook sore itu sungguh mendefinisikan sinar lembut matahari senja.

Mina menarik napas dalam. Tangannya terangkat tinggi, mengisyaratkan agar Jisoo yang tiba-tiba menjadi histeris dan sudah duduk di sampingnya agar diam.

“Halo, Jungkook.”

“Hey,” Jungkook terkekeh gugup, dan Mina nyaris memutuskan sambungan karena tawanya pun menggambarkan renyahnya kukis lezat buatan sang nenek yang lezat luar biasa. “Aku, um, sudah berada di depan rumahmu?

Gerak-gerik eksesif Jisoo berhenti. Rahangnya jatuh sepersekian inci.

“Kau—apa?”

Aku sudah di depan rumahmu; bukan seperti aku menguntitmu jadi aku tahu rumahmu atau bagaimana sih … tapi Yugyeom pernah memberitahuku kalau kau adalah tetangganya, dan, well, aku bertanya padanya,” hening sebentar, lalu—

Jadi … sudah siap, belum, Mina?

.

.

.

.

Mina menemukan dirinya berdiri di depan konter kafe bioskop lebih kurang setengah jam kemudian dengan ‘Dandanan ala Mina’—ala kadarnya, kaos putih dipadu kardigan dan jins hitam. Rambut dikuncir kuda. Wajah hanya dilapisi bedak bayi tipis (itu pun karena dipaksa Jisoo).

“Mau manis apa asin?” tanya Jungkook. “Apa karamel?”

“Apa saja boleh.”

Jungkook memutar bola matanya. “Tidak ada opsi ‘apa saja boleh’, Mina.”

“Oke, oke,” Mina tertawa kecil. “Caramel sounds good.

And Jungkook, just by being ‘Jeon Jungkook’, terlihat seratus kali lebih tampan ketika Mina melihatnya duduk di atas jok motornya dengan setelan kasual. Tidak dengan setelan seragam sekolah seperti biasanya.

Surai cokelatnya tak terlihat berantakan meski hanya sesekali disisir dengan jemari. Dan Mina belum pernah melihat seseorang terlihat begitu atraktif meski hanya memakai switer abu-abu GAP serta bawahan celana putih pendek.

Pop corn karamelnya masih dalam proses,” ucap pelayan yang ada di balik konter, sounding apologetic enough. “Jadi silakan duduk dulu sembari menunggu.”

.

.

.

.

Itu merupakan awal di mana mereka berdua menempati salah satu meja kafe dan saling berbagi cerita.

“Yugyeom sudah lebih dulu tinggal di sana. Dari umurnya belum menginjak satu tahun, kalau tidak salah. Lalu aku pindah ke seberang rumahnya ketika kelas 1 SMP. Dia sangat pandai bermain bulu tangkis, dan sampai sekarang aku masih sering main dengannya.”

Jungkook membulatkan lambenya takjub. “Wah, bulu tangkis? Aku baru tahu.”

Yup,” jawab Mina, mengangguk-angguk. Ia menyedot es teh lemon di depannya sebelum melanjutkan. “Dan aku serius, dia benar-benar jago!”

Tatkala Jungkook menatapnya tanpa memberi respon, Mina berdeham tak nyaman.

“Apa ada sesuatu di wajahku….?”

Jungkook seolah baru dibangunkan dari alam bawah sadarnya, mengerjap berkali-kali. Menggeleng lamat sembari menahan senyum.

“Tidak, tidak. Tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

Mina mengangkat alisnya. “Ada apa?”

Awalnya Jungkook terlihat ragu, telunjuk memainkan sedotan segelas iced chocolate-nya. Namun sejurus kemudian ia berujar. “Apa yang Jisoo katakan itu benar.”

Sepasang netra itu mengarah ke bawah, seolah takut mengakui sesuatu yang bahkan belum begitu klise.

Kening Mina berkedut. “Apa yang … Jisoo katakan?”

“Oke ini mungkin terdengar konyol tapi,” Jungkook mencoba tertawa, mencoba menutupi gurat gugup yang masih menggumpal di dalam dirinya meski yang ia inginkan hanyalah merasa nyaman seutuhnya di dekat Mina. “Aku menyukaimu, aku mendekatimu selama hampir satu bulan, kau tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kau tidak menyukaiku, dan aku akhirnya berani mengajakmu nonton film. Maksudku, yeah, aku—“

“Tunggu,” Mina gelagapan di kursinya. “K-kau mendengar jelas itu semua?”

“Hanya bagian itu,” Jungkook menatap Mina yang kehilangan kontrol pada tulang rahangnya sekilas, mengulas senyum kecil dan menyedot minumannya. “Since Jisoo said it loud enough.”

Mina menutup wajahnya dengan tangan, malu menyergapnya seperti segulung ombak besar. “Kau harusnya tidak mendengar itu semua. Itu … terlalu benar. Terlalu jujur.”

Jungkook menyingkirkan gelasnya, kemudian mengulurkan lengannya ke depan. “Aku? Aku harusnya tidak mendengar bagian yang mana?” tanyanya, berusaha melepas telapak tangan Mina dari wajahnya sendiri. “Ei, ayolah. Tidak menyenangkan kalau kau bersembunyi seperti ini,” ucap Jungkook menahan gelak tawa.

“Bagian yang aku tidak menunjukkan tanda-tanda kalau aku tidak menyukaimu.”

Whoa,” Jungkook sekali-lagi menarik pelan pergelangan tangan gadis di hadapannya. “Jadi itu benar?”

“A-apa—“

Jungkook tiba-tiba bangkit, dan suaranya terdengar ke seluruh penjuru kafe sejemang kemudian. Menggema di indra pendengaran Mina dan membuatnya terpaksa menurunkan tangannya demi menyuruh Jungkook untuk kembali duduk. Mempublikasikan muka semerah kepiting rebusnya.

A cute girl here just confessed back to me, my entire life has been made!

“Jeon Jungkook!!”

Yang ia terima berikutnya adalah serangkaian tepuk tangan serta cengiran tak bersalah Jungkook.

.

.

.

.

Well, Mina toh tidak—dan tidak akan—pernah bisa benar-benar marah pada manusia bernama Jeon Jungkook itu.

FIN.

.

a/n: unedited sO i aploOGIZE

7 thoughts on “[VIGNETTE] Bonjour, Bizzare”

  1. Gemash!
    Aku suka OTP ini. Hihi.
    Dan, baca ini, entah kenapa Jungkook mengingatkanku sama Dilan. Caranya ngedeketin dan ngerayu. Pasif-progresif gitu. Lucu.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s